Hipertensi Dan DM [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

BAB I PENDAHULUAN 1.1



LATAR BELAKANG Seiring dengan perkembangan zaman,banyak frekuensi kasus penyakit degeneratif seperti jantung,hipertensi, ginjal atau stroke yang akhir-akhir ini berkembang di masyarakat. Penyakit-penyakit diatas digolongkan menjadi penyakit tidak menular (PTM). PTM mulai meningkat frekuensi kejadiannya seiring dengan perkembangan teknologi,perubahan pola makan,gaya hidup serta kemajuan ekonomi bangsa. Penyakit tidak menular seperti hipertensi,stroke, kanker, diabetes mellitus, penyakit paru kronik obstruktif, dan cedera terutama di negara berkembang, telah mengalami peningkatan kejadian dengan cepat yang berdampak pula pada peningkatan angka kematian dan kecacatan. Penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan sebagai penyebab 58 juta kematian pada tahun 2005 (WHO).1,2,3,4,5 Berdasarkan data tersebut, maka sebagai calon dokter wajib bagi kita untuk memperhatikan dan mencermati lebih mendalam, sehingga kemudian dapat dijadikan sebagai pengalaman di lapangan.



1.2



TUJUAN Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk melatih keterampilan klinis dan komunikasi dalam



menangani kasus ilmu penyakit dalam, khususnya pada kasus



nefropati diabetes dengan hipertensi yang terjadi pada Ny. S, dengan upaya pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat holistik dan komprehensif. 1.3



MANFAAT Makalah



ini diharapkan



memberikan tambahan



ilmu pengetahuan tentang



berbagai klasifikasi diabetes dan hipertensi , dan mengetahui tentang penyebab, patofisiologi, gejala dan tanda serta bagaimana penanganannya.



1



BAB II STATUS PASIEN 2.1



2.2



IDENTITAS PENDERITA Nama : Ny. S Umur



: 57 tahun



Jenis kelamin



: Perempuan



Pekerjaan



: Ibu rumah tangga



Pendidikan



: SMA



Agama



: Islam



Alamat



: Jl. Sudimoro no.22 B, Mlg.



Suku



: Jawa



ANAMNESIS ( 11 Agustus 2015) 1. Keluhan Utama



: Lemas terus menerus, skala tingkat lemas 1-10 adalah 3.



2. Keluhan Penyerta



: Mual, nafsu makan turun.



3. Riwayat Penyakit Sekarang



:



Pasien datang ke IGD RSI pada tanggal 6 Agustus 2015 dengan keluhan badan terasa lemas dan kebas setelah bangun tidur. Pasien tidak mengeluh pusing. Pasien sudah lama menderita diabetes dan hipertensi dan berulang kali masuk rumah sakit karenanya. Selama ini pasien menjalani rawat jalan dan rutin kontrol setiap obatnya habis. Pasien mengeluhkan berat badannya turun karena belakangan ini nafsu makannya turun. 4. Riwayat Penyakit Dahulu: - Riwayat MRS



:



(+)



- Riwayat kencing manis



:



(+)



- Riwayat asma



:



(-)



- Riwayat penyakit jantung



:



(+)



- Riwayat hipertensi



:



(+)



5. Riwayat Penyakit Keluarga



2



-



Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : (+)



-



Riwayat hipertensi



: (+)



-



Riwayat kencing manis



: (+)



-



Riwayat asma



: (-)



-



Riwayat jantung



: (-)



6.



Riwayat Kebiasaan -



Riwayat merokok



: (-)



-



Riwayat minum kopi



: (-)



-



Riwayat minum alkohol : (-)



-



Riwayat olah raga



: jarang olahraga



7.



Riwayat pengisian waktu luang



: tidur di rumah



8.



Riwayat alergi



: allopurinol



9.



Riwayat Sosial Ekonomi Ny.S merupakan istri dari Tn. A yang merupakan pemilik toko jagal di pasar. Sebelumnya Tn. A bekerja di proyek, setelah pensiun Tn. A menjalankan bisnis jagal daging dan ayam potong. Ny. S hidup berkecukupan. Memiliki 3 orang anak yang semuanya sudah menjadi sarjana dan kini bekerja.



10. Riwayat Gizi Ny. S kehilangan berat badan 5-8 kilo karena tidak memiliki nafsu makan. Kesan gizi kurang. Makanan di rumah sakit selama rawat inap selalu disisakan lebih dari setengah porsinya dan sayur tidak dimakan. Dahulu Ny.S selalu minum es dan suka minum yang manis-manis. Ny.S mengaku dulu berbadan gemuk. Sekarang semenjak sering masuk rumah sakit Ny.S menggunakan gula khusus untuk orang diabetes. Ny.S tidak suka sayur. Ny.S tidak pernah memasak karena selalu merasa lemas dan capek. Sehari-harinya makanan selalu dibelikan oleh suami. Suami Ny.S sering membeli masakan padang. 2.3



3



ANAMNESIS SISTEM 1. Kulit : anemis (-), sianosis (-) 2.



Kepala



: pusing (-), nyeri kepala (-), benjolan kepala (TAD)



3.



Mata



: pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (TAD)



4.



Hidung



: tersumbat (TAD),



5.



Telinga



: keluar cairan (-/-), pendengaran berkurang (TAD), berdengung (TAD)



6.



Mulut



: luka (-) perdarahan (-)



7.



Tenggorokan



: nyeri menelan (TAD), suara serak (TAD), batuk(+)



8.



Pernafasan



: sesak nafas (TAD)



9.



Kadiovaskuler



: berdebar-debar (TAD)



10. Gastrointestinal : nafsu makan menurun (+), muntah (-), susah BAB (+), mual (+), nyeri perut



(TAD)



11. Genitourinaria



:BAK normal



12. Neurologik



: kejang (TAD), lumpuh (TAD), kaki kesemutan (TAD)



13. Muskuloskeletal : lemas (-) kaku sendi (-) 14. Ekstremitas 2.4



: dBN



PEMERIKSAAN FISIK (6 Agustus 2015) 1.



Keadaan Umum : lemah



2.



Kesadaran : 2-1-3



3.



Tanda Vital Tensi



: 190/100 mmHg



RR



: 24 x/menit



HR



: 89x/menit



Suhu



: 36



SpO2



: 99%



4.



Kepala : Edema/Hematoma (-)



5.



Mata



: Mata cowong (TAD), sklera putih (TAD), konjunctiva merah muda (TAD),



pupil isokor (+/+), penglihatan kabur (-/-) 6.



Hidung : rinorrhea (TAD)



7.



Mulut



8.



Telinga : ottorhea (TAD)



9.



Leher



10.



Toraks : normochest (TAD), simetris (+), pernafasan thoracoabdominal (TAD),



: mukosa bibir pucat (TAD), sianosis (TAD), bibir berdarah (TAD) : lesi kulit (TAD)



kelainan kulit (TAD), nyeri (TAD) 11.



Cor



: (TAD)



12.



Abdomen : (TAD) Inspeksi (TAD)



4



Palpasi : (TAD) Perkusi : (TAD) Auskultasi: (TAD) 13. Ekstremitas : palmar eritem (TAD) 2.5



DDx : Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan DDx



: 1. Diabetes Melitus tipe 2 dengan hipertensi 2. Nefropati Diabetes dengan hipertensi 3. DM Hipoglikemi dengan hipertensi



2.6



WDx : Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan working diagnosa pada Ny.S adalah nefropati diabetes dengan hipertensi.



2.7



PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. GDA : 7 Agustus 2015 jam 15.30 GDA=84, jam 23.00 GDA=54, 10 Agustus 2015 I=520, II=557, III=493 12 Agustus 2015 I=115, II=87 2. Darah lengkap



: Hb 8,3, hematokrit 25,8%, leukosit 15,56, trombosit 466, eritrosit



2,92, RDW-CV 14,6% 3. Urine lengkap



: albumin +4 (normal : negative), nitrit – (normal : positif), eritrosit



1-2 (normal : 0-2) , leukosit 3-4 (normal : 0-4), epitel 3-4 (normal : 0-1)



2.8



5



4. kimia darah



: ureum 128 (normal : 15-39), creatinin 3,88 (normal : 75 tahun, dosis awal 40 mg 1 x sehari. -



Infark miokard:



Dosis awal 20 mg 2 x sehari, dinaikkan dalam beberapa minggu menjadi 160 mg 2 x sehari. 



Peringatan dan perhatian : - Antagonis reseptor angiotensin II digunakan dengan hati-hati pada stenosis arteri ginjal. Pemantauan plasma kalium dianjurkan terutama pada usia lanjut dan pada gangguan ginjal, dosis awal yang lebih rendah dapat diberikan pada pasien. - Antagonis reseptor angiotensin II digunakan dengan hati-hati pada stenosis aorta atau mitral valve dan pada hipertropik obstruktif, kardiomiopati. - Pasien Afro-Caribbean, dengan hipertropi ventrikular kiri tidak mendapat keuntungan dengan antagonis reseptor angiotensin II.



27



- Peringatan lainnya: pada gangguan fungsi hati ringan sampai berat dan kerusakan ginjal. 



Efek samping



:



- Biasanya menetap dan ringan: Efek CNS (kepeningan); Efek CV (hipotensi orthostatik yang berhubungan dengan dosis, yang mungkin terjadi secara khusus pada pasien yang kekurangan volume); kerusakan ginjal. - Efek lainnya yang agak jarang: ruam, angioedema, mengangkat LFTs (liver function tests); myalgia. 4. Glimipirid 



Sediaan



: tablet 1,2,3 dan 4 mg







Farmakologi



: bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta



pancreas dan meningkatkan sensitivitas insulin di perifer. 



Indikasi



: diabetes mellitus tipe 2 yang kadar gula darahnya tidak terkontrol



dengan diit dan aktivitas fisik. 



Dosis



: dosis awal biasanya 1 mg sehari sekali. Bila perlu dosis awitan



dapat ditingkatkan dengan interval 1-2 minggu. 



Kontraindikasi



: hipersensitif terhadap glimipirid, ketoasidosis diabetic dengan



atau tanpa koma, wanita hamil atau wanita menyusui. 



Efek samping



: gangguan diare, rasa mual dan muntah



5. Simvastatin 



Sediaan



: Simvastatin 10 mg (1 box berisi 3 strip @ 10 tablet)







Farmakologi



: Simvastatin adalah senyawa antilipermic derivat asam mevinat



yang mempunyai mekanisme kerja menghambat 3-hidroksi-3-metil-glutaril-koenzim A (HMG-CoA) reduktase yang mempunyai fungsi sebagai katalis dalam pembentukan kolesterol. HMG-CoA reduktase bertanggung jawab terhadap perubahan HMG-CoA menjadi asam mevalonat. Penghambatan terhadap HMG-CoA reduktase menyebabkan penurunan sintesa kolesterol dan meningkatkan jumlah reseptor Low Density Lipoprotein (LDL) yang terdapat dalam membran sel hati dan jaringan ekstrahepatik, sehingga



28



menyebabkan



banyak



LDL



yang



hilang



dalam



plasma.



Simvastatin cenderung mengurangi jumlah trigliserida dan meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL) kolesterol 



Indikasi



: Sebelum memulai terapi dengan simvastatin, singkirkan dulu



penyebab hiperkolesterolemia sekunder (misal: diabetes melitus tidak terkontrol, hipertiroidisme,



sindroma



nefrotik,



disproteinemia,



penyakit



hati



obstruktif,



alkoholisme serta terapi dengan obat lain) dan lakukan pengukuran profil lipid total kolesterol, HDL kolesterol dan trigliserida. Penurunan kadar kolesterol total dan LDL pada penderita hiperkolesterolemia primer, bila respon terhadap diet dan penatalaksanaan



non



farmakologik



saja



tidak



memadai.



Simvastatin meningkatkan kadar kolesterol HDL dan karenanya menurunkan rasio LDL/HDL serta rasio kolesterol total/LDL. Meskipun mungkin bermanfaat mengurangi kolesterol LDL yang meninkat pada penderita dengan hiperkolesterolemia campuran dan hipertrigliseridemia (dengan hiperkolesterolemia sebagai kelainan utama), namun simvastatin belum diteliti pada kelainan utama berupa peningkatan kadar Chylemicron. 



Kontraindikasi



: Pasien yang mengalami gagal fungsi hati atau pernah



mengalami gagal fungsi hati, pasien yang mengalami peningkatan jumlah serum transaminase yang abnormal, pecandu alkohol, bagi wanita hamil dan menyusui dan pasien yang hipersensitif terhadap simvastatin. 



Dosis



: Penderita harus melakukan diet pengurangan kolesterol baku sebelum



dan selama memulai pengobatan dengan simvastatin dan harus melanjutkan diet selama pengobatan dengan simvastatin. Dosis awal 10 mg/hari sebagai dosis tunggal malam hari. Dosis awal untuk pasien dengan hiperkolesterolemia ringan sampai sedang 5 mg/hari. Pengaturan dosis dilakukan dengan interval tidak kurang dari 4 minggu sampai maksimal 40 mg/hari (diberikan malam hari). Lakukan pengukuran kadar lipid dengan interval tidak kurang dari 4 minggu dan dosis disesuaikan dengan respon penderita. Pada pasien yang diobati dengan obat-obat imunosupresan bersama HMG-CoA reduktase inhibitor, dosis simvastatin yang dianjurkan adalah terendah. Bila kadar kolesterol LDL < 75 mg/dl (1,94 mmol/l) atau kadar total kolesterol plasma < 140 mg/dl (3,6 mmol/l) maka perlu dipertimbangkan pengurangan dosis simvastatin.



29



Penderita gangguan fungsi ginjal: Pemberian simvastatin tidak perlu penyesuaian dosis, karena simvastatin tidak diekskresi ginjal secara bermakna. Simvastatin efektif diberikan dalam bentuk tunggal, atau bersamaan dengan Bile Acid Sesquestran akan lebih efektif. 



Efek samping



: Sakit kepala, konstipasi, nausea, flatulen, diare, dispepsia, sakit



perut, fatigue, nyeri dada dan angina. Astenia, miopathy, ruam kulit, rhabdomyolisis, hepatitis, angioneurotik edema terisolasi. 6. Betahistin 



Sediaan : Tablet 6mg







Farmakologi : memperlebar sphincter prekapiler sehingga meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam. Betahistine mengatur permeabilitas kapiler pada telinga bagan dalam, dengan begitu menghilangkan endolymatic hydrops. Betahistine juga memperbaiki sirkulasi serebral dan meningkatkan aliran darah arteri karotis interna.







Indikasi



: mengurangi vertigo, dizziness, yang berhubungan dengan gangguan



keseimbangan yang terjadi pada gangguan sirkulasi darah atau sndrom meniere, penyakit meniere dan vertigo perifer. 



Kontraindikasi



: pasien yang menderita feokromositoma







Dosis



: dewasa 1-2 tablet 3 kali sehari



7. Irbesartan 



Dosis



: dosis awal dan pemeliharaan yang disarankan adalah 150mg sekali



sehari. Dosis dapat ditambahkan hingga 300mg atau ditambahkan antihipertensi lain. 



Indikasi



: Hipertensi, untuk menurunkan albuminurea mikro dan makro pada



pasien hipertensi dengan diabetes mellitus tipe II yang mengalami Valesco 



Kontraindikasi : pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap obat ini. Pada wanita hamil dan menyusui.







Efek smping : pusing, mual, muntah, fatigue, batuk, takikardia, flushing, diare.



8. ISDN 



Farmakologi



: Isosorbid dinitrat (ISDN) adalah suatu obat golongan nitrat yang



digunakan secara farmakologis sebagai vasodilator (pelebar pembuluh darah), khususnya pada kondisi angina pektoris, juga pada CHF (congestive heart failure),



30



yakni kondisi ketika jantung tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Isosorbid dinitrat lebih bermanfaat untuk tujuan pencegahan serangan angina, untuk tujuan ini isosorbid dinitrat dalam bentuk "long acting" atau kerja diperpanjang lebih disukai. Pertama, nitrat meredakan angina pectoris dengan menginduksi relaksasi otot polos vaskular perifer, sehingga ada pelebaran arteri dan vena.Hal ini mengurangi aliran balik vena darah (mengurangi preload) ke jantung, yang pada gilirannya menyebabkan tuntutan penurunan oksigen pada jantung. Kedua, nitrat meningkatkan pasokan oksigen miokard dengan dilatasi arteri koroner besar dan mendistribusikan aliran darah, meningkatkan suplai oksigen ke daerah iskemik. 



Indikasi



: Profilaksis dan pengobatan angina; gagal jantung kiri.Pengobatan akut



pada serangan angina pectoris (SL dan Dinitrar yang dikunyah), Penatalaksanaan Profilaksis jangka panjang angina pectoris (dinitrate dan mononitrate), Dan pengobatan gagal jantung kongestif kronik (dinitrate). 



Kontra-indikasi : Hipersensitivitas terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik, stenosis aorta, tamponade jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala, perdarahan otak, glaukoma sudut sempit.







Sediaan



: tablet, kapsul, cairan injeksi, aerosol, krim, buccal spray, spray



transdermal 



Dosis



: Sublingual : 5-10 mg, Oral : sehari dalam dosis terbagi, angina 30-120 mg Infus Intravena : 2-10 mg/jam; dosis lebih tinggi sampai 20 mg/jam mungkin diperlukan



9. Amlodipin 



Farmakologi



:



Amlodipine



merupakan



antagonis



kalsium



golongan



dihidropiridin (antagonis ion kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine menghambat influks ion kalsium secara selektif, di mana sebagian besar mempunyai efek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung. Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang 31



dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta penurunan tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan tekanan darah yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah perlahan-lahan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya hipotensi akut. Efek antiangina amlodipine adalah melalui dilatasi arteriol perifer sehingga dapat menurunkan resistensi perifer total (afterload). Karena amlodipine tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, pengurangan beban jantung akan menyebabkan penurunan kebutuhan oksigen miokardial serta kebutuhan energi. Amlodipine menyebabkan dilatasi arteri dan arteriol koroner baik pada keadaan oksigenisasi normal maupun keadaan iskemia. Pada pasien angina, dosis amlodipine satu kali sehari dapat meningkatkan waktu latihan, waktu timbulnya angina, waktu timbulnya depresi segmen ST dan menurunkan frekuensi serangan angina serta penggunaan tablet nitrogliserin. Amlodipine tidak menimbulkan perubahan kadar lemak plasma dan dapat digunakan pada pasien asma, diabetes serta gout. 



Indikasi



: Amlodipine digunakan untuk pengobatan hipertensi, angina stabil kronik,



angina vasospastik (angina prinzmetal atau variant angina). Amlodipine dapat diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat antihipertensi dan antiangina lain. 



Kontraindikasi : Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap amlodipine dan golongan dihidropiridin lainnya.







Dosis



: Penggunaan dosis diberikan secara individual, bergantung pada toleransi



dan respon pasien. Dosis awal yang dianjurkan adalah 5 mg satu kali sehari, dengan dosis maksimum 10 mg satu kali sehari. Untuk melakukan titrasi dosis, diperlukan waktu 7-14 hari. Pada pasien usia lanjut atau dengan kelainan fungsi hati, dosis yang dianjurkan pada awal terapi 2,5 mg satu kali sehari. Bila amlodipine diberikan dalam kombinasi dengan antihipertensi lain, dosis awal yang digunakan adalah 2,5 mg. Dosis yang direkomendasikan untuk angina stabil kronik ataupun angina vasospastik adalah 5-10 mg, dengan penyesuaian dosis pada pasien usia lanjut dan kelainan fungsi hati. Amlodipine dapat diberikan dalam pemberian bersama obat-obat golongan tiazida, ACE inhibitor, β-bloker, nitrat dan nitrogliserin sublingual.



32







Efek samping : Secara umum amlodipine dapat ditoleransi dengan baik, dengan derajat efek samping yang timbul bervariasi dari ringan sampai sedang. Efek samping yang sering timbul dalam uji klinik antara lain : edema, sakit kepala. Secara umum



:



fatigue, nyeri, peningkatan atau penurunan berat badan. Pada keadaan hamil dan menyusui : belum ada penelitian pemakaian amlodipine pada wanita hamil, sehingga penggunaannya selama kehamilan hanya bila keuntungannya lebih besar dibandingkan risikonya pada ibu dan janin. Belum diketahui apakah amlodipine diekskresikan ke dalam air susu ibu. Karena keamanan amlodipine pada bayi baru lahir belum jelas benar, maka sebaiknya amlodipine tidak diberikan pada ibu menyusui. Efektivitas dan keamanan amlodipine pada pasien anak belum jelas benar. 10. Furosemid 



Farmakologi : Furosemida adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif sebagai diuretik. Mekanisme kerja furosemida adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli ginjal.Furosemida meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal.







Indikasi : Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai edema seperti: Edema karena gangguan jantung. Edema yang berhubungan dengan ganguan ginjal dan sirosis hati. Supportive measures pada edema otak. Edema yang disebabkan luka bakar. Untuk pengobatan hipertensi ringan dan sedang. Pendukung diuresis yang dipaksakan pada keracunan







Dosis



:



Edema dan hipertensi pada orang dewasa dan anak – anak : Dewasa : sehari 1 – 2 kali, 1 – 2 tablet. Dosis maksimum adalah 5 tablet sehari. Dosis pemeliharaan adalah 1 tablet selang 1 hari. Anak – anak: Sehari 1 – 3 mg per kg bb/hari, maksimum 40 mg/hari. Injeksi : Dewasa atau > dari 15 tahun : dosis awal : 20 – 40 mg i.v. atau i.m. Bila hasilnya belum memuaskan, dosis dapat ditingkatkan 20 mg tiap interval waktu 2 jam sampai diperoleh hasil yang memuaskan. Dosis individual : 20 mg, 1 - 2 kali sehari. Edema paru – paru akut :



33



Dosis awal : 40 mg i.v. Bila diperlukan dapat diberikan dosis lanjutan 20 – 40 mg setelah 20 menit. Forced diuresis (diuresis yang dipaksakan) 20 – 40 mg furosemida diberikan sebagai tambahan dalam infus elektrolit. Selanjutnya tergantung pada eliminasi urin, termasuk penggantian cairan dan elektrolit yang hilang. Pada keracunan karena asam atau basa, kecepatan eliminasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan keasaman atau kebasaan urin. 11. Ondancetron 



Farmakologi : bekerja sebagai antagonis selektif dan bersifat kompetitif pada reseptor 5HT3, dengan cara menghambat aktivasi aferen-aferenvagal sehingga menekan terjadinya reflek muntah.







Sediaan: tablet 4 dam 8 mg, Injeksi 4 dan 8 mg







Indikasi: penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi.







Kontraindikasi: penderita yang hipersensitif terhadap ondansetron







Efek samping: sakit kepala, konstipasi, rasa panas pada kepala dan epigastrium, sedasi dan diare.







Dosis: untuk pencegahan muntah pasca bedah i.m 4 mg sebagai dosis tunggal dan i.v 4 mg secara perlahan- lahan.



34



BAB VI PENUTUP 6.1



KESIMPULAN HOLISTIK Diagnosa holistik :



1.



Segi Biologis Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didapatkan hasil bahwa Ny.S 56 tahun menderita nefropati diabetik dengan hipertensi



2.



Segi Psikologis Hubungan antara keluarga Ny. S baik , saling membantu jika terkena masalah.



3.



Segi Sosial Status ekonomi keluarga Ny.S kesan cukup. Ny. S meskipun tidak aktif dalam anggota kemasyarakatan namun akrab dengan tetangg-tetangganya.



6.2



SARAN KOMPREHENSIF Keluarga Ny.S perlu diberikan edukasi tentang diabetes mellitus dan hipertensi. Mengenai penyebabnya, faktor resiko, terapi dan lain sebagainya.



Promotif  KIE pada keluarga pasien untuk mendorong pasien agar pasien memiliki gaya hidup yang lebih baik  KIE pada pasien agar pasien menjaga pola makan  KIE pasien agar selalu berpikir positif dan hidup bahagia untuk mencegah terjadinya stress. 35



Rehabilitatif  KIE pasien dan keluarga untuk rajin kontrol ke dokter dan meminum obat yang diberikan  Pasien dengan hipertensi dan DM harus menjaga asupan makan dann gaya hidupnya.



DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan PTM. Jakarta. 2003. 2. Depkes RI. Seminar Strategi Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Jakarta :Direktorat Penyehatan Lingkungan. 2003. 3. Depkes RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nusa Tenggara Barat 2007. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. 2008. 4. Depkes RI. Rencana Operasional Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jakarta; Kementrian Kesehatan RI. 2010. 5. Depkes RI. Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. 2013. 6. Manaf, Asman. Insulin: Mekanisme Sekresi dan Aspek Metabolisme. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. 7. Guyton A.C. and J.E. Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC. 2007. 8. PERKI. Pedoman Tatalaksana Penyakit Kardiovaskular di Indonesia. Jakarta : Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. 2003. 9. R.M. Tjekyan, S. Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe II Di Kalangan Peminum Kopi Di KotaMadya



Palembang



Tahun



2006-2007.



Available



from:



http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/02_RMSuryadi_The risk of type 2 Diabetic_Revisi.PDF . 2007. 10. WHO



(World



Health



Organization).



Health



Topic:



http://www.who.int/topics/diabetes_mellitus/en/.html. 2008. 36



Diabetes.



Available



from:



11. Schteingart, E. David. Pankreas: Metabolisme Glukosa dan Diabetes Melitus. Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Editor Edisi bahasa indonesia, Huriawati Hantanto ... [et. Al.]. – Ed. 6 – Jakarta: EGC, 1263. 2005. 12. Gibney, Michael J., Margetts, Barrie M., Kearney, John M., Arab Lenore. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC. p. 94 – 96. 2009. 13. Kasie,J.,Edwin,J. Hubungan Antara Resistensi Insulin dan Tekanan Hubungan Antara Resistensi Insulin dan Tekanan Darah pada Anak Obese. Sari Pediatri Jurnal, Vol 8 no 4. 2007 : 289-293. 14. https://razimaulana.wordpress.com/2011/03/29/nephropathy-diabetic/ (diakses tanggal 14 Agustus 2015). 15. Sherwood, L. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC. 2001 16. Hahn, D.B & Payne, W.A. Focus on Health Sixth Edition. USA : Mc Graw Hill. 2003. 17. Black, J.M & Hawks, J.H. Clinical Management for Positive Outcome. USA :Lippincolt Williams & Willkins. 2005. 18. Iin Mutmainah. HUBUNGAN KADAR GULA DARAH DENGAN HIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR. Fakultas Kedokteran Univ Muhammadiyah Surakarta. 2013. 19. American Diabetes Association. Gestational diabetes mellitus. Diabetes Care, 45(1):234235. 2009. 20. S 21. https://yuyunrindi.files.wordpress.com/2008/05/nefropati-diabetik.pdf (diakses tanggal 15 Agustus 2015).



37