Kelompok 9 Ilmu Rijalil Hadits [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

MAKALAH STUDI HADITS Ilmu Rijalil Hadits



Disusun oleh : RANA SYIFA (11960124910) SITI NURJANA (11960120892) Dosen Pengampu : Dr. Ahmadin Tohar, M. A.



UIN SUSKA RIAU FAKULTAS PSIKOLOGI PEKANBARU 2020



1



KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah untuk mata kuliah Ilmu Hadits. Dan juga kami berterima kasih pada bapak Dr. Ahmadin Tohar., MA. Selaku dosen Ilmu Hadits yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami bisa menelaah lebih dalam tentang materi ini. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Ilmu Rijal al-Hadits. kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.



Pekanbaru, Desember 2020



Penulis



i



DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................................



i



Daftar Isi ......................................................................................................................



ii



BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................................



1



B. Rumusan Masalah ...........................................................................................



2



C. Tujuan ..............................................................................................................



2



BAB II PEMBAHASAN A. Ilmu Rijal al-Hadits a) Pengertian Ilmu Rijal al-Hadits .................................................................



3



b) Urgensi Ilmu Rijal al-Hadits dalam Studi Hadits ......................................



4



c) Contoh Aplikasi Ilmu Rijal al-Hadits ........................................................



6



d) Kitab-Kitab Rijal al-Hadits......................................................................... 10 B. 3 Hadits Tentang Jiwa (an-nafs) dan Penjelasannya ........................................ 11 BAB III PENUTUP .................................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA



ii



BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagaimana diketahui bahwa sanad itu ialah rawi hadits yang dijadikan sandaran oleh pentakhrij hadits dalam mengemukakan suatu matan hadits. Nilai suatu hadits dangat dipengaruhi oleh hal-hal, sifatsifat, tingkah laku, biografi, dan mazhab-mazhab yang dianutnya dan cara-cara menerima dan menyampaikan hadits dari rawi. Seorang penuntut ilmu hadits belum dianggap sempurna, jika belum mendalami ilmu-ilmu yang berhubungan dengan sanad, di sampinh ilmu-ilmu yang berpautan dengan matan hadits, seperti ilmu gharibil hadis, Asbabul wurud, Tawarikhul mutun, Ilalul hadis, dan lain sebagainya. Sebab sudah dimaklumi bersama, bahwa hadis itu terdidi dari matan dan sanad. Dengan demikian menguasai ilmu sanad berarti dapat mengetahui setengah dari ilmu hadis. Dalam ilmu hadis terdapat berbagai macam cabang ilmu yang membahas ilmu hadits dari akar-akarnya hingga buah-buahnya. Salah satunya adalah ilmu Rijal al-Hadits.



1



B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Ilmu Rijalil Hadits 2. Apa Urgensi Ilmu Rijal al-Hadits dalam Studi Hadits 3. Apa sajakah Contoh Aplikasi Ilmu Rijal al-Hadits 4. Apa sajakah 3 Hadits Tentang Jiwa (an-nafs) dan Penjelasannya 5. Apa saja Kitab-Kitab Rijal al-Hadits C. Tujuan 1. Mengetahui pengertian dari Ilmu Rijalil Hadits 2. Mengetahui Urgensi Ilmu Rijal al-Hadits dalam Studi Hadits 3. Mengetahui Contoh Aplikasi Ilmu Rijal al-Hadits 4. Mengetahui 3 Hadits Tentang Jiwa (an-nafs) dan Penjelasannya 5. Mengetahui Kitab-Kitab Rijal al-Hadits



2



BAB II PEMBAHASAN A. Ilmu Rijalil Hadits a) Pengertian Ilmu Rijalil Hadits Secara bahasa: kata rijalul hadis berasal dari kata: RIJAL dan HADITS, dimana kata rijal berasal dari bahasa Arab yang berarti: beberapa laki-laki. Dan kata tersebut , merupakan jama’ dari mufrad “‫ ”رجل‬yang artinya laki-laki. Sedangkan kata hadits artinya: sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan dan penatapan, jadi ilmu rijal



hadits



adalah:



ilmu



yang membahas



tentang



seseorang



yang



menyandarkan segala sesuatu kepada Nabi Muhammad saw. Secara istilah: ‫العلم الذىبحث فيه عن احوال الرواة وسيرهم من الصحابة والتابعين واتباع التابعين‬ “ilmu pengetahuan yang dalam pembahasannya , membicarakan hal ihwal dan sejarah kehidupan para rawi dari golongan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in” Maksudnya adalah ilmu yang membicarakan seluk beluk dan sejarah kehidupan para perawi, baik dari generasi sahabat, tabi’in maupun tabi’it tabi’in. ada pula yang berpendapat bahwa Ilmu Rijal al-Hadits adalah ilmu yang mempelajari sejarah perawi-perawi hadits yang berpegang kepada madzhab itu, dapat diterima atau ditolak riwayat mereka, dan pegagnganpegangan mereka, serta cara mereka menerima hadits. Ilmu Rijal al-Hadits dinamakan juga dengan Ilmu Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) adalah ilmu yang diketahui dengannya keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negeri dan tanah air mereka, dan yang selain dari itu yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka. Dari pengertian tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa kedudukan ilmu ini sangat penting, mengingat objek kajiannya pada “matan” dan “sanad” , sebab kemunculan Ilmu Rijal al-Hadits bersamasama dengan periwayatan 3



hadits dan bahkan sudah mengambil porsi khusus untuk mempelajari ilm ini sangat penting. Sebab nilai suatu hadits sangat dipengaruhi oleh karakter dan perilaku serta biografi perawi itu sendiri. Pertama kali orang yang sibuk memperkenalkan ilmuu ini secara ringkas adalah Al-Bukhari (w.230 H) kemudian Muhammad bin Sa’ad (w.230 H) dalam Thabaqatnya. Kemudian berikutnya Izzudin Bin al-Atsir (w.630 H) menulis Usud Al-Ghabah Fi Asma Ash-Shahabah, Ibnu hajar Al-aswalani (w.852 H) yang menulis Al-Ishabah Fi Tamyiz Ash-shahabah kemudian dieingkas oleh as-suyuthi (w.911 H) dalam bukunya yang berjudul ‘ayn AlIshabah. Al-Wafayat karya Zabir Muhammad bin Abdullah Ar-rubi (w.379 H) b) Urgensi Ilmu Rijal al-Hadits dalam Studi Hadits Secara eksplisit, penelitian atau kritik hadis selalu diarahkan pada kritik sanad/kritik eksternal/naqd al-khariji dan kritik matan/kritik internal/naqd aldakhili. Pada naqd al-khariji, kajian difokuskan pada kualitas para perawi dan metode periwayatan yang digunakan. Apakah kredibilitas para perawi dalam hadis tersebut diakui dan apakah adat tahammul dan ada’nya menunjukkan bahwa itu otentik hadis Nabi. Berangkat realitas focus kajian kritik sanad pada penelitian kualitas para rawi, maka keberadaan ilmu rijalil hadis tidak bisa dipandang sebelah mata. Pertama, karena dengan ilmu ini terkuak data-data rijalil hadis yang terlibat dalam civitas periwayatan hadis dari masa ke masa semenjak zaman Rasulullah, baik dari segi biografi maupun dari segi kualitas rijalnya. Kedua, dengan ilmu ini diketahui pula sikap dan pandangan para ahli hadis yang menjadi kritikus (jarihun dan mu’addilun) terhadap para rawi yang menjadi transmitter hadis dan sikap mereka dalam menjaga otentisitas hadis-hadis Nabi. Ketiga, ini yang paling urgen, dengan ilmu ini-meski tidak secara langsung-dapat diketahui kualitas dan otentisitas suatu hadis. Terorientasinya ilmu Rijalil Hadis yang memiliki anak cabang Ilmu Tarikh al-Ruwah (sejarah hidup Rawi) dan Ilmu Jarh wa al-Ta’dil (justifikasi kualitas 4



pribadi dan intelektualitas rawi), menjadikan kajian historis merupakan sesuatu yamg teramat penting untuk ilmu ini. Sebagai produk historisitas yang terikat spatio-temporal tertentu, Ilmu Rijalil Hadis yang menjadikan manusia sebagai subyek dan sekaligus obyeknya harus dapat memaparkan bahasan dan temuannya dalam skala intersubyektif. Kajian Ilmu Rijalil Hadis yang mengarahkan para figure rawi dalam dataran teoritis seharusnya menginformasikan jawaban terhadap pertanyaan what, who, where dan why. Idealitas yang demikian tentu perlu diupayakan semaksimal mungkin, karena dataran realitas berbicara lain. Dalam dataran realitas, bagaimanapun juga harus diakui aktivitas Ilmu Rijalil Hadis yang melibatkan tokoh dan pakar yang hidup beberapa abad sebelumnya sampai pada masanya terpaku pada kajian terhadap kitab-kitab yang berkompeten tentang itu. Dus, kajian terhadap rawi yang memiliki rentang waktu yang panjang dari masa sekarang pada akhirnya merupakan kajian terhadap produk-produk tertulis yang mereka wariskan kepada kita. Dengan menjadikan kitab-kitab Rijalil Hadis sebagai acuan, memunculkan banyak persoalan. Bagaimana sebenarnya kedudukan kitab-kitab tersebut dengan mempertimbangkan data-data yang umumnya diberikan. Ini sangat penting, karena realitas kajian yang dilakukan seorang peneliti biografi dan kualitras pribadi maupun intelektualitas rawi pada umumnya tidak berhenti pada kajian terhadap beberapa orang, tetapi terhadap ribuan bahkan puluhan ribu rawi yang semasa maupun yang hidup beberapa abad sebelumnya, yang seringkali memiliki kesamaan nama sampai beberapa tingkat. Mungkinkah ahli hadis/kritikus dapat memahami secara menyeluruh terhadap berpuluh ribu rawi. Persoalan semakin bertambah dengan adanya realitas perbedaan metode yang digunakan para peneliti rawi dalam menuliskan karyanya yang nantinya dijadikan acuan bagi orang-orang yang hidup sesudahnya. Ada yang disusun 5



berdasarkan abjad, ada yang berdasar tabaqah dan ada yang didasarkan pada criteria-kriteria tertentu. Kondisi inilah yang menyulitkan bagi pengkaji Ulum al-Hadis, karena adanya keharusan merujuk sebanyak mungkin kitab-kitab dengan berbagai metodenya untuk mendapatkan data yang selengkap mungkin. Diskurusus yang muncul dalam penilaian ahli hadis terhadap rawi sebagai final step ialah adanya perbedaan kaedah yang dipegangi ahli hadis dalam memberikan penilaian seringnya terjadi perbedaan pandangan di kalangan mereka. Sebagaian menilai seorang rawi dengan predikat “cacat”, sementara yang lain menilai sebaliknya. Kenyataan inilah yang membawa pada perbedaan sikap dalam menghadapi fenomena penilaian yang tidak seragam terhadap rawi yang sama. Ada ahli hadis yang menentukan penilaian rawi berdasarkan pandangan mayoritas, ada pula yang menentukan didasarkan pada penilaian yang diikuti argumentasi yang jelas, dan sebagainya. Namun sebenarnya, diskursus yang lebih penting bukan sekedar pada ketidakseragaman penilaian ulama’ hadis terhadap rawi yang dikritiknya ataupun ketidakseragaman kaedah jarh dan ta’dil yang dipeganginya. Tetapi lebih pada realitas keberadaan kritikus-bagaimana kondisi sosio-kulturalnya, ada tidaknya persoalan pribadi antara penilai dengan rawi yang dinilai, apa spesialisasi kritikus, atas dasar parameter apa kritukus melakukan aktivitas penilaian, metode/pendekatan apa yang dipergunakan kritikus dalam mengumpulkan data dan menilai para rawi serta dapat tidaknya penilaian kritikus diterima secara akademis-terhadap rawi yang dikritiknya. Dengan demikian pada dasarnya persoalan yang ada dalam aktivitas kritikus sanad melalui wadah Ilmu Rijalil Hadis adalah bagaimana metodologi yang diberlakukan ulama’ hadis dalam melakukan penilaian dan bagaimana pula metodologi yang seharusnya berlaku dalam Ilmu Rijalil Hadis. c) Contoh Aplikasi Ilmu Rijal al-Hadits Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui, keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan perawi yang menerima hadits



6



dari sahabat dan seterusnya. Dan juga dapat ditentukan kualitas serta tingkatan suatu hadis dalam permasalahan sanad hadis. ِ ‫ َع ْن ُم َح َّم ِد ْب ِن ِس‬،‫ َع ْن ِه َش ٍام‬،‫ان‬ ،َ‫ َع ْن أَبِي ُه َر ْي َرة‬،‫ين‬ َ َ‫ ق‬،‫َو َح َّدثََنا َج ِمي ُل ْب ُن اْل َح َس ِن‬ َ ‫ير‬ َ ‫ َح َّدثََنا ُم َح َّم ُد ْب ُن َم ْر َو‬:‫ال‬ ٍ ‫َن ي ْغس َل س ْبع م َّر‬ ِِ ِ ‫اء أ‬ ِ َّ ‫”ع ِن‬ ‫ات‬ َ َ‫النبِ ِّي ق‬ ُ ‫َحد ُك ْم ِإ َذا َولَ َغ فيه اْل َكْل‬ َ ‫ور ِإَن‬ َ ُ ُ‫ “طُه‬:‫ال‬ َ َ َ َ ُ ْ‫ب أ‬



Artinya : “ Dan telah mengatakan pada kami Jamil bin Hasan, berkata bahwa Muhammad bin Marwan telah berkata dari Hisyam, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, bahwasannya Nabi Muhammad bersabda “ (Cara) Mensucikan sebuah bejana salah satu dari kalian apabila terkena air liur seekor anjing adalah dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali ”



Dalam penelitian sebuah hadits untuk melihat kashahihan hadist tersebut, kaidah ilmu hadis menyatakan bahwa yang pertama kali perlu diteliti adalah sanad-nya. Bila sanad-nya dinyatakan shahih, barulah matan-nya bisa diperhatikan. Bila tidak, maka matan-nya dipandang tidak shahih lagi. Untuk menguji keshahihan sanad hadis di atas, berikut ini akan ditelusuri identitas para perawinya. Jalur periwayatannya adalah : Rasulullah Abu Hurairah, Muhammad bin Sirin, Hisyam, Muhammad bin Marwan, Jamil bin Hasan, Ibnu Khuzaimah Berikut adalah pemaparan identitas para perawi tersebut: 1. Abu Hurairah Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shahr. Beliau memiliki nama julukan Abu Hurairah dan nama yang masyhur Abu Hurairah Ad-Dausi. Beliau adalah seorang sahabat Rasulullah. Ibnu Hajjar al-Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang hafidz yang terkenal. Beliau tinggal di Yaman, dan wafat pada tahun 57 H. Beliau meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah S.A.W. Selain itu beliau juga meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ubay bin Ka’ab, dan lainnya. Sedang murid-murid beliau adalah, Muhammad bin Sirin, Ibrahim bin Ismail, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan masih banyak lagi.



7



2. Muhammad bin Sirin Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Sirin Al-Anshari, Abu Bakar bin Abi Amrah Al-Bashri. Julukan beliau adalah Ibnu Sirin. Beliau lahir pada 33 H dan wafat pada 110 H. Ibnu Mu’in berkata bahwa ia adalah perawi yang tsiqah. Beliau pernah berguru kepada Abu Darda, Abu Hurairah, Abi Said AlKhudri, Abi Qatadah Al-Anshari, dan lainnya. Sedang murid-murid beliau adalah Habib bin Syahid, Qatadah, Ayub, Hisyam bin Hasan, Tsabit, dan lainnya. 3. Hisyam Nama lengkapnya adalah Hisyam bin Hasan Al-‘Azdi Al-qurdusy Abu ‘Abdillah bin Al-Bashri. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah. Beliau berasal dari Bashrah, dan wafat pada 145 H. Guru- guru beliau yaitu : Anas bin Siriin, Humaid bin Hilal, Hasan AlBashri, Muhammad bin Sirin, Abi Ma’sar Ziyad bin Kalib, Ayub bin Musa, Abdul Aziz bin Shahib, Qais bin Said Al-Maki, Hisyam bin ‘Urwah, Muhammad bin Wasi’, Suhail bin Abi Shalih, dan lainnya. Murid-murid beliau yaitu : Akramah bin Umar, Said bin Abi ‘Urwah, Syu’bah, Zaidah, Hamadan, Sufyanan, Abdullah bin Idris, dan seterusnya. 4. Muhammad bin Marwan Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Marwan bin Qudamah Al-‘Uqaili. Beliau mempunyai nama popular Muhammad bin Marwan Ajli. Al-Ajiri berpendapat dari Abu Dawud bahwa ia adalah orang yang jujur. Dan berkata lagi bahwa ia adalah orang yang tsiqah. Guru-gurunya adalah : Said Al-Maqbiri, Yunus bin Abid, Dawud bin Abi Hanid, Abdul Malik bin Abi Nadhirah, Hisyam bin Hasan, Umarah bin Abi Hafshah,dan lainnya. Murid-muridnya adalah : Musadad, Yahya bin Mu’in, Jamil bin Hasan, Siyar bin Hatim, Muhammad bin Abi Bakar Al-Maqriyi, Abdillah bin 8



Yusuf Al-jizy, Ahmad bin ‘Abidillah Al-Ghadani,Abu Bakar bin Abi Syibah, Abu Musa Muhammad bin Matsna, Muhammad bin Abi As-Sari Al-‘Asqalani, dan seterusnya. 5. Jamil bin Hasan Nama lengkap beliau adalah Jamil bin Hasan bin Jamil Al-‘Ataki AlJahdhami. Nama populernya adalah Jamil bin Hasan Al-Hamshi. Beliau tinggal di Bashrah, dan wafat pada tahun 251 H. Guru-gurunya adalah Abdul A’la bin Abdul A’la, Al-Hadzil bin Hakam, Muhammad



bin



Marwan



Al-A’qili,



Abdul



Wahab



Ats-Tsaqafi,



Muhammad bin Hasan, dan lainnya. Murid-Muridnya adalah Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Bakar bin Abi Daud, Al-qadli Abu Umar Muhammad bin Yusuf, dan lainnya. Periwayatannya dinilai dhaif. Abu Ahmad bin ‘Adi berkata bahwa aku telah mendengar dua orang budak yang menghadap kepada Jamil bin Hasan berkata bahwa ia adalah seorang pembohong yang fasiq dan fajir. 6. Ibnu Khuzaimah Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah al-Naisabury. Lahir di Naisabur, bulan Shafar tahun 223 H. Wafat pada 2 Dzul Qa’dah 311 H. Penilaian ulama terhadap Ibnu Khuzaimah salah satunya perkataan AtThabrani “Ibnu Khuzaimah adalah orang yang kokoh hafalannya, tidak memiliki tandingan. Diantara guru-guru beliau adalah : Muhammad bin Mihran, Musa bin Sahl al-Ramli, Abdul Jabbar bin al-‘Alaa’, Muhammad bin Harb, dan masih banyak yang lainnya. Sedang diantara murid-muridnya adalah : Yahya bin Muhammad bin Sa’id, Abu Ali bin an-Naisaburi dan Khalaiq.



9



Kesimpulan : Dari kajian sanad di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sanad hadis ini tidak memenuhi syarat keshahihan sanad. Sebab syarat-syarat keshahihan sanad ialah ittishal al-sanad (ketersambungan sanad), tsiqqahu al-ruwah (para perawinya kredibel), dhabtu al-ruwah) intelektualitas perawi. Sedang dalam penelitian rijalil hadits di atas tidak ditemukan ketersambungan sanad pada Hisyam dan Muhammad bin Marwan karena tidak ada bukti bahwa salah satu murid Hisyam adalah Muhammad bin Marwan. Selain itu sanad di atas tidak memenuhi tsiqqahu al-ruwah karena ada salah satu perawi, yaitu Jamil bin Hasan yang kredibilitasnya diragukan. Beliau juga satu-satunya perawi yang berstatus dhaif. Maka terdapat cela ('illat) pada sanad hadits tersebut. d) Kitab-Kitab Rijal al-Hadits a. Kitab-kitab tentang sahabat -



Ma’rifah man Nazala min al-Sahabah sair al-Buldan, karangan Abu alHasan Ali Ibnu Abdullah al-Madani (161-234 H). Kitab ini terdiri dari 5 juz.



-



Kitab al-Ma’rifah, karangan abu Muhammad Abdullah Ibnu Isa al-



Marwazi (220-293 H). Kitab ini terdiri dari 100 juz. -



Kitab al-Sahabah, karangan Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban alBusti. Kitab ini terdiri dari lima juz.



-



Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab, karangan Abu Umar Yusuf Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibn Abdil Barr al-Namiri al-Qurtubi (368463 H). Kitab ini terdiri dari empat juz.



-



Usul al-Gabah fi Ma’rifah al-Ashab, karangan Izzuddin Abdul Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn al-Asir (555-630 H). Kitab ini terdiri dari lima jilid.



-



Tajirid Asma’ al-sahabah, karangan al-Hafidz Syamal-Din Abu Abdillah



Muhammad Ibn Ahmad al-Zahabi (673-748 H). Kitab ini terdiri dari dua juz.



10



-



Al-Isabah fi Tamyiz al-sahabah, karangan Syihab al-Din Ahmad Ibn Ali



al-Kanani al-Asqalani (773-852 H). Inilah selengkap-lengkap kitab yang telah dikarang ulama’ dalam bidang ini. Kitab ini terdiri dari delapan juz. -



Al-Riyad al-Mustathabah fi Jumlah man Rawa fi Sahihain min alSahabah, karangan Yahya Ibnu Abi Bakr al-Suyuthi (849-911 H).



-



Al-Bad al-Munir fi Sahabah al-Basyir al-Nazir, karangan Muhammad Qaim Ibn Salih al-Sindi.



b. Kitab-kitab yang ditulis dengan sistem tarikh -



Tarikh al-Ruwah, karya Ibnu Ma’in (158-233 H). Selain menulis kitab ini Yahya Ibnu ma’in dalam bidang ini juga menulis kitab: Ma’rifah alRijal dan al-tarikh wa al-Ilal.



-



-



-



-



Al-Tarikh, Karya Abu Amr Khalifah Ibn Khayyan al-Syaibani (…-240 H). Al-Tarikh, karya Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal (164-241 H). Al-Tarikh al-Kabir, karya Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail alBukhari (194-256 H). Kitab ini terdiri dari empat juz. Selain mengarang kitab ini al-Bukhari dalam bidang ini juga menulis kitab: alTarikh al-wasit dan al-Tarikh al-sagir. Al-Tarikh al-Kabir, karya Abu Umar Ahmad Ibn Sa’id al-Sudafi (284350 H). Ibnu Khair berkata:”kitab ini terdiri dari delapan puluh lima juz”. Al-Hidayah wa al-Irsyad fi Ma’rifah ahl al-Siqah wa al-Sidad, karya Abu al-Nasr Ahmad Ibn Muhammad Ibn Husain al-Kalabazi (306-398 H). Tarikh Naisabur, karya Muhammad Ibn Abdillah al-Hakim al-Naisabur (321-405 H). Selain menulis kitab ini al-Hakim dalam bidang ini juga menulis kitab: Tarajim al-Syuyukh dan Tasmiyah man la Akhrajahum al-Bukhari wa Muslim. Tarikh Baghdad, karya Abu bakar Ahmad Ibn Ali Ibn Sabit Ibn Ahmad al-Baghdadi al-Khatib (392-493 H). Kitab ini terdiri dari empat belas juz. Selain menulis kitab ini al-Khatib al-baghdadi dalam bidang ini juga menulis kitab al-Sabiq wa al-Lahiq fi Taba’udi ma baina alRawiyain an Syaikhin Wahid. Tarikh Wasit, karya Abu al-Hasan Aslan bin Sahl (-288 H) dan lebih terkenal dengan sebutan Bahsya al-Wasiti.



11



-



-



-



-



-



-



Al-Jami’ Baina al-Sahihain, karya Abu al-Fadl Muhammad Ibn Tahir al-Maqdisi (448-507) H. Kitab ini terdiri dari dua jilid. Selain menulis kitab ini al-Maqdisi dalam bidang ini juga menulis kitab; Tarikh Ahli al-Syam wa Ma’rifah al-Aimmah minhum wa al-A’lam, Idlah al-Isykal fi Man Ubhima Ismuhu Min al-Nisa wa al-Rijal, dan al-Mughni fi Asma’ Rijal al-Hadis. Tarikh Dimasyq, karya Abu al-Qasim Ali Ibn al-Husain Ibn Asakir alDimasyqi (499-571 H). Kitab ini terdiri dari empat puluh jilid. Selain menulis kitab ini Ibnu Asakir dalam bidang ini juga menulis: Tarikh alMizzah, Mu’jam al-Syuyukh wa al-Nubala’, dan al-Mu’jam alMusytamil ala asma’ al-Kutub al-Sittah. Al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, karya Abu Muhammad abdul Ghani Ibn Abdul Wahid al-Maqdisi (541-600 H). Jami’ al-Ushul li Ahadis al-Rasul, karya Majduddin Abu al-Sa’adat Mubarak Ibn Muhammad Ibn al-Asir al-jazairi (544-606 H). Kitab ini terdiri dari sepuluh juz. Al-Mu’jam fi Tarikh al-Muhaddisin, karya Abu al-Mudaffar Abdul Karim Ibn  Mansur al-Sam’anni (…615 H). Kitab ini terdiri dari empat jilid. Al-Taqyid Li Ma’rifah Ruwah al-Sunan wa al-Masanid, karya Muhammad Ibnu Abdil Gani Ibn Abi Bakr Ibn Nuqtah al-Hanbali alBagdadi (…629 H). Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, karya Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Ibnu Abd al-Rahman al-Mizzi al-Dimasyqi (654-743 H0. Kitab ini terdiri dari lima puluh juz. Kitab ini memperbaiki kitab al-Kamal fi Asma’ al-Rijal karya Abdul Gani Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi. Tazhib Tahdzib al-Kamal, karya Muhammad Ibn Ahmad Ibn Usman alDzahabi (673-748 H). Kitab ini mengikhtisharkan kitab Tahzib alKamakl karya al-Mizzi. Selain menulis kitab ini al-Zahabi dalam bidang ini juga menulis kitab: Al-Kasyif an-Rijal al-Kutub al-Sittah. Seperti halnya kitab al-Tahzib, kitab al-Kasyif ini pun mengikhtisharkan kitab Tahzib al-Kamal; Tarikh al-Islam wa Tabaqah al-Masyahiri wa al-A’lam. Kitab ini terdiri dari tiga puluh enam jilid; Siyar al-A’lam al-Nubala. Kitab ini mengikhtisarkan kitabnya Tarikh al-Islam tersebut. Kitab ini terdiri dari empat belas jilid. Al-Tazkirah bi Rijal al-Asyrah, karya Muhammad Ibn Ali Ibn Hamzah al-Husaini al-Dimasyqi (715-765 H)). Kitab ini menerangkan rawi-rawi dalam Muwatta’ Malik, Musnad a-Syafi’i, Musnad Ahmad, Musnad Abu Hanifah dan al-Kutub al-Sittah. Tahzib al-Tahzib, karya syihabuddin Abul Fadl Ahmad Ibn Ali Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H). Kitab ini terdiri dari dua belas jilid. Kitab ini menyarikan kitab Tahzib al-Kamal karya al-Mizzi. Selain menulis kitab ini menyarikan kitab Tahzib al-Tahzib tersebut. 12



-



As’af al-Mubatta’ bi Rijal al-Muwatta’, karya Jalaluddin Abdurrahman Ibn al-Kamal al-Suyuti (849-911 H). c. Kitab-kitab yang ditulis dengan sistem Tabaqat -



Al-Tabaqh al-Kubra, karya Muhammad Ibn Sa’ad Ibn Mani’ (168-230 H). Kitab ini terdiri dari tiga belas jilid. Selain menulis kitab ini Ibn Sa’ad dalam bidang ini juga menulis kitab al-Tabaqah al-Sugra.



-



Tabaqah al-Ruwah, karya Abu Amer Khalifah Ibn Khayyat al-Syaibani (…240 H). - Tabaqah al-Tabi’in, karya Muslim Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi (204-261 H). - Al-Tabi’in, karya Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban al-Busti (270354 H). Kitab ini terdiri dari dua belas juz. Selain menulis kitab ini, Ibnu Hibban dalam bidang ini juga menulis kitab: Atba’ al-Tabi’in, terdiri dari lima belas juz; Tubba’ al-Tabi’I, terdiri dari lima belas juz; dan al-Tabaqat al-Asbihaniyyah. - Tabaqah al-Muhaddisin wa al-Ruwah, karya Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdillah Ahmad al-Asbihani (336-430 H). - Tabaqah al-Huffaz, karya Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Ibn Usman al-Zahabi (673-748 H). Kitab ini terdiri dari empat juz. Selain menulis kitab ini al-Zahabi dalam bidang ini juga menulis kitab Tarikh al-Islam wa Tabaqah al-Masyahir wa al-A’lam. - Tabaqah al-Huffaz, karya Jalaluddin Abdurraman Ibn al-Kamal Ibn Abi Bakr al-Suyuthi (849-911 H). - Mukhtasar Tabaqah Ulama’ Afriqiyyah wa Tunis, karya Abu al-Arab Muhammad bin Ahmad al-Qairuni (-333 H). Kitab inilah yang kemudian diringkas kembali oleh Abu Umar Ahmad bin Muhammad al-Mu’ariifi al-Talmanki, dalam bidang ini juga menulis kitab: AlAsma wa al-Kuna al-Asma al-Mubham fi al-Anba al-Muhkamah, dan Talkhis al-Mutasyabih fi al-Rasm fi Asma al-Ruwah. d. Kitab-kitab tentang nasab-nasab -



Ma Ittafaqa min Asma’ al-Muhaddisin wa Ansabuhu Gaira Anna fi Ba’dlihi Zyadah Harf Wahid, karya Abu Bakr ahmad Ibn Ali Ibn Sabit al-Baghdadi (al-Khatib) (392-463 H).



-



Al-Ansab al-Muttafaqah fi al-Khatt al-Mutamasilah fi al-Naqd wa alDabt, karya Muhammad Ibn Tahir al-Maqdisi (488-507 H). Iqtibas al-Anwar wa Iltimas al-Azhar fi Ansab al-Sahabah wa Ruwah al-Asar, karya Abu Muhammad Abdullah Ibn Ali al-Lakhmi alAndalusi (al-Rasyati) (446-542 H).



13



-



Al-Ansab, karya Taj al-Islam Sa’id Abdul Karim Ibn Muhammad Ibn Abi al-Tamimi Sam’ani (506-562 H). - Al-Lubab, karya Ali Ibn Muhammad al-Syaibani al-Jazari (555-630 H). Kitab ini terdiri dari tiga jilid. Kitab ini mengikhtisarkan kitab al-Ansab karya al-Sam’ani. - Nisbah al-Muhaddisin ila al-Aba’ wa al-Buldan, karya Muhibuddin Muhammad Ibn Mahmud Ibnu al-Najjar (578-643 H). - Al-Aknab fi Takhsis Kutub al-Ansab, karya Qutbuddin Muhammad Ibn Muhammad al-Khaidari al-Syafi’I (821-894 H). B. 3 Hadits Tentang Jiwa (an-nafs) dan Penjelasannya ْ ِ‫ُكلُّ َموْ لُوْ ٍد يُوْ لَ ُد َعلَى ْالف‬ 1. ‫ فَأَبَ َواهُ يُهَ ِّودَانِ ِه أَوْ يُنَصِّ َرانِ ِه أَوْ يُ َمجِّ َسانِ ِه‬،ُ‫ب َع ْنهُ لِ َسانُه‬ َ ‫ْر‬ ِ ‫ َحتَّى يُع‬،‫ط َر ِة‬ “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam alMu’jamul Kabir. Al-Imam Penjelasan : Disini dijelaskan bahwa manusia lahir dengan fitrah nya yang suci, orang tua nya lah yang menjadikan majusi, yahudi, atau agama/kepercayaan lain nya. 2. Diriwayatkan bahwa Muslim bin Musykam berkata bahwa dia mendengar al-Khusyani berkata, “saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘beri tahukanlah kepada saya bagaimana caranya mengetahui bahwa sessuatu itu di halalkan atau diharamkan bagi saya.’ Rasulullah SAW. Kemudian berdiri. Setelah meluruskan pandangannya beliau bersabda,“Sesuatu yang baik itu adalah yang membuat perasaan (nafs) tenteram dan hati tenang. Sebaliknya, dosa itu adalah yang membuat perasaan tidak tenang dan hati gelisah sekalipun orang banyak memberikan fatwa.” (HR. Ahmad). Penjelasan : Rasulullah saw menerangkan bahwa fitrah (karakter dasar) manusia adalah baik (cenderung kepada kebaikan) dan sesungguhnya Allah



14



menjadikannya sebagai tolak ukur (hakim) terhadap apa-apa yang akan dilakukan atau diusahakannya. Artinya, jika nurani merasa tenang dan mantap terhadap sesuatu maka sesuatu itu halal dan baik. Sebaliknya, jika nurani menentang maka hal itu menandakan sesuatu itu dosa dan penyimpangan



dari



kebenaran.



Walaupun



demikian,



hal



tersebut



mempunyai persyaratan bahwa nurani yang dimaksud adalah yang senantiasa berserah diri kepada Allah. 3. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru bin ‘Ash, “Engkau orang yang senatiasa puasa sepanjang hari dan melakukan shalat sepanjang malam?” Abdullah menjawab, “Benar.” Rasulullah saw. kemudian berkata, “Jika kamu teruskan kebiasaan seperti itu maka matamu akan sakit dan jiwamu akan menjadi letih. Tidak dibolehkan melakukan puasa dahr (setiap hari). Berpuasa tiga hari (disetiap pertengahan bulan) adalah laksana berpuasa sepanjang tahun.”Abdullah lalu berkata, “Akan tetapi, saya merasa sanggup melakukan yang lebih dari itu.” Rasulullah saw. selanjutnya menjawab, “Jika demikian maka berpuasalah seperti puasanya Dawud a.s., yaitu berpuasa sehari kemudian berbuka sehari” (HR Bukhari). Penjelasan : Dalam hadist ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa ketenangan dan ketenteraman hati seorang mukmin sangat terkait dengan keridhaan Allah SWT. Hadist ini menjelaskan bahwa keadaan jiwa kita akan tenang dan letih kita akan hilang jika kita senantiasa kembali kepada allah dengan melalui ibadah ibadah berupa sholat malam, puasa sunnah, dll



15



BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Ilmu Rijal al-Hadits ialah ilmu yang mempelajari seluk-beluk dan sejarah hidup para perawi hadits. Ilmu ini juga dinamakan dengan Ilmu Tarikh ArRuwwat (Ilmu Sejarah Perawi) adalah ilmu yang mengetahui keadaan setiap perawi hadits. Ilmu Rijal al-Hadits ini berfungsi untuk mengetahui, keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. Dan juga dapat ditentukan kualitas serta tingkatan suatu hadis dalam permasalahan sanad hadis. Sebagai produk historisitas yang terikat spatio-temporal tertentu, Ilmu Rijalil Hadis yang menjadikan manusia sebagai subyek dan sekaligus obyeknya harus dapat memaparkan bahasan dan temuannya dalam skala intersubyektif. Kajian Ilmu Rijalil Hadis yang mengarahkan para figure rawi dalam dataran teoritis seharusnya menginformasikan jawaban terhadap pertanyaan what, who, where dan why. B. Saran Dalam mempelajari ilmu hadits, tidak ketinggalan kita untuk memahami lebih lanjut mengenai seluk beluk dan sejarah hidup para perawi hadits.



16



DAFTAR PUSTAKA Desi S. Wati, dkk. 2013. Ilmu Rijal al-Hadits. IAIN Walisongo Semarang H. Muslimin. 2017. Hakekat Jiwa dan Karakteristiknya Perspektif AlQur’an. Vol. 28 No. 1 Lokman Muchsin . 2018. Pengertian jiwa menurut Al Qur’an dan Al Hadits (AKHLAK BAG. II). Diakse pada http://lokmanmuchsin.blogspot.com/2018/01/pengertian-jiwamenurut-al-quran-dan-al.html?m=1 Makalah Ringkasan Ilmu ushuluddin.blogspot.com



Rijalul



Hadis.



2016.



ilmu-



Vilda Labiba. 2017. Aplikasi Ilmu Rijalil Hadits pada Hadits. Diakses pada http://lalalabiba.blogspot.com/2017/10/aplikasi-ilmu-rijalilhadits-pada-hadits.html



0