Manajemen Pasien Safety Pada Anak [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

BAB 1 1.



PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Rumah sakit sebagai salah satu saran pelayanan kesehatan pada hakekatnya bertujuan untuk mewujudkan derajad kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Menurut Undang- undang nomor 44 tahun 2009 (dalam Ratman 2014:519) tentang rumah sakit, ditulisakan bawahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakatsehingga harus tetap mampu meningkatakan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat, agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi – tingginya. Isu patient safety merupakan salah satu isu utama dalam pelayanan kesehatan. Para pengambil kebijakan, pemberi pelayanan kesehatan, dan konsumen menempatkan keaman sebagai prioritas utama pelayanan. Patient safety perlu secara teratur dipantau, dikur, dan diperbaiki. Salah satu konsep utama adalah dengan pengenalan risiko yang dapat dicegah. serbagai risiko akibat tindakan medik dapat terjadi sebagai bagian dari pelayanan kepada pasien. Identifikasi dan masalah tersebut merupakan bagian utaa dari pelaksanan konsep patien safety menurut Mudayana 2015:145. Keselamatan pasien (Patient Safety) merupakan sesuatu yang jauh lebih penting dari pada sekedar efisiensi pelayanan. Perilaku perawat dengan kemampuan perawat sangat berperan penting dalam pelaksaan keselamatan pasien. Perilaku yang tidak aman, lupa, kurang perhatian/motivasi, kecerobohan, tidak teliti dan kemampuan yang tidak memperdulikan dan menjaga keselamatan pasien berisiko untuk terjadinya kesalahan dan mengakibatkan cedera pada pasein, berupa Near Miss (Kejadian nyaris cedera/KNC) atau Adverse Event (kejadian tidak diharapakan/KTD)



Commented [WU1]: BAB 1 PENDAHULUAN MENJELASKAN TENTANG FENOMENA ANGKA KEJADIAN DARI PASIEN SAFETY PADA ANAK, SESUAIKAN DENGAN KASUS YANG DIANGKAT



selanjutnya pengurangan kesalahan dapat dicapai dengan memodifikasi perilaku. Perawat harus melibatkan kognitif, afektif dan tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien. Menurut World Health Organization (WHO), 2014 : 2, keselamatan pasien merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius. Di Eropa mengalami pasien dengan resiko infeksi 83,5 % dan bukti kesalahan medis menunjukkan 50-72,3%. Di kumpulkan angka-angka penelitian rumah sakit di berbagai Negara, di temukan KTD dengan Rentang 3,2 – 16,6 %. Patient safety pada keperawatan anak merupakan upaya pencegahan injuri pada anak yang disebabkan langsung oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri. Lebih dari 10 tahun terakhir, patient safety menjadi prioritas utama dalam sistem pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan termasuk perawat memiliki tanggung jawab terhadap pengobatan dan perawatan anak selama berada di rumah sakit termasuk patient safety. Salah satu cara untuk meningkatkan patient safety pada anak adalah penggunaan teknologi informasi dalam keperawatan menurut WHO 2011 (dalam Parulian). Data Patient Safety tentang Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kejadian Tak Diharapkan (KTD) di Indonesia masih jarang, namun dipihak lain terjadi peningkatan tuduhan “Malpraktek” yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Insiden penanggaran Patient Safety 28,3 % dilakukan oleh Perawat. Menurut Bawelle (dalam Lombogia 2016) secara keseluruhan program patient safety, karena walapun sudah pernah mengikuti sosialisasi, tetapi masih ada pasien cedera, resiko jatuh, resiko salah pengobatan, pendelegasian yang tidak akurat saat ofogan pasien yang mengakibatkan keselamatan pasien menjadi kurang maksimal. Bronkiolitis adalah suatu peradangan pada bronkiolus yang disebabkan oleh virus. Bronkiolitis memiliki manifestasi klinis yaitu: sering bersin dan



banyak sekret atau lendir, demam ringan, cuping hidung, sesak nafas, batukbatuk, dan lain-lain menurut Suriadi & Yulianni 2006:35. Bronkiolitis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi. Pasien bronkiolitis akut berat mempunyai risiko mengalami mengiberulang atau asma. Sekitar 23% bayi dengan riwayat bronkiolitis berkembang menjadi asma pada usia 3 tahun. Bayi yang dirawat dengan bronkiolitis pun mempunyai kecendrungan mengalami penurunan fungsi paru pada usia 7 tahun. Kematian akibat bronkiolitis pada bayi sekitar 2/100.000 bayi Menurut Wijaya 2014:95. 1.2 Tujuan 1.2.1



Tujuan umum Untuk Memberikan Gambaran Tentang Manajemen Patient Safety Pada Anak Di Rumah Sakit.



1.2.2



Commented [WU2]: TUJUAN UMUM ADALAH PENJELASAN TENTANG TUJUAN SECARA UMUM PEMBUATAN MAKALAH INI MISAL : UNTUK MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG MANAJEMEN PATIENT SAFETY PADA KELOMPOK KHUSUS PEDIATRIK DI RUMAH SAKIT



Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui pengertian dari keselamatan pasien (Patient Safety). 2. Untuk mengetahui pengertian dari keselamatan pasien khusus pada anak. 3. Untuk mengetahui standar keselamatan pasien rumah sakit. 4. Untuk mengetahui standar keselamatan pasien rumah sakit khusus pada anak.



1.3 Manfaat 1. Manfaat bagi Masyarakat



Commented [WU3]: INI ADALAH TUJUAN KHUSUS



a) Masyarakat dapat mengetahui dan memahami konsep tentang Keselamatan pasien, baik keselamatan pasien secara umum atau khusus. b) Memberikan informasi tentang pelayanan keselamatan pasien yang ada di rumah sakit. 2. Manfaat bagi Mahasiswa a) Mahasiswa dapat memahami tentang konsep keselamatan pasien. b) Meningkatan informasi seputar keselamatan pasien di rumah sakit c) Mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan membaca yang efektif. 3. Manfaat bagi Instirusi Manfaat untuk institusi dapat meningkatan referensi dan kerjasama anatara pihak kampus dengan pihak rumah sakit.



BAB 2 2.1 Konsep pasien safety 2.1.1



Menurut penjelasan pasal 43 UU kesehatan No.36 tahun 2009 yang dimaksud dengan keselamatan pasien (Patient Safety) adalah proses dalam suatu rumh sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien secara aman termasuk



didalamnya



pengkajian



mengenai



resiko,



identifikasi,



menajemen resiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti inseden, dan menerpkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adadah keselamatan medis (Medical Errors), kejadian yang tidak diharapakan (Adverse event), dan nyaris terjadi (Near Miss). Menurut



IOM



(dalam



Cahyono



2008:118)



keselamatan



pasien



didefinisikan sebagai layanan yang tidak mencedarai atau merugikan pasien (Safety is defined as freedom from accidental injury). Dengan demikian, layanan yang mengandung unsur kesalahan namun tidak mencederai atau merugikan pasien (Mencederai fisik, finansial) atau nyaris cedera masih dapat ditolerir. Meskipun definisi keselamatan pasien sangat sederhana jika dipandang dari sudut pasien (pasien tidak cedera), namun implementasinya dala rangka mencapai keselamatan pasien tidaklah sesederahana definisinya. 2.1.2



Langkah menujuh Keselamatan pasien, menurut Undang – undang RI nomor 11 tahun 2017: 42 1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. Ciptakan budaya adil dan terbuka



Commented [WU4]: LENGKAPI TENTANG PASIEN SAFETY MULAI DARI TUJUAN DAN ORANG YANG TERLIBAT DALAM PASIEN SAFETY



2. Memimpin dan mendukung staf. Tegakkan focus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien diseluruh fasilitas pelayanan kesehatan anda. 3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Bangun sistem dan proses untuk mengelola risiko dan mengidentifikasi



kemungkinan



terjadinya kesalahan 4. Mengembangkan sistem pelaporan. Pastikan staf anda mudah untuk melaporkan insiden secara internal (lokal) maupun eksternal (nasional) 5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara-cara berkomunikasi cara terbuka dan mendengarkan pasien 6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Dorong staf untuk menggunakan analisa akar masalah guna pembelajaran tentang bagaimana dan mengapa terjadi insiden 7. Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien pembelajaran lewat perubahan-perubahan didalam praktek, proses atau sistem. Untuk sistem yang sangat kompleks seperti fasilitas pelayanan kesehatan untuk mencapai hal-hal diatas dibutuhkan perubahan budaya dan komitmen yang tinggi bagi seluruh staf dalam waktu yang cukup lama. 2.1.3



Pelayanan yang bermutu dan aman bagi pelanggan (Pasien) saling berkaitan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. IOM menetapkan 6 tujuan yang ingin diapai pada abad 21, yaitu keselamatan pasien (Safety), Efisiensi (Effiecient), efektif (Effective), tepat waktu (Timeliness), berorientasi pada pasien (Pastient Centered), dan keadilan (Equity) menurut Flynn (dalam Cahyono 2008:118). 1. Safety. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai layanan yang tidak mencedarai atau merugikan pasien (Safety is defined as freedom from accidental injury). Dengan demikian, layanan yang mengandung unsur kesalahan namun tidak mencederai atau merugikan pasien (Mencederai fisik, finansial) atau nyaris cedera masih dapat ditolerir.



Meskipun definisi keselamatan pasien sangat sederhana jika dipandang



dari



sudut



pasien



(pasien



tidak



cedera), namun



implementasinya dala rangka mencapai keselamatan pasien tidaklah sesederahana definisinya. 2. Effective. Effective diartikan mengerjakan pekerjaan yang benar (doing the right things). Secara tekhnis definisi efektif lebih mudah dipahami bila dikaitkan dengan penerapan klinis, yaitu efektivitas klinis. Uji klinis randomisasi (randomized controlled trial, RCT) adalah kunci penelitian efektivitas klinis, jadi pengertian efektif diidentik dengan standar yang telah ditentukan atau standar terkini. Standar yang dianggap benar dan terkini adalah hasil penelitian yang bersifat RCT (paling baik). 3. Efisiensi. Dalam manajemen modern memberikan arti kata efisien, yakni mengerjakan pekerjaan dengan benar (doing things right). Sistem pelayanan kesehatan dituntut untuk lebih efisien. pelayanan yang efesien



berarti menghindari segala pemborosan dalam



penyediaan alat, mengurangi masa rawat inap, serta mengurangi pemeriksaan diagnostik dan terapi yang tidak perlu. 4. Patient coenterdness. Pelayanan yang berfokus pada pasien bukan konsep yang baru, namun nilai-nilai telah diabaikan oleh para dokter. Kecendrungan yang terjadi saat berorientasi pada tekhnologi (technology contered), yang berpusat pada dokter (doctor contered) berpusat pada rumah sakit (hospital centered) dan berpusat pada penyakit (disease centered). Nilai-nilai pasien seperti harapan, perasaan, keinginan dan kecemasan yang muncul selama interaksi pasien dengan dokter sering diabaikan. 5. Equitty. Pentingnya keadilan distributif yakni perlakuan yang sama bagi kasus-kasus yang sama. Memperlakukan satu kelas pasien secara berbeda-beda dengan alasan perbedaan umur, letak tempat tinggal,



pendapatan, agama, dan sebagainya tidak bisa diterima. Alasan tersebut tidak relevan dan melanggar prinsip keadilan. 2.1.4



Konsep Penetapa Tarif Dalam Manajemen Rumah Sakit Tarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan drngan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah rumah sakit bersedia memberikan jasa pada pasien. Tarif rumah sakit merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh rumah sakit swasta juga oleh rumah sakit milik pemerintah. Pada sistem ekonomi yang berbasis pada keseimbangan pasar, jelas bahwa subsidi pemerintah tidak dilakukan atau terbatas pada masyarakat miskin. Akibatnya, tarif dibiarkan sesuai dengan permintaan pasar. Akan tetapi, hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketidak adilan yaitu masyarakat miskin sulit mendapatkan pelayanan rumah sakit, sehingga subsidi perlu diberikan karena keadaan ini sangat penting pada proses penetapan tarif rumah sakit pemerintah. Menurut UU no 44 tahun 2009 tentang pembiayaan: 1) Pembiayaan rumah sakit dapat bersumber dari penerimaan rumah sakit, anggaran pemerintah, subsidi pemerintah, anggaran pemeritah daerah, subsidi pemerintahan daerah atau sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. 2) Ketentuan lebih lanjut mengenai subsidi atau bantuan pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peratuan pemerintah. Undang – undang no 44 tahun 2009 tentang rumah sakit dan undangudang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan, mewajibaan rumah sakit untuk menguamakan penyelamatan nyata pasien dan tidak boleh meminta uang muka. “Semua rumah sakit, baik yang sudah bekerja sama dengan



Commented [WU5]: MASUKAN TENTANG KONSEP KEADILAN KURANG BIAYA MASUKAN ISU EKONOMI DIDALAMNYA



BPJS kesehatan atau belum, wajib memberikan pelayanan gawat darurat pada pasien yang membutuhkan. Peserta BPJS kesehatan tersebut tidak boleh ditagih biaya, karena sebenarnya RS dapat menagihkan pelayanan kegawatdaruratan pasien JKN tadi kepada BPJS kesehatan. Berdasarkan undang – undang rumah sakit, pemerintah dapat memberikan sanksi berupa teguran lisan, teguran tertulis sehingga pencabutan izin rumah sakit apabila terbukti dapat kelalaian. Untuk memberikan sanksi tersebut, perlu dilakukan penelusuran mendalam atas kejadian atau dilakukan audit medis. 2.1.5



Orang terlibat dalam pasient safety Dalam kegiatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dilaksanakan oleh banyak personil Rumah Sakit baik tenaga medis, tenanga pennjuang medis, tenaga keperawatan dan tenanga kesehatan lain yang melakukan berbagai macam prosedurpemeriksaan, berbagai macam tingkatan, prosedur pemberian obat-obatan serta kegiatan lain yang tujuannya untuk upaya kesembuhan pasien. Menurut Depkes (dalam Lombogia 2016:7) keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebh aman. Dan salah satu tujuan pentingnya adalah mencegah dan mengurangi terjadinya insiden keselamatan pasien. Perilaku perawat yang tidak menjaga keselamatan aka berkonstribusi terhadap situasi yang cepat memburuk gagal mengenali apa yang terjadi dan mengabaikan informasi klinik penting yang terjadi pada pasien dapat mengancam keselamatan pasien. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien harus menerapkan keselamatan pasien. Terawatt harus melibatkan kognitif, afektif, dan tindakan yang mengutamakan keselamatan pasien. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus penuh dengan kepedulian.



Persepsi terawatt untuk menjaga keselamatan pasien sangat berperan penting dalam pencegahan, pengendalian, dan peningkatan keselamatan pasien menurut Choo dkk (dalam Lombogia (2016:5). Perilaku perawat dalam melaksanakan keselamatan pasien mengacu pada standar keselamatan pasien mengacu pada standar keselamatan pasien mengacu pada standar keselamatan pasien Joint Commission International (JCI) dan berdasarkan permenkes No 1691/menkes/per/VII/2011 yang paling relevan terkait dengan mutu pelayanan rumah sakit yakni International Patient safety Goals yang meliputi 6 sasaran, salah satunya identify patient correctly (Kemenkes, 2011). Bronkiolitis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi. Pasien bronkiolitis akut berat mempunyai risiko mengalami mengiberulang atau asma. Sekitar 23% bayi dengan riwayat bronkiolitis berkembang menjadi asma pada usia 3 tahun. Bayi yang dirawat dengan bronkiolitis pun mempunyai kecendrungan mengalami penurunan fungsi paru pada usia 7 tahun. Kematian akibat bronkiolitis pada bayi sekitar 2/100.000 bayi Menurut Wijaya 2014:95. Episode pertama serangan, yang biasanya paling berat, terjadi paling sering pada bayi usia 2 sampai 6 bulan. Kejadian bronkiolitis dapat trjadi pada buln pertama kehidupan dan episode berulang akan terjadi di tahun kedua kehiupan oleh virus yang sama menurut Junawanto, dkk 2016 : 427. Bronkiolitis akut adalah peradangan pada bronkiolus yang di tandai oleh sesak nafas, mengi, dan hiperinflasi paru. Bronkiolitis akut merupakan infeksi respiratork akut bagian bawah (IRA-B) yang sering pada bayi. Sekitar 20% anak pernah mengalami satu episode IRA-B dengan mengi tahun pertama. Brokiolitis akut merupakan salah satu penyebab utama rawat inap pada bayi. Ngka kejadian rawat inap IRA-B tiap tahun berkisar antara 3000



sampai 50.000 – 80.000 bayi. Di Amerika Serikat angka awat inap meningkat secara dramatis (239%) dari tahun 1980 ke tahun 1996. Di Amerika Serikat 120.000 bayi dirawat dengan bronkiolitis pertahun menurut Wijaya 2014 : 95. Bronkiolitis Kronis adalah suau kondisi peningkatan pembengkakan dan lendir (dahak dan spatum) produksi dalam tabung pernapasan (saluran udara). Bronkiolitis Kronis didefinisikan sebagai batuk produktif persitem selama palig sedikit 3 bulan berturut-turut pada paling sedikit 2 tahun berturutturut menurut Robin 2007: 21. (blm) 2.2 Patient safety dalam Keperawatan Anak Anak merupakan masa dimana oragan-organ tubuhnya belum berfungsi secara optimal senhingga anak lebih rentan terhdapat penyakit. Ketika anak menjadi pasien, orang tua menyakini bahwa tenaga kesehatan akan melakukan hal terbaik untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami. Oleh karena itu tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab terhadap pengobatan dan perawatan pasien termasuk keamanan pasien selama berada dirumah sakit atau yang dikenal dengan pattient safety. Patient safety didefinisikan sebagai kebebasan dari trauma atau injuri yang terjadi secara kebetulan yang dapat disebabkan oleh perawatan medis, seperti rasa sakit atau kematian akibat kesalahan pemberian obat, salah pasien dan infeksi nasokomial menurut Miller (dalam Zubaidah 2011:1) Istilah patient safety bukan hanya berfokus pada strategi



pencegahan kecelakaan seperti



penggunaan sabuk pengaman dan helm, akan tetapi konsep patient safety pada keperawatan anak merupakan upaya pencegahan injuri pada anak yang disebabkan langsung oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri menurut Miller (dalam Zubaidah 2011:1).



Untuk mencapai asuhan keperawatan anak yang berkualitas, ada beberapa prinsip yang harus dipegang untuk menciptakan keamanan pada bayi dan anak. Ada 4 hal yang dapat mempengaruhi sefety pada pelayanan kesehatan yang antara lain: leadrship, sistem pelaporan, problem solving, dan standar perilaku yang jelas. a. Leadership Pemimpin memegang peranan penting terhadap perubahan. Tanpa adanya kepemimpinan, perubahan tidak akan tercapai. Pemimpian bertanggung jawab terhadap keamanan pasien. Mengembangkan pemahaman bahwa faktor manusia terhadap dampak budaya pada keamanan pasien, penerapan ilmu safety, dan pemahaman terhadap dampak budaya pada keamanan pasien, merupakan kunci yang harus dipegang oleh pemimpin suatu organisasi kesehatan (Napier dan Knox, 2006). Pemimpin hendaknya menempatkan safety sebagai perioritas dalam organisasi. b. Sistem pelaporan Sistem pelaporan insiden tradisional menggunakan pendekatan person (system approach) yang menekankan pada keterlibatan individu dalam suatu kejadian. Pengumpulan data didasarkan pada analisa kasus per kasus daripada mencari pola sistem secara luas. Lucian leape dalam Napier (2006) menjelaskan bahwa kesuksesan sistem pelaporan hendaknya merupakan laporan tanpa hukuman, kerahasiaan, dan independen dengan analisa ahli dan adanya feddback yang teratur. Oleh karena itu diperlukan pelaporan yang berorientasi pada sistem (Napier,2006). c. Problem solving Salah satu faktor yang penting dalam penyelesaian masalah adalah melibatkan staf yang paling terlibat dapat masalah. Pemberi pelayanan keperawatan yang secara langsung berhadapan degan pasien dapat



mengindentifikasi resiko selama mereka melakukan asuhan keperawatan. Oleh karena itu dengan melibatkan mereka dalam upaya mengidentifikasi dan



menyelesaikan



permasalahan



safety,



menjadikan



mereka



bertanggungjawab terhadap diri sendiri, teman sejawat dan organisasi. Dirumah sakit dan klinik anak minnesota, telah dibentuk tim safety action yang didesain untuk melibatkan pemberi pelayanan langsung kepada pasien dalam action perubahan. Tiap tim dibentuk sesuai kebutuhan dari setiap ruangan. d. Standar perilaku yang jelas Standar perilaku didefinisikan sebagai saling menghargai, komunikasi terbuka dan tanggung jawab untuk mengembangkan praktik dan kebijakan penting yang memegang peranan penting dalam kejelasan issue, komunikasi terhadap hasil yang tidak dapat diantisipasi dan partisipasi dalam analisis kejadian. Kebijakan yang mendukung konsistensi dalam praktik perlu dilakukan secara tertulis. 2.3 Kondisi Patologis dan mengancam keselamatan Bronkiolitis 2.3.1



Pendahulua Bronkiolitis adalah infeksi saluran napas kecil atau bronkiolus yang disebabkan oleh virus, biasnya dialami lebih berat pada bayi dan ditandai dengan obstruksi saluran napas dan mengi. Penyebab paling sering adlaah Respiratory Syncytial Virus (RSV). Episode mengi dapat terjadi beberapa bulan setelah serangan Bronkiolitis. Episode pertama serangan, yang biasanya paling berat, terjadi palng sering pada bayi usia 2 sampai 6 bulan. Kejadian bronkiolitis dapat terjadi pada bulan pertama kehidupan dan episode berulang akan terjadi di tahun kedua kehidupan oleh virus yang sama.



2.3.2



Epidemiologi dan etiologi Bronkiolitis umumnya disebut sebagai Diasease Of Infancy, umunya mengenai bayi dengan insidens pucak pada usia 2 sampai 6 bulan; lebih dari 80% kasus terjadi pada tahun pertama kehidupan. Di AS kejadian bronkiolitis lebih sering terjadi pada anak laki-laki, pada anak yang tidak diberi ASI dan tinggal di lingkungan padat penduduk. Risiko lebih tinggi pada anak dari ibu usia muda atau ibu yang merokok selama kehamilan. Etiologi utama epidemi bronkiolitis adalah RVS. Sekitar 75,000 – 125,000 anak di bawah 1 tahun dirawat di Amerika Serikat akibat Infeksi RSV setiap tahun. Infeksi saluran napas bawah disebabkan oleh RVS pada 22,4 dari 100 anak pada tahun pertama kehidupan. Dari semua infeksi RSV pada anak di bawah 12 bulan, sepertiga kasus diikuti penyait saluran napas bawah. Meskipun tngkat serangan RSV menurun seiring dengan bertambahnya usia, frekuensi infeksi saluran napas bawah pada anak terinfeksi RSV tidak berkurang hingga usia 4 tahun.



Frekuensi Kejadian berdasarkan kelompok umur Angen Penyebab 0-2



2-5 tahun



5-9 tahun



tahun



Respiratory Syncytial Virus



9-15 tahun



++++



+++



++



++



Adenovirus



++



++



+



0



Parainfluenza viruses



++



++



++



++



Rhinoviruses



+



++ sampai +++



++ sampai +++



+++



Metapneumovirus



++



+



+



0



Mycoplasma pneumonia



+



++



+++



++++



+++ = sangat sering. +++ = sering. ++ = kadang-kadang, + = tidak umum, 0 = tidak diketahui



2.3.3



Patofisiologis Bronkiolotis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan virus, parainfeluenza, dan bakteri. Bronkiolitis akut ditandai obstruksi bronkiolus yang disebabkan oleh edema, penimbunan lendir, serta debris-debris seluler. Proses patologis yang terjadi akan mengganggu pertukaran gas normal di dalam paru alveolus akan mengakibatkan terjadinya hipoksemia dini.



2.3.4



Diagnosa Gejala pada anak dengan bronkiolitis antara lain mengi (yang tidak membaik dengan tiga dosis bronkodilator kerja cepat), ekspirasi memanjang, hiperinflasi dinding dada, hipersonor pada perkusi, retraksi dinding dada, crackles atau ronki pada auskultasi, sulit makan, menyusu atau minum. Klinisi harus dapat menegakan diagnosis bronkiolitis dan menilai drajat keparahan berdasarkan riwayat penyakit serta pemeriksaan klinis; pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak harus rutin dilakukan. Di samping itu, faktor risiko penyakit lain perlu diperhatikan, seperti usia



kurang dari 12 minggu, riwayat prematuritas, penyakit jantung-paru yang mendasari, serta imunodefisiensi. 2.3.5



Diagnosis Banding Diagnosis banding utama bronkioloitis pada anak adalah asma. Kedua penyakit ini sulit dibedakan pada episode pertama, namun adanya kejadian mengi berulang, tidak adanya gejala prodromal infeksi virus, dan adanya riwayat keluarga dengan asma dan atopi dapat membantu menegakkan diagnosis asma. Beberapa penyakit-penyakit lain harus dibedakan dari bronkioloitis. Kelainan anatomi seperti cincin vaskuler dapat menyebabkan obstruksi saluran napas dan gangguan inpirasi ataupun ekspirasi. Benda asing harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Penyebab mengi lain yang sering pada bayi muda adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Pneumonia bakterialis harus dibedakan dengan bronkiolitis karena terkait dengan pebedaan tatalaksana, walaupun pada pneumonia jarang sekali ditemukan mengi.



Infeksi



Respiratory



Syncytial



human



virus



(RSV)



Metapneumonivius,



Prainfluenza, Adenovirus, Influenza, Rhinovirus,



Bocaviru,



Trachomatis,



Chlamydia Tuberculosis,



Histoplasmosis, Papilomatosis



Asma



Transient wheezer, persistent wheerzer, Late Onset wheezer.



Kelainan Anatomi



Abnormalitas saluran napas sentral (Malacia



laring,



trakea,



dan/atau



bronki,



trakeoesofageal



fisula,



laryngeal cleft). Kompresi saluran napas (tumor, beda asing) Anomali



saluran



(hemangioma



napas saluran



intrinsik napas,



malformasi cystic adenomatoid, kista bronchial atau paru, emfisema lobar kongential,



benda



asing,



penyakit



jantung kongential) Imunoefisiensi



(Imunoglobulin



Adeficiency, Defisiensi β-cell, AIDS, bronkiektasis)



Kelainan Mucociliary Clearance



Fibrosis kistik, diskinesia silier primer, bronkiektasis



Sindroma aspirasi



Gastroesofageal faring



Lainnya



Displasia bronkopulmoner, bronkiolitis obliterans, gagal jantung, anafilaksis, luka bakar.



2.3.6



Tataklasana 1. Oksigenasi Pemberian oksigen dilakukan pada semua anak dengan mengi dan distres pernapasan berat, metode yang direkomendasikan adalah dengan nasal prongs, kateter nasal, atau kateter nasofaringeal dengan



kadar oksigen 30-40%. Apabila tidak ada oksigen, anak harus ditempatkan dalam ruangan dengan kelembapan udara tinggi, sebaiknya dengan uap dingin (mist tent) ntuk mencairkan sekret di tempat peradangan. Terapi oksigen diteruskan sampai tanda hipoksia hilang. Penggunaan kateter nasal ˃2 L/menit dengan maksimal 8-10 L/menit dapat menurunkan kebutuhan rawat di Paediatrics Intensive Care Unit (PICU). Penggunaan keteter nasal serupa efektifnya dengan nasal CPAP bahkan mengurangi kebutuhan obat sedasi. Pemberian obat suplemental pada anak dengan bronkiolitis perlu memperhatika gejala klinis serta saturasi oksigen anak, karena tujuannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan oksigen anak yang terganggu akibat obstruksi yang mengganggu perfusi ventilasi paru. Transient Oxygen Desaturation pada anak umum terjadi saat anak tertidur, durasinya ˂6 detik, sedangkan hipoksia pada kejadian bronkiolitis cenderung terjadi dalam hitungan jam sampai hari. 2. Cairan pemberian cairan sangat penting untuk koreksi asidosis metabolik dan respiratorik yang mungkin timbul dan mencegah dehidrasi akibat keluarnya cairan melalui mekanisme penguapan tubuh (evaporsi) karena pola pernapasan cepat dan kesulitan minum. Jika tidak terjadi dehidrasi, dapat diberikan cairan rumatan, bisa melalui intervena maupun nasogastrik. Pemberian cairan melalui lambung dapat menyebabkan aspirasi, dapat memperberat sasak, akibat tekanan diafragma ke paru oleh lambung yag terisi cairan. Pemberian cairan melalui jalur nasogastrik atau intravena perlu pada anak bronkiolitis yang tidak dapat dihidrasi oral. 3. Bronkodilator dan kortikosteroid Albuterol dan epinefrin, serta kortikosteroid sistemik tidak harus diberikan. Bebrapa penelitian meta-analisis dan systematic reviews di



Amerika menemukan bahwa bronkodilator dapat meredakan geala klinis, namun tidak mempengaruhi penyembuhan penyakit, kebutuhan rawat inap, ataupun lama perawatan, sehigga dapat disimpulkan tidak ada keuntungannya, sedagkan efek samping takikardia dan tremor dapat lebih merugikan. Sebuah penelitian randomized controlled trial di Eropa pada tahun 2009 menunjukan bahwa nebulisasi epinefrin dan deksametason oral pada anak dengan bronkiolitis dapat mengurangi kebutuhan rawat inap, lama perwatan di rumah sakit, dan durasi penyakit. Nebulisasi hypertonic saline dapat diberikan pada anak yang dirawat. Nebulisasi ini bermanfaat meningkatkan kerja mukosilia saluran napas untuk membersihkan lendir dan debris-debris seluler yang terdapat pada saluran pernapasan. 4. Antivirus Ribavirin adalah obat antivirus bersifat virus statik. Penggunaannya masih kontroversial baik efektivitas maupun keamanannya. The American Academy Of Pediatrics merekomendasikan penggunaan ribavirin pada keadaan yang diperkirakan akan menjadi lebih berat seperti pada penderita bronkiolitis dengan kelainan jantung, fibrosis kistik, penyakit paru kronik, imunodefisiensi, dan pada bayi-bayi premtur. Ribavirin dapat menurunkan angka morbiditas dan mortilitas penderita bronkiolitis dengan penyakit jantung jika diberikan sejak awal. Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol dengan dosis 20 mg/ml diberikan dalam 12-18 am per hari selama 7 hari. 5. Antibiotik Anti-bakterial tidak perlu karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus, kecuali bila dicurigai ada infeksi tambahan. Terapi antibiotik



sering digunakan berlebihan karena khawatir terhadap infeksi bakteri yang tidak terdeteksi, padahal hal ini justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut; sehingga penggunaannya diusahakan hanya bedasarkan indikasi. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan untuk anak dengan bronkiolitis yang membutuhkan intubasi dan ventilasi mekanik untuk mencegah gagal napas. Antibiotik yang dipakai biasanya yang berspetrum luas, namun untuk Mycoplasma pneumoniae diatasi dengan eritromisin. 6. Fisioterapi Fisiotrapi dada pada anak bronkiolitis dengan teknik ataupun perkusi (5 trials) atau teknik pernapasan pasif tidak lebih baik selain pengurangan durasi pemberian terapi oksigen. Penghisapan sekret daerah nasofaring untuk meredakan sementara kongesti nasal atau obstruksi saluran napas atas, namun sebuah studi retrospektif menyatakan deep suctioning berhubungan dengan durasi rawat inap lebih lama pada anak usia 2-12 bulan. 2.3.7



Indikasi rawat di ruang intensif a. Gagal mempertahankan saturasi oksigen >92% dengan terapi oksigen. b. Perburukan status pernafasan, ditandai dengan peningkatan distres napas/atau kelelahan. c. Apnea berulang.



2.3.8



Faktor resiko bronkiolitis berat a. Usia b. Bayi usia muda dengan bronkiolitis mempunya risiko lebih tinggi untuk mendapat perawatan rumah sakit.



c. Prematuris d. Bayi



lahir



prematur



kemungkinan



menderita



RSV-associated



hospitallization lebih tinggi dari pada bayi cukup bulan. e. Kelainan jantung bawaan f. Chanic Lung disease of prematurity g. Orangtua perokok h. Jumlah saudara/berada di tempat penitipan i. Sosioekonomi rendah 2.4 Strategi manajemen patient safety untuk mencegah dan mengatasi masalah Kasus kelalaian rumah sakit yang mengakibatkan hilangnya nyawa pasien kembali berulang. Kali ini terjadi pada seorang bayi bernama Tiara debora Simanjorang. Pihak keluarga tak bisa membayar penuh uang deposit perawatan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sehingga rumah sakit menolaknya. Nyawa Debora melayang ketika dirujuk ke RS lain. Bayi berusia empat bulan itu didua meninggal kataran telat mndapatkan perawatan. Mulainya pasien dibawa orangtuanya ke IGD Mitra Keluarga Kalideres pada 3 September 2017 pukul 03.40 WIB. Kondisi tubuhnya tampak membiru, napas tersengal, badannya panas, dan sudah tak sadarkan diri. Sebelumnya, ia diketahui memiki penyakit jatung bawaan dengan riwayat prematur. Setelah pertolongan pertama diberikan di IGD, Debora disarankan dirawat di PICU dengan biaya mencapai Rp 19,8 juta. Orangtuanya mengajuan keringanan, karena hanya membawa uang sebesar Rp5 juta. Namun, keringanan hanya diberikan Rp 11 juta saja. Maka, bayi Debora di rujuk ke RS bermitra BPJS, tapi nyawanya tak dapat ditolong.



Commented [WU6]: STRATEGI HARUS RIIL DAN BERDASARKAN TEORI ANGKAT TENTANG BAGAIMANA SEHARUSNYA PEMBIAYAAN PASIEN YANG DALAM KONDISI KEGAWATAN MASUKAN TENTANG KONSEP PELAAYANAN KEGAWATDARURATAN PASIEN PEDIATRIK



Ruang PICU adalah Pediatric Intensive Care Unit yang mana unit perawatan yang merawat pasien anak dengan keadaan gawat atau berat yang sewaktu-waktu dapat meninggl, dan mempunyai harapan untuk sembuh apabila dirawat secara intensif. Tujuannya adalah untuk memberkan pelayanan perawatan yang optimal untuk bayi dimana keadaannya sewaktuwaktu dapat meninggal. Tanda kegawatdaruratan Bila terdapat kegawatdaruratan berikut tindakan seegera, panggil bantuan, ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium kegawatdaruratan (hemoglobin, leukosit, hematokrit, hitungan jenis, gula darah, malaria untuk daerah endemis). Kata triase (triage) berarti memilih. Jadi triase adalah proses skining secara cepat terhadap semua anak sakit segera setelah tiba di rumah sakit untuk mengidentifikasi ke dalam salah satu kategori berikut: a) Dengan



tanda



kegawatdaruratan



(EMERGENCY



SIGNS):



Memerlukan penanganan kegawatdaruratan segera. b) Degan tanda prioritas (PRIORITY SIGNS): harus diberikan prioritas dalam antrian untuk segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan tanda ada ketelambatan. c) Tanpa tanda kegawatdaruratan maupun prioritas: merupakan kasus NON-URGENT sehingga dapat menunggu sesuai gilirannya untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.



BAB 3 TINJAUAN KASUS



Commented [WU7]: KASUS + PENYELESAIANNYA : SIAPA YANG TERLIBAT APA YANG MENJADI MASALAH NYA\ APA ERROR YANG TERJADI JELASKAN PENYELESAIANNYA SESUAI TEORI DAN KASUS



3.1 Kematian Bayi Debora di RS Mitra Keluarga Henny Silalahi masih berat mengenang perjuangannya bersama suaminya,



BAB 4 PENUTUP : KESIMPULAN DAN SARAN SESUAI KAN DENGAN TUJUAN DAN KESIMPULAN



Rudianto Simanjorang, yang mati-matian menyelamatkan Tiara Debora Simanjorang. Mereka harus merelakan putri bungsunya, terkapar tak bernyawa di ruang IGD RS Mitra Keluarga Kalideres Jakarta Barat, Mimggu (3/9) “Kalaupun saya datang kayak orang gembel, atau kalaupun saya gembel, harusnya kalian (pihak rumah sakit) menghargai anak saya. Nyawa dong didahulukan, “ujar Henny saat ditemui wartawan dirumahnya di Jalan Benda, Tangerang, Sabtu (9/9). Hati Henny terlanjur pilu. Suasana duka masih menyelimuti saat kumparan (kumparan.com) menyambangi rumahnya. Dengan sabar, mereka kembali menceritakan kronologi bayi mungilnya yang ‘membeku’ perlahan, hingga pelukan terakhir Henny untuk Debora itu masih dirasakannya. Sambil berkaca-kaca, Henny menyebut kegagalan perjuangannya lantaran pihak rumah sakit yang tidak bersedia menangani Debora dengan sigap. Hal itu, kata Henny, dikarenakan uang muka yang harus dibayarkan terlebih dahulu sebesar Rp 19,8 juta. Kisah Debora diunggah oleh seseorang bernama Birgaldo Sinaga di akun Facebooknya. Henny mengaku sudah menceritakan semua kisahnya kepada Birgaldo. “Semua yang dituliskan Bapak Birgaldo itu benar cerita tentang anak saya, silahkan kutip dari sana. Saya masih shock belum bisa bicara banyak. “kata Hnny.



DAFTAR PUSTAKA HARUS SESUAI JUMLAHNYA DENGAN JUMLAH YANG DIKUTIP DAN PENULISANNYA HARUS DI SESUAIKAN



Kejadian ini bermula pada Minggu dini hari pukul 02.30 WIB. Debora sesak nafas. Nafasnya tersengal dan batuk-batuk berdahak. Bantal Debora selalu basah. Henny mengganti bantal itu untuk ketiga kalinya. Namun Henny merasa ada yang janggal pada kondisi kesehatan putrinya. “tapi saya lihat dia punya bantal itu basah, “ujar Henny. Henny segera membangunkan suaminya. Mereka memutuskan membawa bayinya segera kerumah sakit terdekat : RS Mitra Keluarga Kalideres. Henny tak peduli dengan daster yang ia kenakan menembus dinginnya malam saat mengendarai motor bersama Rudi. Di perjalanan, Henny terus mendekap Debora, memastikan putrinya tidak terkena angin. Sesampainya dirumah sakit, Iren, dokter yang sedang berjaga saat itu, melakukan tindakan pertolongan pertama untuk Debora. Suhu tubuh Debora dicek, dahaknya diencerkan dengan diberikan penguapan. Hasil diagnosis Dokter Iren menyebutkan bahwa Debora harus segera dibawa ke Ruang Picu (Pediatric Intensive Care Unit). “Dokternya bilang, ‘Bu harus ya, harus ke PICU’ kata dia gitu, “terang Henny. Masalah lain pun terjadi. Sebelum Debora masuk ke ruang PICU, Henny dan Rudi diharuskan membayar uang muka sebesar Rp 19,8 juta. Rudi bergegas pulang, mengambil uang di ATM sebesar Rp 5juta. Dia berpikir, pihak rumah sakit dapat mengerti keadaan keluarganya dalam keadaan darurat. Mereka sempat memberikan kartu BPJS kepada pihak rumah sakit sebagai jaminannya. Namun, kata Henny, pihak rumah sakit menolaknya, dengan dalih belum bekerja sama dengan pemerintah untuk penanganan pasien BPJS. Segala macam cara dilakukan Henny, Dia menyuruh Rudi untuk menelpon sanak saudara agar dapat memberikan bantuan. Henny juga berusaha untuk menelepon rekan-rekannya, meminta referensi rumah sakit mana saja yang menerima pasien BPJS dan terdapat ruang PICU



didalamnya. Debora sempat ingin dilarikan ke RS Koja hingga akhirnya, Henny melihat monitor denyut jantung Debora berhenti berdetak. Henny dan Rudi menangis histeris, tidak percaya nyawa putrinya tertolong secepat dan semudah itu. Dalam website resminya, pihak RS Mitra Keluarga Kalideres memberikan pernyataan mengenai kematian Debora. Pihak rumah sakit mengklaim sudah memberi tindakan penyelamatan nyawa (life saving) berupa penyedotan lendir, pemasangan selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas). Lalu, melakukan bagging atau pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas, infuse, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak (nebulizer). Pemeriksaan laboratorium dan radiologi juga sempat ingin dilakukan. Pihak RS Mitra Keluarga dalam pernyataannya, juga sudah meminta orang tua pasien untuk merujuk Debora ke rumah sakit yang menerima pasien BPJS. Namun sebelum dirujuk kondisi Debora memburuk. Henny juga tak terima, ketika RS Mitra keluarga memberikan keterangan pers ke wartawan. Salah satu poinya, bahwa anaknya mengalami kekurangan gizi. “Anak saya enggak kurang gizi, anak saya premature”, tegasnya. Henny menduga keterangan kurang gizi itu untuk menggambarkan seolah dia tak merawat anaknya. Henny menegaskan, dia memiliki catatan medis anaknya sebagai bukti. Jika RS Mitra Keluarga Kalideres benar-benar terbukti menolak Debora, tentu akan bertentangan dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Dipasal 32 ayat 1 disebutkan, “dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.”



Dalam kasus Debora, pasien mengalami kondisi kritis dan harus segera dimasukan ke ruang PICU. Dalam pasal 36 ayat 2 disebutkan, “Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/ atau meminta uang muka. Tidak hanya itu, pada pasal 23 ayat 4 juga menyerukan hal serupa. “Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi.” Dalam pasal 5 ayat (1) juga diatur tentang hak pasien untuk mendapat akses kesehatan. “setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan.” Henny sudah melaporkan kasus mereka ke Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Dia mengadukan masalah pelayanan yang dialaminya ke Balai kota. “Saya hari jumat kemarin sudah laporkan ke Pak Djarot melalui staf beliau,”kata Henny. Salah satu staf Djarot yang menerima laporan Henny, mengatakan akan memeriksa pengaduan mereka. Bila rumah sakit melakukan kesalahan, maka pemprov DKI akan mengambil tindakan. “Dia bilang, ibu, ini kami akan periksa kalau memang terlihat atau terdapat ada yang miss atau ada masalag kami akan lakukan peringatan,”ujar Henny. Henny mengatakan dia memang warga Tangerang, tetapi kejadian ini berada di Jakarta Barat wilayah Djarot memimpin. Dia berharap aduannya bisa ditindaklanjuti. “Kejadian itu dibawah wewenang pak Djarot, pengaduan saya sebagai warga dengan pelayanan mereka,”ujarnya. 3.1 Orang yang terlibat dalam kasus ini 1. Keluarga Debora



2. Pihak rumah sakit 3. Pihak BPJS 3.2 Kasus kelalaian rumah sakit yang mengakibatkan hilangnya nyawa pasien kembali berulang. Kali ini terjadi pada seorang bayi bernama Tiara debora Simanjorang. Pihak keluarga tak bisa membayar penuh uang deposit perawatan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sehingga rumah sakit menolaknya. Nyawa Debora melayang ketika dirujuk ke RS lain. 3.3 Menteri kesehatan



RI pada tahun 2005 (dalam parulian 2011:3)



mencanangkan gerakan nasional kesalamata pasien (patient saftey) dirumah sakit. Saat ini, berbagai rumah sakit sudah mulai menerapkan sistem informasi rumah sakit berbasis komputer untuk mendukung pelayanan kesehatan yang tersedia, peran penting teknologi informasi juga tidak lepas potensinya mencegah medical error. Penyabab terjadinya kesalahan atau Error di rumah sakit, yaitu karena kesalahan individual tenanga kesehatan, tetapi kesalahan inividual tersebut tidak akan terjadi jika dilakukan tindakan pencegahan dengan cara pembuatan sistem pelayanan yang baik oleh manajeman. Teknologi informasi dapat berperan dalam mencegah kejadian medical error melalaui 3 mekanisme yaitu pencegahan Adverse event, memberikan respont cepat segera setelah terjadinya Adverse event dan melacak serta menyediaan umpan balik mengenai Adverse event yaitu: a. Pencegahan adverse event Hasil penilitian klinis memutuhkan waktu yang lama (Rata-rata 17 tahun) samapai di terapan dalam praktik sehari-hari. Penyediaan fasilitas teknologi informasi akan medorong penyebarluasan informasi dengan cepat sehngga para tenaga kesehatan dapat dengan cepat mengakses perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan terbaru serta menggunakannya (Evedence based practice).



Pencegahan adverse event yang lebih nyata adalah penerpan sistem yang pendukung keputusan yang di tengrasikan dengan sistem informasi klinik. Berbagai Evedence based practice mampu memberikan alert kepada tenaga kesehatan secara cepat pada situasi kritis yang kadang membahayakan keselamatan pasien. Pada kondisi tersebut, informasi yang lengkap sangat pentng dalam pengambilakn keputusan, contoh : nilai laboratorium abnormal, kecenderungan vital Sign, kontra indikasi pengobatan maupun kegagalan prosedur tertentu. Pencegahan adverse event juga dapat dilakukan melalui pengebangan berbagai aplikasi yang memungkinkan pemberian obat sera dosis yang akurat. Penggunakaan Barcode serta Barcode Reader untuk kemasan obat akan mencegah kesalahan pengambilan obat. b. Memberikan respont cepat setelah terjadinya adverse event Sistem informasi klinik yang akan mampu memberiksn umpan balik secara cepat jika terjadi kesalahan atau adverse event. Contoh yang menarik adalah pengalaman menarikan obat rofecoxib (keluaran merck) saat FDA mengeluarkan berita mengenai penarikan obat tersebut, salah satu rumah sakit di AS dengan cepat mengidentifikasi seluruh pasien yang medapat terapi obat tersebut, kemuadian memberitahukan secara tertulis Maupun elektronik mengenai perhentian obat tersebut dan memberikan saran untuk kembali ke rumah sakit agar mendapakan obat pengganti. Keberadaan teknologi membuat semua surat yang ditujukan 11 ribuan pasien terkirim pada sehari kemudian sehingga dalam waktu 7 jam dokter yang mengguankan sistem informasi klinik pun tidak akan menemukan daftar obat tersebut dalam daftar peresepan, karena sudah langsng dikeluarkan dari database obat. c. Melacak dan menyediakan umpan balik secara cepat Teknologi database dan pemrograman memungkin pengolahan data pasien dalam ukuran terra byte secara cepat. Metode datawarehouse data mining memungkinka komputer mendekteksi pola-pola tertentu dan mencurigakan dari data klinis pasien. Metode tersebut membuat pasien tidak memerlukan



operator untuk melakukan analisis, terapi komputer yang memberikan hasil analisis dan interpretasi tersebut oleh karena itu, istilah rekam kesehatan elektronik menjadi kata kunci. Ketika data rekam medis pasien, obat protokol klinik, aset rumah sakit di integrasikan dalam suatu database elektronik rumah sakit membuat pasien mendapatan terapi yang tepat. 3.4 Penyeselaian Kasus 3.5 Konsep pelayanan kegawatdaruratan pada pediatri Riwayat kesehatan Dapatkan riwayat kesehatan dengan cepat sementara mengevaluasi anak dan melakukan intervensi penyalmatan jiwa. Pada awalnya, riwayat singkat diperlukan yang diikuti dengan riwayat yang lebih menyelurh setelah anak distabilkan. Tentukan mekanisme cedera anak atau penjelasan pemberi asuhan tentang kejadian yang menyebabkan situasi kedaruratan. Pemeriksaan Dan Intervensi Fisik Dalam keadaan kedaruratan, lakukan pengkajian kardiopulmonal dan lakukan intervensi dengan segera jika perubahan diketahui. Pada saat riwayat sigkat sedang dikaji, mulai pengkajian kardiopulmonal yang cepat. Sebagian besar henti jantung pediatrik, terutama berkaitan dengan jalan napas dan pernapasan serta biasanya hanya bersifat sekunder terhadap jantung. Pernapasan yang disokong dapat menjadi segala yang diperlukan jika anak memiliki nadi yang kuat dan adekuat. Selalu lakukan pengkajian dan pengkajian dalam urutan tersebut. Evaluasi Dan Manajemen Jalan Napas Kaji kepatenan jalan napas, posisikan jalan napas dalam cara yang mendorong aliran udara yang baik. Jika sekresi mengobstruksi jalan napas, isap jalan napas untuk mengeluarkannya. Jika anak tidak sadarkan diri atau



baru saja mengalami cedera, buka jalan napas menggunakan perasat angkat dagu dongak kepala (head tilt-chin lift).



Penghitungan cairan rumatan intravena berdasarkancontoh berat badan



Berat badan 20 kg



100 ml/kg untuk 10 kg pertama + 50 ml/kg untuk 10 kg berikutnya + 20 ml/kg untuk



setiap kg >20kg = # ml untu 24 jam Contoh: seorang anak memiliki berat badan 30 kg. (10 x 100 = 1000) tambah (10 x 50 = 500) tambah (10 x 20 = 200) total = 1700 ml (kebutuhan harian) 1700/24 = 70,8 atau 71 ml/jam



Evaluasi dan manajemen pernapasan Setelah membuka jalan napas, putar kepala anda dan letakan telinga anda di atas mulut anak untuk menentukan pernapasan spontan. Perhatikan untuk melihat apakah dada anak naik, dengarkan untuk pengeluaran udara, dan perhatikan jika anda merasa udara keluar dari hidung atau mulut anak. Jika anak tidak bernapas, mulai penyelamatan pernapasan. Jika tidak, hitung laju pernapasan. Observasi warna anak. Perhatikan kedalaman pernapasan, kenaikan dada, keadekuatan aliran udara di seluruh lapang paru, dan adanya bunyi tambahan. Valuasi untuk peningkatan kerja pernapasan dan penggunaan otot aksesori. Ketika tanda gawat napas diketahui, dengan segera beri anak oksigen 100% dan pasang oksimeter nadi untuk memantau kadar saturasi oksigen. Untuk ana yang mendapat oksigen 100% dan tidak membaik dengan pemosisian ulang, mulai ventilasi terbantu dengan peralatan bag-valve-mask (BVM). Evaluasi Dan Manajemen Sirkulasi Selanjutnya, lakukan evaluasi sirkulasi, perhatikan denyut jantung, kualitas nadi dan perfusi, warna kulit dan suhu, tekanan darah, ritme jantung, dan tingkat



kesadaran. Tentukan denyut jantung via auskultasi langsung atau palpasi nadi sentral. Tekanan darah minimum yang dapat ditrima pada anak yang mengalami kedaruratan adalah tekanan darah sistolik 70 + (2 kali usia dalam tahun). Misalnya, seorang anak berusia 4 tahun seharusnya memiliki tekanan darah sistolik minimal 78:70 + (2 x 4) = 78. Pasang pemantau jantung pada anak untuk mengevaluasi ritme jantung. Jika pengkajian mengungkapkan bahwa anak tersebut tidak memiliki denyut jantung (nadi) meskipun intervensi pernapasan adekuat, mulai kompresi jantung. Kompresi dada berkualitas tinggi dengan laju dan kedalaman yang adekuat sangat penting (Kleinman et al., 2010). Jika sirkulasi atau perfusi terganggu, resusitasi cairan diperlukan. Dengan segera, dapatkan akses IV dengan lubang besar dan berikan cairan isotonik secara cepat. Berikan 20 mL/kg salin normal (normal saline, NS) atau Ringer laktat (RL)bdalam bolus IV (jika bayi berusia kurang



dari satu bulan, berikan 10



mL/kg). Batasi akses perifer pada anak yang mengalami perubahan perfusi hingga tiga kali upaya atau selama 90 detik, kemudian bantu pemasangan jarum intraoseus untuk pemberian cairan. Komponen Pemeriksaan Fisik Tambahan Dengan segera, lakukan evaluasi sensorium pada anak yang lebih tua, jika anak adalah bayi, evaluasi minatnya terhadap lingkungan dan respons terhadap orang tua bayi. Bayi yang tidak tertarik terhadap lingkungan atau tampak tidak mampu mengenali orang tuanya merupakan penyebab kekhawatiran. Evaluasi kepala anak. Pada bayi atau todler yang masih muda, palpasi fontanel anterior untuk menentukan apakah fontenel normal (lembut dan datar), tertekan, atau penuh. Berikutnya, kaji pembukaan mata dan reaktifitas pupil.



Evaluasi untuk pergerakan ekstremitas spontan. Glasgow Coma Scale Pediatric juga dapat digunakan untuk mengevaluasi status neorologi pada anak-anak (AAP, 2010). Lepaskan pakaian anak dan periksa kulit secara menyeluruh untuk memar, lesi atau ruam. Perhatikan deformitas ekstremitas atau distensi abdomen yang nyata. Tentukan derajat nyeri. Jika anak tersebut sadar dan dapat berbicara, gunakan skala pengkajian nyeri yang sesuai usia untuk menetukan derajat nyeri anak. Jika anak berada dalam keadaan sedasi atau tidak sadarkan diri, kaji nyeri dengan skala standar. Pemeriksaan Laboratorium Dan Diagnostik Uji laboratorium dapat membantu membedakan penyebab kedaruratan atau masalah tembahan yang perlu ditangani. Uji ini dapat meliputi hal berikut: 1. Analisis gas darah (AGD), diambil awalnya selanjutnya secara serial untuk mengkaji perubahan. 2. Kadar elektrolit dan glukosa 3. Hitung darah perifer lengkap (DPL). 4. Kultur darah 5. Urinalisis 6. Panel toksikologi 7. Laju endap darah (LED), protein C-reaktif (CRP) 8. Kultur urine dan cairan spinal 9. Untuk korban truma: amilase, enzim hati, dan golongan darah serta silang padan 10. Radiografi, pemindaian CT, atau magnetiv resonance imaging (MRI)



Intervensi Keperawatan Tambahan Lakukan resusitasi jantung paru jika perlu. Bantu dengan defibrilasi atau kardioversi tersinkronisasi jika perlu. Untuk defibrilasi gunakan 2 joule/kg pada awalnya, tingkatkan hingga 4 juole/ kg jika perlu. Eneri untuk kardioversi diberkan pada 0,5 hingga 1 juole/kg. Gunakan perekat Broselow atau seprai darurat individual anak untuk menentukan ukuran peralatan dan dosis obat. Obat biasanya digunakan pada situasi henti jantung pediatrik yang didiskusikan.



BAB 4 4.1 Kesimpulan Patient safety pada keperawatan anak merupakan upaya pencegahan injuri pada anak yang disebabkan langsung oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri. Lebih dari 10 tahun terakhir, patient safety menjadi prioritas utama dalam sistem pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan termasuk



perawat memiliki tanggung jawab terhadap pengobatan dan perawatan anak selama berada di rumah sakit termasuk patient safety. Salah satu cara untuk meningkatkan patient safety pada anak adalah penggunaan teknologi informasi dalam keperawatan menurut WHO 2011 (dalam Parulian). Keselamatan pasien (Patient Safety) merupakan sesuatu yang jauh lebih penting dari pada sekedar efisiensi pelayanan. Perilaku perawat dengan kemampuan



perawat



sangat



berperan



keselamatan



pasien.



Perilaku



yang



penting tidak



dalam



aman,



pelaksaan



lupa,



kurang



perhatian/motivasi, kecerobohan, tidak teliti dan kemampuan yang tidak memperdulikan dan menjaga keselamatan pasien berisiko untuk terjadinya kesalahan dan mengakibatkan cedera pada pasein, berupa Near Miss (Kejadian nyaris cedera/KNC) atau Adverse Event (kejadian tidak diharapakan/KTD) selanjutnya pengurangan kesalahan dapat dicapai dengan memodifikasi perilaku. Bronkiolitis adalah infeksi saluran napas kecil atau bronkiolus yang disebabkan oleh virus, biasnya dialami lebih berat pada bayi dan ditandai dengan obstruksi saluran napas dan mengi. Penyebab paling sering adlaah Respiratory Syncytial Virus (RSV). Episode mengi dapat terjadi beberapa bulan setelah serangan Bronkiolitis. Kasus kelalaian rumah sakit yang mengakibatkan hilangnya nyawa pasien kembali berulang. Kali ini terjadi pada seorang bayi bernama Tiara debora Simanjorang. Pihak keluarga tak bisa membayar penuh uang deposit perawatan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sehingga rumah sakit menolaknya. Nyawa Debora melayang ketika dirujuk ke RS lain. 4.2 Saran Demikian sedikit infomasi dari kami selaku penulis makalah ini. Tentu masih banyak sekali kekurangan yang jauh dari sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang membangun masih sangat kami butuhkan demi



kemajuan



ilmu



pengetahuan



dan



teknologi



saat



ini.



Ucapayan



terimahkasih layaknya patas kami persembahakan bagi para pembaca. Terakhir, ucapan maaf yang sebesar-besarnya perlu kami ucapakan jika dalam penulisa ini kami banyak melantarkan kata – kata yang kurang berkesan.



DAFTAR PUSTAKA Junawanto, Irwan, dkk. 2016. Diagnosis Dan Penanganan Terkini Bronkiolitis Pada Anak. CDK-241/vol.43 no.6. Cahyono, J.B, S.B. 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dlam Praktik Kedokteran. Kanisius: Yogyakarta. Zubaidah. 2011. Peran Sistem Informasi Manajemen Keperawatan Terhadap Patient Safety Dalam Keperawatan Anak. Mudayana, A.A. 2015. Pelaksaaan Patient Safety Oleh Perawat Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal kesehatan “Smodra Ilmu” Vol.06 No 02. Wijaya, S. 2014. Pedoman Diagnosa Bronkiolitis Akut. JIMKI Vol 2 No 2. Lombogia, A, dkk. 2016. Hubungan Perilaku Dengan Kemampuan Perawat Dalam Melaksanakan Keselamatan Pasien (Patien Safety) Di Ruang Akut



Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. DR. R. D Kandou Manado. E-jurnal keperawatan (e-Kp) vol 4 no.2. Ratman, M.F, dkk. 2014. Pelaksanaan Sistem Keselamatan Pasien (Patient Safety) Di RSU Bahkti Asih Kota Tangerang Tahun 2014. Pendidikan, Gelombang 2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 Taahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Peraturan Menteri Republik Indonesia Nomor 11 Taahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien.