Sap Pembatasan Cairan [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

SATUAN ACARA PENYULUHAN PEMBATASAN ASUPAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) YANG MENJALANI HEMODIALISA (HD) DI RUANGAN HEMODIALISA RSUD M.M DUNDA LIMBOTO



OLEH KELOMPOK VII 1. Minarti 2. Fadillah Iralisty Hunta 3. Nia Noviandari Mootalu 4. Sitti Rahma Putri Maliki



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2020



SATUAN ACARA PENYULUHAN Topik



: Pembatasan Asupan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (Ggk) Yang Menjalani Hemodialisa (Hd)



Sasaran



: Keluarga dan Pasien dengan Gagal Ginjal Kronis yang menjalani terapi hemodialisis



Tanggal



: Kamis, 29, Oktober 2020



Waktu



: 09.00-09.30 WITA (1 X 30 menit)



Tempat



: Ruang Hemodialisa RSUD Dr. M.M DUNDA LIMBOTO



Penyuluh



: 1. Minarti 2. Fadillah Iralisty Hunta 3. Nia Noviandari Mootalu 4. Sitti Rahmaputri Maliki



A. Tujuan Umum Setelah mendapatkan penyuluhan dan pengarahan mengenai pembatasan cairan diharapkan pasien dan keluarga dapat memahami dan mengerti tentang keseimbangan cairan tubuh.



B. Tujuan Khusus Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga mampu :



1. Menyebutkan tentang pengertian komposisi cairan tubuh dengan benar. 2. Mampu memahami Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit 3. Menyebutkan dengan benar tentang hal yang harus diperhatikan dalam pembatasan cairan pada penderita GGK.



C. Waktu: 1 x 30 menit



D. Bahan/Alat yang diperlukan : a) Leafleat b) X-banner



E. Model Pembelajaran a) Jenis model penyuluhan: ceramah, tanya jawab, diskusi b) Landasan teori: konstruktivisme c) Langkah pokok: 1. Menciptakan suasana pendidikan kesehatan yang baik 2. Mengajukan masalah 3. Membuat keputusan nilai personal 4. Mengidentifikasi pilihan tindakan 5. Memberi komentar 6. Menetapkan tindak lanjut F. Persiapan Penyuluh mencari referensi (buku, jurnal, hasil penelitian, artikel, dan lainlain) diet nurtisi pada pasien hemodialisa dan membuat media penyuluhan tentang diet nurtisi pada pasien hemodialisa.



G. Kegiatan Penyuluhan



No



Tahap Kegiatan



Waktu



1



Pembukaan



5 menit



2



Pelaksanaan 20 menit



Kegiatan Penyuluhan



Kegiatan Peserta



Media



1. Membuka kegiatan dengan Menjawab dan Ceramah mengucapkan salam Memperhatikan 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan 4. Menyebutkan materi yang akan diberikan 1. Menyebutkan tentang komposisi Mendengarkan dan pembatasan cairan tubuh dan 2. Definisi pembatasan cairan Memperhatikan 3. Tujuan Pembatasan cairan 4. Manfaat pembatasan cairan 5. Pembatasan Cairan Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik 6. Cara mengontrol rasa haus pada pasien gagal ginjal kronis



Ceramah dan tanya jawab



3



Penutup



5 menit



1. Mengevaluasi dengan memberikan pertanyaan 2. Menyimpulkan materi 3. Salam penutup



cara Menjawab pertanyaan, Mendengarkan dan memperhatikan menjawab, salam



Tanya jawab dan salam penutup



MATERI PENYULUHAN A. Komposisi dan pembatasan cairan tubuh Air adalah komponen pembentuk tubuh yang paling banyak jumlahnya. Pada orang dewasa kurang lebih 60 % dari berat badan adalah air (air dan elektrolit), 2/3 bagian berada di intrasel, dan 1/3 bagian berada di ekstrasel. 60 % berat badan tubuh adalah : 1. Cairan intrasel (CIS) 40 % dari berat badan 2. Cairan ekstrasel (CES) 20 % dari berat badan yang terdiri dari cairan intra vaskuler(plasma) 5 % dari berat badan, dan cairan interstisil 15 % dari berat badan. Elektrolit utama : 1. Dari CES : Natrium (N = 135 - 147 mEq/liter), Klorida (N = 100 106mEq/liter) 2. Dari CIS : Kalium (N = 3,5 - 5,5 mEq/liter), Phospat (N = 3 - 4,5mg/liter) B. Definisi Pelaksanaan pembatasan asupan cairan dan natrium merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pasien hemodialisa untuk mengontrol dan membatasi jumlah asupan cairan dan natrium sehingga tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, serta tidak terjadi gejala kelebihan cairan (overload) seperti udem, acites, sesak dan peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh kegagalan fungsi ginjal untuk membuang kelebihan cairan dan elektrolit yang menumpuk pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) yang menjalani hemodialisa. C. Tujuan pembatasan cairan Tujuan dari Pembatasan asupan cairan pada pasien penyakit ginjal



kronik



edemadan



sangat



komplikasi



perludilakukan kardiovaskular.



untuk



mencegah



gagal



terjadinya



Asupanmeliputi semua cairan



yang dikonsumsi baikmelalui mulut seperti gelatin, es krim, sup, jusdan air, melalui selang makan nasogastrik,dan likuid serta komponen-komponen darahyang diberikan melalui intravena. Jika pasien tidak dapat membatasi



jumlah asupan cairanyang masuk, maka cairan akan menumpuk didalam tubuh dan akan menimbulkan edemadiseluruh



tubuh



seperti



tangan,



kaki, danmuka. Selain itu, penumpukan cairan padaparu-paru juga akan menimbulkan sesaknafas. Oleh karena itu, pasien GGK haruspatuh dalam membatasi asupan cairan (Potter& perry, 2005; Almatsier, 2006; Sudoyo etal., 2009) D. Manfaat pembatasan cairan Kepatuhan terhadap pengontrolan diet dan pembatasan asupan cairan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan pasien dengan hemodialisis kronis (Kaswari 2012). Kepatuhan terhadap pembatasan cairan diperlukan untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan yang dapat menyebabkan odema dan meningkatkan resiko pada kardiovaskuler dan hipertensi (Barnet 2007). E. Pembatasan Cairan Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Pembatasan asupan cairan sampai 1 liter perhari sangat penting karena meminimalkan risiko kelebihan cairan antar sesi hemodialisa. IDWG yang dapat ditoleransi oleh tubuh adalah 1,0-1,5 kg atau 3 % dari berat kering. Berat kering adalah berat tubuh tanpa adanya kelebihan cairan yang menumpuk diantara dua terapi hemodialisa. Berat kering ini dapat disamakan dengan berat badan orang dengan ginjal sehat setelah buang air kecil. Berat kering adalah berat terendah yang dapat ditoleransi oleh pasien sesaat setelah terapi dialiysis tanpa menyebabkan timbulnya gejala turunnya tekanan darah, kram atau gejala lainnya yang merupakan indikasi terlalu banyak cairan dibuang. Sebelum dan sesudah hemodialisis berat badan pasien ditimbang secara rutin dan IDWG diukur dengan cara menghitung selisih antara berat badan setelah HD pada periode hemodialisis pertama dikurangi berat badan pasien sebelum pre HD kedua dibagi berat badan setelah HD pada periode hemodialisis pertama dikalikan 100%. Misalnya BB pasien post HD ke 1 adalah 54 kg, BB pasien pre HD ke 2 adalah 58 kg, prosentase IDWG (58 -54) : 58 x 100% = 6,8 % (Widyastutik, 2020)



IDWG dianggap sebagai ukuran kepatuhan pasien yang menjalani terapi hemodialisis , berhubungan dengan status gizi, tekanan darah hemodialisis, komplikasi jangka pendek dan panjang.Timbulnya efek negative dari penambahan berat badan diantara waktu dialysis akan mempengaruhi kualitas hidup pasien,hingga timbulnya kematian seperti yang diungkapkan para peneliti diatas. Pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis , kelebihan cairan akan menyebabkan bengkak pada bagian tubuh, karena ketidakmampuan ginjal mengeluarkan cairan. Oleh karena itu dilakukan hemodialisa dan pembatasan asupan cairan. Rasa haus memang merupakan masalah yang sering dijumpai pada pasien hemodialisis dengan pembatasan cairan (Angraini,2016). F. Cara mengontrola rasa haus pada penderita Gagal Ginjal Cara mengontrol rasa haus dalam menjalani pengurangan asupan cairan antara lain dengan mengurangi makanan asin yang dapat merangsang rasa haus, minum air secara perlahan dengan gelas berukuran kecil, bekukan minuman dalam bentuk es batu berukuran kecil dan kunyah secara perlahan.



DAFTAR PUSTAKA Angraini, F. N Putri, A.F. 2016. ‘’Pemantauan Intake Output Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dapat Mencegah Overload Cairan ‘’. Jurnal Keperawatan Indonesia, 19(3), PP.152-160 Bote, 2010. Keseimbangan cairan tubuh. http://botefilia.com/index.php/ archives/2009/01/11/. Diakses tanggal 28 Mei 2018. Hanifa Wikyasastro. 2011, Faal Tubuh. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro harjo,Jakarta. Mansjoer, Arif, dkk. 2015. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius Moore. Lisa MD, 2013. Keseimbangan cairan tubuh. www.e medicine.com.Diakses tanggal 28 Mei 2018. SarwonoPrawirohardjo, 2012. Faal. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka. Isroin, L. 2016. Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup. Jl. budi Utomo : Unmuh Ponorogo Pres Widyastutik, Mey Liana. 2020. Hubungan Interdyalytic Weght Gain Dengan Tekanan Darah Pre Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Instalasi Hemodialisa Rsud Pandan Arang Boyolali. Surakarta.