Isolasi [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

RUMAH SAKIT HATIVE PASSO Jl. Laksda Leo Wattimena Passo, Ambon, Maluku 97232 Telepon / Faximile : (0911) 362199 Surat Elektronik :[email protected]



PEDOMAN ISOLASI BAB I PENDAHULUAN A.



Latar Belakang Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan ( berpindah – pindah dari orang yang satu ke oaring yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah penularan penyakit disebabkan proses infeksi oleh kuman. Infeksi merupkan invasi tubuh oleh pathogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Potter dan Perry, 2005). Rumah Sakit merupakan tempat pelayanan pasien dengan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit karena infeksi, dari mullai yang ringan sampai yang terberat, dengan begitu hal ini dapat menyebabkan resiko penyebaran infeksi dari satu pasien ke pasien yang lainnya, begitupun dengan petugas kesehatan yang sering terpapar dengan agen infeksi. Penularan infeksi dapat melalui beberapa cara diantaranya melalui darahh dan cairan tubuh seperti halnya penyakit HIV/AIDA dan hepatitis B. Penyebaran virus HIV dan hepatitis B melalui perilaku seks bebas, penyalahgunaan narkoba, umumnya tertular melalui penggunaan jarum suntik bersama, melalui trasfusi darah, ASI, alat – alat keddokteran, hubungan suami istri yang sudah tertular virus HIV/HVB postif, dan apabila ada kontak anatara cairan tubuh (terutama darah, semen, sekresi vagina dan ASI) dengan luka terbuka pada seseorang yang sehat walaupun kecil. Seseorang yang mengidap penyakit ini dapat menularkan virusnya kepada orang lain jika darah atau cairan tersebut masuk kedalam darah orang lain melalui lukja atau produksi darah.(R Syamsuhidajat dan Wim de jong, 1997). Berdasarkan data yang dikeluarkan UNAIDS (United Nations Aquired Immuno Deficiency Syndrom) pada 2006 yang lalu, dari prevelensi HIV/AIDS yang mencampai 40 juta orang, sekitar 75 persennya berada di Asia dan Afrika. Prevalensi kasus HIV/ADIS b yang terjadi di Indonesia periode januari sampai dengan maret 2007 sebesar 440 orang tertular virus HAIV dan 794 orang lainnya menderita penyakit AIDS dengan jumlah kematian sebesar 123 orang. Prevalensi HIV/AIDS di Jawa Barat periode janwari sampai maret 2007 sebesar 1105 orang dengan jumlah kematian sebesar 173 orang yang menempati urutan ketiga tertinggi di Indonesia (Ditjeb PPM dan PL Depkes R.I, 2007.) kasus penyakit hepatitis B menurut Lesmana (2007) menyatakan bahwa, jumlah penderita hepatitis B di cina sebesar 123,7 juta orang, di india sebesar 30 – 50 juta orang, sedangkan di Indonesia secara keseluruhan berjumlah 13,3 juta penderita dengan tingkat prevalensi mencapai 5 – 10%. Tenaga medis yang bekerja di fasilitas kesehatan sangat beresiko terpapar infeksi yang sacara potensial membahayakan jiwanya, karena tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dapat kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah pasien dan



dapat menjadi tempat dimana agen infeksi dapat hidup dan berkembang biak yang kemudian menularkan infeksi dari pasien satu ke pasien yang lainnya. Menurut penelitian apabila tenaga medis terkena infeksi akibat kecelakaan maka resikonya 1% mengidap hhepatitis fulminan 44 % hepatitis kronis (aktif),5% menjadi pembawa virus. Seluruh pasien yang dirawat di rumah sakit merupakan individu yang rentan terhadap penularan penyakit. Hal ini karena daya tahan tubuh pasien yang relative menurun. Penuluran penyakit terhadap pasien yang dirawat di rumah sakit disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh kelalaian tenaga medis atau penularan dari pasien lain. Pasien yang dengan penyakit infeksi menular dapat menularkan penyakitnya selama dirawat di rumah sakit. Penularan dapat melalui udara, cairan tubuh, makanan dan sebagainya. Meningkatnya angka kejadian infeksi di rumah sakit, baik terhadap petugas kesehtan atau pasien yang dirawat di rumah sakit, mengharuskan diwujudkannya suatu langkah pencegahan sehingga angka infeksi ri rumah sakit dapat menurun. Salah merawat pasien dengan penyakit infeksi yang dianggap berbahaya disuatu ruangan tersendiri, terpisahhh dari pasien lain, dan memiliki aturan khusus dalam prosedur pelayanannya. B.



Tujuan 1. Sebagai pedoman pelaksanaan isolasi pada pasien dengan penyakit menular, yang merupakan salah satu upaya rumah sakit dalam mencegah infeksi nosokomial. 2. Mencegah terjadinya infeksi pada petugas kesehatan. 3. Mencegah terjadinya infeksi pada pasien rawat inap atau pasien dengan penurunan daya tahan tubuh.



C.



Landasan Hukum Landasan perawatan pasien penyakit menular RS Hative Ambon adalah : 1. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 2. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 3. Keputusan Materi kesehatan republic Indonesia nomor 382/Menkes/SK/III/2007 tentang pedoman Pencegah dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya.



BAB II DEFENISI A. Pengertian Isolasi Isolasi adalah segala usaha pencegahan penularan / penyebaran kuman pathogen dari sumber infeksi (petugas, pasien, pengunjung) ke orang lain. Sesuai dengan rekomendasi WHO dan CDC tentang kewaspadaan isolasi untuk pasien dengan penyakit infeksi airborne yang berbahaya seperti H5NI, kewaspadaan yang perlu dilakukan meliputi a. Kewaspadaan standar Perhatikan kebersihan tangan dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien maupun alat – alat yang terkontaminasi secret pernapasan. b. Kewaspadaan kontak Gunakan sarung tangan dan gaun pelindung selama kontak dengan pasien. Gunakan peralatan terpisah untuk setiap pasien seperti stetoskop, thermometer, tensimeter, dan lain – lain. c. Perlindungan mata Gunakan kacamata pelindung atau pelindung muka, apabila berada pada jarak 1 meter dari pasien. d. kewaspadaan airborne tempatkan pasien diruangan isolasi. Gunakan masker N9 bila memasuki ruang isolasolasi.



B. Syarat Kamar Isolasi 1. Lingkungan tenang 2. Sirkulasi udara baik. 3. Penerangan baik. 4. Bentuk ruangan sedemikian rupa sehingga memudahkan untuk obervasi pasien dan pembersihannya. 5. tersediannya wc dan kamar mandi 6. kebersihan lingkungan terjaga 7. tempat sampah tertutup



8. bebas dari serangga 9. tempat linen kotor harus di tutup 10. Urianal dan pispot untuk pasien harus dicuci dengan memakai dengan desinfektan



C. Syarat petugas Ruang Isolasi 1. Sehat 2. Mengetahui prinsip aseptic antiseptic 3. Pakaian rapid an bersih 4. Tidak memakai perhiasan 5. Kuku harus pendek 6. Cuci tangan sebelum masuk kamar isolasi 7. Penggunaan barrier nursing seperti pakain khusus, topi, masker, sarung tangan, dan sandal khusus 8. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien 9. Berbicara seperlunya 10. Lepaskan barrier nursing sebelum keluar kamar isolasi 11. Cuci tangan sebelum meninggalkan kamar isolasi. D. Syarat Peralatan Ruang Isolasi 1. 2. 3. 4. 5. 6.



Alat – alat yang di butuhkan cukup tersedia Selalu dalam keadaan steril Dari bahan yang mudah di bersihkan Alat suntik bekas di buang pada tempat tertutup dan di musnakan Alat yang tidak habis pakai di cuci dan disterilkan kembali Linen bekas di masukan dalam tempat tertutup



E. Kategori Isolasi Kategori isolasi yang di lakukan sesuai dengan pathogenesis dan cara penularan/ penyebaran pencegahan enteric dan tindakan pencegahan sekresi.secara umum, kategori isolasi membutuhkan kamar terpisah, sedangkan kategori tindakan pencegahan tidak memerlukan kamar terpisah a) Isolasi Ketat Tujuan isolasi ketat adalah mencegah penyebaran semua penyakit yang sangat menular, baik melalui kontak langsung maupun peredaran udara. Teknik ini kontak langsung maupun peredaran udara.teknik ini mengharuskan pasien berada di kamar tersendiri dan petugas yang berhubungan dengan pasien harus memakai pakaian khusus, masker, dan sarung tangan serta mematuhi aturan pencegahan yang ketat. Alat-alat yang terkontaminasi bahan infeksius di buang atau di bungkus dan di beri label sebelum di kirim untuk proses selanjutnya.isolasi ketat di perlukan pada pasien dengan penyakit cacar, difteri, vricella dan herpes zooters diseminata atau pada pasien imunokompromis. Prinsip kewaspadaan airbone harus diterapkan di setiap ruang perawatan isolasi ketat yaitu : i. Ruang rawat harus di pantau agar tetap dalam tekanan negative di banding tekanan di koridor ii. Pergantian sirkulasi udara 6-12 kali per jam



iii.



Udara harus di buang keluar,



Setiap pasien harus di rawat di ruang rawat tersendiri. Pasien tidak boleh membuang ludah atau dahak di lantai, gunakan penampung dahak/ ludah tertutup sekali pakai. b) Isolasi kontak Bertujuan untuk mencegah penularan penyakit infeksi yang mudah di tularkan melalui kontak langsung. Pasien perlu kamar tersendiri, masker perlu di pakai bila mendekati pasien, jubah di pakai bila ada kemungkinan kotor, sarung tangan di pakai setiap menyentuh badan infeksius. Cuci tangan sesudah melepas sarung tangan dan sebelum merawat pasien lain. Alat-alat yang terkontaminasi bahan infeksius di perlukan seperti pada isolasi ketat.isolasi kontak di perlukan pada pasien dengan endometritis, pneumonia atau infeksi kulit oleh streptococcus grup A, herpes simpleks diseminta, infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotika, rabies, rubella. c) Isolasi saluran pernafasan Tujuannya untuk mencegah penyebaran pathogen dari saluran pernafasan dengan cara kontak langsung dan peredaran udara. Cara ini mengharuskan pasien dalam kamar terpisah, memakai masker dan di lakukan tindakan pencegah khusus terhadap buangan napas / sputum, misalnya pada pasien pertusis, ccampak, tuberkulosa paru, infeksi H influenza. d) Tindakan Pencegahan Enterik Tujuannya untuk mencegah infeksi oleh pathogen yang berjangkit karena kontak langsung atau tidak langsung dengan tinja yang mengandung kuman penyakit menular.pasien ini dapat bersama dengan pasien lain dalam satu kamar, tetapi di cegah kontaminasi silang melalui mulut dan dubur.tindakan pencegahan enteric di lakukan pada pasien dengan diare infeksius atau gastroenteritis yang di sebabkan oleh kolera, salmonella, shigella, amuba, campylobacter, cryptosporidium, E.coli pathogen e) Tindakan pencegahan Sekresi Tujuannya untuk mencegah penularan infeksi karena kontak langsung atau tidak langsung dengan bahan purulen, sekresi atau drainase dari bagian badan yang terinfeksi.pasien tidak perlu ditempatkan di kamar tersendiri.petugas yang berhubungan langsung harus memakai jubah, masker, dan sarung tangan. Tangan harus segera cuci setelah melepas sarung tangan atau sebelum merawat pasien lain. Tindakan pencegahan khusus di lakukan pada waktu perggantian balutan. Tindakan pencegahan sekresi ini perlu untuk penyakit infeksi yang mengeluarkan bahan perulen, drinase atau sekresi yang infeksius. f) Lama Isolasi Lama isolasi tergantung pada jenis penyakit, kuman penyebab dan fasilitas laboratorium, yaitu : 1. Sampai penyakit sembuh (misalnya herpes, limfogruloma venerum, khusus untuk luka atau penyakit kulit sampai tidak mengeluarkan bahan menular) 2. Selama pasien di rawat di ruang rawat (misalnya hepatitis virus A dan B, leptospirosis)



3. Sampai 24 jam setelah dimulainya pemberian antibiotika yang efektif (misalnya pada spilis, konjungtivitis gonore pada neonatus) G. Produser Keluar Ruang Perawatan Isolasi 1. Perlu disediakan ruang ganti khusus untuk melepaskan alat pelindung diri (APD) 2. Pakaian bedah/ masker tetap di pakai 3. Lepaskan pakain bedah dan masker di ruang ganti pakain umum, masukan dalam kantung linen yang bertanda infeksius 4. Mandi dan cuci rambut (keramas) 5. Sesudah mandi kenakan pakian biasa 6. Pintu keluar dari ruang perawatan isolasi harus terpisah dari pintu masuk. H. Kriteria Pindah Rawat Dari Ruang Isolasi Ke Ruang Perawatan Biasa 1. Terbukti bukan kasus yang mengharuskan untuk di rawat di ruang isolasi 2. Pasien tidak dinyatakan tidak menular atau telah diperbolehkan untuk rawat dirawat di ruang rawat inap biasa oleh dokter 3. Pertimbangan lain dari dokter BAB III RUANG LINGKUP 1. Penggunaan kamar isolasi di terapkan kepada semua pasien rawat inap yang mengidap penyakit infeksi menular yang di anggap mudah menular dan berbahaya. 2. Pelaksana panduan ini adalah semua elemen rumah sakit beserta pasien dan keluarga. BAB IV TATALAKSANA RUANG ISOLASI



A. Prinsip 1. Setiap pasien dengan penyakit infeksi menular dan di anggap berbahaya di rawat di ruang terpisah dari pasien lainnya yang mengidap penyakit yang bukan infeksi 2. Penggunaan Alat Pelindung Diri di terapkan kepada setiap pengunjung dan petugas kesehatan terhadap pasien yang di rawat di kamar isolasi 3. Pasien yang rentan infeksi seperti pasien luka bakar, pasien penurunan system imun di karenakan pengobatan atau penyakitnya, di rawat di ruang (terpisah) isolasi rumah sakit 4. Pasien yang tidak termasuk kriteria di atas di rawat diruang rawat inap biasa 5. Pasien yang di rawat di ruang isolasi , dapat di pindahkan ke ruang rawat inap biasa apabila telah dinyatakan bebas dari penyakit atau menurut petunjuk dokter penanggung jawab pasien.



B. Alur Pasien Perawatan Ruang Isolasi Pasien Masuk



Pendaftaran



Poli Umum



IGD



Pemeriksaan Fisik Diagnostik



Diagnosa Kerja :  Infeksi menular (airbone, droplet)  Imunocompromise (HIV AIDS + Infeksi Opportunistik)



Isolasi



C. Manajemen Perawatan Pasien Di Ruang Isolasi 1. Sebelum membawa / transfer pasien Pakaikan masker medis/ bedah pada pasien (terutama pasien arbone disease) saat transfer 2. Sebelum kontak pada setiap pasien  Gunakan masker medis / bedah  Mencuci tangan  Gunakan pelindung mata, jubah gaun dan sarung tangan bila ada resiko terkena cipratan lender pasien 3. Jika menggunakan Aerosol (suction)  Hanyan staf tertentu yang boleh keluar masuk ruangan  Gunakan gaun pelindung  Gunakan pelindung mata, lalu sarung tangan  Lakukan prosedur terencana dalam ruangan yang berventilasi yang memenuhi syarat 4. Sebelum membawa pasien ke ruangan lain misalnya bagian Radiologi  Batasi akses keluar masuk  Sediakan perlengkapan khusus pasien jika ada  Pastikan di patuhinya tata tertib setempat dalam perggantian linen dan kebersihan ruangan. 5. Sebelum memasuki area khusus (misalnya : bagian radiologi)  Memcuci tangan  Gunakan alat pelindung diri (sarung tangan, jubah masker, dan pelindung mata) 6. Sebelum meninggalkan area khusus (misalnya : bagian radiologi)  Lepaskan alat pelindung diri (sarung tangan, jubah, masker, dan pelindung mata)  Buanglah barang- barang yang memang harus di buang sesuai dengan peratutan setempat  Mencuci tangan  Mencuci dan mensterilkan peralatan untuk pasien.  Buanglah sampah yang terkontaminasi (infeksius ) sesuai tempatnya 7. Sebelum meniggalkan pasien suspect atau positif  Beritahukan pasien tentang etika batuk  Beritahukan peraturan di ruang isolasi, kendali infeksi dan pembatasan kontak sosial 8. Setelah pasien pulang  Buang atau bersihkan peralatan khusus untuk pasien isolasi sesuai peraturan  Masukan linen kotor ketempat linen infeksius dan dig anti dengan linen bersih  Bersihkan ruangan sesuai dengan peraturan setempat  Buanglah sampah infeksius sesuai tempatnya.



BAB V DOKUMENTASI Pengendalian infeksi nosokomial merupakan suatu upaya penting dalam meningkatkan mutu pelayanan medis rumah sakit. Hal ini hanya dapat di capai dengan keterlibatan secara aktif semua personil rumah sakit, mulai dari petugas kebersihan sampai dengan dokter dan mulai dari pekerja sampai dengan jajaran direksi. Kegiatannya dilakukan secara baik dan benar di semua sarana rumah sakit, peralatan medis dan non medis, ruang perawatan dan prosedur serta lingkungan. Dokumen yang wajib di siapkan adalah sebagai berikut : a. Dokumen regulasi b. Dokumen monitoring dan evaluasi Demikian panduan ini di buat untuk panduan tetang ruang isolasi berjalan dengan baik Dan sesuai standar yang telah ditetapkan oleh undang- undang kesehatan yang berlaku,Panduan Ruang isolasi Rs Hative Ambon maka segala pelayanan yang berkaitan dengan ruang isolasi wajib berlandaskan pedoman ini.