Modul Kompas Magnit Dan Kompas Gasing [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

Di dalam buku ini dibahas berupa Mengoperasikan dan merawat kompas magnit Tujuan kami menyusun buku ini adalah agar khususnya para Taruna dan para pembaca pada umumnya dapat dengan mudah mengoperasikan alat-alat navigasi dengan benar, khususnya alat navigasi kompas sesuai dengan tahapan prosedur pengoperasian alat sehingga para pengguna alat akan terhindar dari salah pembacaan alat, kerusakan alat atau kesalahan-kesalahan teknis lainnya. Namun



demikian



kepada



para



Pengajar



diharapkan



agar



lebih



mengembangkan materi buku ini, berupa penjabaran materi alat dan soal-soal latihan praktek kepada para Taruna serta memberikan lembar kerja yang sifatnya aplikasi di lapangan sehingga proses penalaran dapat berjalan dengan baik. Pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan buku ini menggunakan pendekatan siswa aktif melalui secara langsung mengenal alat dan bagian-bagiannya serta mengoperasikannya baik di ruangan lab. Navigasi maupun di lapangan. Setelah selesai mempelajari tiap-tiap pokok bahasan dalam buku ini diharapkan dapat : 1. Menjelaskan prinsip kerja kompas magnit 2. Menjabarkan bagian-bagian kompas yang biasa dipergunakan di kapal 3. Menjelaskan persyaratan piringan pedoman dan ketel pedoman yang baik. 4. Menjelaskan pengoperasian kompas magnit dan kompas gasing dalam bernavigasi kapal sesuai dengan prosedur pengoperasian yang benar. 5. Mendemonstrasikan cara membaca dan mengoreksi kompas secara tepat sesuai dengan tahapan prosedur pengoperasiannya. 6. Menjelaskan cara perawatan alat yang benar di kapal.



kompas



“KOMPAS” A. Pengertian Kompas Salah satu alat navigasi yang berfungsi untuk menetapkan arah haluan kapal dan juga untuk menentukan arah baringan suatu target sasaran.



KOMPAS STANDARD



KOMPAS KEMUDI



“KOMPAS MAGNIT” ( Magnetic Compass )



B. Prinsip Kerja Kompas Prinsip kerja kompas magnit identik dengan prinsip kerja dengan sebuah magnet batang, yaitu : Apabila batangan magnit berdiri bebas maka batangan magnit tersebut akan mengarah ke arah kutub-kutubnya. Contohnya bila sebuah batang magnit diikat benang di bagian tengah sehingga seimbang, kemudian benang tersebut diangkat sehingga batang magnit akan tergantung (berdiri bebas), maka batangan magnit tersebut akan menunjuk ke arah kutub-kutubnya. Sifat-sifat magnit : 



Memiliki gaya tarik atau tolak terhadap logam bermagnit lainnya (baja dan besi).







Kekuatan terkuat gaya tarik magnit terdapat pada ujung-ujung magnit batang.







Ujung-ujung magnit batang diberi nama kutub. Kutub utara dan kutub selatan, karena ujungnya selalu mengarah ke kutub-kutub bumi.







Kutub senama akan saling tolak menolak dan kutub tidak senama akan tarik menarik.



C. Cara Pengoperasian Untuk Menentukan Arah Haluan Kapal : Letakkan kompas tepat ditengah-tengah kapal sejajar dengan garis lunas kapal, dekat dengan kemudi kapal. Kemudian tentukan arah haluan kapal yang akan dituju. Putar kemudi kapal kekiri atau kekanan seiring dengan pergerakan arah haluan kapal yang dituju. Baca arah haluan kapal dengan cara melihat derajat pada mawar pedoman kompas yang berimpit dengan garis layar. Membaring benda di darat. Persiapkan alat-alat baring, antara lain : 



Kompas magnit







Pesawat Penjera Celah



Baringlah target sasaran dengan menggunakan alat pembaringan. ( pembahasan cara pengoperasian lihat pada prosedur pengoperasian Pesawat Penjera Celah )



Persyaratan kompas magnit: Kompas magnit berfungsi sebagai pedoman di kapal untuk menuju ke arah yang sesuai dengan tujuan. Sebagai alat pedoman maka kompas harus benar. Untuk mengetahui kompas benar atau tidak maka ada alat yang mengaudit dan memperbaiki secara periodik. Dalam penggunaan di kapal, keterampilan menguji / mengecek kebenaran kompas magnit harus dimiliki. Cara-cara yang lazim dan sangat mudah dilakukan adalah: 1. Pengecekan tentang kepekaan kompas (sensitif). Urutan pengecekan : a. Letakkan kompas di meja, dengan posisi piringan pedoman rata mendatar. b. Pegang kompas, dengan cara tangan kanan memegang sisi kanan kompas dan tangan kiri memegang sisi kiri bagian kompas c. Putar kompas ke arah kanan / kiri kurang lebih 45 o. Apabila piringan pedoman saat diputar cepat mengikuti / bergerak dan cepat berhenti pada saat dihentikan sama dengan arah putaran maka kompas itu “Peka” apabila sebaliknya maka kompas tersebut “Tidak peka”. 2. Pengecekan Tentang Kestabilan / Keseimbangan Kompas Urutan pengecekan : a. Letakkan kompas di meja, dengan posisi piringan pedoman rata mendatar. b. Pegang kompas, dengan cara tangan kanan memegang sisi kanan kompas dan tangan kiri memegang sisi kiri bagian kompas. c. Miringkan kotak kompas ke kanan / ke kiri kemudian ke depan dan ke belakang. Apabila posisi kaca / piringan pedoman tetap mendatar maka kompas stabil. Apabila sebaliknya maka kompas tidak stabil. Lakukan kegiatan seperti poin 1 dan 2 secara berulang untuk hasil yang lebih akurat. Hati hati dalam melakukan kegiatan di atas. 3. Pengecekan tentang kebenaran arah yang ditunjukkan kompas Dengan cara mencocokkan kompas dengan kompas yang lain (kompas standar) atau mungkin dicocokkan dengan tidak hanya pada satu kompas.



Syarat-syarat piringan pedoman yang baik : 



Harus ringan, sungkup piringan pedoman bagian bawahnya harus licin.







Tidak memiliki kesalahan kolimasi.







Pembagian derajatnya harus jelas, sehingga mudah dibaca dan dibuat secara teratur.







Besarnya piringan pedoman harus seimbang dengan besarnya ketel pedoman.







Piringan pedoman harus tenang namun peka.







Waktu ayun piringan pedoman harus cukup besar, yaitu minimum 14 detik agar tidak terjadi sinkronisasi dengan olengan kapal.



Cara memeriksa kepekaan piringan pedoman : Putar piringan pedoman ke kanan + 30 dari kedudukan seimbang semula. Lepaskan dan kemudian baca penyimpangan sudut pada sisi lainnya. Ulangi dengan arah berbeda, yaitu putar piringan pedoman kekiri. Bila hasil penyimpangan pada kedua sisi sama atau berselisih ½ 0 saja, berarti piringan pedoman cukup peka. Syarat ketel pedoman yang baik : 



Ketel pedoman tidak boleh mengandung magnit.







Pada saat kapal dalam keadaan diam, maka tutup kaca bening dibagian atas harus dalam keadaan datar.







Posisi ketel pedoman tidak boleh menyentuh bagian-bagian pedoman lain, sehingga setiap saat bagian-bagian dalam pedoman dapat mengayun dengan bebas.







Semat atau pasak pedoman harus benar-benar terpasang vertical ditengah-tengah ketel pedoman.







Tuas untuk menempatkan pesawat baring harus tepat dititik pusat mawar pedoman/piringan.







Garis layar tepat pada bidang lunas linggi kapal.



Cara memeriksa ketepatan garis layar : 



Buatlah sebuah tonggak dan berdirikan dibidang lunas linggi didepan pedoman pada jarak yang cukup, misalnya diujung haluan.







Baringlah tonggak tersebut dan pada saat yang sama lihatlah penunjukkan skala derajat oleh garis layar.







Bila kedua penunjukkan adalah sama berarti garis layar telah tepat.



Macam-macam pedoman magnit berdasarkan penggunaannya: 



Pedoman magnit basah (magnetic liquid compass)







Pedoman magnit kering (magnetic dry compass).



Sesuai dengan penempatan dan fungsinya di kapal, pedoman magnit basah dibagi menjadi tiga jenis : Pedoman standard (standard compass). Pedoman kemudi (steering compass). Pedoman darurat.



Bagian-bagian kompas magnit basah



Gbr. Penampang Melintang Kompas Magnit Basah Keterangan Gambar : 1. Ketel Pedoman Tempat bagi keseluruhan bagianbagian kompas, umumnya terbuat dari kuningan atau perunggu. 2. Piringan Pedoman Tempat penulisan skala derajat kompas dan arah mata angin. 3. Batangan Magnit Kekuatan yang mengarahkan arah Utara dan Selatan ke arah kutub-kutub bumi. 4. Pelampung Mengapungkan dan menjaga kestabilan posisi dari piringan pedoman agar tetap rata. 5. Pemberat Pengatur terhadap gaya gravitasi , untuk membuat piringan pedoman cepat kembali pada posisi tegak bila terjadi goncangan.



6. Cairan ( Alkohol 25 % dan Air Suling 75 % ) : Berfungsi untuk : - Tidak mudah terjadi pengkaratan. - Cairan tidak mudah membeku. - Cairan tidak mudah menguap. - Menghindari cat dalam kompas agar tidak terkelupas. 7. Cincin Kardanus (Cincin Lenja) Pengatur keseimbangan, supaya kompas selalu dalamposisi tegak walaupun posisi kapal dalam keadaan miring. 8. Batang Semat Tegak lurus ditengah-tengah bagian bawah piringan pedoman, yang merupakan pengatur keseimbangan terhadap kedudukan pelampung, pemberat dan batangan magnit. 9. Tempat dudukan alat baring (Pesawat Penjera Celah) 10. Kaca Penutup : Sebagai penutup bagian- bagian kompas bagian dalam.



Gambar 3. Mawar Pedoman 1. Utara = 0 o 2. Utara di kiri jarum pendek = 11 ¼ o 3. Utara timur laut = 22 ½ o 4. Timur laut di kiri jarum pendek = 33 ¾ o 5. Timur laut = 45 o 6. Timur laut di kiri jarum pendek = 56 ¼ o 7. Timur timur laut = 67 ½ o 8. Timur di kanan jarum pendek = 78 ¾ o 9. Timur = 90 o 10. Timur di kiri jarum pendek = 101 ¼ o 11. Timur tenggara = 112 o 12. Tenggara di kanan jarum pendek = 123 ¾ o 13. Tenggara = 135 o 14. Tenggara di kiri jarum pendek = 146 ¼ o 14 15. Selatan tenggara = 157 ½ o



16. Selatan di kanan jarum pendek = 168 ¾ 17. Selatan = 180 o



o



18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32.



Selatan di kiri jarum pendek = 108 ¾ o Selatan barat daya = 225 o Barat daya di kanan jarum pendek = 213 ¼ o Barat daya = 225 o Barat daya di kiri jarum pendek = 236 ¼ o Barat barat daya = 347 ¾ o Barat di kanan jarum pendek = 258 ¾ o Barat = 270 o Barat di kiri jarum pendek = 288 ¼ o Barat barat laut = 292 ½ o Barat laut di kanan jarum pendek = 303 ¾ o Barat laut = 315 o Barat laut di kiri jarum pendek = 326 ¼ o Utara barat laut = 337 ½ o Utara di kanan jarum pendek = 348 ¾ o



Aplikasi Kompas HALUAN



Haluan adalah sudut yang di bentuk antara arah utara dengan arah lunas kapal. Pada umumnya haluan dihitung dari utara ke arah timur sampai 360o , sesuai dengan arah putaran jarum jam. Penulisan atau penyebutan dari haluan dapat dinyatakan dengan caramenyebutkan langsung berapa derajatnya. Contoh : 100 = Sepuluh derajat 2350= Dua ratus tiga puluh lima derajat Atau dengan penyebutan arah mata angin diikuti berapa nilai derajatnya.



Macam haluan :



Pada umumnya kegiatan di kapal yang berkaitan dengan haluan adalah kegiatan pokok yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran. Kegiatan persiapan dilakukan di atas peta dan dilaksanakan di atas kompas. Oleh karena itu haluan kapal dibagi menjadi haluan di atas peta dan haluan di kompas. Haluan di peta disebut dengan haluan sejati dan haluan di kompas magnit disebut haluan pedoman. Uraian tentang HS dan HP akan dirinci berikut ini. Kompas magnit yang dibahas terdahulu bekerja berdasarkan medan magnit, sehingga arah yang ditentukan akan dipengaruhi oleh medan magnit yang berada di sekitarnya. Medan magnit yang berada disekitar kompas adalah magnit besi kapal dan magnit bumi. Pengaruh magnit besi yang ada dikapal disebut dengan deviasi dan pengaruh magnit bumi disebut dengan variasi. Dari uraian diatas maka mata angin dan haluan dapat dirinci sebagai berikut :



Keterangan : US = Utara sejati UM = Utara magnetik UP = Utara pedoman HS = Haluan sejati HM = Haluan magnetik HP = Haluan pedoman V = Variasi D = Deviasi HS = Haluan sejati ialah haluan yang terbentuk dari arah US dengan arah luas kapal, haluan ini tidak terpengaruh oleh magnit apapun dan haluan ini merupakan garis yang ada tertulis di peta. HM = Haluan magnetis ialah haluan atau sudut yang terbentuk antara US dengan arah lunas kapal. Haluan ini terpengaruh oleh magnit bumi. Haluan ini merupakan arah derajat di kompas magnit yang diletakkan di atas kapal kayu yang tidak mengandung magnit. HP = Haluan pedoman ialah haluan sudut yang terbentuk antara UP dengan arah lunas kapal, haluan ini terpengaruh oleh adanya magnit bumi dengan magnit besi kapal dan haluan ini merupakan arah derajat di kompas magnit yang diletakkan di atas kapal besi. Untuk memperoleh angka derajat dari uraian diatas dapat dirumuskan dengan cara yang sederhana. Perhatikan gambar diatas.



Rumus: HS = HM + V = HP + (V +D) HM = HS – V = HP + D HP = HS – (V+D) = HM – D Haluan yang dikemudikan pada pedoman magnit kapal besi adalah Haluan Pedoman (HP) dan Baringan yang diperoleh dari pedoman baringnya adalah Baringan Pedoman (BP), sedangkan pada kapal kayu adalah Haluan Magnetis (HM) dan baringannya adalah Baringan Magnetis (BM) Garis haluan yang ditarik diatas peta adalah Haluan Sejati (HS) dan baringannya adalah Baringan Sejati (BS). HS = HM + V HS = HP + V + D Hasil baringan dari pedoman baring, jika ingin dilukiskan di peta harus diubah terlebih dahulu menjadi BS, dengan menggunakan rumus : BS = BM + V ; BS = BP + V + D atau BS = BP + S BM = BP + D ; S=V+D; Pada nilai variasi perhatikan perubahan tahunan variasinya, sedangkan untuk nilai deviasi perhatikan deviasi pedoman kemudi pada daftar deviasi untuk haluan yang bersangkutan. Untuk keperluan pengemudian kapal, ubahlah HS menjadi HP untuk jenis Kapal Besi atau ubahlah HS menjadi HM untuk jenis Kapal Kayu.. Bulatkanlah selalu nilai haluan ( 0,5 0 keatas dibulatkan menjadi 1 0 dan dibawah 0,50 dihilangkan )., contoh : 23,60 menjadi 240 ; 23,40 menjadi 230



D. Aplikasi Deviasi Kompas Deviasi = sudut antara Utara Magnit dan Utara Pedoman - Nilai deviasi (+) bila UP dikanan UM - Nilai deviasi (-) bila UP dikiri UM Sembir = sudut antara US dan UP - Nilai sembir (+) bila UP dikanan US - Nilai sembir (-) bila UP dikiri US



Cara Membuat Daftar Deviasi Daftar deviasi dibuat umumnya pada saat kapal baru selesai dibuat atau setelah mendapat perbaikan besar / kecil (naik dok). Pembuatan nilai deviasi ini disebabkan adanya perubahan nilai-nilai magnitisme besi kapal, magnit besi disekitar kapal yang mengalami perubahan sehingga mempengaruhi kompas magnit. Adapun cara membuat daftar deviasi antara lain:



1. Baringan dua benda darat yang kelihatan menjadi satu. Benda darat yang dibaring adalah dua buah benda darat yang apabila dilihat dari laut maka benda tersebut dapat kelihatan menjadi satu, tapi dengan syarat kedua benda tersebut ada dalam peta laut, sehingga kita bisa mencari nilai Baringan Sejatinya. Urutan Pelaksanaan Baringan : a. Tentukan pada peta laut dua benda darat yang akan dibaring, selanjutnya buat garis baringan di peta tersebut dari kapal membentuk garis lurus dengan kedua benda tersebut. b. Dari hasil pengukuran garis baringan di peta maka diperoleh Baringan Sejati (BS). c. Hitung Baringan Magnetis dengan rumus BM = BS – V d. Buatlah Blanko Tabel Kolom seperti berikut ini : H ................... ................... ................... ................... ...................



BP ................... ...................



BM ................... ...................



Deviasi ................... ...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



................... ................... ................... ................... Isikan hasil hitungan Baringan Magnetis tersebut pada kolom BM e. Selanjutnya Lakukan Baringan di Kapal dengan cara : - Kemudikan kapal sesuai dengan haluan yang ditentukan, misalnya Haluan 00, Olah gerak kapal sedemikian rupa sehingga pada Haluan 0 0 akan terlihat kedua benda kelihatan menjadi satu. - Catat hasil baringan pada Haluan 0 0 tersebut yang berupa Baringan Pedoman (BP). Masukan ke dalam Tabel diatas pada kolom BP. - Lakukan kegiatan membaring seperti diatas dengan menentukan haluanhaluan kapal yang dipergunakan, misalnya Haluan 45 0, 900, 1350, 1800, 2250, 2700, dan 3150. Dan tentukan hasil baringannya pada haluan-haluan tersebut, yang berupa Baringan Pedoman (BP). - Lengkapi tabel diatas pada untuk haluan-haluan tersebut.



- Buatlah grafik daftar deviasi dari pengisian kolom-kolom pada tabel diatas. 2. Baringan Sebelah Menyebelah (Baringan Timbal Balik). Pada prinsipnya baringan timbal balik dilakukan dengan cara membaring dari dua tempat, yaitu di darat dan dilaut (Kapal) pada waktu bersamaan. Dari kapal membaring benda daratan yang diketahui posisinya dan dari darat (posisi si pembaring berada pada benda darat yang dibaring) membaring kapal yang sedang melakukan pembaringan, sehingga saat bersamaan mereka saling melakukan baringan. Dari kapal akan diperoleh nilai BP (Baringan Pedoman) dan dari darat diperoleh nilai BM (Baringan Magnit). Arah baringan disamakan (BM ditambahkan nilai 180 0 atau BM dibalik contoh 45 >0. Selanjutnya nilai Deviasi akan diperoleh dengan menggunakan rumus D = BM – BP. Urutan Pelaksanaan Baringan 1. Tentukan benda darat yang akan dibaring, dan tempatkan seorang petugas di darat yang akan membaring, sambil menyiapkan kompas dan pesawat penjera celah. 2. Buatlah Tabel seperti berikut ini : H ................... ................... ................... ................... ...................



BP ................... ...................



BM + 1800 ................... ...................



Deviasi ................... ...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



...................



................... ................... ................... 3. Selanjutnya lakukan baringan seperti berikut ini :



...................



- Kemudikan kapal sesuai dengan haluan yang ditentukan, misalnya Haluan 00, Olah gerak kapal sedemikian rupa sehingga pada Haluan 0 0 akan terlihat benda darat (posisi sipembaring di darat). Catat hasil baringan pada Haluan 00 tersebut yang berupa Baringan Pedoman (BP). Masukan ke dalam Tabel diatas pada kolom BP.



- Sementara itu pada waktu bersamaan, dari darat membaring kapal yang berada di laut, catat hasil baringannya yang berupa Baringan Magnetis (BM). Nilai BM tersebut selanjutnya ditambahkan nilai 1800 , hasil hitungannya di masukkan ke dalam tabel diatas pada kolom BM + 1800. - Lakukan kegiatan membaring seperti diatas dengan menentukan haluanhaluan kapal yang dipergunakan, misalnya Haluan 45 0, 900, 1350, 1800, 2250, 2700, dan 3150. Dan tentukan hasil baringannya pada haluan-haluan tersebut, dari kapal akan diperloleh Baringan Pedoman (BP) dan dari darat akan diperoleh Baringan Magnetis (BM). - Lengkapi tabel diatas pada untuk haluan-haluan tersebut.



- Buatlah grafik daftar deviasi dari pengisian kolom-kolom pada tabel diatas.



3. Membaring benda langit (matahari). Matahari dibaring dengan mempergunakan Kompas dan Pesawat Baring Thomson. Pada saat tersebut jam baringan dan haluan kapal yang dikemudikan dicatat dengan cermat. Kemudian azimut dihitung. Azimut = Baringan sejati, dengan nilai variasi yang terdapat di peta, selanjutnya deviasi dapat dicari. Saat yang paling baik untuk membaring benda langit ini yaitu waktu matahari terbit atau terbenam ( sekitar jam 6 pagi atau 6 sore), dimana hasil yang teliti akan diperoleh saat matahari dibaring tepat ditengahtengahnya.



CONTOH DAFTAR DEVIASI PEDOMAN HALUAN



-3



-2



-2



0



1



2



3



00



TL 900



T



TG



1800



S



BD



2700



B



BL



3600



U



Keterangan : : Kompas 1 : Kompas 2



Perawatan pedoman magnit meliputi :



Bila terjadi gelembung udara cukup banyak atau kedudukan piringan pedoman berubah, cara perawatannya : a. Lepaskan pedoman dari rumah pedoman. b. Baringkan ketel pedoman pada tempat yang rata. c. Buka bagian penyumbatnya (prop) dengan cara diputar.



d. Keluarkan cairan melalui prop, namun bila hanya terjadi gelembung udara cukup banyak dengan menambahkan campuran alcohol (70 %) dan air (30 %) melalui lubang prop tersebut. e. Setelah cairan dikeluarkan, selanjutnya buka sekrup-sekrup yang berada pada tutup ketel pedoman. f. Perbaiki bagian-bagian yang rusak atau aus dan ganti bila perlu. g. Setelah selesai perbaikan, tutup kembali kaca penutup bagian atasnya dan sekrup yang rapih. h. Isi kembali cairan alcohol dan air melalui prop, dan usahakanlah sampai penuh, selanjutnya prop ditutup.



i. Cek terlebih dahulu apakah masih terdapat gelembung udara dalam ketel tersebut atau tidak ? Bila tidak, kencangkan prop tersebut. j. Kembalikan ketel pedoman pada rumah pedoman.  Agar piringan pedoman di kapal tetap pada posisi mendatar, maka perlu diberi cincin kardanus.  Benda-benda besi/baja, benda bermagnit atau alat-alat listrik disekitar kompas harus disingkirkan untuk menghindari pengaruh penunjukkan pedoman.  Bila pedoman tidak dipergunakan, tutuplah dengan rapih.  Lakukan pengecekan dengan cara melakukan pembaringan dua benda yang terdapat di peta dan diketahui arah sejatinya.  Bila penunjukkan arah terlalu besar lakukan penimbalan, yaitu memasang dan mengatur letak batangan parameter disekitar dinding luar ketel pedoman sambil membaring.  Namun bila masih terdapat keragu-raguan mengenai arah penunjukkan pedoman atau kepekannya maka perlu dibawa ke bengkel khusus untuk perbaikan lebih lanjut.



Contoh - contoh Soal TEST FORMATIF I 1. Secara garis besar Alat Navigasi dibagi menjadi dua kelompok besar. Sebutkan dan berikan contoh-contohnya ? 2. Tuliskan prinsip kerja Kompas Magnit ? 3. Tuliskan 5 macam bagian-bagian kompas dan tuliskan juga fungsi masingmasingnya? 4. Bagaimanakah syarat-syarat piringan pedoman yang baik ? 5. Tuliskan syarat ketel pedoman yang baik di kapal ?



6. Apa yang dimaksud dengan : a. Sifat peka piringan pedoman. b. Sifat tenang piringan pedoman.



Jawaban. 1. Secara garis besar Alat Navigasi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : a. Alat Navigasi konvensional, contohnya : Kompas, Pesawat Penjera Celah, Perum Tangan, Topdal Tunda, Sextant, dsb. b. Alat Navigasi Elektronik, contohnya : Radar, GPS, Echosounder, Fishfinder, Sonar, RDF. 2. Prinsip kerja Kompas Magnit identik dengan sifat batangan magnit yaitu apabila suatu batangan magnit berdiri bebas maka batangan magnit tersebut akan mengarah ke arah kutub-kutubnya.



3. Lima macam bagian – bagian kompas antara lain : a. Ketel pedoman yaitu tempat bagi keseluruhan bagian-bagian kompas, umumnya terbuat dari kuningan atau perunggu. b. Piringan pedoman yaitu tempat penulisan skala derajat dan arah mata angin. c. Cincin Kardanus (Cincin lenja) yaitu pengatur keseimbangan, supaya kompas selalu dalam posisi tegak walaupun posisi kapal dalam keadaan miring. d. Batangan magnit yaitu kekuatan yang mengarahkan arah utara dan selatan ke arah kutub-kutub bumi. e. Cairan (Alkohol dan Air Suling) yaitu agarmenghindari cat dalam kompas agar tidak terkelupas, tidak mudah berkarat. 4. Syarat-syarat piringan pedoman yang baik : 1. Harus ringan, sungkup piringan pedoman bagian bawahnya harus licin. 2. Tidak memiliki kesalahan kolimasi. 3. Pembagian derajatnya harus jelas, sehingga mudah dibaca dan dibuat secara teratur. 4. Besarnya piringan pedoman harus seimbang dengan besarnya ketel. 5. Piringan pedoman harus tenang namun peka. 6. Waktu ayun piringan pedoman harus cukup besar, yaitu minimum 14 detik agar tidak terjadi sinkronisasi dengan olengan kapal. 5. Syarat ketel pedoman yang baik meliputi : Ketel pedoman tidak boleh mengandung magnit. Pada saat kapal dalam keadaan diam, maka tutup kaca bening dibagian atas harus dalam keadaan datar. Posisi ketel pedoman tidak boleh menyentuh bagian-bagian pedoman lain, sehingga setiap saat bagian-bagian dalam pedoman dapat mengayun dengan bebas. Semat atau pasak pedoman harus benar-benar terpasang vertical ditengah-tengah ketel pedoman. Tuas untuk menempatkan pesawat baring harus tepat dititik pusat mawar pedoman/piringan. Garis layar tepat pada bidang lunas linggi kapal. a. Sifat Peka Piringan Pedoman yaitu cepat kembalinya kedudukan piringan pedoman ke posisi semula setelah piringan pedoman keluar dari keadaan seimbang karena suatu pengaruh dari luar. b. Sifat Tenang Piringan Pedoman yaitu keseimbangan piringan pedoman tidak mudah terganggu oleh adanya ayunan / olengan / anggukan kapal yang sedikit ataupun getaran lainnya.



DAFTAR PUSTAKA Anonim. Alat-alat Navigasi. OFCF – Jakarta. Jakarta. Palumian, M.L. 1992. Intisari Alat-alat Navigasi. Yayasan Pendidikan Pelayaran “Djadajat” 1963. Jakarta. Tim BPLP Semarang. Ilmu Pelayaran Elektronik untuk Perwira Pelayaran Niaga. Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Semarang. Semarang. Tim FIP – IKIP Semarang. Pesawat Navigasi. Fakultas Ilmu Pendidikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang. Semarang. Tim Penyusun PIP. Peralatan Navigasi. Politeknik Ilmu Pelayaran. Semarang.