Metode Jalan Campur [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

METODE PELAKSANAAN Paket Pekerjaan Preservasi Rekonstruksi Jalan Saleman – Besi – Wahai - Pasahari DIVISI 1 UMUM MOBILISASI Kegiatan mobilisasi peralatan dan personil yang diperlukan dan semua fasilitas pendukung selama dalam masa pelaksanaan pekerjaan. Tahapan pelaksanaan Program Mobilisasi. Dalam waktu paling lambat 7 hari setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), rapat persiapan pelaksanaan untuk membahas semua hal baik yang teknis maupun non teknis dalam kegiatan ini.Dalam waktu 14 hari setelah rapat persiapan pelaksanaan, kontraktor harus menyerahkan program mobilisasi dan jadwal kemajuan pelaksanaan. Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan mobilisasi yang disyaratkan dan harus mencakup semua informasi mengenai semua pelaksanaan pekerjaan. Memobilisasi personil- personil Penyedia Jasa dan Direksi Teknis.      



Mendatangkan peralatan - peralatan berat dan kendaraan - kendaraan yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek. Mempersiapkan fasilitas lapangan base camp dimana terdapat kantor proyek, kantor Direksi Teknis, kantor Penyedia Jasa, rumah-rumah staf dan karyawan untuk proyek, Direksi Teknis dan Penyedia Jasa, bengkel, gudang dan sebagainya yang telah disebutkan dalam spesifikasi umum kontrak. Mendatangkan alat-alat laboratorium untuk pemeriksaan bahan-bahan pemeriksaan mutu, serta alat - alat ukur sesuai rencana. Mendatangkan personil inti perusahan, peralatan dan para tenaga kerja serta operator - operator alat berat diawal pekerjaan.



Jenis Peralatan yang didatangkan :     



Compressor 4000 L/M Concrete Mixer 500 L Dump Truck 3.5 T Excavator PC 200 - 7 Wheel Loader 1,5 M3



             



Motor Greder 135 HP Tandem Roller 8 Ton Tire Roller 10 T Vibratory Roller 8 T Stone Crusher 40 T/J Water Pump 70 mm Water Tanker 4000 Litr Pedestrian Roller 8,8 HP Tamper 4,7 HP Trailer 20 Ton Asphalt Mixing Plant 80 T/J Asphal Fhiniher 10 T Asphalt Sparayer 850 L Generator Set 135 KVa



Management dan keselamatam Lalu Lintas



Dalam manajemen dan keselamatan lalu lintas di bahas hal-hal jika ada dalam pelaksanaan terdapat fasilitas umum yang akan terkena dampak pekerjaan maka terdapat item relokasi Utilitas Adalah usaha pemindahan lokasi fasilitas umum yang akan dirasa kena dampak dari pembanguna jembatan ini, sehingga perlu solusi relokasi, meliputi fasilitas PLN berupa Kabel ataupun PDAM berupa Pipa. Semua kegiatan untuk melaksanakan pekerjaan, termasuk pekerjaan sementara, harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum atau membatasi jalan masuk yang menuju ke dalam daerah pekerjaan tanah yang berdampingan. Kontraktor harus membebaskan pemilik/ Kasatker / PPK /Direksi Teknik/ Pengawas dalam memberikan ganti rugi sehubungan dengan semua permintaan, tuntutan, cara kerja, biaya dan pengeluaran lain yang timbul atau hal lain yang masih dalam tanggung jawab kontraktor. Penempatan Rambu-rambu



Pengendalian Lalulintas 1. Tanda “ada orang bekerja” 2. Tanda “kurangi kecepatan “ (80 Km/Jam) (hanya digunakan pada jalan dengan lalulintas kecepatan tinggi 3. Tanda “kurangi kecepatan “ ( 50 Km/jam) ( hanya digunakan pada jalan dengan lalulintas dengan kecepatan tinggi) 4. Tanda “ akhir pekerjaan “



Lokasi



200 m sebelum tempat pekerjaan 100 m sebelum tempat pekerjaan 50 m sebelum tempat pekerjaan 20 m sebelum tempat pekerjaan



PENGENDALIAN WAKTU DAN BIAYA Pengendalian waktu pelaksanaan proyek dilakukan dengan menggunakan alat bantu Jadwal Pelaksanaan seperti Bar Chart Schedule, kurva S sebagai indikator terlambat/tidaknya proyek dan formulir-formulir pengendalian jadwal yang lebih rinci. Masing- masing untuk bahan, alat maupun subkontraktor. Proses pengendalian biaya proyek dimulai pada saat membuat Rencana Anggaran Proyek Kendali dan KontraK Review. Realisasi pemakaian anggaran dicek dan dievaluasi secara periodik dalam hal ini dalam setiap bulannya dan hasilnya dibandingkan dengan rencana. PENGENDALIAN MUTU Mutu yang diharapkan : 1. Volume Sesuai Dengan Gambar Kerja 2. Hasil kerja sesuai dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan 3. Dapat diterima baik oleh pihak pengguna jasa Dapat dipertanggungjawabkan PENGAMANAN LINGKUNGAN HIDUP Pengelolaan lingkungan adalah upaya terpadu dalam melakukan pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian dan pengembangan lingkungan hidup, sehingga pelestarian potensi sumber daya alam dapat tetap dipertahankan, dan pencemaran atau kerusakan lingkungan dapat dicegah. Perwujudan dari usaha tersebut antara lain dengan menerapkan teknologi yang tepat dan sesuai dengan kondisi lingkungan. Untuk itu berbagai prinsip yang dipakai untuk pengelolaan lingkungan antara lain : Preventif (pencegahan), didasarkan atas prinsip untuk mencegah timbulnya dampak yang tidak diinginkan, dengan mengenali secara dini kemungkinan timbulnya dampak negatif, sehingga rencana pencegahan dapat disiapkan sebelumnya. Beberapa contoh dalam penerapan prinsip ini adalah melaksanakan AMDAL secara baik dan benar, pemanfaatan sumber daya alam dengan efisien sesuai potensinya, serta mengacu pada tata ruang yang telah ditetapkan.



Kuratif (penanggulangan), didasarkan atas prinsip menanggulangi dampak yang terjadi atau yang diperkirakan akan terjadi, namun karena keterbatasan teknologi, hal tesebut tidak dapat dihindari. Hal ini dilakukan dengan pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak seperti kualitas udara, kualitas air dan sebagainya. Apabila hasil pemantauan lingkungan mendeteksi adanya perubahan atau pencemaran lingkungan, maka perlu ditelusuri penyebab/sumber dampaknya, dikaji pengaruhnya, serta diupayakan menurunnya kadar pencemaran yang timbul. Insentif (kompensasi), didasarkan atas prinsip dengan mempertemukan kepentingan 2 pihak yang terkait, disatu pihak pemrakarsa/pengelola kegiatan yang mendapat manfaat dari proyek tersebut harus memperhatikan pihak lain yang terkena dampak, sehingga tidak merasa dirugikan. Perangkat insentif ini dapat juga berupa pengaturan oleh pemerintah seperti peningkatan pajak atas buangan limbah, iuran pemakaian air, proses perizinan dan sebagainya. Disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada disekitar lokasi kegiatan, kegiatan konstruksi tersebut di atas akan dapat menimbulkan dampak terhadap komponen fisik kimia dan bahkan bila tidak ditanggulangi dengan baik akan dapat menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen lingkungan lain seperti komponen biologi maupun komponen sosial ekonomi dan sosial budaya DIVISI 2 DRAENASE Galian Untuk Saluran Draenase dan Saluran Air Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi ( Lined ) maupun yang tidak ( UnLined) dan perataan kembali selokan lama yang tidak dilapisi, sesuai dengan spesifikasi ini serta memenuhi garis ketinggian dan detil ketinggian dan detil yang ditunjukkan pada gambar. Selokan yang dilapisi akan dibuat dari pasangan batu dengan mortar atau seperti yang ditunjukkan dengan gambar. Dan petunjuk dari Direksi teknis. Pekerjaan ini mencakup relokasi atau perlindungan terhadap sungai yang ada, kanal irigasi atau saluran air lainnya yang pasti tidak terhindarkan dari gangguan baik yang bersifat sementara maupun tetap, dalam penyelesian pekerjaan yang memenuhi ketentuan dalam kontrak ini . Setiap pelaksanaan pekerjaan dimulai pada setiap ruas dari kontrak , harus melakukan survey total station , melakukan pengikatan pada titik – titik ( bench mark ) pengkuran sepanjang kedua sisi jalan termasuk lokasi semua lubang penampung (cats Pits ) serta saluran pembuangan. Jarak maksimum pembacaan setiap ttik ketinggian haruslah 25 Meter. Menyediakan draenase yang lancar tanpa terjadinya genangan air dengan menjadwalkan pembuatan selokan yang sedemikian rupa agar draenase dapat berfungsi dengan baik sebelum pekerjaan timbunan dan struktur perkerasan dimulai. Pemompaan harus dilakukan selama diperlukan untuk mencegah genangan air didaerah pekerjaan. Pemeliharaan berkala baik saluran sementara maupun permanen harus dijadwalkan sehingga aliran air yang lancar dapat dipertahankan secara keseluruhan selama periode pelaksanaan.



Pada tahap awal saluran harus digali sedikit lebih kecil dari penampang melintang yang disetujui, sedangkan pemangkasan tahap akhir termasuk perbaikan dari setiap kerusakan yang terjadi selama pelaksanaan pekerjaan harus dilaksanakan setelah seluruh pekerjaan yang berdekatan atau bersebelahan selesai. Penggalian dan pemangkasan dilakukan sebagaimana yang diperlukan untuk membentuk selokan baru atau lama sehingga memenuhi kelandaian yang ditunjukkan pada gambar yang disetujui dan memenuhi profil jenis selokan yang ditunjukkan dalam gambar atau bila mana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan Setelah formasi selokan yang telah disiapkan disetujui oleh Direksi Pekerjaan pelapisan selokan pasangan batu dengan mortar harus sesuai dengan yang diisyaratkan. Seluruh bahan hasil galian harus dibuang dan diratakan sedemikian rupa sehingga dapat mencegah setiap dampak lingkungan yang mungkin terjadi dilokasi yang ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana terdapat pekerjaan stabilisasi timbunan atau pekerjaan permanen lainnya yang tidak dapat dihindari dan akan menghalangi sebagian atau seluruh saluran air yang ada, maka saluran air tersebut harus direlokasi agar tidak mengganggu aliran air pada ketinggian air banjir normal yang melalui pekerjaan tersebut. Relokasi yang demikian harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan. Relokasi saluran air tersebut harus dilakukan dengan mempertahankan kelandaian dasar saluran lama dan harus menggambarkan secara detil penampang melintang yang diajukan untuk keperluan pekerjaan tersebut. Direksi pekerjaan akan menyetujui atau merevisi sebelum relokasi pekerjaan dimulai. Pasangan Batu dengan Mortar Pekerjaan ini adalah pelapisan sisi atau dasar selokan dan saluran air dan pembuatan apron ( Lantai golak ) , lubang masuk ( Entry Pits ) dan struktur saluran kecil lainnya. Dengan menggunakan pasangan batu dengan mortar yang dibangun diatas suatu dasar yang telah disiapkan memenuhi garis , ketinggian dan dimensi yang telah sesuai dengan gambar. Pekerjaan ini juga mencakup pembuatan lubang sulingan ( Weep Holes ), termasuk penyediaan dan pemasangan cetakan lubang sulingan atau pipa. Dalam beberapa hal, bila mana mutu batu dan bentuknya cocok serta mutu kerjanya tinggi , Direksi pekerjaan dapat memerintahkan penggunaan pasangan batu dengan mortar ( mortared stonework ) sebagai pekerjaan pasangan batu ( Stone Masonry ) untuk struktur dengan daya dukung yang lebih besar. Pasangan batu dengan mortar mempunyai sisi muka masing – masing batu dari permukaan pasangan batu dengan mortar tidak boleh melebihi 1 Cm dari profil permukaan rata – rata pasangan batu dengan mortar disekitarnya. Untuk pelapisan selokan dan saluran air , profil permukaan rata – rata selokan dan saluran air yang dibentuk dari pasangan batu dengan mortar tidak boleh berbeda lebih dari 3 Cm dari profil permukaan lantai saluran yang dicantumkan atau disetujui, juga tidak bergeser lebih dari 5 Cm dari profil penampang melintang yang ditentukan atau disetujui.



Formasi untuk pelapisan pasangan batu dengan mortar harus disiapkan sesuai dengan ketentuan. , Pondasi atau galian parit untuk tumit ( cut of wall ) dari pasangan batu dengan mortar atau untuk struktur harus disiapkan sesuai dengan ketentuan. Landasan tembus air dan kantung saringan ( Filter Pocket ) harus disediakan bilamana diisyaratkan , Sebelum pemasangan, batu harus dibasahi seluruh permukaannya dan diberikan waktu yang cukup untuk proses penyerapan air sampai jenuh. Batu harus dibersihkan dari bahan yang merugikan yang dapat mengurangi kelekatan dengan adukan.



DIVISI 3 . PEKERJAAN TANAH GALIAN Pekerjaan ini mencakup penggalian , penanganan , pembuangan atau penumpukan tanah dan batu atau bahan lain dari jalan atau sekitarnya yang diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan dalam kontrak ini. Pekerjaan ini umumnya diperlukan untuk pembuatan saluran air dan selokan, untuk formasi galian atau pondasi pipa , gorong – gorong, pembuangan atau struktur lainya. Untuk pekerjaan stbilisasi lereng dan pembuangan bahan longsoran, untuk galian bahan konstruksi dan pembuangan sisa bahan galian, Untuk pengupasan dan pembuangan bahan perkerasan beraspal dan / atau perkerasan beton pada perkerasan lama, dan umumnya untuk pembentukan profil dan penampang yang sesuai dengan spesifikasi ini dan memenuhi garis ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pekerjaan Galian Pada pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Galian Perkerasan Beraspal Tanpa Cold Milling Machine Galian Perkerasan Beraspal Tanpa Cold Milling Machine mencakup galian pada perkerasan beraspal lama dan pembuangan bahan perkerasan beraspal tanpa Cold Milling Machine ( Mesin Pengupas perkerasan beraspal tanpa pemanasan ) seperti yang ditunjakkan oleh Direksi Teknis. 2. Galian Perkerasan Berbutir Galian Perkerasan Berbutir mencakup galian pada perkerasan berbutir lama dan pembuangan bahan perkerasan berbutir yang tidak terpakai seperti yang ditunjukkan oleh Direksi Teknis. Setiap Galian Kelandaian akhir, garis dan formasi sesudah galian selain galian perkerasan beraspal dan atau perkerasan beton tidak boleh berbeda lebih tinggi dari 2 cm atau lebih rendah 3 cm pada setiap titik , dan 1 cm pada setiap setiap titik untuk galian bahan perkerasan lama. Permukaan Galian yang telah selesai dan terbuka terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin pengaliran air yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genangan.



Sebelum melakukan pekerjaan untuk setiap melakukan pekerjaan galian sebelum memulai kami menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan Gambar detail penampang melintang yang menunjukkan elevasi Aspal Lama sebelum penggalian dilakukan , memasang patok – patok batas galian dan penggalian yang akan dilaksanakan Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan harus menyediakan semua bahan, perlengkapan dan pekerja yang diperlukan untuk pengeringan ( Pemompaan ) ,pengalihan saluran air dan pembuatan draenase sementara, dinding penahan rembesan ( Cut Of wall ) dan cofferdam . Pompa siap pakai dilapangan harus senantiasa dipelihara sepanjang waktu untuk menjamin bahwa tidak akan terjadi gangguan dalam pengeringan dengan pompa. Bilamana pekerjaan sedang dilaksanakan pada draenase lama atau tempat lain dimana air tanah rembesan ( Ground water seepage ) mungkin sudah tercemari , maka harus senantiasa memelihara tempat kerja dengan mamasok air bersih yang akan digunakan oleh pekerja. Penggalian harus dilakukan dengan gangguan yang seminimal mungkin terhadap bahan dibawah dan diluar batas galian. Bilamana material /bahan yang terekspos pada garis formasi atau tanah dasar atau pondasi dalam keadaan lepas atau lunak atau kotor dan menurut pendapat Direksi Pekerjaan tidak memenuhi syarat , maka bahan tersebut harus seluruhnya dipadatkan atau dibuang dan diganti dengan timbunan yang memenuhi syarat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Teknis Pekerjaan. Bila mana dalam penggalian terdapat lapisan keras atau bahan yang sukar dibongkar dijumpai pada garis formasi untuk perkerasan maka bahan tersebut harus digali 15 Cm lebih dalam sampai permukaan yang mantap dan merata. Tonjolan – tonjolan batu yang runcing pada permukaan yang terekspos tidak boleh tertinggal dan semua pecahan batu yang diameternya lebih besar dari 15 cm harus dibuang . Profil galian yang diisyaratkan harus diperoleh dengan cara menimbun kembali dengan bahan yang dipadatkan sesuai dengan petujuk Direksi Teknis. TIMBUNAN Pekerjaan ini mencakup pengadaan , pengangkutan , penghamparan dan Pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan , Menyerahkan Dua contoh masing – masing 50 Kg untuk setiap jenis , satu contoh harus disimpan sebagai rujukan selama periode kontrak. Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk bahan timbunan , bersama – sama dengan hasil pengujian Laboratorium yang menunjukkan bahwa sifat – sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan yang diisyaratkan. Dalam pekerjaan Timbunan Biasa dan Timbunan Pilihan harus menjamin bahwa pekerjaan harus dijaga tetap kering segera sebelum dan selama pekrejaan penghamparan dan pemadatan dan selama pelaksanaan timbunan harus memiliki lereng melintang yang cukup untuk membantu draenase badan jalan dari setiap curahan air hujan dan juga harus menjamin bahwa pekerjaan akhir mempunyai draenase yang baik. Bilamana memungkinkan air yang berasal dari tempat kerja harus dibuang kedalam sistem draenase permanen. Cara menjebak lanau yang memadai harus disediakan pada sistem pembuangan sementara kedalam sistem draenase permanen. Selama pekerjaan timbunan berlansung harus selalu menyediakan air yang cukup untuk pengendalian kadar air timbunan selama operasi penghamparan dan pemadatan



timbunan yang dilaksanakan pada pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Timbunan Biasa Dari Sumber Galian Timbunan Tanah Biasa harus terdiri dari bahan galian tanah atau bahan galian batu yang telah disetujui oleh Direksi Teknis Pekerjaan sebagai bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permananen Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi yang diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut SNI-03-6797-2002 (AASHTO M145) atau sebagai CH menurut Unified atau Casagrande Soil Classification System bila penggunaan tanah yang berplastisitas tinggi tidak dapat dihindarkan, bahan tersebut hanya dapat digunakan pada bagian dasar dari timbunan atau penimbunan kembali yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tanah Plastis seperti itu sama sekali tidak boleh digunakan pada 30 Cm lapisan langsung di bawah bagian dasar perkerasan atau bahu jalan atau tanah dasar bahu jalan. Sebagai tambahan timbunan untuk lapisan ini bila diuji dengan SNI 03-1744-1989, harus memiliki nilai CBR tidak kurang dari karakteristik daya dukung tanah dasar yang diambil untuk rancangan dan ditunjukkan dalam gambar atau kurang dari 6% jika tidak disebutkan lain ( CBR setelah perendaman 4 hari bila dipadatkan 100% kepadatan kering maksimum (MDD) seperti oleh SNI 031742-1989) Tanah sangat expansiv yang memiliki nilai aktif besar dari 1,25 atau derajat pengembangan yang dikalsifikasikan oleh AASTHO T258 sebagi very hight atau extra hight tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif adalah perbandingan antara Indeks Plastisitas /PI (SNI 03-1966-1989) dan presentase kadar lempung (SNI 03-3422-1994) Bahan Untuk timbunan biasa tidak boleh dari bahan galian tanah yang mempunyai sifat – sifat sebagai berikut : -



-



Tanah yang mengandung Organik seperti tanah OL,OH dan Pt dalam sistem USCS serta tanah yang mengandung daun – daunan , rumput – rumputan ,akar dan sampah. Tanah dengan kadar air alamiah sangat tinggi yang tidak praktis dikeringkan untuk memenuhi toleransi kadar air pada pemadatan (>kadar air optmum + 1%) Tanah yang mempunyai sifat kembang susut tinggi dan sangat tinggi dalam klasifikasi Van Der Merwe dengan ciri – ciri adanya retak memanjang sejajar tepi perkerasan jalan.



2. Timbunan Pilihan Dari Sumber Galian Harus digunakan untuk meningkatkan kapasitas daya dukung tanah dasar pada lapisan penopang ( Capping Layer ), dan jika diperlukan didaerah galian , timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilsasi lereng. Bahan Timbunan Pilihan harus terdir dari bahan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan diatas untuk timbunan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat – sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti yang telah disetujui oleh Direksi Teknis Pekerjaan dalam segala hal. Seluruh timbunan pilihan , bila diuji sesua dengan SNI 03-1744-1989, memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum SNI 1742 : 2008 Bahan timbunan pilihan digunakan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi timbunan atau pada situasi lainnya yang memerlukan kuat geser yang cukup , bilamana dilaksnakan dengan pemadatan kering normal , maka timbunan pilihan dapat



berupa timbunan timbunan batu atau kerikil lempungan bergradasi baik atau lempung pasiran atau lempung berplastisitas rendah. Jenis bahan yang dipilih dan disetujui oleh Direksi Teknis Pekerjaan akan tergantung pada kecuraman dari lereng yang akan dibangun atau ditimbun , atau tekanan yang akan dipikul. Timbunan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang isyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan permukaan yang diisyaratkan harus diperbaiki dengan menggamburkan permukaannya dan membuang atau menambah bahan sebagaimana yang diperlukan dan dilanjutkan dengan pembentukan kembali dan pemadatan kembali. Timbuanan yang terlalu kering untuk pemadatan, dalam hal batas – batas kadar airnya yang diisyaratkan atauseperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan harus diperbaiki dengan mennggaru bahan tersebut dilanjutkan dengan penyemprotan air secukupnya dan dicampur seluruhnya dengan menggunakan Motor Greder. Timbunan yang terlalu basah untuk pemadatan seperti dinyatakan dalam batas – batas kadar airnya yang diisyaratkan harus diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut dengan penggunaan motor greder secara berualng – ulang dengan selang waktu istrhat selama penanganan , dalam cuaca cerah. Alternatif lain, bilamana penegringan yang memadai tidak dapat dicapai dengan menggaru dan membiarkan bahan gembur tersebut , Direksi pekerjaan dapat memerintahkan agar bahan tersebut dikeluarkan dari pekerjaan dan diganti dengan bahan kering yang lebih cocok. Timbunan yang telah dipadatkan dan memenuhi ketentuan yang diisyratkan dalam spesifikasi ini, menjadi jenuh akibat hujan atau banjir atau karena hal lain biasanya tidak memerlukan pekerjaan perbaikan asalkan sifat – sifat bahan dan kerataan permukaan masih memenuhi ketentuan dalam spesifikasi ini. Perbaikan timbunan yang tidak memenuhi pepadatan dan ketentuan sifat – sifat bahan daalam spesifikasi ini haruslah seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknis Pekerjaan dan dapat meliputi pemadatan tambahan. Penggemburan yang diikuti dengan penyusuain kadar air dan pemadatan kembali , atau pembuangan dan penggantian bahan. Penghamparan Timbunan Timbunan harus ditempatkan kepermukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang diisyratkan , bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan – lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya. Tanah timbunan umumnya diangkut langusng dari lokasi sumber galian ke permukaan yang telah disipkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan, selama musim hujan. Bila mana timbunan badan jalan akan diperlebar, lereng timbunan lama harus disipkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan lereng dan harus dibaut bertangga ( atau dibuat bergerigi ) sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbunan lama sedemikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horisontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar , yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang di perlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin , dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkanke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan. Pemadatan Timbunan



Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan , setiap lapis harus dipadatkan dengan peraalatan pemadat / Vibratory Roller yang memadai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang diisyaratkan. Pemadatan timbunan tanah harus di lakukan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3% dibawah kadar air optimum sampai 1% diatas kadar air optimimum. Kadar air optimum harus disefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh dimana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989 Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih tebal 20 cm dari bahan bergrdasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga – rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut. Lapis penutup ini harus dilaksanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang diisyaratkan. Setiap Lapis timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang diisyaratkan , diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan berikutnya dihampar. Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju kearah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan , lalu lintas alat – alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat meneyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.



GAMBAR ILUSTRASI PEKERJAAN TIMBUNAN



3. Penyiapan Badan Jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan , penggaruan dan pemadatan permukaan tanah dasar dan permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi Ageragat , Pekerjaan meliputi galian minor atau penggaruan serta pekerjaan timbunan minor



yang diikuti dengan pembentukan, pemadatan , pengujian tanah atau bahan pilihan dan pemeliharaan permukaan yang disiapkan sampai bahan perkerasan ditempatkan diatasnya. Yang semuanya sesuai dengan gambar dan spesifikasi ini atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Ketinngian akhir setelah pemadatan tidak boleh lebih tinggi 2 sentimeter atau lebih rendah 3 sentimeter dari yang diisyaratkan atau disetujui , seluruh permukaan akhir harus cukup halus dan rata – rata serta memiliki kelandaian yang cukup, untuk menjamin berlakunya aliran bebas dari air permukaan. Bilamana permukaan tanah dasar disiapkan terlalu dini tanpa segera diiukuti oleh penghamparan lapis pondasi bawah , maka permukaan tanah dasar dapat menjadi rusak . Oleh karena itu , Luas pekerjaan penyiapan tanah dasar yang tidak dapat dilindungi pada setiap saat harus dibatasi sedemikian rupa sehingga daerah tersebut yang mash dapat dipelihara dengan peralatan yang tersedia dan harus mengatur penyiapan tanah dasar dan penempatan bahan perkerasan dimana satu dengan lainnya berjarak cukup dekat.



Contoh Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan



DIVISI 5 PERKERASAN BERBUTIR Pekerjaan ini meliputi pamasokan , pemrosesan , pengangkutan , penghamparan , pembasahan dan pemadatan agregat diatas permukaan yang telah disiapkann dan telah diterima sesuai dengan detil yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan perintah Direksi Teknis Pekerjaan dan memelihara Lapis Pondasi Agregat yang telah selesai sesuai dengan yang diisyaratkan , pemrosesan harus meliputi , bila perlu pemecahan pengayakan , pemisahan , pencampuran , dan opresai lainnya yang perlu unutuk menghasilkan suatu bahan yang memenuhi ketentuan. Pada permukaan semua lapis pondasi agregat tidak boleh terdapat ketidak rataan yang dapat menampung air dan semua punggung ( Camber ) permukaan itu harus sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana. Tebal total minimum Lapis Pondasi Agregat tidak boleh kurang satu sentimeter dari tebal yang diisyaratkan. Menyiapkan 2 kantung masing – masing 50 Kg bahan Agregat Kelas B dan Kelas A satu disimpan oleh Direksi Teknis sebagai rujukan selama pekerjaan berlangsung.



Peryataan perihal asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan Untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas B dan Kelas A bersama dengan hasil pengujian laboratorium yang membuktikan bahwa sifat – sifat bahan terpenuhi sesuai yang dipersyaratkan. Seluruh Lapis pondasi agregat harus bebas dari bahan organik dan gumpalan lempung atau bahan – bahan lain yang tidak dikehendaki dan setelah dipadatkan harus memenuhi ketentuan gradasi ( menggunakan ayakan secara basah ) dan memenuhi sifat – sifat yang telah ditentukan. Dalam pekerjaan perkerasan berbutir dalam kontrak ini antara lain : 1. Lapis Pondasi Agregat Kelas B Lapis Pondasi Agregat kelas B digunakan sebagai Lapis Pondasi Bawah ( Hanya permukaan atas dari Lapisan Pondasi Bawah ) Toleransi Elevasi Permukaan relatif terhadap elevasi rencana + 0 cm -2 Cm Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel atau pecahan batu atau kerikil yang keras dan awet . Bahan yang pecah bila berulang – ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan. Fraksi Agrgat Bilamana agregat kasar berasal dari kerikil maka untuk lapisan Agregat Kelas B yang berasal dari kerikil mempunyai 60% berat agregat kasar dengan angularitas 95/90* menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempuyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih. Fraksi agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya. Fraksi bahan yang lolos ayakan No. 200 tidak boleh melampauai dua per tiga fraksi bahan yang lolos ayakan No. 40 Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang diisyaratkan harus dikerjakan dilokasi instalasi pemecah batu atau pencampur yang disetujui dengan menggunakan pemasok mekanis ( mechanichal feeder ) yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari komponen – komponen campuran dengan proporsi yang benar. Dalam keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran dilapangan.



Gradasi Lapis Pondasi Agrgat Kelas B Ukuran Ayakan ASTM ( MM ) 2” 50 11/2” 37,5 1” 25,0 3/8” 9,50 No.4 4,75 No. 10 2,0 No. 40 0,425 No. 200 0,075



Persen Berat Yg Lolos Kelas B 100 88 - 95 70 - 85 30 - 65 25 - 55 15 - 40 8 - 20 2-8



Sifat – Sifat Lapis Pondasi Agregat Kelas B Sifat – Sifat Abrasi Ageragat Kasar ( SNI 2417-2008) Indeks Plastisitas ( SNI 1966:2008) Hasil Kali Indeks Plastisitas dng.% Lolos Ayakan No. 200 Batas Cair ( SNI 1976 : 2008 ) Bagian yang lunak ( SNI 03-4141-1996 ) CBR ( SNI 03 – 1744 -1989 )



Kelas A 0 – 40% 6 - 12



0 - 35 0 – 5% Min 60%



Penghamparan Lapis Pondasi Agrgat Kelas A harus dibawa ke badan jalan sebagai campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang diisyartkan , Kadar air dalam bahan harus tersebar secara merata. Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan. Bilamana akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisan-lapisan tersebut harus diusahakan sama tebalnya. Setiap lapis harus dihampar Lapis pondasi agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu metode yang disetujui yang tidak meyebabkan segregasi pada partikel agregat kasar dan halus. Bahan yang bersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang bergradasi baik Tebal padat minimum untuk pelaksanaan setiap lapisan harus 2 kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat maksimum tidak boleh melebihi 20 cm. Pemadatan Segera setelah pencampuran dan pembentukan akhir, setiap lapis harus dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan memadai dan disetujui, hingga kepadatan paling sedikit 100 % dari kepadatan kering maksimum (modified) seperti yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3% di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum (modified) yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang ber "superelevasi", penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan bergerak Sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis tersebut terpadatkan secara merata. Bahan sepanjang kerb, tembok, dan tempat-tempat yang tak terjangkau mesin gilas harus dipadatkan dengan timbris mekanis atau alat pemadat lainnya yang disetujui.



Contoh Gambar Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B 2. Lapis Pondasi Agregat Kelas A Lapis Pondasi Agregat Kelas A adalah mutu pondasi lapis atas untuk lapisan dibawah lapisan beraspal Lapis Pondasi Ageragat Kelas A Untuk Lapis Resap Pengikat atau Pelaburan ( Perkerasan Bahu Jalan ) Toleransi Elevasi Permukaan relatif terhadap elevasi rencana + 0 cm -1 Cm Lapis Pondasi Agregat Kelas A tebal minimum tidak boleh kurang satu centimeter dari tebal yang diisyaratkan Pada permukaan Lapis Pondasi Ageragat Kelas A yang disiapkan untuk lapisan resap pengikat , bilamana semua bahan yang terlepas harus dibuang dengan sikat yang keras, maka penyimpangan maksimum pada kerataan permukaan yang diukur dengan meter lurus sepenjang 3 M , diletakkan sejajar atau melintang sumbu jalan, maksimum satu sentimeter. Bilamana agregat kasar berasal dari kerikil maka untuk lapisan Agregat Kelas A yang berasal dari kerikil mempunyai 100% berat agregat kasar dengan angularitas 95/90* menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempuyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih. Fraksi agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya. Fraksi bahan yang lolos ayakan No. 200 tidak boleh melampauai dua per tiga fraksi bahan yang lolos ayakan No. 40 Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang diisyaratkan harus dikerjakan dilokasi instalasi pemecah batu atau pencampur yang disetujui dengan menggunakan pemasok mekanis ( mechanichal feeder ) yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari komponen – komponen campuran dengan proporsi yang benar. Dalam keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran dilapangan.



Gradasi Lapis Pondasi Agrgat Kelas A Ukuran Ayakan ASTM ( MM ) 2” 50 11/2” 37,5 1” 25,0 3/8” 9,50 No.4 4,75 No. 10 2,0 No. 40 0,425 No. 200 0,075



Persen Berat Yg Lolos Kelas A 100 79 - 85 44 - 58 29 - 44 17 - 30 7 - 17 2-8



Sifat – Sifat Lapis Pondasi Agregat Kelas A Sifat – Sifat Abrasi Ageragat Kasar ( SNI 2417-2008) Indeks Plastisitas ( SNI 1966:2008) Hasil Kali Indeks Plastisitas dng.% Lolos Ayakan No. 200 Batas Cair ( SNI 1976 : 2008 ) Bagian yang lunak ( SNI 03-4141-1996 ) CBR ( SNI 03 – 1744 -1989 )



Kelas A 0 – 40% 0-6 Maks. 25 0 - 25 0 – 5% Min 90%



Bilamana lapis pondasi agrgat kelas A akan dihampar pada pekerasan atau bahu jalan lama , semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan lama harus diperbaiki terlebih dahlu sesuai dengan spesifikasi ini. Bila mana lapis pondasi pondasi agregat akan dihampar pada suatu lapisan perkerasan lama maka lapisan hasrus diselesaikan sepenuhnya sesuai dengan lokasi dan jenis lapisan yang terdahulu. Bila mana pondasi agregat akan dihampar langsung diatas permukaan perkerasan aspal lama , yang menurut pendapat direksi pekerjaan dalam kondisi tidak rusak , maka harus diperlukan penggaruan atau pengaluran pada permukaan perkerasan aspal lama agar meningkatkan tahanan geser yang lebih baik. Penghamparan Lapis Pondasi Agrgat Kelas A harus dibawa ke badan jalan sebagai campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang diisyartkan , Kadar air dalam bahan harus tersebar secara merata. Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan. Bilamana akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisanlapisan tersebut harus diusahakan sama tebalnya. Setiap lapis harus dihampar Lapis pondasi agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu metode yang disetujui yang tidak meyebabkan segregasi pada partikel agregat kasar dan halus. Bahan yang bersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang bergradasi baik



Tebal padat minimum untuk pelaksanaan setiap lapisan harus 2 kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat maksimum tidak boleh melebihi 20 cm. Pemadatan Segera setelah pencampuran dan pembentukan akhir, setiap lapis harus dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan memadai dan disetujui, hingga kepadatan paling sedikit 100 % dari kepadatan kering maksimum (modified) seperti yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3% di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum (modified) yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang ber "superelevasi", penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan bergerak Sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis tersebut terpadatkan secara merata. Bahan sepanjang kerb, tembok, dan tempat-tempat yang tak terjangkau mesin gilas harus dipadatkan dengan timbris mekanis atau alat pemadat lainnya yang disetujui.



Contoh Gambar Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A



DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL Pekerjaan ini mencakup penyedaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan aspal berkiutnya . Lapis Resap Pengikat harus dihampar diatas permukaan Pondasi tanpa bahan pengikat Lapis Pondasi agregat. Sedangkan Lapis Perekat harus dihampar diatas permukaan berbahan pengikat . Dalam kontrak ini pekerjaan Perkerasan aspal terdiri dari :



1. Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair Bahan lapis resap pengikat umumnya dalah aspal dengan penetrasi 80/100 atau Pen. 60/70 yang dicairkan dengan minyak tanah, volume yang digunakan berkisar antara 0,40 sampai dengan 1,3 Ltr/M2 untuk lapis pondasi Agregat Kelas A 0.02 sampai 1 Ltr /M2 untuk pondasi tanah semen. Setelah pengeringan 4 sampai 6 jam , bahan pengikat harus telah meresap kedalam lapis pondasi , lapis resap pengikat yang berlebih dapat mengakibatkan pelelehan ( bleeding ) dapat menyebabkan timbulnya bidang geser. Untuk itu pada daerah yang berlebih ditabur dengan pasir dan dibiarkan agar pasir tersebut diselimutu aspal. Kegunaan dari lapis resap pengikat adalah sebagai berikut : Memberikan daya ikat antara Lapis Pondasi Ageragat dengan campuran Aspal Mencegah lepasnya butiran pondasi agregat jika dilewati kendaraan sebelumnya Menjaga lapis pondasi agregat dari pengarus cuaca khusunya hujan sehingga air tidak masuk kedalam lapisan pondasi agregat yang bisa merusak struktur jalan. Lapis Resap pengikat harus disemprot hanya pada permukaan yang kering atau mendekati kering. Lapis Resap pengikat adalah setelah proses pengeringan, bahan aspal harus sudah meresap kedalam lapis pondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal yang dapat ditunjukkan dengan permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga ( Porous ). Tekstur untuk permukaan Lapis Pondasi Agregat harus rapi dan tidak boleh ada genangan atau lapisan tipis aspal atau aspal tercampur agregat halus yang cukup tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau. Perbaikan dari Lapis Resap Pengikat yang tidak memenuhi ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk pembuangan bahan bahan yang berlebihan , penggunaan bahan penyerap ( blotter material ) atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil pada Lapis Resap Pengikat harus segera diperbaiki Pekerjaan harus dilaksnakan sedemikan rupa sehingga masih memungkinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang dilaksanakan dan hanya menimbulakan gangguan minimal pada lalu lintas. Bangunan – bangunan dan benda – benda lain disamping tempat kerja (Struktur / Pepohonan Dll ) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor karena percikan aspal Bahan aspal tidak boleh dibuang sembarangan kecuali ketempat yang telah disetujui oleh direksi teknis



Gambar Contoh Pekerjaan Lapis Resap Pengikat



2. Lapis Perekat – Aspal Cair Lapis Pengikat berfungsi untuk memberikan daya ikat antara lapis lama dengan yang baru , dan dipasang pada permukaan beraspal atau beton semen yang kering dan bersih bahan lapis perekat adalah aspal emulsi yang cepat menyerap atau aspal keras 80/100 atau Pen. 60/70 yang dicairkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal. Pemakaiannya berkisar antara 0.15 ltr/M2 sampai 0.50 Ltr/M2 lapis tipis dibandingkan dengan pamakaian lapis resap pengikat Banyak pendapat yang berbeda mengenai kapan penghamparan campuran Aspal dapat dilakukan , ada yang berpendapat bahwa penghamparan bisa dilakukan dengan segera meskipun proses pengeringan belum sepenuhnya selesai , ada juga yang berpendapat bahwa harus menunggu lapisan perekat ini kering terlebih dahulu baru bisa dilakukan penghamparan campuran aspal . tapi kenyataannya dilapangan banyak menggunakan pendapat yang pertaman. Lapis Perekat harus melekat dengan cukup kuat diatas permukaan yang disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik – bintik , sebagai akibat dari bahan aspal yang didistribusikan sebagai butir – butir tersendiri dapat diterima asalkan penampilannya keliahatan rata dan keseluruhan takaran pemakainannya memenuhi ketentuan. Perbaikan dari Lapis Perekat yang tidak memenuhi ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk pembuangan bahan bahan yang berlebihan , penggunaan bahan penyerap ( blotter material ) atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil pada Lapis Perekat harus segera diperbaiki



Contoh Gambar Pekerjaan Lapis Perekat



3. Campuran Panas Asbuton Lapisan Permukaan Antara ( AC-BC AsbP) ( Asbuton Pra Campur ) t = 6 Cm Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet berupa lapis Perata Antara , berupa campuran beraspal panas yang terdiri dari agregat dan bahan aspal Pra Campur secara panas di pusat instalasi pencampuran , serta



menghampar dan memadatkan campuran tersebut diatas permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Semua campuran dirancang dalam spesifikasi ini untuk menjamin bahwa asumsi rancangan yang berkenan dengan kadar aspal, rongga udara , stabilitas ,kelenturan dan keawetan sesuai dengan lalu lintas rencana. Tebal setiap lapisan campuran beraspal harus diperiksa dengan benda uji “inti” (core) perkerasan yang diambil dan sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Tebal aktual hamparan lapis beraspal disetiap segmen didefinisikan sebagai tebal rata – rata dari semua benda uji inti yang diambil dari segmen tersebut. Toleransi tebal untuk Lapis Antara AC-BC Tebal Nomonal Minimum t = 6 Cm Untuk campuran Panas Asbuton Lapis Permukaan Antara AC-BC berat aktual campuran beraspal yang dihampar harus dipantau dengan menimbang setiap muatan truck yang meninggalkan pusat instalasi pencampur aspal . Untuk setiap ruas pekerjaan yang diukur , bilamana berat aktual bahan terhampar yang dihitung dari timbangan adalah kurang ataupun lebih dari 5% dari berat yang dihitung dari ketebalan rata – rata benda uji inti ( core ) maka Direksi Pekerjaan harus mengambil tindakan untuk menyelidiki selisih berat tersebut. Sebelum dan selama pekerjaan pengaspalan Lapis Permukaan antara ( AC – BC ) harus menyerahkan kepada Direksi Teknis hal- hal sebagai berikut :          



Contoh dari seluruh bahan yang disetujui untuk digunakan Setiap Bahan Aspal yang diusulkan untuk digunakan , berikut keterangan asal sumbernya bersama dengan data pengujian sifat – sifatnya baik sebelum maupun sesudah pengujian penuaan aspal (RTFOT/TFOT) Laporan tertulis yang menjelaskan sifat – sifat hasil pengujian dari seluruh bahan Laporan tertulis setiap pemasokan aspal beserta sifat – sifat bahan seperti yang diisyaratkan Hasil pemeriksaan kelaikan peralatan Laboratorium dan pelaksanaan Rumusan Campuran Kerja ( Job Mix Formula ,JMF ) dan data pengujian yang mendukungnya Pengukuran pengujian permukaan seperti yang telah dipersyaratkan Laporan tertulis mengenai kepadatan dari campuran yang dihampar Data pengujian Laboratorium dan lapangan seperti yang diisyaratkan untuk pengendalian harian terhadap takaran campuran dan mutu campuran dalam bentuk laporan tertulis Catatan tertulis mengenai pengukuran tebal lapisan dan dimensi perkerasan



Aspal Pra campur yang di modifikasi adalah jenis asbuton , dan elastomerik latex atau sintetis , Proses pembuatan aspal modifikasi dilapangan tidak diperbolehkan kecuali ada lisensi. Sumber pasokan agregat , aspal da bahan pengisi Filler herus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan sebelum pengiriman bahan. Setiap jenis bahan harus diserahkan , seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan , paling sedikit 60 hari sebelum usulan dimulainya pekerjaan pengaspalan. Prosentase aspal yang aktual ditambahkan kedalam campuran ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium dan lapangan sebagaimana tertuang dalam



rencana campuran kerja (JMF) dengan memperhatikan penyerapan agregat yang digunakan. Penentuan proporsi takaran agregat dari pemasok dingin untuk dapat menghasilkan komposisi yang optimum . Perhitungan proporsi takaran agregat dari bahan tumpukan bahan yang optimum harus digunakan untuk penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh dari pemasok panas harus diambil setelah penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh dari pemasok panas harus diambil setelah penentuan besarnya bukaan pemasok dingin. Selanjutnya proporsi takaran pada pemasok panas dapat ditentukan suatu rumus campuran rancangan ( Design Mix Formuka , DMF ) kemudian akan ditentukan berdasarkan prosedur Marshall. Dalam segala hal DMF harus memenuhi semua sifat – sifat bahan dan sifat – sifat campuran sebagaimnan yang diisyratkan DMF, data dan Grafik percobaan campuran di laboratorium harus diserahkan pada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan. Direksi pekerjaan akan menyetujui atau menolak usulan DMF tersebut dalam waktu tujuh hari . Percobaan produksi dan penghamparan tidak boleh dilaksanakan sampai DMF disetujui. Percobaan produksi dan penghamparan serta persetujuan terhadap rumusan Campuran kerja ( Job Mix Formula ,JMF ). JMF adalah suatu dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran laboratorium yang tertera dalam DMF dapat diproduksi dengan instalasi pencampur aspal ( Asphalt Mixing Plant, AMP ) , dihampar dan dipadatkan dilapangan dengan peralatan yang telah ditentukan dan memenuhi derajat kepadatan lapangan terhadap kepadatan laboratorium hasil pengujian Marshall dari benda uji yang campuran beraspalnya diambil dari AMP. Setelah DMF disetujui oleh Direksi Pekerjaan harus melakukan penghamparan percobaan paling sedikit 50 Ton untuk setiap jenis campuran yang diproduksi dengan AMP, dihampar dan dipadatkan dengan peralatan dan prosedur yang diusulkan. Dan menunjukkan bahwa setiap alat penghampar ( Paver ) mampu menghampar bahan sesuai dengan tebal yang diisyaratkan tanpa segregasi, tergores dan sebagainya. Kombinasi penggilas yang diusulkan harus mampu mencapai kepadatan yang diisyaratkan dalam rentang temperatur pemadatan sebagaimana yang dipersyaratkan. Penghamparan  Sebelum memulai penghamparan, Sepatu ( Screed ) alat penghampar harus dipanaskan. Campuran beraspal harus dihampar dan diratakan sesuai dengan kelandaian ,Elevasi serta bentuk penampang melintang yang diisyaratkan.  Penghamparan harus mulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur  Mesin vibrasi pada screed alat penghampar harus dijalankan selama penghamparan dan pembentukan  Penampang alat penghampar ( hopper ) tidak boleh dikosongkan , sisa campuran beraspal dijaga tidak kurang dari temperatur yang diisyaratkan.  Alat penghampar harus dioperasikan dengan satu kecepatan yang tidak menyebabkan retak permukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh direksi pekerjaan dan ditaati  Bilamana terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan , maka alat penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki.







 







Proses perbaikan lubang – lubang yang timbul karena terlalu kasar atau bahan yang tersegrasi karena penaburan material yang harus sedapat mungkin harus dihindari sebelum pemadatan. Butiran yang kasar tidak boleh ditebarkan diatas permukaan yang telah padat dan bergradasi rapat. Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada tepi – tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya. Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu lajur untuk setiap kali pengeopersian, maka urutan penghamparan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang berseblahan pada setiap hari produksi dibuat seminimal mungkin. Selama pekerjaan penghamparan fungsi – fungsi berikut ini harus dipantau dan dikendalikan secara eletronik atau secara manual sebagaimana yang diperlukan untuk menjamin terpenuhinya elevasi rancangan dan toleransi yang diisyaratkan serta ketebalan dari lapisan beraspal. 1. Tebal hamparan aspal gembur sebelum dipadatkan , sebelum diperbolehkannya pemadatan ( diperlukan pemeriksaan secara manual ) 2. Kelandaian sepatu (Screed) alat penghampar untuk menjamin terpenuhinya lereng melintang dan super elevasi yang diperlukan 3. Elevasi yang sesuai pada sambungan dengan aspal yang telah dihampar sebelumnya , sebelum dibolehkan pemadatan 4. Perbaikan penampang memanjang dari permukaan aspal lama dengan menggunakan batang perata , kawat baja atau hasil penandaan survey.



Pemadatan  Segera setelah campuran beraspal dihampar dan diratakan , permukaan tersebut harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus diperbaiki. Temperatur campuran beraspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang viscositas aspal yang sesuai depersyaratkan  Pemadatan campuran beraspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah 1. Pemadatan Awal 2. Pemadatan Antara 3. Pemadatan Akhir  Pemadatan awal atau breakdown rolling harus dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja. Pemadatan awal harus dioperasikan dengan roda penggerak berada didekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum dua lintasan penggilasan awal  Pertama – tama pemadatan harus dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan campuran beraspal akibat penggilasan.  Pemadatan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Selanjutnya penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan berurutan menuju kearah sumbu jalan  Bilamana menggilas sambungan memanjang , alat pemadat untuk pemadatan awal harus terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 Cm dari lebar roda pemadat yang memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan.



 



  



Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 Km/Jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak mengakibatkan bergesernya campuran panas tersebut. Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran beraspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidakrataan dapat dihilangkan. Roda alat pemadat harus dibasahi dengan cara pangabutan secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran beraspal pada roda. Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng melintang dan kelandaian memenuhi toleransi yang diisyaratkan Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan sekelompok pekerja harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi.



GAMBAR ILUSTRASI PEK. LAPIS PERMUKAAN ANTARA (AC – BC AsbP)Asbuton Pra Campur) t=6Cm



4. Campuran Panas Asbuton Lapisan Aus Campur ) t = 4 Cm



( AC-WC AsbP) ( Asbuton Pra



Sebelum memulai pekerjaan ini,terlebih dahulu harus di lakukan pengujian laboratorium untuk menghasilkan JMD ( Job Mix Desigan ) Setelah didapat komposisi dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap material yang akan digunakan dalam pekerjaan Laston Lapis Antara ( AC-WC ) ini,selanjutnya dilakukan percobaan campuran dan percobaan pemadatan ( Trial Mix ) untuk mengetahui komposisi pasti yang akan digunakan pada produksi Hot



Mix nantinya dan untuk mengetahui ketebalan penghamparan gembur agar menghasilkan mutu yang sesuai dengan yang di inginkan dalam spesifikasi teknis dan dibuat laporan berupa Job Mix Formula ( JMF ). Sebelum memulai produksi Hot Mix ( AC-WC ),terlebuh dahulu mengajukan Request Sheet ( Ijin Kerja ) Pembuatan ( Produksi Aspal ) dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut : Penyiapan Bahan Aspal ( dilakukan di Ketel yang berhubungan langsung ke timbangan aspal di AMP ),dipanaskan sampai suhu kurang lebih 170°C Penyiapan Agregat ,dilakukan di Cool Beam kemudian di distribusikan ke Drayer untuk mengurangi kadar air agregat dan selanjutnya di distribusikan lagi ke timbangan di Hot Beam setelah melalui proses ayakan di Hot Beam Penyiapan Pencampuran dilakukan di Hot Beam setelah semua material telah di timbang sesuai dengan proporsinya masing-masing sesuai dengan hasil JMF kemudian di masukkan kedalam pupmil.Perlu di perhatikan waktu untuk proses Mixing ( Pencapuran ) didalam mixer ( Pupmil )ini harus sesuai dengan spesifikasi yang ada. Aspal ( Hot Mix ) yang telah di produksi di distribusikan ke lokasi pekerjaan dengan menggunakan Dump Truck yang di atasnya ditutupi dengan terpal tahan panas,agar aspal tidak mengalami penurunan suhu yang drastis selama dalam perjalanan ke lokasi pekerjaan. Penghamparan Dan Pemadatan Aspal Hot Mix yang telah sampai di lokasi pekerjaan segera di hampar dengan menggunakan Aspla Finisher dengan ketebalan gembur yang telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan penghamparan gembur yang telah di dapatkan pada saat Trial Mix dan menghasilhan ketebalan padat sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan. Sesaat setelah penghamparan dilakukan penggilasan awal dengan menggunakan Tandem Roller berkapasitas 6-8 Ton pada suhu minimal 130°C dan kemudian di lanjutkan dengan penggilasan ( Pemadatan ) dengan menggunakan Tire Roller dengan kapasitas 8-12 Ton.Untuk penggilasan dengan Tire Roller ini dilakukan sesuai dengan jumlah lintasan yang di syaratkan dalam spesifikasi kemudian di finising dengan penggilasan Tandem Roller dengan jumlah lintasan yang disesuaikan. Untuk pekerjaan Aspal tersebut seluruh rangkain untuk proses keberterimaan ( Untuk keperluan pengujian kualitas dan kuantitas )harus di siapkan dan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis.



Gambar Ilistrasi Pek. Lapisan Aus AC – WC AsP (Asbuton Pra Campur) t=4Cm



Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas S Pekerjaan ini dimaksudkan untuk perkerasan daerah bahu jalan dan dilaksanakan setelah pekerjaan pengaspalan ( AC – WC AsbP ) telah selesai di laksanakan.Kemiringan Lapis Pondasi Kelas S ( LPS ) sebesar 3 % diatur mengikuti pinggir pekerjaan pengaspalan. Percobaan Pemadatan (Trial Compaction) 1. Pekerjaan ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemadatan seperti yang di jelaskan dalam spesifikasi teknis pelaksanaan percobaan pemadatan pada spesifikasi Divisi.4 ( Spesifikasi Teknis Pekerjaan Jalan Dan Jembatan ). Pelaksanaan Pemadatan Lapis Pondasi Agregat Kelas S Setelah tim laboratorium melakukan insfeksi dan ternyata lokasi pekerjaan tersebut telah siap maka material di transport ke lokasi pekerjaan.Sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan terlebih dahulu diadakan percobaan pemadatan (trial comfaction). Adapun langkah-langkah untuk pekerjaan pemadatan sebagai berikut: 1. Terlebih dahulu Tim survey melakukan pemasangan patok-patok referensi sebagai dasar untuk penghamparan material LPS. 2. Permukaan existing harus di ratakan dan dipadatkan terlebih dahulu sebelum menghampar material LPS dengan alat Vibrator Roller dan alat motor grader. 3. Drop Material LPS kelokasi pemadatan.



4. Hamparkan Material LPS dengan Motor Greder dan ratakan. Pekerjaan pemadatan dimulai : Melakukan pemadatan dengan alat Vibrator Roller sebanyak 6 lintasan di area sesuai dengan jumlah lintasan yang sesuai yang telah di lakukan pada percobaan pemadatan pemadatan. pengetesan.



Gamabar Ilustrasi Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas S



DIVISI 7 . STRUKTUR 1. Pasangan Batu Pekerjaan pasangan batu digunakan pada struktur seperti dinding penahan, gorong – gorong pelat, dan tembok kepala gorong-gorong besar dari pasangan batu yang digunakan untuk menahan beban luar yang cukup besar. Volume Waktu Pelaksanaan Target waktu pelaksanaan untuk pekerjaan Pasangan Batu berdasarkan usulan yang tercantum dalam Time Schedule pada dokumen penawaran. Bahan : Batu Kali Semen (PC) Pasir Peralatan yang digunakan : Conc. Mixer Water Tanker Alat Bantu 1. Persiapan • Bahan dan peralatan yang digunakan dipersiapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan • Seluruh bahan yang digunakan telah tersedia di base camp. • Sebelum bekerja, seluruh peralatan diperiksa kelayakan alat sehingga dapat digunakan dalam pekerjaan.



2. Pemasangan Bowplank • Pengukuran dan pemasangan bowplank atau menentukan kedalaman galian. Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan mempedomani hasil rekayasa yang telah ditentukan oleh konsultan dan pihak proyek. Pemasangan bowplank dilakukan setelah hasil dari pengukuran disetujui oleh pihak Konsultan dan direksi Pekerjaan. 3. Pasangan Batu dengan Mortar • Semen, pasir dan air dicampur dan diaduk dengan menggunakan alat bantu • Batu dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang • Sekelompok perkerja melakukkan penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan.



Gambar Contoh. Pasangan Batu



Jenis Pekerjaan Menunjang : No.



Jenis Pekerjaan Penunjang/Sementara



1.



Beton mutu sedang Fc’25 Mpa dan Fc’10 Mpa



2.



Baja Tulangan U 32 Ulir



2. Beton Mutu Sedang Fc’25 Mpa Dan Fc’10 Mpa Beton mutu sedang merupakan beton mutu sedang yang bersifat structural yang digunakan untuk beton bertulang seperti bangunan bawah jembatan, lantai, dan perkerasan beton semen. Dalam kegiatan ini beton mutu sedang diperuntukkan untuk struktur bangunan bawah jembatan (Abutment, Wing Wall dan Petak Injak). Pekerjaan ini juga sudah termasuk pembuatan perancah dan bekisting untuk acuan pengecoran. Sebelum melakukan pekerjaan, penyedia jasa terlebih dahulu menunjukan semen usulan agregat dan campuran yang memadai berdasarkan hasil pengujian material dan campuran di laboratorium berdasarkan kuat beton untuk umut 7 dan 28 hari, atau umur yang lain yang telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, yang tertuang secara berurutan sesuai dalam spesifikasi teknik, mulai dari pengujuian DMF hingga persetujuan JMF. Proporsi bahan dan berat penakaran hasil perhitungan harus memenuhi criteria



teknis utama, yaitu kelecakan (workability), kekuatan (Straigth), dan keawetan (durability). Penyedia jasa akan membuat gambar detil untuk seluruh perancah yang akan digunakan, dan memperoleh persetujuan direksi pekerjaan sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai. Volume Pekerjaan ini : 11 m3 Waktu Pelaksanaan Target waktu pelaksanaan untuk pekerjaan Beton Mutu Sedang Fc’20 Mpa (K-250) berdasarkan usulan yang tercantum dalam Time Schedule pada dokumen penawaran. Bahan : Semen Pasir beton Agregat Kasar Kayu Perancah Paku Peralatan yang digunakan : • Con Pan. Mixer • Truck Mixer • Water Tanker • Alat Bantu Urutan dan Uraian Kerja dalam menyelesaikan Pekerjaan : Bahan-bahan untuk campuran beton (semen, pasir, aggregat kasar dan air) Material (pasir, semen, aggregat kasar) pencampuran dilakukan menggunakan concerete pan mixer. Bersihkan lantai kerja, selanjutnya pasang pmbesian dan bekisting. Pembesian, bekisting dan benda-benda lain (pipa) yang dimasukkan kedalam beton harus diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran. Adukan beton menggunakan concerete mixer dan dituang ke dalam cetakan. Padatkan adukan beton secara merata menggunakan Concerete Vibrator. Permukaan beton dibentuk dan diratakan perlahan-lahan menggunakan Towel dan dilanjutkan menggunakan mistar lurus sampai permukaan menjadi rata dan halus. Perawatan dilakukan dengan menutupi permukaan beton menggunakan karung basah. Setelah minimal 12 jam pada saat pengecoran bekisting dibongkar.



3. Baja Tulangan U 32 Ulir Merupakan baja tulangan Ulir dengan baja mutu sedang yang memiliki tegangan leleh karekteristik 3.200 kg/cm2. Pekerjaan ini mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan pada acuan cetakan sesuai dengan Spesifikasi dan Gambar. Volume Pekerjaan ini : 11 m3 Waktu Pelaksanaan



Target waktu pelaksanaan untuk pekerjaan Baja Tulangan U 24 Polos berdasarkan usulan yang tercantum dalam Time Schedule pada dokumen penawaran. Bahan : Baja Tulangan (Ulir) U32 Kawat Beton Urutan dan Uraian Kerja dalam menyelesaikan Pekerjaan : Pekerjaan dilakukan secara manual dengan urutan pekerjaan sebagai berikut : Besi dipotong dan dibengkokan sesuai dengan kebutuhan, kemudian disusun sedemikian rupa sesuai dengan gambar kerja, dan setiap pertulangan diikat dengan menggunakan kawat beton. Peralatan yang digunakan : Alat Bantu 5. Bronjong dengan Kawat Yang Dilapisi Galvanis Pemasangan Bronjong Keranjang yang dipasang adalah keranjang bronjong pabrikasi. Material tersebut didatangkan dari pabrik ke lokasi kerja. Proses pengadaan keranjang diuraikan dalam pekerjaan mobilisasi. Material pengisi pasangan bronjong didatangkan dari luar lokasi menggunakan dump truck. Batu yang digunakan merupakan batu pecahan/batu belah yang mempunyai sisi tajam. Pemasangan batu dimulai dengan memasukkan batu-batu berukuran besar 20 30 kg/bh disusun dengan rapih, kemudian dilanjutkan dengan memasang batu-batu kecil sebagai pengunci. Ukuran batu-batu pengunci tidak lebih kecil dari ukuran lubang kawat bronjong agar batu tidak keluar dari keranjang. Setelah keranjang terisi penuh pasangan batu, keranjang ditutup dan dikunci, dan kemudian dilanjutkan pasangan bronjong lapis selanjutnya. Antara keranjang yang satu dengan lainnya diikatkan dengan kawat satu sama lain agar terjadi satu kesatuan pasangan. Pasangan lapis ke lapis berikutnya dibuat zig - zag agar pendistribusian kekuatan pasangan lebih merata. DIVISI . 8 PENGEMBALIAN KONDISI MINOR 1. Lapisa Pondasi Agregat Kelas A Untuk Pekerjaan Minor Batu Pecah dengan bergradasi tertentu dan pasir kasar, sesuai persyaratan spesifikasi. Peralatan di lapangan : Tandem Roller 6-8 Ton Tire Roller 6-8 Ton Motor Grader Water Tanker Teknis Pelaksanaan : Pembuatan campuran agregat sesuai rekomendasi laboratorium Agregat dibawah ke lapangan dengan DumpTruck dan dihampar dengan Motor Grader pada kadar air dalam rentang secara merata



Penghamparan minimal selebar jalur lalu lintas dengan tebal 20-30 cm dan tidak ada bekas- bekas yang tidak bisa tertutup pada waktu pemadatan Setelah rata, lalu dipadatkan secara merata,sampai mencapai 100 % kepadatan kering Pemadatan dilakukan pada kondisi kadar air berada dalam rentang, tidak boleh kurang dari 3 % dari kadar air optimum dan tidak boleh lebih dari 10 % dari kadar air optimum. Penggilasan dimulai dari tepi dan bergerak sedikit demi sedikit kearah sumbuh jalan dan pada daerah landai, penggilasan dimulai dari daerah rendah, bergerak sedikit demi sedikit ke tempat yang lebih tinggi, sampai seluruh bekas roda penggilasan tidak nampak dan agregat terkunci rapat.



2. Campuran Aspal Panas Untuk Pekerjaan Minor Bahan lapis resap pengikat umumnya adalah aspal dengan penetrasi 80/100 atau `penetrasi 60/70 yang dicairkan dengan minyak tanah. Volume yang digunakan berkisar antara 0,4 sapai dengan 1,3 liter/ m2 untuk lapis pondasi agregat kelas A dan 0,2 sampai 1 liter/m2 untuk pondasi tanah semen. Setelah pengeringan selama 4 sampai 6 jam, bahan pengikat harus telah meresap kedalam lapis pondasi. lapis resap pengikat yang berlebih dapat mengakibatkan pelelehan (bleeding) dan dapat menyebabkan timbulnya bidang geser, untuk itu pada daerah yang berlebih ditabur dengan pasir dan dibiarkan agar pasir tersebut diselimuti aspal 3. Residu Bitumen Untuk Pekerjaan Minor Pekerjaan Residu bitumen ini mencampur minyak dan aspal dengan proprsi yang telah ditentukan , disemprotkan dengan menggunakan asphalt Sprayer , sebelum melukan penyemprotan , permukaan yang akan disemprot terlebih dahulu dibersikan dari kotoran dan debu dengan menggunakan kompressor 4. Marka Jalan Termosplastik Pekerjaan jalan termoplastik merupakan pembuatan marka lalu lintas dilaksanakan pada gari sumbu, garis lajur, garis tepi dan zebra cross dengan menggunakan bahan marka jalan jenis termoplastik sebagai cat. Cat yang digunakan berwarna putih atau kuning, yang mengacu pada SNI 06-4826-1998 (jenis padat, bukan serbuk).Sebelum dilakukan pengecatan permukaan jalan dibersihkan dan dikeringkan. Pengecatan dilakukan paling cepat 1 bulan setelah pelaksanaan pekerjaan HRS kecuali diperintakan Direksi pekerjaan. Pelaksanaan Pengecatan Marka Jalan Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (termoplastik) harus dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik pembuatnya sebelum digunakan agar suspense pigmen merata di dalam cat. Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang baru diaspal kurang dari 3 bulan setelah pelaksanaan lapis permukaan, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan Selama masa tunggu yang disebutkan di atas, pengecatan marka jalan



sementara ( pre- marking) pada permukaan beraspal harus dilaksanakan segera setelah pelapisan Penyedia Jasa harus mengatur dan menandai semua marka jalan pada permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi sebelum pelaksanaan pengecatan marka jalan. Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur, garis tepi dan zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang disetujui, bergerak dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau penghamparan otomatis dengan katup mekanis. Pekerjaan ini dilakukan sesuai dengan jadwal pelaksanaan



DIVISI 10. PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN Pekerjaan Pemeliharaan Rutin meliputi



:



1. PEMELIHARAAN RUTIN SELOKAN, SALURAN AIR, GALIAN DAN TIMBUNAN Selokan dan saluran air lama maupun yang baru dibuat harus dijaga agar bebas dari semua bahan yang lepas, sampah, endapan dan pertumbuhan tanaman yang tidak dikehendaki yang mungkin akan menghalangi aliran air pennukaan. Pemeiharaan semacam itu harus dilaksanakan secara teratur berdasarkna rutinitas dan segera. Selama periode hujan lebat, Penyedia Jasa harus menyediakan regu pemeliharaan yang akan berpatroli di lapangan dan mencermaati setiap sistem drainase yang kurang berfungsi akibat penyumbatan atau karena hal lain. Setiap kelainan pada drainase dicatat pada saat tersebut, seperti luapan air, kekurangan kapasitas, erosi, alinyemen struktur drainase yang kurang tepat atau rancangan lainnya yang kurang cocok, harus dilaporkan kepada Direksi Pekerjaan, dan Direksi Pekerjaan akan mengeluarkan perintah yang sesuai dengan langkah yang harus diambil. Pekerjaan pemeliharaan rutin untuk timbunan dan galian harus mencakup pemotongan rumput, semak-semak, dan pohon – pohon.



PEMELIHARAAN RUTIN JALAN 1. Galian Tanah Untuk Saluran Air dan Lereng Pekerjaan ini mencakup pembersihan tumbuh-tumbuhan dan pembuangan benda-benda dari saluran tepi jalan ataupun dari kanal-kanal yang ada, memotong kembali dan membentuk ulang saluran tanah yang ada untuk perbaikan atau peningkatan kondisi asli, dan juga perbaikan saluran yang dilapisi dalam ha saluran pasangan batu atau beton. Pelaksanaan Pekerjaan Semua sampah, tumbuh-tumbuhan, endapan dan bahan -bahan yang harus disingkirkan, harus dibuang dari saluran tanah, termasuk dari Saluran yang memotong bahu jalan dan menyambung kepada lubang tangkapan atau gorong –gorong. Saluran-saluran dilapisi yang dalam kondisi jelek atau rusak harus diperbaiki. Pasangan batu atau beton yang pecah-pecah, rusak atau lepas harus dipotong dan diganti dengan pasangan batu atau beton yang baru yang dilaksanakan sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS. Cara Pengukuran Pekerjaan :Semua pengukuran harus dilakukan di sepanjang sumbu saluran dan harus disediakan untuk seluruh pekerjaan yang dialakukan bagi rehabilitasi kedua sisi saluran. 2. Timbunan Pilihan Untuk Lereng dan Tepi Saluran Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas level timbunan biasadan sebagai tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti diperintahkan atau distujui oleh Direksi pekerjaan.Dalam segala hal, seluruh timbunan pilihan harus, bila di uji sesuai dan memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum. Pekerjaan Urugan pilihan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut : Pengangkutan Material Pengangkutan Material Urugan pilihan kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan loadingnya dilakukan dengan menggunakan wheel loader. Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan pada saat penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain. 3. Pasangan Batu Dengan Mortar Setelah galian disiapkan dan telah dicek serta diketahui oleh Direksi dan pengawas maka pekerjaan pasangan batu dengan mortar kami laksanakan namun sebelumnya pekerjaan ini akan kami cakupkan dengan pelapisan sisi atau dasar selokan dan saluran air dan pebuatan “apron” (lantaigolak) , lubang masuk dan struktur saluran kecil lainya dengan menggunakan pasangan batu dengan mortar yang di bangun di atas suatu dasar yang telah di siapkan memenuhi garis, ketinggian , dan dimensi yang ditentukan oleh Direksi dan Pengawas tentunya sesuai dengan spesifikasi teknik dimana menggunakan tenaga tukang batu dengan kapasitas atau volume sesuai dengan analisa terlampir, untuk bahan baku kami angkut dari quary disekitar lokasi terdekat menggunakan dump truck atau truck bak terbuka dengan kapasitas ±4 m³, dan dilangsir dengan kereta dorong atau dengan tenaga manusia apabila lokasi hanya dapat dijangkau dengan menggunakan kereta dorong dan apabila lokasi tidak memungkinkan maka bahan batu diangkut dengan



tenaga manusia, sedangkan batu yang dipakai menggunakan batu putih dan untuk selasela pasangan akan kami padatkan dengan menusuk-nusuk sela antar batu sehingga tidak ada bagian yang renggang, pekerjaan meliputi pemasangan plester sebagai penutup bidang muka pasangan, sebelum pelaksanaan pekerjaan mengajukan ijin kerja pelaksanaan. 4. Campuran Aspal Panas Bahan lapis resap pengikat umumnya adalah aspal dengan penetrasi 80/100 atau `penetrasi 60/70 yang dicairkan dengan minyak tanah. Volume yang digunakan berkisar antara 0,4 sapai dengan 1,3 liter/ m2 untuk lapis pondasi agregat kelas A dan 0,2 sampai 1 liter/m2 untuk pondasi tanah semen. Setelah pengeringan selama 4 sampai 6 jam, bahan pengikat harus telah meresap kedalam lapis pondasi. lapis resap pengikat yang berlebih dapat mengakibatkan pelelehan (bleeding) dan dapat menyebabkan timbulnya bidang geser, untuk itu pada daerah yang berlebih ditabur dengan pasir dan dibiarkan agar pasir tersebut diselimuti aspal. 5. Residu Bitumen Pekerjaan Residu bitumen ini mencampur minyak dan aspal dengan proprsi yang telah ditentukan , disemprotkan dengan menggunakan asphalt Sprayer , sebelum melukan penyemprotan , permukaan yang akan disemprot terlebih dahulu dibersikan dari kotoran dan debu dengan menggunakan kompressor 6. Pasangan Batu Setelah galian disiapkan dan telah dicek serta diketahui oleh Direksi dan pengawas maka pekerjaan pasangan batu dengan mortar kami laksanakan namun sebelumnya telah kami pasang profil bentuk kepala bangunan per jarak yang ditentukan oleh Direksi dan Pengawas tentunya sesuai dengan spesifikasi teknik dimana menggunakan tenaga tukang batu dengan kapasitas atau volume sesuai dengan analisa terlampir, untuk bahan baku kami angkut dari quary disekitar lokasi terdekat menggunakan dump truck atau truck bak terbuka dengan kapasitas ±4 m³, dan dilangsir dengan kereta dorong atau dengan tenaga manusia apabila lokasi hanya dapat dijangkau dengan menggunakan kereta dorong dan apabila lokasi tidak memungkinkan maka bahan batu diangkut dengan tenaga manusia, sedangkan batu yang dipakai menggunakan batu belah hitam dan untuk sela-sela pasangan akan kami padatkan dengan menusuk-nusuk sela antar batu sehingga tidak ada bagian yang renggang, pekerjaan meliputi pemasangan plester dan siar sebagai penutup bidang muka pasangan, sebelum pelaksanaan pekerjaan mengajukan ijin kerja pelaksanaan 7. Pengendalian Tanaman Pada Rumija Mengembalikan kondisi semula dengan melakukan pemeliharaan rutin pada daerah milik jalan ( RUMIJA ) tanaman yang di tanam dan tumbuh secara liar dibersihkan dengan baenar sehingga pengguna jalan merasa nyaman



PEMELIHARAAN RUTIN JEMBATAN 1.Pembersihan Jembatan Pekerjaan Pembersihan dan pemeliharaan rutin untuk jembatan harus berlaku untuk semua jembatan yang ada sepanjang Kontrak, tanpa memandang ukuran atau jenis jembatan, dan pada prinsipnya harus meliputi pemeriksanaan secara teratur terhadap komponen utama struktur, penyiapan laporan detil pemeriksaan dan pembersihan rutin tempat-tempat yang mudah rusak jika dibiarkan. Di daerah bangunan atas jembatan dan bangunan bawah jembatan, operasi pembersihan dan pembabatan yang berikut harus dilaksanakan sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Semua tanaman yang berantai harus dipotong secukupnya dan sampahnya dibuang dengan rapi; Semua lubang sulingan yang disediakan pada abutment dan tembok sayap harus bebas dari sempah-sernpah yang menyumbatnya. Semua dudukan jembatan dan kepala pier harus dijaga supaya bebas dan sampah, kotoren dan air. Semua sambungan pada permukaan kayu harus dijaga agar bebas dari sarnpah dan kotoran sedernikian hingga tidak menyimpan air yang akan mempercepat proses pelapukan; Semua permukaan baja harus dijaga agar bebas dari sampah dan kotoran sedemikian hingga tidak menyimpan air yang akan mempercepat proses korosi. Semua lubang pembuangan air, pipa buangan air, saluran drainase dan lubang keluaran harus dijaga bersih dari sampah supaya air dapat mengalir bebas, sehingga terhindar dari limpahan air pada perletakan, dudukan perletakan dan rembesan melalui sambungan atau retak-retak. Paku, baut jembatan atau pecahan kayu tidak boleh menonjol diatas permukaan lantai jembatan sehingga dapat menusuk ban kendaraan yang lewat 2.Pengecetan Sederhana Bahan Cat untuk Pengecatan Sederhana Bahan cat yang digunakan untuk perlindungan permukaan dalam pemeliharaan rutin harus disesuaikan dengan rencana umur ketahanan cat, kondisi elemen serta jenis lapisan pelindung elemen eksisting, agar cat akan melekat dengan baik pada permukaan baja atau beton yang diberi lapisan pelindung tersebut. a.



Cat untuk elemen jembatan yang bergalvanis Jenis bahan cat yang digunakan untuk perbaikan permukaan harus sesuai dengan bahan dasar struktur baja yang akan diberi lapisan pelindung kembali. Jenis cat harus sesuai dengan persyaratan dan harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dari pabrik pembuat berdasarkan spesifikasi serta sertifikat yang menjamin keaslian bahan cat yang digunakan dan disetujui oleh Direksi Pekejaan. Untuk memastikan hasil akhir yang dapat diterima, maka harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap semua permukaan yang telah dicat terhadap



kerusakan serta dilakukan juga pengukuran ketebalan cat dengan menggunakan alat pengukur ketebalan cat. Cat dasar yang digunakan adalah jenis Aluminium Epoxy Mastic Dengan sifat- sifat sebagai berikut: terdiri atas 2 komponen mempunyai kandungan pigmen aluminium mempunyai sifat mengikat (mastic) pada lapisan galvanis solid content 90 ± 2% (berdasarkan volume) Cat akhir yang digunakan adalah jenis Polyurethane alkyd copolymer dengan sifatsifat sebagai berikut: terdiri atas 1 komponen tahan terhadap gesekan (abrasion resistance) mempunyai variasi warna dan mengkilat solid content 49 ± 2% (berdasarkan volume) b.



Cat untuk elemen jembatan yang tidak bergalvanis Lapisan pertama : Chlorinated Rubber Primer, dengan sifat-sifat mengandung pigmen anti karat dengan solid content terhadap volume 42% Lapisan kedua : Chlorinated Rubber Undercoat, dengan sifat-sifat seperti pada lapisan pertama dengan berat jenis sekitar 1,3 kg/liter Lapisan akhir : Chlorinated Rubber Finish, dengan sifat-sifat sama dengan



lapisan pertama dengan berat jenis sekitar 1,27 kg/liter. c. Cat anti korosi untuk elemen jembatan Bahan cat merupakan jenis cat yang digunakan untuk mengatasi korosi pada elemen jembatan seperti pada tiang pancang baja, fender tiang atau elemenelemen sekunder lainnya yang mudah terkorosi dan berhubungan dengan air disyaratkan sebagai berikut: Bahan cat harus dapat melekat pada pelaksanaan pengecatan kondisi elemen bawah air serta terdiri atas satu komponen untuk kemudahan pelaksanaan. Harus dapat tahan dan mematikan karat yang terjadi dengan tingkat persiapan permukaan yang sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang kompleks Kelekatan dibuktikan dengan pengujian pull-off test. Persyaratan bahan untuk cat anti korosi adalah sebagai berikut:



Abrasion Resistance (ASTM D4060) - 123 mg loss Adhesion (ASTM D4541) - 750 psi Direct Impact Resistance (ASTM G14) - 26 in.lb Dry Heat Resistance (ASTM D2475 – 92 (2013)) - 1210 C Pencil Hardness (ASTM D3363) - 4H Komposisi campuran cat anti korosi harus memenuhi : Volume solid : 100% Specific gravity : mixed – 1.55; base only – 1.75 Number of coats : two coats Working life : @ 270 C – 30/40 minutes Drying times : @ 270 C - 3 – 4 hours Pengecatan sederhana Pelaksanaan pengecatan sederhana ini dilaksanakan untuk pekerjaan pengecatan pada sandaran pipa baja atau profil yang sudah digalvanis atau yang tidak bergalvanis. Pengecatan pada tiang sandaran, tembok sedada juga kerb yang terbuat dari pasangan batu atau beton. 1



Pengecatan sederhana pada sandaran horisontal baja yang bergalvanis a. Persiapan Permukaan Permukaan baja yang akan dicat cukup dibersihkan dengan water jet sampai semua kotoran dan cat yang mengelupas atau tidak menempel terlepas. Bagian permukaan yang berkarat dan tidak dapat bersih dengan water jet dapat dilanjutkan dengan menggunakan sikat kawat yang selanjutnya harus dibersihkan kembali dari debu. Pelaksanaan Cara pelaksanaan dapat menggunakan kuas atau alat semprot. Cat yang sudah disiapkan (2 komponen) sesuai dengan pasal SKh1.10.b.2.4).a) dan harus dicampur sesuai dengan persyaratan dari pabrik pembuat dan teknis yang disyaratkan. Pelaksanaan dilaksanakan dalam 2 lapis sesuai yaitu cat dasar dan cat akhir (top coat). Pekerjaan pengecatan harus sudah dilaksanakan dalam kurun waktu 3 jam setelah selesainya pekerjaan persiapan atau pembersihan permukaan.



2. Pengecatan sederhana pada sandaran horisontal baja yang tidak bergalvanis a. Persiapan Permukaan. Permukaan baja yang akan dicat cukup dibersihkan dengan water jet sampai semua kotoran dan cat yang mengelupas bersih dari permukaan baja Bagian permukaan yang berkarat dan tidak dapat bersih dengan water jet dapat dilanjutkan dengan menggunakan sikat kawat yang selanjutnya harus dibersihkan kembali dari debu.



b. Pelaksanaan Cara pelaksanaan dapat menggunakan kuas atau alat semprot. Cat yang sudah disiapkan (2 komponen) sesuai dengan pasal SKh1.10.b.2.4).b) dan harus dicampur sesuai dengan persyaratan dari pabrik pembuat dan teknis yang disyaratkan. Pelaksanaan dilaksanakan dalam 2 lapis sesuai yaitu cat dasar dan cat akhir (top coat). Pekerjaan pengecatan harus sudah dilaksanakan dalam kurun waktu 3 jam setelah selesainya pekerjaan persiapan atau pembersihan permukaan. 3. Pengecatan tiang sandaran beton, tembok sedada, kerb a. Persiapan Permukaan Permukaan tiang sandaran, tembok sedada atau kerb yang akan dicat cukup dibersihkan dengan water jet sampai semua kotoran dan cat yang mengelupas bersih dari permukaan baja. Bagian permukaan yang berkarat dan tidak dapat bersih dengan water jet dapat dilanjutkan dengan menggunakan sikat kawat yang selanjutnya harus dibersihkan kembali dari debu. b. Pelaksanaan Cara pelaksanaan dapat menggunakan kuas. Jenis cat yang digunakan dapat menggunakan jenis cat yang diperuntukkan beton atau adukan semen. 4. Pengecatan tiang pancang dan fender Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang atau fender yang terkena dampak cipratan air dan menimbulkan terjadinya korosi, harus memenuhi persyaratan pelaksanaan sebagai berikut: a. Persiapan permukaan Bersihkan bagian baja yang berkarat sampai bagian baja bersih dengan menggunakan ultra high pressure water. Apabila diperlukan gunakan juga sikat kawat, gurinda untuk bagian dimana korosi tidak mudah lepas. Kemudian bersihkan kembali dari debu yang menempel pada permukaan baja. b. Pelaksanaan Setelah permukaan bersih dan tidak lebih dari 30 menit, cat harus sudah dilekatkan. Gunakan cat sesuai dengan persyaratan pada SKh-1.10.b.2.4).c) dengan ketebalan yang disyaratkan sesuai dengan kondisi yang ada.



Demikianlah uraian metode pelaksanaan Presevasi Rekonstruksi Jalan Seleman – Besi – Wahai – Pasahari yang dapat kami sampaikan sebagai usuIan tentang pekerjaan – pekerjaan yang terlingkup dalam paket ini, semoga uraian ini dapat memberikan gambaran yang cukup tentang langkah-langkah dalam pelaksanaan proyek ini, sehingga paket pekerjaan ini bisa dilaksanakan tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya.