Cargo Handling PDF [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

CARGO HANDLING DI PERKAPALAN



PROSES SERAH TERIMA MINYAK DI PERTAMINA PENERIMA



TRANSPORTER



PENGIRIM R1



R2



R3



LOADING DISCREPANCY Toleransi Mmax. 0,5 %



TRANSPORTATION LOSS Toleransi Max. 0,2 %



DISCHARGING DISCREPANCY Toleransi Max. 0,5 %



BILL OF LADING (B/L)



SFAL



SFBD



ACTUAL RECEIPT (A/R)



R4 SUPPLY LOSS Toleransi Max. 0,5 %



(SFBD – SFAL) R2 = ------------B/L



(A/R – B/L) R4 = ------------B/L



Page 2



Loading Facility 1. On shore :



a. T & L Type of Pier.



b. Finger Pier. c. Dolphin = Breasting & mooring dolphin.



2. Buoy



: a. Mono =SPM ( Calm&Salm ) b. Multi = MBM



3. STS



: a. Alongside. b. Tandem



3



Page 4



Jetty Transfer Normaly cargo transferred via Jetty Operation



SPM Single Point Mooring Single point mooring (SPM) is a floating buoy/jetty anchored offshore to allow handling of liquid cargo such as petroleum products for tanker ships. SPM is mainly used in areas where a dedicated facility for loading or unloading liquid cargo is not available



Page 5



Page 6



General overview on how single point mooring (SPM) system works



1.



The tanker ship is moored to the buoy for loading or unloading of cargo.



2.



A boat landing space on the the buoy deck provides access to the buoy for setting up the connections and securing the ship.



3.



Fenders are used to protect the buoy from unexpected movement of the ship due to bad weather.



4.



Lifting and handling equipment on the buoy allows handling of hoses connections and safety tools.



5.



Once the connections are made, valves are operated from the electrical substation.



6.



Necessary alarm systems and navigational aids are provided as safety precautions.



7.



Liquid cargo is transfered from geostatic location (Pipeline End and Manifold (PLEM)) to the tanker using product transfer system of the single point mooring system. Page 8



Ship to Ship STS ship-to-ship (STS) transfer operation is the transfer of cargo between seagoing ships positioned alongside each other, either while stationary or underway. Cargoes typically transferred via STS methods include crude oil, liquefied gas (LPG or LNG), bulk cargo, and petroleum products



Page 9



Page 10



Any oil tanker under STS plan operate under the territorial waters or exclusive economic zone of MARPOL, must notify the following information to relevant coastal authority prior to 48 hours of the commencement of the STS operation: 1. Ship’s name, call sign and IMO number. 2. Details of Owner, operator or shipping company. 3. Type and quantity of oil for STS operation. 4. Preparation done in brief for carrying out the operation. 5. Estimated time duration of the complete operation. 6. The operation to be performed underway or in anchorage. 7. Identification of STS operations service provider or person in charge for overall advisory



Page 11



Klasifikasi Ukuran Kapal



GP - General Purpose tanker. Biasanya digunakan mengangkut refined product, berukuran 10,000 MT hingga 25,000 MT dwt. Handysize tanker: Digunakan untuk mengangkut refined product, ukurannya 25,000 MT hingga 40,000 MT dwt.



MR (Medium Range) tanker, Digunakan untuk mengangkut refined product, dengan ukuran 40,000 MT hingga 55,000 MT dwt. LR1 (Long Range 1) tanker. Bisa membawa refined products and crude oil. Tanker kategori ini yang mengangkut dirty product biasanya disebut panamax tankers. LR1 and panamax tanker memiliki bobot mati 55,000 MT hingga 80,000 MT.



Page 12



LR2 (Long Range 2) tankers. Jenis ini membawa product dan crude oil. Ukurannya berkisar 80,000 MT dwt -160,000 MT dwt. Tanker pengangkut crude oil biasanya disebut Aframax tanker (80,000 MT 120,000 MT dwt) dan Suezmax tanker (120,000 MT – 160,000 MT dwt). Very Large Crude Carrier (VLCC) and Ultra Large Crude Carrier (ULCC). Tanker ini hanya pengangkut minyak mentah. Ukuran VLCC adalah 320,000 MT dan ULCC sebesar 550,000 MT dwt.



Page 13



AKTIVITAS LOADING : 1.Persiapan Loading : Pemberitahuan kapal ke Loading Port Penyandaran kapal Pemeriksaan tangki Kapal Pembahasan perencanaan Loading Penyegelan kerangan-kerangan yang tidak mengganggu aktivitas loading. Persiapan kerangan dan tangki kapal yang akan di muati sesuai nominasi.



Page 14



AKTIVITAS LOADING (Lanjutan) 2.Pelaksanaan Loading Pemberitahuan pihak kapal kepada pihak darat bahwa kapal siap menerima muatan/loading. Pihak kapal menerima konfirmasi pihak darat pemuatan segera dilaksanakan. Pihak Kapal membuka Manifold dan memantau tahap awal pemuatan (initial loading operation) Pihak kapal memantau kegiatan Pemuatan (Normal Operation) Pihak kapal melaporkan/menerima pemebritahuan tentang akan berakhirnya prosses pemuatan (topping off) Pemberhentian proses pemuatan.



Page 15



AKTIVITAS LOADING (Lanjutan) 3.Pengukuruan / Perhitungan Muatan diatas Kapal Persiapan dan pemeriksaan alat ukur kapal. Pelaksanaan pengukuran muatan diatas kapal (ullage/sounding, density observed, temperatur sample, temperatur tangki, free water) Perhitungan volume muatan. Klarifikasi angka kapal (SFAL) dengan angka B/L.



Page 16



AKTIVITAS LOADING (Lanjutan) 4.Penyegelan seluruh kerangan dan lubang-lubang pengeluaran yang ada hubungannya dengan muatan. 5.Persiapan dokumen kargo dikapal.



6.Menerima dan menanda tangani document cargo dari pihak darat , document kapal dan sample muatan. 7.Pemberangkatan kapal.



Page 17



AKTIVITAS DALAM PELAYARAN UNTUK DISCHARGING: 1.Menjaga dan mempertahankan temperature muatan. 2.Jika kapal dilengkapi dengan alat ukur ATG, maka permukaan muatan dalam tangki harus selalu dipantau. 3.Melaporkan kepada Operasi Tanker tentang dengan Telex: • Last Port • ATA Outer Bouy • ATA Rede • Berthed • Hose Connected • Commece Discharge/Loading • Completed Discharge/Loading • Hose Disconnected • Unberthed • Anchor Rede • ATD Rede • ATD Outer Bouy



Page 18



AKTIVITAS DALAM PELAYARAN DISCHARGING • Cargo BL FigureUNTUK in LT/ KL. 15°C/BBLS 60°F (Lanjutan) : • B/L Number • • • • • • • • • • • • •



Date of B/L Cargo Ship’s Figure in LT/KL. 15°C/BBLS 60°F ROB Bunker & FW on Arrival in MT Received Bunker & FW in MT ROB Bunker & FW on departure in MT Draft Forward, After and Mean in Meter ETA Next Port (Name Port and Date) Delay due to Instalation (Hour) Delay due to Ship Operation (Hour) Delay due to Agent (Hour) Delay due to other (Hour) Sailing Route to Destination Port Distance miles



4.Mengirim telex ke agen destination Port kapaldengan interval waktu 72 jam, 48 jam dan 24 jam sebelum kedatangan



Page 19



AKTIVITAS DISCHARGING :



1.Persiapan Discharging : Pemberitahuan pihak kapal ke Discharging Port Penyandaran kapal Pembahasan perencanaan Discharging. Menyerahkan Sample kepada pihak darat. Pemeriksaan segel dan tangki kapal Pembukaan segel kerangan-kerangan yang akan berhubungan dengan aktivitas Discharging. Menerima laporan hasil pemeriksaan sample dari Laboratorium. Persiapan kerangan dan tangki kapal yang akan dibongkar sesuai nominasi.



Page 20



AKTIVITAS DISCHARGING (Lanjutan) : 2.Pengukuruan / Perhitungan Muatan diatas Kapal Persiapan dan pemeriksaan alat ukur kapal. Pelaksanaan pengukuran muatan diatas kapal (ullage/sounding, density observed ,temperatur sample, temperatur tangki, free water) Perhitungan volume muatan. Menghitung/membandingkan perbedaan angka kapal (SFAL) dengan angka (SFBD) untuk mengetahui besarnya R2.



Page 21



AKTIVITAS DISCHARGING (Lanjutan) : 3.Pelaksanaan Discharging Pemberitahuan pihak kapal kepada pihak darat bahwa kapal siap membongkar muatan /Discharging. Pihak kapal menerima konfirmasi pihak darat bahwa pembongkaran dapat segera dilaksanakan. Pihak Kapal membuka Manifold dan memantau tahap awal pembongkaran (initial discharging operation) Pihak kapal memantau kegiatan Pembongkaran (Normal Operation)



Pihak kapal melaporkan/menerima pemberitahuan tentang akan berakhirnya prosses pembongkaran (stand by). Pelaksanaan pengeringan/stripping. Pemberhentian proses pembongkaran.



Page 22



AKTIVITAS DISCHARGING (Lanjutan) :



4.Pemeriksaan Tangki kapal setelah proses Discharging 5.Penyegelan seluruh kerangan dan lubang-lubang pengeluaran yang ada hubungannya dengan muatan apabila diatas kapal ada ROB. 6.Menerima dan menanda tangani protes dari pihak darat jika ada perbedaan angka SFBD dengan AR melebihi toleransi dan menerima document kapal. 7.Pemberangkatan kapal.



Page 23



AKTIVITAS DALAM PELAYARAN UNTUK LOADING: 1.Menerima telex nominasi, Jenis Cargo yang akan dimuat dan jumlah Cargo yang akan dimuat, dan Nominasi Tujuan Pelabuhan Bongkar. 2.Mempersiapkan tangki sesuai telex nominasi (tank cleaning jika diperlukan) sesuai dengan tank cleaning chart. 3.Melaporkan kepada Operasi tanker tentang : • Last Port • ATA Outer Bouy • ATA Rede • Berthed • Hose Connected • Commece Discharge/Loading • Completed Discharge/Loading • Hose Disconnected • Unberthed • Anchor Rede • ATD Rede • ATD Outer Bouy



Page 24



AKTIVITAS DALAM PELAYARAN UNTUK LOADING (Lanjutan) : • • • • • • • • • • • • • • •



Cargo BL Figure in LT/ KL. 15°C/BBLS 60°F B/L Number Date of B/L Cargo Ship’s Figure in LT/KL. 15°C/BBLS 60°F ROB Bunker & FW on Arrival in MT Received Bunker & FW in MT ROB Bunker & FW on departure in MT Draft Forward, After and Mean in Meter ETA Next Port (Name Port and Date) Delay due to Instalation (Hour) Delay due to Ship Operation (Hour) Delay due to Agent (Hour) Delay due to other (Hour) Sailing Route to Destination Port Distance miles



4.Mengirim telex ke agen destination Port kapaldengan interval waktu 72 jam, 48 jam dan 24 jam sebelum kedatangan. Page 25



End Slide