LP KB Anisa [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

LAPORAN PENDAHULUAN KELUARGA BERENCANA PADA NY. K Dosen pembimbing : Sari Candra Dewi, SKM, MKep



Disusun oleh : ANISA SUPRIYANTI (PO7120118030)



POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA DIII KEPERAWATAN 2019/2020



A. PENGERTIAN Menurut WHO (dalam Imbarwati, 2009), keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk: Mendapatkan objektif- objektif tertentu , Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan , Mengatur interval diantara kelahiran, Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri, Menentukan jumlah anak dalam keluarga. Dalam Imbarwati (2009) juga dijelaskan bahwa kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan.Sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan.Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Keluarga berencana menurut UU no 10 tahun 1992 (tentang Perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Arum, 2008). Keluarga berencan adalah suatu usaha untuk menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi (Mochtar, 1998). B. TUJUAN PROGRAM KB Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan , peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Tujuan KB, berdasarkan RENSTRA 2005-2009 meliputi : 1. Keluarga dengan anak ideal 2. Keluarga sehat 3. Keluarga berpendidikan 4. Keluarga sejahtera 5. Keluarga berketahanan 6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya 7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS) C. STRATEGI PELAKSANAAN KB Terbagi dalam 2 strategi, yaitu: 1. Strategi dasar · a. Meneguhkan kembali program di daerah. b. Menjamin kesinambungan program 2. Strategi operasional a. Peningkatan kapasitas system pelayanan program KB nasional b. Peningkatan kualitas program dan program prioritas



c. Penggalangan dan pemantapan komitmen d. Dukungan regulasi dan kebijakan e. Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan D. RUANG LINGKUP KB Ruang lingkup KB antara lain : keluarga berencana, kesehatan reproduksi remaja, ketahanan dan pemberdayaan keluarga, penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas, keserasian kebijakan kependudukan, pengelolaan SDM aparatur, penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan, peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara. E. PERAN PERAWAT DALAM PROGRAM KB Peran perawat dalam program KB sebagai konselor dan edukator. Untuk hal ini perawat harus memiliki informasi terbaru dan akurat tentang metode kontrasepsi. Hampir sebagian dari kehamilan yang tidak direncanakan terjadi pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi yang tidak tepat dan konsisten dalam penggunaannya. Maka perawat memiliki peranan penting dalam memberikan pendidikan tentang teknik kontrasepsi sesuai kebutuhan. Cara penggunaan yang tepat dan fokus konselingnya haruslah pada kebutuhan dan kenyamanan pasangan yang akan menggunakan alat kontrasepsi. F. -



PERTIMBANGAN DALAM MEMILIH METODE KONTRASEPSI Keamanan Perlindungan terhadap PMS Efektifitas Pilihan pribadi dan kecenderungan Education need Efek samping Pengaruh dan kepuasan seksual Ketersediaan Biaya Budaya Informed consent



G. AKSEPTOR KB MENURUT SASARANNYA Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi 3 fase yaitu : 1. Fase menunda kehamilan Masa menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Karena di umur 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat kembali 100%. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum mempunyai anak serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana. 2. Fase mengatur/ menjarangkan kehamilan Periode usia istri 20-30 tahun merupakan usia paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antar kelahiran adalah 2-4 tahun. Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah usia antara 20-30 tahun. Kriteria kontrasepsi yang



diperlukan yaitu : efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena pasangan masih mengharapkan punya anak lagi, dapat dipakai 3-4 tahun sesuai jarak kelahiran yang direncanakan, serta tidak menghambat produksi air susu ibu (ASI). Kontrasepsi yang cocok dan disarankan menurut kondisi iu yaitu : AKDR, Suntik KB dan implan. 3. Fase mengakhiri kesuburan/ tidak hamil lagi Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih dari 30 tahun tidak hamil lagi. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi, karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Disamping itu jika pasangan akseptor tidak mengharapkan untuk mempunyai anak lagi. Kontrasepsi yang cocok dan disarankan adalah metode kontap, AKDR, Implan, suntik KB (Suratun 2008). H. JENIS-JENIS KB Menurut Kusumaningrum (2009), terdapat beberapa jenis kontrasepsi, diantaranya: Metode alami 1. Sistem kalender: Pantang berhubungan dianjurkan beberapa hari sebelum dan sesudah sesuai dengan perhitungan kalender. Bila haidnya teratur 28 hari, hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke 1 dan masa subur adalah hari ke 12 hingga hari ke 16 dalam siklus haid. Sedangkan, bila siklus haid tidak teratur, harus dicatat siklus haid selama 6 bulan. Yang paling normal haid adalah 28 hari, tetapi masih dianggap normal jika 21-35 hari. Masa subur awal didapatkan dengan siklus terpendek dikurangi 18 dan akhir masa subur adalah siklus terpanjang dikurangi 11. Misalnya siklus terpendek 25 hari dan terpanjang 35 hari, maka waktu subur adalah adalah hari ke 7 s/d hari ke 24. a. Keuntungan : Cocok untuk wanita yang siklus haidnya teratur. b. Efek samping :Makin tidak teratur siklus haid, maka makin pendek masa yang aman untuk berhubungan seks. 2. Sistem pengukuran suhu basal badan Dilakukan sewaktu bangun pagi hari dalam keadaan istirahat penuh dan belum ada aktivitas apapun setiap hari, suhu tubuh basal akan meningkat setelah ovulasi. Pencatatan suhu dilakukan setiap hari pada sebuah tabel atau kertas grafik. a. Keuntungan : Mudah dilakukan, dengan cara ini masa berpantang lebih pendek. b. Efek samping : Merepotkan, tidak akurat bila terjadi infeksi, dan hanya dapat dipergunakan bila siklus haid teratur sekitar 28-30 hari. 3. Metode lendir serviks Metode berdasarkan lendir serviks yang muncul dalam siklus wanita. Lendir ini dicek di vagina. Sesudah haid biasanya vagina kering. Setelah itu muncul lendir yang lengket. Sesaat sebelum ovulasi, lendir berubah menjadi basah dan licin. Hari terakhir basah karena lendir ini biasanya bersamaan dengan ovulasi. 4. Metode Symthotermal Metode ini menggabungkan metode suhu basal tubuh dan metode lendir serviks. Selanjutnya wanita disuruh mencari tanda ovulasi lainya yaitu : nyeri perut, spotting dan



perubahan posisi serta konsistensi serviks. Metode ini sedikit lebih unggul karena mengkombinasikan beberapa variabel. Tetapi tetap juga memiliki keterbatasan. 5. Metode Amenorea Laktasi Pada periode menyusui sering wanita menjadi tidak haid akibat hormon laktasi. Ternyata disamping haid, ovulasi juga ikut terhambat, supaya metode ini bekerja dengan baik, ibu harus memberikan ASI saja. Interval menyusui pada malam hari tidak melebihi 6 jam dan interval siang tidak melebihi 4 jam. Semakin sering menyusui maka akan semakin keccil terjadinya ovulasi. Dalam 6 bulan pertama jika di terapkan dengan benar angka kehamilannya hanya 2%. Jika perdarahan (haid) muncul maka kemungkinan hamil semakin muncul 6. Coitus interuptus (senggama terputus) Ejakulasi dilakukan diluar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanyaterjadi karena ada sperma yang keluar sebelum di ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar. Metode mekanik 1. Kondom Terbuat dari latex, ada kondom untuk pria maupun wanita serta berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. o



Cara Kerja Sarung karet ini mencegah sperma bertemu dengan ovum



o



Efektivitas Dalam teori: 98%. Dalam praktek: 85%. Efektif jika digunakan benar tiap kali berhubungan. Namun efektivitasnya kurang jika dibandingkan metode pil, AKDR, suntikan KB.



o



Keuntungan a. Dapat dipaki sendiri b. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin c. Tidak mempengaruhi kegiatan menyusui d. Dapat digunakan sebagai pendukung metode lain e. Tidak mengganggu kesehatan f. Tidak ada efek samping sistemik g. Tersedia secara luas h. Tidak perlu resep atau penilaian medis i. Tidak mahal (jangka pendek)



o



o



Kekurangan metode ini: -



Mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain



-



Membutuhkan waktu untuk pemasangan



-



Mengurangi sensasi seksual Baik untuk pasangan yang:



a. Ingin menunda kehamilan atau ingin menjarangkan anak b. Jarang bersenggama c. Pasangan yang takut menularkan & tertular penyakit kelamin d. Wanita yang kemungkinan sudah hamil o



Kontraindikasi Alergi.



2.



Spermatisida



Bahan kimia aktif untuk 'membunuh' sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70%. Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < 6 jam setelah senggama.



3.



Vaginal diafragma



Lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim  bila dipasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektivitasnya sangat kecil, karena itu harus digunakan bersama spermatisida untuk mencapai efektivitas 80%. Cara ini bisa gagal bila ukuran diafragma tidak pas, tergeser saat senggama, atau terlalu cepat dilepas (< 8 jam ) setelah senggama. 4.



AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) AKDR atau spiral, atau Intra-Uterine Devices (IUD) adalah



alat yang dibuat dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yg ditempatkan di dalam rahim. Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan dapat dilepaskan bila berkeinginan untuk mempunyai anak.



o



Jenis a. Copper-T IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baru IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea. b.



Copper-7 IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan



pemasangan. fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T. c. Multi Load IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. d. Lippes Loop IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. o



Cara Kerja AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel telur. Imbarwati (2009), menjelaskan cara kerja IUD sebagai berikut: a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri c. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus



o



Efektivitas



Sangat efektif (0,5-1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama 1 tahun) o



Keuntungan a. Tidak terganggu faktor lupa b. Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan menggunakan tembaga T 380 A) c. Mengurangi kunjungan ke klinik d. Lebih murah dari pil dalam jangka panjang



o



Baik untuk Wanita yang: a. Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektivitas yg tinggi, & jangka panjang b. Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak c. Memberikan ASI d. Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI e. Berada dalam masa pasca aborsi f. Mempunyai resiko rendah terhadap PMS g. Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari h. Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakannya i. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat



o



Kontraindikasi a. Hamil atau diduga hamil b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin c. Pernah menderita radang rongga panggul d. Penderita perdarahan pervaginam yg abnormal e. Riwayat kehamilan ektopik f. Penderita kanker alat kelamin



o



Efek samping a. Perdarahan dank ram selama minggu2 pertama setelah pemasangan. Kadang2 ditemukan keputihan yg bertambah banyak. Disamping itu pada saat berhubungan (senggama0 terjadi expulsi (IUD bergeser dari posisi) sebagian atau seluruhnya



b. Pemasangan IUD mungkin meninmbulkan rasa tidak nyaman dan dihubungkan dengan resiko infeksi rahim. Waktu Penggunaan IUD



o



Dalam Imbarwati (2009) dijelaskan penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada saat: a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL) d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi e. Selama 1-5 hari setelah senggama yg tidak dilindungi Waktu Kontrol IUD



o



Menurut Imbarwati (2009), waktu kontrol IUd yang harus diperhatikan adalah: a. 1 bulan pasca pemasangan b. 3 bulan kemudian c. Setiap 6 bulan berikutnya d. Bila terlambat haid 1 minggu e. Perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya 5.



Kontrasepsi Hormonal Dengan fungsi utama untuk mencegah kehamilan (karena menghambat ovulasi), kontrasepsi ini juga biasa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Harus diperhatikan beberapa faktor dalam pemakaian semua jenis obat yang bersifat hormonal, yaitu: 1.



Kontraindikasi mutlak: (sama sekali tidak boleh diberikan):kehamilan, gejala thromboemboli, kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor dalam rahim.



2.



Kontraindikasi relatif (boleh diberikan dengan pengawasan intensif oleh dokter): penyakit kencing manis (DM), hipertensi, pendarahan vagina berat, penyakit ginjal dan jantung. Kontrasepsi hormonal bisa berupa pil KB yang diminum sesuai petunjuk hitungan



hari yang ada pada setiap blisternya, suntikan, susuk yang ditanam untuk periode tertentu, koyo KB atau spiral berhormon. a. Kontrasepsi PIL Tablet yang mengandung hormone estrogen dan progesterone sintetik disebut pil kombinasi dan hanya mengandung progesterone sintetik saja disebut Mini Pil atau Pil Progestrin. Cara Kerja



o



1)



Menekan ovulasi :Jika seorang wanita minum pil KB setiap hari maka tidak akan terjadi ovulasi (tidak ada sel telur). Tanpa ovulasi tidak akan terjadi kehamilan.



2)



Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu



3)



Mengganggu pertumbuhan endometrium, sehingga menyulitkan proses implantasi



4) o



Memperkental lender serviks (mencegah penetrasi sperma)



Efektivitas Efektivitas teoritis untuk pil sebesar 99,7% sedangkan efektivitas praktisnya sebesar 90-96%. Artinya pil cukup efektif jika tidak lupa meminum pil secara teratur.



o



Keuntungan a. Mudah penggunaannya dan mudah didapat b. Mengurangi kehilangan darah (akibat haid) dan nyeri haid c. Mengurangi resiko terjadinya KET (Kehamilan Ektopik Terganggu) dan Kista Ovarium d. Mengurangi resiko terjadinya kanker ovarium dan rahim e. Pemulihan kesuburan hampir 100%



o



Baik untuk wanita yang:  Masih ingin punya anak  Punya jadwal harian yang rutin



o



Kontraindikasi a. Menyusui (khsusu pil kombinasi) b. Pernah sakit jantung c. Tumor/keganasan d. Kelainan jantung, varices, dan darah tinggi e. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui sebabnya f. Penyakit gondok g. Gangguan fungsi hati & ginjal h. Diabetes, epilepsy, dan depresi mental i. Tidak dianjurkan bagi wanita mur >40 tahun



o



Efek Samping Penggunaan pil KB pada sebagian wanita dapat menimbulkan efek samping, antara lain mual, berat badan bertambah, sakit kepala (berkunang-kunang) perubahan warna kulit dan efek samping ini dapat timbul berbulan-bulan. b. KB Suntik Kontrasepsi



suntikan



adalah



hormone



yang



diberikan



secara



suntikan/injeksi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Adapun jenis suntikan hormone ini ada yg terdiri atas 1 hormon, & ada pula yg terdiri atas dua hormone sebagai contoh jenis suntikan yg terdiri 1 hormon adalah Depo Provera, Depo Progestin, Depo Geston & Noristerat. Sedangkan yg terdiri dari atas dua hormone adalah Cyclofem dan Mesygna. KB suntik sesuai untuk wanita pada semua usia reproduksi yang menginginkan kontrasepsi yang efektif, reversible, dan belum bersedia untuk sterilisasi. -



Cara Kerja o Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor dari hipotalamus. o Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa.



o Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk implantasi dari hasil konsepsi. -



Efektivitas Dalam teori: 99,75%. Dalam praktek: 95-97%.



-



Keuntungan 1) Noristerat pemberiannya sederhana diberikan 200 mg sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama 3 x suntikan pertama kemudian selanjutnya sekali tiap 12 minggu. 2) DMPA pemberiannya diberikan sekali dalam 12 minggu dengan dosis 150 mg. 3) Tingkat efektifitasnya tinggi 4) Tidak mengganggu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi. 5) Suntikan tidak ada hubungannya dengan saat bersenggama. 6) Tidak perlu menyimpan atau membeli persediaan. 7) Kontrasepsi suntikan dapat dihentikan setelah 3 bulan dengan cara tidak disuntik ulang, sedangkan IUD dan implant yang non-bioderdable harus dikeluarkan oleh orang lain. 8) Bila perlu, wanita dapat menggunakan kontrasepsi suntikan tanpa perlu memberitahukan kepada siapapun termasuk suami atau keluarga lain. 9) Tidak ditemukan efek samping minor seperti pada POK yang disebabkan estrogen, antara lain mual atau efek samping yang lebih serius seperti timbulnya bekuan darah disamping estrogen juga dapat menekan produksi ASI.



-



Kerugian 1) Perdarahan yang tidak menentu 2) terjadinya amenorhoe yang berkepanjangan 3) Berat badan yang bertambah 4) Sakit kepala 5) Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan 6) Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi. 7) Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%. 8) Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional. 9) Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan



10) Memerlukan biaya yang cukup tinggi. -



Saat Pemberian yang tepat: a. Pasca persalinan 1. Segera diberika ketika masih di Rumah Sakit atau setelah 6 minggu post partum dan sebelum berkumpul dengan suami. 2. Tepat pada jadwal suntikan berikutnya. b. Pasca Abortus 1. Segera setelah perawatan atau sebelum 14 hari. 2. Jadwal waktu suntikan yang diperhitungkan. c. Interval. 1. Hari kelima menstruasi 2. Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.



-



Baik untuk Wanita yang: a. Calon akseptor yg tinggal di daerah terpencil b. Lebih suka disuntik daripada makan pil c. Menginginkan metode yang efektif dan bisa dikembalikan lagi d. Mungkin tidak ingin punya anak lagi e. Tidak khawatir kalau tidak mendapat haid



-



Kontraindikasi a. Hamil atau disangka hamil b. Perdarahan pervaginam yg tidak diketahui sebabnya c. Tumor/keganasan d. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis, penyakit paru berat, varices



-



Efek Samping 1) Gangguan Haid : a). Amenorhoe yaitu tidak datang haid setiap bulan selama menggunakan kontrasepsi suntikan kecuali pada pemakaian cyclofem. b). Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama menggunakan kontrasepsi suntikan. c). metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya 2) Keputihan



Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa mengganggu ( jarang terjadi) 3) Perubahan berat badan Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah menggunakan kontrasepsi suntikan 4) Pusing dan sakit kepala Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau keseluruhan dari bagian kepala . Ini biasanya bersifat sementara. 5) Hematoma Warna biru dan rasa nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan di bawah kulit. 2.



AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit)/ Implant Adalah 2 kapsul kecil yang terbuat dari silicon berisi 75



gram hormone levonorgestrel yang ditanam di bawah kulit. -



Cara Kerja AKBK atau sering disebut dengan implant secara tetap melepaskan hormone tersebut dalam dosis kecil ke dalam darah.



Bekerja dengan cara: a. Lendir serviks menjadi kental b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi c. Menekan ovulasi -



Efektivitas



Dalam teori: 99,7%. Dalam praktek: 97-99% -



Keuntungan a. Sekali pasang untuk 3 tahun b. Tidak mempengaruhi produksi ASI c. Tidak mempengaruhi tekanan darah d. Pemeriksaan panggul tidak diperlukan sebelum pemakaian e. Baik untuk wanita yang tidak ingin punya anak lagi tetapi belum mantap untuk di tubektomi



-



Baik untuk wanita yang: a. Ingin metode yang praktis b. Mungkin tidak ingin punya anak lagi c. Tinggal di daerah terpencil d. Tak khawatir jika tak dapat haid



-



Kontraindikasi a. Hamil atau disangka hamil b. Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya c. Tumor/keganasan d. Penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis



-



Efek samping Kadang2 pada saat pemasangan akan terasa nyeri. Selain itu ditemukan haid yang tidak teratur, sakit kepala, kadang2 terjadi spotting atau anemia karena perdarahan yg kronis.



-



Waktu Mulai Menggunakan Implant a. Implant dapat dipasang selama siklus haid ke-2 sampai hari ke-7 b. Bila tidak hamil dapat dilakukan setiap saat c. Saat menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan d. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan e. Bila setelah beberapa minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dilakukan setiap saat jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari



3.



Koyo KB (Patch) Ditempelkan di kulit setiap minggu, sayangnya bagi yang berkulit sensitif sering menimbulkan reaksi alergi. Efektivitas suatu metode kontrasepsi biasanya dinyatakan dengan angka z (PI). Angka ini menunjukkan jumlah kehamilan yang terjadi pada 100 wanita bila menggunakan metode kontrasepsi tersebut selama 1 tahun. Angka PI yang semakin kecil menandakan semakin efektifnya metode kontrasepsi tersebut.



6.



Kontrasepsi strerilisasi



Adalah pemotongan/pegikatan kedua saluran telur wanita (tubektomi) atau kedua saluran sperma laki-laki (vasektomi). Operasi tubektomi ada beberapa macam cara antara lain adalah Kuldoskopik, Kolpotomi, Posterior, Laparoskopi, dan Minilaparotomi. Cara yang sering diapaki di Indonesia adalah Laparoskopi dan Mini laparotomi. a. Kontap Pada Wanita ( Tubektomi ) TUBEKTOMI adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur yang menyebabkan wanita bersangkutan tidak hamila lagi. Merupakan alat kontrasepsi paling efektif dengan angka kegagalankurang dari 1% o



Keuntungan Tubektomi 1.



Sangat efektif



2.



Permanen



3.



Tidak mempengaruhi proses menyusui



4.



Tidak bergantung pada faktor senggama



5.



Baik bagi klien apabila kehanilan akan menjadi resiko kesehatan yang serius



o



o



6.



Pembedahan sederhana dan dapat dilakukan dengan anastesi local



7.



Tidak ada efek samping dalam jangka waktu panjang



8.



Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual



9.



Berkurangnya resiko kanker ovarium



Yang Dapat Menjalani Tubektomi 1.



Usia > 26 tahun



2.



Peritas > 2



3.



Yakin telah mempunyai besar keluarga ayng sesui dngan kehendak



4.



Pada kehamilannya akan menimbulakn resiko kesehatan yang serius



5.



Pascapersalinan



6.



Pasca keguguran



7.



Apham dan secara sukareka setuju dengan prosedur ini



Yang sebaiknya tidak menjalani tubektomi



o



1.



Hamil



2.



Perdarahan vaginal yang belum terjelasajn



3.



Infeksi sistemik atau pelvic yang akut



4.



Tidak boleh menjalani proses pembedahan



5.



Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan



6.



Belum memberikan persetujuan tertulis



Kapan dilakukan 1.



Setiap waktu selama siklus menstrusi apabila diyakini secara rasional



klien tsb tidak hamil 2.



Hari ke 6 – 13 siklus menstruasi ( fase proliferasi )



3.



Pasca persalinan



b. Kontap pada pria (vasektomi) VASEKTOMI adalah prosedur klinik untuk menghenrtikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi. o



Indikasi



Upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi mengancam atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluaga. o



Kondisi Yang Memerlukan Perhatian Khusus Bagi Tindakan Vasektomi • Infeksi kulit pada daerah operasi • Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien • Hidrokel atau varikokel yang besar • Hernia inguinalis • Filariasis / elephantiasis • Undesensus testikularis • Massa intraskrotalis • Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoagulansia



DAFTAR PUSTAKA Rahma, Adinda Mawada. 2015. Laporan Pendahuluan Keluarga Berencana di Puskesmas Pakis Aji. https://id.scribd.com/doc/313627756/LP-KB. Diakses tanggal 31 April 2020 Pukul 09.00 WIB Imbarwati. 2009. Beberapa Faktor yang Berkaitan dengan Penggunaan KB IUD pada Peserta KB non IUD di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. http://eprints.undip.ac.id/17781/1/IMBARWATI.pdf. Diakses tanggal 19 Juni 2012. Pukul19.49 WIB. Kusumaningrum, Radita. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Pada Pasangan Usia Subur. http://eprints.undip.ac.id/19194/1/Radita_Kusumaningrum.pdf. Diakses tanggal 19 Juni 2012. Pukul 19.20 WIB. Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Diterjemahkan oleh: Widyawati, dkk. Jakarta. EGC. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19183/4/Chapter%20II.pdf



1.