Buku Konstruksi Bangunan - 2 2013 [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

i



KONSTRUKSI BANGUNAN Jilid-2 Untuk SMK



Siagian Robert Konstruksi Bangunan Jilid 2 untuk SMK Kelas XI /oleh Robert Siagian. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2014. ........, hlm Daftar Pustaka : Glosarium : ISBN :



Penulis Ukuran Buku Desain Sampul: ...



: Robert Siagian : …… x …… cm



Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2014



ii



Buku berjudul Konstruksi Bangunan ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan teori dan praktik tentang bangunan, baik itu bangunan sipil kering maupun bangunan sipil basah, dan buku ini disusun dalam dua bentuk, yaitu konstruksi bangunan_1 dan konstruksi bangunan_2, yang berkesinambungan. Pada dasarnya konstruksi bangunan merupakan teori dan pengetahuan yang sifatnya pengantar bagi siswa untuk memahami tentang pengetahuan bahan, spesifikasi, karakteristik guna mereka mampu mengaplikasikannya dalam praktek di lapangan. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang pada prkateknya di dunia kerja sebagai pelaksana dan juga sebagai pengawas, dapat meningkat menjadi perencana bangunan, tentu buku ini adalah pengantar mereka menuju pelajaran konstruksi atau struktur pada pelajaran keahliannya. Sehingga setiap siswa yang mempelajari buku ini diharapkan memiliki rasa ingin tau untuk lebih mendalam belajar konstruksi seperti konstruksi batu, konstruksi kayu, konstruksi baja, konstruksi jalan dan jembatan,konstruksi bangunan hidrolis dan lain-lain yang akan menjadikannya menjadi mausia yang terampil dan bisa melakukan analisis, perencanaan dan pelaksana bangunan Penyusunan buku ini merupakan bagian dari program penulisan bahan ajar SMK, yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah kejuruan (PSMK). Program pembuatan bahan ajar ini, adalah bagian dari peningkatkan mutu pendidikan kejuruan, melalui sarana buku bahan ajar. Penyusunan materi bahan ajar ini, tentu diambil dari berbagai sumber, baik itu materi diklat, bahan ajaryang ada, modul dan sumber lain yang berkenaan dengan topik dan gambar yang dimuat. Dengan demikian adanya buku ini diharapkan akan semakin memperkaya referensi pada Sekolah Menengah Kejuruan. Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak yang membantu penyelesaian buku ini, teman widyaiswara, dosen, pelaksana bangunan, dan seluruh rekan guru SMK di Indonesia. Akhirnya buku ini masih jauh dari sempurna, banyak kekurangan yang perlu untuk dilengkapi. Kritik dan saran untuk kesempurnaan buku ini sangat diharapkan. Semoga buku ini dapat dimanfaatkan bagi pengembangan bahan ajr pendidikan menengah kejuruan. Bandung, Awal Januari 2014 Robert Siagian, Dr, MP



iii



Judul Buku dan Katalog Kata Pengantar Daftar Isi



ii iii iv



Bab 11 Pekerjaan Batu dan Beton (28 JP) A. Pekerjaan Pengukuran Lapangan 1. Pengukuran Membuat Garis Siku 2. Pengukurna Membuat Bidang Datar B. Pekerjaan Memasang Papan Duga C. Pekerjaan Dinding Bangunan 1. Dinding Batu Bata 2. Dinding Hebel 3. Dinding Batako 4. Dinding Batu Alam 5. Dinding Penahan Tanah 6. Dinding Beton 7. Dinding Partisi 7.1 Papan Gypsum 7.2 Papan Kalsium 7.2 Papan Triplek/ Multiplek



1 2 3 5 7 11 14 26 29 37 38 41 44 45 47 49



Bab 12 Pekerjaan konstruksi Baja (28 JP) A. Pendahuluan B. Konstruksi Baja Profil Pada Bangunan



51 52



1. Gambar dan Notasi Baja 2. Sambungan Baja 2.1 Tipe Sambungan Baja 2.2 Gambar Sambungan Baja Profil 2.2.1 Sambungan Las 3. Pekerjaan Kuda-kuda Baja Profil 4. Konstruksi Baja Ringan Bab 13 Pekerjaan Konstruksi kayu (28 JP) A. Sambungan Kayu 1. Alat-Alat Penyambung Kayu 1.1 Sambungan dengan paku 1.2 Sambungan dengan baut 1.3 Sambungan Dengan Perekat 2. Sambungan Kayu Memanjang 3. Sambungan Kayu Melebar



56 59 60 67 72 79 89 95 96 98 98 101 105 112 117



iv



B. C. D. E.



4. Sambungan Kayu Menyudut Pekerjaan Kusen Kayu 1. Teknik Pemasangan Kusen Pintu 2. Teknik Pemasangan Daun Pintu dan Jendela Konstruksi Kuda-kuda Kayu Konstruksi Loteng Kayu Konstruksi Plafon Kayu



126 136 141 141 145 155 161



Bab 14 Pondasi (10 JP) A. Pendahuluan B. Jenis-jenis Pondasi 1. Pondasi Langsung 2. Pondasi Tidak Langsung a. Pondasi tiang Pancang b. Pondasi Bored Pile C. Perencanaan Pondasi



162 163 166 166 181 182 185 189



Bab 15 Utilitas Bangunan (10 JP) A. Pendahuluan B. Sistem Plambing Air Bersih 1. Peralata Plambing 2. Sistem Pemipaan Plambing 3. Sistem Plambing Air Bersih 4. Sistem Penyediaan Air Bersih 5. Air Panas C. Sistem Plambing Air Kotor 1. Pipa Plambing Air Kotor 2. Sistem Pembuangan Air Kotor 3. Sistem Pembuangan Air Hujan D. Utilitas Bangunan Modern



195 196 197 200 203 205 208 214 218 218 221 222 224



Bab 16 K3LH (10 JP) A. Pendahuluan B. Pelaksanaan K3LH Konstruksi 1. Pengertian K3 2. Peran dan Fungsi K3 3. Budaya K3 Kontruksi 4. Manajemen K3 5. Alat Pengaman Diri C. Alat Pemadam api Ringan D. Lingkungan Hidup 1. Pengelolaan Lingkungan Hidup 2. Pengelolaan Lingkungan Hidup Sekolah 2.1 Konsep Green School



234 235 238 241 242 245 249 251 257 262 263 265 266



v



DAFTAR GAMBAR Gambar 11-1 : Pengukuran Jarak Lapangan Gambar 11-2 : Membuat Garis Siku-siku Gambar 11-3 :Kontrol Garis Siku-siku Gambar 11-4: Membuat Bidang Datar Menggunakan Selang Plastik Gambar 11-5 :Pemasanagan Bouwplank Gambar 11-6: Pemasangan Bouwplank di Sudut dan Pemberian Tanda Gambar 11-7:Posisi Benang Pada Papan Bouwplank Gambar 11-8:Sambungan Papan Bouwplank Gambar 11-9: Bangunan Menggunakan Dinding Fabrikasi Gambar 11-10: Bangunan Menggunakan Dinding Kaca Gambar 11-11: Memasang Dinding Batu Bata Gambar 11-12 :Mempersiapkan Pemasangan Dinding Batu Bata Gambar 11-13 :Membuat Pedoman Siku Pemasangan Dinding Batu Bata Gambar11-14 :Siar-siar Vertikal Batu Bata Tidak Satu garis Gambar 11-15:Susunan Lapisan Pasangan Batu Bata Gambar 11-16: Berbagai Hubungan Setengah Bata Gambar 11-17:Bahan Dinding Hebel Gambar 11-18:Pemasangan Dan Aplikasi Dinding Hebel Gambar 11-19:Bentuk Batako (solid block dan hollow block) Gambar 11-20:Ukuran Batako Press(Diambil dari sampel produksi) Gambar 11-21:MesinPress Tangan Gambar 11-22:Pemasangan Batako Sebagai Dinding Pagar Gambar 11-23 :KonstruksiBatakoHubungan Sudut Gambar 11-24:Konstruksi Batako Sudut Dengan Penguat Kolom Gambar 11-25:KonstruksiBatakoHubungan Persilangan Gambar 11-26:Konstruksi Batako Dengan Penguat Besi Beton Gambar 11-27:Konstruksi Dinding Penahan Tanah Gambar 11-28: Desain Konstruksi Dinding Penahan Tanah Gambar 11-29 : Dinding Beton pada Bangunan Gambar 11-30 : Dinding Beton Bertulang Sebagai Penahan Tanah Gambar 11-31 : Dinding Partisi Dari Berbagai Bahan Gambar 12-1: Notasi Gambar Pada baja Profil



vi



Gambar 12-2 : Sambungan Antar Balok Baja Profil Gambar 12-3 : Sambungan Baja Vertical (Antar Kolom) Gambar 12-4: Sambungan Baja Sudut (Antar Kolom dengan Balok) Gambar 12-5: Sambungan Baja Pada Titik Buhul Gambar 12-6 : Pelat Buhul Pada Sambungan Gambar 12-7: Sambungan Baut Baja Gambar 12-8: Sambungan Baja Profil (Foto) Gambar 12-9: Pemasangan Paku Keling Gambar 12-10 : Pemindahan Logam Cair Gambar 12-11:Jenis dasar sambungan sebidang Gambar 12-12 : Las Tumpul Sambungan Memanjang atau Melebar Gambar 12-13: Bentuk Las Sudut Gambar 12-14 : Notasi Gambar Las Gambar 12-15: Konfigurasi Fillet Weld dengan berbagai kondisi Gambar 12-16 : Hubungan Sambungan Baja Menggunakan Las Gambar 12-17: Rencana Kuda-kuda Baja Gambar 12-18 : Hubungan Titik Buhul (Paku, Baut dan Las) Gambar 12-19 : Konstruksi Batang Tekan dan Tarik Gambar 12-20 : Hubungan Konstruksi Gording dan Kaso Baja Gambar 12-21 : Perletakan Gording dengan Kaki Kuda-kuda Gambar 12-22 : Rencana Gording Baja Profil Gambar 12-23 : Perencanaan Gording baja Gambar 12-24 : Profil Baja Ringan “C” dan “Box” Gambar 12-25 : Profil Omega dan Canal Gambar 12-26 : Rangka Kuda-kuda Baja Ringan Gambar 12-27 : Hubungan Sudut Baja Ringan Gambar 13-2: Model Sambungan Paku Gambar 13-3 : Alat Sambung Baut Gambar 13-4 : Sambungan Kayu Dengan Perekat Gambar 13-5: Macam-macam Bentuk Sambungan Kayu Melebar Gambar 13-6 : Sambungan Kayu Voor Loef Gambar 13-7 : Model Pintu dan Jendela Gambar 13-8: Bagian-bagian Kusen Pintu kayu Gambar 13-9: Model Pintu di Jual di Pasaran



vii



Gambar 13-10: Pemasangan Kusen Kayu Gambar 13-11: Pemasangan Kusen Jendela pada Konstruksi Dinding Gambar 13-12: Pemasangan Daun Pintu Gambar 13-13 : Rencana Kuda-kuda Kayu Gambar 13-14: Kuda-kuda Kayu dengan Bagian-bagian Gambar 13-15: Batang Kuda-kuda Kayu Menggunakan Baut Gambar 13-16: SkemaKonstruksi Kuda-kuda Kayu Gambar 13-17: Skema gaya-gaya Kaki Kuda-kuda Gambar 13-18 : Detail A Gambar 13-19 ;Model Detail B Gambar 13-20 : Model Alternatif Detail B Gambar 13-21 ; Detail C Gambar 13-22 : Detail D Gambar 13-23: Sambungan Kayu Gigi Rangkap Gambar 13-24 : Balok Gapit Pada Balok Penggantung Gambar 13-25: Balok dan Lantai Loteng Gambar 13-26 : Balok dan Lantai Loteng Gambar 13-27: Rencana Rumah Sehat Konstruksi Kayu Panggung Gambar 13-28 : Isometri Rencana Balok Induk Konstruksi Loteng Kayu Gambar 13-29:Isometri Konstruksi Lantai Panggung Kayu Gambar 13-30: Isometri Hubungan Kolom, Balok Induk dan Balok Anak Gambar 13-31 : Isometri Hubungan Kolom, Balok-balok dan Papan Lantai Gambar 13-32: Bentuk konstruklsi Plafon Kayu Sisi Atas dan Bawah Gambar 14-1: Ragam Batu Kali Gambar 14-2: Pasangan Pondasi Batu Kali (Perspektif) Gambar 14-3: Pasangan Pondasi Batu Kali (Foto) Gambar 14-4: Pasangan Pondasi Batu Kali (Potongan) Gambar 14-5: Pondasi Tapak (Telapak) Gambar 14-6: Pondasi Tapak (Telapak) Gambar 14-7: Dimensi Sloof Gambar 14-8: Gambar Denah Pondasi dan Potongan Gambar 14-9: Tiang Pancang Beton Gambar 14-10: Profil Tiang Pancang Beton Gambar 14-11 : Tiang Pancang Kayu



viii



Gambar 14-12: Tiang Pancang Besi Gambar 14-13: Pekerjaan Pondasi Board Pile Gambar 14-14: Pekerjaan Lubang Bored Pile Manual Gambar 14-15: Proses Pekerjaan Pondasi Bored Pile Gambar 14-16: Rencana Pondasi Batu Kali Gambar 15-1 : Pendistribusian Air Bersih di Desa Gambar 15-2: Pendistribusian Air Bersih Model PDAM Gambar 15-3: Peralatan Km/Sanitair Gambar 15-4 : Distribusi Air Melalui Shower Gambar 15-5: Peralatan Sanitair Dalam Bangunan Gambar 15-6: Sistem Sambungan Langsung Gambar 15-7: Sistem Tangki Atap dan Tekan Gambar 15-8 : Model Alat Pemanas Air Tenaga Gas Gambar 15-9 : Model Alat Pemanas Air Tenaga Surya Gambar 15-10 : Instalasi Pemanas air dengan daya listrik Gambar 15-11: Model Sistem pembuangan Air Hujan Gambar 15-12 : Alat Pemadam Kebakaran Gambar 15-13 : Alat Pendingin Ruangan Gambar 15-14 : CCTV Sebagai Utilitas Keamanan Bangunan Gambar 15-15: Bagian-bagian Elevator Gambar 15-16: Gondola Bangunan Gambar 16-1 : Diagram Organisasi K3 di Indonesia Gambar 16-2: Peralatan P3K Gambar 16-3 : Siklus Penerapan K3 di Sekolah Gambar 16-4 : Penggunaan APD Wajib Sebelum Bekerja Gambar 16-5 : Kelengkapan Alat Perlindungan Diri (APD) Gambar 16-6 : Penggunaan APD Gambar 16-7: APAR Jenis Gas



ix



GLOSSARY Batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan bahan tambah lainnya (additive) Bouwplank, adalah patok kayu dan benang, sementara yang dibuat untuk meletakkan titik-titik bangunan yang dibentuk dengan garis bantu benang atau papan sesuai dengan gambar denah bangunan yang akan dikerjakan, biasanya dibuat ketika akan memulai pekerjaan pemasangan batu, pondasi dan kolom. Hebel adalah jenis dinding dari bahan pabrikan, yang terbuat dari campuran semen, pasir (silica), dan kapur, dikenal juga dengan sebutan ACC (Autoclaved Aerated Concrete). Leveling, adalah Pekerjaan pengukuran lapangan (Uitzet), merupakan jenis pekerjaan yang digunakan untuk mewujudkan denah bentuk bangunan menjadi suatu bangunan pada tanah lokasi yang telah disediakan Mortar, adalah bahan atau adonan yang digunakan untuk konstruksi bangunan yang terdiri dari campuran antara semen dan agregat halus Non structural; yaitu tidak memikul beban, biasanya digunakan untuk bangunan ringan dan dapat dianggap memikul dengan syarat dinding elemen penyebar beban harus kaku. RKS, adalah singkatan dari Rencan Kerja dan Syarat-syarat Structural; yaitu dapat memikul beban beban merata, bahan harus kaku dan kokoh



1



A. Pekerjaan Pengukuran Lapangan (Leveling) Pekerjaan pengukuran dan leveling merupakan pekerjaan yang sangat penting karena hasil dari pekerjaan ini dapat mempengaruhi dan menentukan ukuran presisinya suatu bangunan, baik dari sisi letak dan posisi tanah, maupun dari segi artsitektur bangunan. Siku tidaknya ukuran dan bentuk bangunan sangat tergantung dari pekerjaan leveling, sehingga pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan penuh ketelitian, setiap langkah pekerjaan harus dilakukan pengontrolan kembali. Pekerjaan pengukuran dan leveling lapangan (Uitzet) merupakan jenis pekerjaan yang digunakan untuk mewujudkan denah bentuk bangunan menjadi suatu bangunan pada tanah lokasi yang telah disediakan. Pekerjaan tersebut berupa pengukuran di lokasi bangunan sesuai dengan gambar rencana bangunan. Hasil dari pengukuran tersebut berupa garis-garis lurus yang menunjukkan sumbu dindingtembok bangunan yang diperoleh dengan menghubungakan titik-titik hasilpengukuran.



Gambar 11-1 : Pengukuran Jarak Lapangan Pengukuran jarak antara dua titik didefinisikan sebagai hubungan terpendek antara dua titik tersebut. Apabila keadaan lapangan datar, maka hubungan terpendek ini terpenuhi dan kedua titik telah terhubung secara lurus. Jarak



antara dua titik di lapangan dikatakan lurus apabila jarak yang diukur panjangnya tidak melebihi 3,5 km. Karena bila melebihi 3,5 km sangat dipengaruhi adanya faktor kelengkungan bumi. Tetapi bila dalam pengukuran tidak dituntut adanya taktor keakuratan, maka pengaruh kelengkungan bumi tersebut dapat diabaikan.



2



Satuan panjang menggunakan sistem internasional (SI) yaitu meter, desimeter, centimeter dan milimeter dan kilometer. Pengertian ukuran jarak 1 km = 1000 m = 100000 cm = 1000000 mm 1 foot = 12 inches 1 yard = 3 feel 1 meter = 39, 37 inches = 3,280 feet. 1. Pengukuran Membuat Garis Siku-siku Pengukuran membuat sudut siku dapat dilakukan dengan beberapa alternatif yang tujuan intinya adalah bagaimana agar bangunan yang akan dikerjakan nantinya bisa benar-benar bersudut siku-siku (90 derajat). Pertanyaan mengapa bangunan harus dibuat siku?, apa pemahaman kamu tentang pertanyaan tersebut ?, guna memahami jawaban atas pertanyaan tersebut,



berikut



adalah



jawaban



pemandu



guna



mengeksplorasi



pemahamanmu. 1. Ruangan yang siku lebih mudah dan bagus dalam menempatkan lemari dan meja yang umumnya bersudut siku-siku 2. Pemasangan keramik lebih rapi, seragam dan tidak miring, karena umunya keramik berbentuk persegi dan sudutnya siku. Selanjutnya untuk pertanyaan di atas, berikan pendapatmu, mengapa bangunan harus dibuat siku?, beri tiga jawaban, dan kemudian diskusikan dengan temanmu. 1. ………………………………………………………………………… 2. ………………………………………………………………………… 3. ………………………………………………………………………… Untuk membuat garis siku-siku di lapangan banyak dilakukan dengan memanfaatkan dalil matematika yaitu “Pythagoras”.Selanjutnya untuk aplikasi dalil matematika tersebut, perhatikan gambar segitiga siku-siku berikut ini, dan perhatikan titik tumpu serta simbolnya.



3



Gambar 11-2 : Membuat Garis Siku-siku Dengan melakukan pengukuran perbandingan sisi miring (BC) dengan sisi datar (AC) dan sisi tegak (AB) dengan angka perbandingan AC : AB : BC = 3 : 4 : 5.Selanjutnya Untuk mengontrol hasil pekerjaan pengukuran lapangan membuat siku-siku, dapat dilakukan dengan membuat bangun persegi, dengan dalil matematika diagonal, perhatikan gambar beriktu di bawah ini.



Gambar 11-3 :Kontrol Garis Siku-siku



Kemudian langkah-langkah control garis sku-siku tersebut adalah sebagai berikut: a. Tarik garis dari titik B sejajar dengan AC (BD), b. Tarik garis dari titik C sejajar dengan AB (CD), c. Perpotongan dua buah garis BD dengan CD berpotongan di titik D, membentuk bidang segi empat, d. Jarak diagonal BC harus sama panjang dengan AD, e. Bila jarak diagonal antara BC dengan AD belum sama panjang, maka



4



garis yang menghubungkan titik CAB belum membentuk siku-siku, dan pekerjaan pengukuran harus diulangi sampai jarak diagonal BC dengan AD sama panjang. 2. Pengukuran Membuat Bidang Datar Pengukuran membuat Bidang Datar dapat dilakukan dengan beberapa alternatif yang tujuan intinya untuk mendapatkan titik datar tinggi (waterpass), sehingga diperoleh beda tinggi atau titik tinggi yang sama di lapangan. Untuk membaut bidang datar (waterpas) pada pekerjaan pengukuran dan leveling lapangan yang berukuran besar dan luas dapat



digunakan pesawat



waterpassen, sedang untuk bangunan yang berukuran kecil seperti rumah tinggal, cukup menggunakan alat bantu



sederhana berupa selang plastik



yang diisi dengan air hingga dua permukaan air dalam selang plastik membentuk bidang datar. Pengukuran bidang datar atau pengukuran beda tinggi denga slang plastik yang perlu diperhatikan adalah; 1) menggunakan diameter selang yang kecil; 2) Selang plastic tidak bocor bila di isi air; 3) ketika melakukan pengukuran selang tidak terlipat dan jangan samapi air dalam selang terjadi gelembung udara. Daerah pengukuran memanjang tidak terlalu jauh, bial jauh disarankan menggunakan alat ukur tanah.



5



Gambar 11-4: Membuat Bidang Datar Menggunakan Selang Plastik



Selanjutnya untuk melakukan pengukuran di lapangan, dapat dilakukan langkah kerja sebagi berikut; 1) Persiapkan alat yang digunakan untuk pengukuran dan periksa bila ada kemungkinan kerusakan pada alattersebut; 2) Isi slang plastik dengan air bersih, hingga tidak ada gelembung udara(usahakan slang plastik berwarna putih dan berdiameter 1 cm); 3) Tentukan jarak antara dua titik antara belakang misal A dan mukamisal B, dimana jarak disesuaikan dengan panjang slang plastik,dirikan jelas pada A dan B. 4) Rentangkan slang plastik antara titik A dan B, tunggu hingga kedua permukaan air slang tidak bergerak dan tenang 5) Ukur ketinggian dari dari muka tanah sampai dari muka air padaslang titik A (catat sebagai bacaan belakang B. demikian pulaketinggian dari muka tanah sampai muka air pada slang dititik B (catatsebagai bacaan muka B). disamping itu juga diukur jarak mendasardari A ke B. 6) Tentukan letak titik muka berikutnya dengan jarak B ke C disesuaikanpanjang selang plastic dan prinsip yang sama lakukan pengukuran selesai pada titik yang terakhir. Untuk melakukan analisa hasil pengukuran, lakukan pengukuran beda tinggi dan ketinggian titik yang diukur, untuk itu diperlukan pengelompokkan datadengan perhitungannya dengan pedoman sebagai berikut, lakukan penghitungan bedat tingg atau selisih tinggi antara dua titik kemudian hitung tinggi titik-titik yang diukur.



6



Perhitunganbeda tinggi antara dua titik, gunakan symbol perhitungan sebagai berikut ini; ∆t =b=m ∆t = beda tinggi b = Pembacaan belakang m = pembacaan muka a) Perhitungan beda tinggi contoh (1): Bacaan belakang (b) = 0,372 m, bacaan muka (m) = 0,020 m maka: ∆t = 0,372 – 0,020m = +0,35 m à naik (+) b) Perhitungan beda tinggi contoh (2): Bacaan belakang (b) = 0,240 m, dan Bacaan muka (m) = 0,645 m maka: ∆t = 0,240 m – 0,645 m= - 0,405 m à turun (-) c) Perhitungan beda tinggi contoh (3): Tinggi A = 110 m, Beda tinggi A dan B = + 0,550 m, makaTinggi B = 110 m + 0,550 m, = 110,550 m d) Perhitungan beda tinggi contoh (4): Tinggi B = 110,550 m, Beda tinggi B dan C = 0,210 m, Tinggi C = 110,550 m – 0,210 m10= 110,340 m B. Memasang Papan Duga (Bouwplank) Papan duga atau patok kayu atau bouwplank, merupakan sebutan umum di konstruksi bangunan ketika memulai pekerjaan pemasangan batu, baik batu belah untuk pondasi atau batu bata untuk dinding, bahkan untuk pemasangan tiang tiang kolam pada bangunan sederhana sering dilakukan. Bowplank adalah Patok Kayu sementara yang dibuat untuk meletakkan titik-titik pertengahan (as = poros tengah) bangunan yang dibentuk dengan garis bantu benang atau papan sesuai dengan gambar denah bangunan yang akan dikerjakan pemasangan konstruksi. Biasanya pada bowplank ini nanti kita akan meletakkan paku untuk menarik benang agar tercipta garis yang lurus dan selanjutnya bisa membuat sudut siku 90 derjat dengan tepat. Benang ini nantinya yang menjadi pedoman untuk pekerjaan pasangan batu belah/bata, pekerjaan pondasi, dan pekerjaan tiang tiang kolom bangunan.



7



Gambar 11-5 :Pemasanagan Bouwplank



Pelaksanaan pekerjaan membuat papan duga, patok, atau bouwplank adalah dengan cara pedoman pembuatan atau pengukuran bidang datar yang telah dijelaskan di atas, yaitu menggunakan pedoman dalil matematika phytagoras, dengan langkah berikut ini; 1) Tanamkan secara dipancang deretan patok-patok menurut kedudukan, dan tandai titik A-B, kemudian tarik benang (garis BA) sebagai dasar pengukuran bangunan. 2) Pancangkan deretan patok-patok menurut kedudukan garis CD yang dibuat



tegak



lurus



terhadap



garis



BA dengan



menggunakan



perbandingan dalil phytagoras (3:4:5). 3) Dengan cara yang sama, pancangkan deretan patok-pa-tok menurut garis EF dan GH. 4) Pada tiap-tiap patok beri tanda letaknya titik duga ± 0,00 dengan membuat bidang datar pada setiap patok, pasang bouwplank dengan berpedoman pada titik duga tersebut. 5) Tentukan letaknya titik-titik sumbu dinding tembok pada papan bouwplank, lalu tancapkan paku dan beri tanda dengan cat atau meni



8



Gambar 11-6: Pemasangan Bouwplank di Sudut dan Pemberian Tanda



Beberapa pedoman dan persyaratan memasang bouwplank yang baik adalah: 1) 2)



Bahan Bouwplank dibuat dari kayu yang mudah dikerjakan dan kuat Titik hasil uitzet ditempatkan dengan tanda yang jelas, gunakan paku dan atau cat sebagi tanda batas garis dan penarikan benang, diusahakan bowplank tidak goyang pada saat pelaksanaan pekerjaan



3)



pemasangan bangunan, seperti galian, pemasanagan batu, dan lain lain. Letak kedudukan bowplank harus seragam, dan sisi atas bowplank harus terletak satu bidang rata (horizontal) dengan papan bowplank



4)



lainnya. Garis benang bowplank merupakan bagian batas atau garis pedoman



5)



pelaksanaan pekerjaan. Berjarak cukup dari rencana galian



9



Gambar 11-7:Posisi Benang Pada Papan Bouwplank Seperti dijelaskan di atas, bahwa titik-titik pada papan bangunan yang menunjukkan dinding tembok dapat dijelaskan dengan tanda dari paku yang juga berfungsi untuk menarik benang sebagai sumbu tembok.Untuk menghindarkan kesalahan yang disebabkan letaknya paku, pada kedudukan paku diberi tanda panah dengan cat/meni. Bidang atas bouwplank harus diketam rata agar bidang atas papan dapat membentuk bidang datar (bidang waterpas). Bidang atas papan bangunan biasanya dipasang pada kedudukan ± 0,00 sebagai duga lantai. Sudut pertemuan papan bouwplank harus benarbenar siku, karena hal tersebut sebagai acuan untuk kesikuan pertemuan dinding Untuk bangunan besar dan banyak terdapat ruang, pemasangan bouwplank dilaksanakan mengelilingi seluruh area calon bangunan didirikan, sedang untuk bangunan kecil, pemasangannya cukup pada lokasi sudut atau pertemuan bangunan Sambungan papan bouwplak diusahakan terletak pada sumbu patok, sehingga jarak patok harus memperhitungkan terhadap panjang papan yang



10



akan dipergunakan sebagai bouwplank. Bila sambungan papan bouwplank terletak di antara patok, maka sambungan papan harus menggunakan klem.



Gambar 11-8:Sambungan Papan Bouwplank



C. Pekerjaan Dinding Bangunan Dinding merupakan salah satu elemen tegak (vertical) pada bangunan, berupa



bidang, dan berfungsi sebagai penutup atau pembatas ruangan.



Dinding adalah bagian bangunan yang sangat penting perannya bagi suatu konstruksi bangunan. Dinding membentuk dan melindungi isi bangunan baik dari segi konstruksi maupun penampilan artistik dari bangunan. Dinding dirancang kuat danamanmenahan kekuatan horisontal dan vertikal yang menjadi beban pada dinding, seperti apa yang menjadi beban konstrusi bangunan dinding, yang dapat dihitung dengan dalil mekanika teknik. Pada konstruksi bangunan atau mekanika, beban-beban yang timbul pada konstruksi dinding, antara lain yaitu seperti kekuatanangin, berat sendiri, mungkin bobotdinding dan lantaidari atas, dan kontraksiyang dihasilkan olehvariasisuhu dan kelembabansertabebrapa dampaktertentu. Pada zaman modern sekarang ini, dengan berkembangnya teknologi, dinding dapat dirancang untuk menopang konstruksi dan berfungsi sebagai struktur yaitu dapat memikul beban beban merata, dari konstruksi bangunan yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan dinding.Sehingga fungsi dinding



dapat



menjadi



atausebagaikombinasi



fungsi



keduanyadalam



arsitektur konstruksi



sekaligus bangunan



struktur secara



11



keseluruhan. Dengan demikian konstruksi dinding bangunan menjadi peran yang sangta penting dalam desain konstruksi secara keseluruhan, karena disamping fungsi estetika dinding juga berfungsi sebagai struktur.Beberapa bahan konstruksi didnding bangunan yang dikenal saat ini, seperti Bahan batu, beton, rakitan lembaran bergelombang logam, panel kaca, atau panel logam berlapis keramik, dan sebagainya. Dari penjelasan di atas, jenis dinding bangunan dapat dibedakan dari segi; 1) Structural; yaitu dapat memikul beban beban merata, bahan harus kaku dan kokoh dan bisanya jenis ini dibuat dari bahan; a) Batu alam min. tebal 30 cm, b) Batu buatan, dan c) Beton/Beton bertulang. 2) Non structural; yaitu tidak memikul beban, biasanya digunakan untuk bangunan ringan dan dapat dianggap memikul dengan syarat dinding elemen penyebar beban harus kaku, dinding penyekat tersebut harus pula cukup kokoh dan kaku. Jnie sdidnding ini biasanya terbuat dari; a) Batu alam b) Batu buatan; Batako, batu bata, bata celcon atau hebel c) Kayu (triplek, plywood, Partisi) d) Metal (baja, seng, alumunium) e) Plastic f)



Kaca



g) Dan lain sebagainya Sekilas dapat dijelaskan di sini, tentang bahan dari didnding bangunan dimaksud, namun lebih jelasnya dapat kita pelajari lebih detail lagi dalam penjelasan lanjutan. Dinding bata merah terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibakar. Untuk dapat digunakan sebagai bahan bangunan yang aman maka pengolahannya harus memenuhi standar peraturan bahan bangunan Indonesia NI-3 dan NI-10 (peraturan bata merah). Dinding dari pasangan bata dapat dibuat dengan ketebalan 1/2 batu (non struktural) dan min. 1 batu (struktural). Bata celcon atau hebel, terbuat dari pasir silica, harganya lebih mahal dari pada bata merah.Batako dan blok beton, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran bahan mentah: tras+ kapur + pasir dengan perbandingan tertentu. Batu buatan jenis ini bentuknya berlubang, model dan lubangnya dibuat bermacam variasi model. Blok beton, adalah batu buatan



12



yang



dibuat



dari



campuran



bahan



mentah:



semen



+



pasir



denganperbandingan tertentu, sama juga dengan bataco, blok beton ini juga berlubang.



Bata kapur, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran



beberapa bahan dengan perbandingan tertentu, umumnya digunakan pada rumah-rumah sederhana di perkampungan, pagar pembatas tanah dan lain sebagainya. Saat ini dinding bangunan, yang berfungsi sebagai non structural yaitu yang berfungsi sebagai variasi atau berfungsi seni sebagai pembatas, telah banyak diproduksi oleh pabrik-pabrik yang bergerak di bidnag bangunan.



Gambar 11-9: Bangunan Menggunakan Dinding Fabrikasi Dinding prefabrikasi biasanya digunakan untuk konstruksi dinding tirai dan sering dikenal sebagai dinding cetakan. Dinding pabrikan umumnya banyak dipakai untuk bangunan bangunan perkantoran, hotel dan bangunan bertingkat yang menjulang tinggi.Dinding pabrikan biasanya terbuat dari baja bergelombang atau lembaran aluminium, kaca, meskipun kadang-kadang terbuat dari serat diperkuat lembaran plastik. Dinding pabrikan sering dibuat dalam lembaran datar atau bergelombang, yang pekerjaan konstruksinya menggunakan teknik, sekrup, paku, lematau bahan perekat lain yang sesuai dan telah di uji coba kekuatan konstruksinya, dan biasanya memiliki rangka (frame) tersendiri.Pembangunan gedung pencakar langit, dengan konstruksi



13



dinding



dari betonbertulangselain digunakan untuk kekuatan danjuga



berujuansebagai keindahan estetika.Dindingtersebut dapatdibuat di tempat atau system pracetak. Beberapadinding betonpracetakterbuat daribalok-balok beton pratekan, berbentukpersegi panjang, yangditempatkan secara vertikal. Bahan pabrikan lain sepertiKaca, logam , atau keramik berlapis dinding panel logam adalah jenis umum dinding yang digunakan dalam konstruksi bangunan pencakar langit.



Gambar 11-10: Bangunan Menggunakan Dinding Kaca



1. Dinding Batu Bata Pekerjaan pemasangan batu bata memiliki seni tersendiri dalam sistem konstruksi bangunan gedung. Penggunanaan dinding batu bata paling banyak digunakan di Indonesia, sepertuuntuk rumah sederhana, rumah mewah, gedung olah raga, gedung besar (hall), bahkan untuk gedung-gedung pencakar langit masih banyak yang menggunakan dinding batu bata. Pekerjaan pelaksanaan pekerjaan dinding batu bata ini sebenarnya merupakan pekerjaan dari arsitektur seara umum, walapun dari sudut konstruksi pekerjaan batu bata juga memiliki peranana dalam mendukung konstruksi bangunan. Bila pekerjaan pemasangan dinding batu bata jelek,



14



seperti miring, tidak rata atau retak-retaktentu akan mempengaruhi keindahan arsitektur bangunan. Beberapa syarat dan ketentuan dalam pekerjaan pemasangan dinding batu bata, dapat dipedomani ketentuan berikut ini; 1) Bahan; Bahan yang perlu disiapkan dalam pasangan batu meliputi bata yang sesuai dengan stnadar, dan bahan diperlukan dalam pasangan batu perlu dipersiapkan dekat dengan tempat dimana pekerjaan akan dilaksanakan. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Ada beberpa peralatan dan bahan yang perlu dipersiapkan dalam pemasangan dinding batu bata, antara lain yaitu; Peralatan pengukuran (water pass/selang plastik, patok dan papan, meteran); Peralatan kerja (sendok spesi, cangkul, palu); Bahan adukan (pasir dan semen), dan tempat membuat adukan atau spesi 2) Persiapan Lokasi; Hal-hal yang perlu disiapkan di lokasi pekerjaan pasangan batu adalah; a). Di dalam pekerjaan membersihkan lokasi kerja dari sampah yang akan menghambat jalannya pekerjaan selalu dilakukan pada awal pekerjaan. Pekerjaan ini tidak terlalu memerlukan tenaga yang besar kecuali pekerjaannya memang besar yang akan dibahas secara tersendiri karena menyangkut penggunaan alat berat seperti buldozer, back hoe dan lain-lain; b). Memindahkan benda yang akan menghambat proses



pekerjaan.Pekerjaan



menyesuaikan



dengan



kondisi



memindahkan lapangan.



Kalau



sering kondisi



dilakukan lapangan



pekerjaan lahan baru, biasanya ada pohon yang perlu ditebang. Kondisi lapangan bangunan lama juga perlu pembongkaran dan pengamanan alat dan bahan yang masih terpakai, barang tersebut diinventaris dan diletakkan pada ruangan yang aman; c). Membuat penerangan dan sarana kebersihan seperti lampu dan tersedianya air. Salah satu komponen bangunan yang biasa dibuat dari pasangan batu bata adalah dinding. Dinding pasangan batu bata adalah susunan batu bata yang disatukan dengan menggunakan adukan mortar sebagai bahan perekat, sehingga membentuk konstruksipada bagian bangunan tertentu..Dinding bata merah terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibakar.Untuk dapat digunakan sebagai bahan bangunan yang aman maka pengolahannya harus



15



memenuhi standar peraturan bahan bangunan Indonesia NI-3 dan NI-10 (peraturan bata merah). Pada bangunan sederhana rumah tinggal dan bangunan sederhana satu lantai lainnya, dinding berfungsi sebagai komponen struktur untuk menyangga beban-beban bangunan yang ada di atasnya dan sekaligus berfungsi sebagai partisi yaitu pembatas atau penyekat antar ruangan. Pada bangunan gedung bertingkat, umumnya struktur utama berupa struktur rangkadibuat dari material beton bertulang atau baja, sedangkan tembok hanya berfungsi sebagai penyekat. Pasangan dinding batu bata, menurut ketebalannya, dapat dibedakan menjadi: pasangan setengah batu, pasangan satu batu, dan pasangan satu setengah batu.



Gambar 11-11: Memasang Dinding Batu Bata Pemeriksaaan visual bata yang baik dapat dilihat dari bentuk, dan warnanya.Bata yang ideal mempunyai ukuran 6 x 12 x 24 cm, tetapi bata yang sekarang diproduksi mempunyai ukuran yang berbeda beda, tergantung pabrik yang mengeluarkannya, bahkan banyak bata diproduksi ukurnanya yang lebih kecil dari ukuran standar seperti yang dipesyaratkan oleh SNIatau standar bangunan Indonesia NI-3 dan NI-10. Umumnya ukuran bata di Indonesia ukuran standar seperti berikut : 1) Panjang 240 mm, lebar 115 mm, tebal 52 mm atau 2) Panjang 230 mm, lebar 110 mm, tebal 50 mm Penyimpangan terbesar, dari ukuran-ukuran seperti tersebut di atas ialah: untuk panjang maksimal 3 %, lebar maksimal 4 % dan tebal maksimal 5 %. Tetapi antara bata-bata dengan ukuran-ukuran terbesar dan bata-bata dengan



16



ukuran-ukuran ter-kecil, selisih maksimal yang diperbolehkan ialah untuk panjang 10 mm, untuk lebar 5 mm dan untuk tebal 4 mm. Untuk pemeriksaan dan mengetahui kekuatanbata dapat dilakukan pengujian secara sederhana, yaitu dengan cara seperti berikut: Sebuah bata diletakkan di atas dua bata yang lain, setiap batapenumpu menahan ± ¼ panjang bata yang diuji, sehingga ± ½ panjang bata yang diuji menjadi bebas atau tidak tertumpu, kemudian dipijak dengan satutelapak kaki orang dewasa. Apabila bata pecah, maka kualitasnya tidak baik. Selain itu, ada beberapa pedoman yang dapat dilakukan untuk pemeriksaan bata, seperti; 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7)



Mempunyai bentuk yang persegi, lurus, dan seragam, Tidak retak dan tidak cacat seperti sompel Permukaannya kasar Jika dipukul bunyinya nyaring Tidak mudah hancur atau patah. Tahan bila direndam Dibakar pada suhu yang tepat, sehingga secara visual terlihat berwarna merah tua.



Memasang dinding dari batu bata, guna memperoleh hasil yang optimal, ada beberapa pedoman yang dapat dilakukan antara lain, yaitu; 1) Mempersiapkan alat, seperti; a) Waterpass b) Benang c) Unting-unting d) Siku rangka e) Meteran f) Profil g) Sendok spesi h) Pensil i) Pemotong bata j) Palu k) Bak spesi l) Ember/sekop m) Cangkul 2) Mempersiapkan Bahan, seperti; a) Batu bata memenuhi syarat seperti dijelaskan sebelumnya. b) Angkur terbuat dari baja tulangan diameter 10 mm sampai 12 mm kondisi baik, tidak berkarat, tidak berminyak, bukan besi bekas. c) Semen (PC kemasan 50 kg atau PPC kemasan 40 kg, tidak mengeras, kering, warna seragam).



17



d) Pasir berasal dari sungai/darat, tidak mengandung lumpur dan bahan organik. e) Air layak minum, tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau.



Gambar 11-12 :Mempersiapkan Pemasangan Dinding Batu Bata



3) Pedoman kerja: a) Pelajari RKS (Rencan kerja dan Syarat-syarat) beserta gambar kerja yang tersedia, atau lakukan wawancara dan buat catatan hasil wawancara dan diskusi; b) Sebelum melakukan pekerjaan gunakan perlengkapan kerja standar; c) Buat adukan sesuai dengan dengan komposisi adukan konstruksi yang akan dibangun; d) Persiapkan alat dan batu bata yang diperlukan, sebaiknya bata direndam terlebih dahulu, agar tidak terlalu kering dan tidakmenyerap air spesi sehingga diperoleh kekuatan lekat yang baik; e) Tentukan dan atur tata letak pekerjaan dengan tujuan menghindari kecelakaan kerja, tersedianya ruang gerak yang cukup leluasa saat bekerja, meningkatkan produktivitas, dan hindari tercecernya material yang bisa mengakibatkan pemborosan Pelaksanaan pemasangan batu bata agar diperoleh hasil pasangan bata yang baik, dalam memasang satu buah batu bata diusahakan cukup hanya sekali mengambil dan meletakkan adukan/spesi. Cara meletakkan batu bata didorong mendatar seperti pesawat terbang mendarat, sehingga ujung batu bata akan mendorong adukan dan akhirnya mengisi siar tegak. Cara ini memerlukan sendok yang cukup panjang, dan sebaiknya digunakan sendok spesi segitiga. Pedoman dan langkah kerja pemasangan batu bata, sebagai



18



pasangan dinding untuk bangunan, rumah dan toko, dapat dikerjakan seperti langkah berikut ini; 1) Persiapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau. 2) Tentukan target ukuran pekerjaan dan memasang profil terbuat dari kaso kayu di luar kedua ujung pasangan sejauh 50 cm, dan tegakkan profil dengan menggunakan unting-unting 3) Mengukur ketinggian lapis pertama pasangan dinding dengan pedoman elevasi sloof dan lantai di bawahnya dengan selang plastik berisi air atau water pass. 4) Menentukan ketebalan



setiap



lapispasangan



bata



denganmemperhitungkan tebal bata dan siar. 5) Memberikan tanda untuk setiap ketinggian lapisan pasangan bata, dari lapis ke-1 sampai ke-20, pada kedua profil yang telah dipasang. 6) Merentangkan benang dan mengikat pada tanda elevasi di kedua profil 7) Memasang lapisan batu bata dengan mengontrol kelurusan ke arah horisontal dan ketegakan ke arah vertikal pada setiap lapisannya. 8) Memindahkan benang ke tanda elevasi lapis kedua, setelah lapis pertama selesai, dan melakukan pemasangan selanjutnya. 9) Memasang angkur dengan panjang penyaluran/tertanam minimal 40 cm, setiap 6 lapis batu bata pada bidang dinding. 10) Membersihkan ruang kerja dari adukan yang tercecer, cucilah alat dan kembalikan ke tempat semula. 11) Mengulangi langkah-langkah pemasangan di atas sampai pekerjaan selesai.



Gambar 11-13 :Membuat Pedoman Siku Pemasangan Dinding Batu Bata Pelaksanaan pemasangan batu batu merah, dengan menghubungkan batu merah masing-masing bersama mortar menjadi suatu kesatuan yang juga



19



dapat menerima beban. Siar-siar vertikal selalu diusahakan agar tidak merupakan satu garis, harus bersilang, seperti terlihat pada gambar berikut ini.



Gambar11-14 :Siar-siar Vertikal Batu Bata Tidak Satu garis .



20



Gambar 11-15:Susunan Lapisan Pasangan Batu Bata Lapisan pertama dengan lapisan yang kedua dibuat pada siar vertical yang berbeda kemudian untuk lapisan kedua dan yang berikutnya pada batu masing-masing diletakkan adukan (mortar) pada dinding yang sudah didirikan untuk siar yang horisontal dan pada batu merah yang akan dipasang pada sisi sebagai siar vertical Sekarang batu merah dipasang menurut tali yang telah dipasang menurut papan mistar sampai batu merah terpasang rapat dan tepat. Dengan sendok adukan, mortar yang tertekan keluar siar-siar dipotong untuk digunakan langsung untuk batu merah berikutnya.Pada musim hujan dinding-dinding pasangan batu merah yang belum kering harus dilindungi terhadap air hujan. Perawatan pasangan batu bata, untuk mecapai hasil yang optimal, selama proses pengerasan bahan adukandiperlukan kelembaban yang memadai. Oleh sebab itu, perlu dilakukan perawatan dengan menyiram dinding secara berkala selama minimal 7-14 hari sejak mulai dipasang. Bentuk dan teknis ikatan pemasangan batu bata, dapat dilihat dari gambar.Ikatan Setengah Bata Memanjang 1) Ikatan satu batu memanjang



2)



Ikatan setengah batu sudut



21



3) Ikatan setengah batu persilangan tiga jalur



4) Ikatan setengah batu persilanganempat jalur



22



23



24



Gambar 11-16: Berbagai Hubungan Setengah Bata



25



2.



Dinding Bata Hebel



Hebel adalah jenis dinding dari bahan pabrikan, yang terbuat dari campuran semen, pasir (silica), dan kapur, lalu



dicampur



air



dan



bahan



pengembang setelah itu diproses dengan diberi uap air tekanan tinggi dimana dalam pembentukannya gas-gas dibuang, kemudian kantongkantong udara dimanfaatkan untuk mengisi campuran beton (Semen, pasir dan kapur), sehingga lebih padat tetapi ringan. Hebel dinamakan juga oleh tukang-tukang di lapangan sebutan “bata ringan”, atau sebutan lain disebut juga dengan Hebel ACC (Autoclaved Aerated Concrete) dan ada juga menyebut beton ringan aerasi. Di Indonesia sekarang ini hebel/bata ringan sudah banyak diproduksi pabrik skala besar,



dan



industries),



pabrik



rumahan



(home



tetapi



mereka



tidak



menyebutnya dengan merek hebel dan masing-masin



mebuat



merek



sendiri,



karena batu ringan ini awalnya merek hebel yang pertama dikenal orang.Kadang kala batu



hebel



diproduksi



juga



dengan



penguatan tulangan besi, sehingga lebih kuat dan kekuatannya menjadi berlipat ganda.Hebel biasanya berwarna putih, dan bentuknya seperti batu



bata,



hanya



ukurannya



lebih besar, umumnya berukuran 10 cm x 19 cm x 59 cm atau ukuran 60 cm x 20 cm dengan ketebalan 8–10 cm.



26



Spesifikasi umum hebel /bata ringan adalah; 1) 2) 3) 4) 5)



Berat jenis kering : 520 kg/m3 Berat jenis normal : 650 kg/m3 Kuat tekan : > 4,0 N/mm2 Ketahanan terhadap api : 4 jam Per meter luas, dibutuhkan 8-9 buah, atau untuk 1 m3 bata jenis ini



bisa digunakan untuk pasangan dinding seluas 11,5 m2. kebutuhan spesi kira-kira 3 cm, dan dapat tidak diplester, karena permukaanya dan dimensi solid dan presisi. Beberapa keuntungan menggunakan Hebel sebagai dinidng, antara lain yaitu; 1. Pemasangan Cepat; Masa pekerjaan konstruksidinding hebel lebih cepat, dibanding



bata



merah,



sehingga



dari anggaran



pekerjaan,



yaitu



penggunaan tenag kerja akan lebih hemat. Penggunaan hebel akan menyisahkan sedikit sampah atau barang reject, yang membuat lokasi proyek lebih bersih, tidak berantakan dank an mempercepat penyelesaian konstruksi. 2. Solid; Hebel lebih solid bila disbanding dengan batu olahan tradisional, lebih ringan sehingga transportasi akan lebih mudah, dan hasil penelitian menunjukkan kekuatan hebel lebih kuat dibanduing batu tradional. 3. Tahan Api; Hebel sangattahan api, ini akan membuat lebih aman dan untuk ketenangan



pikiranterhadapa



bangunan,



dan menambahkan



keamanan. 4. Presisi; Hebel merupakan produksi pabrikan, tentu dimensi dan



ukuran lebih presisi. 5. Ramah Lingkungan; Hebel dibuat dengan konstruksi yang uniktahan panasdenganmassa termal, membuatbangunan lebih efisiensi, karena mengurangiketergantungan padapemanasan dan pendinginan, dan akan berampak pada efisiensi penggunaan AC di ruangan. 6. Bagus untuk akustik; Hebeldenganpanel dindingringandan lebih solid, akanmemberikantingkatkinerja akustik lebih berkualitas, karena lebih kedap suara.



Dari keuntungan pemakaian batu hebel, jelas akan lebih bermanfaat dibanding menggunakan batu bata, atau batu tradisonal lain.



27



Gambar 11-17:Bahan Dinding Hebel Ada beberapa kekurangan dinding bata hebel atau celcon ini, yaitu; 1) Harga relative lebih mahal disbanding bata/batako, dan bahabn tradisonal lain. 2) Tidak semua tukang mampu memasang hebel. 3) Pembelian melalui pemesanan pada took yang special menjual hebel.



Gambar 11-18:Pemasangan Dan Aplikasi Dinding Hebel Hebel bahannya jenis ini harganya lebih mahal kurang lebih 16,5 % dari harga dinding bata merah untuk setiap 1 m2 terpasang. Dinding jenis ini sering digunakan pada rumah-rumah mewah, hotel, apartemen, monumen dan gedung-gedung mewah yang lain.Dinding jenis hebel bisa saja tidak diplester, cukup diaci saja karena permukaan



batu



yang



permukaannya yang sudah relatif rata dan lebar.Hanya



saja



ketebalan



kusennya



harus



disesuaikan. Selain itu, dalam praktik pemasangan sangat sedikit bahan yang



28



terbuang. Jarak pemasangan kolom penguat sama dengan yang disyaratkan pada bata merah.



3.



Dinding Batako



Batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan bahan tambah lainnya (additive). Selain itu ada juga yang membuatnya dari campuran batu tras, kapur dan air bahkan kini juga beredar batako dari campuran semen, pasir dan batubara, tentu dengan campuran kekuatannya menjadi kurang. [pengertian Batako, menurut PUBI (Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia) tahun 1982 pasal 6, “Batako adalah bata yang dibuat dengan mencetak dan memelihara dalam kondisi lembab”, sednagkan menurut SNI 03-0349-1989, “Conblock (concrete block) atau batu cetak beton adalah komponen bangunan yang dibuat dari campuran semen Portland atau pozolan, pasir, air dan atau tanpa bahan tambahan lainnya (additive), dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding”



Bentuk dari batako/batu cetak itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu batu cetak yang berlubang (hollow block) dan batu cetak yang tidak berlubang (solid block) serta mempunyai ukuran yang bervariasi.Ukuran batako (press) pada umumnya adalah panjang 36-40 cm, tebal 8-10 cm, dan tinggi 18-20 cm. Untuk dinding seluas 1 m2, kira-kira membutuhkan 15 buah batako. Biasanya orang memilih jenis batako press, hal ini dipilih untuk memperingan beban struktur sebuah bangunan, mempercepat pelaksanaan, dan meminimalisasi sisa material yang terjadi pada saat proses pemasangan dinding.



29



Gambar 11-19:Bentuk Batako (solid block dan hollow block)



Sebutan batako, juga sering disebut dengan bata beton, hanya campuran semennya



lebih



sedikit



dan



bervariasi



tergantung



pabrik



yang



memperoduksinya.Batako diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu batako normal dan batako ringan. Batako normal tergolong batako yang memiliki densitas sekitar 2200-2400 kg/m3 dan kekuatannya tergantung komposisi campuran beton (mix design). Sedangkan untuk beton ringan adalah suatu batako yang memiliki densitas < 1800 kg/m3, begitu juga kekuatannya biasanya disesuaikan pada penggunaan dan pencampuran bahan bakunya (mix design).Batako yang baik adalah yang masing-masing permukaanya rata dan saling tegak lurus serta mempunyai kuat tekan yang tinggi.Permukaan batako harus mulus, berumur minimal satu bulan, pada waktu pemasangan harus sudah kering, berukuran panjang 400 mm, lebar 200 mm dan tebal 100200 mm, kadar air 25-35 % dari berat, dengan kuat tekan antara 2-7 N/mm2”. Sebelum dipakai dalam bangunan, maka batako minimal harus sudah berumur satu bulan dari proses pembuatannya, kadar air pada waktu pemasangan tidak lebih dari 15 %.



30



Gambar 11-20:Ukuran Batako Press(Diambil dari sampel produksi) Beberapa faktor yang menjadikan batako berkualitas, antara lain adalah; Faktor air semen, umur batako dari mulai diproduksi, kepadatan batako yang dipengaruhi ketika produksi, bentuk dan struktur batuan dan campuran bahan yang digunakan.Berikut ini adalh spesifikasi umum batako; 1) 2) 3) 4) 5)



Berat jenis normal 1000 kg/m3 Berat jenis kering 950 kg/m3 Kuat tekan : 5,5 N/mm² Tebal spesi : 20 – 30 mm Jumlah (kebutuhan) batako press per 1 m2 : 20 – 25 buah.



Beberapa keuntungan menggunakan batako sebagai dinding bangunan, yaitu; 1) Secara kuantitatif dalam pemasangan dinding, jumlahnya lebih sedikit bila dibanding dengan batu bata. 2) Memasnga lebih cepat, dan dimensi ukruan lebih seragam disbanding bat merah. 3) Tidak perlu diplester untuk menghemat biaya 4) Sebelum pemakaian tidak perlu direndam air. Beberapa kekurangan menggunakan batako sebagai dinding bangunan, yaitu; 1) Gampang retak pada dinding 2) Gampang pecah, sehingga membutuhkan ekstra ketika pengangkutan dan pemasangan 3) Kurang baik untuk insulasi panas dan suara.



Bahan dinding batu cetak yang tidak dibakar atau sebutan umum batako, ada juga yang menyebut konblok, berdasarkan bahan bakunya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: 1) Batako putih; Batako putih ata tras terbuat dari campuran trass, batu kapur, dan air, dan sering juga disebut batu cetak kapur trass. Trass merupakan jenis tanah yang berasal dari lapukan batu-batu yang



31



berasal dari gunung berapi, warnanya ada yang putih dan ada juga yang putih kecokelatan. Ukuran batako trass yang biasa beredar di pasaran memiliki panjang 20 cm–30 cm, tebal 8 cm–10 cm, dan tinggi 14 cm–18 cm. 2) Batako semen; dibuat dari campuran semen dan pasir. Ukuran dan model lebih beragam dibandingkan dengan batako putih. Batako ini biasanya menggunakan dua lubang atau tiga lubang disisinya untuk diisi oleh adukan pengikat. Nama lain dari batako semen adalah batako pres, yang dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pres mesin dan pres tangan. Secara kasat mata, perbedaan pres mesin dan tangan dapat dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Di pasaran ukuran batako semen yang biasa ditemui memiliki panjang 36 cm–40 cm, tinggi 18 cm–20 cm dan tebal 8 cm–10 cm



Gambar 11-21:MesinPress Tangan Kelebihan



dinding



menggunakan



batako



putih



antara



lain



adalah,



pemasangan relatif lebih cepat, harga relatif murah. Kemudian kekurangan dinding batako putih antara lain adalah, rapuh dan mudah pecah, menyerap air sehingga dapat menyebabkan tembok lembab, dinding mudah retak, dan penggunaan rangka beton pengaku relatif lebih banyak, yaitu setiap bidang dinding seluas. Kelebihan dinding menggunakan batakosemen (pres) antara lain adalah;



32



1) Lebih kedap air sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya rembesan air. 2) Pemasangan lebih cepat daripada dinding bata merah ataupun dinding batako putih, karena ukuran material yang lebih besar. 3) Membutuhkan rangka beton pengaku relatif lebih sedikit, yaitu antara 9-12 m2 luas bidang dinding 4) Ukuran material lebih presisi dan seragam, sehingga mengurangi pemakaian spesi, dan material plester dan aci. 5) Ketersediaan material relatif terjamin, serta fluktuasi harga tidak terlalu tinggi karena proses pembuatannya tidak terlalu dipengaruhi oleh musim. Kemudian kekurangan dinding batako presantara lain adalah; 1) Harga relatif lebih mahal dibanding batako tras. 2) Mudah terjadi retak rambut pada dinding. 3) Dinding mudah berlubang karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya, sehingga menyulitkan untuk pemasangan perabot pada dinding. Batako dan paving block yang diproduksi, bahan bakunya terdiri dari pasir, semen dan air dengan perbandingan 75 : 20 : 5. Perbandingan komposisi bahan baku ini adalah sesuai dengan Pedoman Teknis yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum tahun 1986. Adapun proses produksi batako dan paving block adalah sebagai berikut : 1) Pasir



diayak



untuk



mendapatkan



pasir



yang



halus



dengan



menggunakan mesin/manual. 2) Pasir



tanpa diayak dan semen diaduk sampai rata dengan



menggunakan mesin pengaduk/manual dan setelah rata ditambahkan air. 3) Adonan pasir, semen dan air tersebut diaduk kembali sehingga didapat adukan yang rata dan siap dipakai. 4) Adukan



yang



siap



dipakai



ditempatkan



di



mesin



pencetak



batako/paving block dengan menggunakan sekop dan di atasnya boleh ditambahkan pasir halus hasil ayakan (bergantung pada jenis produk batako/paving block yang akan dibuat).



33



5) Dengan menggunakan lempengan besi khusus tersebut dipres/ditekan sampai padat dan rata mekanisme tekan pada mesin cetak. 6) Batako/paving block mentah.yang sudah jadi tersebut kemudian dikeluarkan dari cetakan dengan cara menempatkan potongan papan di atas seluruh permukaan alat cetak. 7) Berikutnya alat cetak dibalik dengan hati-hati Skala produksi dan keunggulan produk akhir sehingga batakolpaving block mentah tersebut keluar dari alat cetaknya. 8) Proses berikutnya adalah mengeringkan batako/paving block mentah dengan cara diangin-anginkan atau di jemur di bawah terik matahari sehingga didapat batako/ paving block yang sudah jadi



Teknik dan cara pemasangan batako sama saja halnya dengan teknik dan pemasangan batu bata, perbedaan hanya terletak pada ukuran saja. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita tidak akan membahas secara detail pemasangan batako, karena dapat dilihat pada materi terdahulu tentang pemsangan batu bata. Baik itu tentang persiapan alat, persiapan bahan dan lain sebagainya, dan yang terpenting untuk menghasilkan yang lebih baik, dan kuat pemasangan batako haruslahbenar-benar disusun dengan rapi.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam



penngunaan batako sebagai dinding



bangunan, yaitu; 1) Penyimpanan, diusahakan di dalam keadaan cukup kering 2) Kemanan konstruksi batako, sebaiknya disusun maksimal per lima lapis. 3) Pemasangan tidak perlu dibasahi terlebih dahulu, serta tidak bolehdirendam air. 4) Pemotongan batako dipergunakan palu, sendok semen, atau tatah untukmembuat goresan pada batu yang akan dipatahkan.



34



Gambar 11-22:Pemasangan Batako Sebagai Dinding Pagar Untuk memperkuat dinding batu batako juga digunakan rangkapengkaku yang terdiri dari kolom atau balok beton bertulang yang dicordi dalam lubang1ubang batu batako.Kolom



beton ini selalu dipasang disudut-sudut,



pertemuan dan persilangan dinding seperti terlihat padagambar diatas.Jika dinding bersilangan salah satu dinding terdiri daribatu batako yang tidak berlubang, maka digunakan angker besi beton.



Berikut ini, beberapa gambar teknik dan susunan pemasangan batako yang dipersyaratkan untuk dipedomani.



Gambar 11-23 :KonstruksiBatakoHubungan Sudut



35



Gambar 11-24:Konstruksi Batako Sudut Dengan Penguat Kolom



Gambar 11-25:KonstruksiBatakoHubungan Persilangan



Gambar 11-26:Konstruksi Batako Dengan Penguat Besi Beton



36



4. Dinding Batu Alam Batu alam membuat tampilan ruangan jadi alami, bentuk, tekstur, dan motifnya mampu membuat suasana ruang berubah sejuk alami. Dalam pemasangan, batu alam dapat menghasilkan beragam pola dan tampilan. Dinding batu alam biasanya terbuat dari bebatuan yang terdapat di alam, beda dengan batu olahan, seperti batu kali, batu cadas, batu candi, dan batu yang dapat dipakai sebagai dinding baik itu berfungsi sebagai penyekat, penahan



maupun



sekalian



sebagai



dekorasi



arsitektur.



Prinsip



pemasangannya hampir sama dengan batu bata, dimana siar vertikal harus dipasang selang-seling, untuk menyatukan batu diberi adukan seperti campuran ½ PC : 1 kapur : 6 pasir untuk bagian dinding di atas permukaan tanah. Batu alam dapat dipasang dengan pola seperti batu bata dinding, kotak-kotak bujur sangkar, dan susun sirih, selain juga pemasangan maju mundur. Pilihan pola ini dapat disesuaikan dengan keinginan atau sesuai dengan karakter batu yang dipakai. Batu candi batu ini berupa lempengan. mudah menyerap air karena berpori besar. Teksturnya kasar. Apabila terkena air, warna batu lebih kelam biasanya semakin hitam. Ukuran yang tersedia: 10 cm x 20 cm, 15 cm x 30 cm, dan 20 cm x 20 cm. Tersedia pula ukuran lebih besar, berkisar antara 20 cm x 30 cm, 20 cm x 40 cm, dan 40 cm x 40 cm. Batu alam biasanya digunakan untuk pondasi rumah, meski begitu, tersedia juga batu kali lempengan. Bentuk dan ukuran batu alam



biasanya tidak



teratur, lempengan batu ini biasa dipakai untuk lapisan dinding ataupun lantai, bentuk dan ukuran yang tidak beraturan jelas membuat proses pemasangan agak sedikit sulit butuh ahli agar hasilnya



rapi daan terlihat lebih artistik.



Kemudian batu andesit, batu ini paling keras di antara batu alam yang umum dipakai. Tingkat porositasnya paling kecil karena berpori rapat, warnanya gelap, ukuran yang tersedia mulai 5 cm x 20 cm, sampai 20 cm x 40 cm, dengan ketebalan 3-4 cm. Seperti halnya batu paras, penggunaan batu ini cocok di segala ruang, pola yang banyak digunakan adalah susun bata, ini menjadikan struktur pelapis dinding ini kuat karena saling mengikat.



37



5.



Dinding Penahan Tanah



Dinding



penahan



tanah



adalah



suatu



konstruksi



yang



berfungsi



untukmenahan tanah lepas atau alami dan mencegah keruntuhan tanah yang miring ataulereng yang kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri. Tanah yang tertahan memberikan dorongan secara aktif pada struktur dinding sehingga struktur akan cenderung terguling atau tergeser. Fungsi utama dari dinding penahan tanah adalah menahan tanah yang berada dibelakangnya dari bahaya longsor akibat benda-benda yang ada atas tanah, adanya berat tanah, adanya berat air (tanah) dan lain sebagainya. Dinding penahan merupakan dinding yang dibangun untuk menahan massa tanah di atas struktur atau bangunan yang dibuat. Jenis konstruksi dapat dikonstribusikan



merupakan



konstruksi



dengan



mengandalkan



berat



konstruksi untuk melawan gaya-gaya yang bekerja.Fungsi khusus yang dapat diberikan oleh dinding pasangan batu yaitu, pemanfaatan ruang dari suatu pembangunan jenis sarana dan prasarana lain, dan pemeliharaan, penunjang umur dan bagian dari jenis sarana dan prasarana lain. Hal tersebut dapat terjadi pada dinding saluran irigasi, prasarana tepi jalan kondisi khusus, perlindungan tebing, dan lain-lain. Dinding penahan tanah, biasanya dibuat dari pasangan batu kali, yaitu pasangan batu yang dilekatkan dengan campuran semen, pasir dan air. Dikenal beberapa jenis dinding penahan tanah, seperti konstruksi batu kali murni, batu kali dengan tulangan (gravity & semi gravity), tembok yang dibuat dari bahan kayu (talud kayu), dan tembok yang dibuat dari bahan beton (talud beton). Dinding penahan tanah digolongkan menurut bahan-bahan yang dipakai antaralain yaitu; 1) Dinding



dari batu; Dinding penahan jenis ini digunakan untuk



mencegah terjadinya keruntuhan tanah, dan digunakan apabila tanah asli di belakang tembok itu cukup baik dan tekanan tanah dianggap kecil. 2) Dinding dari beton;



Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)bahan dari



dinding ini dapat dibuat dari balok beton polos (plain concrete).



38



Stabilitas dinding ini tergantung beratnya dan tidak ada gaya tarik di setiap bagian dari dinding. Dinding ini kurang ekonomis apabila digunakan untuk dinding yang tinggi. Dinding Semi Gravitasi adalah dinding yang sifatnya terletak antara sifat dinding gravitasi sebenarnya dan dinding kantilever. Dimana pada dinding ini terdapat perluasan kaki sehingga tebal penumpang dapat direduksi dan digunakan sejumlah kecil penguatan bajaKarena bentuknya yang sederhana dan juga pelaksanaan yang mudah, jenis ini sering digunakan apabila dibutuhkan konstruksi penahan yang tidak terlalu tinggi atau bila tanah pondasinya baik. 3) Dinding dari Beton Bertulang; Dengan Balok Kantilever Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu dinding memanjang dan suatu pelat lantai, dinding ini menggunakan aksi konsol untuk menahan massa yang berada di belakang dinding dari kemiringan alami yang terjadi akan berlaku sebagai balok kantilever dan kestabilan dari dinding didapatkan dengan berat badannya sendiri dan berat tanah di atas tumit pelat lantai. Dinding penahan jenis ini relatif ekonomis dan juga relatif mudah dilaksanakan.



Gambar 11-27:Konstruksi Dinding Penahan Tanah Dinding penahan tanah digolongkan berdasarkan cara untuk mencapai stabilitas,antara lain yaitu; 1) Dinding gravitasi (gravity wall); Dinding ini biasanya di buat dari beton murni dan tanpa tulanganatau dari pasangan batu kali. Stabilitas konstruksinya diperoleh hanya dengan mengandalkan berat sendiri konstruksi, biasanya tinggi dinding tidak lebih dari 4 meter.



39



2) Dinding penahan kantilever (kantilever retaining wall); Dinding penahan kantiliver di buat dari beton bertulang yang tersusun dari suatu dinding vertical dan tapak lantai. Masing-masing berperan sebagai balok atau pelat kantiliver, stabilita konstruksinya diperoleh dari berat sendiri dinding penahan dan berat tanah diatas tumit tapak (hell). Terdapat 3 bagian struktur yang berfungsi sebagai kantiliver, yaitu bagian dinding vertical (steem), tumit tapak dan ujung kaki tapak (toe ), dan biasanya ketinggian dinding ini tidak lebih dari 6– 7 meter 3) Dinding conterfort (counterfort wall); Apabila tekanan tanah aktif pada dinding vertical cukup besar, maka bagian dinding vertical dan tumit perlu disatukan (kontrafort). Kontrafort berfungsi sebagai pengikat tarik dinding vertical dan ditempatkan pada bagian timbunan dengan interfal jarak tertentu. Dinding kontrafort akan lebih ekonomis digunakan bila ketinggian dinding lebih dari 7 meter. 4) Dinding butters (butters Wall); Dinding Buttress hampir sama dengan dinding kontrafort, hanya bedanya bagian kontrafort diletakkan di depan dinding. Dalam hal ini, struktur kontrafort berfungsi memikul tegangan tekan. Pada dinding ini, bagian tumit lebih pendek dari pada bagian kaki. Stabilitas konstruksinya diperoleh dari berat sendiri dinding penahan dan berat tanah diatas tumit tapak. Dinding ini lebih ekonomis untuk ketinggian lebih dari 7 meter .



40



Gambar 11-28: Desain Konstruksi Dinding Penahan Tanah



6.



Dinding Beton



Pada Bab terdahulu telah dijelaskan pengertian dari beton, untuk lebih mengingatkan pemahaman kita, penegertian beton yaitu suatu campuran yang berisi pasir, krikil/ batu pecah/ agregat lain yang dicampurkan menjadi satu dengan air yang setelah mongering membentuk suatu masa yang disebut dengan beton, dan selanjutnya dapat digunakan untuk membuat pondasi, balok, plat lantai, dan lain sebagainya.Dari pekerjaan dan fungsinya beton dikenal ada berbagai jenis, yaitu, beton normal, beton bertulang, beton pratekan, dan beton komposit. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan beton, antara lain yaitu; 1) Jenis dan kualitas semen (PC); 2) Perbandingan campuran semen,



dengan



agregat



lain



dalam



campuran, serta teknik dan metoda pencampuran bahan bahan yang digunakan; 3) Pelaksanaan pekerjaan beton dan perawatan sampai mongering. Sebagai salah satu konstruksi yang dikerjakan, beton memiliki Kelebihan dan Kekurangan. Beton dalam keadaan mengeras akan sangat keras dan kaku, tetapi dalam keadaan segar beton seperti bubur sehingga mudah dibentuk sesuai keinginan. beton juga sangat tahan terhadap serangan api juga sangat



41



tahan terhadap serangan korosi, dan secara umum kelebihan dan kekurangan beton adalah; 1) Kelebihan beton; dapat dibentuk sesuai keinginan, mampu memikul beban tekan yang berat, tahan terhadap temperatur tinggi, biaya pemeliharaan relative kecil. 2) Kekurangan beton; bentuk yang sudah dibuat sulit untuk diubah, pelaksanaan pekerjaan memerlukan ketelitian yang tinggi, berat, daya pantul suara besar, membutuhkan cetakan sebagai alat pembentuk, tidak memiliki kekuatan tarik, setelah dicampur beton segera mengeras, dan beton yang mengeras sebelum pengecoran tidak bisa di daur ulang.



Gambar 11-29 : Dinding Beton pada Bangunan Dinding beton dibuat dengan berbagai tujuan, selain untuk struktur beton dapat diadikan sebagai disain arsitektur bangunan.Saat ini banyak orang membuat dinding beton dari blok-blok beton pracetak, disamping kuat mudah dalam pengerjaan di lapangan, yang hanya menyatukan dengan konstruksi yang telah ada atau menempelkannya pada frame yang telah disediakan sebelumnya. Sekarang ini banyak didapat dinding berbahan beton, dari desain dan pengerjaannya dikenal beberapa macam, yaitu; 1) Dinding beton dan beton bertulang 2) Dinding beton pracetak 3) Dinding beton panel



42



Dinding beton bertulang banyak dipakai dalam konstruksi dinding penahan tanah,



hal



tersebut



dimungkinkan



karena



kekuatannya



dan



mudah



membentuk dan melaksanakna sesuai dengan counter/relief alam yang akan dikerjakan. Penggunanaa dinding beton bertulang, banyak diapaki seperti untuk bendungangan, drainase, dan pondasi atau jembatan. Bahkan untuk konstruksi tertentu dinding juga dapat ditanam pipa didalamnya, karena dinding beton dapat menahan kontraksi air dari luar yang dapat melindungi kekuatan pipa di dalamnya. Tampilan estetikadari dindingbeton bertulangdapat dibentuk sehingga menarik perhatian, dan akan memperindah tampilan luar disamping kekuatan yang tetap dipertahankan. Ketahanan dinding beton dapat bertahan berpuluh puluh tahun, bahkan ratusan tahun tergantung dari kekuatan serta ketebalan lapisan beton yang di desain, dan kekuatan dinding beton akan bertambah dari tahun ke ktahun, sampai tercapai titik kuat yang diprediksi bisa sampai ratusan tahun. Namun, bila spesifikasikonstruksi bangunantidakkuat, ini yang memungkinkan dinding akan



mengalami



penurunan,



seperti



timbulnya



retak-retak,



akhirnyaakan mengalami keruntuhan. Pembangunan konstruksi



yang



dindiing



beton dapat di desain dengan kombinasi arsitektur yang indah, sehingga bukan hanya kokoh dari segi struktur tetapi indah dari sudut estetika.



Gambar 11-30 : Dinding Beton Bertulang Sebagai Penahan Tanah



43



7.



Dinding Partisi



Bila ditinjau dari arti kata partisi, mungkin semua dari kita memahami maksudnya, partisi berarti pembatas atau sekat ruangan.Kebiasaan di rumah partisi dapat dipasang dan dipindah-pindah sesuai keinginan.Penggunaan partisi sebagai pembatas ruangandimana ruangan satu dengan yang lainnya mempunyai fungsiyang berbeda.Jadi sesuai dengan namanya dinding partisi memang dikhususkan untuk sekat antar ruang, karena di desain sebagai sekat antara ruang satu dan yang lain, dinding ini memiliki desain konstruksi yang lebih praktis dan ringan dibanding dengan konstruksi dinding seperti dinding bagian luar.Selain fungsi pembatas ruangan,partisi jugadapat difungsikan sebagai tampilan dekoratif interior ruanganbersama furniture pendukung, sehingga keberadaannya dapatmembuat kesan lebih hidup dan mewah di suatu ruangan,kesan kosong dapatdihindari berkat hadirnya furniture yang sesuai. Fungsi lain dari partisi adalah sebagai bagian dari meubuler dengan mendesain partisi sebagai lemari atau bufet yang minimalis. Bahan partisi untuk dinding dengan banyaknya produk pabrikan dapat didesain bagus dan murah, dan biasanya dinding jenis partisi ini tidak bisa digunakan untuk dinding luar (eksterior), hal Ini disebabkan sifat bahannya yang kurang menjamin faktor keamanan dari gangguan luar. Disamping tidak cocok untuk konstruksi terbuka, dinding jenis ini juga tidak dirancang untuk memikul beban yang berat. Dinding macam ini banyak digunakan sebagai bahan penyekat ruangan, terutama di perkantoran.Dengan desain yang variatif,partisihadir dengan berbagai material



seperti kayu, rotan, kaca,



bambu, triplek/multiplek yang difinishing dengan lapisan takon, HPL, lembaran lembaran pelapis modern, dan lain sebagainya yang telah banyak di jual di pasaran. Penggabungan material tersebut diharapkan bias menghasilkan tampilan partisi yang cantik sehingga dapatmenjadi elemen penunjang interior. Dengan desain yang simple tetapi multifungsi, layak untuk dijadikan alasan sebuah partisi dengan bufet sebagai penyekatruangan bisa digunakan untuk menyimpan benda koleksiatau koleksi crystal.Adanya ruang keluarga danruang makan dalam satu area,penempatan bufet sebagaipenyekat



44



diharapkan dapat menjadi solusi untuk membuat lebihnyaman area favorit anda. Dipasaran semakin banyak pilihan bahan untuk diaplikasikan menjadi dinding partisi, namun ada tiga bahan yang seringkali digunakan dalam perencanaan, antara lain yaitu Gypsum, Papan Kalsium/ Fibercement, dan Triplek/Multiplek. Bahan untuk dinding partisi, yang dipakai umumnya terdiri dari lembaran multiplek atau papan gipsum,. bahan lain yang bagus untuk partisi adalah papan semen fiber glass,yang terbuat dari campuran semen dan fiber glass sehingga sangat kuat. Pemasangan kerangka kayu atau hollow biasanya menggunakan sekrup sebagi paku untuk merekatkan bahan dimaksud, bahannya mudah dipotong dengan menggunakan gergaji.Untuk dinding partisi yang memakai bahan multiplek bisa dikatakan kurang aman, mengingat bahan mudah terbakar dan mudah mengelupas bila sering terkena air.Secara umum pemakaian partisi selalu dibuat dua lapis, untuk luar dan dalam. Bila dana terbatas, gunakan bahan partisi ini untuk pembatas ruangan. Jenis bahan disesuaikan dengan selera dan besarnya biaya.



7.1 Papan Gypsum Papan gypsum terdiri dari bahan gypsum yang dibungkus dengan kertas penguat di sekelilingnya. Pada umumnya yang tersedia dipasaran bagian ujung papan sisi panjang berbentuk miring, namun ada juga beberapa produk yang menyediakan tepian yang kotak untuk aplikasi khusus. Kekuatan utama gypsum terletak pada kertas pembungkusnya, untuk papan gypsum standar kertas pembungkus biasanya berwarna gading cenderung kecoklatan, dengan bahan sepintas mirip dengan kertas zak pembungkus semen. Saat ini produsen gypsum memproduksi beberapa jenis gypsum untuk beberapa aplikasi. Ketebalan gypsum bervariasi, rata-rata di pasaran adalah 9mm, 12mm dan 15 mm untuk type gypsum standar (plasterboard). Berikut ini adalah beberapa karakteristik gypsum, yaitu: 1) Ketahanan Terhadap Air; Karena kekuatan papan gypsum yang terletak pada kertas pembungkusnya, maka untuk gypsum standar



45



(plasterboard) yang ada dipasaran rata-rata tidak tahan terhadap basah dan lembab, kertas akan mengelupas dan inti gypsum akan terurai. Bila memang memerlukan gypsum sebagai partisi maka beberapa merk terkenal mengeluarkan type papan gypsum dengan pelapis yang lebih tahan terhadap lemba, bukan basah, karena bahan gypsum memang tidak akan bertahan terhadap basah tentu dengan harga yang lebih mahal untuk ketebalan yang sama. 2) Akustik; Bahan papan gypsum standar (plasterboard) relatif lunak sehingga bahan gypsum relatif bisa menyerap suara dengan baik daripada dinding bata. Papan gypsum cocok digunakan untuk ruang-ruang yang memerlukan peredaman suara, dan karena sifat peredaman gypsum yang baik inilah maka beberapa produsen mengeluarkan panel peredam suara yang lebih baik dengan berbahan dasar gypsum. 3) Ketahanan Terhadap Api; Papan gypsum standar (plasterboard) mempuyai lapisan kertas sebagai penguat, dan seperti kita ketahui bahwa kertas adalah penghantar api, sehingga kurang aman terhadap api. Namun beberapa produsen menciptakan gypsum yang lebih tahan terhadap api dengan lapisan kertas khusus (tentu dengan harga yang lebih mahal). 4) Ketahanan Terhadap Benturan dan Goresan; Aplikasi gypsum sebagai dinding partisi saat ini sudah menjadi suatu hal yang umum, namun dari berbagai kasus yang terjadi, pemasangan papan gypsum di ruang yang biasa dilalui banyak orang cenderung mudah rusak dan gupil terutama di bagian sudut dinding seperti sebagai pelapis kolom. Selain itu bila dinding tergores dengan sesuatu yang tajam maka dipastikan kertas akan mudah terkelupas, tetapi perbaikan untuk hal ini cukup mudah.



Pemasangan papan gypsum sebagai partisi dapat menggunakan rangka kayu ataupun rangka metal yang banyak tersedia di pasaran. Rangka biasanya disusun secara vertikal dengan jarak menyesuaikan dengan persyaratan tinggi maksimum yang dibutuhkan. Pemasangan gypsum direkomendasikan dipasang tegak, dengan sisi pendek pada bagian bawah dan atas. Jarak antar panel gypsum menurut rekomndasi rata-rata dari pabrikan sebesar 2.5-5mm. Pemasangan panel pada rangka menggunakan sekrup gypsum, jarak yang direkomendasikan antar sekrup sebesar 200 – 500 mm tergantung ketebalan



46



gypsum. Nat yang terjadi antar panel gypsum ditutup dengan joint compound gypsum dan kain kassa. Setelah sambungan tertutup, maka tinggal menghaluskan dan meratakan sambungan dengan ampelas, dan iap diberikan cat dasar. Bila menggunakan aplikasi rangka kayu, maka sebaiknya kayu yang dipakai sebagai rangka adalah kayu yang cukup kering, banyak kejadian sambungan antar gypsum terjadi keretakan dikarenakan muai susut kayu rangka. Harga gypsum dipasaran relatif bervariasi, saat ini banyak produsen gypsum yang menawarkan produknya mulai dari yang berkualitas dengan harga yang tinggi, hingga gypsum kelas low-end yang ditawarkan dengan harga murah tentu dengan kualitas seadanya. Harga gypsum ditentukan oleh ketebalan dan jenis pelapis untuk aplikasi khusus.



7.2 Papan Kalsium Papan Kalsium terbuat dari panel kalsium-silikat dan menggunakan serat selulosa sebagai penguat. Secara tampilan kasat mata papan kalsium menyerupai bahan plafon fibercement, namun lebih tebal dan kuat. Papan kalsium dalam proses produksinya telah mengalami pengeringan secara autoclaving, sehingga tidak mengalami muai susut. Berat jenis papan lebih berat daripada papan gypsum, namun dari sisi kekuatan dan kepadatan papan kalsium lebih padat dan kuat. Dipasaran ketebalan papan kalsium terdiri dari 6mm,9mm dan 12 mm. Berikut ini adalah beberapa karakteristik Papan Kalsium, yaitu: 1) Ketahanan terhadap air; Papan Kalsium lebih tahan terhadap air dan lembab. Bila terkena air, papan kalsium tidak akan terurai seperti halnya papan gypsum, ataupun terkelupas seperti triplek atau multiplek, namun dari beberapa pengalaman yang saya temui, papan kalsium bila terkena air dan lembab akan mudah sekali terdapat bercak-bercak hitam, namun hal ini dapat dengan mudah diatasi dengan pengamplasan dan pengecatan kembali. 2) Akustik;Papan kalsium memiliki material yang cukup padat, bahkan lebih padat dari plesteran dinding bata pada umumnya, oleh karena itu dari segi



47



akustik papan kalsium cenderung tidak dapat menyerap suara dengan baik dan tidak cocok untuk ruang yang membutuhkan peredaman suara seperti ruang pertunjukan atau studio. 3) Ketahanan Terhadap Api;Bahan papan kalsium rata-rata tidak mudah terbakar dan tidak juga menyebarkan nyala api, sehingga bahan ini sangat cocok untuk ruang-ruang yang membutukkan perlindungan terhadap api, dan yang rentan pada kebakaran seperti dapur, laboratorium, dan lain sebaginya. 4) Ketahanan Terhadap Benturan dan Goresan;Bahan dengan kerapatan yang padat, menjadikan papan kalsium cocok diaplikasikan di ruang dimana banyak orang dan barang berlalu lalang. Papan Kalsium tidak mudah ”gupil” dan gores, namun perlu dicatat bahwa papan kalsium mempuyai sifat yang lebih getas, sehingga bila mengalami benturan yang cukup keras pada bagian yang tidak terdapat rangka bisa mengalami keretakan, dan keretakan pada papan kalsium memang bisa diatasi dengan pemberiana plaster & compount seperti halnya pada gypsum, namun hasilnya tidak bisa serapi papan gypsum. Dalam hal pemasangan tidak jauh beda dengan pemasangan papan gypsum, namun perlu dicatat, bahwa papan kalsium dengan sifat bahan yang lebih keras dan kaku maka biasanya bila rangka kurang rapi sambungan antar panel juga terlihat begelombang, dan hal ini lebih sulit diatasi dengan dempul daripada papan gypsum.Harga papan kalsium rata-rata dipasaran relatif lebih mahal daripada papan gypsum standart dengan ketebalan yang sama, namun dalam aplikasi partisi yang sama papan kalsium bisa menggunakan ketebalan yang lebih tipis daripada papan gypsum. Namun bila dibandingkan dengan papan gypsum untuk aplikasi khusus seperti papan gypsum tahan api, papan gypsum tahan kelembaban, maupun papan gypsum tahan benturan, maka harga papan kalsium relatif lebih murah. 7.3 Papan Triplek/ Multiplek Papan Multiplek dibuat dari serutan kayu yang dilapiskan secara vertical dan horizontal secara berselangseling antar lapisan, dan antar lapisan tersebut di press dengan tekanan tertentu dan di lem. Dalam proses pembuatannya



48



masing-masing lapisan pada triplek maupun multiplek telah mengalami pengeringan yang sempurna dan telah difumigasi, sehingga menjadikan papan triplek/multiplek tahan terhadap rayap dan hewan pemakan kayu lainnya dan tidak mudah mengalami pelapukan. Berikut ini adalah beberapa karakteristik Papan Triplek/ Multiplek, yaitu: 1) Ketahanan terhadap air; Papan Triplek/Multiplek bila dibiarkan tanpa pelapis tidak akan tahan terlalu lama di tempat yang berair, namun bila hanya tersiram untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, triplek /multiplek lebih bertahan daripada papan gypsum standar. Bila direndam dalam air dalam waktu yang cukup lama maka papan akan mengelupas tiap lapisannya, dan melapuk. Namun dengan pelapisan yang baik partisi triplek/multiplek dapat digunakan untuk ruang yang lembab seperti sebagai partisi toilet. 2) Akustik; Papan Multiplek memiliki tingkat reduksi yang cukup bagus tergantung juga ketebalannya dan mudah dibentuk, sehingga papan multiplek cocok ruang yang memerlukan pengaturan tata suara seperti gedung konser. 3) Ketahanan Terhadap Api; Sifat bahan dasar kayu sebagai penghantar api, kayu olahan multiplek sebaiknya dihindarkan untuk partisi ruangruang yang kontak langsung dengan api seperti dapur, dan laboratorium penggunaan multiplek untuk partisi ruang yang retan terhadap api dapat diatasi dengan penggunaan bahan pelapis yang tahan api. Dari segi pemasangan papan multiplek lebih fleksibel dan mudah dibentuk manjadi model apapun, pemasangan tidak memerlukan tenaga ahli khusus. Rangka untuk menyokong papan multiplek juga bisa terbuat dari kayu maupun rangka metal. Kelebihan dari pemasangan multiplek adalah bahan yang mudah dibentuk menjadi bentuk apapun, dan sisa maupun bongkaran bisa dimanfaatkan lagi tanpa terlalu banyak kerusakan. Dari soal harga saat ini harga bahan bangunan berbahan dasar bahan kayu relatif lebih mahal saat ini. Harga tiap lembar multiplek dipengaruhi oleh tebal dan tekstur kayu yang dipakai. Bahan triplek/ multiplek sangat fleksibel karena bisa dibongkar pasang tanpa banyak merusak bahan, dan bahan masih bisa



49



digunakan lagi, hal ini menjadikan bahan ini lebih ekonomis untuk jangka panjang bila memang partisi sering di bongkar pasang. Penggunaan dinding partisi semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan perumahan dan perkantoran yang tidak hanya mempertimbangkan faktor



biaya dan waktu yang dihabiskan



dalam



membangun suatu



bangunan.Dinding partisi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat di sektor real.Sementara ini dinding partisi



merupakan



hasil



dari



pengembangan



teknologi



yang



tepat



guna.Dimana perkembangan teknologinya selalu meningkat sejalan dengan inovasi produsen dinding partisi.



Gambar 11-31 : Dinding Partisi Dari Berbagai Bahan



50



GLOSSARY



AISC, adalah American Institute of Steel Construction berupa Manual of Steel Construction. ANSI, adalah American National Standards Institute ASTM, adalah American Society for Testing and Materials Baja Pelat; Yaitu baja berupa pelat baik pelat lembaran maupun pelat strip dengan tebal antara 3 mm s.d 60 mm Baja Profil; Yaitu baja berupa batangan dengan penampang berprofil dengan berbagai bentuk tertentu, dengan panjang pada umumnya 6 meter namun dapat dipesan di pabrik dengan panjang sampai 15 meter. Baja Beton; Yaitu baja yang digunakan untuk penulangan / pembesian beton (untuk konstruksi beton). Pada umumnya berbentuk batangan / lonjoran dengan berbagai macam ukuran diameter, panjang 12 meter Daktilitas, yaitu sifat regangan tarik Homogenitas, adalah memiliki sifat yang sama ke segala arah penampang, atau bersifat homogeny PPBBI, adalah singakatan Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia. Sambungan Titik Buhul (Simpul); Sambungan ini merupakan sambungan yang menyatukan beberapa batang baja menjadi satu pada titik suhul (Simpul) atau titik pertemuan.



A. Pendahuluan Pad bab terdahulu kita telah membahas tentang baja sebagai bahan bangunan. Dimana bahwa baja merupakan sauatu bahan konstruksi yang



51



lazim digunakan dalam struktur bangunan, karena kekuatan yang tinggi dan ketahanan terhadap gaya luar yang besar maka baja ini juga telah menjadi bahan pilihan untuk konstruksi bangunan gedung bertingkat. Dan juga telah menjelaskan bentuk penampang melintang I dan H biasanya digunakan untuk elemen-elemen besar yang membentuk balok dan kolom pada rangka struktur. Bentuk kanal dan siku cocok untuk elemen-elemen kecil seperti lapisan tumpuan Bentuk penampang



sekunder persegi,



dan



sub-elemen pada bulat,



dan persegi



rangka



segitiga.



empat



yang



berlubang dihasilkan dalam batasan ukuran yang luas dan digunakan seperti halnya pelat datar dan batang solid dengan berbagai ketebalan. Baja dalam teknik konstruksi bangunan gedung terdapat dalam bermacammacam bentuk sebagai berikut : 1) Baja Pelat; Yaitu baja berupa pelat baik pelat lembaran maupun pelat strip dengan tebal antara 3 mm s.d 60 mm. Baja Pelat Lembaran terdapat dengan lebar antara 150 mm s.d 4300 mm dengan panjang 3 s.d 6 meter. Sedangakan Baja Pelat Strip biasanya dengan lebar≤ 600 mm dengan panjang 3 s.d 6 meter. Permukaan baja pelat ada yang polos dan ada yang bermotif dalam berbagai bentuk motif. Namun untuk keperluan konstruksi pada umumnya digunakan baja pelat yang polos rata dengan lebar dapat dipotong sendiri sesuai dengan kebutuhan. 2) Baja Profil; Yaitu baja berupa batangan (lonjoran) dengan penampang berprofil dengan bentuk tertentu dengan panjang pada umumnya 6 meter (namun dapat dipesan di pabrik dengan panjang sampai 15 meter.



Adapun



bentuk-bentuk



profil



penampang



baja



dapat



ilihat/dipelajari dalam buku Daftar-Daftar Untuk Konstruksi Baja (daftar baja lama ) dan Tabel Profil Konstruksi Baja (daftar baja yang baru ). Dalam daftar baja lama terdapat profil INP, Kanal, DIN, DiE, DiR, DiL, ½ INP, ½DIN, Profil T, Profil L (baja siku s ama kaki dan tidak sama kaki ), batang profil segi empat sama sisi, dan batang profil bulat, juga daftar paku keling, baut, dan las. Sedangkan daftar baja yang baru profil INP, DIN, DiE, DiR, DiL, ½INP, ½ DIN, batang profil segi empat sama sisi, batang profil bulat, daftar paku keling, baut, dan las tidak ada, yang ada adalah : profil WF, Light Beam and Joists, H Bearing



52



Piles, Structural Tees, Profil Kanal, Profil Siku (sama kaki dan tidak sama kaki), Daftar Faktor Tekuk, Light Lip Channels, Light Channel, Hollow Structural Tubings (profil tabung segiempat ), Circular Hollow Sections (profil tabung bulat), serta tabel-tabel pelengkap lainnya. Kedua daftar baja tersebut di atas masih tetap digunakan keduaduanya karena saling melengkapi satu sama lain. 3) Baja Beton; Yaitu baja yang digunakan untuk penulangan / pembesian beton (untuk konstruksi beton). Pada umumnya berbentuk batangan / lonjoran dengan berbagai macam ukuran diameter, panjang 12 meter. Terdapat baja tulangan berpenampang bulat polos, juga baja tulangan yang diprofilkan. Baja memiliki kekuatan tarik yang tinggi, jauh lebih tinggi dibanding beton, bila diberi



gaya



tarikan



terus



menerus



hingga



melewati



batas



elastisitasnya, baja akan mengalami regangan yang cukup besar sebelum benar-benar runtuh. Pengertian elastisitas menjelaskan bahwa struktur baja, saat mengalami stress yang hebat semisal gempa bumi tidak akan langsung rubuh. Biasanya akan meregang dulu (miring), baru kemudian bila gaya sudah melebihi batas kritis, baru bangunan tersebut akan runtuh, hal ini memberi kesempatan bagi penghuni gedung untuk menyelamatkan diri. Kondisi struktur seperti ini, beda dengan beton biasa yang akan langsung runtuh bila gaya melebihi batas kritisnya. Baja sering digunakan sebagai struktur utama bangunan karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain yaitu: 1) Mempunyai kekuatan yang tinggi meski berukuran lebih kecil (colume kecil) dibanding beton. Sehingga dapat mengurangi ukuran struktur, serta mengurangi beban sendiri, dan jauh lebih berat dibandingkan beton. 2) Homogenitas tinggi. Baja bersifat homogen, sehingga kekuatannya merata. 3) Keawetan tinggi. Baja akan tahan lama bila perawatan yang dilakukan terhadapnya sangat baik. Misalnya, rutin mengecat permukaan baja agar terhindar dari korosi.



53



4) Bersifat elastis. Baja berperilaku elastis sampai tingkat tegangan yang cukup tinggi. Baja akan kembali ke bentuk semula asalkan gaya yang terjadi tidak melebihi batas elastisitas baja. 5) Daktilitas baja cukup tinggi. Selain mampu menahan tegangan tarik yang cukup tinggi, baja juga akan mengalami regangan tarik yang cukup besar sebelum runtuh. 6) Kemudahan pemasangan dan pengerjaan. Penampang baja bisa dibentuk sesuai yang dibutuhkan. Penyambungan antar elemen pada struktur baja juga mudah, hanya tinggal memasangkan baut atau bisa menggunakan las, sehingga akan mempercepat kegiatan proyek. Beberapa kelemahan baja sebagai struktur, antara lain, yaitu; 1) Pemeliharaan rutin. Baja membutuhkan pemeliharaan khusus agar mutunya tidak berkurang. Konstruksi baja yang berhubungan langsung dengan udara atau air harus dicat secara periodik. 2) Baja akan mengalami penurunan mutu secara drastis bahkan kerusakan langsung karena temperatur tinggi. Misalnya saat terjadi kebakaran. 3) Baja



memiliki



kelemahan



tekuk



pada



penampang



langsing.



Sekarang ini, banyak juga yang memanfaatkan baja ringan sebagai sistem rangka atap. Selain murah, ringan, dan pengerjaannya mudah, baja juga lebih awet. Baja sudah banyak menggantikan peran kayu dalam konstruksi. Jaman kayu sebagai atap mungkin sudah hampir punah. Mengingat hutan-hutan di seluruh Indonesia sudah dibabat habis oleh para penebang kayu. Bisa-bisa hutan kita akan gundul semua bila kita terus menggunakan kayu sebagai bahan bangunan.



B. Konstruksi Baja Profil Pada Bangunan



54



Konstruksi baja pada bangunan banyak kita jumpai berbagai bangunan dan jembatan yang menggunakan baja sebagai struktur utamanya, serti jembatan kereta api dan jembatan jalan raya yang melintasi sungai yang cukup lebar. Kemudian ada bangunan pabrik maupun gudang yang besar, desain jembatan Suramadu, juga menggunakan kabel baja sebagai strukturnya, renungkan dan jawab sembarang oleh mu!. Sebenarnya, bagaimana sih struktur baja itu ? Apa keunggulan baja dibanding beton atau bahan bangunan lain ?



Beberapa struktur baja yang sering diterapkan sebagai struktur bangunan: 1) Tipe Rangka atau frame structure; Dengan menyusun batang baja dengan bentuk struktur tertentu, batang baja mampu memperkuat satu sama lain. Hal ini banyak diterapkan pada struktur atap, bangunan pabrik, pergudangan, jembatan serta tower BTS (Base Transceiver Station) operator seluler. Yang populer di dunia, adalah Menara Eiffel, yang sebagian besar menggunakan batang-batang baja yang disusun secara struktural hingga bisa berdiri megah hingga kini. 2) Tipe cangkang atau shell-type structure; Struktur baja tipe cangkang diterapkan pada bangunan stadion, gelora, maupun bangunan lain yang membutuhkan kubah / dome diatasnya. 3) Tipe suspensi atau suspension-type structure; Suspensi bisa juga disebut tarikan. Baja pada sistem struktur ini menahan beban dengan kekuatan tarikannya. Contohnya, biasa dimanfaatkan sebagai kabel baja pada jembatan. Ketentuan atau pedoman dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan



55



konstruksi baja, sebaiknya menggunakan panduan yang dapat dipakai atau dipertimbangkan yaitu; 1)



Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) Mei 1983.



2)



American



Institute of Steel Construction (AISC) "Manual of Steel



Construction-7th Edition". 3)



American National Standards Institute (ANSI) : B27.265 Plain Washers".



4)



American Society for Testing and Materials (ASTM) specifications;







A 36 - 70a



Structural Steel







A 53 - 72a



Welded and Seamless Steel Pipe







A153 - 71



Zink Coating (hot dip) on Iron and Steel Hardware







A307 - 68



Carbon Steel Externally Threaded Standard Fasteners.







A325 - 71a



High Strength Bolts for/structural Steel Joint, Including



Sutiable Nuts and Palin Hardener Washers".







A490 - 71



Quenched



and



Tempered Alloy Steel Bolts



for



Structural Steel Joints 1. Gambar dan Notasi Baja Pada konstruksi bangunan gedung, sebelum elaksnakan pekerjaan ada baiknya pekerja memahami gambar kerja. Kelengkapan gambar kerja baja dapat ditentukan dengan bagian-bagian gambar seperti; 1) Gambar



Denah;



Lengkap



dengan



notasi,



ukuran-ukuran



dan



penjelasan detail 2) Gambar Detail; Gambar dilengkapi dengan notasi, dan disesuaikan dengan tabel baja 3) Gambar Sambungan; Dilengkapi dengan penjelasan jenis sambungan, pengelasan, baut-baut, angkur (pengangkuran) 4) Profil; Bentuk dan jenis profil ditentukan dengan bahan yang tersedia di pasaran 5) Perhitungan; Seluruh material (bahan) dan bentuk konstruksi/struktur baja, harus melalui perhitungan yang dipersyaratkan.



56



Pemberian notasi atau tanda gambar profil baja dimulai dengan kode profil diikuti dengan ukuran pokoknya. Berikut ini contoh-contoh penulisan nama baja profil menurut nomor profil; 1) Baja WF 250x125x6x9: Yaitu baja profil WF (Wide Flange = sayap lebar) dengan ukuran tinggi profil 250 mm, lebar sayap 125 mm, tebal badan 6 mm, dan tebal sayap 9 mm. 2) Baja KANAL 140x60x7x10: Yaitu baja profil kanal dengan ukuran tinggi profil 140 mm, lebar sayap (flens) 60 mm, tebal badan 7 mm, dan tebal sayap 10 mm. Kanal = Saluran = Parit. 3) Baja L 60.60.6: Yaitu baja profil siku sama kaki dengan ukuran lebar kaki 60 mm dan tebal baja 6 mm. 4) Baja L 65.100.7: Yaitu baja profil siku tidak sama kaki dengan ukuran lebar kaki 65 mm dan 100 mm, tebal baja 7 mm. 5) Baja LIP C 125x50x20x3,2: Yaitu baja profil Lip Channel dengan ukuran tinggi profil 125 mm, lebar sayap 50 mm, panjang bengkokan sayap 20 mm, tebal baja 3,2 mm. 6) Baja LIGHT C 100x50x50x3,2: Yaitu baja profil Lidht Channel dengan tinggi profil 100 mm, lebar sayap 50 mm, tebal baja 3,2 mm. Baja ini hampir sama dengan Lip Channel tetapi tanpan ada bengkokan sayap. 7) Baja Tabung Segi Empat 100x100x3,2: Yaitu baja profil tabung segi empat dengan ukuran sisi luar 100 x 100 mm, tebal baja 3,2 mm. 8) Baja Tabung Bundar∅ 114,3x4,5: Yaitu baja profil tabung bundar ( pipa) dengan ukuran diameter luar 114,3 mm dan tebal baja 4,5 mm. Selanjutnya untuk lebih mengenal gambar dan notasi profil baja, berikut ini penjelasan gambar sistem notasi dan simbol-simbol yang tertera adalah sebagai berikut; a) Garis sumbu X dan sumbu Y pada profil baja saling tegak lurus satu sama lain. b) Ukuran tinggi profil ( h ) dan lebar flens ( b ) dengan berpedoman daftar baja c) Ukuran tebal badan ( d ) dan tebal flens ( t ), tebal t diukur pada titik tengah lebar flens ( pada jarak ½b ) kemudian lukis garis tebal flens miring 8% melalui titik ujung garis tebal t dan lukis garis ujung flens. d) Garis lengkung pada pertemuan sudut garis badan dan garis flens bagian



57



dalam (r= 10 mm atau r1 20 mm), juga garis lengkung pada sudut flens bagian dalam dengan r1 = 5 mm atau∅ 10 mm.



Gambar 12-1: Notasi Gambar Pada baja Profil 2. Sambungan Baja



58



Di dalam struktur rangka sambungan pelat ataupun sambungan profil baja tidak dapat dihindari karena ada kemungkinan suatu profil baja kurang panjangnya, tetapi selain itu ada juga kemungkinan diadakan sambungan karena pertemuan suatu batang dengan batang yang lain pada satu titik buhul, dengan menggunakan pelat buhul. Alat penyambung yang lazim digunakan untuk profil baja ialah baut, paku keling dan Las.



Baut adalah salah satu alat penyambung profil baja, selain paku keling dan las. Baut yang lazim digunakan sebagai alat penyambung profil baja adalah baut hitam dan baut berkekuatan tinggi. Baut hitam terdiri dari 2 jenis, yaitu : Baut yang diulir penuh dan baut yang tidak diulir penuh, sedangkan baut berkekuatan tinggi umumnya terdiri dari 3 type yaitu : Baut baja karbon sedang, Baut baja karbon rendah, dan Baut baja tahan karat. Walaupun baut ini kurang kaku bila dibandingkan dengan paku keling dan las, tetapi masih banyak digunakan karena pemasangan baut relatif lebih praktis. Dalam pemakaian di lapangan, baut dapat digunakan untuk membuat konstruksi sambungan tetap, sambungan bergerak, maupun sambungan sementara yang dapat dibongkar/dilepas kembali. 2.1 Tipe Sambungan Baja



59



Sambungan baja dalam perencanan struktur (konstruksi) baja didasarkan pada tipe profil baja yang dipakai, secara umum sambungan terbentuk didasarkan atas hubungan sambungan sebagai berikut: 1) Sambungan antar balok (balok dengan balok); Sambungan ini merupakan sambungan yang menghubungkan antara balok dengan balok, yaitu jenis sambungan memanjang, sehingga menjadikan baja profil yang menerus secara



horizontal.



Sambungan



baja



ini



dapat



dilakukan



dengan



menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.



60



Gambar 12-2 : Sambungan Antar Balok Baja Profil 2) Sambungan antar Kolom (kolom dengan kolom); Sambungan ini merupakan sambungan yang menghubungkan antara Kolom dengan Kolom, sehingga mendapatkan Profil yang menerus secara vertikal. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.



61



Gambar 12-3 : Sambungan Baja Vertical (Antar Kolom) Kolom-kolom pada konstruksi merupakan elemen struktur yang menerima beban-beban dari balok dan pelat yang diteruskan ke pondasi. Kolom mengalami tekan aksial searah sumbunya dan penempatan balok yang mempunyai eksentrisitas menimbulkan gaya-gaya lentur. Tidak seperti elemen struktur tarik yang bebannya cenderung menahan elemen struktur pada posisinya, elemen struktut tekan sangat peka terhadap faktor-faktor yang dapat menimbulkan peralihan lateral atau tekuk. Kolom pada hakekatnya jarang sekali mengalami tekanan aksial saja. Namun, bila pembebanan ditata sedemikian rupa hingga pengekangan (restraint) rotasi ujung dapat diabaikan atau beban dari batang-batang yang bertemu di ujung kolom bersifat simetris dan pengaruh lentur sangat kecil dibandingkan tekanan langsung, maka batang tekan dapat direncanakan dengan aman sebagai kolom yang dibebani secara konsentris.



62



Hubungan batang dengan penghubung dapat menggunakan baut, paku keling, dan las. Batang tersusun sering digunakan pada kondisi-kondisi sebagai berikut: 1) Kapasitas profil yang tersedia belum mencukupi 2) Diperlukan batang dengan kekakuan besar 3) Detail sambungan membutuhkan penampang tertentu 4) Faktor estetika



3) Sambungan Balok dengan kolom; Sambungan ini merupakan sambungan antara balok yang dihubungkan dengan Kolom sehingga mendapatkan Sambungan Siku, sambungan baja ini dapat dilakukan dengan merakit Balok pada tepi Flens/Sayap maupun pada Web/Badan Kolom yang dibantu dengan Pelat Penyambung ataupun Profil yang lainnya. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.



63



Gambar 12-4: Sambungan Baja Sudut (Antar Kolom dengan Balok) 4) Sambungan Titik Buhul (Simpul); Sambungan ini merupakan sambungan yang menyatukan beberapa Batang/Balok menjadi satu Titik Buhul (Simpul) atau Titik Pertemuan, sambungan ini dilakukan dengan cara memberi Pelat Baja (Pelat Buhul/Simpul) sebagai titik pertemuan batangbatang aksial tersebut. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat



64



menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.



Gambar 12-5: Sambungan Baja Pada Titik Buhul



65



Sambungan Pada Simpul, selalu dibarengi dengan adanya pelat simpul (gusset plate) sebagai bagian dari alat sambung, untuk mempersatukan dan menyambung batang-batang yang bertemu di titik simpul tersebut, pelat simpul sebagai pelat penyambung, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 



Lebar, sehingga paku keling/baut dapat dipasang menurut peraturan yang ditentukan.







Kuat menerima beban dari batang-batang yang diteruskan pelat simpul, maka simpul perlu diperiksa kekuatannya, dengan cara mengadakan beberapa potongan untuk diperiksa kekuatannya pada potongan tersebut. Tetapi sebelum dilanjutkan mengenai pemeriksaan pelat simpul, sekilas di ulang kembali dulu tentang perhitungan banyaknya baut/paku keling yang diperlukan







Pelat buhul harus memiliki ketebalan yang lebih besar dibandingkan dengan profil tebal pelat pada profil baja, hal ini dikarenakan semua gaya yang bekerja pada struktur rangka utama akan disalurkan ke pelat buhul tersebut







Takikan; Tidak terjadi takikan pada pelat buhul, pada posisi yang menerima beban, yaitu pada bagia sudut dalam, karena dapat mengakibatkan pelat simpul rawan sobek (perhatikan takikan pada gambar di bawah ini).



Gambar 12-6 : Pelat Buhul Pada Sambungan



66



2.2 Gambar Sambungan Baja Profil Notasi sambungan menggunakan baut; Secara umum penempatan baut pada sambungan konstruksi baja dipasang dengan jarak-jarak dan digambar menggunakan simbol seperti di bawah ini, untuk lebih memperjelas, diberikan beberapa contoh gambar alat sambung dan bentuk sambungan pada baja profil.



Gambar 12-7: Sambungan Baut Baja Ketentuan dan notasi gambar penempatan baut atau paku keling pada baja profil, perhatikan penampang profil gambar baja berikut ini.



67



68



Gambar 12-8: Sambungan Baja Profil (Foto) Mengenai jarak baut atau paku pada suatu sambungan, tetap harus berdasarkan ketentuan dan syarat yang ada pada PPBBI pasal 8:2, yaitu : 1) Banyaknya baut yang dipasang pada satu baris yang sejajar arah gaya, tidak boleh lebih dari 5 buah. Jarak antara sumbu buat paling luar ke tepi atau ke ujung bagian yang disambung, tidak boleh kurang dari 1,2 d dan tidak boleh lebih besar dari 3d atau 6 t (t adalah tebal terkecil bagian yang disambungkan). Untuk pemasangan satu deret paku keeling yang menahan gaya normal (tarik / tekan ) dimana deretan paku keeling berada pada garis gerja gaya, ternyata untuk satu deret yang terdiri ≤ 5 buah paku keling masingmasing paku menahan gaya relatif sama. Jadi gaya normal yang harus ditahan dibagi sama rata oleh kelima paku keeling tersebut. Namun jika banyaknya paku keling dalam satu deret lebih dari 5 buah maka masingmasing paku keling menahan gaya yang besarnya mulai tidak sama rata. Oleh karena itu jika dalam perhitungan paku keling / baut dalam konstruksi ambungan ketemunya memerlukan lebih dari 5 buah paku/baut, maka harus dipasang dalam susunan 2 deret atau lebih.



2) Pada sambungan yang terdiri dari satu baris baut, jarak dari sumbu ke



69



sumbu dari 2 baut yang berurutan tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t. Jika sambungan terdiri dari lebih satu baris baut yang tidak berseling, maka jarak antara kedua baris baut itu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan pada satu baris tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t. 2,5 d < s < 7 d atau 14 t 2,5 d < u < 7 d atau 14 t 1,5 d < s1 < 3 d atau 6 t 3) Jika sambungan terdiri dari lebih dari satu baris baut yang dipasang berseling, jarak antara baris-baris buat (u) tidak bole kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t, sedangkan jarak antara satu baut dengan baut terdekat pada baris lainnya (s2) tidak boleh lebih besar dari 7 buah. d – 0,5 u atau 14 t – 0,5 u. 2,5 d < u < 7 d atau 14 t s2 > 7 d – 0,5 u atau 14 t – 0,5 u



70



Beberapa pedoman atau cara pemasangan Paku Keling, antara lain yaitu; 1) Plat yang akan disambung dibuat lubang, sesuai diameter paku keling yang akan digunakan. Biasanya diameter lubang dibuat 1.5 mm lebih besar dari diameter paku keling. 2) Paku keling dimasukkan ke dalam lubang plat yang akan disambung. 3) Bagian kepala lepas dimasukkan ke dalam lubang plat yang akan disambung. 4) Dengan menggunakan alat atau mesin penekan (palu), tekan bagian kepala lepas masuk ke bagian ekor paku keling dengan suaian paksa. 5) Setelah rapat/kuat, bagian ekor sisa kemudian dipotong dan dirapikan/ratakan. 6) Mesin/alat pemasang paku keling dapat digerakkan dengan udara, hidrolik atau tekanan uap tergantung jenis dan besar paku keling yang akan dipasang.



Gambar 12-9: Pemasangan Paku Keling



2.2.1 Sambungan Las Sambungan las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam cara pengelasan yang digunakan kawat elektroda logam yang dibungkus dengan



71



fluks, bahwa busur listrik terbentuk di antara logam induk dan ujung elektroda. Karena panas dari busur ini maka logam induk dan ujung elektroda tersebut mencair dan kemudian membeku bersama. Proses pemindahan busur elektroda terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listrik yang terjadi. Bila digunakan arus listrik yang besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi halus, sebaliknya bila arusnya kecil maka butirannya menjadi besar.



Gambar 12-10 : Pemindahan Logam Cair Metoda pengelasan diklasifikasikan berdasarkan metoda pemanasan untuk mencairkan logam pengisi serta permukaan yang disambung. 1) Electric Arc Welding : panas diaplikasikan oleh busur listrik antara elektroda las dengan benda kerja (lihat gambar di atas). Berdasarkan (1) aplikasi logam pengisi dan (2) perlindungan logam cair thd atmosfir, electric arc welding diklasifikasikan menjadi : a). Shielded Metal Arc welding (SMAW); b). Gas Metal Arc Welding (GMAW) c). Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) d). Flux-cored Arc Welding (FCAW) dan e). Submerged Arc Welding (SAW). 2) Resistance Welding : arus listrik meng-generate panas dengan laju I2R, melalui kedua permukaan benda kerja yang disambung. Kedua benda di cekam dengan baik. Tidak diperlukan adanya logam pengisi atau shield, tetapi proses pengelasan dapat dilakukan pada ruang vakum atau dalam inert gas. Metoda pengelasan ini cocok untuk produksi masa dengan pengelasan kontinu. Range tebal material yang cocok untuk pengelasan ini adalah 0,004 s/d 0,75 inchi. 3) Gas Welding : umumnya menggunakan pembakaran gas oxyacetylene untuk memanaskan logam pengisi dan permukaan benda kerja yang



72



disambung. Proses pengelasan ini lambat, manual sehingga lebih cocok untuk pengelasan ringan dan perbaikan. 4) Laser beam welding : plasma arc welding, electron beam welding, dan electroslag welding : adalah teknologi pengelasan modern yang juga menggunakan metoda fusi untuk aplikasi yang sangat spesifik. 5) Solid state welding : proses penyambungan dengan mengkombinasikan panas dan tekanan untuk menyambungkan benda kerja. Temperatur logam saat dipanaskan biasanya dibawah titik cair material. Sambungan las terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi dan kombinasi yang banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah sambungan sebidang (butt), lewatan (lap), tegak (T), sudut (corner), dan sisi (edge), namun secara umum di dalam konstruksi baja bangunan, dikenal 2 macam yaitu; Las Tumpul dan Las Sudut, sebagai berikut : a) Las Tumpul : adalah bentuk las sambungan memanjang atau melebar. b) Las Sudut : adalah bentuk las sambungan menyudut.



Gambar 12-11:Jenis dasar sambungan sebidang Simbol las diberikan pada gambar teknik dan gambar kerja sehingga komponen dapat difabrikasi secara akurat. Simbol las distandardkan oleh AWS (American Welding Society). Komponen utama simbol las sesuai dengan standard AWS adalah (1) Reference line, (2) tanda panah, (3) basic weld symbols, (4) dimensi dan data tambahan lainnya, (5) supplementary symbols, (6) finish symbols, (7) tail, dan (8) spesifikasi atau proses. Simbol las



73



selengkapnya ditunjukkan pada gambar di bawah ini, aplikasi simbol las dan ilustrasi hasil bentuk konfigurasi sambungan.



Gambar 12-12 : Las Tumpul Sambungan Memanjang atau Melebar



74



Gambar 12-13: Bentuk Las Sudut



Las sudut 4 – 96 = Las sudut dengan tebal 4 mm panjang 96 mm. Las sudut 4 – ( 160 + 77 ) /40 = Las sudut dengan tebal 4 mm panjang dipecah, 2 bagian masing-masing 160 mm dan 77 mm berjarak 40 mm.



75



Gambar 12-14 : Notasi Gambar Las



Las fillet, (a) angka menunjukkan ukuran leg, (b) menunjukkan jarak



Konfigurasi pengelasan tipe butt atau groove (a) square, (b) V tunggal dengan root 2mm dan sudut 600, (c) V ganda, (d) bevel



76



Gambar 12-15: Konfigurasi Fillet Weld dengan berbagai kondisi Sambungan temu (butt joint) atau sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan lewatan tunggal. Bila digunakan bersama dengan las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan) dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat. Sambungan saling tumpang (lap joint) merupakan jenis yang paling umum. Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama, yaitu mudah disesuaikan dan mudah disambung. Lap joint menggunakan las sudut sehingga sesuai



77



baik untuk pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang khusus. Keuntungan lain sambungan tumpang adalah mudah digunakan



untuk



menyambung



plat



yang



tebalnya



berlainan.



Jenis



sambungan T dipakai untuk membuat penampang bentukan (builtup) seperti profil T, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las tumpul.



Gambar 12-16 : Hubungan Sambungan Baja Menggunakan Las



78



Beberapa keunggulan dan kelemahan las baja profil, dimana bahwa secara teoritis



dapat



menghasilkan



kekuatan



sambung



yang



sama



dengan



penampang aslinya, artinya tidak ada pengurangan kekuatan. Ini khususnya jika berbicara tentang butt-weld atau las tumpul. Jadi jika ada suatu sambungan yang ingin kita uji kekuatan las, dan cara me-lasnya memakai butt-weld maka ketika diuji tarik, yang rusak pasti bagian lain dan bukan di tempat sambungan las tersebut dikerjakan. Beberapa kelebihan sambungan las dibandingkan sambungan baut-mur atau sambungan keling (rivet) adalah lebih murah untuk pekerjaan dalam jumlah besar, tidak ada kemungkinan sambungan longgar, lebih tahan beban fatigue, ketahanan korosi yang lebih baik. Kelemahan sistem sambungan las hanya dalam pelaksanaannya. Kita tidak bisa memeriksa sempurna tidaknya suatu hanya dari penampakan luar, tapi dari prosesnya. Kecuali tentunya dengan alat-alat khusus, seperti X-ray, uji gelombang atau semacamnya, yaitu menentukan homogenitas bahan yang disambung. Jadi apakah seluruh penampang telah ter-las dengan baik, atau hanya bagian luarnya saja yang tebal. Sedangkan kelemahannya antara lain adalah adanya tegangan sisa (residual stress), kemungkinan timbul distorsi, perubahan struktur metalurgi pada sambungan, dan masalah dalam disasembling.



3. Pekerjaan Kuda-kuda Baja Profil Pada perhitungan struktur atap gedung dari kuda-kuda baja profil, dalam perencanaan konstruksinya direncanakan dengan menggunakan pedoman dan ketentuan, sesuai dengan Pedoman Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI), dan SK SNI untuk baja tahun 2002. Penggunaan baja profil untuk konstruksi dengan bentang yang lebar, misalanya 15-20 meter, pemilihan material baja sangatlah tepat karena sambungan untuk batang tekan dan tariknya akan lebih kuat, kemudian dalam pekrjaan juga lebih mudah dan cepat. Panjang baja profil yang umum di pasaran yaitu, 12 meter, tentu untuk kebutuhan lebih panjang dibutuhkan sambungan baja, yang kita kenal dengan tiga jenis sambungan yaitu sambungan baut, paku dan las.



79



Perhatikan gambar di bawah ini. Gambar A: Menunjukkan rencana bangunan gudang dari baja, terlihat skesa tampak depan penutup atap model pelana, terlihat sudut kemiringan atap dengan besar sudut α , kemudian gambar B: adalah rencana kuda-kuda atap dari baja, yang memiliki sambungan (hubungan ) pada titik buhul, yang seluruhnya persambungan tersebut harus dihitung kekuatannya, dan dipahami teknik persambungannya.



Gambar 12-17: Rencana Kuda-kuda Baja Kemudian pada gambar c: adalah gambar denah atap, dari sini dapat direncanakan rangka atap, seperti susunan dan dimensi gording, ini juga tergantung dari jenis penutup atap yang digunakan. Pada perencanaan bangunan gudang dari baja ini direncanakan penutup atap jenis seng atau asbes, tentu hanya membutuhkan konstruksi penutup atap gording saja, berbeda dengan jenis atap genteng. Untuk atap genteng, digunakan pedoman, sbb:   



Kemiringan atap : 30° ≤ α ≤ 60° α ≥ 60° : dipakai genteng khusus, dipaku pada reng α ≤ 30° : dipakai genteng dengan presisi tinggi, dan diberi lapisan aluminium foil di bawah reng.







Usuk dan reng harus mampu memikul beban hidup merata q dan terpusat p



Untuk penutup atap dari jenis; Seng Gelombang, Asbes Gelombang, dan spandeks



80



  



semakin kecil α, overlap semakin besar kemiringan atap lebih bebas ; 5° ≤ α ≤ 90° semakin kecil α, overlap semakin besar overlap : Pada arah mengalir air dan pada // arah mengalir air



Gambar 12-18 : Hubungan Titik Buhul (Paku, Baut dan Las)



Gambar 12-19 : Konstruksi Batang Tekan dan Tarik



81



Gambar 12-20 : Hubungan Konstruksi Gording dan Kaso Baja



Gambar 12-21 : Perletakan Gording dengan Kaki Kuda-kuda



82



3.1 Perencanaan Gording Baja



Gambar 12-22 : Rencana Gording Baja Profil Perhitungan Gording, perhitungan gording dihitung dimensi berdasarkan beban-beban yang diterima, seperti; 



Beban mati, yaitu berat sendiri atap, berat sendiri gording dan alatalat pengikat atau bahan yang ada melekat pada atap dan gording







Beban hidup (daftar sesuai fungsi) Beban hidup (L) : sesuai peraturan pembebanan; a) Terbagi rata : q = (40 – 0,8 α) ≤ 20 kg/m2, b) Beban terbagi rata per m2 bidang datar berasal dari beban air hujan, dimana adalah sudut



kemiringan atap dalam derajat. Beban



tersebut tidak perlu ditinjau bila kemiringan atapnya lebih dari 500. 



Beban terpusat P= 100 kg (beban orang saat pelaksanaan/perawatan)







Beban Angin (W) lihat Peraturan Pembebanan, besarnya tergantung dari daerah (wilayah) dan sudut α.



Beberapa baja profl yang sering digunakan sebagai gording, dapat dilihat contoh nama, bentuk, jenis dan spesifikasi gambar di bawah ini.



83



Contoh Perhitungan Gording Data - data yang digunakan dalam contoh ini adalah data sembarang, hanya sebagai contoh untuk memahami filosopi bagaimana gording direncanakan sehingga memenuhi ketentuan perhitubgan struktur.



1) Diketahui: 



Bentang rangka atap



= 30 m



84







Jarak kuda – kuda ( λ )



=3m







Berat atap genteng biasa



= ±24 Kg/m







Jarak gording



= 5,303 m







Beban angin ( W )



= 70 Kg/m2







Beban Berguna ( P )



= 70 Kg



2) Mencari Dimensi Gording Perhitungan dengan sistem coba-coba yang mendekati ke perhitungan, dikarenakan data karaktersitik baja profil, telah di dapat dari daftar baja yang tersedia. Dicoba gording INP.30, Data Profil F = 69,1 Cm2; G = 54,2 Kg/m; Ix = 9800 Cm4; Iy = 451 Cm4; Wx = 653 Cm3, dan Wy = 72,2 Cm3



Gambar 12-23 : Perencanaan Gording baja Perhitungan Pembebanan Gording a) Beban Mati ; 



Berat sendiri gording = 1 × 54,2 = 54,2 Kg/m







Berat penutup atap = ( a × berat sendiri atap × 1 ) = 5,303 × 24 × 1 = 127,272 Kg/m







q1 = 54,2 + 127,272 = 181,472 Kg/m



85







Brancing 10 % . q1 = 10 % . 181,472







q2 = 18,147 Kg/m







q total = q1 + q2 = 181,472 + 18,147 = 199,619 Kg/m



b) Beban Berguna ( P ) = 70 Kg c) Beban Angin: 



Angin tekan: c = 0,02 α – 0,4 = 0,02. 45 – 0,4 = 0,5







Angin Isap = c’ = - 0,4







Beban angin tekan W = c × w × a × 1 = 0,5 × 70 × 5,303 × 1 = 185,605 Kg/m







Beban angin isap W’ = c ‘ × w × a × 1 = -0,4 × 70 × 5,303 × 1 = -148,484 Kg/m



Perhitungan Momen Gording Rumus-rumus:  qy = q cos α  qx = q sin α  Mqy = 1/8 . qy .λ2  Mqx = 1/8 . qx . λ2  Py = P cos α  Px = P sin α  MPy = 14 . Py .λ  MPx = 14 . Px .λ



Perhitugan Beban Mati: qy = q cos α = 199,619 cos 45° = 141,152 Kg/m qx = q sin α = 199,619 sin 45° = 141,152 Kg/m Mqy = 1/8 . qy .λ2 = 18 . 141,152 . 32 = 158,796 Kg/m Mqx = 1/8 . qx . λ2 = 18 . 141,152 . 32 = 158,796 Kg/m Perhitungan Beban Berguna:



86



Py = P cos α = 70 cos 45° = 49,497 Kg Px = P sin α = 70 sin 45° = 49,497 Kg MPy = 14 . Py .λ = 14 . 49,497 . 3 = 37,123 Kg/m MPx = 14 . Px .λ= 14 . 49,497 . 3 = 37,123 Kg/m Perhitunga beban Angin:



Angin tekan Wy = W = 185,605 Kg/m  Wx = 0 , MWy = 18 . wy . λ2 = 18 . 185,605 . 32 = 208,806 Kg/m  MWx = 0 Angin isap Wy’ = W’ = -148,484 Kg/m Wx’ = 0 MWy’ = 18 . wy’ . λ2 = 18 .-148,484. 32 = - 167,045 Kg/m  MWx’ = 0 Kontrol Terhadap Tegangan Data : σ = 1600 Kg/cm2 Mx = 195,919 Kg.m = 19591,9 Kg.cm; My = 404,725 Kg.m = 40472,5 Kg.cm



87



Wx = 653 cm3  Wy = 72,2 cm3



19591,9653+40472,572,2 ≤ σ  590,564 Kg/cm2 ≤ 1600 Kg/cm2 Aman ! Kontrol Terhadap Lendutan Data : E = 2,1 x 106 Kg/cm2 qx = 141,152 Kg/m = 1,41152 Kg/cm2 g/m = 1,41152 Kg/cm2 Px = 49,497 Kg Py = 49,497 Kg Ix = 9800 cm4 Iy = 451 cm4 λ = 3 m = 300 cm Lendutan Arah Sumbu x δx = 5/384.𝑞�.𝜆⁴�.𝐼�+1/48.𝑃�.𝜆³�.𝐼� = 5384.1,41152.300⁴2,1�106.9800+148.49,497.300³2,1�106.9800 = 0,008605 cm Lendutan Arah Sumbu y δy = 5/384.𝑞�.𝜆⁴�.𝐼�+1/48.𝑃�.𝜆³�.𝐼� = 5384.1,41152.300⁴2,1�106.451+148.49,497.300³2,1�106.451 = 0,186583 cm δ = √𝛿�2+ 𝛿�2 = √0,0086052+ 0,1865832 = 0,18678 cm δ ≤ 1250 . λ



≤ 1250 . 300 0,18678 cm ≤ 1,2 cm



 Aman !



88



4. Konstruksi Kuda-Kuda Baja Ringan Penggunaan baja ringan juga efektif dan efisien dalam biaya. Salah satunya, kemudahan dalam pengangkutan atau transportasi, karena produk ini dikemas sedemikian rupa. Secara umum, sifat baja ringan adalah ringan, kuat dalam sistem terintegrasi, memiliki struktur fleksibel dan mampu menghadapi getaran, serta tidak menjalarkan api. Keuntungan-keuntungan ini sebenarnya sudah cukup meyakinkan masyarakat untuk menggunakannya. Baja ringan sebagai material pembuat rumah semakin popular, bahan yang terbukti lebih tahan terhadap goncangan gempa tersebut juga kian luas digunakan, tidak hanya untuk bangunan-bangunan darurat pasca bencana, namun juga untuk rumah-rumah mewah di kota besar. Banyaknya produk baja ringan yang beredar di pasaran tidak berarti memudahkan konsumen dalam menentukan pilihan yang tepat, dikarenakan masing-masing merk tentu saja mengaku sebagai produk unggulan yang paling baik diantara yang lainnya. Semakin banyaknya merk baja ringan yang beredar di pasaran membuat konsumen atau pemakai baja ringan di Indonesia menjadi bingung dalam menentukan pilihan. Dalam memilih rangka atap baja ringan yang berkualitas, perlu diperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut: Mutu Baja, karena ketebalan profil baja ringan sangat tipis (yang beredar di Indonesia berkisar 0,5 sampai 1 mm), bahan baja yang harus dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut High Tension Steel, umumnya (standar) G550, artinya Yield Strength maupun Tension Strength dari baja tersebut minimal 550 MPa. (”minimal” tidak sama dengan “rata-rata” dengan kata lain sewaktu diuji tarik di laboratorium, tension strength-nya tidak boleh kurang dari 550 MPa) Lapisan Anti Karat. Lapisan anti karat yang umumnya dipakai adalah lapisan Z (Zinc) yang sering disebut Galvanis atau lapisan AZ (Aluminum dan Zinc). Masing-masing lapisan punya kelebihan maupun kekurangan sendiri. Banyak orang salah mengerti bahwa bahan Aluminum Zinc lebih baik daripada Zinc (Galvanis), padahal yang menentukan adalah ketebalan lapisan yang dipakai, bukan jenisnya. Untuk mencapai taraf ketahanan yang relatif setara, ketebalan lapisan Zinc yang dipakai harus lebih tebal daripada Aluminum Zinc. Standar



89



umum untuk bahan struktural (menanggung beban), ketebalan lapisan Aluminum Zinc tidak boleh kurang dari 100 gram/m2 (AZ 100) sedangkan untuk lapisan Zinc (Galvanis) tidak kurang dari 200 gram/m2 (Z 200). Untuk masing-masing jenis penutup atap seperti genteng keramik, beton, metal, seng aluminium, onduline, fiberglass atau asbes, dan jenis penutup atap lain. Pemilihan jenis serta



ukuran atau dimensi, ketebalan serta



konstruksi rangka kuda-kuda atap baja ringan yang digunakan berbeda disesuaikan dengan berat material penutup atap.



Semakin berat material



penutup atap, semakin besar atau tebal dimensi yang dibutuhkan. Begitu pula sebaliknya, bila penutup atap ringan tentu kebutuhan dimensi baja ringan akan semakin keci. Ketelitian merancang dan mengaplikasikan penggunaan baja ringan, sangat diperlukan. Carilah dan temukan informasi dimensi Reng (roof batten) dan Kanal C (c channel) rangka yang akan dipasang. Semakin besar/tebal Reng dan Kanal C rangka, semakin besar pula beban yang dapat ditanggung oleh rangka, semakin kecil dimensi C channel, semakin minim pula kesanggupan rangka untuk menanggung total beban penutup atap.



Bentuk



profil baja ringan, mempunyai banyak bentuk, yang umum



digunakan adalah baja ringan berbentuk "Canal" atau "C", dan bentuk lain yang dikenal dan diproduksi pabrik seperti bentuk omega. Bentuk profi baja ringaan ini dapat dipergunakan sebagai penyusun konstruksi baja ringan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penampang profil ini juga sudah digunakan pada baja konvensional jauh sebelulm istilah baja ringan hadir yang hingga saat ini masih dipakai. Pada profil C kelebihan utamanya adalah pada saat digabungkan, dua profil C yang saling berhadapan disatukan menjadi "box" atau "kotak".



90



Gambar 12-24 : Profil Baja Ringan “C” dan “Box”



Gambar di atas menunjukkan profil baja ringan berpenampang C single,



dan gambar di sebelahnya menunjukkan gambar profil C yang digabungkan menjadi satu, sehingga membentuk box/kotak. Profil Canal "C" digunakan sebagai rangka utama pada konstruksi kuda-kuda baja ringan. Sementara untuk konstruksi pendukung seperti reng sebagai tempat kedudukan penutup atap/genteng digunakanlah profil "Omega". Dimensi ukuran, seperti tebal baja ringan yang lazim digunakan pada konstruksi baja ringan ini umumnya memiliki ketebalan 0.75mm hingga 1.00 mm pada batang utama kuda-kuda konstruksi. Sedang pada batten/reng ketebalan yang digunakan mulai 0.40 hingga 0.60mm. Sementara untuk ukuran tinggi profil juga bervariasi mulai dari 70mm hingga 100mm, dan pada batten/reng tinggi mulai 31mm hingga 60mm. Variasi ukuran ini ditujukan menyesuaikan dengan kebutuhan lebar bentang



rangka



yang



berhubungan



dengan



beban/kekuatan



yang



disokongnya.



Profil Omega



91



Gambar 12-25 : Profil Omega dan Canal Beberapa keuntungan menggunakan rangka atap baja ringan, antara lain yaitu; 1) Biaya lebih murah; Karena bobot konstruksi atap baja ringan yang ringan maka dibandingkan kayu, beban yang harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah. 2) Tahan Karat 3) Rangka atap Baja ringan bersifat tidak merembeskan api ( noncombustible) 4) Konsumen tidak perlu kuatir Rangka atap baja ringan dimakan rayap. 5) Pemasangan Rangka atap baja ringan relatif sangat cepat apabila dibandingkan rangka kayu. 6) Desain atap baja ringan fleksibel mengikuti desain atap yang ada 7) Rangka atap baja ringan bebas biaya pemeliharaan 8) Lebih presisi sebab standar bentuk sama sehingga atap baja ringan lebih rata 9) Hasil terpasang atap baja ringan lebih rata atau flat jadi pemasangan genteng lebih rapi dan lebih bagus



92



4.1 Bagian Konstruksi Kuda-kuda Baja Ringan



Gambar 12-26 : Rangka Kuda-kuda Baja Ringan Bagian-bagian Konstruksi Kuda-kuda 



Bearing/ Support point: Titik simpul pada suatu kuda-kuda yang difungsikan sebagai tumpuan/perletakan kuda-kuda. Tumpuan kuda-kuda minimal berjumlah dua buah, dan dipilih dari panel point yang berada di atas struktur penopang kuda-kuda (kolom atau ringbalk).







Pitch: Sudut kemiringan atap (dalam derajat).







Overhang: : Perpanjangan dari batang utama atas, yang melewati posisi tumpuan rangka atap.







Clear span: : Jarak horisontal antara dua sisi dalam pada tumpuan kudakuda







Apex: : Titik simpul yang berada di puncak kuda-kuda (truss).







Heel joint: : Titik simpul yang merupakan pertemuan antara batang utama atas dan bawah







Panel point Titik simpul yang merupakan pertemuan beberapa elemen batang pada suatu struktur kuda-kuda.







Span: Jarak horisontal antara as/sumbu ke as/sumbu tumpuan kuda-kuda.







Top chords: : : Batang-batang utama yang terletak di bagian atas dari kuda-kuda



93







Bottom chords: Batang-batang utama yang terletak di bagian bawah dari kuda-kuda







Webb: Batang-batang yang terletak di bagian dalam dari kuda-kuda



. Detail Hubungan Sudut Kemiringan Atap (Pitch)



Gambar 12-27 : Hubungan Sudut Baja Ringan



94



GLOSSARY Alur, Lubang yang memanjang pada sisi papan Alur kapur, bagian dari tiang (style) yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadi penyusutan, tidak timbul celah. Angkur, dipasang pada tiang (style), berfungsi untuk memperkuat melekatnya pada tembok juga menahan gerakan ke samping.dan ke muka/ke belakang. Balok, Kayu berbentuk batangan dengan penampang persegi dan tebal / lebar lebih dari 4 cm. Balok Induk; adalah semua balok yang melintang tanpa topang pada seluruh lebar bangunan dan pada kedua ujungnya bertumpu pada kolom. Konstruksi agar aman dibuat pada bentang terpendek Balok Anak; adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok induk, digunakan untuk memperkecil petak-petak lantai disetiap ruangan. Balok Bagi, adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok anak atau balok induk atau pada salah satunya bertumpu pada balok anak atau balok induk, dapat berfungsi sebagai untuk memperkecil petak-petak lantai. D adalah diameter paku atau baut Duk (neut), dipasang pada tiang (style) di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu, berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah dan melindung tiang kayu terhadap resapan air dari latai ke atas. Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap, umumnya kudakuda terbuat dari kayu, bambu, baja, dan beton bertulang Papan, Kayu berbentuk lembaran dengan tebal kurang dari 4 cm. PKKI, adalah singkatan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia Lidah, Pen pada sambungan papan melebar Sambungan, Adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua atau lebih batang kayu untuk memenuhi kebutuhan panjang, lebar atau tinggi tertentu dengan bentuk konstruksi yang sesuai dengan gaya-gaya yang akan bekerja pada batang kayu tersebut sesuai penggunaan konstruksi kayu tersebut.



A. Sambungan Kayu



95



Kayu adalah bahan kontruksi yang banyak dipakai di dalam pembangunan rumah dan gedung, kayu banyak dipilih karena kayu mempunyai bentuk dan warna alami yang lembut dan artistik.Sebagai bahan pelengkap bangunan, kayu banyak digunakan untuk komponen rangka atap, kuda-kuda, rangka plafon, loteng, pintu dan jendela. Kayu banyak dipakai dalam pembuatan perabotan rumah tangga. Pada pembangunan rumah atau gedung, kayu sering kali memerlukan sambungan perpanjang untuk memperpanjang kayu atau sambungan buhul untuk menggabungkan beberapa batang kayu pada satu buhul/joint. Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang disambung sehingga menjadi satu batang kayu panjang atau mendatar maupun tegak lurus dalam satu bidang datar atau bidang dua dimensi. Sedangkan yang disebut dengan hubungan kayu yaitu dua batang kayu atau lebih yang dihubung-hubungkan menjadi satu benda atau satu bagian konstruksi dalam satu bidang (dua dimensi) maupun dalam satu ruang berdimensi tiga. Sambungan kayu dibagi dalam 3 kelompok yaaitu; a). Sambungan kayu arah memanjang, b). Hubungan kayu yang arah seratnya berlainan (menyudut), c). Sambungan kayu arah melebar (sambungan papan). Sambungan memanjang digunakan untuk menyambung balok tembok, gording dan sebagainya. Hubungan kayu banyak digunakan pada hubungan-hubungan pintu, jendela, kuda-kuda dan sebagainya. Sedangkan sambungan melebar digunakan untuk bibir lantai,dinding atau atap. Jenis sambungan memanjang terdiri dari; 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)



Sambungan mendatar dan tegak lurus. Sambungan bibir lurus Sambungan bibir lurus berkait Sambungan bibir miring Sambungan bibir miring berkait Sambungan memanjang balok kunci Sambungan memanjang kunci jepit Sambungan tegak lurus.



Sambungan Bibir Lurus, sambungan ini digunakan bila seluruh batang dipikul, misalnya balok tembok. Pada sambungan ini kayunya banyak diperlemah karena masing-masing bagian ditakik separuh kayu.



96



Beberapa



pedoman



atau



ketentuan



yang



perlu



diperhatikan



dalam



sambungan kayu, antara lain adalah; 1) Sambungan harus sederhana dan kuat, harus dihindari takikan besar dan dalam, karena dapat mengakibatkan kelemahan kayu dan diperlukan batang-batang kayu berukuran besar, sehingga dapat merupakan pemborosan. 2) Harus memperhatikan sifat-sifat kayu, terutama sifat menyusut, mengembang dan tarikan. 3) Bentuk sambungan dari hubungan konstruksi kayu harus tahan terhadap gaya-gaya yang bekerja. Ditinjau dari sudut konstruksi, sambungan merupakan bagian terlemah dari suatu konstruksi kayu. Kegagalan konstruksi kayu sering desebabkan oleh gagalnya sambungan dari pada kegagalan material kayu itu sendiri. Beberapa hal yang menyebabkan rendanya kekuatan sambungan pada konstruksi kayu, disebabkan oleh : 1) Terjadinya pengurangan luas tampang. Pemasangan alat sambung seperti baut, pasak dan hubungan gigi akan mengurangi luas efektif penbampang kayu yang disambung, sehingga kuat dukung batangnya akan



lebih



rendah



bila



dibandingkan



dengan



batang



yang



berpenampang utuh. T 2) Terjadinya penyimpangan arah serat. Pada buhul sering kali terjadi gaya yang sejajar serat pada satu batang, tetapi tidak sejajr serat dengan batang yang lain. Karena kekuatan kayu yang tidak sejajar serat lebih kecil dari pada yang sejajar serat, maka kekuatan sambungan harus didasarkan pada kekuatan kayu yang tidak sejajar serat (kekuatan yang terkecil). 3) Terbatasnya luas sambungan. Kayu memiliki kuat geser sejajar serat yang kecil, sehingga mudah patah apabila beberapa alat sambung dipasang berdekatan. Oleh karena itu, dalam penempatan alat sambung disyaratkan jarak minimal antara alat sambung agar kayu terhindar dari kemungkinan pecah. Dengan adanya ketentuan jarak tersebut, maka luas efektif sambungan (luas yang dapat digunakan untuk penempatan alat sambung) akan berkurang dengan sendirinya. 1. Alat-Alat Penyambung Kayu



97



Pada umumnya dalam penyambungan kayu diperlukan alat-alat penyambung. Untuk memperoleh penyambungan yang kuat diperlukan alat-alat sambung yang baik dengan cirri-ciri sebagai berikut : 1) Mudah dalam pemasangannya, 2) pengurangan luas kayu yang digunakan untuk menempatkan alat sambung relative kecil atau bahkan nol, 3) Memilki nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat ultimit batang yang disambung yang tinggi, 4) Menunjukkan perilkau pelelehan sebelum mencapai keruntuhan (daktail),



serta



memiliki



angka



penyebaran



panas



(thermal



conductivity) yang rendah. 1.1 Sambungan dengan paku Alat sambungan paku sering dijumpai pada struktur dinding, lantai, danrangka. Paku tersedia dalam bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Pakubulat merupakan jenis paku yang mudah diperoleh meskipun kuat dukungnyarelatif lebih rendah bila dibandingkan dengan paku yang berulir (deform).Umumnya diameter paku berkisar antara 2,75 mm sampai 8 mm dan panjangnyaantara 40 mm sampai 200 mm. Angka kelangsingan paku (nilai banding antarapanjang terhadap diameter) sangat tinggi menyebabkan mudahnya paku untukmembengkok saat dipukul.



Gambar 13-1 :Jenis-jenis paku Agar terhindar dari pecahnya kayu, pemasangan paku dapat didahuluidengan membuat lubang penuntun yang berdiameter 0,9D untuk kayu denganberat jenis diatas 0,6 dan berdiameter 0,75D untuk kayu dengan berat jenisdibawah atau sama dengan 0,6 (D adalah diameter paku). Pemasangan paku



98



dapatdilakukan secara cepat dengan menggunakan mesin penekan (nail fasteningequipment). Dibandingkan dengan sambungan baut maka sambungan dengan paku : 1) Mempunyai efesiensi yang lebih besar 2) Memberi pelemahan yang lebih kecil yaitu kira-kira 10%, yang sering kali diabaikan saja. 3) Kekuatan tidak tergantung arah serat, dan pengaruh cacat-cacat kayu juga kurang adalah lebih kaku beban-beban pada penampang lebih merata untuk kayu yang tidak terlalu keras dan bila kayu yang harus



disambungtidak terlalu tebal, maka tidak perlu dibor, sehingga



dapat



dikerjakan oleh setengah tukang.



Gambar 13-2: Model Sambungan Paku



99



Banyak teori dan hasil pengujian mengenai sambungan paku, teori umum dapat didasarkan atas lenturan seperti balok yang dipengaruhi daya penahan terhadap lentur dan kokoh desak kayu, dan tarikan dalam paku. Dalam PKKI syarat-syarat serta cara-cara perhitungan dan perencanaan telah ditetapkan untuk sambungan paku biasa. Untuk sambungan-sambungan paku istimewa, seperti dengan penggunaan pelat buhul dari plywood, cara perhitungan ini tidak dapat dipakai dan perlu diperhatikan penyelidikan-penyelidikan baru yang telah menghasilkan rumus-rumus dengan mengabaikan pengauh tarikan dalam paku dan menganggap beban-beban ideal plastis. Beberapa ketentuan dan syarat sambungan paku menurut PKKI adalah sebagai berikut; 1) Paku yang dipergunakan dapat mempunyai tampang melintang yang berbentuk bulat persegi atau beralur lurus. 2) Kekuatan paku bertampang bulat diberikan dalam



daftar V PKKI



berlaku untuk tebal kayu seperti tertera dalam daftar, kekuatan paku tersebut tidak tergantung dari besar sudut yaitu sudut antara arah gaya dan arah serat kayu.



1.2 Sambungan dengan baut Alat



sambung baut



umumnya terbuat dari baja lunak (mild steel)



dengankepala berbentuk hexagonal, square, dome atau flat. Diameter baut berkisar antara 12 mm sampai 30 mm. Untuk kemudahanmemasang, lubang baut diberi kelonggaran 1 mm. Alat sambung baut iasanyadigunakan pada sambungan dua irisan, dengan tebal minimum kayu samping 30mm dan kayu tengah 40 mm dan dilengkapi dengan cincin penutup. Baut sebagai alat penyambung yang dibebani banyak dipakai meskipun sebetulnya tidak begitu baik karenaEfisiensi rendah dan Deformasi besar. Ketentuan dan Syarat-syarat penyambung, di Indonesia telah ditetapkan dalam PPKI Pasal 14 sebagai berikut : 1) Alat penyambung baut harus dibuat dari baja St. 37 atau dari besi yang mempunyai kekuatan paling sedikit seperti St. 37.



100



2) Lubangbaut



harus dibuat secukupnya saja dan kelonggaran tidak



boleh lebih dari 1,5 mm. 3) Garis tengah baut paling kecil harus 10 mm (3/8”), sedangkan untuk sambungan, baik bertampang satu maupun bertampang dua, dengaan tebal kayu lebih besar dari 8 cm, harus dipakai baut dengan garis tengah paling kecil 12,7 mm (1/2”). 4) Baut harus disertai pelar ikutan yang tebalnya minimum 0,3 d dan maksimum 5 mm dengan garis tengah 3 d, atau jika mempunyai bentuk persegi empat, lebarnya 3 d, di mana d = garis tengah baut. Jika



bautnya hanya sebagai pelengkap, maka tebal pelat ikutan



dapat diambil minimum 0,2 d dan maksimum 4 mm. 5) Sambungan dengan baut dibagi dalam 3 golongan menurut kekuatan kayu, yaitu golongan-golongan I, II dan III



Gambar 13-3 : Alat Sambung Baut



1.3 Sambungan Dengan Perekat Bila dibandingkan dengan alat sambung yang lain, perekat/lem termasuk alat sambung yang bersifat getas, bagian-bagian kayu keruntuhan sambungan dengan alat sambung perekat/lem terjadi tanpa adanya peristiwa pelelehan



101



Alat sambung perekat/lem umumnya digunakan pada struktur balok susun, atau produk kayu laminasi (glue laminated timber). Sambunagn dengan perekat/lem berlainan dengan sambungan paku, baut dan pasak. Bagianbagian kayu tidak disambung pada titik-titik, melainkan pada bidang-bidang, sehingga mempunyai kekakuan yang jauh lebih tinggi. Kekakuan tersebut merugikan dalam sambungan rangka batang, karena timbulnya tegangantegangan



sekunder



yang



besar.



Akan



tetapi



untuk



balok-balok



tersusun,sambungan dengan perekat lebih menguntungkan. Jenis perekat (lem) untuk kayu ditinjau dari bahan pembuatanya antara lain, adalah; 1) Bahan perekat yang berasal dari hewani, seperti Albumen, Casein, Shellac, Lilin lebah dan Kak (Animal Glue). 2) Bahan perekat yang berasal dari tumbuhan adalah Damar Alam, Arabic Gum, Protein, Starch, Dextrin, dan Karet Alam. Beberapa bahan perekat yang



berasal



dari



mineral



adalah



Silicate,



Magnesia,



Litharge,



Bitemen,dan Asphalt. 3) Bahan pereket sintetis berasal dari Elastomer, Thermoplastic, dan Thermosetting. Beberapa bahan perekat yang berasal dari Elastomer adalah Poly Chloropene, Poly Urethane, Silicon Rubber, Polisoprene, Poly Sulphide, dan Butyl Rubber. Beberapa bahan perekat yang berasal dari Thermoplastic adalah Ethyl Cellulose, Poly Vinyl Acetate, Poly Vinyl Aalcohol, Poly Vinyl Chloride, Poly Acrylate, dan Hotmelt. Beberapa bahan perekat yang berasal dari Thermosetting adalah Urea Formaldehyde, Epoxy Polyamide, dan Phenol Formaldehyde Berikut adalah penjelasan mengenai jenis lem sebagai bahan perekat kayu yang banyak di kenal di pasaran. Casein; Casein adalah zat protein yang terdapat dalam susu hewan (sapi) sebagai hasil samping dari perusahaan keju. Larutan casein dalam bentuk pasta banyak digunakan pada penempelan label kertas ke botol gelas. Keistimewaan dari lem casein ini ialah hasil penempelannya bersifat tahan terhadap kelembaban dan juga tehan terhadap air, sehingga jika botol terendam didalam air kertas lem tidak akan lepas artinya lem casein ini tahan terhadap air.



102



Starch dan Dextrin; Starch atau kanji adalah hasil dari tumbuhan, contoh yang kita jumpai ialah terbuat dari tepung tapioka. Bahan ini sudah dikenal sejak dahulu sebagai bahan lem, ialah dengan cara memasaknya dengan air. Dextrin adalah hasil modifokasi secara kimia dari kanji. Kedua bahan ini digunakan pada pembuatan kantong kertas, kotak-kotak karton, dan lain-lain. Poly Vinyl Acetate; Poly vinyl acetate atau disingkat PVAc adalah suatu resin (polymer) dari hasil polimerisasi di mana sebagai bahan monomernya adalah vinyl acetate. Lem jenis ini banyak di gunakan untuk keperluan indoor furniture atau mebel untuk keperluan dalam ruangan, Untuk pemakaian luar ruangan produk lem putih PVAc juga sangat bagus setelah mendapat penambahan hardener yang membuatnya semakin kuat tanpa retak. Lem ini bisa di gunakan untuk semua material yang mempunyai permukaan berpori. Sifat dasarnya elastis dan bisa menyesuaikan terhadap perubahan cuaca (Weather Reactance). Keistimewaan produk ini adalah tidak memiliki glue line yang terlihat karena saat lem ini mengering dia berwarna bening, Lem ini juga elastis sehingga permukaan sambungan yang bergerak atau mengalami penyusutan minor tidak pecah, kelemahannya waktu pengeringan yang relatif lama. Urea Formaldehide;



Urea Formaldehyde lebih banyak dipakai dibanding



yang lainnya. Urea Formaldehyde banyak dipakai pada pembuatan plywood. Pada pemakaiannya kadang-kadang dicampur dengan tepung terigu untuk menjadikan hasil perekatan fleksibel. Resin dicampur dengan hardener di dalam air kemudian ditambahkan tepung terigu sebagai pengisi dan kemudian zat katalis. Adukan ini disebarkan ke permukaan lapisan kayu dengan rol spreader. Lapisan-lapisan kayu tipis (vinir) yang telah dispread dengan lem urea ini kemudian disusun lapis tiga (triplek) dan dipres dengan dipanaskan dengan steam selama 4 sampai 7 menit, dengan temperature atau suhu dari steam antara 125 derajat hingga 140 derajat Celcius Lem Epoxy; Jenis Lem Perkat Kayu ini adalah yang paling banyak di gunakan, perekat ini terdiri dari 2 komponen utama yaitu Resin dan Hardener. Sifatnya mengisi permukaan / komponen yang di sambung. memiliki tekstur



103



yang keras dan sangat kuat tahan air dan bahan kimia serta tahan temperatur yang relatif tinggi. Pengeringan campuran lem ini bisa mencapai 100 menit sebelum kemudian mengeras sempurna dan tidak dapat di gunakan lagi, Jika kita terlalu banyak membuat campuran maka akan sanngat tidak ekonomis. Kekurangan dari bahan lem perekat kayu epoxy adalah memiliki "glue line" atau bekas lem yang cukup terlihat dan juga sifat kerasnya yang justru menjadi bumerang karena jika permukaan komponen yang di sambung bergerak sedikit saja maka lem akan pecah (retak). untuk aplikasi luar ruangan (Outdoor Furniture ) mungkin kurang cocok jika menggunakan bahan perekat ini. Lem Busa (Polyurethane); Disebut lem busa karena saat sudah kering lem ini berbentuk busa atau foam. Lem ini berbahan dasar synthetic Polyurethane yang kuat dan tahan terhadap cuaca. Banyak di gunakan sebagai perekat sambungan Finger Joint dan butt joint, sifanya yang weather reactance dan mengisi rongga yang kosong pada sambungan. Kekurangannya adalah kekuatan yang kurang untuk aplikasi pada struktur konstruksi. Lem Super (cyanocrylate adhesive); lem ini sebagai lem berbentuk cairan bening dengan glue line menyesuaikan residu bahan yang direkatkannya. Lem ini hanya diaplikasikan pada finishing produk mebel yang memerlukan perbaikan dengan hanya sedikit waktu tersedia. Lem ini bisa mengering dalam waktu beberapa detik saja.



104



Gambar 13-4 : Sambungan Kayu Dengan Perekat 2.



Sambungan Kayu Memanjang



Perhatikan bagian-bagian bangunan di sekitarmu, kamu sudah mengenal komponen, seperti



kuda-kuda, lantai, pintu, tiang, dan seterusnya yang



terbuat dari kayu. Perhatikan juga apakah kayu-kayu yang terpasang tersebut tidak semuanya utuh ?, tentu ada bagian–bagian yang disambung. Dibandingkan dengan bahan bangunan yang lain, kayu mempunyai sifat yang khas yaitu kekuatannya besar, kenyal, ulet, keras, dan mudah dikerjakan. Selain itu kayu mudah terbakar, tidak tahan lembab, mudah lapuk, dan dapat berubah bentuknya. Pemakaian kayu sebagai bahan bangunan didasarkan pada tingkat keawetan dan kekuatannya. Karena kayu merupakan bahan bangunan alam, maka dari pohonnya kayu dapat dibentuk berbagai macam ukuran yang berupa balok, dan papan. Di perdagangan ukuran kayu umumnya sudah tertentu antara lain : (ukuran dalam satuan cm)     



6/12 ; 6/10 ; 8/12 ; 10/10 ; 15/15, disebut balok 2/15 ; 2/20 ; 3/25 ; 3/30 ; 4/40, disebut papan 4/6 ; 5/7 , disebut usuk atau kaso 2/3 ; 3/4 , disebut reng 1/3 ; 1/4 ; 1/6, disebut plat



Keterbatasan panjang kayu yang ada diperdagangan, maka untuk suatu konstruksi kayu yang panjang diperlukan



adanya sambungan kayu.



Pengertian sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang saling disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu batang kayu yang panjang. Pengertian hubungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang saling dihubungkan satu sama lain pada satu titik tertentu sehingga menjadi satu bagian konstruksi. Perlu diperhatikan syarat-syarat hubungan kayu, antara lain : dibuat sesederhana mungkin tapi kokoh, hindari menakik kayu yang dalam, perhatikan penempatan sambungan, harus tahan terhadap gaya yang bekerja padanya, konstruksi sambungan dibuat yang pas, jangan menggunakan kayu yang cacat. Pada prinsipnya sambungan kayu dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu ; 1) Sambungan kayu ke arah memanjang, 2) Sambungan kayu ke arah melebar, dan 3) Sambungan kayu ke arah menyudut.Selain tiga macam sambungan kayu tersebut di atas, masih ada



105



lagi dua sambungan lain yaitu sambungan bersusun dan sambungan dengan pengunci. Sambungan kayu ke arah memanjang ada dua macam yaitu memanjang ke arah mendatar (misalnya sambungan bibir lurus, sambungan bibir lurus berkait, sambungan bibir miring, sambungan bibir miring berkait), dan ke arah tegak (misalnya sambungan takikan lurus, sambungan mulut ikan, sambungan takikan lurus rangkap, sambungan purus lurus).



Sambungan Bibir Lurus



106



Sambungan Bibir Lurus Berkait



107



Sambungan Bibir Miring



108



Sambungan Takikan



109



Sambungan Takikan Lurus



110



3. Sambungan Kayu Melebar



111



Sambungan kayu melebar ada dua macam yaitu melebar kearah horizontal (kebanyakan digunakan konstruksi lantai) dan melebar ke arah vertikal (yang sebagian besar digunakan pada konstruksi dinding). Materi kegiatan belajar 2 meliputi menggambar beberapa macam sambungan kayu melebar yaitu :Sambungan lidah dan alur, Sambungan lidah lepas dan alur, Sambungan lidah bersponing dan alur, Sambungan lidah miring dan Sambungan papan melebar ke arah tegak. Teknik penyambungan arah melebar bermacam-macam ada dengan perekat, paku, alur dan lidah dengan profil. Dengan paku sambungan akan lebih rapat walaupun terjadi susut pada papan tersebut. Bila dengan sambungan bentuk lain khawatir ada penyusutan sehingga dinding akan kelihatan jelek, maka dibuat lat atau profil untuk mengelabui, di samping untuk factor keindahan dalam pemasangan. Untuk papan-papan yang akan dipergunakan sebagai lantai atau dinding bangunan, disambung terlebih dahulu agar lantai maupun dinding kayu dapat rapat dan kelihatan bersih. Akan tetapi sebelum membuat sambungan hendaknya perlu diperhatikan dahulu sisi mana yang akan disambung.



Gambar 13-5: Macam-macam Bentuk Sambungan Kayu Melebar



Sambungan Lidah Alur



112



113



Sambungan Lidah Miring



114



115



116



4.



Sambungan Kayu Menyudut



Perhatikan dan pahami,Sambungan kayu menyudut pada garis besarnya ada dua macam yaitu pertama yangmembentuk sudut siku dan kedua yang membentuk sudut miring. Bentuksambungan kayu menyudut ada tiga macam yaitu sambungan sudut,sambungan pertemuan, dan sambungan persilangan. Materi kegiatanbelajar 3 meliputi menggambar beberapa macam sambungan kayumenyudut yaitu : 



Sambungan







terbuka,sambungan purus dan lubang dengan spatpen purus alur. Sambungan takikan lurus ekor burung, sambungan purus danlubang



takikan



lurus,



sambungan



purus



dan



lubang



terbuka, sambungan purus dan lubang tertutup,sambungan purus dan lubang dengan gigi tegak, sambunganpurus dan lubang dengan gigi garis bagi, sambungan takikan lurusekor burung, sambungan Raveling 



ekor burung. Sambungan voor loef.



117



118



119



120



121



122



123



124



Gambar 13-6 : Sambungan Kayu Voor Loef



125



B. Pekerjaan Kusen Kayu Setelah kita mempunyai perencanaan membangun, seperti bangunan rumah tinggal, ruko, kantor dan lain sebagainya, selanjutnya adalah mempersiapkan bahan material bangunan dan salah satunya adalah kusen. Bahan untuk kusen sebuah rumah sekarang sudah bervariasi bukan hanya menggunakan kayu saja tetapi ada yang terbuat dari logam, aluminium, bahkan bahan lain seperti plastik, ini dapat kita lihat pada kusen dan pintu kamar mandi yang dijual di toko, begitu prkatis,kusen dan pintu plastik siap untuk di pasang. Walau begitu, bahan kayu msaih banyak dimintai, karena tekstur yang unik, alami dan dapat di finishing sesuai keinginan yang beragam, Dalam memilih kayu sebagai bahan kusen maupun bahan jendela atau pintu, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu kusen-kusen yang akan kita buat, seperti: 



Kusen Pintu jenisnya dibedakan dari segi ukurannya yaitu, ada pintu utama atau ruang tamu, pintu kamar tidur, pintu kamar mandi dan pintu garasi disesuaikan dengan desain rumah yang ada.







Kusen Jendela, dibedakan dari segi ukurannya yaitu, Jendela ruang tamu, jendela kamar tidur, jendela dapur.







Kusen Fentilasi, biasanya untuk ruang tamu, kamar tidur sama, hanya kamar mandi dan dapur saja yang berbeda.







Bahan daun pintu dan daun jendela.







Bahan furnitur atau meubelir lain



Banyak jenis kayu yang akan dibuat jadi kusen, yang banyak dikenal adalah jenis kayu Kalimantan. Jenis kayu dari pulau kalimantan biasa dipakai dalam pembuatan meubel atau furniture juga kusen, pintu, jendela dan lain sebagainya, dan masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangannya, berikut jenis-kayu kalimantan yang banyak dikenal, yaitu; 1) Kamfer samarinda; Jenis kayu yang ini sangat cocok untuk bahan daun pintu minimalis, karena kayu ini biasanya dapat dikeringkan dengan oven.



126



2) Bengkirai; Kayu bengkirai merupakan salah satu jenis kayu yang berkualitas bagus, kayu bengkirai mudah diproses seperti diserut, dipotong, diukirdan lain lainl. Oleh sebab itu, banyak orang yang memasukkan kayu bengkirai ini ke dalam golongan jenis-jenis kayu pertukangan.Dan dalam prakteknya, saat ini banyak sekali orangorang yang menggunakankayu bangkirai ini untuk memproduksi beraneka macam produk dari kayu. Kayu bengkirai identik dengan kayu kuat, karena kayu jenis ini biasanya berbobot lebih berat dan keras, namun kayu ini rentan tehadap cuca panas yang biasanya menyebabkan retak pada permukaan kayu. 3) Kruing; Jenis kayu ini biasanya berwarna coklat memiliki serat yang lurus dan biasanya berminyak, dalam keadaan kering kayu ini mirip seperti kamfer. 4) Meranti; Kayu meranti ada yang berwarna putih, dan coklat berserat lurus, dan berbobot ringan. 5) Kayu Jati; kayu jati yang paling dikenal orang adalah karena keawetannya dan daya tahannya terhadap perubahan cuaca dibandingkan dengan jenis kayu lain, selain itu karakter serat dan warnanya memiliki ciri khas tersendiri, kayu jati dari pulau Jawa khusunya 6) 7) 8) 9)



Jawa



imur



seperti



Jepara,



terkenal



sampai



ke



mancanegara. Mahoni. Durian Nangka Dan lain sebagainya.



Beberapa jenis ukuran kusen kayu untuk pintu dan jendela yang umum dikenal di pasaran, antara lain yaitu; 1) 2) 3) 1)



Ukuran: 5/10 5/12 5/14 5/15 cm Ukuran: 6/10 6/12 6/14 6/15 cm Ukuran: 7/12 cm Pada pintu rangkap dengan dua daun: 8/10 8/12 8/14 8/15 cm



Beberapa jenis kusen kayu untuk pintu dan jendela yang umum dikenal di pasaran, antara lain yaitu; 1) 2) 3) 4)



Kusen gundul ( satu lubang) Kusen Jalusi (jalusi peregi atau bulat) Kusen gendong (dua lobang/ 3-lobang) Daun pintu panel



127



5) Daun pintu minimalis Contoh Kusen Pintu dan Jendela Yang ada di jual di pasaran



Gambar 13-7 : Model Pintu dan Jendela Dalam ilmu konstruksi, khusunya konstruksi kayu, dikenal bagian-bagian Kusen kayu , yaitu; 1) Tiang (style). 2) Ambang (dorpel)



pada



kusen



jendela



terdapat



ambang



atas



danambang bawah sedangkan pada pintu tidak ada ambang bawah. 3) Sponneng, yaitu tempat perletakan/melekatnya daun pintu atau daun jendela.



128



4) Telinga, yaitu bagian ambang (dorpel) yang masuk/ditanam kedalam tembok yang berfungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang. 5) Alur kapur, bagian dari tiang (style) yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadi penyusutan, tidak timbul celah. 6) Angkur, dipasang pada tiang (style), berfungsi untuk memperkuat melekatnya pada tembok juga menahan gerakan ke samping.dan ke muka/ke belakang. 7) Duk (neut), dipasang pada tiang (style) di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu, berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah dan melindung tiang kayu terhadap resapan air dari latai ke atas.



Gambar 13-8: Bagian-bagian Kusen Pintu kayu Gambar Kusen Pintu Tunggal (Gundul)



129



Kusen Pintu Gendong



130



Kusen Pintu Gendong Jalusi Melingkar



131



Kusen Jendela



132



Kusen Jendela Km/Wc



133



Beberapa Model Pintu dan Jendela yang banyak di jual di pasaran, berbagai macam, ada yang belum di finshing dan ada yang telah di finishing dengan berbagai corak dan warna.



134



Gambar 13-9: Model Pintu di Jual di Pasaran



135



1. Teknik Pemasangan Kusen Pintu Cara pemasangan kusen pintu adalah sebagai berikut; 1) Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau. 2) Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank untuk menentukan kedudukan kusen. 3) Pasang angker pada kusen secukupnya. 4) Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu yaitu 2 meter dari tinggi bouwplank. 5) Setel kedudukan kusen pintu sehingga berdiri tegak dengan menggunakan unting-unting. 6) Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh. 7) Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan menjadi kokoh. 8) Cek kembali kedudukan kusen pintu, apakah sudah sesuai pada tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen. 9) Bersihkan tempat sekelilingnya.



136



Gambar 13-10: Pemasangan Kusen Kayu



137



Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas! 1. Sebutkan bagian-bagian dari kusen pintu dan jendela .! 2. Sebutkan macam-macam jenis kusen! 3. Apa keguanaan sponing pada kusen kayu! 4. Apa kegunaan dari umpak (neut) pada kusen pintu



Pemasangan Kusen Jendela, Berikut beberapa langkah kerja atau pedoman pemasangan kusen pintu kayu, adalah sebagai berikut; 1) Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau. 2) Rentangkan benang selebar setengah ukuran batu bata dari as 3) 4) 5) 6)



bouwplank. Pasang bata setengah batu setinggi dasar kusen jendela . Rentangkan benang setinggi 2 meter dari bouwplank. Pasang kusen jendela setinggi benang tersebut. Pasang kusen jendela sampai betul-betul tegak dengan pertolongan



unting-unting. 7) Pasang skur agar kedudukannya stabil dan kuat. 8) Cek kembali posisi kusen jendela sampai terpasang pada keadaan yang benar. 9) Bersihkan tempat sekelilingnya.



138



Gambar 13-11: Pemasangan Kusen Jendela pada Konstruksi Dinding



Ambang atas



Ambang tengah



Tiang



Ambang bawah



BAGIAN-BAGIAN KUSEN PINTU DAN JENDELA



139



Rangkuman Rangkuman Fungsi Fungsi kusen kusen Pintu Pintu dan dan jendela jendela sebagai sebagai alat alat sirkulasi sirkulasi udara udara maupun maupun cahaya cahaya dari dari suatu suatu bangunan. bangunan. Bagian-bagian Bagian-bagian yang yang penting penting dari dari kusen kusen jendela: jendela: Tiang Tiang Ambang Ambang atas atas Ambang Ambang bawah bawah Ambang Ambang tengah tengah Kupingan/Kuping, Kupingan/Kuping, fungsinya fungsinya untuk untuk dapat dapat dibuat dibuat hubungan hubungan pen pen yang yang baik baik hanya hanya dibuat dibuat jika jika kusen kusen dipasang dipasang pada pada tembok, tembok, Jika Jika dipasang/menempel dipasang/menempel pada pada kolom, kolom, kuping kuping ditiadakan ditiadakan Angker Angker di di buat buat dari dari besi besi dipasang dipasang pada pada tembok tembok atau atau kolom kolom praktis. praktis. Jika Jika kusen kusen dipasang dipasang pada pada kolom kolom utama utama dari dari beton beton maka maka tidak tidak perlu perlu menggunakan menggunakan angker, angker, sebab sebab kusen kusen dipasang dipasang kemudian kemudian dengan dengan cara cara diselipkan diselipkan dan dan angker angker digeser digeser antara antara kolom kolom tersebut tersebut sebagai sebagai pengganti pengganti angker angker dipakai dipakai sekrup sekrup “Fisher“ “Fisher“ Sponing Sponing kapur, kapur, adalah adalah suatu suatu cowakan cowakan dibuat dibuat pada pada kuping, kuping, tiang tiang sisi sisi luar luar dan dan ambang ambang bawah, bawah, sedangkan sedangkan pada pada ambang ambang atas atas tidak tidak terdapat terdapat sponing sponing kapur kapur hal hal ini ini dikarenakan dikarenakan untuk untuk menghindari menghindari penglihatan penglihatan tembus tembus apabila apabila terjadi terjadi pemuaian pemuaian kayu. kayu.



140



2. Teknik Pemasangan Daun Pintu dan Jendela Memasang Daun Pintu; Pintu terdiri dari kusen atau gawang dan daun pintu. Kusen dipasang tetap atau mati di dalam tembok, sedang daunnya digantungkan pada kusen dengan menggunakan engsel sehingga dapat berputar pada engsel, berputar ke kiri atau ke kanan. Namun, daun pintu ada yang tidak berputar pada engsel, melainkan bergeser didepan kusennya. Pintu tersebur dinamakan dengan pintu geser.Kedudukan daun pintu pada saat ditutup melekat dengan sponingpada kusen pintu, kecuali pada bagian bawah, kedudukannyadibuat beberapa cm di atas lantai. Ukuran Daun Pintu; Jumlah daun pintu ada yang tunggal, ada pula yang ganda.Lebar dan tingginya daun pintu diukur dari sisi dalam kusen sampai sisiluar kusen. Ukuran yang lazim dipakai untuk pintu adalah sebagaiberikut:   



Tinggi : 2,00-2,10 meter Lebar : 0,70-0,90 meter (tunggal), 0,60-0,80 meter (ganda) Tebal : 0,30-0,40 meter.



Cara Pemasangan,



Berikut



beberapa langkah



kerja atau pedoman



pemasangan daun pintu kayu; 1) 2) 3) 4)



Ukur lebar dan tinggi kusen pintu. Ukur lebar dan tinggi daun pintu. Ketam dan potong daun pintu (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi). Masukkan/pasang daun pintu pada kusennya, stel sampai masuk dengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun



kearah tinggi. 5) Lepaskan daun pintu, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang daun pintu (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan dari sisi bagian atas 25 cm (untuk pintu dengan 2 engsel), dan pada bagian tengah (untuk pintu dengan 3 engsel) 6) Masukkan/pasang lagi daun pintu pada kusennya, stel sampai baik kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu tempat engsel yang sesuai dengan engsel pada daun pintu. 7) Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu dengan cara melepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang kusen



141



8) Pasang kembali daun pintu pada kusennya dengan memasangkan engselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga terpasanglah daun pintu pada kusen pintunya. 9) Coba daun pintu dengan cara membuka dan menutup. 10) Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu dengan cara melepaskan pen. 11) Stel lagi sampai daun pintu dapat membuka dan menutup dengan baik, rata dan lurus dengan kusen.



142



Gambar 13-12: Pemasangan Daun Pintu Memasang Daun Jendela; Seperti halnya pintu, jendela terdiri atas kusen atau gawang dandaun jendela. Kusen dipasang tetap atau mati di dalam tembok, sedangdaunnya digantungkan pada kusen dengan menggunakan engselsehingga dapat berputar pada engsel, berputar horizontal (ke kiri dankekanan) atau berputar vertikal (ke atas dan ke bawah). Namun, ada jenisjendela yang tetap atau mati, biasa disebut jendela mati dengan tujuanuntuk penerangan. Kedudukan daun jendela pada saat ditutup melekatdengan sponing pada kusen jendela. Ukuran Daun Jendela; Jumlah daun jendela ada yang tunggal, ada pula yang ganda.Lebar dan tingginya daun jendela diukur dari sisi dalam kusen sampai sisiluar kusen. Ukuran yang lazim dipakai untuk pintu adalah sebagai berikut: 1) Tinggi : 0,80-1,70 meter (menyesuaikan dengan fungsi dankondisi bangunan) 2) Lebar : 0,60-0,80 meter 3) Tebal : 0,30-0,40 meter. Cara Pemasangan; 1) Ukur lebar dan tinggi kusen jendela. 2) Ukur lebar dan tinggi daun jendela. 3) Ketam dan potong daun jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).



143



4) Masukkan/pasang



daun



jendela



pada



kusennya,



stel



sampai



masukdengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupunkearah tinggi. 5) Lepaskan daun jendela, pasang/tanam engsel daun jendela padatiang daun jendela (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah15-20 cm dari bagian tepi (untuk putaran horizontal) atau engselditanam pada bagian ambang atas daun jendela dengan jarak 15-20cm dari bagian tepi (untuk putaran vertikal). 6) Masukkan/pasang lagi daun jendela pada kusennya, stel sampai baikkedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang/ambang atas jendelatempat engsel yang sesuai dengan engsel pada daun jendela. 7) Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun jendela dengan caramelepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang/ambang ataskusen 8) Pasang kembali



daun



jendela



pada



kusennya



dengan



memasangkanengselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehinggaterpasanglah daun jendela pada kusen jendelanya. 9) Coba daun jendela dengan cara membuka dan menutup. 10) Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun jendela dengan caramelepaskan pen. 11) Stel lagi sampai daun jendela dapat membuka dan menutup denganbaik, rata dan lurus dengan kusen



C. Konstruksi Kuda Kuda Kayu



144



Konstruksi kuda-kuda terdiri dari rangakaian batang yang selalu membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan dan bentuk penutupnya, maka konstruksi kuda-kuda satu sama lain akan berbeda, tetapi setiap susunan rangka batang harus merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul beban yang bekerja tanpa mengalami perubahan. Kuda-kuda diletakkan diatas dua dudukan bisa tembok, ring balok atau tumpuan kolom selaku tumpuannya. Perlu diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gayahorisontal maupun momen, karena tembok hanya mampu menerimabeban vertikal saja. Kuda-kuda diperhitungkan mampu mendukungbeban-beban atap dalam satu luasan atap tertentu. Beban-beban yangdihitung adalah beban mati (yaitu berat penutup atap, reng, usuk,gording, kuda-kuda) dan beban hidup (angin, air hujan, orang pada saatmemasang/memperbaiki atap), dan beban beban lain sesuai kondisi dan desain yang direncanakan. Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap, umumnya kudakuda terbuat dari kayu, bambu, baja, dan beton bertulang. Kuda-kuda kayu digunakan sebagai pendukung atap dengan bentang maksimal sekitar 12 m. Kuda-kuda bambu pada umunya mampu mendukung beban atap sampai dengan 10 meter, Sedangkan kuda-kuda baja sebagai pendukung atap, dengan sistem frame work atau lengkung dapat mendukung beban atap sampai dengan bentang 75 meter, seperti pada hanggar pesawat, stadion olah raga, bangunan pabrik, dan sebagainya. Kuda-kuda dari beton bertulang dapat digunakan pada atap dengan bentang sekitar 10 hingga 12 meter. Pada kuda-kuda dari baja atau kayu diperlukan ikatan angin untuk memperkaku struktur kuda-kuda pada arah horisontal. Berikut beberapa hubungan dan sistem sambungan bagian bagian dari konstruksi kuda-kuda kayu. Bentuk dan sistem hubungan kayu di bawah ini hanya sebagai salah satu contoh, banyak macam jenis hubungan dan sambungan kayu yang dapat dibuat.



145



Gambar 13-13 : Rencana Kuda-kuda Kayu



146



Gambar 13-14: Kuda-kuda Kayu dengan Bagian-bagian



147



Gambar 13-15: Batang-batang Kuda-kuda Kayu Menggunakan Batang Gapit



148



Perhatikan gambar di atas, Keterangan gambar: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m.



Balok tarik Balok kunci Kaki kuda-kuda Tiang gantung Batang Sokong Balok Gapit Balok Bubungan Balok Gording Balok Tembok Balok bubungan miring Balok tunjang Tiang Pincang Balok Pincang



Berikut ini beberapa gambar hubungan dan detail konstruksi kuda-kuda kayu, dan sistem hubungan dan sambungan yang dapat dijelaskan, dengan bermacam jenis hubungan atau ambungan yang dapat dipakai.



Skema 13-16: Konstruksi Kuda-kuda Kayu



149



 Detail A:Hubungan kaki kuda-kuda dengan balok penggantung Kaki kuda-kuda menerima gaya tekan sedangkan balok penggantung menerima gaya tarik (lihat skema gaya). Sehingga hubungan antara kedua balok dapat dilaksanakan sistem gigi dan untuk memperkuat hubungan tersebut dibantu dengan pelat baja, atau dengan perkuatan lain.



Gambar 13-17: Skema gaya-gaya Kaki Kuda-kuda



Gambar 13-18 : Detail A



150



 Detail B:Hubungan balok tarik, penggantung dan balok penyokong. Balok tarik menerima gaya tarik, balok penggantung menerima gaya tarik sedang balok penyokong menerima gaya tekan. Sehingga hubungan antara balok tarik dan penggantung dapat dilaksanakan dengan sistem pen dan purus yang diperkuat dengan begel pelat baja, sedangkan



untuk



balok



penyokong



dan



penggantung



tetap



menggunakan sistem gigi, atau berbagai bentuk variasi sambungan lain.



Gambar 13-19 ;Model Detail B



Gambar 13-20 : Model Alternatif Detail B



151



 Detail C; Hubungan balok kaki kuda-kuda dengan balok penyokong. Baik balok kaki kuda-kuda maupun balok penyokong semuanya mene-rima gaya tekan, sehingga hubungan antara kedua balok tersebut dapat dilaksanakan dengan sistem hubungan gigi, pen dan purus yang dikunci dengan pasak dari kayu.



Gambar 13-21 ; Detail C



152



 Detail D:Hubungan balok kaki kuda-kuda dengan balok tarik Balok kaki kuda-kuda menerima gaya tekan dan balok tarik menerima gaya tarik. Sehingga hubungan kedua balok tersebut dapat dilaksanakan dengan sistem gigi bahkan karena gaya tekan yang ada pada balok kaki kuda-kuda terlalu besar pada gigi ganda yang dilengkapi dengan begel pelat baja. Sambungan gigi tunggal •



tm  ¼ h. bila  50 







tm  1/6h. bila  60 







h = tinggi balok datar



Panjang kayu muka •



S



= gaya tekan kaki kuda-kuda











= tegangan yang



diizinkan sesuai mutu kayu 8, 12, 20



kg/cm2) •



b



= lebar kayu datar



Sambungan gigi rangkap •



Syarat :tm2 – tm1>1 cm



Gambar 13-22 : Detail D



153



Gambar 13-23: Sambungan Kayu Gigi Rangkap  Agar konstruksi kuda-kuda ini tidak melentur maka digapit sepasang balok dan dikencangkan dengan menggunakan baut dan mur. Umumnya balok 6 x 12 cm. (lihat gambar berikut)



Gambar 13-24 : Balok Gapit Pada Balok Penggantung



154



D. Konstruksi Loteng Kayu Loteng adalah salah satu bentuk ruangan dalam sebuah rumah yang biasanya letaknya di bagian atas.Dalam penggunaannya, loteng digunakan untuk tingkat atas.Loteng dalam sebuah rumah pada umumnya digunakan untuk berbagai fungsi. Biasanya untuk gudang atau kamar tidur, dan ada juga orang membangun loteng untuk digunakan sebagai tempat jemuran.Jadi loteng merupakan ruang tambahan yang dibangun diatas rumah.Beberapa desain loteng bahkan mengambil tempat diruang plafon. Hal ini jika rumah kita didaerah tropis seperti Indonesia, sangat tidak disarankan loteng ini sebagai kamar tidur, tapi jika hanya sebagai gudang silahkan saja, karena ruang plafon adalah ruang isolasi panas dari penutup atap supaya tidak menerus turun ke bawah.



Gambar 13-25: Balok dan Lantai Loteng Pada konstruksi loteng, kita menegnal namanya balok induk dan balok anak, yaitu tempat diletakkanya papan lantai, baik itu dari bahan papan solid atau papan olahan., dan dapat pula sebagai penopang plafond pada bagian bawahny. Berikut adalah nama dan fungsi balok-balok yang ada pada konstruksi loteng;, yaitu:



155



1. Balok Induk; adalah semua balok yang melintang tanpa topang pada seluruh lebar bangunan dan pada kedua ujungnya bertumpu pada kolom. Konstruksi agar aman dibuat pada bentang terpendek 2. Balok Anak; adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok induk, digunakan untuk memperkecil petak-petak lantai disetiap ruangan. 3. Balok Bagi, adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok anak atau balok induk atau pada salah satunya bertumpu pada balok anak atau balok induk, dapat berfungsi sebagai untuk memperkecil petak-petak lantai.



Gambar 13-26 : Balok dan Lantai Loteng Kemudian Pelat lantai kayu, umumnya dibuat dari rangkaian papan kayu yang disatukan menjadi kesatuan yang kuat, sehingga membentuk bidang yang luas.Bahan untuk lantai kayu loteng, dapat juga dibuat dari bahan kayu olahan.Untuk mendapatkan bahan lantai kayu yang bermutu, maka fungsi material kayu tersebut harus maksimal.Beberapa pedoman dapat dipakai, diantaranya harus memilih jenis kayu yang tahan cuaca dan rayap, misalnya kayu jati, eboni, besi, atau ulin, damar laut, bangkirai, dan merbau. Selain itu harus dipastikan kayu yang digunakan memiliki kadar air yang sangatminimal. Kandungan air tinggi dapat membuat kayu menjadi memual, susut atau retak. Selain itu lakukan pula proses finishing dan pelapisan dengan zat anti rayap, dan jika ingin memperoleh tekstur permukaan, pakailah pelitur atau vernis, bisa juga dengan mengecatnya dengan cat kayu. Untuk lantai kayu, akanlebih 156



baik menggunakan kayu jenis solid, karena kayu solid tersebut tahan dari serangan rayap selain memiliki tekstur yang cantik Bila lantai loteng menggunakan kayu solid, diambil papan yang standar, dan umumnya ukuran lebar papan umumnya 20 – 30 cm, tebal papan dapat dipilih ukuran 2 – 3 cm, dengan jarak balok-balok pendukung antara 60 – 80 cm. Ukuran balok berkisar antara 8/12, 8/14, 10/14 untuk bentangan 3 – 3,5 m. balok-balok kayu ini dapat diletakkan di atas pasangan bata 1 batu atau ditopang oleh balok beton, ring balok besi atau kayu. Beberapa keuntungan menggunakan lantai loteng dengan konstruksi pelat kayu, Antara lain adalah; Mudah dikerjakan, Beratnya ringan, Memunculkan Kesan Alami, Membuat Ruangan Menjadi hangat, Lebih leluasa dalam memilih motif yang sesuai dengan desain interior.



Beberapa kerugian



menggunakan lantai loteng dengan konstruksi pelat kayu, anatara lain adalah; Hanya boleh untuk konstruksi bangunan sederhana dengan beban ringan, Bukan peredam suara yang baik, suara gaduh atau hentakan kaki dari penghuni atas dapat mengganggu penghuni di lantai bawahnya, Sifat bahan permeable (rembes air) jadi tidak dapat dibuat kamar mandi/WC di lantai atas, Mudah terbakar, jadi tidak boleh membuat dapur di atasnya, Tidak dapat dipasang tegel, jadi mengurangi kesan mewah (hanya dapat ditutup karpet, vinyl, atau sejenisnya), Dapat dimakan bubuk atau serangga, berarti keawetan bahan terbatas, Mudah rusak oleh pengaruh cuaca yang berubah-rubah (panas dan hujan) jadi hanya cocok untuk bangunan yang terlindung. Perawatan



loteng



dengan



bahan



lantai



kayu,



dapat



dilakukan



seperti;Hindarkan kayu dari air, jika lantai kayu ditutupi dengan karpet, seringseringlah membersihkan area karpet ini dengan vacuum agar debu tidak turun melalui serat-serat karpet dan mengotori lantai kayu.Jangan pernah menggeser furnitur di atas lantai kayu. Pergunakan alas yang lembut seperti lap atau handuk pada bagian bawah furnitur saat hendak memindahkannya, hal ini menghindarkan terjadinya goresan pada lantai kayu. Contoh rumah panggung adalah sebuah aplikasi konstruksi loteng kayu, penggunaan papan sebagai pelat kayu.Perbedaan dengan konstruksi loteng 157



seperti penjelasan di atas, hanya terletak pada posisi lantai, dimana pada loteng biasanya adalah bagian tingkat dua atau bagaian atas sebuah rumah.Swedangkan rumah panggung, lantai pertama atau lantai dasar adalah lantai rumah panggung itu sendiri.Sebagai gambaran dapat dilihat penjelasan gambar rencana sebuah proyek rumah sehat dari konstruksi panggung dengan lantai kayu, dan penjelasan detail beberapa hubungan balok induk, balok anak, kolom, dan lantai kayu.Rencana rumah panggung kayu salah satu aplikasi penggunaan kayu sebagai lantai.



Gambar 13-27: Rencana Rumah Sehat Konstruksi Kayu Panggung



158



Gambar 13-28 : Isometri Rencana Balok Induk Konstruksi Loteng Kayu



Gambar 13-29:Isometri Konstruksi Lantai Panggung Kayu



159



Gambar 13-30: Isometri Hubungan Kolom, Balok Induk dan Balok Anak



Gambar 13-31 : Isometri Hubungan Kolom, Balok-balok dan Papan Lantai



160



E. Konstruksi Plafon Kayu Plafon adalah bagian konstruksi merupakan lapis pembatas antara rangka bangunan dengan rangka atapnya, sehingga bisa sebagai atau dapat dikatakan tinggi bangunan dibawah rangka atapnya. Plafon atau sering disebut juga langit-langit merupakan bidang atas bagiandalam dari ruangan bangunan ( rumah ).Pada dasarnya plafon dibuat dengan maksud untuk mencegah cuaca panas atau dingin agar tidak langsung masuk ke dalam rumah setelah melewati atap. Namun demikian dewasa ini plafon tidak lagi hanya sekedar penghambat panas atau dingin,melainkan juga sebagai hiasan yang akan lebih mempercantik interiorsuatu bangunan. Plafon biasanya dibuat dengan ketinggian tertentu.Namun sebagai variasi ada juga yang dibuat tidak selalu rata. Variasitersebut dikenal sebagai plafond drop ceiling. Beberapa fungsi plafon dibuat antara lain adalah : 1) Plafon dapat mengurangi panas dari sinar matahari melalui bidang atap 2) Plafon sebagai finishing (elemen keindahan), mempunyai tempat untuk menggantungkan



bola



lampu,



sedang



bagian



atasnya



untuk



meletakkan kabel – kabel listriknya (sparing instalasi). 3) Plafon merupakan bagian dari interior yang didesain sehingga ruangan menjadi sejuk dan enak dipandang (artistik), supaya ruangan di bawah atap selalu tampak bersih, dan tidak tampak kayu dari rangka-atapnya. 4) Plafon dapat juga sebagai meredam suara air hujan yang jatuh diatas atap, terutama pada penutup atap dari bahan logam, untuk menahan kotoran yang jauh dari bidang atap melalui celah-celah genteng. 5) Plafon berfungsi juga sebagai isolasi panas yang datang dari atap atau sebagai penahan perambatan panas dari atap (aluminium foil).



Untuk



pemasangan



plafon



diperlukan



konstruksi



khusus



untukmenggantungkannya yang dikenal dengan nama rangka plafon. Bahanrangka plafon yang umum digunakan adalah kayu, meskipun dewasa inidikenal juga rangka plafon dari bahan besi hollow (besi berbentuk kotak).Bahan ini tahan terhadap rayap dan api yang membuat plafon bertahanlama dibanding menggunakan kayu.Ukuran batang rangka plafon 161



ditentukan dari jarak bentang dariruangan, jenis bahan yang digunakan, dan panjang-pendeknya batanggantung. Ukuran-ukuran batang yang biasa dipakai seperti tercantumpada daftar berikut.



Ukuran-ukuran batang kayu tersebut berdasarkan pengalamanempiris dan yang biasa digunakan.Ukuran tersebut dapat saja berubahsesuai dengan hasil hitungan berdasarkan kekuatan kayu.Rangka langit-Iangit untuk kudakuda biasa dibuat dari kayuukuran 4/6 atau 5/7, dilengkapi dengari klos dari reng 2/3 cm yangdipasang berselang-seling.Pada kuda-kuda papan untuk rangka langit-Iangit cukup dengan menggunakan kayu reng berukuran ¾ cm.



Gambar 13-32: Bentuk konstruklsi Plafon Kayu Sisi Atas dan Bawah Pemasangan rangka plafon kayu, batang-batang dipasang rata dengan bagian bawah balok-ikatkuda-kuda. Jika jarak antar dinding yang mendukung kuda-kuda dalamruangan kurang dari jarak antara kuda-kuda, maka batangbatanggantung plafon induk dipasang tegak lurus arah dinding dan masuk dalam pasangan dinding. Namun, jika jarak antara kuda-kuda kurangdari jarak antar dinding yang mendukung kuda-kuda, maka batangbatanggantung plafon induk dipasang tegak lurus pada balok ikat darikuda-kuda.Pada prinsipnya pemasangan batang penggantung plafon adalahsama, tetapi jaraknya tidak 162



sama tergantung dari bahan plafon yangdigunakan. Pada bangunan perumahan dalam pemasangan plafond,ketentuan untuk tinggi ruang/kamar minimal sekurang-kurangnya 2,40 mkecuali kalau kasau-kasaunya miring sekurang-kurangnya ½ dari luasruang mempunyai tinggi ruang 2,40 m dan tinggi ruang selebihnya padatitik terendah tidak kurang dari 1,75 m. Pada ruang cuci dan kamarmandi diperbolehkan sampai sekurang-kurangnya 2,10 m. Dalam pembuatan rencana plafond atau terkadang disebut sebagai rencana rangka plafond atau denah plafond hal – hal yang harus diperhatikan adalah: Ukuran bahan yang akan digunakan terhadap luasan ruangan.Untuk bahan penutup dengan tripleks, sebaiknya menggunakan ukuran dengan kelipatan 30 cm agar dapat efisien dalam penggunaan bahan. Misalnya; 1,20 x 1,20. Sedangkan bila digunakan bahan penutup dengan asbes, untuk efisiensi bahan menggunakan ukuran 1,00 x 1,00 atau 1,00 x 0,50. Kemudian yang perlu diperhatikan juga, pada perencanaan plafon dan keindahan untuk ruang dan interiornya, hal yang perlu diperhatikan adalah kekuatan rangka plafon yang dihubungkan dengan penggantungnya.Elevasi penutup plafon dan sistim penerangan perlu diperhatikan juga khususnya untuk ruang rapat atau ruang pertemuan termasuk ketinggian plafonnya.



163



GLOSSARY Balok sloof, adalah balok beton bertulang yang dipasang pada keliling bangunan dan juga pondasi di tengah bangunan di bawah lantai. Lapisan batu kosong, adalah pasangan batu tanpa spesi pada bagian dasar pondasi dipasang setelah lapisan pasir dan pemadatannya dilakukan dengan; timbris a) Titik 0,00 adalah titik untuk menunjukkan muka atas lantai bangunan, b) Kedalaman pondasi adalah kedalaman pondasi diukur dari muka atas latani (+0,00) sampai pada bagian terbawah pondasi / sampai tahan keras. Biasanya diberi tanda minus. Misalnya minus (-) 1,20 m. Pondasi, adalah elemen bangunan yang berada dibawah permukaan tanah, sebagai konstruksi yang berfungsi memikul beban diatasnya dan meneruskan ke tanah dasar. Ø Pondasi langsung (Stahl), termasuk pondasi dangkal yang dipakai pada kondisi tanah baik dengan maksimal kedalaman tanah ± 2,00 m, dan bahan bangunan yang sering digunakan adalah batu kali/belah, batu gunung, atau beton tumbuk, batu bata, pondasi beton bertulang, pondasi pias, pondasi plat kaki, dan pondasi balok sloof. Pondasi tidak langsung, disebut juga dengan istilah pondasi dalam, dari segi kedalaman masuknya ke dalam tanah, digunakannya pondasi dalam karena besarnya beban bangunan, dan tanah keras diperoleh sangat dalam, lebih dari dua meter ke bawah. Tiang pancang, adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari berbagai bahan bangunan (kayu, beton atau baja) yang digunakan untuk menyalurkan beban-beban yang dipikul pondasi (struktur serta penggunanya) ke lapisan tanah yang dalam, dimana dapat dicapai daya dukung yang lebih baik



164



A. Pendahuluan Pondasi adalah elemen bangunan yang berada dibawah permukaan tanah, sebagai konstruksi



yang berfungsi



memikul beban diatasnya dan



meneruskan ke tanah dasar. Pondasi merupakan elemen pokok bangunan yang sangat vital, berfungsi sebagai penyangga konstruksi bangunan di atasnya. Kekuatan dan kekokohan suatu konstruksi bangunan gedung sangat tergantung dari konstruksi pondasi. Pondasi merupakan pijakan dasar suatu bangunan, karena tanpa pondasi bangunan tidak akan kuat dan kokoh. Setiap bangunan seperti rumah tinggal, bisa memerlukan bentuk dan system pondasi yang berbeda-beda, tergantung pada beban yang ada dan kondisi tanah dasarnya.



Untuk membuat pondasi diperlukan pekerjaan galian tanah, umumnya lapisan tanah dipermukaan setebal ± 50 cm adalah lapisan tanah humus yang sangat labil dan tidak mempunyai daya dukung yang baik. Oleh karena itu dasar pondasi tidak boleh diletidakkan pada lapisan tanah humus ini. Untuk menjamin kestabilan pondasi dan memperoleh daya dukung tanah yang cukup besar, maka dasar pondasi harus diletidakkan pada kedalaman lebih dari 50 cm dari permukaan tanah sampai mencapai lapisan tanah keras. Lebar galian tanah untuk memasang pondasi dibuat secukupnya saja asal sudah dapat untuk memasang pondasi, karena tanah yang sudah terusik sama sekali akan berubah baik sifatnya maupun kekuatannya. Mengingat bahwa pondasi adalah salah satu elemen penting bangunan, maka mau tidak mau, seluruh bangunan harus memiliki pondasi, agar kuat, tidak rubuh dan mampu berdiri. Oleh karena itu perencanaan sebuah pondasi wajib dilakukan utuk kekuatan dan ketahanannya menerima beban diatasnya. Syarat dan ketentuan sebuah pondasi, antara lain adalah; 1) Konstriksi kokoh dan kuat menahan beban diatasnya 2) Bahan; Pondasi harus dibuat dari bahan yang tahan lama dan tidak mudah hancur, dibuat dari bahan yang awet berada di dalam tanah dan kuat menahan gaya-gaya yang bekerja padanya terutama gaya desak.



165



3) Pondasi harus terletidak di atas tanah dasar yang cukup keras sehingga kedudukan pondasi tidak mudah bergerak (berubah), baik bergerak ke samping, ke bawah (turun) atau terguling. 4) Dasar pondasi harus mempunyai lebar yang cukup dan harus diletidakkan pada lapisan tanah asli yang keras. 5) Pondasi harus dipasang menerus di bawah seluruh dinding bangunan dan di bawah kolom-kolom pendukung yang berdiri bebas. 6) Apabila digunakan pondasi setempat, pondasi-pondasi tersebut harus dirangkaikan satu dengan lainnya menggunakan balok pengikat (balok sloof kopel). Pondasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pondasi langsung dan pondasi tidak langsung. Pondasi langsung adalah pondasi yang dibuat bila kedalaman lapisan tanah keras maksimal 1 meter, sedangkan pondasi tidak langsung adalah pondasi yang dibuat bila kedalaman lapisan tanah keras melebihi 1 meter.



1) Jenis-Jenis Pondasi 1. Pondasi Langsung (Dangkal) Pondasi langsung (Stahl) termasuk pondasi dangkal yang dipakai pada kondisi tanah baik dengan maksimal kedalaman tanah ± 2,00 m, dan bahan bangunan yang sering digunakan adalah batu kali/belah, batu gunung, atau beton tumbuk, batu bata, pondasi beton bertulang, pondasi pias, pondasi plat kaki, dan pondasi balok sloof. Lebar dasar pondasi dibuat lebih besar dari tebal dinding tembok di atasnya, hal tersebut dimaksudkan untuk memperkecil beban persatuan luas pada tanah dasar, karena daya dukung tanah dasar pondasi pada umumnya lebih kecil dari daya dukung pasangan badan pondasi. Untuk pondasi langsung yang menggunakan bahan batu kali, batu bata dan beton tumbuk, tampang badan pondasi membentuk bangun trapesium, hal tersebut dilakukan selain berguna bagi kestabilan kedudukan pondasi juga untuk efisiensi.



166



Pondasi langsung disebut orang juga jenis pondasi dangkal, karena pondasinya dipasang langsung



dan dangkal pada kedalaman ± 1-1.5 m.



Jenis pondasi langsung (dangkal) yang umum diantaranya adalah: a) Pondasi Batu Kali. Jenis pondasi yang bahan dasarnya batu kali. b) Pondasi Umpak. Biasanya jenis pondasi ini digunakan pada rumah



adat, rumah kayu, atau rumah tradisional jaman dulu. c) Pondasi Batu Bata. Jenis pondasi yang dibuat dengan bahan dasar



batu bata. Dalam pemasangannya disusun sedemikian rupa sehingga dapat



menahan



berat



bangunan



yang



ada



di



atasnya



dan



meneruskanya ke tanah. d) Pondasi bor mini (Strauss Pile) e) Pondasi Telapak/ Footplat f)



Pondasi beton/ sloof



g) Dll



a). Pondasi Batu Kali Batu kali dikenal bermacam bentuknya, masing masing daerah tentu jenis dan spesifikasinya berbeda pula. Batu kali bahan dasarnya, yang banyak dikenal orang adalah batu besar atau batu gunung yang dibelah. Namun lain daerah lain bentuk dan asalnya, kita kenal dulu jenis batu kali atau batu alam yang dapat dijadikan pondasi batu kali, jenis batu kali yang kita kenal antara lain; 



Batu belah berasal dari batu bulat berukuran besar kemudian di pecah menjadi bongkahan-bongkahan lebih kecil. Batu belah merupakan batu yang sangat baik untuk pondasi menerus dan pondasi umpak. Batu belah







yang baik harus keras, padat bersih dan tidak lapuk. Batu Bulat; Batu bulat merupakan bahan yang banyak ditemui hampir disemua daerah di Indonesia. Batu bulat berasaldaribatu kali/sungai dan gunung. Cirri-cirinya bentuknya bulay berwarna abu-abu agak kehitaman. Batu bulat yang baik untuk pondasi adalah yang tidak terlalu besar, cukup keras, bersih dan tidak memperlihatkan tanda-tanda lapuk. Kelemahan batu bulat ini adalah karena bentuknya bulat menyebabkan tidak akan







saling mencengkeram satu dengan yang lainnya ketika dipasang. Batu karang berwarna putih atau kuning muda. Batu ini berasal dari laut dan pantai. Batu karang yang baik mempunyai kepadatan pada patahannya, kuat, keras dan bersih tnpa garis-garis pelapukan. Pada saat 167



pemasangan batu karang harus dipilih yang sudah dibelah-belah agar satu sama lainya dapat mengikat



Gambar 14-1: Ragam Batu Kali Pekerjaan Memasang Pondasi Batu Kali (Belah) Batu kali merupakan bahan konstruksi pondasi yang paling banyak igunakan, karena batu belah yang umumnya didapatkan dari batu kali tidak mengalami perubahan bentuk dan kualitas bila tertanam di dalam tanah. Persyaratan batu belah sebagai bahan konstruksi pondasi adalah batu tersebut mempunyai permukaan yang kasar, berukuran ± 25 cm, bersih dari segala kotoran. Batu belah yang permukaannya halus kurang baik dipakai sebagai bahan pondasi, sehingga harus dipecah terlebih dahulu agar didapatkatkan permukaan yang kasar. Demikian juga dengan batu belah yang berpori sebaiknya tidak digunakan untuk bahan konstruksi pondasi. Permukaan batu yang kasar akan membuat ikatan yang kokoh. Pada umumnya tampang lintang dari badan pondasi batu belah berbentuk trapesium dengan lebar sisi bagian atas paling sedikit 25 cm, sehingga idapatkan susunan batu yang kokoh. Sebelum dipasang, batu belah harus disiram air terlebih dahulu. Bila tanah dasar pondasi banyak mengandung air, maka sebelum pondasi dipasang harus disusun terlebih dahulu pasangan batu kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya. Dalam pemasangan konstruksi pondasi batu kali, yang dibutuhkan dalam pemasangannya adalah adalah; Batu belah (batu kali/guning), pasir pasang, dan semen PC (abu-abu).



168



Gambar 14-2: Pasangan Pondasi Batu Kali (Perspektif)



Gambar 14-3: Pasangan Pondasi Batu Kali (Foto)



169



Gambar 14-4: Pasangan Pondasi Batu Kali (Potongan) Bila kondisi lapisan tanah banyak mengandung air, maka sebelum badan pondasi dipasang terlebih dahulu disusun pasangan batu kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya. Susunan batu kosong tersebut dinamakan aanstamping, yang berfungsi sebagai drainase untuk mengeringkan air tanah yang terdapat di sekitar badan pondasi. Beberapa kelebihan menggunakan pondasi batu kali, yaitu; a) Pelaksanaan pondasi mudah b) Waktu pengerjaan pondasi cepat c) Batu belah mudah didapat, (khususnya pulau jawa)



Beberapa kekurangan menggunakan pondasi batu kali, yaitu; 



Batu belah di daerah tertentu sulit dicari







Membuat pondasi ini memerlukan biaya besar







Pondasi ini memerlukan biaya lebih mahal jika untuk rumah bertingkat. 170



b). Pondasi umpak/setempat Pondasi umpak dipasang di bawah setiap tiang-tiang penyangga. Tiang-tiang ini satu dan lainnya saling dihubungkan dengan balok-balok kayu yang dipasang dibagian bawah tiang yang juga untuk menumpu papan-papan lantainya, dan dibagian atas tiang yang menyatu dengan rangka atapnya. Pondasi jenis ini, umumnya dipakai pada bangunan sederhana yang terbuat dari rangka kayu dengan dindin dari papan, dan rumah rumah seperti ini, banyak kita temui di daerah pesisir pantai, atau di pedesaan. Pondasi umpak terbuat dari bahan-bahan ; Pasangan batu yang disusun meningkat, beton tidak bertulang , dan c).



Cor



Batu alam yang dibuat menjadi umpak.



Pondasi Batu Bata



Jenis pondasi yang dibuat dengan bahan dasar batu bata. Pemasangan bata sebagai pasangan rollag bata merupakan pondasi yang diaplikasikan untuk menopang berat beban. Pada saat ini pondasi rollag bata telah lama ditinggalkan, pemasangannya membutuhkan waktu yang lama serta tidak memiliki kekuatan yang bisa diandalkan. Pondasi ini tetap digunakanuntuk menahan beban ringan, misalnya pada teras, bangunan tanpa dinding, atau jalan setapak yang terbuka. d). Pondasi Setempat (Telapak) Pondasi setempat umumnya dibuat dengan kedalaman 1 sampai dengan 1,50 m dari permukaan tanah, atau lebih. Pondasi setempat ini juga dibuat untuk menahan kolom pada bangunan bertingkat. Jadi dia hanya menahan kolom, sedangkan beban untuk dinding-dinging bisa juga ditahan oleh balok, sloof pengikat ataupun pondasi menerus berbahan batu kali. Jadi untuk bangunan bertingkat, pondasi setempat ini adalah struktur utama. Semua beban dari bangunan yg diterima oleh kolom pendukung akan langsung ditumpukan pada pondasi setempat ini. Pada penerapan pondasi setempat ini, bisa juga didukung oleh pondasi menerus, tapi pondasi menerus batukali ini tidak berfungsi sebagai pendukung beban keseluruhan bangunan, melainkan hanya untuk dinding-dinging atau tempat tumpuan sloof. 171



Salah satu bentuk pondasi setempat terbuat dari beton yaitu Pondasi telapak, pondasi ini adalah pondasi yang biasa digunakan untuk menumpu kolom bangunan, tugu, menara, tangki air, cerobong asap dan beberapa bangunan sipil lainnya. Pondasi ini berbentuk papan yang terbuat dari beton bertulang dan diletidakan di atas tanah pada kedalaman tertentu dengan dimensi dan ketebalan yang tertentu pula. Biasanya, pondasi ini dibuat dengan dimensi yang lebih besar daripada kolom diatasnya, Hal ini bertujuan agar beban yang diteruskan ke pondasi dapat disebarkan keluasan tanah yang lebih besar dibawahnya. Karena dimensi ukuran dari pondasi dibuat lebih besar daripada kolom diatasnya, maka secara fisik terlihat seperti telapk kaki atau sepatu kolom, sehingga pondasi ini bisa disebut juga sebagai pondasi kaki pelat atau “foot plate”.



Gambar 14-5: Pondasi Tapak (Telapak) Beberapa bentuk dan desain pondasi telapak dapa dilihat di bawah ini.



172



173



Gambar 14-6: Pondasi Tapak (Telapak) Pondasi Tapak atau pondasi telapak, atau dikenal juga dengan sebutan Pondasi Cakar Ayam, biasanya dipakai



untuk membuat bangunan yang 174



memiliki beban tetap yang berat, seperti rumah tinggal, ruko, dan perkantoran,



pondasi ini dipasang persis dibawah kolom, atau didesain



menerus kolom. e) Pondasi Sloof Sloof adalah konstruksi balok beton yang dipasang



memanjang, dan



biasanya dipasang sebagai pengikat dan penahan pasangan dinding, baik pasangan bata merah, batidako, atau bahan dinding lainnya yang berada diatasnya. Beton sloof bekerja melindungi dinding pasangan bata sehingga kuat, tidak retidak, dan juga mengikat keseluruhan bangunan. Ada beberapa pengertian tentang Sloof dari mulai pengikat, penahan, serta pengkaku, itu semua memanglah fungsi dari sloof. Namun dari salah satu buku menjelaskan bahwa Sloof itu adalah struktur bangunan yang berada di atas pondasi. Fungsi dari sloof ini adalah 1) Menahan beban dari dinding sekaligus meratidakan beban yang diterima oleh pondasi dan dilimpahkan ke tanah. 2) Sebagai pengunci dinding apabila terjadi gaya lateral atau gaya horizontal yang diakibatkan oleh gempa supaya dinding tersebut atau struktur tersebut ruksak atau tidak mengalami roboh



Gambar 14-7: Dimensi Sloof Pada kenyataan ada juga orang membuat sloof bukan diatas pondasi batu kali atau pondasi tertentu, sloof dipasang diatas tanah, tetapi sebaiknya dibuat di atas tanah keras. Sloof tersebut biasa disebut orang sloof gantung, tentu disini sloof tersebut berfungsi sebagai pondasi langsung, dan sekalgius Sloof 175



gantung adalah struktur bangunan yang berfungsi sebagai pengikat antar pondasi. Gambar dan Notasi Pondasi Pada setiap gambar rencana sebuah pondasi umumnya akan digambarkan: 1. Denah bangunan 2. Pandangan depan dan pandangan samping 3. Penampang memanjang dan melintang Dari gambar denah bangunan dan gambar potongan melintang maupun memanjang akan diketahui macam pondasi yang direncanakan akan tetapi biasanya belum begitu jelas sehingga diperlukan suatu gambar penjelas pondasi yang terdiri atas: a. Gambar denah pondasi b. Gambar penampang pondasi Gambar-gambar ini dapat dibuat dengan mudah kalau gambar rencana yang bersangkutan telah disetujui oleh ahli konstruksi sebab ada kalanya ukuran bentuk dan macam pondasinya dirubah oleh ahli konstruksi, karena keadaan tanah yang kurang sesuai dengan rencana pondasi atau karena sebab lain. Pondasi untuk bangunan dapat dibuat dari bermacam-macam konstruksi tergantung dari berat beban di atasnya, macam tanah dan sebagainya. Konstruksi pondasi selain berhubungan erat dengan beban yang diterima dan sifatsifat tanah juga tergantung pula dari macam bahan yang akan digunakan. 1) Pondasi pasangan batu kali 2) Pondasi menerima beban langsung dari tembok teras, emperan, tembok sebelah luar, tembok sebelah dalam dan lain-lain. 3) Pondasi pasangan batu kali di atas jalur beton bertulang 4) Pondasi beton bertulang 5) Pondasi beton tumbuk 6) Pondasi tidak langsung atau pondasi atas tiang 7) Pondasi pasangan batu merah 8) Pondasi menerima beban langsun dari tembok teras, emperan, tembok sebelah luar, tembok sebelah dalam atau lain-lain.



176



9) Pondasi pasangan batu merah di atas jalur beton bertulang yang jenisnya pondasi pasangan batu kali di atas jalur beton. Untuk selanjutnya pada penggambaran pondasi diperlukan gambar penjelas pondasi yang terdiri dari :  Gambar denah pondasi, pada bagian ini yang perlu digambar adalah : a. Tebal dinding (lebar sloof beton) b. Lebar pondasi bagian atas c. Lebar pondasi bagian bawah d. Lebar pasangan batu kali kosongan e. Kolom beton  Keterangan yang perlu dicantumkan antara lain: a. Ukuran jarak antara dinding dalam meter b. Ukuran kolom dalam cm c. Ukuran lebar atas/bawah pondasi dalam cm d. Ukuran balok sloof dalam cm e. Tempat-tempat potongan untuk penampang yang akan dibuatkan gambar penjelas diberi tanda dengan nomor atau juga dengan tanda huruf. f.



Skala yang dipakai umumnya 1 : 100.



 Gambar penampang pondasi pada bagian ini yang perlu dicantumkan adalah : a. Ukuran dalamnya pondasi b. Ukuran lebar dari bagian pondasi (dengan ukuran bagian atas, tengah, bawah dalam cm). c. Keterangan-keterangan lapisan pasir urug, tanah urug, muka tanah, lantai tegel, pasangan batu, berikut tanda-tanda pengasirannya. d. Nomor penjelas. e. Skala yang dipakai



177



178



179



Gambar 14-8: Gambar Denah Pondasi dan Potongan



180



2. Pondasi Tidak Langsung Konstruksi pondasi tidak langsung digunakan bila lapisan tanah yang baik/keras terdapat cukup dalam dari permukaan tanah. Prinsip dasar dari konstruksi pondasi tidak langsung adalah dengan perantaraan konstruksi pondasi tidak angsung tersebut beban bangunan dipindahkan



ke lapisan



tanah dasar pondasi yang baik. Pada tanah bangunan di mana lapisan tanah mudah pecah akibat pengaruh panas sinar matahari dan air sampai cukup dalam dan dan lapisan tanah yang mempunyai daya dukung besar cukup dalam,



bila



konstruksi



pondasi



langsung



dikhawatirkan



menyulitkan



pelaksanaan pekerjaan dan tidak efisien. Terdapat bermacam-macam jenis konstruksi pondasi tidak langsung, diantaranya pondasi umpak, gabungan pondasi plat kaki dan umpak, pondasi sumuran, pondasi tiang straus, dan pondasi tiang pancang. Bahasan selanjutnya difokuskan pada konstruksi pondasi langsung berupa pondasi batu belah. Hal tersebut dilakukan mengingat



konstruksi pondasi langsung dengan bahan batu belah amat



dominan digunakan di lapangan. Pondasi tidak langsung disebut juga dengan istilah pondasi dalam, dari segi kedalaman masuknya ke dalam tanah, digunakannya pondasi dalam karena besarnya beban bangunan, dan tanah keras diperoleh sangat dalam, lebih dari dua meter ke bawah. Dalam perencanaan, dan pelaksanaan pondasi dalam ini, kita akan mengenal



juga bentuk; tiang pancang (pile), pondasi



tiang franki (Franky Pile), pondasi tiang injeksi (Injection Pile), pondasi tiang bor (Bored Pile),



turap (sheet pile), dan kaison (caisson). Pondassi tidak



langsung, dapat dibuat dari kayu, baja, beton bertulang dan beton prategang. Pondasi dalam dapat dipasang baik dengan menancapkannya atau memancangnya ke bumi maupun membor dengan besaran tertentu lalu mengisinya dengan beton, masif maupun bertulang. Sistem pondasi tiang, seringkali memiliki kelompok tiang



atau beberapa tiang yang dipancang



dengan jarak antar tiang yang beraturan, yang dipersatukan dengan pur / pile cap yang berupa blok beton besar yang mengikat seluruh kepala tiang dalam satu kelompok, sehingga kelompok tiang tersebut dapat menyokong beban yang lebih besar daripada yang dapat ditahan oleh satu tiang saja. 2.1 Pondasi Tiang Pancang 181



Pondasi Tiang pancang adalah jenis Pondasi Dalam (Deep Foundation). Secara definitif, tiang pancang adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari berbagai bahan bangunan (kayu, beton atau baja) yang digunakan untuk menyalurkan beban-beban yang dipikul pondasi (struktur serta penggunanya) ke lapisan tanah yang dalam, dimana dapat dicapai daya dukung yang lebih baik. Jika dilihat dari pemakaiannya, maka pondasi tiang pancang dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu tiang pancang tunggal dengan tiang pancang kelompok. Sedangkan, bila dilihat dari bahan yang dipakai menjadi tiang pancang, maka tiang pancang dapat dibedakan menjadi tiang pancang kayu, tiang pancang baja, tiang pancang beton pracetak, tiang pancamg beton prategang dan tiang pancang komposit. Penggunaan tiang pancang untuk konstruksi ini biasanya bertitik tolak pada beberapa hal yang mendasar seperti anggapan adanya beban yang besar sehingga pondasi langsung jelas tidak dapat digunakan, kemudian jenis tanah pada lokasi yang bersangkutan relatif lunak (lembek) sehingga pondasi langsung tidak ekonomis lagi untuk dipergunakan. Telah dijelaskan di atas, bahwa pondasi tiang pancang dapat dibuat dari bahan pembuatannya seperti; tiang pancang beton, tiang pancang kayu, dan tiang pancang baja, berikut penjelasan tiang pancang dimaksud.



Gambar 14-9: Tiang Pancang Beton Aplikasi penggunaan tiang pancang sebagai pondasi yaitu; a) Pondasi tiang pancang dalam struktur dermaga didesain untuk menerima beban dari berat struktur dermaga, peralatan penanganan kargo, dan beban-beban lateral yang 182



disebabkan oleh kondisi lingkungan (arus, gelombang, gempa) dan operasi kapal (berthing, mooring). b) Pondasi tiang pancang digunakan untuk pondasi jembaan yang tanah permukaannya tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk menahan beban dan tanah kerasnya yang memiliki daya dukung letaknya sangat dalam (> 10 m). Kemudian yang ketiga c) Pondasi tiang untuk Bendungan; Tiang pancang beton berdasarkan cara pembuatannya dibedakan menjadi dua macam yaitu Cast in place (tiang beton cor ditempat atau fondasi tiang bor), dan Precast pile (tiang beton dibuat ditempat lain atau dibuat dipabrik). Pondasi tiang pancang dibuat ditempat lain (pabrik, dilokasi) dan baru dipancang sesuai dengan umur beton setelah 28 hari. Karena tegangan tarik beton adalah kecil, sedangkan berat sendiri beton adalah besar, maka tiang pancang beton ini haruslah diberi tulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan Beberapa penjelasan mengenai tiang pancang, baik dari jenis bahan maupun maupunn aplikasi.  Tiang pancang Beton; Tiang pancang beton berdasarkan cara pembuatannya dibedakan menjadi dua macam yaitu : Cast in place (tiang beton cor ditempat atau fondasi tiang bor) dan Precast pile (tiang beton dibuat ditempat lain atau dibuat dipabrik)..  Tiang Pancang Kayu; Tiang pancang dengan bahan material kayu dapat digunakan sebagai tiang pancang pada suatu dermaga. Persyaratan dari tiang pancang tongkat kayu tersebut adalah : bahan kayu yang dipergunakan harus cukup tua, berkualitas baik dan tidak cacat, contohnya kayu belian. Beberapa kayu keras dapat digunakan tanpa pengawetan, tetapi pada umumnya, kebutuhan untuk mengawetkan kayu keras 



tergantung pada jenis kayu dan beratnya kondisi pelayanan. Tiang Pancang Baja; Pondasi tiang pancang baja biasanya berbentuk profil H ataupun berbentuk pipa baja. Pada tiang pancang baja pipa, dapat dipilih dengan ujung terbuka bebas ataupun tertutup. Sering kali tiang baja pipa



dilakukan



pengisian



dengan



pengecoran



beton



setelah



pemancangan, namun dalam beberapa hal dan kondisi, pengecoran tersebut dirasakan tidak perlu dilakukan. Berdasarkan pengalaman, bentuk ujung terbuka lebih menguntungkan dari segi kedalaman penetrasi



183



dan dapat dikombinasikan dengan pengeboran bila diperlukan, misalnya penetrasi tiang pada tanah berbatu.



Gambar 14-10: Profil Tiang Pancang Beton



Gambar 14-11 : Tiang Pancang Kayu



184



Gambar 14-12: Tiang Pancang Besi Di Indonesi saat ini dikenal namanya pondasi tiang Franki, yaitu jenis pondasi tiang pancang yang betonnya dicor di lokasi dengan pembesaran di ujung bagian bawah. Nama Franki adalah salah satu nama perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tiang pancang di Dunia, dan kini sudah menjadi bagian konstruksi pondasi di negeri Indonesia. Tipe pondasi ini banyak digunakan, karena pada kondisi tanah yang disesuaikan, jenis pondasi ini banyak dipilih sebagai pondasi gedung-gedung tinggi di berbagai kota di Indonesia. Pondasi tiang Franki menggabungkan sisi positif dari tiang pancang dan tiang bor, yaitu tidak ada tanah yang diangkat keluar, sehingga friksi tanah termanfaatkan secara maksimal dan beton yang digunakan sesuai kedalaman pondasi, karena dicor di lokasi. Dengan demikian, tiang Franki cocok pada kondisi dengan kedalaman tanah keras yang bervariasi. Selain itu, tiang Franki juga memiliki keunikan, yakni adanya perbesaran di ujung bawah yang akan meningkatkan daya dukung tiang. Diameter tiang bisa mencapai 50-55 cm dan perbesaran di ujung bawah sampai diameter 80 cm. Tiang Franki juga cocok diaplikasikan pada tanah dengan lapisan lensa pasir, karena dalam pelaksanaanya dapat meningkatkan kepadatan lensa pasir. 2.2 Pondasi Bored Pile Pondasi bored pile adalah pondasi tiang dalam berbentuk tabung yang berfungsi



meneruskan



beban



bangunan



kedalam



permukaan



tanah.



Fungsinya sama dengan pondasi dalam lainya seperti pancang, bedanya ada 185



pada cara pengerjaanya. Pengerjaan Bored Pile dimulai dengan pelubangan tanah dahulu sampai kedalaman yang diinginkan, kemudian pemasangan tulangan besi yang dilanjutkan dengan pengecoran beton.



Gambar 14-13: Pekerjaan Pondasi Board Pile Pembuatan lobang untuk pondasi board pile biasanya dilakukan dengan alat (mesin) bor. Namun tidak tertutup kemungkinan menggunakan tenaga manuasia atau manual, cara pekerjaan ini dikenal dengan istilah Bored Pile Manual (Strauss Pile). Pekerjaan dengan model Strauss Pile (Bor pile manual) di aplikasikan pada pondasi dangkal berbentuk tabung, umumnya berkedalaman antara 2-10meter, dengan diameter antara 20cm-40cm. Pengaplikasian strauss pile umumnya digunakan untuk beban bangunan ringan sampai menengah, seperti pagar, tower, rumah tinggal, gudang dan sebagainya. Keunggulan strauss pile adalah alat yang sederhana dan ringkas. Pengerjaan dengan 2 tenaga sudah bisa, sehingga bisa mengerjakan dimedan yang sempit, yang tidak bisa dikerjakan dengan bor pile mesin.



186



Gambar 14-14: Pekerjaan Lubang Bored Pile Manual



Aplikasi



penggunaan



model



pondasi



Board



Pile



direnanakan



dan



dilaksanakan pada pembangunan jembatan Suramadu di jawa Timur. Pada tahun 2002 sejalan dengan perubahan tipe konstruksi bentang tengah menjadi cable stayed dan box girder melalui Review Design oleh Departemen Kimpraswil dan konsultan Virama Karya maka konstruksi pondasi bentang utama di-review menjadi pondasi bored pile dengan panjang dan diameter yang bervariasi. Dalam menindaklanjuti hasil Basic Design tersebut maka pada tahun 2005 – 2006 dilaksanakan serangkaian Technical Studies untuk mendukung pelaksanaan (DED) Detail Engineering Design. Struktur pondasi pada bentang utama Jembatan Suramadu direncanakan untuk mampu menahan beban-beban yang bekerja baik itu beban tetap maupun beban sementara dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pondasi bored pile Cable Stayed maupun Approach Bridge didesain untuk pondasi tiang friksi dan end bearing.



187



Gambar 14-15: Proses Pekerjaan Pondasi Bored Pile Boring; Proses pengeboran untuk pondasi bored pile, Soil auger dan



a)



soil bucket dipakai untuk pengeboran tanah yang halus (soft), pasir (sand) sampai tanah keras (hard layer). Casting; Metode casting adalah dengan menggunakan pipa tremi.



b)



Ready mix dituang melalui bucket yang berbentuk pipa corong. Sebelum ready mix dituang terlebih dahulu sterofom di tuang ke dalam corong untuk melancarkan aliran ready mix dalam pipa tremi. Proses pemasukan beton.



c)



Beberapa keunggulan pondasi Bored Pile, antara lain yaitu; 



Getaran kecil, tidak gaduh, sehingga lebih cocok untuk digunakan







didaerah padat penduduk, dibandingkan mengguakan tiang panang Diameter pondasi dapat besar, tiang dapat lebih panjang, dan ketepatan lebih baik.







Ujung pondasi bisa bertumpu pada tanah keras, dan letak tanah pendukung pondasi dapat lansung diketahui







Pondasi bored pile tidak



memerlukan kedalaman



seperti



tiang



pancang,karena pondasi ini mengandalkan gaya friksi yang terjadi antara dinding pondasi dengan lapisan tanah (80% gaya friksi). Beberapa kekurangan pondasi Bored Pile, antara lain yaitu; 



Diperlukan peralatan bor



188







Pelaksanaan pemasangannya relative agak susah, bila pelaksanaan yang kurang bagus dapat menyebabkan pondasi keropos, karena unsur semen larut oleh air tanah







pemeriksaan kualitas tiang hanya dapat dilakukan secara tidak







lansung, karena beton terletak dibawah muka air tanah. Adukan beton bisa bercampur tanah atau lumpur, untuk itu harus







ditangani dengan seksama. Lokasi pengerjaan menjadi kotor akibat lumpur dan air yang di angkat dari hasil pemboran.



Gambar : Konsep Dasar Teori Pondasi Tiang Pancang



189



C. Perencanaan Pondasi Perencanaan pondasi kita bahas hanya dasar-dasar saja, yaitu perencanaan pondasi



ada



yang



kekuatan/kekokohan



berupa pondasi



rencana dan



struktur,



perencanaan



yang



menghiung



pelaksanaan,



yaitu



bagaimana pondasi dapat dibangun sesuai desain. Pada perhitungan rencana kekuatan pondasi, harus didukung teori lain yaitu ilmu mekanka tanah dan ilmu mekanika teknik. Data tanah yang diperoleh disesuaikann dengan beban bangunan, dan dihitung kekuatan pondasi menyalurkan gaya-gaya yang timbul. Prinsip keadaan tanah, yaitu; 1) Tanah dianggap sebagai lapisan yang elastis dan plat pondasi adalah lapisan yang kaku , sehingga tekanan tanah dapat dianggap terbagi rata atau berubah linear; 2) Tegangan tanah yang digunakan untuk menghitung pondasi adalah tegangan tanah total dikurangi tegangan tanah akibat beban diatas pondasi (plat pons dan tanah urugan)



Beberapa langkah kerja untuk menghitung perencanaan pondasi, dapat dipedomani langkah sebagai berikut ini; 1) Analisa Data dan Penyelidikan Tanah; Pondasi merupakan struktur bawah yang berfungsi untuk meletakkan bangunan di atas tanah dan meneruskan beban ke tanah dasar. Untuk itu perlu dilaksanakan penyelidikan kondisi tanah pada lokasi yang akan dibangun. 2) Dari Hasil Tes Boring (Boring Log); diperoleh hasil tes boring pada kealaman tertentu, dengan menentukan titik dan banyak sampel. 3) Dari Hasil Tes Sondir; Sondir dilakukan, dengan hasil yang diperoleh setiap titik, sebagai dasar perhitungan untuk perencanaan. Dilihat dari analisa data tanah lapisan tanah keras didapat pada kealaman tertentu. 4) Pemilihan Jenis Pondasi; Dalam merencanakan suatu struktur bawah dari konstruksi bangunan dapat digunakan beberapa macam tipe pondasi, pemilihan tipe pondasi didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: 



Fungsi bangunan atas







Besarnya beban dan berat dari bangunan atas







Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan







Jumlah biaya yang dikeluarkan



Pemilihan tipe pondasi dalam perencanaan ini tidak terlepas dari hal-hal tersebut di atas. Dari pertimbangan hasil penyelidikan tanah dari aspek 190



ketinggian gedung dan beban dari struktur di atasnya, maka jenis pondasi yang digunakan ditentukan, dengan perhitungan kekuatan, dan volume dan bentuk penampang.



Kemudian disusun dan ditentukan spesifikasi



bahan yang digunakan sebagai pondasi. Untuk dapat menentukan jenis pondasi dan ukuran pondasi yang akan dipakai kita harus mengetahui beban yang akan didukung oleh pondasi. Untuk itu kita akan menghitung beban bangunan di atas pondasi. Menurut Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung tahun 1983, beban hidup untuk bangunan : 



Rumah tinggal = 200 kg/m2







Perkantoran, pertokoan dan ruang kelas = 250 kg/m2







Berat jenis beton bertulang = 2400 kg/m3







Berat jenis pasangan bata = 1700 kg/m3







Berat jenis kayu = 1000 kg/m3



Pada perencanaan pondasi beton bertulang, perlu ditinjau beberapa hal seperti : 1) 2) 3) 4)



Design terhadap lentur Design terhadap Geser Pemindahan gaya dan momen pada dasar kolom Panjang penyaluran tulangan



Perencanaan Pondasi Batu Kali Pelaksanaan pembuatan pondasi, sebelum dilakanakannya pembuatan pondasi, selain perencanaan kekuatan, tentu direncanakan juga bahan-bahan yang akan digunakan, seberap banyak bahan, dan seberapa banyak biaya untuk dapat membangun pondasi . Perencanaan perhitungan volume bahan dan upah kerja, pada pelajaan Rencana Anggaran Biaya (RAB), akan lebih diperjelas dan lebih diperdalam lagi, sampai pada angka nominal biaya untuk membangun pondasi dimaksud.



191



Gambar 14-16: Rencana Pondasi Batu Kali Beberapa langkah kerja dan perencanaan pekerjaan pondasi batu kali yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian pekerjaan, yaitu; 1) 2) 3) 4) 5)



pekerjaan galian pekerjaan urugan tanah dan pasir pekerjaan batu kosong (anstamping) pekerjaan batu kali urugan tanah kembali



Pekerjaan galian; Pekerjaan



galian tanah untuk lokasi pondasi agar



dapat dibuat atau dilaksanakan pembangunan pondasi dimaksud. Galian dibuat poisisnya terbalik dari posisi pondasi, dimana pada bagian atasnya lebih besar dari bagian bawahnya. Untuk galian pondasi perhtiungkan keleluasaan pekerja, galian untuk lantai kerja dan aanstamping. Dengan memperoleh; lebar galian = xx m, tinggi galian = xx m, panjang galian = panjang pondasi = xx m, maka diperoleh volume galian = xxx m3. Pekerjaan urugan tanah dan pasir; Urugan tanah dimaksud adalah urugan tanah setelah pembangunan pondasi selesai, sedangkan urugan pasir adalah pasir untuk kebutuhan lantai kerja atau pasir yang direncakana untuk urugan, tergantung perencanaan, apakah pondasi setelah selesai dipasang akan di urug dengan tanah atau pasir. Dengan memperoleh ;



lebar urugan = xx m, tinggi urugan = xx m, panjang



pondasi = xx m, maka volume urugan = xxx m3.



192



Pekerjaan batu kosong (anstamping); Pekerjaan ini yaitu pemasangan batu kosong setelah lapisan pasir, dimana setelah lapisan aanstamping, diatasnya adalah lapisan pasangan batu kali. Dengan memperoleh; lebar pasangan batu kosong = xx m, tinggi batu kosong = xx m, panjang pondasi = xx m, maka volume batu kosong = xxx m3. Pekerjaan batu kali; Pekerjaan batu kali adalah pemasangann batu kali sebagai pondasi batu kali menerus, artinya pasangan batu kali dipasanga sepanjang bangunan yang akan dibangun. Untuk pondasi batu kali disusun



dengan



menggunakan



adukan



yang



telah



direncanakan



sebelumnya, contoh campuran adukan adalah; 1PC:3 Psr atau 1PC:4Psr atau 1PC: 5. Dengan perencanaan dimensi pondasi batu kali, diperoleh; lebar atas = xx m, lebar bawah = xx m, tinggi batu kali = xx m, panjang pondasi = xx m, maka volume batu kali = xxx m3. Pekerjaan urugan kembali; Seperti di jelaskan di atas, bahwa pekerjaan urugan kembali, dapat dilakukan dengan tanah atau dengan pasir urug, tergantung perencanaan. Dengan perencanaan dimensi urguan, diperoleh; volumenya = 1/3 x pekerjaan galian tanah = xxx m3 Untuk memperoleh harga atau biaya pembangunan pondasi tersebut, dapat dihitung



setelah mendapat volume, kemudian dikalikan dengan



harga satuan per m3 nya, hasilnya, itulah biaya yang dibutuhkan untuk masing2 pekerjaan.



Contoh perhitungan volume bahan pondasi



193







Volume



pondasi



per



meter



=



(0,25+0,5)/2x0,6x1=0,225



m3



Jika panjang total pondasi adalah 10 meter, maka kebutuhan totalnya 



adalah: 0,225x10=2,25 m3. Bahan batu Kali = Koefisien batu kali x voleme = 1,2 x 225 = 2,70 m3







(koefisien diperoleh dengan asumsi 5%). Semen (PC) = Koef x Volume = 136 kg x volume = 136 kg x 225 = 306 kg







atau setara dengan 306/40 zak = 7,65 zak semen Pasir = Koef x Volume = 0, 544 x225 = 1, 224 m3



194



GLOSSARY



Air bersih, adalah air dingin atau Panas untuk keperluan minum, mandi, cuci dll. Air kotor, adalah air sisa, air limbah, air hujan dan air limbah khusus Air panas adalah air bersih yang dipanaskan dengan alat tertentu dan digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Pathogen, adalah membahayakan bagi kesehatan manusia Utilitas adalah sarana penunjang untuk membantu melaksanakan sesuatu, agar memenuhi standar atau kemudahan dalam penggunaannya. Sistem penyediaan air bersih dengan sumber air secara individu, air dari sumber air yang ada didalam tanah melalui sumur diangkat kepermukaan tanah dengan menggunakan timba atau pompa, lalu air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-har Sistem Plambing, adalah tentang perpipaan sistem penyediaan air minum, sistem pembuangan air kotor, dan perpipaan sistem pembuangan air hujan. Sestim Vertikal, adalah sistem pengaliran/distribusi air bersih dengan sistem pengaturan beda tinggi yang banyak digunakan pada bangunanbangunan bertingkat tinggi. Sistem sambungan langsung pipa distribusi dalam gedung langsung dengan pipa utama penyediaan air bersih sepeti pipa utama dibawah jalan dari perusahaan air bersih, atau sistem air bersih dalam komplek perumahan



195



A. Pendahuluan Utilitas adalah sarana penunjang untuk membantu melaksanakan sesuatu, agar memenuhi standar atau kemudahan dalam penggunaannya. Bila diambil suatu contoh bangunan, seperti sanitasi merupakan salah satu sarana yang harus disediakan dalam suatu bangunan atau gedung, supaya dapat terpenuhi syarat kesehatan pengguna bangunan atau gedung tersebut. Instalasi adalah suatu utilitas yang ada dalam suatu bangunan atau gedung untuk memfasilitasi kebutuhan pada gedung atau bangunan tersebut. Utilitas Bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan. Dalam bangunan gedung, beberapa utilitas yang dikenal antara lain, yaitu; 1) Sistem plambing dan kelengkapan sanitasi. 2) Alat pemadam/ pencegahan kebakaran 3) Sistem sirkulasi udara 4) Sistem penerangan 5) Sistem keamanan dan CCTV 6) Sistem Audio/akustik 7) Sistem pengolahan limbah 8) Sistem mobilisasi dan perparkiran 9) Sistem telekomunikasi 10) Sistem penangkal petir 11) Dan lain sebagainya Setiap bangunan, sistem utilitasnya tentu tidak sama, baik itu standar minimal ataupun standar ideal yang dibutuhkan. Namanya juga bagian penunjang, kebutuhan kamar mandi rumah di desa, dibandingkan dengan rumah di kota atau gedung yang menjulang tinggi tentu berbeda. Sebagai contoh, perancangan gedung tinggi, dalam pembangunan gedung setinggi 100 meter, tentu dibutuhkan teknologi yang canggih untuk mendukung utilitas bangunan. Dalam pembangunan gedung tinggi tentunya dibutuhkan teknologi yang tinggi juga untuk mendukung menciptakan kenyamanan bagi pengguna. Kebutuhan akan lift untuk tangga naik, menjadi kebtuhan standar dalam gedung pencakar 196



langit, sementara gedung ruko tiga lantai cukup dengan tangga manual dari beton. Itulah salah satu perbandingan utilitas yang menjadi standar suau bangunan. Sebagai ulasan kita, pada sistem utilitas bangunan kita ambil contoh adalah sistem plambing, tentu dalam perencanaan bangunan sistem ini sudah harus direncanakan



matang.



Pekerjaan



plambing



dapat



pekerjaannya berdasarkan pengertian plumbing, yaitu



diidentifikasikan Sistem



Plambing



suatu bangunan gedung adalah tentang perpipaan sistem penyediaan air minum,



perpipaan



sistem pembuangan air kotor, dan perpipaan sistem



pembuangan air hujan. Sehingga bidang kegiatan pekerjaan yang termasuk dalam



ruang lingkup plambing diantaranya adalah sistem penyediaan air



bersih, sistem pembuangan



air kotor, dan sistem pembuangan air hujan



didalam bangunan gedung. Karena plambing merupakan bagian dari utilitas bangunan, maka tujuan penempatan plambing



dalam



suatu



bangunan



gedung juga, agar penghuni bangunan gedung tersebut merasa aman, nyaman, dan sehat B. Sistem Plumbing Air bersih Sistem



perancangan plambing adalah



suatu sistem penyedian atau



pengeluaran air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa ada gangguan atau pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air. Sistem plambing yang baik bergantung pada sistem plambing pemipaan plambing yang baik pula. Selain pemipaan plambing, terdapat hubungan yang erat juga antara masalah penyediaan air dan sanitasi, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan beberapa aspek berikut; Kesehatan, penggunaan air, dan pengolahan dan pembuangan limbah. Dalam perancangan sistem plambing, dibutuhkan berbagai peralatan plambing yang meliputi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam suatu bangunan, seperti rumah, toko, dan gedung-gedung sarana umum. Pada perencanaan plambing pada bangunan tersebut, dibutuhkan alat plambing, 197



guna mendukung operasional gedung sesuai fungsinya. Alat plambing adalah semua peralatan yang dipasang di dalam ataupun di luar gedung, untuk menyediakan air (memasukan) air panas atau air dingin, dan untuk menerima (mengeluarkan) air buangan, atau secara singkat dapat dikatakan semua peralatan yang dipasang pada ujung akhir pipa, untuk memasukkan air, dan ujung awal pipa, untuk membuang air. Peralatan tersebut terdiri dari antara lain, yaitu; a) Peralatan untuk penyedian air bersih, b) Peralatan untuk penyedian air panas, c) Peralatan untuk pembuangan air kotor, dan d) Peralatan lainnya yang ada hubungannya terhadap perencanaan pemipaan plambing.



Gambar 15-1 : Pendistribusian Air Bersih di Desa Beberapa syarat-syarat dan mutu bahan bangunan untu peralatan plambing, antara lain, yaitu; 1) Tidak menimbulkan bahaya kesehatan 2) Tidak menimbulkan gannguan suara 3) Tidak menimbulkan radiasi 4) Tidak merusak perlengkapan bangunan 198



5) Instalasi harus kuat dan bersih Kemudian mutu bahannya harus memenuhi syarat sebagai berikut; 1) Daya tahan harus lama minimal 30 tahun 2) Permukaan harus halus dan tahan air 3) Tidakk ada bagian-bagian yan tersembunyi/menyimpan kotoran pada bahan-bahan yang dimaksud 4) Bebas dari kerusakan baik mekanis maupun yang lain 5) Mudah memeliharanya 6) Memenuhi peraturan-peraturan yang berlaku



Gambar 15-2: Pendistribusian Air Bersih Model PDAM Sistem



plambing



adalah



sistem



penyediaan



air



bersih



dan



sistem



pembuangan air kotor yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang memenuhi syarat, yang berupa peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan, standar tentang peralatan dan instalasinya. Sistem plambing yang baik bergantung pada sistem plambing pemipaan plambing yang baik pula. Selain pemipaan plambing, terdapat hubungan yang erat juga antara 199



masalah penyediaan air dan sanitasi, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan



beberapa



aspek



berikut;



Kesehatan,



Penggunaan



air,



dan



Pengolahan dan pembuangan limbah. Dalam perencanaan pelambing, perlu diperhatikan bahan atau alat plambing. Pipa PVC dan pipa tembaga (untuk air panasa). Ukuran yang sering digunakan mulai dari diameter ½” sampai dengan 2” sampai dengan 6” untuk bangunan tinggi. Alat-alat plambing yang merupakan permulaan dari sistem pembuangan dari instalasi dapat berupa : Kran, kloset, wastafel (lavatory), urinoir, bidet, beth tub, shower. Sistem plambing merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaan dan pembangunan gedung. Oleh karena itu, perencanaan dan perancangan sistem plambing haruslah dilakukan secara bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan dan perancangan gedung itu sendiri, dengan memperhatikan secara seksama hubungannya dengan bagian-bagian kontruksi gedung serta dengan peralatan lainnya yang ada. Pada jenis penggunaan sistem plambing sangat tergantung pada kebutuhan dari bangunan itu sendiri, tentu .perencanaan dan perancangan sistem plambing komplit pada persediaan air, saluran dan sistem pendistribusian.



1. Peralatan Plambing Istilah “alat plambing” digunakan untuk semua peralatan yang dipasang di dalam ataupun di luar gedung, untuk



menyediakan air (memasukan) air



panas atau air dingin, dan untuk menerima (mengeluarkan) air buangan, atau secara singkat dapat dikatakan semua peralatan yang dipasang pada Ujung akhir pipa,untuk memasukkan air, dan Ujung awal pipa, untuk membuang air. Bahan yang dianjurkan sebagai alat plambing harus memenuhi syarat-syarat berikut : 1) 2) 3) 4) 5)



Tidak menyerap air (atau, sedikit sekali) Mudah dibersihkan Tidak berkarat dan tidak mudah aus Relatif mudah dibuat Mudah dipasang



200



Bahan yang banyak digunakan adalah porselen, besi atau baja yang dilapis, berbagai jenis plastik, dan baja tahan karat. Untuk bagian alat plambing yang tidak atau jarang terkena air, ada juga digunakan bahan kayu. Alat plambing yang tergolong “mewah” menggunakan juga marmer kualitas tinggi. Bahan lain yang ada pada masa sekarang mulai banyak digunakan, terutama untuk bak mandi (bath tub) adalah FRP atau resin polyester yang diperkuat dengan anyaman serat gelas. Peralatan Saniter; Peralatan saniter pada gedung yang hanya menggunakan air bersih adalah bak cuci tangan, janitor, bak cuci piring (pantry), dan pancuran mandi, peralatan saniter umumnya dibuat dari bahan porselen atau keramik. Bahan ini sangat popular karena biaya pembuatannya cukup murah, dan ditinjau dari segi sanitasi sangat baik. Bahan lain yang cukup banyak digunakan di Indonesia adalah “teraso”, walaupun untuk membersihkan lebih sulit dari pada bahan porselen.



Gambar 15-3: Peralatan Km/Sanitair Beberapa jenis peralatan saniter yang menggunakan air bersih pada bangunan, sebagai berikut : 1) Bak cuci tangan; Pada gedung, bak cuci tangan meliputi bak cuci tangan kecil dan bak cuci tangan. Bak cuci tangan kecil ialah tempat untuk menyuci tangan (wastafel), sedangkan bak cuci tangan pada gedung ini ialah tempat yang digunakan untuk mengambil air berwudhu, dimana pemakaian air bersih pada bak cuci tangan ini terlalu banyak.



201



2) Janitor; Janitor adalah tempat pencucian (pembersihan) kain pel dan biasanya juga dipakai untuk menyuci pakaian (laundry), tapi pada gedung ini janitor hanya digunakan untuk tempat pencucian kain pel saja. 3) Bak cuci piring (pantry); Bak cuci piring (pantry) ini adalah tempat pencuci piring untuk para penghuni gedung. Pancuran Mandi; Pancuran mandi yang disambung dengan pipa fleksibel (hand shower) sekarang ini makin banyak digunakan,di samping pancuran yang dipasang tetap pada dinding. Pancuran mandi semacam ini memberikan keleluasaan lebih dalam penggunaannya untuk mandi, tetapi dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan kemungkinan aliran balik. Hal ini bisa terjadi kalau misalnya katup pancuran tersebut dalam keadaan terbuka sedang kepala pancurannya, ketika katup pancuran tersebut terbenam dalam bak mandi (bath tub).



Gambar 15-4 : Distribusi Air Melalui Shower Apabila dalam pipa air bersih ke pancuran terjadi tekanan negative, air bekas yang di dalam bak mandi dapat tersedot balik ke dalam pipa dan mencemari air bersih dalam pipa. Untuk mencegah hal ini, seharusnya dipasang pemecah vakum untuk menghindarkan aliran balik. Pemecah vakum tersebut dapat dipasang dalam sistem pipa atau sambungan pipa dengan pipa fleksibel yang menghubungkan kepala pancuran. Di dalam kamar mandi di mana ada bak mandi dengan pancuran seperti ini dan juga ada bak pencuci tangan, bibir taraf banjir bak cuci tangan akan lebih tinggi dari bibir taraf banjir bak mandi. Untuk mencegah pencemaran air dalam pipa ke bak cuci tangan akibat aliran 202



balik dari bak mandi melalui kepala pancuran, sebaiknya pemecah vakum dipasang pada tempat yang letaknya sekurang-kurangnya 15 cm di atas bidang bibir taraf banjir dari alat plumbing tertinggi yang berada dalam ruang kamar mandi tersebut.



Gambar 15-5: Peralatan Sanitair Dalam Bangunan 2. Sistem Pemipaan Plambing Plambing didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pemasangan pipa dengan peralatannya di dalam gedung atau gedung yang berdekatan yang bersangkutan dengan air bersih dan air buangan yang dhubungkan dengan sistem saluran kota. Adapun fungsi dari sistem instalasi plambing adalah; a) Menyediakan air bersih ke tempattempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup, b) Membuang air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian penting lainnya. Sistem plambing



merupakan



bagian



yang



tidak



dapat



dipisahkan



dalam



pembangunan gedung. Oleh karena itu, perencanaan dan perancangan sistem plambing haruslah dilakukan bersamaan dan sesuai dengan tahapantahapan perencanaan dan perancangan gedung itu sendiri, dengan memperhatikan



secara



seksama



hubungannya



dengan



bagian-bagian



kontruksi gedung serta dengan peralatan lainnya yang ada dalam gedung tersebut. Pada jenis penggunaan sistem plambing ini sangat tergantung pada



203



kebutuhan dari bangunan yang bersangkutan. Dalam hal ini, perencanaan dan perancangan sistem plambing dibatasi pada pendistribusian dan penyediaan air bersih. Instalasi pipa pada bangunan tinggi digunakan untuk mengalirkan air bersih (panas dan dingin), air es untuk keperluan tata udara, air untuk keperluan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, pembuangan air kotor , air buangan air hujan dan air limbah. Jenis pipa digunakan juga beragam jenisnya: air bersih dialirkan melalui pipa besi (steel pipe atau black pipe), pipa galvanis , pipa PVC atau pipa tembaga (copper pipe). Pipa yang digunakan untuk pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran ( hidran dan spinkler), dituntut untuk mampu menahan beban tertentu. Jaringan pipa diatur menurut arah vertikal ( riser, down feed, atau stand feed) yang disembunyikan dalam saluran didalam tembok, sedangkan pada arah horizontal biasanya diletakkan diatas langit-langit atau dilantai instalasi Sistem pemipaan plambing menurut cara pengaliran airnya, adalah cara untuk mengalirkan air dan ketempat yang memerlukan. Ada dua cara pengaturan air yaitu; 1) sistem horizontal 2) sistem Vertikal. Sistem horizontal, adalah suatu sistem pemipaan plambing yang banyak digunakan untuk mengalirka kebutuhan air pada suatu kompleks perumahan atau rumah-rumah tinggal yang tidak bertingkat Ada dua cara yang dipakai untuk sistem pemipaan plambing horizontal yaitu sebagai berikut; a) Pemipaan plambing yang menuju ke satu titik akhir Keuntungan pemipaan plambing ini adalah pemakaian bahan yang lebih efesien, dan kerugiannnya adalah daya pancar pada titik kran air tidak sama, semakin jauh semakin kecil daya pancarnya; b) Pemipaan plambing yang melingkar/membentuk ring Pemipaan plambing ini menuntut penggunaan bahan pipa yang banyak, padahal kekuatan daya pancar air kesemua titik-titik akan menghasilkan air yang sama



204



Sestim Vertikal, adalah sistem pengaliran/distribusi air bersih dengan sistem pengaturan beda tinggi yang banyak digunakan pada bangunan-bangunan bertingkat tinggi. Cara pendistribusiannya adalah dengan menampung lebih dulu pada tangki air (ground reservoir) yang terbuat dari beton dengan kapasitas sesuai dengan kebutuhan air pada bangunan tersebut. Kemudian air dialirkan dengan menggunakan pompa untuk langsung ke titik-titik kran yang diperlukan. Sistem ini lebih menguntungkan pada penggunaan pipa, tetapi sering mengalami kesulitan kalau sumber tenaga untuk pompa mengalami pemadaman. Cara lain dengan menggunakan pompa untuk diteruskan pada tangki di atas bangunan. Kemudian dari tangki dialirkan ke tempat-tempat



yang



memerlukan,



dengan



menggunakan



sistem



gravitasi/diturunkan secara lansung. 3. Sistem Plambing Air bersih Berbicara tentang sistem plambing, tidak terlepas dari pembicaraan masalah air, baik itu air bersih, air kotor mapun air sebagai sumber kesehatan dan juga air sebagai sumber penyakit. Air adalah unsur penting yang sangat berperan dalam semua kehidupan, termasuk kehidupan manusia, di dalam air itu terdapat berbagai mineral dan unsur kimia, seperti Ca, Fe, F, J, dan lainlain yang diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk menjaga kesehatan manusia. Selain dari pada itu air juga merupakan tempat hidup binatang– binatang air, mulai dari ikan sampai mikroorganisme. Mikroorganisme yang hidup di dalam air sangat bermacam–macam, ada yang pathogen (membahayakan bagi kesehatan manusia) dan ada yang tidak pathogen. Oleh karena itu, air disamping sebagai kebutuhan hidup juga sebagai media penularan penyakit. Disamping air sebagai media penularan penyakit perut, air pun merupakan pelarut yang sangat baik. Oleh karena itu di dalam air banyak dijumpai zat-zat kimia atau



mineral-mineral. Zat kimia dan



mineral-mineral itu kadar di dalam air tergantung dari daerah yang di laluinya. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2005, tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pasal 1 ayat 2. Air bersih adalah air bersih rumah 205



tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat-syarat kualitas air bersih adalah : 1) Syarat fisik; jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan sejuk (temperatur dibawah suhu kamar). 2) Syarat kimiawi; air mengandung zat-zat kimia atau mineral-mineral dalam kadar tertentu. 3) Syarat bakteriologi; air tidak boleh mengandung bakteri-bakteri pathogen. Dengan demikian bahwa air bersih bisa didefinisikan sebagai berikut : “Air bersih adalah air yang telah memenuhi syarat kualitas air bersih syarat fisik, kimiawi dan bakteriologi. Agar air itu bisa digunakan oleh manusia secara aman



(tidak mengganggu/ membahayakan kesehatan), maka organisme-



organisme, bahan-bahan kimia dan mineral-mineral tadi keberadaannya harus pada batas-batas tertentu, dengan kata lain air tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, syarat ini dinamakan syarat kualitas air bersih. Didalam bangunan gedung air bersih digunakan untuk berbagai keperluan yang menunjang kegiatan penghuninya, diantaranya adalah: keperluan untuk memasak, mandi, minum,



mencuci,



penggelontor



kakus,



menyiram



tanaman, kolam renang, dan lain sebagainya. Air menurut kebutuhannya dapat dibagi menjadi: air bersih (dingin atau Panas), air kotor (air sisa, air limbah, air hujan dan air limbah khusus). Kebutuhan air dalam bangunan artinya air yang dipergunakan baik oleh penghuninya ataupun oleh keperluan-keperluan lain yang ada kaitannya dengan fasilitas bangunan.Kebutuhan air di dalam gedung, rumah, kantor, apartemen, hotel dan lain sebagainya, kebutuhan didasarkan atas, antara lain yaitu; a) Kebutuhan untuk minum, memasak/dimasak. Untuk keperluan mandi, buang air kecil dan air besar. Untuk mencuci, cuci pakaian, cuci badan, tangan, cuci perlatan dan untuk proses seperti industry; b) Kebutuhan yang sifatnya sirkulasi: air panas, water cooling/AC, kolam renang, air mancur taman, dan kebutuhan untuk air taman, hidran dan lain sebaginya. Kebutuhan air terhadap bangunan tergantung fungsi kegunaan bangunan dan jumlah penghuninya. Besar kebutuhan air khususnya untuk kebutuhan manusia



206



dihitung rata-rata perorang per hari tergantung dari jenis bangunan yang digunakan untuk kegiatan manusia tersebut. Air bersih yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plambing air bersih, harus memenuhi syarat kuantitas air bersih, yaitu kapasitas air bersih harus mencukupi berbagai kebutuhan air bersih bangunan gedung tersebut. Untuk menghitung besarnya kebutuhan air bersih dalam bangunan



gedung didasarkan pada pendekatan sebagai berikut; Jumlah



penghuni gedung, baik yang permanen maupun yang tidak permanen. Unit beban alat plambing



Luas lantai bangunan Perhitungan



kebutuhan



air



berdasarkan luas lantai banguan hanya digunakan untuk menentukan kebutuhan air pada waktu pra rancangan, tidak untuk bangunan gedung yang



sudah



selesai



rancangannya.



Perhitungan



berdasarkan



jumlah



penghuni, dipakai untuk bangunan gedung rumah tinggal. Sebagai Contoh menghitung kebutuhan air dalam rumah tinggal, kita hitung dengan cara sebagai berikut;



1) Kebutuhan air bersih rumah tinggal sederhana: Menentukan banyaknya kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal sederhana dengan jumlah penghuni sebanyak 5 jiwa. Asumsikan kebutuhan air sebesar 100 l/jiwa/hari. Kebutuhan air sebesar : 5 jiwa X 100 l/jiwa/hari = 500 l/hari. 2) Kebutuhan



air



bersih



rumah



tinggal



mewah:



Menentukan



banyaknya kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal mewah dengan jumlah penghuni sebanyak 8 jiwa. Asumsikan kebutuhan air sebesar 250 l/jiwa/hari. Kebutuhan air sebesar : 8 jiwa X 250 l/jiwa/hari = 2.000 l/hari. Tabel : Kebutuhan air menurut tipe bangunan Jenis Bangunan



Liter/ hari



Sekolahan Sekolahan+Kafetaria Apartemen Kantor Taman Umum



57 95 133 57-125 19 207



Taman dan shower Kolam renang Apartemen mewah Rumah susun Hotel Pabrik Rumah sakit umum Rumah perawat Restoran Dapur hotel Motel Drive in Pertokoan Servis station Airprt Gereja Rumah tinggal



38 38 570/unit 152/unit 380/kamar 95 570/unit 285/unit 95 38 190/tmpt tidur 19/mobil 38 11-19/penumpang 19-26/tmpt duduk 150-285



4. Sistem Penyediaan Air Bersih Sisem penyediaan air bersih, tentu sangat erat kaitannya dengan sumber air itu sendiri, sumber air untuk sistem penyedian air bersih suatu bangunan gedung ada dua macam yaitu secara individu dan secara kolektif. Secara individu adalah sistem penyediaan air bersih yang sumber airnya diambil secara perorangan atau rumah tangga/bangunan. Secara kolektif sistem penyediaan air bersih yang sumber airnya diambil sama



atau



perusahaan,



kolektif yang



yang pada



diselenggarakan umumnya



badan



adalah



secara bersama-



oleh suatu



badan



atau perusahaan



menyelenggarakannya adalah Perusahaan Daerah Air bersih



atau yang



(PDAM),



namun kini beberpa perumahan elah membuat sumber air kolektif yang dikelola oleh depeloper atau tim yang ada dalam perumahan. Sistem yang digunakan untuk mendistribusikan airnya menggunakan sarana perpipaan, oleh karena itu sistem ini juga



disebut penyediaan



air bersih sistem



perpipaan. Penjelasan sistem penyediaan air bersih dengan sumber air secara individu, air dari sumber air yang ada didalam tanah melalui sumur



diangkat



kepermukaan tanah dengan menggunakan timba atau pompa, lalu air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ada juga air dari sumber air 208



yang ada didalam tanah melalui sumur di pompa



langsung ke alat-alat



plambing atau di pompa ke menara air, lalu air dari menara air dialirkan secara gravitasi ke alat-alat plambing.



Ada juga yang menggunakan



sumber air dari mata air atau dari air permukaan seperti sungai atau kolam. Kemudian penjelasan sistem penyediaan air bersih dengan sumber air secara kolektif adalah air dari sumber air seperti air tanah tertekan, mata air, atau air permukaan di alirkan melalui saluran transmisi (saluran pembawa) air, baik secara gravitasi maupun secara pemompaan ke bangunan atau unit pengolahan air bersih belum



memenuhi



untuk diolah agar supaya air dari sumber air yang



syarat



kualitas air bersih



menjadi memenuhi syarat



kualitas air minum. Air bersih dari unit pengolahan air bersihdialirkan melalui pipa transmisi (pipa pembawa) air bersih pemompaan



ke



reservoir.



secara



Air bersih dari reservoir



gravitasi



didistribusikan



atau ke



konsumen atau pemakai melalui pipa atau jaringan pipa distribusi (pipa atau jaringan pipa pembagi) secara gravitasi atau secara pemompaan atau gabungan



pemompaan



dan



gravitasi. Tekanan air pada pipa distribusi,



maksimal 40 meter kolom air (mka), dan pada ujung pipa distribusi minimal 10 meter kolom air. Dari pipa distribusi air dialirkan ke bangunan gedung, bisa secara langsung keperalatan plambing, bisa juga secara tidak langsung (menggunakan menara air).



Air dari sistem penyediaan air bersih kota



(PDAM) pada umumnya kualitasnya sudah memenuhi persyaratan kualitas air bersih, kalau air dari sumber air individu, ada yang sudah memenuhi syarat kualitas air bersih ada juga yang belum memenuhi. Kalau belum memenuhi syarat kualitas air bersih, maka air tersebut harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan air minum, sebelum masuk ke dalam sistem plambing bangunan gedung. Sistem penyediaan air bersih yang banyak digunakan dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1) Sistem sambungan langsung 2) Sistem tangki atap 3) Sistem tangki tekan 4) Sistem tanpa tangki (booster system)



209



Gambar 15-6: Sistem Sambungan Langsung Dalam sistem sambungan langsung pipa distribusi dalam gedung langsung dengan pipa utama penyediaan air bersih sepeti pipa utama dibawah jalan dari perusahaan air bersih, atau sistem air bersih dalam komplek perumahan. Karena terbatasnya tekanan dalam pipa utama dan dibatasinya ukuran pipa, cabang dari pipa utama tersebut, maka sistem ini terutama dapat diterapkan untuk perumahan dan gedung-gedung kecil dan rendah. Ukuran pipa cabang biasnya diatur/ditetapkan oleh perusahaan atau pengelola air bersih setempat.



Gambar 15-7: Sistem Tangki Atap dan Tekan Sistem tangki atap, dalam sistem ini, air ditampung lebih dahulu dalam tangki bawah yaitu dipasang pada lantai terendah bangunan atau dibawah muka 210



tanah, kemudian dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang diatas atap atau diatas lantai tertinggi bangunan. Kemudian tangki atap ini diterapkan dengan kondisi-kondisi seperti; Selama air digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat plambing hanyalah akibat muka air dalam tangki atap, dan



sistem pompa yang dinaikkan air tangki atap bekerja



otomatis dengan cara yang sangat sederhana sehingga kecil sekali kemungkinan timbulnya kesulitan. Pompa biasanya dijalankan dan dimatikan oleh alat yang mendeteksi muka dalam tangki atap. Perawatan tangki atap sangat sederhana jika dibandingkan dengan tangki tekan. Untuk bangunanbangunan yang cukup besar, sebaiknya disediakan pompa cadangan untuk menaikkan air ke tangki atap. Pompa cadangan ini dalam keadaan normal biasanya dijalankan bergantian dengan pompa utama, untuk menjaga agar kalau ada kerusakan atau kesulitan maka dapat segera diketahui. Apabila tekanan air dalam pipa utama cukup besar, air dapat langsung dialirkan ke dalam tangki atap tanpa disimpan dalam tangki bawah dan dipompa. Dalam keadaan demikian ketinggian lantai atas yang dapat dilayani akan tergantung pada besarnya tekanan air dalam pipa utama. Sistem tangki tekan diterapkan dalam keadaan dimana suatu kondisi tidak dapat digunakan sistem sambungan langsung. Prinsip kerja sistem ini adalah sebagai berikut : Air yang telah ditampung dalam tangki bawah, dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki) tertutup sehingga udara di dalamnya terkompresi. Air dalam tangki tersebut dialirkan ke dalam suatu distribusi bangunan. Pompa bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor tekanan, yang menutup / membuka saklar motor listrik penggerak pompa. Pompa berhenti bekerja kalau tekanan tangki telah mencapai suatu batas minimum yang ditetapkan, daerah fluktuasi tekanan ini biasanya ditetapkan antara 1,0 sampai 1,5 kg / cm2. Daerah yang makin lebar biasanya baik bagi pompa karena memberikan waktu lebih lama untuk berhenti, tetapi seringkali menimbulkan efek yang negatif padaperalatan plambing. Dalam sistem ini udara yang terkompresi akan menekan air ke dalam sistem distribusi dan setelah berulang kali mengembang dan terkompresi lama kelamaan akan berkurang, karena larut dalam air atau ikut terbawa keluar tangki. Sistem tangki tekan biasanya dirancang agar volume udara tidak lebih 211



dari 30% terhadap volume tangki dan 70% volume tangki berisi air. Bila mulamula seluruh tangki berisi udara pada tekanan atmosfer, dan bila fluktuasi tekanan antara 1,0 sampai dengan 1,5 kg/cm2, maka sebenarnya volume efektif air yang mengalir hanyalah sekitar 10% dari volume tangki. Untuk melayani kebutuhan air yang besar maka akan diperlukan tangki tekan yang besar. Untuk mengatasi hal ini maka tekanan awal udara dalam tangki dibuat lebih besar dari tekanan atmosfer (dengan memasukkan udara kempa ke dalam tangki). Kelebihan sistem tangki tekan yaitu; 1) Lebih menguntungkan dari segi estetika karena tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan tangki atap. 2) Mudah perawatannya karena dapat dipasang dalam ruang mesin bersama pompa-pompa lainya. 3) Harga awal lebih rendah dibandingkan dengan tangki yang harus dipasang di atas menara. Sedangkan kekurangannya yaitu : 1) Daerah



fluktuasi



tekanan



sebesar



1,0



kg/cm2



sangat



besar



dibandingkan dengan sistem tangki atap yang hampir tidak ada fluktuasinya. Fluktuasi yang besar ini dapat menimbulkan fluktuasi aliran air yang cukup berarti pada alat plambing, dan pada alat pemanas gas dapat menghasilkan air dengan temperatur yang berubah-ubah. 2) Dengan berkurangnya udara dalam tangki tekan, maka setiap beberapa hari sekali harus ditambahkan udara kempa dengan kompresor atau dengan menguras seluruh air dalam tangki tekan. 3) Sistem tangki tekan dapat dianggap sebagai suatu sistem pengaturan otomatik pompa penyediaan air saja dan bukan sebagai sistem penyimpanan air seperti tangki atap. 4) Karena jumlah air yang efektif tersimpan dalam tangki tekan relatif sedikit, maka pompa akan sering bekerja sehingga menyebabkan keausan pada saklar yang lebih cepat. Variasi yang ada pada sistem tangki tekan antara lain :



1) Sistem Hydrocel Sistem ini menggunakan alat yang dinamakan “Hydrocel” ciptaan Jacuzzi Brothers Inc. Sebuah perusahaan di Amerika Serikat sekitar 20 tahun yang lalu, sebagai penganti 212



udara dalam tangki tekan. Sistem ini mengunakan tabungtabung berisi udara dibuat dari bahan karet khusus, yang akan mengkerut dan mengembang sesuai dengan tekanan air dalam tangki. Dengan demikian akan mencegah kontak langsung antara udara dengan air sehingga selama pemakaian sistem ini tidak perlu ditambah udara setiap kali. 2) Kelemahannya hanyalah bahwa volume air yang tersimpan relatif sedikit. 3) Sistem Tangki Tekan dengan Diafram Tangki tekan pada sistem ini dilengkapi dengan diafram yang dibuat dari bahan karet khusus, untuk memisahkan udara dengan air. Dengan demikian akan menghilangkan kelemahan tangki tekan sehubungan dengan perlunya pengisian udara secara periodik. Sistem Tanpa Tangki (Booster System), Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun, baik tangki bawah, tangki tekan, ataupun tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan pompa penghisap air langsung dari pipa utama (misalnya pipa utama perusahaan air minum). Di Eropa dan Amerika Serikat cara ini dapat dilakukan kalau pipa masuk pompa diameternya 100 mm atau kurang. Sistem ini sebenarnya dilarang di Indonesia, baik oleh Perusahaan Air Minum maupun pada pipa-pipa utama dalam pemukiman khusus (tidak untuk umum).



Sistem ini terdapat dua sistem dikaitkan dengan kecepatan pompa, yaitu : 1) Sistem kecepatan putaran pompa konstan, Pompa utama selalu bekerja sedangkan pompa lain akan bekerja secara otomatik yang diatur oleh tekanan. 2) Sistem kecepatan putaran pompa variabel, Sistem ini untuk mengubah kecepatan atau laju aliran diatur dengan mengubah kecepatan putaran pompa secara otomatik. Sistem kecepatan putaran pompa variabel mempunyai keuntungan/ kerugiannya antara lain:   



Mengurangi tingkat pencemaran air karena tidak menggunakan tangki, Mengurangi terjadinya karat karena tidak kontak udara langsung, Beban struktur semakin ringan karena tidak ada tangki atas, 213



  



Biaya pemakaian daya listrik besar, Penyediaan air bersih tergantung pada sumberdayanya, Investasi awal besar.



5. Air Panas Air panas adalah air bersih yang dipanaskan dengan alat tertentu dan digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Sistem air panas ini dapat dipasang



pada



bangunan



perumahan,



perkantoran,



restoran,



hotel,



apartemen, penginapan, rumah sakit dan bangunan umum. Pada daerah yang beriklim sejuk atau dingin air panas dibutuhkan, oleh Karena itu sistem plambing air panas ini menggunakan pipa besi tuang atau tembaga yang dibalut dengan benang-benang asbes sebagai isolator supaya panasnya tidak terbuang. Alat pemanas yang sering digunakan adalah sebagai berikut: 



Pemanas air dengan gas, air mengalir sesaat, dan melewati pipa-pipa yang dipanaskan.







Pemanas air listrik







Pemas air energy surya dimana tabung penyimpan dipasang diatas atap bangunan untuk mendapatkan panas matahari.



Pemanas air dengan menggunakan gas terdapat dua sistem yaitu (a) alat tidak bekerja dan akan menutup secara otomatis katup pengaman yang ada pada mesin pemanas jika air kurang dari minium yang disyaratkan, (b) alat tidak diolengkapi katup pengaman otomatis, jika air kurang dari yang disyaratkan maka mesin pemanas akan mengembang karena panas akhirnya rusak. Gas buang harus dipasang di atas atap 0,6 m. Alat pemanas yang berujud elemen pemanas di masukan dalam air dalam pemanas sehingga akan terjadi perubahan air dari dingin menjadi panas. Bahan pemanas digunakan nikelkrom diselubungi konduktor kalor (oksida magnesium). Air dingin masuk dari bawah dan air panas keluar di bagian atas tangki pemanas. Tekanan uap pada mesin pemanas air biasanya tidak lebih dari 7 kg/cm2 dan jika tekanan yang terjadi sebesar 7 kg/cm2 maka panas air 214



sebesar 100oC., oleh karena itu pencabangan seabiknya menggunakan bahan perunggu/kuningan.



Gambar 15-8 : Model Alat Pemanas Air Tenaga Gas



215



Gambar 15-9 : Model Alat Pemanas Air Tenaga Surya 5.1 Memasang Instalasi pipa air panas Dalam pemasangan pipa instalasi air panas yang perlu diperhatikan adalah sistem perpipaan pada pemanas air ada dua, yaitu : (a) sistem ke atas (up feed ) dan (b) sistem ke bawah (down feed). Sistem ke atas agar dapat 216



melayani air panas pada lantai di atas alat maka perlu digunakan alat pendorong yaitu pompa air. Sedangkan untuk yang ke bawah sistem tersebut berdasarkan gravitasi. Pipa untuk instalasi air panas umumnya menyesuaikan dengan pipa masuk air dingin dari yang sudah ada dan pipa flexsibel pada mesin pemanas air baik inlet maupun outletnya. Alat sambung yang digunakan pada instalasi pemanas air sama dengan instalasi air bersih dingin. Pemanas air sesaat dengan kapasitas kecil umumnyanya langsung dihubungkan dengan alat plambing seperti shower, bak mandi, sink dan alat plambing lainnya. Penyerapan panas pada bahan pipa distribusi sampai dengan pemakai diabaikan. Namun untuk instalasi dengan kapasitas besar dan terpusat, maka penyerapan panas karena bahan instalasi perlu diperhitungkan (misalnya untuk hotel dan pabrik). Instalasi pemanas air untuk rumah tinggal umumnya digunakan kapasitas kecil seperti pemanas dengan bahan listrik gas. Pengisian air pada tangki pemanas dengan menggunakan bak tandon air/ reservoir atas dengan harapan bahwa sistem gravitasi/ sirkulasi alami akan sempurna.



Gambar 15-10 : Instalasi Pemanas air dengan daya listrik 217



C. Sistem Plumbing Air Kotor Air buangan atau air kotor adalah air bekas pakai yang dibuang. Air kotor dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan hasil penggunaannya, seperti; a) Air buangan bekas mencuci, mandi dan lai-lainnya, b) Air Limbah yaitu air untuk memebersihkan limbah/kotoran, c) Air hujan yaitu air yang jatuh ke atas permukaan tanah atau bangunan, dan d) Air limbah khusus yaitu air bekas cucian dari kotoran-kotoran dan alat-alat tertentu seperti air bekas dari rumah sakit laboratorium, restoran dan pabrik. Sistem pembuangan air kotor/air bekas, air bekas yang dimaksud adalah air bekas cucian, air bekas cucian pakain, kendaraan, cucian peralatan masakan dan beberapa macam cucian lainnya. Air limbah adalah air bekas buangan yang bercampur kotoran. Air bekas/air limmbah ini tidak diperbolehkan dibuang sembarangan/dibuang ke seluruh lingkungan tetapi harus ditampung ke dalam bak penampungan. Untuk bangunan rumah tinggal, satu atau dua titik buangan cukup diperlukan septic tank dengan volume 1 – 1,5 m3 dengan dibuat perembesan. Air limbah khusus adalah air bekas buangan dari kebutuhan-kebutuhan khusus , seperti restoran yang besar, pabrik industri kimia, bengkel, rummah sakit dan laboratorium. Air hujan adalah air dari awan yang jatuh dipermukaan tanah. Air tersebut dialirkan kesaluran-saluran tertentu. Air hujan yang jatuh pada rumah tinggal atau komplek perummahan disalurkan melalui talang-talang-talang vertical dengan deameter 3” (minimal) yang diteruskan ke saluran-saluran horizontal dengan kemiringan 0,5-1% dengan jarak terpendek menuju ke saluran terbuka lingkungan. Dalam menghitung besar pipa pembuangan air hujan harus diketahui atap yang menampung air hujan tersebut dalam luasann m2.



1. Pipa Plambing Air Kotor Sistem pipa air kotor, bekas, dan kotoran keluar dari perlengkapan saniter menggunakan pipa tegak agar air buangan dapat mudah berjalan/mengalir oleh adanya gravitasi bumi. Beberapa pipa dari perlengkapan saniter tersebut 218



digabungkan menjadi satu pada pipa vertikal utama. Tetapi untuk sampai ke pipa vertikal utama tersebut tentu dihubungkan dengan pipa horizontal dalam manajemen proyek. Pemasangan pipa terhadap konstruksi perlu diperhatikan. Jangan sampai seluruh konstruksi bangunan sudah selesai dikerjakan tetapi pipa belum terpasang.



Memasang



pipa



yang



dilakukakan



belakangan,



akan



memperlemah konstruksi bangunan. Untuk itu perlu perencanaan yang baik antara perencanaan plumbing dan pemberian perkuatan pada konstruksi bangunan. Seluruh insatalasi pipa harus sudah terpasang dengan benar sebelum pekerjaan pemasangan lanjutan berlangsung. Misalnya pemasangan instalasi pipa pada kamar mandi harus sudah terpasang sebelum keramik dinding terpasang dalam manajemen proyek. Atau juga pemasangan pipa horizontal air hujan harus sudah terpasang sebelum memasang plafon. Pipa yang menembus pondasi, akan memperlemah pondasi, maka pada bagian yang menembus tersebut harus diperkuat oleh tulangan lain. Agar permukaan pipa tidak langsung bersentuhan dengan lubang pada pondasi maka diberi selubung. Pipa mungkin saja mengalami patah pada titik di mana pipa tersebut



bertemu



dengan



elemen



bangunan.



Hal



ini



terjadi



akibat



mengembang dan menyusutnya pipa karena adanya perubahan temperatur. Untuk itu, lubang tempat pipa tersebut, diberi selubung pipa baja. Selubung pipa dapat diterapkan pada instalasi pipa horizontal dan pipa vertikal dalam manajemen proyek Bahan pipa yang umum digunakanuntuk saluran air kotor, adalah dari besi (baja) dengan lapisan galvanis, plastik, pvc, porselin dan dari beton betulang. Ketentuan dan syarat bahan harus memenuhi syarat tidak menyerap air, mudah dibersihkan, tidak berkarat atau mudah aus. Untuk instalasi air kotor dalam bangunan kecuali instalasi air panas biasa digunakan pipa PVC, pipa ini dikenal spesifikasi di pasaran, antara lain; Berdasarkan tipe ketebalan; 1) Type AW Untuk pipa dengan kawalitas yang paling baik ( tebal ) Biasanya digunakan untuk saluran air bersih / air minum yang mempunyai kekuatan tekan yang cukup tinggi. 219



2) Type, Untuk pipa kwalitas sedang dengan tebal medium,



Biasanya



digunakan untuk saluran pembuang, seperti saluran air hujan, saluran pem- buangan bekas cuci / mandi, saluran septictank, dsb. 3) Type



C,



Untuk



pipa



dengan



kwalitas



paling



rendah



(tipis).



Digunakan untuk sparing-sparing listrik yang tertanam dalam dinding. Berdasarkan tipe Ukuran; Ukuran diameter penampang pipa. 1) Untuk saluran air bersih digunakan ukuran 1/2", 3/4", 1", 1,5". 2) Untuk saluran pembuang digunakan ukuran 1", 1,5" 2", 3", 4", 5".



Sistem Instalasi air Kotor, yang perlu diketahui dalam pelaksanaan harus lengkap denah instalasi dan diagram isometris pipa air kotor serta jalur pembuangan. Beberpa pedoman dalam pekerjaaan instalasi sistem perpipaan saluran air kotor, antara lain yaitu; 1) Hindari /jangan terlalu banyak percabangan. 2) Sambungan harus betul-betul rapat. 3) Untuk air bekas (mandi/cuci) harus dibuat Manhole untuk kontrol



pembersihan (bak kontrol) pada tempat-tempat tertentu. 4) Untuk lubang saluran pembuang harus diberi saringan. 5) Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton. ( diatas



plat = 25 cm, dibawah plat = 15 cm ), bagian atas supaya ditekuk atau digepengkan / ditutup dengan cara dipanaskan. 6) Posisi sparing harus sesuai dengan type saniter (jika saniter telah



ditentukan). 7) Jika saniter belum ditentukan , dipakai sistem Block Out. 8) Sparing Clean out harus dipasang bersamaan dengan sparing closet (bila



ada), di mana letak sparing clean out berada di samping atau dekat dengan sparing closet, fungsinya adalah untuk pembersihan apabila closet terjadi penyumbatan. 9) Fan out dipasang bila dalam instalasi saluran kotor banyak percabangan



dengan saluran pembuangannya lewat shaft. Fungsinya untuk mengurangi tekanan udara pada pipa pada saat closet di gelontor dengan air. 10) Floor drain supaya diletakkan jauh dari pintu dan dekat dengan kurasan



bak.



220



2. Sistem Pembuangan Air Kotor Sistem pembuangan air buangan, merupakan sistem instalasi untuk mengalirkan air buangan yang berasal dari peralatan saniter maupun hasil buangan dapur. Sistem Pembuangan Air Buangan dibedakan berdasarkan cara pembuangannya, yaitu; 1) Sistem pembuangan air campuran, yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas dialirkan kedalam satu saluran / pipa. 2) Sistem pembuangan air terpisah, yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas masing-masing dialirkan secara terpisah atau menggunakan pipa yang berlainan. Sistem



Pembuangan



Air



Buangan



dibedakan



berdasarkan



perletakannya: 1) Sistem pembuangan gedung, yaitu sistem pembuangan yang berada didalam gedung. 2) Sistem pembuangan luar, yaitu sistem yang berada diluar gedung, disebut juga riol gedung. Sebelum air buangan dari peralatan saniter maupun dari buangan dapur dibuang ke saluran umum / kota maka harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan Sewage Treatment Plant ( STP ), sehingga memenuhi ambang baku yang dipersyaratkan. Sewage Treatment Plant, berfungsi sebagai pengolah air buangan sehingga memenuhi persyaratan sebagai air buangan rumah tangga ( domestic waste ), yaitu dengan ketentuan; a). Kandungan zat tersuspensi rata-rata dalam waktu 24 jam adalah 20 mg / liter, b). Kebutuhan biologi untuk oksigen ( BOD ) rata-rata dalam waktu 24 jam adalah 20 mg / liter dengan kapasitas maksimum yang diperbolehkan s/d 30 mg / liter. Sistem Instalasi, pembuangan air kotor, kotoran, air hujan, dan air bekas, dibedakan dalam 2 jenis yaitu sistem campuran dan sistem 221



terpisah. Sistem Konstruksi Bangunan campuran, artinya air bekas dan air kotor dikumpulkan dan bersama-sama dibuang menggunakan satu aliran. Sedangkan sistem terpisah,air dikumpulkan sesuai dengan jenisnya dan dialirkan secara terpisah. Air kotor menuju ke septictank sedangkan air bekas dan air hujan menuju riol lingkungan 3. Sistem Pembuangan Air Hujan Air hujan yang dibawa dalam system plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan, kondisi tersebut karena air hujan tidak boleh disalurkan ke dalam system plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akan mengalir ke jalan umum, menyebabkan erosi atau genangan air. Bila terdapat system plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka dianjurkan jangan digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap (penamung smentara) untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari system tersebut. Perangkap yang terpasang harus berukuran minimal sama dengan pipa mendatar yang terpasang bersama. Dan harus dilengkapi dengan pembersih di tiap ujungnya yang terletak di dalam gedung. Pada ujung dimana air masuk, harus dilengkapi dengan penahan kotoran agar system plambing air hujan tidak terganggu. Talang atap (Gutter) dan



talang tegak (leader) air hujan digunakan untuk



menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran, umumnya ke permukaan tanah atau system drainase bawah tanah (underground drain). Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran Talang atap & talang tegak adalah : 1) Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya, untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya.



222



2) Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet, kemiringan atap dan bentuk Talang atap. 1. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari ¾ lebarnya.



Gambar 15-11: Model Sistem pembuangan Air Hujan Talang atap berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. Ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci. Perencanaan pembuanagn air hujan harus sesuai dengan syaat dan ketentuan, seperti; a) Ukuran saluran pembuangan air hujan gedung dan setiap pipa cabang datarnya dengan kemiringan 4 % atau lebih kecil harus didasarkan atas jumlah daerah drainase yang dilayaninya, dan sebaiknya pipa pembuangan air hujan dan cabang-cabang mendatarnya memiliki kemiringan 2 %. Ukuran pipa drainase bawah tanah yang dipasang di bawah lantai atau di sekeliling tembok luar gedung harus minimal ukuran pipa ≥ 4 inci. Kemudian Talang tegak air hujan pada luas atap yang dilayaninya haurs dapat menampung besarnya air hujan yang trurun.



223



Pada SNI 03-7065-2005, tentang tata cara Tata cara perencanaan sistem plambing Pada pasal 7:11 dijelaskan: Gedung harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman atau pekarangan dengan pengerasan di dalam persil ke saluran air hujan kota atau saluran pembuangan campuran kota. Pada daerah yang tidak terdapat saluran tersebut, pengaliran air hujan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Setiap persil berhak menyalurkan air hujan ke saluran air hujan kota Pada pasal 7:12 dijelaskan: Perencanaan pipa air hujan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Pipa air hujan tidak boleh ditempatkan: a) dalam ruang tangga, b) sumuran alat pengangkat, c) dibawah lift atau dibawah beban imbangan lift, d) langsung di atas tangki air minum tanpa tekanan, e) di atas lubang pemeriksaan tangki air minum yang bertekanan, f) di atas lantai yang digunakan untuk pembuatan persiapan pembungkusan penyimpanan atau peragaan makanan 2) Penempatan ujung buntu dilarang pada jaringan air hujan, kecuali bila diperlukan untuk memperpanjang pipa lubang pembersih. 3)



Kemiringan dan perubahan arah pipa air hujan memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1. Pipa air hujan datar yang berukuran sampai dengan 75 mm harus dipasang dengan kemiringan minimal 2% dan untuk pipa yang berukuran lebih besar minimal 1%. Kemiringan yang lebih kecil hanya diperbolehkan apabila secara khusus dibenarkan oleh pejabat yang berwenang. 2. Perubahan arah pipa air hujan harus dibuat Y 45o, belokan jari-jari besar 90o, belokan 60o, 45o, 22,5o atau gabungan belokan tersebut atau gabungan penyambung ekivalen yang dibenarkan kecuali dinyatakan lain dalam SNI 03-6481- 2000 Sistem Plambing. 3. Belokan jari-jari pendek, dan T saniter tunggal atau ganda hanya diijinkan pemasangannya pada pipa air hujan. 224



3) Fitting dan Penyambungan yang dilarang 1.



Ulir



menerus,



sambungan



klem



atau



sadel



tidak



boleh



dipergunakan pada pipa air hujan



D. Utilitas Bangunan Modern Perkembangan perencanaan system utilitas pada saat sekarang ini perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat dalam pendirian suatu bangunan bukan hanya keindahan tampak dan keserasiannya terhadap lingkungan tetapi bagaimana bangunan itu dapat memberikan rasa nyaman, sejuk, dan dapat menjaga kestabilan bangunan dengan lingkungan sosialnya. Selain itu Utilitas juga merupakan salah satu fasilitas umum yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak yang rnernpunyai sifat pelayanan lokal maupun wilayah diluar



bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan,



sehingga yang termaksud dalam pengertian ini diantaranya yaitu Jaringan listrik, Jaringan Telkom, Jaringan air bersih, jaringan drinase, Jaringan distribusi gas dan bahan bakar, dan Jaringan sanitasi lainnya. Namun keamanan bangunan juga perlu diperhatikan terhadap segala bencana yang dapat diakibatkan oleh kurang diperhatikannya perencanaan instalasi yang terdapat didalam bangunan tersebut. Ketersediaan fasilitas dan utilitas yang tidak memadai pada bangunan modern, juga harus ditinjau dari segi keamanan pangan, yakni: berbagai komponen



biologi,



kimia,



fisika



atau



kondisi



makanan



yang



dapat



mempengaruhi kesehatan bangunan modern, seperti pasar, mal, dan gedunggeudng bertingkat. Sistem utilitas pada bangunan merupakan suatu sistem jaringan, penyediaan, pengaturan, pemeliharaan, dan pengamanan terhadap pelaku bangunan (pengguna) dalam pencapaian sebagai wadah aktifitas manusia. Dalam sistem pembangunan tentu ada berbagai aspek yang menjadi faktor utama dalam merancang dan mendesain sebuah bangunan ataupun penataan lingkungan kota sebagai sarana pendukung yang sangat harus diperhatikan apalagi yang sifatnya sebagai bangunan publik atau sarana umum, sehingga dalam hal ini bangunan ataupun penataan lingkungan kota sangat erat kaitannya dengan utilitas, sebab utilitas ini 225



menjelaskan keterkaitan dan hubungan letak suatu bangunan terhadap lingkungan, hubungan lingkungan dengan sarana dan prasarana bangunan yang tersedia, dan hubungan bangunan terhadap aktivitas pengguna sehingga sistem utilitas ini merupakan salahsatu sarana pendukung pada suatu sistem perancangan. Seperti telah dijelaskan pada bagian atas, bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsurunsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan. Dalam bangunan gedung, beberapa utilitas yang dikenal antara lain, yaitu; 1) Sistem plambing dan kelengkapan sanitasi. 2) Alat pemadam/ pencegahan kebakaran 3) Sistem sirkulasi udara 4) Sistem penerangan 5) Sistem keamanan dan CCTV 6) Sistem Audio/akustik 7) Sistem pengolahan limbah 8) Sistem mobilisasi dan perparkiran 9) Sistem telekomunikasi 10) Sistem penangkal petir 11) Dan lain sebagainya Setiap bangunan, sistem utilitasnya tentu tidak sama, baik itu standar minimal ataupun standar ideal yang dibutuhkan. Namanya juga bagian penunjang, kebutuhan kamar mandi rumah di desa, dibandingkan dengan rumah di kota atau gedung yang menjulang tinggi tentu berbeda. Sebuah bangunan modern dan



tinggi adalah bangunan atau struktur tinggi, biasanya, fungsi bangunan



ditambahkan, elevator (lift), kebutuhan teknologi yang tinggi juga untuk mendukung menciptakan kenyamanan bagi pengguna, salah satunya adalah masalah utilitas bangunan.



226



1.



Perancangan Plambing dan Sanitasi Bangunan Modern



Sistem



plambing



adalah



sistem



penyediaan



air



bersih



dan



sistem



pembuangan air kotor yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang memenuhi syarat, yang berupa peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan, standar tentang peralatan dan instalasinya . Sistem plambing yang baik bergantung pada sistem plambing pemipaan yang baik pula. Selain pemipaan, terdapat hubungan yang erat juga antara masalah penyediaan air dan sanitasi, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan beberapa aspek berikut: 1) Kesehatan. 2) Penggunaan air. 3) Pengolahan dan pembuangan limbah. 4) Perancangan Pencegahan Kebakaran



Gambar 15-12 : Alat Pemadam Kebakaran Untuk menghindari terjadinya kebakaran pada suatu bangunan, diperlukan suata cara atau sistem pencegahan kebakaran karena bahaya kebakaran dapat menimbulkan kerugian berupa korban manusia, harta benda, terganggunya proses produksi barang dan jasa, kerusakan lingkungan dan terganggunya masyarakat. Bahaya kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu: Bahaya kebakaran ringan; Merupakan bahaya 227



terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat. Bahaya kebakaran berat; Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api sangat cepat. Perancangan sistem kebakaran erat kaitannya dengan sistem plumbing karena agar meminimalisir bahaya bencana kebakaran maka dikembangkan sistem-istem yang melingkupi pengaliran air, sebagai media pemadaman guna mencegah bahaya kebakaran skala besar, sistem pencegahan tersebut diantaranya



adalah



Sistem



hidran



dan



Sistem



sprinkler.



Sistem



penanggulangan kebakaran dapat dilakukan dengan cara melengkapi bangunan tersebut dengan alat-alat yang dapat membantu mencegah kebakaran dan mengurangi membesarnya api. Oleh karena itu, perlindungan disediakan untuk seluruh gedung, masing-masing untuk zona hunian, termasuk tersedianya tangga dan lift untuk keadaan darurat pada saat terjadi kebakaran. Disamping itu harus tersedia sistem pembuangan asap pada saat terjadi kebakaran pada setiap lantainya. Pada Signature Tower layaknya seperti bangunan tinggi lain diperlukan alat-alat yang dapat mencegah kebakaran pada sebuah bangunan, seperti harus tersedianya alat pemadam api ringan (APAR), Alarm Detector, Sprinkler, Fire Hose Reel dan Hydrant Pillar. 2.



Perancangan Pengudaraan/penghawaan



Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan, dan kesegaran hidup dalam bangunan bertingkat, khususnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada daerah yang beriklim tropis dengan udaranya yang panas dan kelembaban udaranya yang tinggi, maka diperlukan usaha untuk mendapatkan udara segar dari aliran udara alam maupun aliran udara buatan . Perencangan pengudaraan atau penghawaan adalah perencanaan untuk mendapatkan aliran udara yang tepat untuk ruangan serta pengontrolannya.



228



Gambar 15-13 : Alat Pendingin Ruangan Penggunaan air conditioner (AC) atau pendingin ruangan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya di kantor, di rumahpun alat ini menjadi penolong utama untuk mengusir udara panas. Satu hal yang harus



diingat,



janganlah



hanya



menjadi



pengguna



tapi



juga



harus dapat merawat alat pendingin ruangan ini. Pendingin ruangan yang tidak dirawat secara berkala dan saksama dapat menjadi polusi udara bagi penghuninya sehingga menyebabkan beberapa jenis penyakit, seperti penyakit pada saluran pernafasan. Hal ini disebabkan karena pendingin ruangan yang kotor dapat menyimpan berbagai virus dan bakteri yang kemudian disebarkan kembali ke seluruh ruangan sehingga masuk melalui indera penciuman. 3.



Perancangan Penerangan



Pada perencanaan penerangan dan pencahayaan gedung dimaksudkan agar bangunan tersebut mendapat pencahayaan dan penerangan yang baik pada siang



hari



maupun



pada



malam



hari



.



Dewasa



ini



pemanfaatan



pencahayaandigunakan sumber alami dan telah diatur berdasarkan SNI 03 – 2396 – 2001 tentang “Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung”. Selain itu dalam perencanaan penerangan atau pencahayaan juga mempertimbangkan tentang standar pencahayaan buatan yang diatur pada SNI 03- 6575-2001 tentang “Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung”. 229



4.



Perancangan Sistem Komunikasi dan CCTV



Perancangan telepon pada gedung harus mempertimbangkan kepada perencanaan istem komunikasi antara ruangan (intercom) dan perencanaan sistem komunikasi luar. Perancangan ini juga harus memperhatikan sistem pengaturan pemasangan kabel dalam bangunan sedemikian rupa sehingga tidak menggangu estetika pada bangunan serta untuk memudahkan dalam perawatan.



Perencanaan



arus lemah telepon,



sistem telepon



harus



menggunakan sistem hubungan seperti saluran untuk daya pembangkit komputer, yaitu aliran di dalam lantai (floor duct).



Gambar 15-14 : CCTV Sebagai Utilitas Keamanan Bangunan Pada saat ini CCTV (closed-circuit television) sudah merupakan salah satu utilitas bangunan, untuk meningkatkan keamanan. CCTV dapat memantau dan merekam segala aktivitas dan kejadian pada suatu tempat setiap saat. Juga untuk menjaga sebuah ruang penyimpanan atau rumah tinggal dengan pendeteksi gerak sehingga tidak diperlukan tenaga manusia untuk menjaga sistem



keamanan



tersebut.



Dengan



menerapkan



sistem



keamanan



menggunakan CCTV dengan deteksi gerak dapat memantau kondisi lokasi yang terpasang sistem ini menggunakan PC atau handphone melalui jaringan internet. Deteksi gerak yang terpasang dapat memberikan peringatan melalui email apabila terdektesi adanya sebuah gerakan oleh kamera. Untuk menghasilkan sistem yang baik, diperlukan analisa terhadap jaringan, penggunaan peralatan, dan analisis terhadap daya tangkap lensa pada kamera 230



Kemajuan teknologi CCTV Online, bisa memantau toko, kantor, pabrik dari Rumah atau tempat mana saja, dengan sangat mudah. Bisa memantau kantor cabang dari pusat secara langsung, mengawasi kegiatan pabrik dari kantor, mengawasi rumah (babby sitter/pembantu dll) selagi anda di kantor, meningkatkan kinerja staff secara luar biasa drastis, Mengurangi dan mencegah kecurangan dan penipuan mencegah kehilangan barang dan kerugian material, memproteksi asset berharga anda, Bisa tetap memantau jalannya bisnis sambil berlibur bersama keluarga tidak lagi mengorbankan waktu bersama keluarga yang sangat berharga. Kelebihan dan Keunggulan CCTV Antara Lain : 1) CCTV bisa diakses oleh multi user secara bersama-sama pada saat bersamaan via jaringan LAN 2) CCTV bisa dimonitor dari jarak jauh hanya menggunakan line telepon biasa, tanpa perlu koneksi internet apapun 3) CCTV Bisa diakses dari mana saja tanpa batasan jarak, dari luar kota atau dari luar negeri menggunakan akses internet 4) Bisa dimonitor menggunakan PDA / Handphone, laptop maupun PC 5) Dilindungi password protection sehingga yang tidak berhak tidak bisa mengakses 6) Tidak perlu menggunakan banyak layar monitor! Cukup 1 layar monitor untuk melihat sampai dengan 16 titik kamera cctv secara bersamaan 7) CCTV bisa difungsikan sebagai alarm yang akan secara otomatis menghubungi no telp yang sudah ditentukan jika ada hal yang tidak dikehendaki 8) Harga yang semakin terjangkau dan ekonomis. 5.



Perancangan Penangkal Petir



Pengamanan bangunan bertingkat dari bahaya sambaran petir perlu dilakukan dengan memasang suatu alat penangkal petir pada puncak bangunan tersebut. Penangkal petir ini harus dipasang pada bangunanbangunan yang tinggi, minimal bangunan 2 lantai, terutama yang paling tinggi di antara sekitarnya. 6.



Perancangan Transportasi Dalam Bangunan 231



Sebuah bangunan yang besar atau tinggi memerlukan suatu alat angkut transportasi untuk memberikan suatu kenyamanan dalam berlalu-lalang di bangunan tersebut. Alat transportasi tersebut mempunyai sifat berdasarkan arah geraknya sebagai alat angkut dalam bentuk arah vertikal berupa elevator, arah horizontal berupa konveyor, arah diagonal berupa eskalator. Lift ini, sering disebut elevator, yang merupakan alat angkut untuk mengangkut orang atau barang dalam suatu bangunan yang tinggi. Lift dapat dipasang untuk bangunan yang tingginya lebih dari 4 lantai, karena kemampuan orang untuk naik turun dalam menjalankan tuganya hanya mampu dilakukan sampai empat lantai. Lift adalah angkutan transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Lift umumnya digunakan di gedung-gedung bertingkat tinggi; biasanya lebih dari tiga atau empat lantai. Gedung-gedung yang lebih rendah biasanya hanya mempunyai tangga atau eskalator. Lift-lift pada zaman modern mempunyai tombol-tombol yang dapat dipilih penumpangnya sesuai lantai tujuan mereka, Terdapat tiga jenis mesin, yaitu Hidraulik, Traxon atau katrol tetap, dan Hoist atau katrol ganda, Jenis hoist dapat dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu hoist dorong dan hoist tarik.



Gambar 15-15: Bagian-bagian Elevator



232



7.



Perancangan Alat Pembersih Bangunan



Perancangan alat pembersih bangunan yang diterapkan pada bangunan tinggi, biasanya menggunakan gondola. Sistem gondola digunakan untuk membersihkan debu pada dinding dan kaca bangunan, sehingga warnanya tetap terjaga dan terawat.Mengacu pada standart Working at height Procedure, metode yang umum adalah Rope Acess dan system BMU ( Building Maitenance Units ) atau di Indonesia di sebut Gondola. Jika mengacu pada fungsi Maintenance gedung, maka yang dimaksud dengan BMU atau Gondola adalah alat atau sistem yang di instal di atas atap gedung, berfungsi untuk mengantarkan pekerja Cleaning Service atau Teknisi Gedung yang akan melakukan pekerjaan di sisi luar gedung dalam posisi Vertikal , Menuju kesemua arah atau lokasi dimana mereka harus membersihkan kaca,dinding gedung atau perbaikan lampu, dinding dan kaca atau konstruksi lainnya yang berada di sisi luar gedung.



233



GLOSSARY



APD, adalah Alat Pelindung Diri yaitu kelengkapan wajib yang digunakan saat bekerja sesuai dengan bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan tenaga kerja itu sendiri maupun orang lain di Gambar 15-16: Gondola Bangunan tempat kerja APAR, Alat Pemadam Api Ringan dB, adalah Desibel, (Lambang Internasional = dB) yaitu satuan untuk mengukur intensitas suara K3, adalah singkatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja K3LH, adalah singkatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, serta Lingungan Hidup. Hz, adalah Hertz, yaitu Frekuensi suara atau frekuensi audio getaran frekuensi yang terdengar oleh manusia SMK3, adalah Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, merupakan upaya integratif yang harus dilakukan tidak hanya dilakukan oleh pihak manajemen tetapi juga para pekerja yang terlibat langsung dengan pekerjaan. Sol, adalah alas sepatu dan biasanya terbuat dari bahan karet



234



C. MATERI PEMBELAJARAN



A. Pendahuluan Pekerjaan konstruksi di bidang bangunan merupakan kompleksitas kerja yang melibatkan bahan bangunan, peralatan, perlengkapan, teknologi dan tenaga kerja yang secara sendiri ataupun bersama-sama dapat menjadi sumber potensial terjadinya kecelakaan. Selain itu pekerjaan konstruksi di bidang bangunan pada umumnya merupakan pekerjaan di lapangan terbuka yang mudah terpengaruh oleh cuaca. Macam pekerjaan dapat berlangsung di bagian atas bangunan, dibawah tanah, dalam genangan air, pada tempattempat lembab ataupun gelap yang berpotensi terhadap kesehatan kerja. Pekerja bangunan sebagai SDM tenaga kerja merupakan faktor yang sangat 235



penting dalam pelaksanaan pembangunan fifik, oleh karena itu perlu dilindungi diberi pemahaman tentang K3LH. Apalagi bila tenaga kerja yang telah trampil atau yang mempunyai keahlian mendapatkan kecelakaan yang akan berakibat terhadap waktu penyelesaian pekerjaan dan pada akhirnya merugikan bagi perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi bangunan. Dalam era pembangunan saat ini di Indonesia, masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) mendapat perhatian serius semua pihak. Karena penerapan K3 ini sangat berhubungan erat dengan berbagai aspek dalam kehidupan baik itu dimulai dari lingkungan rumah tangga, lingkungan kerja, tempat kerja dan masyarakat umum juga sangat dekat dan terkait dengan faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan K3. Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja. Budaya K3 ini harus diterapkan didalam mendukung produktivitas kerja dan hasil yang tinggi, efisiensi biaya dapat tercapai karena menghindari bahaya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta dapat meningkatkan kenyamanan dan suasana yang baik serta kondusif. Penerapan Sistem Manajemen K3 yang mengacu kepada standard dan peraturan yang berlaku seperti Permennaker RI No: 05/ MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), merupakan tuntutan saat ini, dan sebagian sekolah sudah melaksanakannya dalam lingkup pembelajaran praktiknya.



236



Peraturan perundang-undangan yang mewajibkan perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi bangunan untuk melaksanakan Kesehatan dan Keamanan Kerja (K3) pada proyek yang menjadi tanggung jawabnya guna menjamin perlindungan tenaga kerja dari kecelakaan dan gangguan kesehatan kerja. Pelaksana lapangan sebagai petugas perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi bangunan di lapangan perlu mengetahui pokok-pokok kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada pekerjaan konstruksi di bidang bangunan yang meliputi : 1) Peraturan Perundangan yang berlaku. 2) Lembaga atau Organisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 3) Sebab-sebab serta cara pencegahan terjadinya kecelakaan. 4) Sebab-sebab serta cara pencegahan gangguan kesehatan tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi di bidang bangunan. Beberapa Peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada pekerjaan konstruksi di bidang bangunan adalah : 1) Pada tahun 1989 telah dikeluarkan Undang-undang No.14 tahun 1989 tentang Kesehatan Tenaga Kerja. Yang sebelumnya pada tahun 1970 telah dikeluarkan Undang-undang No.1 tentang Keselamatan Kerja. 2) Pada tahun 1980 Menteri Tenaga Kerja telah mengeluarkan Peraturan No.01atauMENatau1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi di bidang bangunan Bangunan. 3) Pada tahun 1986 Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Tenaga Kerja menerbitkan Surat Keputusan bersama No.174 atau MEN atau 1986 dan 104 atau KPTS atau 1986 tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Tempat Pekerjaan Konstruksi di bidang bangunan. Dengan adanya peraturan perundangan tersebut, maka telah lengkap dan mantap landasan hukum untuk melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada pekerjaan konstruksi di bidang bangunan. Oleh karena itu menjadi kewajiban semua pihak yang terlibat pada konstruksi di bidang bangunan antara lain pemberi kerja, pelaksana bangunan, pengawas dan tenaga kerja untuk melaksanakan peraturan dan perundangan tersebut. 237



Perencana



dan



pelaksana



kerja



bidang



konstruksi



bangunan



harus



mempunyai petugas dalam bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang disebut Petugas Kesehatan. Adapun tugas petugas kesehatan adalah : 1) Membuat perencanaan dan program pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Proyek. 2) Melakukan penyuluhan dan pemberian informasi serta latihan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 3) Mencatat data kecelakaan. 4) Mencegah terjadinya kecelakaan dan gangguan kecelakaan. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sangat penting dan bermanfaat baik bagi pemberi kerja, pelaksana bangunan maupun tenaga kerja. Bila tidak melaksanakannya dapat menimbulkan kerugian. Kerugian-kerugian antara lain : 1) Bagi Pemberi Kerja; Bila terjadi kecelakaan dan terjadi musibah (misalnya kebakaran), maka proyek dapat tertunda penyelesaiannya. Sekalipun pemberi kerja tidak akan mengeluarkan biaya tambahan karena adanya kebakaran tsb, namun tertundanya penyelesaian proyek bearti merupakan penundaan manfaat proyek yang dibiayai dari dana kredit, jelas pemberi kerja akan menanggung bunga kredit itu selama waktu tertundanya proyek beroperasi. 2) Bagi Perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi banguna; Banyak sekali kerugian yang harus dipikul. Baik kerugian dalam keuangan, beban pikiran dan reputasi. Bila terjadi kecelakaan dan kecelakaan tersebut menimbulkan kerugian masyarakat yang besar, perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi bangunan akan diprotes, dituntut bahkan dicacimaki oleh Pers. 3) Bagi Tenaga Kerja (Naker); Bagi tenaga kerja yang mendapat kecelakaan, apalagi



cacat



berat



bearti



yang



bersangkutan



akan



kehilangan



kesempatan bekerja sesuai kemampuan yang dimilikinya, atau tidak dapat bekerja sama sekali. Bagi yang sudah berumahtangga kecelakaan dapat menimbulkan penderitaan istri dan anak-anaknya. B. Pelaksanaan K3 Pekerjaan Konstruksi



238



Penjelaan dan pemahaman tentang Keselamatan kerja khusus untuk sektor konstruksi, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per01/Men/1980, peraturan mengenai keselamatan kerja untuk konstruksi tersebut, dapat memadai untuk kondisi di Indonesia. Rendahnya kesadaran masyarakat akan masalah keselamatan kerja, dan rendahnya tingkat penegakan hukum oleh pemerintah, mengakibatkan penerapan peraturan keselamatan kerja yang masih jauh dari optimal, yang pada akhirnya menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Pemerintah telah sejak lama mempertimbangkan masalah perlindungan tenaga kerja, yaitu melalui UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Sesuai dengan perkembangan jaman, pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang undang ini mencakup berbagai hal dalam perlindungan pekerja yaitu upah, kesejahteraan, jaminan sosial tenaga kerja, dan termasuk juga masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER-01/MEN/1980 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan. Peraturan ini mencakup ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja secara umum maupun pada tiap bagian konstruksi bangunan. Sebagai tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Menakertrans tersebut, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Tenaga Kerja No.Kep.174/MEN/1986-104/KPTS/1986: Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi. Pedoman yang selanjutnya disingkat sebagai ”Pedoman K3 Konstruksi” ini merupakan pedoman yang dapat dianggap sebagai standar K3 untuk konstruksi di Indonesia. Pedoman K3 Konstruksi ini cukup komprehensif, namun terkadang sulit dimengerti karena menggunakan istilah istilah yang tidak umum digunakan, serta tidak dilengkapi dengan deskripsi/gambar yang memadai. Kekurangan-kekurangan tersebut tentunya sangat menghambat penerapan pedoman di lapangan, serta dapat menimbulkan perbedaan pendapat dan perselisihan di antara pihak pelaksana dan pihak pengawas konstruksi. Dalam



rangka



terjaminnya



keselamatan



dan



kesehatan



kerja



pada



penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, terdapat pengaturan mengenai K3 239



yang bersifat umum dan yang bersifat khusus untuk penyelenggaraan konstruksi yakni: 1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-01/Men/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan. 3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja 4) Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum masing-masing Nomor Kep.174/MEN/1986 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi. Pada proyek konstruksi, kecelakaan kerja yang terjadi dapat menimbulkan kerugian terhadap pekerja dan kontraktor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kecelakaan kerja tersebut dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor manusia, faktor peralatan, dan faktor lingkungan kerja. Beberapa faktor yang menimbulkan kecelakaan, faktor manusia merupakan faktor paling dominan menjadi penyebab kecelakaan kerja, selain itu, faktor peralatan seperti crane ataupun faktor lingkungan kerja juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja jika tidak dikelola dengan benar. Tingginya kecelakaan kerja yang banyak terjadi pada proyek konstruksi bisa menyebabkan dampak secara langsung terhadap lembaga/organisasi dan penyedia jasa. Maka sangatlah penting adanya pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek konstruksi. Dampak yang terjadi berupa kerugian yang akan dialami oleh lembaga/organisasi yang tidak menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja , meskipun sudah dikeluarkan suatu peraturan perundangundangan oleh pemerintah akibat kelalaian dalam pelaksanaan K3.



240



Gambar 16=1 : Diagram Organisasi K3 di Indonesia



Di Indonesia Peraturan Perundangan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) telah memadai. Departemen Pekerjaan Umum bertanggung jawab terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Pekerjaan Konstruksi di bidang bangunan. Dilingkungan Departemen Tenaga Kerja ada unit atau petugas yang melakukan tugas pengawasan atau inspeksi yaitu para Inspektor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Dilingkungan Departemen Pekerjaan Umum terdapat unitataupetugas yang melaksanakan inspeksiatau pengawasan, termasuk pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Dalam kontrak pekerjaan konstruksi di bidang bangunan tercantum klosul tentang kewajiban perencana dan pelaksana kerja bidang konstruksi bangunan untuk melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 241



1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Kesehatan adalah kondisi umum dari seseorang dalam semua aspek. Ini juga merupakan tingkat efisiensi fungsional dan / atau metabolisme organisme, sering implisit manusia. Pada saat penciptaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1948, kesehatan didefinisikan sebagai "suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan". Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa kesehatan adalah; "sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik.." Klasifikasi sistem seperti WHO Keluarga Klasifikasi Internasional (WHO-FIC), yang terdiri dari Klasifikasi Internasional Berfungsi, Cacat, dan Kesehatan (ICF)



dan



Klasifikasi



Internasional



Penyakit



(ICD)



juga



menentukan



kesehatan. (The Caduceus 2009). Jackson (1999), menjelaskan bahwa Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisikondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Sementara keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata ‘safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktor-faktor yang dapat menyebabkan



terjadinya



kecelakaan



dan



berupaya



mengembangkan



berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil resiko terjadinya kecelakaan. Keselamatan dan kesehatan kerja saat ini merupakan istilah yang sangat populer. Bahkan di dalam dunia industri istilah tersebut lebih dikenal dengan singkatan K3 yang artinya keselamatan, dan kesehatan kerja. Istilah keselamatan dan kesehatan kerja, dapat dipandang mempunyai dua sisi pengertian. Pengertian yang pertama mengandung arti sebagai suatu pendekatan ilmiah (scientific approach) dan disisi lain mempunyai pengertian sebagai suatu terapan atau suatu program yang mempunyai tujuan tertentu.



242



2. Peran dan Fungsi K3 Penjelasan dann pemahaman tentang k3 yang telah dijelaskan di atas, menggiring kita untuk memahami tentang prosedur kerja K3 yang merupakan cara untuk melakukan pekerjaan mulai awal hingga akhir yang didahului dengan penilaian resiko terhadap pekerjaan tersebut yang mencakup keselamatan dan kesehatan. Kita pernah melihat suatu pekerjaan itu diselesaikan tetapi kecelakaan masih juga terjadi, setelah di investigasi ternyata pekerja tersebut telah mengikuti prosedur kerja yang diberikan oleh perusahaan. Setelah ditemukan akar permasalahannya, ternyata prosedur kerja yang disosialisasikan tidak mempertimbangkan segi keselamatannya sehingga kecelakaan pun terjadi. Disinilah pentingnya pembuatan prosedur kerja K3 yang didasari oleh penilaian resiko baik itu resiko cidera, sakit akibat kerja, kerusakan peralatan dan lingkungan. Dengan demikian konsep K3 adalah suatu upaya guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat - tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi. Melalui Pelaksanaan K3LH ini diharapkan tercipta tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau terbebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Jadi, pelaksanaan K3 dapat meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Kerja, karena berbagai peran dan fungsi K3 iut sendiri, yaitu; 1) Setiap



Tenaga



Kerja



berhak



mendapat



perlindungan



atas



keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional. 2) Setiap orang yang berbeda ditempat kerja perlu terjamin keselamatannya. 3) Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien. 4) Untuk mengurangi biaya perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja karena sebelumnya sudah ada tindakan antisipasi dari perusahaan.



243



Sementara itu, K3 ini dibuat tentu mempunya tujuan di buatnya K3 secara tersirat tertera dalam undang - undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja tepatnya, yaitu; 1) Mencegah dan mengurangi dan memadamkan kebakaran 2) Mencegah dan mengurangi kecelakaan 3) Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan 4) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan dari pada waktu kebakaran atau kejadian - kejadian lain yang berbahaya 5) Memberi pertolongan pada kecelakaan 6) Memberi alat - alat perlindungan daripada pekerja 7) Mencegah dan mengendalikan timbul atau penyebab luasnya suhu, kelembapan, kotoran, asap, vas, gas, hembusan angin, cuaca, atau radiasik, suara, dan getaran. 8) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi, dan penularan. 9) Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai 10) Menyelanggarakan suhu dan kelembapan udara yang baik 11) Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup 12) Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban. 13) Memelihata keserasian antara tenaga kerja, alat kerja , linngkungan cara dan proses kerjanya. 14) Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman, atau barang. 15) Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. 16) Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. 17) Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. Jadi, berdasarkan syarat - syarat keselamatan kerja diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan K3 antara lain sebagai berikut : 1) Untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi - tingginya baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, maupun pekerja - pekerja bebas. 2) Untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan kecelakaan



akibat



kerja



perlu



memelihara



dan



meningkatkan 244



kesehatan efisiensi dan daya produktivitas kerja serta meningkatkan kegairahan dan kenikmatan kerja Menurut undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang dimaksud dengan tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hokum republik indonesia. Kemudian dalam penjelasannya pada pasal 1 ayat (1), dengan perumusan ini, maka ruang lingkup dari UU tersebut jelas ditentukan oleh 3 unsur yaitu: 



Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.







Adanya tenaga kerja yang bekerja.







Adanya bahaya dan resiko kerja yang ada di tempat kerja.



Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara filosofi adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya. Secara disiplin ilmu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja diartikan sebagai ilmu dan



penerapannya



secara



teknis



dan



teknologis



untuk



melakukan



pencegahan terhadap munculnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Secara hukum, Keselamatan dan Kesehatan Kerja diartikan sebagai suatu upaya perlindungan agar setiap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja senantiasa dalam keaaan yang sehat dan selamat serta sumbersumber proses produksi dapat dijalankan secara aman, efisien dan produktif. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan skala prioritas, karena dalam pelaksanaannya, selain dilandasi oleh peraturan perundang-undangan tetapi juga dilandasi oleh ilmu-ilmu tertentu, terutama ilmu keteknikan dan ilmu kedokteran. Adapun tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja menurut antara lain :



245



1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan



pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatakan produksi serta produktivitas nasional. 2. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja. 3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman



3. Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, dan memelihara. Sementara menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia. Kemudian “Budaya Kerja”, adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan yang terwujud sebagai hasil produktivitas kerja. Dengan demikian budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan dating. Pemahaman tentang



kesehatan kerja yaitu meningkatkan kualitas hidup



tenaga kerja melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan gangguan kesehatan atau penyakit yang mungkin dialami oleh tenaga kerja akibat pekerjaan di tempat kerja. Kemudian keselamatan kerja, yaitu keselamatan yang berkaitan dengan mesin, alat, bahan dan proses kerja guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan seluruh aset produksi agar terhindar dari kecelakaan kerja atau kerugian lainnya. Pemahaman tentang kesehatan dan keselamatan di atas, bila dihubungkan dengan salah satu konsep adanya Sekolah Menengah Kejuruan yang tamatannya diharapkan bisa langsung terjun ke dunia industri menerapkan K3 dengan benar, untuk itu perlu perhatian yang khusus dalam sarana dan prasarana dan dapat di praktikkan dalam kegiatan belajar mengajar setiap hari.



246



Falsafah Keselamatan kerja adalah Menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rokhaniah manusia,serta hasil karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan manusia khususnya. Guru dan siswa, karyawan yang dibengkel merupakan komponen yang berhak atas K3, karena



memerlukan



kenyamanan



dalam



bekerja.



Keselamatan



Dan



Kesehatan kerja merupakan dasar pokok yang harus dilaksanakan di bengkel sekolah. Pembuatan UU tidak hanya diperuntukkan bagi industri , tetapi ada jaminan disekolah yang melindungi komponen- komponennya. Di Indonesia telah ditetapkan beberapa peraturan keselamatan dan kesehatan kerja; antara lain sebagai berikut: 1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja; 2) Peraturan Menteri No. PER- 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Peraturan-peraturan tersebut ditetapkan bertujuan untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja. Program keselamatan dan kesehatan kerja sebaiknya dimulai dari tahap yang paling dasar, yaitu pembentukan budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Dan program keselamatan dan kesehatan kerja dapat berfungsi dan efektif, apabila program tersebut dapat terkomunikasikan kepada seluruh lapisan individu yang terlibat pada proyek konstruksi. Ada fenomena yang menarik yang dimiliki oleh industri konstruksi, yaitu pertama bahwa jasa industri konstruksi merupakan sebuah industri yang memiliki resiko cukup besar, akan tetapi dapat diminimalisir dengan adanya program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pembentukan budaya kerja yaitu salah satunya budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Kedua, industri konstruksi merupakan sebuah industri yang tidak sekedar berorientasi pada produk jadi sebagaimana pada industri lain, akan tetapi berorientasi pada proses. Oleh karenanya dalam proses tersebut perlu diperhatikan faktor-faktor internal yang mempengaruhi kinerja lembaga/organisasi berkaitan dengan resiko yang dimiliki. Pelaksanaan K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta bebas pencemaran lingkungan menuju peningkatan produktivitas sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Seperti kita ketahui, bahwa 247



kecelakaan kerja bukan hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material bagi pekerja dan pengusaha tetapi dapat juga mengganggu proses produksi secara menyeluruh dan merusak lingkungan yang akhirnya berdampak kepada masyarakat luas. Karena itu perlu dilakukan upaya yang nyata untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara maksimal. Apabila kita lakukan analisis secara mendalam maka kecelakaan, peledakan, kebakaran dan penyakit akibat kerja pada umumnya disebabkan tidak dijalankannya syarat-syarat K3 secara baik dan benar, sehingga tercipta suatu kegiatan kerja yang aman. Melaksanakan Pekerjaan secara aman sesuai peraturan K3, dimana setiap Pekerja harus menyadari bahwa dalam bekerja kecelakaan bisa saja terjadi, untuk itu mereka harus memahami dan mematuhi peraturan



K3 dalam



bekerja, seperti; melihat keadaan tempat kerja, alat-alat pelindung diri, apresiatif terhadap tanda-tanda/slogan-slogan tentang tanda bahaya, setiap pekerja harus mengetahui/mempelajari undang- Undang



dan



No. 1 th.



1970 tentang keselamatan kerja. Pencegahan terhadap bahaya dari kecelakaan kerja diidentifikasi pada latihan kerja dan dilaporkan sesuai kebijakan perusahaan. Kondisi ditempatkerja agar diperiksa lebih seksama, alat-alat pelindung diri dicek kelayakannya, alat-alat alarm diperiksa keadaannya, bila ada kerusakan agar dicatat dan dilaporkan segera.



248



Gambar 16-2: Peralatan P3K Tanggung jawab keselamatan di industri, jasa konstruksi diketahui dan diaplikasikan,



kebijakan-kebijakan,



aturan-aturan



yang



menyangkut



keselamatan kerja/K3, disosialisasikan, bila terjadi kecelakaan agar segera ditangani, format-format laporan agar disediakan. Peralatan pemadam kebakaran dipilih dan dioperasikan secara benar sesuai dengan jenis kebakaran. Adapun alat-alat pemadam kebakaran seperti; batang pengait, tanga, pasir,alat hidrant, alat-alat penyembur, harus dipilih dan diperiksa agar alat-alat tersebut dapat digunakan dengan baik saat terjadi kebakaran. Prosedur Gawat Darurat dan P3K Diketahui dan Dijalankan bila seseorang mendapat



kecelakaan,



atau diserang



penyakit



yang



mendadak



dan



berbahaya, maka hendaklah segera panggil dokter atau di bawa ke Rumah Sakit terdekat, tapi ada baiknya jika kita mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk menolong si sakit bila dokter itu ke betulan sedang tidak ada atau terlambat datang untuk memberi pertolongan. Salah satau bukti telah dilaksanakannya penerpan K3 di sekolah, dapat dilihat dari perlengkapan kotak P3K yang telah tersedia. Kotak P3K yang tersedianya beberapa obat pertolongan pertama pada kecelakaan yang terletatak dalam suatu kotak khusus, lengkap dengan petunjuk bagaimana cara melakukan pertolongan



pertama



pada



kecelakaan.



Beberpa



kelengkapan



kotak



Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.antara lain, yaitu; -



Plester



-



Pembalut berperekat



-



Pembalut steril (besar, sedang dan kecil)



-



Perban gulung (5 cm dan 8 cm)



-



Perban segitiga



-



Kain pembalut siku



-



Kasa hydrophile



-



Kapas pembalut (10 dan 25)



-



Pinset



-



Gunting



-



Peniti 249



4.



-



Salep levertran



-



Obat luka anti septic



-



Rivanol kompres



-



Cutban –a plaster



-



Obat gosok



-



Minyak urut



Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja



Salah satu upaya dalam mengimplementasikan K3 adalah SMK3 (Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja). SMK3 meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif penerapan, pencapaian, aman, produktif. SMK3 merupakan upaya integratif yang harus dilakukan tidak hanya dilakukan oleh pihak manajemen tetapi juga para pekerja yang terlibat langsung dengan pekerjaan. Implementasi



K3 di skeolah, dapat dimulai dengan diperhatikannya dan



diikutkannya K3 sebagai bagian dari kebijakan dari manajemen sekolah. Hal ini mulai disadari karena dari data kecelakaan kerja yang terjadi juga mengakibatkan kerugian yang cukup. Manajemen risiko menuntut tidak hanya keterlibatan pihak manajemen tetapi juga komitmen manajemen dan seluruh pihak yang terkait. Pada konsep ini, bahaya sebagai sumber kecelakaan kerja harus harus teridentifikasi, kemudian diadakan perhitungan dan prioritas terhadap risiko dari bahaya tersebut dan terakhir adalah pengontrolan risiko. Di tahap pengontrolan risiko, peran guru praktik sangat penting karena pengontrolan risiko membutuhkan ketersediaan semua sumber daya yang dimiliki sekolah, karena pihak manajemen sekolah yang sanggup memenuhi ketersediaan ini.



250



Gambar 16-3 : Siklus Penerapan K3 di Sekolah Memahami Kriteria-kriteria penjamin mutu yang ada berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka memasyarakatkan keselamatan dan kesehatan kerja, salah



satunya



melalui



peningkatan



pengetahuan



dan



pemahaman



masyarakat mengenai berbagai peraturan atau norma-norma keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan keselamatan dan kesehatan



kerja dibuat



untuk dipahami dan dipatuhi terutama oleh para pelaku proses produksi, terhindar dari segala resiko kerja, seperti terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja maupun peledakan dan kebakaran.



Disetiap perusahaan ada



kebijakan-kebijakan atau peraturan-peraturan yang ditujukan agar dalam melaksanakan kegiatan dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, sehingga terhindar dari segala resiko yang tidak di inginkan bagi keselamatan dan kesehatan kerja. 5. Alat Pelindung Diri (APD) Pengertian Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan wajib yang digunakan saat bekerja sesuai dengan bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan tenaga kerja itu sendiri maupun orang lain di tempat kerja. Alat Pelindung diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari adanya kemungkinan potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Secara teknis APD tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuh tetapi akan dapat meminimaliasi tingkat keparahan kecelakaan atau keluhan / penyakit yang 251



terjadi. Dengan kata lain, meskipun telah menggunakan APD upaya pencegahan kecelakaan kerja secara teknis, teknologis yang paling utama.



Gambar 16-4 : Penggunaan APD Wajib Sebelum Bekerja Alat Pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD dipakai apabila usaha rekayasa dan cara kerja yang aman telah maksimum. Dalam penggunaan APD masih memiliki beberapa kelemahan seperti; Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna, Tenaga kerja tidak merasa aman, dan Komunikasi terganggu.



252



Gambar 16-5 : Kelengkapan Alat Perlindungan Diri (APD) 5.1 APD Bagian Kepala Beberapa alat pelindung diri pada bagian kepala, dikenal antara lain yaitu;  Topi pengaman (safety helmet), untuk melindungi kepala dari benturan 



atau pukulan benda-benda Topi / Tudung, untuk melindungi kepala dari api, uap, debu, kondisi



 



iklim yang buruk. Tutup kepala, untuk melindungi kebersihan kepala dan rambut Alat pelindung telinga; Sumbat telinga (ear plug), dan Tutup telinga (ear muff)



Alat pelindung kepala (Safety Helmet) melindungi kepala dari benda keras, pukulan dan benturan, terjatuh dan terkena arus listrik. Kemudian melindungi kepala dari kebakaran, korosif, uap-uap, panas atau dingin. Pelindung kepala untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman dari tegangan listrik yang terbatas atau tahan terhadap tegangan listrik tinggi. Perlindungan terhadap tenaga listrik biasanya terbuat dari logam yang digunakan untuk pemadam kebakaran. Manfaat alat pelindung kepala (Safety Helmet) adalah topi untuk melindungi kepala dari zat-zat kimia berbahaya, dari iklim yang berubah-ubah dan dari bahaya api dan lain-lain. Sumbat telinga (ear plug) dapat mengurangi intensitas suara 10 s/d 15 dB dan tutup telinga (ear muff) dapat mengurangi intensitas suara 20 s/d 30 dB. 253



Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja, sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya (komunikasi) tak terganggu. Kelemahan alat pelindung telinga yaitu tidak tepat ukurannya dengan lobang telinga pemakai, kadang-kadang lobang telinga kanan tak sama dengan yang kiri bahan sumbat telinga karet, plastik keras, plastik yang lunak, lilin, kapas. Penggunanan alat pelindung telinga yang banyak diminati adalah jenis karet dan plastic lunak, karena bisa menyusaikan bentuk dengan lobang telinga. Alat pelindung telinga ada beberapa jenis atenuasinya yaitu pada frekuensi 2800–4000 Hz sampai 42 dB (35–45 dB). Untuk frekuensi biasa 25-30 dB. Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dan sumbat telinga sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi akan tetapi tak lebih dari 50 dB, karena hantaran suara melalui tulang masih ada. 5.2 APD Bagian Muka dan Mata ( face shield ); Syarat dan ketentuaan pelindung muka dan mata adalah mudah dikenakan cocok untuk kasus berisiko kecil dan menengah. Bahan pembuat alat pelindung mata dari plastic, ada beberapa jenis tergantung dari bahan dasarnya seperti selulosa asetat, akrilik, poli karbonat dan sebagainya. Contoh Kaca mata biasa (Goggles). 5.3 APD Bagian Pernafasan Alat perlindungan pernafasan, memberikan perlindungan terhadap sumbersumber bahaya seperti kekurangan oksigen dan pencemaran oleh partikel debu, kabut, asap dan uap logam kemudian pencemaran oleh gas atau uap. Respirator yang sifatnya memurnikan udara, Respirator yang dihubungkan dengan supply udara bersih, Respirator dengan supply oksigen. 5.4 APD Bagian Pakaian Kerja Pakaian kerja khusus untuk pekerjaan dengan sumber-sumber bahaya tertentu seperti; Terhadap radiasi panas, Terhadap radiasi mengion, Terhadap cairan dan bahan – bahan kimia. Pakaian pelindung dipakai pada tempat kerja tertentu misalnya Apron (penutup / menahan radiasi), yang berfungsi untuk menutupi sebagian atau seluruh badan dari panas, percikan api, pada suhu dingin, cairan kimia, oli, dari gas berbahaya atau beracun, serta dari sinar radiasi.



5.5 APD Bagian Tali / sabuk Pengaman 254



Penggunaan bahan ini, berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup atau boiler. Harus dapat menahan beban sebesar 80 Kg. Jenis penggantung unifilar penggantung berbentuk U. Gabungan penggantung unifilar dan bentuk U, ada beberapa macam safety harness yaitu penunjang dada (chest harness), penunjang dada dan punggung (chest waist harness), penunjang seluruh tubuh (full body harness).



5.6 APD Bagian Sarung Tangan Fungsinya melindungi tangan dan jari-jari dari api, panas, dingin, radiasi, listrik, bahan kimia, benturan dan pukulan, lecet dan infeksi. Sarung tangan merupakan alat pelindung diri yang banyak digunakan, fungsinya untuk melindungi tangan dari luka lecet, luka teriris, luka terkena bahan kimia dan terhadap temperature ekstrim. Beberapa perlengkapan sarung tangan sebagai perlengkapan K3LH, antara lain, yaitu; a) Kelvar-trated gloves; Untuk melindungi dari kebakaran dan hal-hal yang tidak menyenangkan ketika tangan terpapar panas secara terus menerus b) Metal-mesh gloves; Sering dipakai oleh mereka yang bekerja dengan pisau dan terhadap benda-benda tajam untuk melindung dari terpotong dan.pukulan dari peralatan mereka sendiri dan dari ketajaman atau objek yang kasa c) Rubber gloves;Untuk melindungi dari listrik, sarung tangan karet ini harus di tes kekutan listriknya d) Rubber neoprene or viniyl gloves; Digunakan dalam penggunaan bahan kimia dan korosif e) Leather gloves; Tahan percikan api, panas yang sedanng, benda kasar dan objek yang keras dan dilengkapi dengan bantalan terhadap f)



pukulan. Biasanya dipakai untuk pekerjaan berat Chrome-tanned cowhide leathe; Dengan alat penekan besi yang



melekat pada tapal tangan dan jari untuk pengecoran pada pabrik baja g) Catton or fabric gloves; Dipakai untuk di tempat-tempat kotor, memotong atau melindungi luka. Tidak terlalu berat untuk digunakan terhadap yang kasar, tajam atau material berat h) Coated fabric gloves; Melindungi dari konsentrasi kimia yang sedang direkomendasi



untuk



pengalengan,



pengepakan,



penanganan



makanan, indusrti yang sejenis. 255



5.7 APD Bagian Pelindung kaki Fungsinya untuk melidungi kaki dari tertimpah benda-benda berat, terbakar karena logam cair, bahan kimia, tergelincir, tertusuk. Sepatu keselamatan kerja dipergunakan untuk melindungi kaki dari bahaya kejatuhan benda-benda berat, percikan cairan, dan tertusuk oleh benda-benda tajam. Menurut jenis pekerjaan sepatu keselamatan terdapat bberapa jenis, antara lain yaitu; a) Sepatu dengan logam atau baja, sepatu boot, dan jenis lainnya yang mampu digunakan dimana dapat terjadi kebakaran dan bahaya peledakan. b) Sepatu buruh atau tipe sepatu jalan, digunakan untuk melindungi pekerja dari percikan, lelehan metal atau logam yang berasal dari pengelasan atau bunga api.



256



c) Sepatu penguat bagian dalamnya memiliki sol metal yang fleksibel dan di rancang menonjol pada jari-jarinya, tetapi kemungkinan akan kontak dengan energi listrik namun dapat diperkecil. Untuk kondisi basah sepatu kulit dengan paduan kayu cendana, sangat efektif dan dapat memberikan pelindungan yang baik dalam bekerja dan dibutuhkan ketika berjalan di permukaan panas. Sepatu ini digunakan secara luas dalam pekerjaan aspal panas. Sepatu keselamatan dengan pelindung metatarsal, selalu digunakan dalam opersi material berat. Juga untuk menjaga kemungkinan bila ada denda jatuh dan menimpa jari kaki bagian atas. Pelindung metal ini sangat cukup melindungi kaki sampai pergelanagan kaki.



Sepatu boot keselamatan yaitu sepatu yang



dilengkapi dengan nonferrous yang akan mereduksi kemungkinan adanya gesekan dari pecahan ketika dilokasi dengan bahaya ledakan api. d) Sepatu buruh atau tipe sepatu jalan, digunakan untuk melindungi pekerja dari percikan, lelehan metal atau logam yang berasal dari pengelasan atau bunga api.



Gambar 16-6 : Penggunaan APD



Dalam penggunaannya APD memiliki syarat – syarat



anatra lain, sebagai



berikut; 1) Enak dipakai 257



2) Tidak mengganggu 3) Memberikan perlindungan yang efektif sesuai dengan jenis bahaya tempat kerja Pemeliharaan APD, Secara umum pemeliharaan APD dapat dilakukan antara lain dengan : 1) Menyimpan dengan benar alat pelindung diri 2) Mencuci dengan air sabun, kemudian dibilas dengan air secukupnya. Terutama untuk helm, kaca mata, sepatu kerja, pakaian kerja, sarung tangan kain/kulit/karet. 3) Menjemur Di bawah sinar matahari untuk menghilangkan bau, terutama pada sepatu dan helm. Penyimpanan APD, Untuk menjaga daya guna dari APD, hendaknya disimpan ditempat khusus sehingga terbebas dari debu, kotoran, gas beracun, dan gigitan serangga/binatang. Tempat tersebut hendaknya kering dan mudah dalam pengambilannya. C. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) APAR atau alat pemadam api ringan yaitu peralatan portabel yang dapat dibawa dan dioperasikan dengan tangan, berisi bahan pemadam bertekanann yang dapat disemprotkan dengan tujuan memadamkan api. Jika anda masih bingung alat ini sering berada di berbagai kantor, laboratorium dan pusat perbelanjaan. Untuk seiap sekolah apakah itu ruangan kelas, ruangan guru terutama begkel atau laboratorium wajib memiliki APAR. Peristiwa kebakaran adalah peristiwa yang paling menakutkan. Kebakaran dapat menimbulkan kehilangan harta benda, kematian dan kecelakaan. Kebakaran merupakan satu peristiwa yang tidak terjadi begitu saja, sudah pasti ada penyebabnya. Beberapa type atau jenis dan jumlah alat pemadam api ringan (APAR) yang akan digunakan antara ain, yaitu; a) Jenis cairan, untuk kayu kertas dan tekstil b) Jenis busa, untuk penggunaan terbatas pada kayu kertas dan tekstil c) Jenis tepung kering, untuk kayu kertas, tekstil, karet dan plastik.



258



d) Jenis gas (hydrocarbon berhalogen dsb), untuk penggunaan terbatas pada sentral telepon, transformator yang tidak berada diruang tertutup dan terdapat banyak personil.



Gambar 16-7: APAR Jenis Gas Tempat – tempat kerja yang perlu dipasang APAR, minimal 1 (satu) buah APAR harus tersedia : a) Tempat penyimpanan bahan – bahan yang mudah terbakar. b) Tempat pengelasan. c) Di setiap tingkat / lantai gedung yang sedang dibangun, dimana terdapat barang-barang atau alat-alat yang mudah terbakar. Pedoman penempatan dan penerpana APAR, seperti Memberikan pelatihan kepada petugas pemadam kebakaran di area kerja cara penggunaan APAR sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuat. Kemudian menempatkan APAR pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pegawai/pekerja. Untuk tempat kerja yang berdebu dan berpartikel logam, APAR harus diletakkan minimal pada jarak 15 m. Beberpa pedomana dalam penerpan APAR di Sekolah atau gedung, anatara lain; a) Setiap guru/siswa/pegawai harus mengetahui lokasi APAR yang terdekat dan cara penggunaannya. b) Cara penggunaan APAR c) Melakukan



pemeriksaan



visual



APAR



secara



periodik



untuk



memastikan APAR tetap penuh dan dalam kondisi siap pakai, bila 259



ditemukan ada APAR yang rusak harus segera segera diganti dan tabung yang sudah berkurang isinya sesuai dial (alat petunjuk) yang terpasang di APAR harus segera diisi ulang. d) APAR harus selalu dijaga dan dirawat dengan baik agar tetap berfungsi. e) Personil yang terlatih dan tahu cara menggunakan APAR harus selalu siap di tempat selama jam kerja. f)



Alat pemadam kebakaran yang berisi chlorinated hydrocarbon atau tetroclorida tidak boleh digunakan didalam ruangan atau di tempat yang terbatas (confined space).



g) Tidak diperkenankan memindahkan APAR, kecuali sedang digunakan. Berikut ini dapat dilihat PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI



NO:



PER.04/MEN/1980



TENTANG



SYARAT-SYARAT



PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN ALAT PEMADAM API RINGAN.



BAB I KETERANGAN UMUM 260



Pasal 1: (1) Alat pemadam api ringan ialah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran. (2) Menteri ialah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (3) Pegawai pengawas ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk oleh Menteri. (4) Ahli keselamatan kerja ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengawasi ditaatinya peraturan ini. (5) Pengurus ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian yang berdiri sendiri.



BAB II PEMASANGAN Pasal 4: (6) Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisiyang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan. (7) Pemberian tanda pemasangan tersebut ayat (1) harus sesuai dengan lampiran I. (8) Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut ayat (1) adalah 125 cm dari dasar lantai tepat diatas satu atau kelompok alat pemadam api ringan bersangkutan. (9) Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran seperti tersebut dalam lampiran 2. (10) Penempatan tersebut ayat (1) antara alat pemadam api yang satu dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan Kerja. (11) Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah. BAB III PEMEIHARAAN Pasal 11:



261



(1) Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu: a. pemeriksaan dalam jangka 6 (enam) bulan; b. pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan; (2) Cacat pada alat perlengkapan pemadam api ringan yang ditemui waktu pemeriksaan, harus segera diperbaiki atau alat tersebut segera diganti dengan yang tidak cacat. Demikian bunyi kutipan Peraturan Meneteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.04/MEN/1980, tentang syarat-syarat pemsangan dan pemeliharaan alat pemdama kebakran.



1. Mengenal Jenis Kebakaran dan Bahan Pemadam Kebakaran. Menurut penggolongannya jenis kebakaran ada 3 macam, yaitu: Kelas A, Kelas B, dan Kelas C. 1.1 Kebakaran Kelas A Jenis kebakaran kelas A adalah kebakaran yang disebabkan oleh kayu, kain dan kertas. Untuk memadamkam kebakaran kelas A maka ada beberapa zat pemadam yang cocok digunakan antara lain: a)



Air



b)



Soda asam (soda acid)



c)



Tekanan gas (gas pressure)



d)



Tekanan udara (stored air pressure)



e)



Racun api (Fire Extinguisher)



1.2 Kebakaran Kelas B Kebakaran kelas B adalah kebakaran yang terjadi akibat cairan yang mudah terbakar, seperti: bensin, oli, solar, minyak tanah, tiner dan pelarut lainnya. Untuk mencegah agar tidak terjadi kebakaran maka tutuplah semua tangki bahan bakar, botol minyak, kaleng cat dan jauhkan dari sumber api/panas.Untuk memadamkan kebakaran kelas B pakailah dry powder dan gas carbon dioxide (CO2). Foam extenguisher (busa) paling tepat dipakai untuk memadamkan kebakaran kelas B. 262



1.3 Kebakaran Kelas C Kebakaran kelas C adalah kebakaran yang ditimbulkan oleh alat-alat listrik, misalnya: motor listrik, generator listrik, kabel, kotak kontrol dan peralatan elektronik. Kebakaran kelas C dapat dipadamkan dengan cairan Bromochioro Diflourometane (BCF) atau Dry Powder dan CO2. D. Lingkungan Hidup Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan. Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang mencakup wilayah dan komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia. Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya. Pada saat ini, pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi: 



Pencemaran air







Pencemaran udara







Pencemaran tanah 263



Sumber Daya Alam (biasa disingkat SDA) adalah potensi sumber daya yang terkandung dalam bumi, air dan udara yang dapat didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepentingan pertahanan negara. SDA dibagi menjadi dua, yaitu,SDA yang dapat diperbaharui dan SDA yang tidak dapat diperbaharui. 1.



SDA yang dapat diperbaharui meliputi air, tanah, tumbuhan dan hewan. SDA ini harus kita jaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan ekosistem.



2.



SDA yang tidak dapat diperbaharui itu contohnya barang tambang yang ada di dalam perut bumi seperti minyak bumi, batu bara, timah dan nikel. Kita harus menggunakan SDA ini seefisien mungkin. Sebab, seperti batu bara, baru akan terbentuk kembali setelah jutaan tahun kemudian.



SDA juga dapat dibagi menjadi dua yaitu SDA hayati' dan SDA non-hayati. SDA hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk hidup (biotik). Seperti: hasil pertanian, perkebunan, pertambakan dan perikanan. SDA non-hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk tak hidup (abiotik). Seperti: air, tanah, barang-barang tambang. 1.



Pengelolaan Lingkungan Hidup



Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi



alam



itu



sendiri,



kelangsungan



perikehidupan,



dan



kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Upaya pengelolaan lingkungan



hidup



dan



upaya



pemantauan



lingkungan



hidup



adalah



pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi



perencanaan,



pemanfaatan,



pengendalian,



pemeliharaan, 264



pengawasan, dan penegakan hukum. Pengendalian dampak lingkungan hidup merupakan upaya untuk melakukan tindakan pengawasan terhadap suatu aktivitas yang dilakukan oleh setiap orang terutama perusahaan-perusahaan yang menimbulkan dampak besar tehadap lingkungan. Dalam hal ini dampak lingkungan hidup diartikan sebagai pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yng diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. Upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjadi kewajiban bagi negara, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lain. Ketentuan Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menetapkan bahwa pembangunan berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pengelolaan lingkungan hidup memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial, dan budaya serta perlu dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan, desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal dan kearifan lingkungan, sehingga lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas keadilan. Untuk mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik, diperlukan adanya fungsi pengawasan, pemantauan dan penyidikan. Pengawasan dan penyidikan merupakan salah satu komponen penting dalam penegakan hukum



baik



hukum



administrasi,



perdata



maupun



pidana.



Dalam



melaksanakan pengawasan dan pemantauan kualitas lingkungan hidup di daerah, Pemerintah Indonesia memiliki Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah yang disingkat dengan (PPLHD) seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 bahwa dalam melaksanakan pengawasan, Menteri, Gubernur, 265



atau Bupati/Walikota menetapkan pejabat pengawas lingkungan hidup yang merupakan pejabat fungsional. Peranan, fungsi dan kedudukan serta kewenangan PPLHD dimaksud lebih dipertegas lagi dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Nomor 58 Tahun 2002 tentang Tata Kerja Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup di Provinsi/Kabupaten/Kota.



2. Pengelolaan Lingkungan Hidup Sekolah Kita hidup di dunia, sangat tergantung pada lingkungan hidup, manusia akan musnah jika lingkungan hidupnya rusak, yaitu tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dalam mendukung kehidupan. Dilain pihak, manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melakukan ekplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, dan eksploitasi yang berlebihan akan mengakibatkan merosotnya daya dukung alam. Manusia slalu menggali potensi sumber daya alam, dikarenakan



kebutuhan yang terus berkembang, baik jenis maupun



jumlahnya, sedangkan penyediaan sumber daya alam terbatas. Disisi lain dalam proses penyediaan barang kebutuhan manusia juga akan dihasilkan limbah, limbah yang dihasilkan menjadi beban bagi lingkungan jumlah limbah yang semakin besar yang tidak terdegradasi akan menimbulkan masalah baru bagi manusia, sepeti timbulnya pencemaran. Sekol salah satu media lingkungan hidup, sekolah adalah lingkungan kehidupan siswa sehari-hari, bila lingkungan sekolah dapat ditata dan dikelola dengan baik, maka akan menjadi wahana efektif untuk membentuk perilaku peduli lingkungan pada siswa. Sekolah bisa menjadi pelopor gaya hidup yang ramah lingkungan karena sekolah mampu mengajarkan siswanya bagaimana menjalani kehidupan meskipun dengan cara yang sederhana. Jika pada sebuah sekolah menegha kejuruan, dengan jumlah siswa dan guru yang mencapai ratusan, maka sangat banyak dari mereka yang menggunakan air di toilet, maupun kertas di setiap harinya. Untuk itu, perlunya ditanamkan semangat untuk menyelamatkan lingkungan sejak dini kepada anak didik, 266



tentunya penggunaan energi serta berbagai sumber daya dapat dioptimalkan. Misalnya, menghemat penggunaan air, tidak boros listrik, serta mengurangi sampah plastik dan kertas. 2.1 Konsep Green School Konsep "Green school”,



adalah konsep yang mengajak seluruh warga



sekolah untuk membentuk gaya hidup agar lebih peduli dan melestarikan lingkungan, demikian salah satu konsep implementasi pengelolaan lingkungan hidup di sekolah. Saat ini pengelolaan lingkungan hidup di sekolah dikenal dengan konsep green school, bila diartikan pemahaman makna kalimat green school, dengan mudah kita sebut adalah sekolah hijau, tapi pengertian itu bukan hanya tampilan fisik sekolah menjadi hijau. Konsep green school, membawa wujud sekolah yang memiliki porgram dan aktifitas pendidikan mengarah kepada kesadaran dan kearifan terhadap lingkungan hidup. Konsep “sekolah hijau” adalah sutau metoda pendekatan agar sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistimatis mengembangkan program, program untuk implementasi nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktifitas sekolah. Penyusunan program sekolah menggunakan konsep Green School, adalah program pengembangan sekolah yang terintegrasi ke dalam pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan dan pendidikan berbasis komunitas terwadai



dalam



program



kurikuler



dan



ektra



kurikuler.



Sedangkan



pengembangan kawasan sekolah dan pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan termasuk dalam program pengelolaan lingkungan fisik serta fasilitas. Selanjutnya pengembangan lingkungan sosial/lingkungan kerja merupakan bagian dari pengembangan manajemen sekolah Di sekolah, proses pembelajaran mengarah pada upaya pembentukan perilaku siswa yang peduli lingkungan melalui model pembelajaran yang aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Sementara itu, lingkungan sekolah dijadikan wahana pembiasaan perilaku peduli lingkungan sehari-hari. Seluruh aspek menuju pada satu tujuan yaitu internalisasi atau pembiasaan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Penyusunan program sekolah hijau ini dilakukan secara holistik dengan mengaitkan seluruh program yang ada di sekolah. Potensi internal sekolah seperti ketersediaan 267



lahan, sumber daya air, energi, tradisi masyarakat sekitar, dan ekosistemnya merupakan objek pengembangan dalam konsep sekolah hijau. Lingkungan fisik sekolah di tata secara rapi, manis, hijau dan



ekologis



sehingga menjadi wahana pembelajaran bagi seluruh waga sekolah untuk bersikap arif dan berperilaku ramah lingkungan. Program pendidikan dikemas secara partisipatif penuh, percaya pada kekuatan kelompok, mengaktifkan dan menyeimbangkan rasa, pikiran dan kekuatan yang nyata sehingga tiap individu di sekolah bisa merasakan nilai budaya lingkungan, yang nyaman dan tenteram, ibarat kita berjalan di sebuah kebun yang rindag, penuh kehijauan dan kesejukan. Secara konsep seluruh unsur yang ada di sekolah, diajak secara



bersama-sama



melahirkan



tujuan



dan



visi



bersama



dengan



memahami apa yang menjadi penting, menemukan dan mengapresiasi apa yang telah ada dan tentunya itu yang terbaik. Sehingga makna green school terbentuk dan masing-masing pihak dapat berbuat untuk menciptakan kualiatas lingkungan sekolah yang kondusif, ekologis, lestari secara nyata dan berkelanjutan , tentunya dengan cara-cara yang simpatik, kreatif, inovatif dengan menganut nilai-nilai dan kearifan budaya lokal. Sekolah diharapkan mampu menerapkan berbagai program berkenaan dengan lingkungan hidup yang dapat meningkatkan rasa tanggung jawab serta kepedulian siswa terhadap lingkungan. Program Green School atau Sekolah Hijau, di mana program ini menawarkan lingkungan yang sehat, santai, dan aman. Peran aktif siswa SMK dalam implemetasi program green school mengajak siswa mempunyai gaya hidup yang ramah lingkungan di sekolah, seperti; 1) 2) 3) 4)



Siswa/i diajak melakukan hidup sederhana Menggunakan air hemat, di kamar mandi atau di taman Menyenangi hidup dengan cara bertanam pohon di lingkungan seolah Hemat menggunakan energi, ruangan yang telah cukup penerangan tidak



perlu pakai listrik 5) Membuang sampah yang benar, dan mengenal jenis-jenis sampah, sampah organik dan nonorganik? 6) Siswa dilarang melakukan corat-coret, meja, ruangan, km/wc, dan bahkan tas sekolah sendiri. 7) Kebersihan kelas atau halaman sekoah 8) Dan lain-lain. . 268



Pembentukan sikap yang baik di sekolah, sepeti kebiasan di atas, akan menjadikan budaya yang baik bagi setiap individu siswa, dan membawanya ke lingkungan hidup sehari-hari. Sikap atau attitude hidup dengan menghargai budaya lingkungan sekolah akan mencerminkan perasaan siswa terhadap budaya lingkungan hijau. Sikap ini merupakan keteraturan dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek lingkungan di sekitarnya. Pada program Green School, dalam menumbuhkan sikap peduli lingkungan melalui proses pembelajaran dan pembiasaan menjadi penting dan strategis. Di sekolah, proses pembelajaran mengarah pada upaya pembentukan perilaku siswa yang peduli lingkungan melalui model pembelajaran yang aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Sementara itu, lingkungan sekolah dijadikan wahana pembiasaan perilaku peduli lingkungan sehari-hari. Dengan demikian, kedua aspek tadi, menuju pada satu tujuan yaitu internalisasi atau pembiasaan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah merupakan salah lembaga pendidikan yang tentunya mempunyai peran dan tanggung jawab untuk mendidik siswa/I dan warga sekolahnya untuk berprilaku positif terhadap lingkungan, menjaga ekosistem lingkungan seperti menanam pohon-pohon, bunga, menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta memilah dan mengolah sampah sesuai dengan katagorinya. Untuk melakukan hal-hal diatas tidaklah mudah, harus di mulai dari visi dan misi sekolah dan program sekolah, selain itu yang terpenting adalah adanya komitmen dan konsisten dalam menjalankan komitmen dari manajemen dan warga sekolah, kesadaran akan ancaman terhadap lingkungan yang tinggi akan berdampak positif terhadap keterlaksanaan program berwawasan lingkungan. Seluruh masyarakat sekolah, guru, murid dan perangkat sekolah dapat menerapkan konsep sekolah hijau yang harus diikuti bersama. Tentunya pula hal ini dibarengi dengan adanya infrastruktur dan fasilitas yang mendukung terciptanya sekolah ramah lingkungan. Namun, hal ini tidak perlu dipersulit, ini 269



masalah kebiasaan, banyak cara yang bisa dikembangkan untuk membuat lingkungan sekolah menjadi hijau, misalnya dengan pembuatan lubang biopori, adanya bank sampah, hingga pelatihan pembuatan bahan daur ulang sampah. Jadi, aspek-aspek pendidikan karakter dapat langsung diterapkan di dalam keseharian siswa di sekolah tanpa harus dijejali dengan ragam teori. Sejatinya, menjaga lingkungan harus dilaksanakan oleh setiap individu tanpa menunggu waktu, alias sekarang juga. Hal lainnya, pihak pengurus sekolah dapat menyusun dan memetakan konsep: mau dibuat bagaimana agar sekolah bisa disebut sekolah ramah lingkungan?. 3.



Pengenalan Limbah



Banyak kegiatan Sekolah Menengah Kejuruan menghasilkan limbah, limbah tersebut sering kali dibuang ke lingkungan, sementara jumlah limbah yang dihasilkan



terus



meningkat.



Berdasarkan



PPNo.



18/1999



Jo.PP



85/1999, “Limbah” didefinisikan sebagai sisa/buangan dari suatu usaha dan atau kegiatan manusia. Seiring dengan pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi serta perekonomian, jumlah atau konsentrasi limbah yang dibuang kelingkungan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan itu sendiri. UU



RI



No.



23



tahun



1997



tentang



pengelolaan



lingkungn



hidup



mendefinisikan “Baku Mutu Lingkungan” sebagai ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.Dengan kata lain,baku mutu lingkungan adalah ambang batas/batas maksimum suatu zat atau komponen yang diperbolehkan berada dilingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan jenis senyawa: 1) Limbah Organik; Limbah organik merupakan limbah yang memiliki unsur hidrokarbon



(hidrogen



dan



karbon)



yang



mudah



diuraikan



oleh



mikroorganisme. Contoh: Jasad Makhluk hidup, sisa makanan, kertas, kotoran



hewan.



Limbah



organik



yang



mudah



membusuk



dapat



dimanfaatkan kembali dengan cara dijadikan kompos. Kompos dapat dimanfatkan sebagai pupuk/penyubur tanaman. Pembuatan kompos dari



270



limbah organik dapat menjadi salah satu solusi untuk menangani limbah 2)



organik. Limbah Anorganik; Limbah anorganik merupakan limbah yang tidak memiliki unsur hidrokarbon (hidrogen dan karbon) dan sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Contoh: plastik, karet, besi, kaleng bekas, pecahan kaca. Limbah anorganik tidak dapat dibiarkan begitu saja karena sulit diuraikan secara alami oleh mikroorganisme, untuk itu limbah anorganik dapat didaur ulang menjadi produk-produk yang dapat digunakan kembali oleh manusia, seperti kaleng almunium didaur ulang menjadi kaleng almunium kembali atau kertas bekas didaur ulang menjadi kertas siap pakai lagi. Salah satu cara agar pemanfaatan limbah dapat dilakukan dengan efektif dan efisien adalah dengan memilah limbah tersebut saat dibuang



Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan wujud: 1) Limbah Berwujud Cair; Limbah cair adalah segala jenis limbah yang berwujud cairan, berupa air beserta bahan-bahan buangan lain yang tercampur (tersuspensi) maupun terlarut dalam air. 2) Limbah cair dapat diklasifikasikan dalam 4 kelompok, yaitu: a) Limbah cair domestik (domestic wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan darri perumahan (rumah tangga), bangunan, perdagangan, perkantoran, dan sarana jenis. Contoh : Air detergen sisa cucian, air sabun, dan air tinja. b) Limbah cair industri (Industrial wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan industri. Contoh: air sisa cucian daging, buah, atau sayur dari industri pengolahan makanan dan dari sisa pewarnaan kain/bahan dari industri tekstil. c) Rembesan dan luapan (infiltration and inflow), yaitu limbah cair yang berasal dari berbagai sumber yang memasukisaluran pembuangan limbah cair melalui rembesan kedalam tanah atau melalui luapan dari permukan. d) Contoh: halaman, Air buangan dri talng atap, pendingin ruangan (AC), halaman, bangunan perdagangan industri, serta pertanian atau perkebunan. e) Air Hujan (storm water), yaitu limbah cair yang berasal dari aliran air hujan diatas permukaan tanah. Aliran air hujan dipermukaan tanah dapat melewati dan membawa partikel-partikel buangan padat atau cair sehingga dapat disebut limbah cair. 271



Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan wujud Padat: Limbah padat merupakan salah satu limbah yang paling banyak terdapat dilingkungan Biasanya limbah padat disebut sampah, Limbah padat di klasifikasikan menjadi 6 kelompok : 1) Sampah organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat semi basah, berupa bahan-bahan organik yang mudah membusuk atau terurai mikroorganisme. a) Contoh : sisa dapur, sisa makanan, sampah sayuran, kulit buah-buahan. 2) Sampah anorganik dn organik tak membusuk (Rubbish), yaitu limbah padat anorganik atau organik cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme, sehingga sulit membusuk. b) Contoh: Selulosa, kertas, plastik, kaca, logam. 3) Sampah Abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya hasil pembakaran. Sampah ini mudah terbawa angin karena ringan dan tidak mudah membusuk. 4) Sampah bangkai binatang (dead animal), yaitu semua limbah yang berupa bangkai binatang, seperti tikus, ikan dan binatang ternak yang mati. 5) Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan jalanan yang berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan, sperti dedaunan, kertas dan plastik. 6) Sampah Industri (Industrial waste), yaitu semua limbah padat yang bersal daribuangan industri. Komposisi sampah ini tergantung dari jenis industrinya.



Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan wujud Gas: Limbah gas biasanya dibuang keudara. Di udar,terkandung unsur-unsur kimia seperti O2,N2,NO2,Co2,H2, dan lain-lain. Penambahan gas keudara yang melampaui kandungan udara alami akan menurunkan kualitas udara. Tabel : Beberapa macam limbah gas yang umumnya ada diudara No. 1. 2. 3. 4. 5.



Jenis Karbon monoksida(CO) Karbon dioksida (CO2) Nitrogen Oksida (NOx) Sulfur Oksida (SOx)



Keterangan Gas tidak berwarna, tidak berbau Gas tidak berwarna, tidak berbau Gas berwarna dan berbau Gas tidak berwarna dan berbau



Asam klorida (HCl)



tajam Berupa uap 272



6. 7. 8. 9. 10.



Amonia (NH3) Metan (CH4) Hidrogen fluor ida (HF) Nitrogen Sulida (NS) Klorin (Cl2)



Gas tidak berwarna, berbau Gas berbau Gas tidak berwarna Gas berbau Gas berbau



Limbah gas yang dibuang keudara biasanya mengandung partikel-partikel bahan padatan atau cairan yang berukuran sangat kecil dan ringan sehingga tersuspensi dengan gas-gas tersebut. Bahan padatan dan cairan tersebut disebut sebagai materi partikulat. Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan wujud Suara: Yaitu, Limbah yang berupa gelombang bunyi yang merambat diudara. Limbah suara dapat dihasilkan dari mesin kendaraan, mesin-mesin pabrik, peralatan elektronikdan sumber-sumber yang lainnya. Berikut ini pengelompokan limbah, yang didasarkan sumber: 1) Limbah Domestik; Adalah limbah yang berasal dari kegiatan



pemukiman penduduk (rumah tangga) dan kegiatan usaha seperti pasar, restoran, dan gedung perkantoran.Contoh : sisa makanan, kertas, kaleng, plastik, air sabun, detergen, tinja. 2) Limbah Industri; Adalah limbah buangan hasil industri,jenis limbah yang di haasilkan tergantung pada jenis industri. Contoh: Limbah organik cair atau padat akan banyak dihasilkan oleh industri pengolahan makanan, sedangkan limbah anorganik seperti logam berat dihasilkan oleh industri tekstil, Industri yang 3)



melakukan proses pembakaran menghasilkan limbah gas. Limbah Pertanian; Adalah limbah yang beraasal dari limbah pertanian, limbah ini biasanya berupa senyawa-senyawa anorganik dari bahan kimia yang digunakan untuk kegiatan pertanian. Contoh: Pupuk,



4)



pestisida, sisa-sisa tumbuhan. Limbah Pertambangan; Adalah limbah yang berasal dari kegi kegiatan pertambangan. Kandungan limbah ini terutama berupa material tambang. Contoh: Logam atau batuan.



Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 273



Menurut PP RI No. 18/1999 tentang pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu kegiatan yang mengandung bahan berrbahaya dan beracun, yang karena sifat dan atau konsentrasinya, baik secara langsung maupun tak langsung merusak lingkungan hidup, kesehatan maupun manusia. Limbah B3 dapat diklasifikasikan sebagai zat bahan yang mengandung satu atau lebih senyawa:



               



Mudah meledak (explosive) Pengoksidasi (oxidizing) Amat sangat mudah terbakar (extremely flammable) Sangat mudah terbakar (highly flammable) Mudah terbakar (flammable) Amat sangat beracun (extremely toxic) Sangat beracun (highly toxic) Beracun (moderately toxic) Berbahaya (harmful) Korosif (corrosive) Bersifat mengiritasi (irritant) Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) Karsinogenik/dapat menyebabkan kanker (carcinogenic) Teratogenik/dapat menyebabkan kecacatan janin (teratogenic) Mutagenik/dapat menyebabkan mutasi (mutagenic) Zat atau bahan tersebut diatas diklasifikasikan sebagai limbah B3 karena memenuhi satau atau lebih karakteristik limbah B3







berikut: Limbah mudah meledak, yaitu limbah yang pada suhu dan tekanan standar (250 C, 760 mmHg) dapat meledak dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi







yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. Limbah mudah terbakar, yaitu limbah yang mempunyai salah atu sifat berikut: o Limbah berupa cairan yang mengandung alkohol yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan atau pada titik nyala tidak lebih dari 400C (1400F) akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. o Limbah bukan berupa cairan, yang pada temperatur dan tekanan



standar



(250C,



760mmHg)



dapat



mudah



menyebabkan kebakaran melalui gesekan, penyerapan 274



uap air, atau perubahan kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus. o Merupakan



limbah



yang



bertekanan



yang



mudah







terbakar. o Merupakan limbah pengoksidasi. v Limbah yang bersifat reaktif, yaitu limbah yang mempunyai







salah satu sifat berikut: Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat



 



menyebabkan perubahan tanpa peledakan. Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air. Limbah yang apabila bercampur dengan



air



berpotensi



menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.Merupakan limbah sianida, sulfida, atau amonia yang pada kondisi pH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang 



membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Limbah yang mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan







tekanan standar (250C, 760mmHg). Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak







stabil dalam suhu tinggi. Limbah beracun, yaitu limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk







kedalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut. Limbah yang menyebabkan infeksi, yaitu limbah kedokteran, limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi







kuman penyakit yang dapat menular. Limbah bersifat korosif, yaitu limbah yang mempunyai salah satu sifat berikut: − Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit. − Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja .



275



− Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah bersifat asam dan sama atau lebih besar dari 12,5 untuk 



bersifat basa. Berbagai produk yang dapat menjadi limbah B3, yaitu: − Produk Automotif, contoh: bahan bakar, oli kendaraan, aki, dan pembersih kendaraan. − Produk untuk pemeliharaan rumah, contoh: cat, pewarna, pengencer cat. − Pestisida, contoh: insektisida, racun tikus dan kamper. − Pembersih rumah, contoh: pembersih lantai, pemutih, pengkilap oven − Produk lainnya, contoh: baterai, kosmetik, dan pemoles sepatu



276