Makalah Antibiotik Kelompok 3 PDF [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

MAKALAH ANTIBIOTIK



Di Susun Oleh : Kelompok 3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.



YUNI IRAWATI HADIANA MUSSOFA HAIRIL ANWAR HERIYADI L.M.AZRUL SANI MAHNIM RITA SUDIAWATI SAMSUL HAKIM A



9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.



H.HIDAYAH SULTIAH SUNARDI ZULHIJJAH NANDA AYUNIA SYAMSUDIN RAUDATUL MARATUSSOLIHAH L.HARMUZI IKHWANUL RASADI



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) HAMZAR PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT 2015/2016



1



KATA PENGANTAR



Puji syukur kepada Allah SWT atas nikmatnya yang telah diberikan kepada kita semua sehingga dapat menyelesaikan makalah Antibiotik yang merupakan tugas kami dalam mata kuliah KRITIS guna memenuhi kegiatan belajar mengajar. Dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari ibu dosen dan teman-teman semua.



Mamben,3 februari 2015



Penyusun



2



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR...........................................................................................................



ii



DAFTAR ISI.........................................................................................................................



iii



BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG................................................................................................ B. RUMUSAN MASALAH........................................................................................... C. TUJUAN....................................................................................................................



1 1 1



BAB II PEMBAHASAN A. B. C. D. E.



PENGERTIAN........................................................................................................... MEKANISME KERJA.............................................................................................. PENGGUNAAN ANTIBIOTIK................................................................................ EPEK SAMPING....................................................................................................... PENGGOLONGAN OBAT ANTIBIOTIK..............................................................



2 2 2 3 3



BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN.......................................................................................................... B. SARAN...................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA



3



21 21



BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yg digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander flening pada tahun 1927 menmukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940, maka antibiotika biasa dibilang merubah dunia pengobatan, serta mengurangi angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis. Arti Antibiotika sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan dan manusia. Saat ini beberapa jnis antibiotika merupakan senyawa sintetis ( tidak dihasilkan dari mikroorganisme) tetapi juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dpat membunuh bakteri baik berupa senyawa sintetis, atau alami disebut dengan zat anti mikroba, akan tetapi banyak orang menyebutnya dengan antibiotika. Meskipun antibiotika mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi antibiotika. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian antibiotik 2. Apa saja golongan antibiotik C. TUJUAN 1. Mengetahui pengertian antibiotik 2. Mengetahui golongan antibiotik



BAB II 1



PEMBAHASAN A.



PENGERTIAN Kata antibiotik berasal dari bahasa inggris “antibiotic” yang akar katanya dari bahasa Yunani, yakni Kata anti yang berarti “menangkal” dan kata bios yang berarti “hidup”. Sehingga berdasarkan akar katanya, dapat diartikan bahwa antibiotic adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Istilah antibiotic ditemukan atau diciptakan oleh Selman Waksman pada kisaran tahun 1942. Kala itu, antibiotic digunakan untuk menggambarkan setiap zat yang diproduksi oleh mikroorganisme lain dalam pengenceran tinggi.



B. MEKANISME KERJA Mekanisme Kerja antibiotika antara lain : 1. Menghambat sintesa dinding sel,akibatnya pembentukan dinding sel tidak sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosis dari plasma,akhirnya sel akan pecah (penisilin dan sefalosporin) 2. Menghambat sintesa membrane sel,molekul lipoprotein dari membrane sel dikacaukan pembentukannya,hingga bersifat lebih permeabel akibatnya zat-zat penting dari isi sel dapat keluar (kelompok pelipeptida) 3. Menghambat sintesa protein sel,akibatnya sel tidak sempurna terbentuk (kloramfenikol,tetrasiklin) 4. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA) akibatnya sel tidak dapat berkembang (rifampisin) C. PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas memasuki paruparu, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin, atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk bersarang. Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri contohnya bisul. Di usus,bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok, atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu. Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus, dan untuk parasit diberi antinya, seperti antimalaria, antijamur, dan anticacing. Jika infeksi oleh jenis kuman yang spesifik, biasanya dokter langsung memberikan antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus, difteria, tipus, atau infeksi mata merah. Untuk infeksi yang meragukan, diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan melakukan pembiakan (kultur)



2



kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan kulit. Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya, dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika yang dianggap ampuh tersebu D. EFEK SAMPING Penggunaan antibiotika tanpa resep dokter atau dengandosis yang tidak tepat dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahaya-bahaya lai seperti : 1. Sensitas atau Hipersentif Banyak obat yang setelah digunakan secara local dapat mengakibatkan kepekaan yang berlebihan,kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka ada kemungkinan terjadi reaksi hipersensitif atau alergi seperti gatal-gatal kulit kemerah-merahan,bentol-bentol atau lebih hebat lagi dapat terjadi schok. Contohnya penisilin dan kloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini maka sebaiknya salep-salep mengggunakan antibiotika yang tidak akan diberikan secara sistemis (oral dan suntikan). 2. Resistensi Jika obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah atau waktu terapi kurang lama,maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya resistensi artinya bakteri tidak peka lagi terhadap obat yang bersangkutan. Untuk mencegah resistensi,dianjurkan menggunakan kemoterapi dengan dosis yang tepat atau dengan menggunakan kombinasi obat. 3. Super Infeksi Yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan dimana sifat dan penyebab infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama. Super infeksi terutama terjadi pada penggunaan antibiotika broad spectrum yang dapat mengganggu keseimbangan antara bakteri di dalam usus saluran pernafasan urogenital. Spesies organisme yang lebih kuat atau resisten akan kehilangan saingan,dan berkuasa menimbulkan infeksi baru misalnya timbul jamur minella albicans dan candida albicans. Selain antibiotic obat yang menekan system tangkis tubuh yaitu kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya dapat menimbulkan super infeksi. Khusus nya anak-anak dan orang tua sangat mudah dijangkit super infeksi ini. E. PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja : 1. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin 2. Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, 3. Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline 3



4. Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin; 5. Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, 6. Antimetabolit, misalnya azaserine. Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia : 1. Aminoglikosida Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin. 2. Beta-Laktam Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin). 3. Glikopeptida Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin. 4. Polipeptida Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin). 5. Polimiksin Diantaranya polimiksin dan kolistin. 6. Kinolon (fluorokinolon) Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin. 7. Streptogramin Diantaranya kinupristin-dalfopristin.



pristinamycin,



virginiamycin,



mikamycin,



dan



8. Oksazolidinon Diantaranya linezolid dan AZD2563. 9. Sulfonamida Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat 1. Obat Antibiotik Golongan Aminoglikosid Aminoglikosid berkhasiat bakteriostatik terhadap bakteri Gram negatif. Termasuk dalam kelompok ini adalah streptomisin, neomisin, kanamisin, amikasin, veomisin, gentamisin, tobramisin, sisomisin dan beberapa jenis lainnya. Toksisitas golongan aminoglikosid sama yaitu pada ginjal dan otovestibuler. Mekanisme Kerja : Aminoglikosida merupakan penghambat sintesis protein irreversible, namun mekanisme pasti bakteriosidnya tidak jelas. Begitu memasuki sel, ia akan mengikat protein subunit-30S yang spesifik (untuk streptomycin S12) Aminoglikosid menghambat sintesis protein dengan 3 cara: 1. Agen-agen ini mengganggu kompleks awal pembentukan peptide 2. Agen-agen ini menginduksi salah baca mRNA, yang mengakibatkan penggabunganasam amino yang salah ke dalam peptide, sehingga menyebabkan suatu keadaan nonfungsi atau toksik protein 4



3. Agen-agen ini menyebabkan terjadinya pemecahan polisom menjadi monosom non-fungsional. Cara Kerja Obat Golongan Aminoglokoid : 1. Kanamisin, Neomisin, Amikasin, Gentamisin dan Tobramisin Aktifitas antibiotik ini bersifat bakterisid terhadap Gram positif dan Gram negatif. Kanamisin dan neomisin juga efektif terhadap mikrobakteri. Penyerapan neomisin dan kanamisin per os buruk, sedangkan gentamisin dan tobramisin cukup baik. Kelompok antibiotik ini memberi keracunan yang sama dengan streptomisin yaitu pada ginjal dengan saraf pendengaran/ keseimbangan. Contohnya merek lainnya: zithromax, zycin, vipram, tromilin, twintic, rovamycin, spiradan, dan sebagainya.



NO.



NAMA GENERIK



NAMA DAGANG



1.



Gentamisin Sulfat



Garamycin



2.



Amikasin



Amikin



3.



Kanamisin Sulfat



Kanamycin Meiji



4.



Neomisin Sulfat



Neobiotic



5.



Streptomosin



Streptomycin Meiji



6.



Framisetin



Sofra-Tulle Daryant-Tulle



Indikasi



: 1) antibiotic untuk indikasi khusus 2) kelompok streptomisin: tuberculosis (terapi basis), bruselosis 3) Kelompok Gentamisin: infeksi dengan Pseudomonas,sepsin, endoktarditis, osteomielitis 4) Kelompok Kanamisin: infeksi Pseudomonas, Proteus,



5



Serratia dan local untuk mata 5) Kelompok Neomisin: local untuk infeksi kulit dan usus 6) Spektinomisin: gonore Kontra Indikasi : Aminoglikosida, memiliki kontra indikasi: kehamilan, adanya cacat pendengaran dan vestibular, gangguan ginjal yang berat, alergi terhadap aminoglikosid. Dosis



: Penggunaan klinisnya sama dengan streptomisin, dengan dosis 1-2 gram i.m., dosis gentamisin dan tobramisin 300-500 mg i.m., dosis kanamisin dan neomisin 500 mg i.m. sediaan salep gentamisin banyak diberikan sebagai salep luka bakar dan luka pada kulit



Farmakodinamik : penghambat biosintesis Protein (inhalasi dan elongasi) melalui ikatan pada subunit 30S. selain itu, menyebabkan salah baca pada mRNA, yang mengakibatkan pembentukan protein “nonsense”. Namun efek bakterisid senyawa ini disebabkan oleh gangguan permeabilitas dari membrane sitoplasma. Farmakokinetik



: Absorpsi



Aminoglikosid



Efek Samping



Ikatan plasma



protein







Eliminasi



Di ginjal, secara Kecuali 2-3 jam (pada Secara oral filtrasi streptomisin, 30- insufisiensi tidak glumerular 35% praktis tidak ginjal 30-150 diabsorpsi dalam bentuk terikat jam) tidak berubah



: ototoksik dan nefrotoksik karena kumulasi selektif di perilimfa telingah sebelah dalam dan dengan ikatan pada asam fosfolipid di mikrovili tubulus proksimal. Karena menghambat pembebasan asetikolin pada lempeng akhir motorik, aminoglokolisid juga 6



memiliki efek relaksasi otot. Penggunaan secara local dapat menyebabkan sensibilisasi disertai perkembangan alergi terhadap golongan obat ini. a. Obat merek Gentamycn Tia Indikasi



: infeksi Pseudomonas, Proteus, Serratia dan local untuk mata



Kontra indikasi : Hipersensitif, insufiensi ginjal, miastenia jangka panjang. Dosis



: 1) Dewasa : 3 mg/ kg/BB/ hari terbagi dalam 3 dosis. 2) Infeksi mengancam jiwa 5 mg/kg/ BB/ hari terbagi dalam 4 dosis. Kemudian diturunkan menjadi 3 mg/kg/BB/ hari. 3)



Anak-anak 3-5 mg/kg/BB/ hari terbagi dalam 3 dosis.



4)



Bayi dan neonates : 6mg/kg/BB/hari terbagi dalam 2-3 dosis.



5)



Bayi premature atau bayi matur usia 1 minggu: 6 mg/ kg/BB/ hari terbagi dalam 2 dosis. GO 280 mg IM dosis tunggal.



Efek samping



: Obat merek Gentamycn Tia, golongan aminoglikosida. Efek



Samping



: ototoksitas, nefrotoksisitas, blockade, neuromuskluer, superinfeksi.



b. Obat Antibiotik Golongan Kuinlon Contohnya obat merek abaktal, akilen, armolec 500, avelox, bactiprox, baquinor, bernoflox, dan lain-lain. a) Asam Nalidiksat (Nogram®), Asam Pipemidat (Deblaston®), Norfloksasin (Barazan®). Indikasi Penggunaan terapi: karena pada dosis yang umum konsentrasi antibakteri hanya tercapai di dalam urine, senyawa ini cocok untuk infeksi saluran kemih, infeksi organ (jalan pernapasan, ruang abdomen, kulit dan jaringan lunak) oleh kuman yang sensitive, infeksi urologis, gonore,infeks deengan klamidia dan mikoplasma, tuberculosis. Karena efektifitasnya terhadap helicobacter pylori juga digunakan pada gastritis kronis ulkus duodenum. Farmakokinetik : 7



Ofloksasin Siprofolaksin



Ikatan Absorspi Dosis Protein oral plasma 1-2×0,1>95% 30-40% 0,4g/hari (baik) 2×0,25-0,75 g/ 70% 25-40% hari (baik)



t1/2 7-8 jam 3-4 jam



Metabolisme Eliminasi



Sebagian



Gagal dalam bentuk yang sebagian aktif



Farmakodinamik : subunit A dari DNA girase dihambat. Dengan demikian penghambat girase menghambat puntiran DNA (supercoiling) yang mutlak diperlukan untuk fase istirahat. spectrum aktivitas: kuman gram negative (inklusif spesies Pseudomonas dan Salmonela) dan Gram positif. Klamidia, mikoplasma dan legionela kepekaan sedang. Efek Samping : Mual, rasa tidak enak diperut, dyspepsia, kembung, diare danstomatitis, colitis psedomembranosa, sakit kepala, pusing, tidak enak badan, mengantuk, rasa capek, kegelisahan, insomnia (sulit tidur), terkadang depresi, halusinasi, pandangan kabur, psikosis dan kejang, kulit kemerahan. c. Obat merek Ciprofloxacin OGB Dexa, golongan Kuinolon Indikasi : infeksi ringan, berat, gonore. Dosis :1) Infeksi ringan: sehari 2×250 mg. 2) Infeksi berat: sehari 2×500 mg. Efek Samping : Mual, rasa tidak enak diperut, dyspepsia, kembung, diare danstomatitis, colitis psedomembranosa, sakit kepala, pusing, tidak enak badan, mengantuk, rasa capek, kegelisahan, insomnia (sulit tidur), terkadang depresi, halusinasi, pandangan kabur, psikosis dan kejang, kulit kemerahan. d. Obat Antibiotik Golongan Makrolid a) Eirtromisin (Erythrocyn ®), Josamycin (Wilprafen®), Spiramisin (Selectomycin®), Roksitromisin (Rulid®), Klaritromisin (Klacid®). Contohnya obat merek/nama dagang : abbotic/ abbotic XL, anbiolid, aztron, bannthrocin, bicrolid, binoklar, binozyt, biostatic, clanine, clapharma, colistine, comtro, corsatrocin, dan sebagainya. Indikasi Penggunaan Terapi :



8



a) Pada alergi penisilin dan kuman yang resisten terhadap Peniseilin, serta penting untuk infeksi dengan Mycoplasma pneumonia, Legionella dan Kampilobakter. b) Spiramisin digunakan terhadap Toksoplasmosis selama kehamilan. Kontraindikasi : Kontra indikasi pada kerusakan hati (Eritromisinestolat dan TAO), massa menyusui. Farmakokinetik : a) Eritromisindiinaktivitasi oleh asam lambung. Untuk memperbaiki abasorpsinya pada pemakaian oral, maka digunakan bentuk ester. Pemberian bersama makanan mengurangi bioavailablitias sistemik. b) Roksitromisin setelah pemberian oral diabsorbsi cepat dan baik (→dosis rendah). Bioavailablitias oral tidak dipengaruhi oleh penyerapan makanan pada waktu yang sama. Karena t1/2 panjang (pada orang lanjut usia hingga 27 jam) pemberian dapat dilakukan 1 -2 kali sehari. c) Klaritomisin sebagai 6- metoksieritromisin bersifat stabil terhadap asam. Pemberian makanan waktu yang sama tidak mempengaruhi biovalibilitas sistemik. Mekanisme kerja/farmakodinamik : Biosintesis protein (elongasi→inhibisi terhadap translokasi) dihambat oleh pengikat pada subunit 50S. Tipe efek : bakteriostatik Spectrum aktivitas : mencakup terutama kokus positif dan gram negative, legionella, klamida dan mikoplasma. Di antara anggota golongan Makrolid, terhadap Linkosamid serta Kloramfenikol ada resistensi silang parsial. Perkembangan tensi terjadi dengan cepat menurut pola langkah tunggal.



Dosis :



Dosis Eritromisin Josamisin Roksitromisin



1-2 g/hari 1-2 g/hari 0,15-0,3



Ikatan Absorbsi Oral protein plasma ±20% 50-60% ±50% 15% >90% 74-97% 9



t1/2



Eliminasi



2-3 jam Terutama melalui 1,5-5 jam biotransformasi 8,3-10 ½



Klaritromisin



g/hari 0,5-1 g/ hari ±50%-60%



±70%



jam 2,5-6 jam



dan sekresi empedu Efek Samping :keluhan lambung karena iritasi lokal, hepatitis kolestatis disebabkan oleh Eritromisinestolat dan Triasetiloleandromisin (TAO), pada dosis tinggi, kerusakan pendengaran, reaksi alergis.



e. Obat merek Binozyt, golongan Makrolida Indikasi : a) Pengobatan pada usia lebih dari 16 tahun dengan infeksi saluran pernafasan atas (misalnya Sinusitis, faringitis, tonsillitis, dan media otitis akut) b) Infeksi saluran pernapasan bawah (misalnya Bronkitis akut dan ringan sampai pneumonia berat sedang) c) Infeksi kulit dan jaringan lunak d) Infeksi genitalia tanpa komplikasi karena Chlamydia trachomatis e) Faringitis karena strep pyogenes f) Profilaksis karena demam rematik. Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap azitromisin atau makrolid. Dosis : a) Penyembuhan hubungan seksual dewasa dan lansia karena Chlamydia trachomatis:100 mg dosis tunggal oral b) Dewasa lebih dari 16 tahun:1500 mg dalam 3 hari (500 mg/ hari) atau rejimen 5 hari (500mg dosis tunggal pada hari 1, kemudian sehari 250 mg pada hari 2-5 c) Dapat diminum dengan makaann untuk mengurangi ketidaknyamanan gigi. d) Pasien dengan penyakit neurologic atau psikiatrik, immunodefisiensi atau asplenia fungsional, kerusakan hati yang berat, diare, pasien lansia dan lemah. Efek Samping : moniliasis, vaginitis, trombositopenia, anafilaksis termasuk syok anafilatik, reaksi agresif, gelisah, gangguan urat saraf, pusing, thesia, konfulsi, sakit kepala, somnolen, hiperaktif, paresthesia, rasa tidak enak, diperut (sakit/keram), muntah, kembung, gangguan pencernaan, penurunan nafsu makan, konstipasi, ranous colitis, lidah kotor, intrahepatic cloestatic, hepatitis, ruam, pruritis, angioedema, urtikaria, fotosensitif, erythema multi forme, sindrom Steven-Johnson, nekrolitik epidermal toksik, artralgia, interstitial nefritis, gagal ginjal akut, asthenia. f. Obat Antibiotik Golongan penisilin Penilisilin pembunuh bakteri Gram negatif dan kokus Gram positif, streptokokus, stafilokokus, spiroketa, klostridia, antraks dan aktinomisetes. Bakteri dalam fase tumbuh lebih peka, sehingga penyakit lebih cepat 10



disembuhkan dari pada penyakit kronis. Penyerapan per os baik, tetapi beberapa bentuk penislin mudah dirusak oleh asam lambung dan enzim. Distribusinya setelah diserap luas, tetapi sulit memasuki otak. Pengeluarannya melalui ginjal cepat. Karena itu, diusahakan mencari ikatan penisilin yang diserap secara lambat dari tempat injeksi dan bila diberikan per os tidak dirusak asam lambung. Indikasi pemberiannya untuk pneumonia, meningtis, otitis media. Laringitis, demam reumatik, endokarditis, gonore, lues, antraks, klostridia gas gangren dan tetanus. Osteomielitis serta difteri, sedangkan ampisilin efektif juga untuk tifus abdominalis. Toksisitas penisilin terutama berupa alergi hingga syok anafilatik. Pertolongan pertama syok adalah memberi epinefrin i.m. secepatnya dan diulangi hingga tekanan darah menetap minimal 90 mmHg. Ampisilin dapat menimbulkan perubahan flora usus. Sediaan yang dipasarkan adalah : a) Penilsilin G, dosisnya 300000-6 juta unit untuk memperoleh kadar di dalam darah yang tinggi yang cepat. b) Prokain penisilin, dosisnya 300000-6 juta unit untuk penyerapan lambat dan disuntikan 1-2 kali sehari. c) Benzatin penisilin, dengan dosis 300000-1,2 juta unit 1-2 kali seminggu. d) Penisilin almumunium monostearat adalah penisilin yang dilarutkan dalam minyak dan diberikan 1 minggu sekali. Kerugian preparat ini adalah harus berhati-hati terhadap kemungkinan emboli dan sering mengakibatkan abses. e) Ampisilin merupakan penisilin berspetrum luasy ang dpaat diberikan per os dan injeksi dengan 2 gram. f) Amoksisilin hampir sama dengan ampisilin diberikan dengan dosis 1,5 gram. g) Oksasilin dan kloksasilin, dengan dosis 2 gram dan beberapa puluh jenis dari golongan penisilin baru, menggeser golongan penisilin lama yang tidak lagi diproduksi. Tergolongan dalam kelompok penisilin adalah sefalosporin dari golongan beta laktam dan dapat diberikan per os. Kini lebih dari 10 kelompok sefalosporin telah dipasarkan. Spektrum antimikrobanya tergantung dari setiap sediaan, namun tidak banyak berbeda dari penisilin. Sebaiknya tidak diberikan sefalosporin sepanjang masih dapat diobati dengan golongan penisilin dan golongan ini disediakan untuk infeksi berat. Dosisnya tergantung dari sediaan dan harus memperhatikan fungsi ginjal, yang berkisar dari 500-1000 mg diberikan i.m. atau i.v. dan diulangi hingga mencapai jumlah dosis 12 gram sehari. Contohnya untuk merek kategori golongan Penisilin: amoxicilin, amoksisilin, hufanoxil, ramoxyl, dan sebagainya. Contohnya untuk merek kategori golongan Sefalosporin: dexacef, doxef, drovak, 11



droxal, durice, dan sebagainya. Farmakodinamik : Penghambat sintesis dinding sel pada tahap terakhir dengan jalan inaktivitas D-alanin0transpeptidase.



Farmakokinetik (Dosis) : Ikatan Bentuk Interval Bioavailabilitas Dosis Protein t ½ pemberian pemberian Oral. Plasma 0,5-2 Mega 30 Penislin V Oral 8 jam 60% 60% U/ menit hari 45 Propisilin 80% menit



Eliminasi >90% ginjal (90%tubular, 10%glomerular, sebagian kecil dengan empedu



Indikasi obat : Penisilin Oral, Infeksi pneumokokus dan Meningokokus, Gonore, Lues, Lyme-Borreliosis, infeksi anaerob; pneumonia, arthritis, meningitis dan otitis media yang disebabkan Streptokokus, serta sinusitis. Kontra Indikasi : Penisilin oral, alergi penisilin. Apabila diminum saat perut kosong (1-2 jam sebelum makan), absorpsi enteral akan lebih baik! Efek Samping : Penisilin Oral: reaksi alergi dari pembentukan eritema ringan hingga syok anafilatik dan untuk mencegah perkembangan alergi, pengunaan topical dilarang Penisilin spectrum luas terhadap kuman gram negative yang sulit dibasmi Mezlosilin (Baypen®), Piperasilin (Pipril®) Tidak stabil terhadap asam dan β laktamase Indikasi : Penggunaan terapi pada infeksi, juga infeksi campuran dengan penyebab gram negative dan gram positif, aerob, dan anaerob, terutama Pseudomonas, Klebsiella, Proteus, Serratia, E.coli, Neisseria, berbagai bentuk kelangsungannya (juga yang berat). Untuk profilaksis perioperatif. 12



Kombinasi dengna Tazobaktam (Tazobac®) memungkinkan pelebaran nyata dari spectrum efeknya (mirip Zienam®) dan suatu usaha pilihan uuntuk bidang pengobatan intensif. Kontra Indikasi : alergi penisilin.. Penisilin spectrum luas terhadap kuman gram negative yang sulit dibasmi, penggunaan terapi: infeksi, juga infeksi campuran dengan penyebab gram negative dan gram positif, aerob, dan anaerob, terutama Pseudomonas, Klebsiella, Proteus, Serratia, E.coli, Neisseria, berbagai bentuk kelangsungannya (juga yang berat). Untuk profilaksis perioperatif. Kombinasi dengan Tazobaktam (Tazobac®) memungkinkan pelebaran nyata dari spectrum efeknya (mirip Zienam®) dan suatu usaha pilihan uuntuk bidang pengobatan intensif. Farmakodinamik : penghambatan sintesis dinding sel pada tahap terakhir melalui inaktivitas D-alanin-transpeptidase Farmakokinetik : Dosis Mezlosillin Piperasilin



Interval Pemberian 6-12 jam



Bioavailabilitas Ikatan protein t½ oral plasma 30% 50 menit



9-20 g/hari 7-14 (-21) 8-16 jam g/hari



-



20%



40 menit



Terutama pada Mezlosillin, tercapai dosis di empedu yang sangat tinggi Petunjuk: 1) Pada pasien dengan diathesis alergis penggunaan parenteral harus dengan hati-hati 2) Pada pemberian bersama-sama dengan antikoagulan oral: kecenderungan perdarahan lebih kuat 3) Pada pasien dengan kecenderungan perdarahan perlu dikontrol terhadap parameter pembekuan. 4) Pada Kehamilan dan masa menyusui Sikap ketat untuk indkasi pada trimester ke-1 karena Mezlosillin dapat menembus sawar plasenta.



13



a. Obat merek Amoksisilin, Golongan Penisilin Indikasi : strain bakteri yang peka infeksi kulit dan jaringan lunak: staphylococcus bukan penghasil penisilinase, streptococcus, S. pneumonia. E. coli,infeksi sal genitourinary: E. coli, P. mirabilis dan Streptococcus faecalis.Gonore: N. gonorrhoe (bukan penghasil penisiline) Kontra Indikasi : Obat merek Amoksisilin, Golongan Penisilin. Kontra Indikasi: hipersensitif terhadap hipersensitivitas, pasien dengan riwayat alergi terhadap penisilin. Dosis : 1) Dewasa dan anak-anak dengan Berat Badan lebih dari 20 kg 250-500 mg tiap 8 jam. 2) Anak-anak dengan Berat Bayi lahir kurang dari 20 kg: sehari 20-40 mg/kg/ BB dalam dosis bagi tiap 8 jam. 3) Untuk penderita dengan gangguan ginjal perlu dilakukan pengurangan dosis. 4)



Pada penderita yang menerima dialisa peritoneal: dosis maksimal yang dianjurkan sehari 500 mg.



5) Gonokokkus uretritis: amoksilin 3 gram sebagai dosis tunggal 6) Anak-anak dengan BB metasilin> klortetrasiklin= demoksiklin> tetrasiklin> oksitetraksiklin Selain terhadap bakteri Gram negatif dan Gram positif, golongan ini juga membunuh riketsia, amuba, mikoplasma, trakoma dan beberapa lagi. Resistensi dapat terjadi pada pemakaian yang kurang tepat. Penyerapannya per os baik, tetapi terikat oleh logam Al, Mg, Ca, Fe dan makanan. Distribusi golongan tetraksilin dalam tubuh luas dan ditimbun di dalam tulang dan gigi, karena terikat oleh kalsium. Ekskresinya melalui air kemih dan tinja. Toksisitasnya berupa mual, muntah dan diare dengan dehidrasi berat; superinfeksi sering terjadi setelah pemberian selama 3 hari. Karena tetrasiklin ditimbun di dalam gigi dan tulang, maka pada pemberian pada anak berusia di bawah 12 tahun dapat menyebabkan kerusakan gigi. Pada wanita hamil trisemester terakhir, dapat terjadi gangguan perkembangan tulang pada bayi yang akan dilahirkan. Yang berbahaya adalah toksisitasnya pada ginjal dan hati, karena berakibat fatal. Pada pemberian yang lama mengakibat anemia, fotosensitivitas dan gangguan pembekuan darah. Tetrasiklin yang kadaluarsa dapat mengakibatkan sindrom Fanconi. Penggunaan klinisnya cukup luas dan di Indonesia masih merupakan obat pilihan terhadap “kolera”. Selain itu, diberikan pula untuk terapi infeksi pernapasan, gonore, akne, enteritis dan meningokok. Pemberian per injeksi sangat nyeri dan hanya diberikan pada keadaan gawat. Dosis tetrasiklin, oksitetrasiklin dan klortetrasiklin masing-masing 1-2 gram per oral, doksisiklin 200 mg dosis awal diusul 100-200 mg dosis penunjang, demoksilin 600 mg. Contohnya merek golongan tetraksilin: Silidon, novabiotic, kemoclin, suprabiotic, dan sebagainya.



a. Tetrasiklin (Oxytetracyclin JENAPHARM), Rolitetrasilin (Revin®), Doksisiklin (Vibramycin®), Minosiklin (Klinomycin®), Tetrasiklin (Supramycin®) Indikasi : 1) Antibiotik spectrum luas pilihan kedua 2)



Bronkitis kronis, infeksi pulmonal karena mikoplasma, infeksi saluran empedu dan banyak infeksi lainnya, untuk terapeutik lain yang diindikasi primer



3) obat pilihan ke-1 pada infeksi langka seperti kolera



18



Petunjuk : tetrasiklin dengna ion logam bervalensi 2 atau lebih membentuk kompleks kelat. Tetrasiklin dapat melewati sawar plasenta dan berdifusi ke dalam ASI. Di tulang, tetrasiklin disimpan dalam bentuk kelat –Ca2+ yang inaktif dan selama fase mineralisasi terkumulasi secara ireversibel pada email gigi. Kontra indikasi tetrasiklin : Hipersenitivitas terhadap tetrasiklin, kehamilan dan masa menyusui, gangguan fungsi ginjal yang berat (tidak berlaku untuk Doksisiklin dan Minosiklin), gangguan fungsi hati, anak-anak berusia di bawah 8 tahun, penggunaan parenteral pada Miastenia gravis (karena kadar Mg yang tinggi pada sediaannya). Farmakodinamik : biosintesis protein (inisiasi dan elongasi) dihambat melalui ikatan pada subunit 30S. Tipe efek : bakteriostatik Farmakokinetik (Dosis) :



Dosis



Doksisiklin



0,1-0,2 hari



Absorpsi enteral plasma



Interval pemberian g/ Setiap jam



24



Setiap jam



6-12



Tetrasiklin 1-1,5 g/hari



Ikatan protein







Eliminasi



>90%



90-95%



15 jam



Ginjal, empedu dan intestinal; sirkulasi enterohepatik



80%



24-40%



8-9 jam



Terutama ginjal



Efek Samping : (±5-10%): efek gastroinstestinal, gangguan fungsi hati (fatty liver), dermatosis fotoalergik, eksantema, perlambatan pembekuan darah (pembentukan kompleks dengan Ca 2+?). gangguan fungsi ginjal karena hasil peruraian, kerusakan gigi, superinfeksi oleh jamur dan bakteri. b. Obat merek Doxacin, golongan Tetrasiklin. Indikasi : infeksi saluran nafas bawah termasuk pneumonia disebabkan H. influenza, Klebsiella sp, S. Pneumoniae; pneumonia disebabkan Mycosplasma pneumonia, bronchitis dan sinus kronis, ISK disebabkan fleksibella sp, Enterobacter, S. Faecallis, E. Colli; infeksi kulit; penyebab karena hubungan seksual; gonore dan sifilis; injeksi mata disebabkan Gonococci, Staphylococci, dan H. influenza; infeksi Rickettsia. 19



Kontra Indikasi : hipersensitif, hamil, menyusui dan anak kurang dari 8 tahun. Dosis : 1)



Dewasa dan anak-anak lebih dari 2 tahun BB>45 kg: hari pertama 200mg dosis tunggal atau terbagi 2 dosis; dilanjutkan dengan pemeliharaan sehari 1×100 mg atau sehari 2×50 mg



2)



Infeksi berat: sehari 200mg



3)



Anak-anak lebih dari 8 tahun BB kurang dari 45 kg: hari pertama 4 mg/kgBB/ hari terbagi dalam 2 dosis, selanjutnya 2 mg/kgBB/hari



4)



Infeksi berat: 4mg/ kgBB tiap 12 jam.



Efek Samping : gangguan fungsi hati, control fungsi dan ginjal



BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Antibiotika berasal dari kata Anti yang berarti lawan dan Bios berarti hidup. Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman. Resistensi adalah mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan oleh racun yang dihasilkannya. Resistensi antibiotika timbul bila suatu antibiotika kehilangan kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan atau membasmi pertumbuhan bakter; dengan kata lain bakteri mengalami “resistensi” dan terus berkembangbiak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup untuk pengobatan.



B.



SARAN Kami menyarankan kepada mahasiswa keperawatan agar dapat mengetahui penggunaan antibiotik yang baik dan benar.



20



DAFTAR PUSTAKA      



(Source/ Sumber 1: Widyamarta, Dimas Erda. Rusela Febri Mareta. Maratus Solikah. Triana Puji Rahayu.2014.Makalah Farmakologi Antibiotik. Ponorogo.) (Sumber/ Source 2: Brooker, Chris.2009.Ensiklopedia Keperawatan.Jakarta:EGC.) (Sumber/ Source 3: Djamhuri, Agus.1995.Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan Perawatan.Malang:Hipokrates.) (Sumber/ source 4: Sitrait, Midian.2011.Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.Jakarta: PT ISFI Penerbitan.) (Sumber/ source 5: Olson, James. M.D., Ph.D.2004.Belajar Mudah Farmakologi.Jakarta:EGC.) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)



21



22