Proposal Yunita Sari-Kimia-IPB PDF [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

SUPERABSORBEN BERBASIS FINE COAL DAN POLIAKRILAT UNTUK MENDUKUNG REKLAMASI LAHAN TAMBANG



Usul Penelitian



YUNITA SARI



DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2018



SUPERABSORBEN BERBASIS FINE COAL DAN POLIAKRILAT UNTUK MENDUKUNG REKLAMASI LAHAN TAMBANG



YUNITA SARI



Usul Penelitian sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Kimia



DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2018



Judul Skripsi : Superabsorben Berbasis Fine Coal dan Poliakrilat untuk Mendukung Reklamasi Lahan Tambang Nama : Yunita Sari NIM : G44140070



Disetujui oleh



Mohammad Khotib, SSi, MSi Pembimbing I



Dr Zainal Alim Masúd, DEA Pembimbing II



DAFTAR ISI



DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN



vi 1



Latar Belakang



1



Tujuan Penelitian



2



Manfaat Penelitian



2



Waktu dan Tempat



3



TINJAUAN PUSTAKA



3



Reklamasi



3



Polimer Superabsorben (SAP)



4



Fine Coal



5



Peranan SAP dalam Erosi



6



BAHAN DAN METODE



6



Bahan dan Alat



6



Metode



7



DAFTAR PUSTAKA



13



LAMPIRAN



15



DAFTAR TABEL 1 Tata letak tanaman



8



DAFTAR GAMBAR 1 2 3 4 5



Struktur kimia fine coal Tanah diaplikasikan dengan berbagai kondisi Tata letak tanaman vetiver pada lereng dengan kemiringan 30 ° Tata letak tanaman vetiver pada lereng dengan kemiringan 45 ° dan jarak antar setrip vetiver 40 cm Plot pengamatan erosi dan aliran permukaan



5 8 9 10



11



DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3



Diagram alir penelitian Jadwal penelitian Rincian dana penelitian



15 16 16



PENDAHULUAN Latar Belakang Batu bara di Indonesia pada tahun 2016 diproduksi sebesar 434 juta ton yang memberikan kontribusi besar baik untuk diekspor maupun digunakan di Indonesia sendiri (Ditjen Minerba 2016). Tingginya produksi batu bara ini didukung oleh kekayaan alam yang terpendam sehingga bermunculan tambang batu bara dengan dibukanya lahan untuk tambang batu bara yang akan menimbulkan berbagai implikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumberdaya alam adalah kegiatan pertambangan bahan galian yang hingga saat ini merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara yang terbesar. Meskipun memiliki prospek yang baik tetapi lahan tambang yang telah digunakan memiliki sisi yang negatif pula. Sistem penambangan batu bara di Indonesia umumnya adalah sistem tambang terbuka dengan metoda konvensional yang merupakan kombinasi penggunaan excavator shovel dan truk (Yani 2005). Sistem ini banyak mengubah bentang lahan dan keseimbangan ekosistem permukaan tanah, menurunkan produktivitas tanah, dan mutu lingkungan. Pertambangan batu bara menyebabkan kerusakan besar pada flora, fauna, hidrologi, dan sifat biologi tanah. Pertambangan secara drastis juga mengubah sifat fisik dan kimia serta lingkungan biologis tanah. Keadaan ini ditandai oleh kandungan bahan organik rendah, pH yang rendah, kapasitas pengikat air rendah (low water holding capacity), salinitas, tekstur kasar, pemadatan tanah, pasokan unsur hara pada tanaman tidak memadai, dan erosi dipercepat (Mashud dan Manaroinsong 2014). Setiap perusahaan tambang batu bara mempunyai kewajiban dalam melaksanakan reklamasi areal bekas tambang dan daerah sekitarnya yang terganggu akibat aktivitas pertambangan. Areal yang direklamasi dilakukan dengan menata tanah timbunan (over burden/OB) dan selanjutnya dilakukan penaburan tanah pucuk (topsoil). Areal tersebut harus segera diberikan lapisan penutup tanah seperti mulsa dan penanaman vegetasi penutup tanah untuk mengurangi dispersi hujan pada permukaan tanah. Hasil reklamasi diharapkan mampu memperbaiki lahan yang telah terganggu sehingga dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Untuk mengetahui hal tersebut maka perlu dilakukan dampak reklamasi lahan bekas tambang terhadap erosi (Patiung et al. 2011). Erosi adalah proses penggerusan lapis tanah permukaan yang pada umumnya terjadi akibat air hujan yang jatuh di permukaan tanah. Hal ini menyebabkan tanah terciprat, lepas dari ikatan remahnya menjadi butiran halus (splash erosion) (Kusminingrum dan Gunawan 2013). Penggunaan kompos, pemupukan dengan NPK dan pemberian kapur untuk memperbaiki kesuburan tanah, penggunaan mulsa vegetatif dan pembuatan teras bangku atau guludan untuk mengurangi erosi, penanganan air asam tambang (AAT) dengan kapur atau metoda lahan basah adalah praktik-praktik dalam kegiatan reklamasi yang sudah biasa dilaksanakan. Namun beberapa kegiatan reklamasi dapat menghambat pencapaian keberhasilan reklamasi secara maksimal, seperti landscaping berlebihan yang menyebabkan tanah menjadi sangat padat dan pengapuran yang membatasi ketersediaan unsur-unsur mikro (Iskandar et al. 2012). Pemanfaatan superabsorben dengan dosis yang tepat dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman reklamasi.



2 Polimer superabsorben (SAP) telah ditetapkan sebagai soil conditioner untuk mengurangi kehilangan air tanah. Penggunanaan SAP dalam reklamasi lahan merupakan bahan yang diperlukan karena tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat. SAP digunakan di lahan tambang untuk membuat cadangan air di dekat zona rizosfer (akar). Selain itu, meningkatkan kelangsungan hidup tanaman, mengurangi biaya tenaga kerja, dan memberikan manfaat lainnya (Pritchard 1984).Umumnya, polimer superabsorben terbuat dari polimer sintetik berbasis poliakrilat atau poliakrilamida (Sunardi et al. 2017). Sang et al. (2011) menggunakan poliakrilamida anionik (PAM) dan biopolimer buatan (BP) berupa lignin, pati jagung, akrilamida, dan asam akrilat untuk mengevaluasi erosi tanah, kualitas air, dan pertumbuhan kubis Cina (Brassica campestris L.). Setiap perlakuan PAM dan BP diaplikasikan sebanyak 200 kg ha-1 ke tanah pasir liat dengan kemiringan 36% dengan curah hujan 20 mm h-1. Stabilitas agregat meningkat sebesar 25.4 dan 27.1% untuk tanah yang telah diberi PAM dan BP yang masing-masingnya dibandingkan tanpa perlakuan. Nilai tanah tersuspensi dan kekeruhan secara signifikan berkurang hingga 96.0 dan 99.9% dibandingkan tanpa perlakuan. Selain itu, penerapan polimer tidak menunjukkan efek negatif atau toksisitas melalui perkecambahan biji atau pertumbuhan tanaman. Penggunaan polimer tersebut menjadi cara yang efektif untuk mengurangi masalah erosi tanah. Polimer superabsorben yang dibuat dari polimer organik mempunyai kelemahan yaitu kurang stabil terhadap perubahan suhu, keasaman, dan sifat fisik yang kurang bagus. SAP yang ada saat ini juga mahal dan tidak baik untuk air dan tanah (Saesario 2012). Modifikasi fine coal dengan poliakrilat menjadi salah satu alternatif SAP yang murah. Fine coal di lahan tambang merupakan batu bara halus yang terbentuk akibat proses crushing, grinding, dan pencucian dalam kegiatan penambangan, distribusi, penyimpanan dan re-claim (AI 2013). Struktur kimia fine coal memiliki gugus hidrofilik berupa karboksilat, hidroksil, dan karbonil yang memungkinkan untuk dimodifikasi atau dicangkok dengan monomer seperti asam akrilat. Oleh karena itu, fine coal berpotensi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan polimer superabsorben (SAP) untuk mencegah erosi, penstabil tanah, meningkatakan viabilitas tanaman, perkecambahan biji, dan pertumbuhan akar (Dehkordi 2016). Tujuan Penelitian Penelitian ini betujuan menghasilkan superabsorben berbahan dasar fine coal dan poliakrilat yang berperan dalam mengontrol erosi dan meningkatan pertumbuhan tanaman di lahan tambang.



Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat dalam aplikasi SAP yang mampu mengkonversi lahan tambang menjadi lahan produktif, peningkatan efisiensi pemanfaatan air, dan memanfaatkan hasil limbah batu bara berupa fine coal.



Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilakukan dari bulan Januari sampai Mei 2018 di Laboratorium Terpadu, Institut Pertanian Bogor, dan di PT Adaro Indonesia, Kalimantan Selatan.



TINJAUAN PUSTAKA



Reklamasi Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki lahan yang telah terganggu akibat kegiatan usaha pertambangan sehingga dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya (Lawing 2015). Reklamasi lahan bekas tambang memerlukan pendekatan dan teknologi yang berbeda tergantung atas sifat gangguan yang terjadi dan juga peruntukannya (penggunaan setelah proses reklamasi). Secara teknis usaha reklamasi lahan bekas tambang dimulai dengan kegiatan recontouring, regrading atau resloping dari lubang-lubang bekas tambang. Hal ini dilakukan agar diperoleh suatu bentuk wilayah dengan kemiringan lereng yang stabil. Pembuatan saluran-saluran drainase dan bangunan-bangunan konservasi disiapkan pada tahap ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, lubang tambang ditutup dengan berbagai material yang dikupas pada saat ekskavasi awal lubang tambang. Selanjutnya bagian permukaan lahan hasil landscaping ditaburi atau ditutup kembali dengan “tanah pucuk” (top soil) yang umumnya memiliki sifat kimia-fisik tidak subur. Setelah tanah sebagai media tumbuh tanaman disiapkan dengan baik, maka kegiatan selanjutnya adalah revegetasi, baik dengan tanaman asli lokal, tanaman kehutanan introduksi, ataupun tanaman lainnya yang dinilai akan bermanfaat untuk mempercepat dan meningkatkan keberhasilan usaha reklamasi. Untuk menyiasati kondisi iklim mikro yang belum sesuai, reklamasi biasanya diawali dengan menanam tanaman-tanaman yang cepat tumbuh yang mampu beradaptasi dengan cepat, seperti tanaman vetiver (Iskandar et al. 2012). Vetiver yang ada di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana) yang sejenis dengan rumput-rumputan berukuran besar. Rumput ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi lahan dan air seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan aberasi pantai, stabilisasi tebing, dan lainnya melalui teknologi yang disebut vetiver system. Sistem tersebut dalah sebuah teknologi sederhana berbiaya murah yang memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. Sistem ini sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya. Tanaman ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam tanah hingga sangat dalam. Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras misalnya pada bagian lereng-lereng keras dan berbatu, ujung-ujung



4 akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk menembus ke dalam lapisan tekstur tanah dan pada saat yang bersamaan, vetiver menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini dapat mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air (Kusminingrum dan Gunawan 2013).



Polimer Superabsorben (SAP) Polimer superabsorben adalah bahan yang mampu menyerap ratusan atau bahkan ribuan kali beratnya dalam cairan yang biasanya berupa air. SAP disebut sebagai hidrogel karena setelah menyerap air akan membentuk bahan seperti gel. (Farkish 2013). Semua tanaman membutuhkan air. SAP dapat menyerap dan menyimpan air dalam bentuk tanaman yang tersedia. Selain itu, SAP juga memberikan manfaat tambahan karena kemampuannya untuk mempertahankan air dan nutrisi. Setiap partikel SAP bertindak seperti spons yang sangat efektif (Pritchard 1984). Ketika polimer superabsorben dimasukkan dalam air atau pelarut akan terjadi interaksi antara polimer dengan molekul air. Interaksi yang terjadi adalah hidrasi. Adanya ikatan silang dalam polimer superabsorben menyebabkan polimer tidak larut dalam air atau pelarut (Swantomo et al. 2008). Setiap partikel atau molekul dapat dianggap memiliki dua kelompok paralel utama atom. Kelompok-kelompok ini secara berkala bergabung dengan ikatan silang seperti anak tangga. Air akan terdifusi oleh polimer superabsorben karena adanya gugus hidrofilik. Setelah mencapai tahap kesetimbangan, air yang terserap akan terikat dengan gugus karboksilat membentuk ikatan hidrogen. Pada akhirnya air yang terserap akan tetap tertahan pada polimer superabsorben sehingga polimer mengalami pembengkakan (kapasitas maksimum setiap partikel biasanya akan meluas sampai lebih dari tiga puluh kali volume aslinya). Kapasitas penyerapan superabsorben dipengaruhi oleh keasaman dan alkalinitas (pH), konduktivitas, dan variabel lain yang menghambat ekspansi (Pritchard 1984). SAP pertama yang dikembangkan untuk pertanian, yaitu starch-graft copolymers yang diperoleh melalui graft polymerization poliakrilonitril pada pati yang diikuti dengan penyabunan unit akrilonitril, cross-linked polyacrylate, crosslinked polyacrylamide, dan cross-linked kopolimer acrylamide-acrylate. Hidrogel yang banyak digunakan belakangan ini, yaitu cross-linked polyacrylamide dan cross-linked kopolimer acrylamide-acrylate karena mempunyai life span yang paling lama dibandingkan jenis hidrogel yang lain (1 dan 2). Salah satu bahan baku yang dapat dipakai untuk pembuatan SAP adalah akrilat yang merupakan bahan polimer superabsorben yang paling banyak digunakan karena mempunyai daya afinitas yang paling baik (Swantomo et al. 2008). Polimer superabsorben yang dibuat dari polimer organik mempunyai kelemahan yaitu kurang stabil terhadap perubahan suhu, keasaman, dan sifat fisik yang kurang bagus. Kelemahan polimer organik ini dapat diatasi dengan pembuatan superabsorben yang dimodifikasi dengan fine coal. Modifikasi ini dapat disintesis melalui tekni pencangkokan penaut silang menggunakan monomer, inisiator, dan penaut-silang. Akrilat digunakan sebagai monomer karena stukturnya memiliki ikatan rangkap yang memungkinkan terjadinya kopolimerisasi pencangkokan. Inisiator yang biasa digunakan adalah garam persulfat (K+, Na+, NH4+) dan penaut silang yang umum digunakan adalah



5 trimetil propana triakrilat, 1,4-butadienol dimetakrilat, dan N,N-metilena bisakrilamida (MBA) (Saesario 2012).



Fine Coal Fine coal di lahan tambang merupakan batu bara halus yang terbentuk akibat proses crushing, grinding, dan pencucian dalam kegiatan penambangan, distribusi, penyimpanan, dan re-claim (AI 2013). Fine coal dan batu bara yang sangat halus (sludge) berukuran 45 º sampai 60 º Nilai erodibilitas tanaha K ≤ 0.20 K > 0.20 K ≤ 0.20 K > 0.20 80



40-80



40 tidak disarankanb



15-20



1015



15-20



10-15



10-15



aNilai



erodibilitas tanah merupakan suatu nilai yang menunjukkan mudah tidaknya suatu tanah ter erosi yang mengacu pada kelas kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah = K) berdasarkan USDA – SCS (1973) dalam Dangler dan El Swaify (1976). bNilai K > 0.20 dan curah hujan tinggi, tidak disarankan ditanami vetiver secara mandiri (perlu dikombinasikan dengan cara mekanis).



Gambar 3 Tata letak tanaman vetiver pada lereng dengan kemiringan 30 °



10



Gambar 4 Tata letak tanaman vetiver pada lereng dengan kemiringan 45 ° dan jarak antar setrip vetiver 40 cm Erosi dan Aliran Permukaan (Patiung 2012). Plot erosi dibuat dengan ukuran yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bagian atas dan samping petak dibatasi plastik dengan lebar 30 cm. Sebagian plastik (15-20 cm) ditanam secara vertikal ke dalam tanah. Bagian bawah lereng pada setiap plot dipasang bak penampung. Bak penampung ini berfungsi untuk menampung tanah yang tererosi dan aliran permukaan yang keluar dari plot. Bagian atas bak penampungan dibuat lubang sebanyak 5-7 buah (sesuai intensitas curah hujan) untuk mengalirkan aliran permukaan yang berlebihan. Lubang pada bagian tengah disambungkan dengan pipa paralon ke drum untuk menampung air dan sedimen. Pengamatan dilakukan terhadap erosi dan aliran permukaan yang ditampung dalam bak erosi ditakar untuk mengetahui volume dan banyaknya sedimen. Tanah yang tererosi tertampung di bak dianalisis dengan metoda gravimetri. Selanjutnya sampel erosi yang diambil dari bak erosi lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 103 oC selama 2 × 24 jam (berat konstan) dan ditimbang berat kering tanah yang tererosi per satuan luas per satuan hari kejadian hujan.



11



Gambar 5 Plot pengamatan erosi dan aliran permukaan (Patiung 2012) Total aliran permukaan untuk setiap kejadian hujan dihitung dengan persamaan : Rp = Rg + (Rc × Lp) Aliran permukaan per satuan luas (ha) dihitung sebagai berikut: 10000 m2 Ro = × Rp luas plot m2 Keterangan: Rp = aliran permukaan plot (liter) Rg = volume yang masuk bak penampung (liter) Rc = volume yang masuk ke drum (liter) Lp = banyaknya lubang pembuang Ro = aliran permukaan (liter/ha) Nilai koefisien aliran permukaan dihitung dengan persamaan : Rt Kr = CH Keterangan: Kr = koefisien aliran permukaan Rt = total volume aliran permukaan (mm) CH = jumlah curah hujan (mm) Total erosi dihitung dengan persamaan sebagai berikut: Ep = Pt + Sg × [Vg + (Rc × Lp)] Erosi dalam satu ha dihitung dengan rumus 10000 m2 E= × Ep (g) luas plot m2



12 Keterangan: Ep = erosi plot (g/plot) Sg = kadar erosi dalam sampel bak penampung (g/liter) Vg = volume aliran permukaan yang masuk bak penampung (liter) Rc = volume aliran permukaan yang masuk ke drum (liter) Sc = kadar erosi dalam sampel drum (g/liter) Lp = banyaknya lubang pembuang E = erosi (g/ha) Sampel erosi diambil pada setiap hari kejadian hujan selama 10 minggu setelah perlakuan. Pengambilan sampel pada bak penampung dan drum dilakukan secara proporsional. Sampel yang diambil terlebih dahulu dilakukan pengadukan sehingga suspensi dan aliran permukaan menjadi homogen. Sampel erosi yang diperoleh kemudian dikeringkan dalam oven dan selanjutnya ditimbang untuk mengetahui besarnya erosi per plot. Pengambilan sebagian sampel aliran permukaan (sedimen dan air) dilakukan saat hujan berlangsung (sebelum masuk dalam bak penampungan) dengan menggunakan botol sampel ukuran 200 ml. Karakterisasi Tanah. Karakterisasi tanah dilakukan pada lahan tanah dan tanah yang tererosi sebelum perlakuan dan setalah 3 hari diberi perlakuan. Kajian dampak reklamasi dilakukan terhadap lahan tanah, berupa sifat tanah (sifat fisik dan kimia) dan dilakukan analisis mikroskop elektron pemayaran (SEM). Pada tanah yang tererosi dikarakterisasi berupa bobot isi serta dilakukan analisis mikroskop elektron pemayaran (SEM) dan spektrofotometer UV-VIS. Sifat fisik tanah Bobot isi (Patiung 2012). Pengambilan sampel tanah utuh dilakukan dengan menggunakan ring sampel dengan meratakan dan membersihkan lapisan atas tanah yang akan diambil. Ring dimasukkan ke dalam tanah secara perlahan agar tanah tidak rusak dengan cara menekan permukaan tabung. Tanah digali pada sekeliling tabung/ring untuk memudahkan pengambilan tabung yang berisi tanah utuh. Tanah diiris pada kedua sisi tabung dengan pisau/cutter secara hati-hati kemudian tabung ditutup pada kedua sisinya dan diberi label/kode sampel. Tekstur tanah (Kusmana et al. 2013). Analisis tekstur tanah dilakukan terhadap sebanyak satu sampel dari setiap plot. Sampel tanah diambil dengan menggunakan bor Belgi pada ke dalaman yang diinginkan, sampel komposit tanah diambil sebanyak 1 kg. Sifat kimia tanah (Patiung 2012). Pengambilan sampel tanah tidak utuh secara komposit dilakukan untuk menganalisis sifat kimia tanah yaitu pH, Corganik, N-total, P-total, dan KTK. Tanah digali sampai pada kedalaman yang diinginkan kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkan dan beri nomor dan label serta diikat dan simpan untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium. Karakterisasi air. Karakterisasi air yang terbawa erosi dilakukan setalah 3 hari diberi perlakuan. Kemudian dilakukan analisis spektrofotometer UV-VIS.



Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Vetiver (Priherdityo et al. 2016; Suyono 2016). Peubah vegetatif yang diamati tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah anakan (unit), dan tinggi anakan (cm). Pengukuran dilakukan pada awal penanaman dan 1 minggu sekali selama 10 minggu setelah perlakuan (MSP). Pertambahan tinggi (cm). Pengukuran tinggi dilakukan dengan melakukan penandaan pada batang yang menjadi titik awal pengukuran. Hal ini dilakukan agar meningkatkan konsistensi dalam pengukuran tinggi. Pertambahan tinggi bibit diukur dengan menggunakan rumus: Pertambahan tinggi (Δ𝑡) = t1 – t2 (cm) Keterangan: t1 = Pengukuran awal t2 = Pengukuran akhir Jumlah daun (helai). Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah daun yang sudah teruka secara sempurna Jumlah anakan (unit). Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah anakan yang muncul. Tinggi anakan (cm). Pengamatan dilakukan dengan menghitung tinggi awal penanaman di persemaian dan tinggi akhir pengamatan.



DAFTAR PUSTAKA [AI] Adaro Indonesia. 2010. Laporan Kegiatan Penelitian Karakterisasi dan Utilisasi Fine Coal Sebagai Briket serta Optimasi Pengolahan Limbah Fine Coal Di Settling Pond PT Adaro Indonesia. Tanjung (ID): AI. Dehkordi DK. 2016. The effects of superabsorbent polymers on soils and plants. Pertanika J. Trop. Agric. Sci. 39(3): 267 – 298. [Ditjen Minerba] Direktorat Jendral Mineral dan Batu Bara. 2016. Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia. Jakarta (ID): Ditjen Minerba. Farkish A. 2013. SAP based rapid dewatering of oil sands mature fine tailings [thesis]. Ottawa (CA): University of Ottawa. Irwandi D. 2016. Carbon foam berbahan dasar fine coal sebagai kandidat insulator termal [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Iskandar, Suwardi, Suryaningtyas DT. 2012. Reklamasi Lahan-Lahan Bekas Tambang: Beberapa Permasalahan Terkait Sifat-sifat Tanah dan Solusinya. Bogor (ID): Pusat Studi Reklamasi Tambang LPPM – IPB. [KPU] Kementerian Pekerja Umum. 2009. Penanaman Rumput Vetiver untuk Pengendalian Erosi Permukaan dan Pencegahan Longsoran Dangkal Pada Lereng Jalan. Bandung (ID): KPU.



14 Kusmana C, Setiadi Y, Al-Anshary MAL. 2013. Studi pertumbuhan tanaman hasil revegetasi di lahan tambang batubara PT. Arutmin Indonesia Site Batulicin Kalimantan Selatan. Jurnal Silvikultur Tropika. 4(3): 160-165. Kusminingrum N, Gunawan G. 2013. Penanganan Erosi Lereng Galian dan Timbunan Jalan dengan Rumput Vetiver. Bandung (ID): Puslitbang. Lawing YH. 2015. Kajian pemanfaatan lahan bekas tambang dalam upaya reklamasi berdasarkan kaidah good mining practice pada PT. Anugrah Bara Kaltim Kabupaten Kutai Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur. Jurnal Geologi Pertambangan. 2: 41-49. Mashud N dan Manaroinsong E. 2014. Pemanfaatan lahan bekas tambang batu bara untuk pengembangan sagu. B. Palma. 15(1): 56-63. Mas’ud ZA, Khotib M, Farid M, Nur A, Amroni1 M. 2013. Superabsorbent derived from cassava waste pulp. International Journal Of Recycling of Organic Waste in Agriculture. 2(8): 1-8. Patiung O, Sinukaban N, Tarigan SD, Darusman D. 2011. Pengaruh umur reklamasi lahan bekas tambang batubara terhadap fungsi hidrologis. J. Hidrolitan. 2(2) : 60-73. Patiung O. 2012. Kajian dampak reklamasi lahan tambang batubara terhadap komponen fungsi hidrologis dan ekologis das serta manfaat bagi masyarakat [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Priherdityo E, Susanto S, Chadirin Y. 2016. Pengaturan intensitas larutan hara terhadap pertumbuhan tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides L.) yang dibudidayakan secara aeroponik. Bul. Agrohorti. 4 (1): 104-112. Pritchard JF. 1984. Superabsorbents, A New "Tool" For Mine Reclamation An Introduction To A Valuable Technology. Bradenton (US): Industrial Services International, Inc. Rodliyah I, Ardha N. 2008. Aglomerasi minyak-batu bara untuk perolehan batu bara halus. Jurnal Teknologi Mineral dan Batu bara. 4(12): 11-19. Saesario MI. 2012. Sintesis polimer superabsorben onggok tapioka-akrilamida: pengaruh konsentrasi monomer dan inisiator [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Sang SL, Scott XC, Yoon YC, Yong SO. 2013. Commercial versus synthesized polymers for soil erosion control and growth of Chinese cabbage. SpringerPlus. 2(534): 1-10. Sunardi, Irwan A, Latifah A, Istikowati WT, Haris A. 2017. Kajian pengaruh jumlah agen pengikat silang terhadap karakteristik superabsorben asam akrilat tercangkok selulosa dari alang-alang (Imperata cylindrica). Sains dan Terapan Kimia. 11(1): 15–23. Suyono AP. 2016. Respon pertumbuhan Vetiveria zizanioides (L) Nash. dengan perlakuan bionature, media tanam dan pangkas akar di PT Cibaliung Sumberdaya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Swantomo D, Megasari K, Saptaaji R. 2008. Pembuatan komposit polimer superabsorben dengan mesin berkas elektron. JFN. 2(2): 143-156. Yani M. 2005. Reklamasi Lahan Bekas Pertambangan Dengan Penanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn). Bogor (ID): Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi LPPM-IPB.



Lampiran 1 Diagram alir



LAMPIRAN



16 Lampiran 2 Jadwal penelitian Kegiatan



Desember



Januari



Februari



Maret



April



Mei



Studi literatur Preparasi fine coal Preparasi SAP Saponifikasi SAP Karakterisasi SAP Erosi Karakterisasi tanah & air Pertumbuhan tanaman Pembuatan laporan Seminar



Lampiran 3 Rincian dana penelitian No 1 2



Bahan Asam akrilat Amonium persulfat



3



N,N-metilena-bis-akrilamida



Jumlah 20 kg 3 kg 500 gram



4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19



Metanol Etanol 95% Aseton NaOH HCl H2O2 Gas N2 Akuades Saringan mesh Reaktor sintesis (sewa) Drum Selang air Meteran Botol sampel Plastik sampel Bor Belgi



9 liter 9 liter 9 liter 500 gram 25 liter 12 liter 1 buah 43 liter 2 buah 1 buah 6 buah 7 meter 1 buah 72 buah 1 pak 1 buah



Harga/Satuan (Rp) 121.500/kg 35.230/kg 538.750/kg



Total (Rp) 2.430.000 105.690 269.375



35.650/liter 35.230/liter 33.876/liter 34.390/kg 15.149/liter 35.230/liter 921.000/buah 16.000/liter 450.000/buah 1.000.000/buah 195.000/buah 10.000/meter 40.000/buah 11.000/buah 210.000/pak 950.000/buah



320.850 317.070 304.884 17.195 378.725 422.760 921.000 688.000 900.000 1.000.000 1.170.000 70.000 40.000 792.000 220.000 950.000



17 Lanjutan Lampiran 3 20 Ring sampel 1 box 21 Analisis FTIR 10 sampel 22 Analisis SEM 34 sampel 23 Analisis TG-DTA 10 sampel 24 Analisis Spektrofotometri 24 sampel UV-VIS Total



916.000/box 300.000/sampel 450.000/sampel 400.000/sampel 100.000/sampel



916.000 3.000.000 15.300.000 4.000.000 2.400.000 36.933.549