HIPOTESIS LINGUISTIK RELATIVITAS Roy [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

LINGUISTIC RELATIVITY Roy Cahyo Putranto, S.Pd. Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang 50131 Email: [email protected] ABSTRAK Language differs dramatically from one another in terms of how they describe the world. Language has different ways of describing the world lead speakers of different language, and also different ways of thinking about the world. The idea of that thought is shaped by language is commonly associated with the writings of Benjamin Lee Whorf ( 1956 ) who impressed linguistic diversity and pro posed the categories and distinctions of each language enshrine a way of perceiving, analyzing, and acting in the world. This paper reviews several lines of evidence regarding the effect of language, on people’s representations of space, time, sub tansce and shape, and objects. The poin of analysis is my own preview about the Hypothesis. Kata kunci: linguistic relativity, language, thought, shape 1. PENDAHULUAN Dewasa ini ada lebih dari 5000 bahasa digunakan umat manusia di dunia. Beberapa bahasa mempunyai kemiripan atau berasal dari bahasa proto yang sama, beberapa lagi jauh berbeda dengan yang lain. Beberapa pendapat dari pemikir – pemikir terdahulu menyebutkan bahwa perbedaan dari masing – masing bahasa tersebut mempengaruhi perbedaan pengalaman dan pemikiran. Salah satu pemikiran yang menjadi landasan dalam antropolinguistik adalah linguistic relativity. Seperti hipotesis yang bertema relativity lainnya, hipotesis ini juga berkembang pada akhir abad 18–19 M. Hipotesis ini menjadi bahan diskusi yang hangat di antara para pemikir – pemikir di Jerman seperti Johan Georg Hamann( 1730-1788 ), Johann Gottfried Herder ( 1744-1803 ) dan Wilhelm von Humboldt ( 1767-1835 ). Format pemikiran ini kemudian dikenal dengan nama Hipotesis Whorf atau Hipotesis Sapir-Whorf, seperti nama linguis yang mempopulerkannya, yakni Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, muridnya. Hipotesis ini sendiri terdiri dari 3 konsep( Gentner and Meadow, 2003: 4 ), yakni: 1. Secara semantis, bahasa yang ada di dunia ini banyak ragamnya 2. Struktur sebuah bahasa akan mempengaruhi cara dan sikap seseorang dalam memandang dan memahami dunia ini. 3. Pengguna bahasa yang berbeda akan memberikan pandangan dan pendapat berbeda juga terhadap dunia Hipotesis yang sekarang lebih umum disebut linguistic relativity itu semakin jelas benang pemisahnya dengan pandangan Saphir-Whorf yang konsep dasarnya adalah language determines thought. ( Duranti, 1997: 57 ). Dalam hipotesis linguistic relativity ini disebutkan bahwa beberapa aspek khusus bahasa juga mempengaruhi perilaku manusia. Banyak komponen bahasa yang dapat mempengaruhi aspek – aspek perilaku manusia. Seperti ragam leksikon bahasa mempengaruhi ragam pendefinisian dan penginderaan warna, ragam leksikon jarak atau letak mempengaruhi pengenalan penalaran jarak atau letak, dan sebagainya.( http://plato.stanford.edu/entries/relativism/supplement2...). Beberapa pendapat yang mengatakan bahwa perbedaan bahasa menentukan perbedaan pandangan tentang dunia. Ada 2 cara pandang terhadap dunia dalam hipotesis linguistics relativity ini : 1. Adanya keragaman bahasa ( language diversity ) Bahasa- bahasa yang berasal dari bahasa proto yang beda, berbeda pula komponen bahasanya 2. Bahasa mempengaruhi pemikiran ( language influence in thought ) Struktur bahasa dan leksikon mempengaruhi pandangan dan pendapat seseorang mengenai dunia. Namun A. Lucy ( 1997: 295 ) mencoba memberikan garis batas yang lebih tegas dalam mendefinisikan linguistic relativity ini. A. Lucy menyatakan 3 hal: 1. Linguistic Relativity tidak sama dengan Linguistic Diversity yang hanya melihat keragaman bahasa yang ada di dunia tanpa mengaitkan dengan konsep pikiran 2. Linguistic Relativity bukan berbagai pengaruh konsep bahasa terhadap pikiran. Di sini kita tidak mempelajari perbedaan pengaruh umum dari berbagai bahasa terhadap pikiran, namun kita mempelajari mekanisme psikologis konsep bahasa tertentu terhadap pola pikir penuturnya. 3. Linguistic Relativity tidak sama dengan Cultural Relativity, yang lebih menekankan pada keberadaan kebudayaan ditinjau dari historisnya dan eksistensinya dalam suatu komunitas.



Sementara itu dalam bukunya The Status of Linguistics as Science( 1929: 209 ), sSaphir mengatakan yang dikutip di bawah ini: Humans beings do not live in the objective world alone, nor alone in the world of social activity as ordinarily understood, but are very much at the mercy of the particular language which has became the medium of expression for their society. It quite an illusion to imagine that one adjusts to reality essentially without the use of language and that language is merely an incidental means of solving specific problems of communication or reflection. ( http://plato.stanford.edu/entries/relativism/supplement2... ). Ada beberapa contoh yang menggarisbawahi Hipotesis Saphir-Whorf tersebut, seperti bangsa Turki yang terbiasa menceritakan kembali sebuah fakta baik yang mereka alami sendiri ataupun tidak dengan lebih detil, seolah – olah mereka mengalaminya atau menyaksikannya sendiri. Mereka menceritakan kejadian – kejadian di dunia dengan menyeluruh dan lebih tuntas, dibanding orang Inggris. ( Aksu-Koc dan Slobin,1986 dalam Gentner dan Goldin-Meadow, 2003: 4 ). Pengungkapan kejadian yang sama dengan fitur linguistik dan cara yang berbeda, sedikit banyak mendukung kebenaran hipotesis ini. Sementara itu antara tahun 1950-60an, dengan tujuan menguji hipotesis di atas Brown dan Lenneberg’s ( 1954 ) mengungkapkan apa yang disebut dengan Basic Color Terms dalam bahasa Inggris. Hal ini dipertegas oleh Brent Berlin dan Paul Kay ( 1969 ) yang memulai penelitian di berbagai wilayah di dunia untuk mengetahui pengkategorisasian leksikon warna.. Menurut Berlin dan Kay, warna yang dapat dikategorikan Basic color terms ini yaitu: (1) merupakan leksem tunggal, (2) bukan merupakan hiponim dari warna lain seperti scarlet dalam bahasa Inggris, yang merupakan bagian dari warna merah, (3) pemakaiannya tidak terbatas, seperti blond, yang terbatas pemakaiannya hanya untuk rambut dan kayu, dan (4) warna yang dapat dimasukkan kategori Basic color terms ini adalah yang secara psikologis menonjol dan dikenal lebih dulu oleh masyarakat tertentu. ( Foley, 2002: 153 ) Dari penelitian terdahulu ditemukan bahwa suku Dani di Papua hanya memiliki 2 leksikon untuk merepresentasikan warna, yakni terang light (terang) dan gelap (dark). Hal ini kontras dengan leksikon warna dalam bahasa Inggris yang ada 11, yakni : White



Green Red.



Black



Blue



Brown



Purple Pink Orange Grey



Yellow Gambar 1: Leksikon Warna



Gentner dan Goldin-Meadow ( 2003: 4 ) menyatakan bahwa Rosch ( 1972 ) menemukan suku Dani lebih mudah mengklasifikasikan warna dibanding orang Inggris. Hal ini menyimpulkan bahwa persepsi warna ditentukan oleh kemampuan biologis seseorang, bukan ditentukan oleh bahasa yang digunakannya. Kesimpulan ini juga mendukung Hipotesis SaphirWhorf. Dalam buku yang sama Rosch juga menyebutkan bahwa dalam mengembangkan corak warna dasar tersebut, ternyata muncul beberapa pola; pertama, penamaan corak warna yang muncul mengabaikan jumlah leksikon warna. Kedua, pola universal dalam sistem penamaan warna terlihat melalui bahasa masing – masing. ( idem, hal: 154 ). Sementara itu muncul beberapa pendapat yang menekankan pada kemungkinan bahasa mempengaruhi pemikiran. Misalnya pendapat dari pemikir- pemikir seperti Clark dan Clark ( 1977 ), Devitt dan Sterelny (1987 ), Pinker (1994 ) yang muncul mendampingi Konsep Piagetian yang dalam pengaruhnya terhadap pengembangan perilaku tetap menunjukkan arah dari pikiran mempengaruhi bahasa. Inti dari konsep ini yaitu: (1) struktur konsep manusia relatif konstan dalam fitur intinya, kebudayaan, (2) struktur makna dan struktur konsep saling mempengaruhi.( Gentner dan Goldin-Meadow, 2003: 5 ). Meskipun sampai sekarang masih terdapat silang pendapat mengenai arah pengaruh antara pemikiran dalam core featurenya yakni budaya dan bahasa, namun pada dasarnya linguistics relativity ini merangkum 2 hal yakni; (1) bahwa bahasa itu relatif dan (2) hubungan pemikiran serta budaya dengan bahasa bisa dua arah, (3) relativity di sini artinya kontekstual, dinamis dan subjektif. 2. BEBERAPA BUKTI PENGARUH BAHASA TERHADAP KONSEP BERPIKIR Berikut ini adalah beberapa bukti pengaruh bahasa dalam merepresentasikan space, waktu, substansi dan objek. 2.1Space Bahwa representasi dari tiap bahasa yang ada di dunia terhadap relasi jarak atau space berbeda- beda adalah sudah kita ketahui. Bahasa Inggris membedakan penggunaan preposisi (in)’di dalam’ dengan (on)’pada’ seperti contoh kalimat di bawah ini: a. The apple in the bowl b. The letter in the envelope Yang mana preposisinya menunjukkan makna space yang berbeda dengan kalimat di bawah ini: c. The apple on the table



d. The magnet on the refrigerator door. Preposisi in pada contoh a dan b menunjukkan keadaan benda ( apple dan letter ) terletak di dalam wadahnya ( bowl dan envelope ). Sedangkan contoh c dan d menunjukkan keadaan benda yang terletak di atas( pada, bukan di dalam ) wadahnya. Sementara itu untuk merepresentasikan keadaan yang sama dengan di atas, bahasa Korea berbeda. Dalam bahasa Korea untuk merepresentasikan space yang dekat, melekat ( pada ), terletak dalam wadahnya, seperti contoh b dan d, digunakan leksikon kitta. Pada contoh b dan d, benda melekat atau menempel pada wadahnya. Konsep kitta’tight’ dan nechta ‘loose’ inilah yang mendasari bahasa Korea dalam mengekspresikan space .( Boroditsky, 2000: 1 ). Mc Donough ( 2000 ) dalam Boroditsky juga membuktikannya dalam beberapa penelitian. Pertama, sewaktu dilakukan uji coba terhadap beberapa orang dewasa penutur asli bahasa Inggris dan orang dewasa penutur asli bahasa Korea. Mereka diminta mengekspresikan beberapa space benda. Ternyata penutur asli bahasa Korea lebih detil dalam membedakan antara space yang tight dengan yang loose, sedangkan penutur asli bahasa Inggris sama sekali tidak mempedulikan hal tersebut dan hanya menyebutkan letak bendanya. Penelitian lainnya yakni ketika dilakukan uji coba terhadap anak – anak yang tumbuh dalam keluarga bilingual yang menguasai bahasa Korea dan Inggris. Mereka ternyata tetap menggunakan konsep kitta dan nechta dari bahasa Korea dalam mengekspresikan letak suatu benda, meskipun saat berbahasa menggunakan bahasa Inggris ( ibid ). 2.2. Waktu Sama seperti di atas, dalam mengekspresikan waktu, masing- masing bahasa jelas berbeda. Bahasa Inggris menggunakan terminologi back/ front dalam merepresentasikan waktu. Contoh: a. Falling behind schedule. ( back ) b. Looking forward to a brighter tomorrow. ( front ) c. Proposing theories ahead of our times. ( front ) d. Push deadlines back. ( back ) Scott (1989) dalam Boroditsky menyatakan bahwa terminologi yang sama juga digunakan bahasa Mandarin, dalam fitur linguistik yang beda yaitu shàng ( up ) dan xià ( down ) yang vertikal, di samping terminologi qián (front ) dan hòu ( back ) yang horizontal. Penutur asli bahasa Mandarin lebih cepat dalam menyebutkan bahwa bulan Maret lebih awal dari Juli, bila mereka diberi petunjuk gambar panah vertikal. Sebaliknya dengan penutur bahasa Inggris, dengan arah panah horizontal.. Hal ini karena konsep bahasa Mandarin yang lebih sering merepresentasikan waktu suatu kejadian dengan terminologi vertikal, sehingga mempermudah penutur bahasa Mandarin dalam mengklasifikasikan yang terjadi awal dengan yang terjadi kemudian ( seperti bulan Maret dan Juli ) dengan imajiner garis vertikal. Hal itu berbanding terbalik dengan konsep bahasa Inggris. Pemelajar bahasa kedua baik bahasa Inggris maupun bahasa Mandarin, dari penelitian ini menunjukkan persamaan, bahwa konsep waktu masing- masing bahasa tersebut dapat dipahami dan digunakan setelah mereka menguasai bahasa tersebut. Masalahnya mana yang lebih dulu mereka pelajari sebagai bahasa pertama, atau salience ( penonjolan karakter bahasa ) bahasa mana yang dominan. Dari hasil penelitiannya Scott ( 1989 ) menyimpulkan 2 hal: (1) bahasa adalah powerful tool dalam pembentukan pola pikiran, (2) bahasan memegang peranan penting dalam penggunaan bahasa sehari – hari. Namun peranan bahasa itu dapat berkurang seiring pembelajaran bahasa baru pada seseorang. Dengan selalu menggunakan bahasa keduanya, tidak mustahil mengurangi peranan konsep bahasa lama.( Boroditsky: 2000: 3 ) 2.3. Bentuk dan Substansi Penggunaan bahasa yang berbeda juga berkembang pada pengekspresian bentuk benda dan subtansinya. Di dalam bahasa Inggris, penyebutan benda juga dipengaruhi oleh kuantitasnya, tunggal atau jamak. Contohnya: one candle’sebatang lilin’ jelas beda dengan three candles’tiga batang lilin’. Namun untuk benda yang tidak dapat dihitung, seperti pasir, wax, dan sebagainya, hitungan jamak satu, dua tidak digunakan. Dalam bahasa Jepang juga digunakan konsep yang sama. Untuk benda yang bentuknya kecil bulat dipakai leksikon ~ ko’sebutir’, sedangkan benda yang panjang satuannya memakai ~ hon’sebatang’. Bahasa Indonesia juga menggunakan konsep yang sama, contohnya ‘sebatang pohon’ ( karena pohon batangnya panjang ) dan ‘sebutir kelereng’ ( karena kelereng berbentuk bulat kecil ). Namun ini berbeda dengan bahasa Yucatec Mayan, yang penelitiannya dilakukan oleh Lucy and Gaskins (2001) dalam Boroditsky ( 2000: 3 ). Bahasa Yucatec Mayan tidak mengenal leksikon – leksikon satuan unit benda. Bahasa ini menyebut two candles dengan terminologi yang bermakna ‘dua kali bentuk panjang dari wax’ . Lucy dan Gaskins melakukan uji coba terhadap penutur asli bahasa Yucatec Mayan dan bahasa Inggris. Mereka masing- masing diberi sebuah sisir plastik yang ada pegangannya. Kemudian mereka diminta mencari benda yang menyerupai sisir tadi, dari benda yang disediakan yakni sebuah sisir kayu dengan bentuk serupa, dan sisir plastik yang tidak ada pegangannya. Ternyata penutur bahasa Inggris memilih sisir kayu, karena bentuknya sama dengan sisir plastik yang yang pertama. Sedangkan penutur bahasa Yucatec Mayan lebih memilih sisir plastik dengan alasan bahan dasarnya sama. Penemuan ini menurut Lucy dan Gaskins membuktikan bahwa aspek gramatikal bahasa mempengaruhi konseptualitas berpikir seseorang, yang salah satunya direpresentasikan dalam penentuan bentuk dan subtansi benda.



2.4. Objek Pembedaan gender benda ( feminine dan masculine ) dalam bahasa Jerman dan Spanyol yang unik, telah dibuktikan oleh Boroditsky dan kawan- kawannya dalam sebuah penelitian dan uji coba. Meskipun uji coba yang dilakukan dengan menggunakan instruksi dan setting bahasa Inggris, namun tetap saja konsep bahasa ibu masing – masing yang mereka pergunakan. Sebagai contoh, dalam mengekspresikan bridge’jembatan’, penutur bahasa Spanyol mengklasifikasikannya feminine, karena cantik, elegan, mengkilat, berkilau oleh cahaya lampu, membuat tenang yang memandang. Di lain pihak, penutur asli bahasa Jerman menyebutnya bergender masculine karena besar, menakutkan, gagah, bermenara tinggi, tegak. Contoh lain sewaktu mereka diminta mengekspresikan kata key’kunci’. Bahasa Spanyol menyebutnya feminine karena tipis, kurus, berkilat, unik, dan indah bentuknya. Namun bahasa Jerman mengklasifikasikannya masculine karena kunci bergerigi, kuat karena terbuat dari besi, dan keras. Dari beberapa penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pertama, bahasa mempengaruhi pikiran, dan yang kedua, seseorang yang menguasai bilingual, atau lebih, pemikirannya akan dipengaruhi konsep dari bahasa yang paling dominan language repertoirenya.( Boroditsky, 2000: 4 ). 3. ANALISIS REALISASI DALAM BAHASA JEPANG Bila melihat pendapat para linguis terdahulu dan berbagai eksperimen yang telah mereka lakukan, kita tidak dapat memungkiri betapa kuatnya pengaruh konsep bahasa terhadap pikiran. Hal ini kemudian terealisasikan dalam penggunaan fitur linguistik yang berbeda – beda dari setiap penutur bahasa tersebut, meskipun untuk mengekspresikan hal yang sama. Bukti ini ikut memberikan dukungan bagi Hipotesis Saphir Whorf, meskipun tidak menyetujuinya secara absolut, karena pengaruh konsep bahasa itu bisa mengalami perubahan, seiring dengan perubahan bahasa yang sering digunakan seseorang. Bila seseorang yang bahasa ibunya misal bahasa Indonesia, karena tinggal lama di Amerika dan mungkin juga berubah kewarganegaraan Amerika, maka konsep bahasa yang dianutnya juga akan berubah dari bahasa Indonesia menjadi konsep bahasa Inggris. Pola pemikirannya juga akan mengikuti konsep bahasa Inggris. Dalam pembelajaran bahasa Jepang, mau tidak mau, konsep yang ada dalam bahasa Jepang ikut diterapkan dalam pola berpikir pemelajar setiap kali menghadapi native speaker bahasa Jepang .Juga di saat pemelajar menghadapi pengajar bahasa Jepang atau bahkan dengan orang Jepang di luar lingkungan akademis. Konsep kesantunan yang kental yang terdapat dalam bahasa Jepang turut memberi masukan bagi pemelajar bahasa Jepang untuk lebih santun dalam bertutur, meskipun saat bertutur dalam bahasa Indonesia atau Jawa sekalipun. Bagaimana tidak, sebagai bangsa Indonesia yang bersuku Jawa yang dianggap berbudaya halus dan sangat menjunjung tinggi kesantunan, ternyata dalam tuturan keseharian masih lebih vulgar dan terus terang, bahkan terkadang tidak menyadari perasaan lawan bicara, dibanding bangsa Jepang. Namun akan penulis coba memberikan beberapa contoh yang lebih riil. Dalam sebuah kalimat yang isinya penolakan terhadap ajakan seseorang, penutur bahasa Indonesia kadang menggunakan bahasa yang terus terang, meskipun tujuannya juga tidak salah, supaya yang mengajak mengetahui kebenarannya mengapa tidak bisa memenuhi ajakannya. Namun ternyata jika diterapkan kepada orang Jepang hal itu menjadi kurang sopan. Untuk itu penulis akan memberikan contoh kalimat ajakan berikut penolakan dari lawan bicara dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia: A: Besok sore mau ngga makan malam sama saya di Restoran baru itu? B: Aduh, maaf, saya sudah ada janji dengan orang tua saya tuh….. Si B menjawab dengan terus terang demi menghindari kecurigaan dari si A, atau juga supaya tidak menyinggung perasaan si A, maka lebih baik dia berterus terang mempunyai janji dengan siapa. Jawaban si B menurut konsep bahasa Indonesia sudah cukup sopan untuk menolak ajakan. Namun dalam bahasa Jepang untuk mengekspresikan hal yang sama, kita akan melihat fenomena yang lain: A: B:



Ashita no yubee, ano atarashii resutoran de ban gohan wo tabemasenka. Besok sore itu baru restoran malam nasi makan(Vajakan) Chotto …



Jawaban ‘chotto …’ yang bermakna literal ‘sedikit’ namun bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘maaf …’ adalah ungkapan yang biasa digunakan dalam melakukan penolakan terhadap ajakan. Dengan mengucapkannya, tanpa menjelaskan alasan penolakan, si A langsung tahu bahwa ajakannya ditolak. Sangat tidak sopan untuk menanyakan alasan penolakan. Bagi si B, dengan tidak menjelaskan alasan penolakan, maka resiko menyinggung perasaan si A semakin kecil pula. Apalagi bila alasan penolakan itu adalah karena urusan keluarga atau pribadi, maka akan menyinggung bila diungkapkan dengan terus terang. Dari contoh kecil ini saja sudah terlihat betapa orang Jepang sangat mempertimbangkan perasaan lawan bicara dalam suatu peristiwa tutur, yang menunjukkan konsep kesantunan bahasa Jepang. Contoh di atas juga merupakan realisasi konsep ketidak terusterangan yang dianut bangsa Jepang. Pemelajar bahasa Jepang yang sudah mencapai tingkat mahir, atau kemudian menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa sehari – hari, tentu juga akan terbawa menggunakan bentuk kalimat elips. Dalam bahasa Jepang banyak ditemui penggunaan kalimat ellips seperti di



atas Mau tidak mau konsep kesantunan dan ketidak terusterangan yang terdapat dalam bahasa Jepang juga mempengaruhi perilaku tiap pemelajar dalam bertutur, khususnya bila menghadapi orang Jepang. Dengan melihat berbagai pembuktian penelitian dari para linguis di atas, ini mendukung teori bahwa bahasa adalah powerful tool yang dapat memperngaruhi konsep pikiran seseorang baik secara insindental maupun habitual.



4. KESIMPULAN Hipotesis Saphir Whorf adalah sebagai pelopor dalam pengungkapan hubungan bahasa dengan konsep pikiran atau yang lingkupnya lebih luas yakni kebudayaan. Meskipun arah pengaruhnya dari mana ke mana dulu, sampai sekarang masih menjadi perdebatan, namun tidak ada yang menolak teori yang menyatakan ada hubungan antara bahasa dengan pikiran / kebudayaan. Dari tulisan di atas, setidaknya kita mengetahui bahwa ekspresi bahasa yang dipergunakan seseorang untuk merepresentasikan konsep pikirannya terhadap entitas yang ada di dunia ini, ternyata sangat dipengaruhi oleh konsep bahasa yang dikuasai seseorang. Ini memperkuat teori yang mengatakan bahwa bahasa membentuk konsep pikiran seseorang. Namun seberapa jauh dan seberapa besar pengaruhnya, antara beberapa bahasa yang dipelajari dan dikuasai seseorang, sangat tergantung pada berapa lama penggunaannya dan dominasi repertoire bahasa mana yang paling kuat. 5. REFERENSI [1] Dedre Gentner dan S. Goldin- Meadow. Language and Mind. 2003. USA:Massachussetts Institute of Technology [2] Lera Boroditsky. 2000. Linguistik Relativity. USA: Massachusetts Institute of Technology. Diunduh dari http :www_psych.stanford.edu/~lera/papers/ECS-proof.pdf tanggal 10 Mei 2009 [3] ________. The Linguistics Relativity Hypothesis. ______. diunduh dari ( http://plato.stanford.edu/entries/relativism/supplement2...) pada tanggal 10 Mei 2009. [4] William A. Foley. 2002. Anthropological Linguistics. An Introduction. England: Blackwell Publisher Ltd. [5] Alessandro Duranti. 1977. Linguistic Anthropology. USA: Cambridge University Press [6] John A. Lucy. 1997. Linguistic Relativity. Illinois: University of Chicago Press