Laporan Pendahuluan Isk [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

Bagian Keperawatan Medikal Bedah Program Pendidikan Profesi Ners STIKes Baramuli



LP MINGGU l Tgl 08 April 2017



INFEKSI SALURAN KENCING



Disusun Oleh:



CI LAHAN



Ns. Olche Hingkua, S. Kep



NAMA



: HESTIN LAONAHA, S. Kep



NIM



:



CI INSTITUSI



Ns. Anuthfa Amri, S. Kep Ns. Muh. Rudini, S.Kep Ns. Arnol Sahabuddin, S



Dibuat Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Pendidikan Profesi Ners STIKes Baramuli 2017



Bagian Keperawatan Medikal Bedah Program Pendidikan Profesi Ners STIKes Baramuli Laporan Kasus Tgl 08 April 2017



ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS INFEKSI SALURAN KENCING DIRUANG WANITA PERAWATAN PUSKESMAS TENTENA



Disusun Oleh: NAMA



: HESTIN LAONAHA, S. Kep



NIM



:



CI LAHAN



Ns. Olche Hingkua, S. Kep



CI INSTITUSI



Ns. Anuthfa Amri, S. Kep Ns. Muh. Rudini, S.Kep Ns. Arnol Sahabuddin, S Kep



Dibuat Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Pendidikan Profesi Ners STIKes Baramuli 2017



INFEKSI SALURAN KEMIH



A. PENGERTIAN Infeksi saluran kemih adalah ditemukannya bakteri pada urine di kandung kemih yang umumnya steril. (Arif mansjoer, 2001) Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi sepanjang saluran kemih, terutama masuk ginjal itu sendiri akibat proliferasi suatu organisme (Corwin, 2001 : 480) Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001) Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu tanda umum yang ditunjukkan pada manifestasi bakteri pada saluran kemih (Engram, 1998 : 121). Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah berkembangnya mikroorganisme di dalam saluran kemih



yang



dalam



keadaan



normal



tidak



mengandung



virus/mikroorganisme lain. B. KLASIFIKASI Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut : a.



Kandung kemih (sistitis)



b. Uretra (uretritis) c.



Prostat (prostatitis)



d. Ginjal (pielonefritis)



C. ETIOLOGI Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: a.



Pseudomonas, Proteus, Klebsiella



b. Escherichia Coli c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.



bakteri,



Pada umumnya faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan infeksi saluran kemih adalah : a. Wanita cenderung mudah terserang dibandingkan dengan laki-laki. b. Faktor-faktor postulasi dari tingkat infeksi yang tinggi terdiri dari urethra dekat



kepada rektum dan kurang proteksi sekresi prostat dibandingkan



dengan pria. c.



Abnormalitas Struktural dan Fungsional



d. Mekanisme yang berhubungan termasuk stasis urine yang merupakan media untuk kultur bakteri, refluks urine yang infeksi lebih tinggi pada saluran kemih dan peningkatan tekanan hidrostatik Contoh : strikur,anomali ketidak sempurnaan hubungan uretero vesicalis e. Obstruksi Contoh : Tumor, Hipertofi prostat f. Gangguan inervasi kandung kemih Contoh : Malformasi sum-sum tulang belakang kongenital, multiple sklerosis g. Penyakit kronis Contoh : Gout, DM, hipertensi h. Instrumentasi Contoh : prosedur kateterisasi



D. PATOFISIOLOGI Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui: a.



Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran kemih yang terinfeksi.



b.



Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui darah yang terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk melalui darah dari suplay jantung ke ginjal.



c.



Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan melalui helium ginjal.



d.



Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi. Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan



ascending. Tetapi dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi. Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang sementara mendapat pengobatan imun supresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya infeksi di salah satu tempat misalnya infeksi S.Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi dari tulang, kulit, endotel atau di tempat lain. Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung kemih dan menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah. Infeksi ascending juga bisa terjadi oleh adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme yang melalui ureter naik ke ginjal untuk menyebabkan infeksi. Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.



E. MANIFESTASI KLINIK -Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah : a.



Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih



b. Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis c.



Hematuria



d. Nyeri punggung dapat terjadi -



a.



Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah : Demam



g. Menggigil h. Nyeri panggul dan pinggang i.



Nyeri ketika berkemih



j.



Malaise



k. Pusing l.



Mual dan muntah



F. DIAGNOSTIK TEST a. Urinalisis 1. Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih 2. Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. b. Bakteriologis 1. Mikroskopis 2. Biakan bakteri c. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik d. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. e.



Metode tes



1. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.



2. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). 3. Tes-tes tambahan : Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.



G. KOMPLIKASI a.



Gagal ginjal akut



b. Ensefalopati hipertensif c.



H.



Gagal jantung, edema paru, retinopati hipertensif



PENATALAKSANAAN Tatalaksana umum : atasi demam, muntah, dehidrasi dan lain-lain. Pasien dilanjutkan banyak minum dan jangan membiasakan menahan kencing untuk mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin (pyriduin) 7-10 mg/kg BB hari. Faktor predisposisi dicari dan dihilangkan. Tatalaksana khusus ditujukan terhadap 3 hal, yaitu pengobatan infeksi akut, pengobatan dan pencegahan infeksi berulang serta deteksi dan koreksi bedah terhadap kelamin anatamis saluran kemih. a.



Pengobatan infeksi akut : pada keadaan berat/demam tinggi dan keadaan umum lemah segera berikan antibiotik tanpa menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi kuman. Obat pilihan pertama adalah ampisilin, katrimoksazol,



sulfisoksazol asam nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksin. Sebagai pilihan kedua adalah aminoshikosida (gentamisin, amikasin, dan lain-lain), sefatoksin, karbenisilin, doksisiklin dan lain-lain, Tx diberikan selama 7 hari. b. Pengobatan dan penegahan infeksi berulang : 30-50% akan mengalami infeksi berulang dan sekitar 50% diantaranya tanpa gejala. Maka, perlu dilakukan biakan ulang pada minggu pertama sesudah selesai pengobatan fase akut, kemudian 1 bulan, 3 bulan dan seterusnya setiap 3 bulan selama 2 tahun. Setiap infeksi berulang harus diobati seperti pengobatan ada fase akut. Bila relaps/infeksi terjadi lebih dari 2 kali, pengobatan dilanjutkan dengan terapi profiloksis menggunakan obat antiseptis saluran kemih yaitu nitrofurantorin, kotrimoksazol, sefaleksi atau asam mandelamin. Umumnya diberikan ¼ dosis normal, satu kali sehari pada malam hari selama 3 bulan. Bisa ISK disertai dengan kalainan anatomis, pemberian obat disesuaikan dengan hasil uji resistensi dan Tx profilaksis dilanjutkan selama 6 bulan, bila perlu sampai 2 tahun. c.



Koreksi bedah : bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan obstruksi, perlu dilakukan koreksi bedah. Penanganan terhadap refluks tergantung dari stadium. Refluks stadium I sampai III bisanya akan menghilang dengan pengobatan terhadap infeksi pada stadium IV dan V perlu dilakukan koreksi bedah



dengan



reimplantasi



ureter



pada



kandung



kemih



(ureteruneosistostomi). Pada pionefrosis atau pielonefritis atsopik kronik, nefrektami kadang-kadang perlu dilakukan.



ASUHAN KEPERAWATAN



A.PENGKAJIAN 1. Identitas klien Nama, Umur, Jenis Kelamin, Agama, Suku, Bangsa, Pekerjaan, Pendidikan, Status Perkawinan, Alamat, Tanggal Masuk Rumah Sakit. 2.Riwayat Kesehatan Sekarang: Merupakan riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien, biasanya jika klien mengalami ISK bagian bawah keluhan klien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit- sedikit serta rasa sakit tidak enak di suprapubik. Dan biasanya jika klien mengalami ISK bagian atas keluhan klien biasanya sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak atau nyeri pinggang. 3.Riwayat Kesehatan Dahulu Pada pengkajian biasanya ditemukan kemungkinan penyebab infeksi saluran kemih dan memberi petunjuk berapa lama infeksi sudah di alami klien. Biasanya klien dengan ISK pada waktu dulu pernah mengalami penyankit infeksi saluran kemih sebelumnya atau penyakit ginjal polikistik atau batu saluran kemih, atau memiliki riwayat penyakit DM dan pemakaian obat analgetik atau estrogen, atau pernah di rawat di rumah sakit dengan dipasangkan kateter. 4.Riwayat Kesehatan Keluarga: Merupakan riwayat kesehatan keluarga yang



biasanya dapat meperburuk



keadaan klien akibat adanya gen yang membawa penyakit turunan seperti DM, hipertensi dll. ISK bukanlah penyakit turunan karena penyakit ini lebih disebabkan dari anatomi reproduksi, higiene seseorang dan gaya hidup seseorang, namun jika ada penyakit turunan di curigai dapat memperburuk atau memperparah keadan klien.



5. Riwayat psikososial dan spiritual Biasanya klien cemas, bagaimana koping mekanisme yang digunakan



gangguan



dalam beribadat karena klien lemah.



6.



Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan Pandangan pasien tentang penyakitnya dan cara yang dilakukan pasien menangani penyakitnya a. Aktifitas dan latihan Biasanya pasien mengalami penurunan aktifitas berhubungan dengan kelemahan tubuh yang dialami. Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu. b. Istirahat dan tidur Istirahat dan tidur sering mengalami gangguan karena nyeri yang dialami



c. Nutrisi metabolic Kemampuan pasien dalam mengkonsumsi makanan mengalami penurunan akibat nafsu makan yang kurang karena mual, muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali. d. Eliminasi Eliminasi alvi klien tidak dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. Sedangkan eliminasi urine mengalami gangguan karena ada organisme yang masuk sehingga urine tidak lancar. e. Kognitif Perseptual. Daya ingat pasien ISK kebanyakan dijumpai tidak mengalami gangguan. f. Konsep Diri Perasaan menerima dari pasien dengan keadaannya, kebanyakan pasien tidak mengalami gangguan konsep diri.



g. Pola Koping Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan oleh pasien adalah dengan meminta pertolongan orang lain. h. Pola seksual reproduksi Kemampuan pasien untuk melaksanakan peran sesuai dengan jenis kelamin. Kebanyakan pasien tidak melakukan hubungan seksual karena kelemahan tubuh i. Pola peran Hubungan Perubahan pola peran hubungan dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melakukan peran.



B. DIAGNOSA KEPERAWATAN a.



Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi urethra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lainnya



b. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan sering berkemih, urgency dan hesistancy c.



Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan nokturia



d. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi inflamasi e.



Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia



f.



Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan evaporasi berlebihan dan muntah



g. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, mekanisme coping tidak efektif h. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.



C. INTEVENSI KEPERAWATAN



a.



Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain Tujuan: Nyeri hilang dengan spasme terkontrol Kriteria hasil : Nyeri menghilang ditandai dengan klien melaporkan tidak nyeri waktu berkemih, tidak nyeri pada daerah suprapubik Intervensi 1.



:



Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang



b.



2.



Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri



3.



Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan.



4.



Jika dipasang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari.



5.



Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan



6.



Kolaborasi pemberian analgetik



Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan sering berkemih, urgensi dan hesitancy Tujuan: Pola eliminasi urine membaik Kriteria hasil : Pola eliminasi urine membaik ditandai dengan klien melaporkan berkurangnya frekuensi ( sering berkemih) urgensi dan hesistensi. Intervensi



:



1. Kaji pola eliminasi klien 2. Rasional: sebagai dasar dalammenentukan intervensi selanjutnya 3. Dorong pasien untuk minum sebanyak mungkin dan mengurangi minum pada sore hari 4. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-3 jam dan bila tiba- tiba dirasakan. 5. Siapkan / dorongan dilakukan perawatan perineal setiap hari. c.



Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan nokturia



Tujuan : Pola tidur membaik Kriteria hasil: Pola tidur membaik ditandai dengan klien melaporkan dapat tidur, klien nampak segar Intervensi



:



1. Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi 2. Berikan tempat tidur yang nyaman 3. Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur misalnya, mandi hangat dan masase,segelas susu hangat 4. Kurangi kebisingan dan lampu 5. Instruksikan tindakan relaksasi 6. Kolaborasi pemberian obat a) Analgetik b) Sedatif d. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi iflamasi Tujuan : Suhu tubuh kembali normal Kriteria hasil: Suhu tubuh kembali normal ditandai dengan klien melaporkan tidak demam, tidak terba panas, TTV dalam batas normal Intervensi



:



1. Kaji adanya keluhan atau tanda-tanda perubahan peningkatan suhu tubuh 2. Observasi TTV terutama suhu tubuh sesuai indikasi 3. Kompres air hangat pada dahi dan kedua aksilla 4. Kolaborasi pemberian obat-obatan antipiretik e.



Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia Tujuan : Tidak terjadi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Kriteria hasil : Kebutuhan nutrisi adekuat ditandai dengan peningkatan berat badan, menunjukkan peningkatan selera makan, klien menghabiskan porsi makanan yang diberikan.



Intervensi



:



1. Kaji intake makanan klien 2. Dorong tirah baring/atau pembatasan aktivitas 3. Berikan kebersihan oral 4. Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru, temani 5. kolaborasi pemberian obat-obatan antiemetik



DAFTAR PUSTAKA



Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC Enggram,



Barbara.



(1998).



Rencana



Asuhan



Keperawatan



Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed.3 Cet.1. Jakarta : Media Aesculapius Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.



ASUHAN KEPERAWATAN Nama Mahasiwa



: Hestin Laonaha, S.Kep



Ruangan



: Kamar Wanita



Tanggal Pengkajian



: 1 April 2017



I. IDENTITAS DIRI KLIEN



II.



Nama



: Ny. “H”



Tgl Masuk RS



: 1 April 2017



Tmpt /Tgl Lahir



: Tentena 20 Mei 1980



No. RM



:



Umur



: 37 Thn



Sumber Informasi



: Klien & Kluarga



Jenis Kelamin



: Perempuan



Keluarga yg dpt di hubungi: Tn.”A”



Alamat



: Tentena



Pendidikan



: SMA



Sts. Perkawinan



: Kawin



Pekerjaan



: Petani



Agama



: Kristen



Alamat



: Tentena



Suku



: Mori



Lain-lain



:-



Pendidikan



: SMA



Pekerjaan



: IRT



Lama Kerja



: -



STATUS KESEHATAN SAAT INI 1. Alasan masuk



: Klien mengatakan nyeri kalau BAK yang dialami ± 3 hari



yang lalu disertai rasa panas dan keluar darah sedikit. 2. Keluhan utama : Nyeri BAK. 3. Factor pencetus : Kurang mengkonsumsi air putih. 4. Lamanya keluhan: klien mengatakan keluhan nyeri spanjang miksi. 5. Timbulnya keluhan: mendadak 6. Faktor yang memperberat : klien mengatakan keluhan bertambah berat jika banyak duduk.



7. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya sendiri: tidak banyak bergerak/ istirahat



8. Diagnosa medik Infeksi Saluran Kencing. lll. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Penyakit yang pernah dialami: a. Kanak-kanak : demam b. Kecelakaan: tidak pernah c. Pernah dirawat: pernah 2. Imunisasi, klien mengatakan pernah diimunisasi 3. Kebiasaaan : Minum Teh 4. Obat-obatan : Penurun demam ( PCT )



5. Pola nutrisi Sebelum Sakit: 



berat badan



:55 Kg







tinggi badan



: 155 cm







jenis makanan



: Nasi, sayur, ikan , kadang-kadang daging







Makanan yang tidak disukai : tidak ada







Nafsu makan







perubahan berat badan 6 bulan terakhr:



(



) Bertambah



:(√)



…….. Kg (√ ) Tetap 60Kg () Berkurang ………..



Kg Perubahan setelah sakit: Jenis diet



:-



Rasa mual ( + / - ) Muntah



: tidak pernah muntah



Porsi makan dihabiskan 6. Pola eliminasi Sebelum Sakit: a. Buang air besar:



Nafsu makan



:



baik



b. Frekuensi



: 1 kali perhari



c. Penggunaan pencahar



: tidak mengkomsumsi obat pencahar



d. Waktu : pagi



Konsitensi: padat



e. Buang air kecil f. Frekuensi: 2- 4 x perhari g. Jumlah urin : sedikit.



warna: kuning kemerahan



bau : amoniak



Keluhan lain: nyeri kalau BAK.



Setelah Sakit : a. Buang air besar



b.



Frekuensi



: 1 x sehari



Waktu



: pagi hari



Konsistensi



: padat lunak



Buang air kecil Frekuensi



: 1-3 x perhari



Warna



: Kuning



Bau



: Berbau urea



Keluhan Lain



: Klien mengatakan terasa panas dan nyeri kalau



buang air kecil. 7. Pola tidur dan istirahat Sebelum sakit: ~ Waktu tidur (jam): Malam 23.00-05.00 siang14.00-15.00 ~ Lama tidur perhari: 7 jam ~ Kebiasaan pengantar tidur: tidak ada ~ Kebiasaan saat tidur: mendengkur Perubahan Setelah Sakit: Kien mengatakan tidak ada perubahan setelah sakit 8. Pola aktivitas dan latihan: Sebelum sakit:



a. Kegiatan dalam pekerjaan:IRT b. Kegiatan diwaktu luang: kumpul sama keluarga Perubaha Setelah Sakit: Klien mengatakan selama sakit tidak bisa lagi beraktifitas, klien merasa lemah dan kebutuhannya tergantung sama keluarga III.



RIWAYAT KELUARGA Genogram:



37



40



12



Keterangan: :Laki-laki :Perempuan : Klien : Meninggal IV. ASPEK FSIKOSOSIAL 1. Pola pikir dan persepsi a. Alat bantu yang digunakan: tidak ada



6



b. Kesulitan yang dia: tidak ada 2. Persepsi sendiri Hal yang amat difikirkan saat ini: tentang penyakitnya dan ingin sembuh secepatnya Harapan setelah perawatan: bisa memenuhi kebutuhan dasarnya 3. Suasana hati: Rentang perhatian: klien cemas dan gelisah, klien mengatakan khawatir dengan keadaannya, klien nampak slalu menanyakan kondisinya 4. Hubungan/komunikasi a. Tempat tinggal bersama yaitu : suami b. Bicara Baik



5. Kehidupan keluarga : 1. Adat istiadat yang dianut : Mori 2. Pembuat keputusan



: keluarga;



3. Pola kumunikasi



: baik



4. Pola keuangan



: Kurang memadai



e. Pertahan koping f. Pengambilan keputusan : musyawarah dengan keluarga g. Yang disukai tentang diri sendiri : tidak ada h. Yang ingin diubah dari kehidupan: memperbaiki pola makan dan kehidupan sehari-hari sesuai prosedur kesehatan yang dianjurkan 6. Sistem nilai dan kepercayaan a. Apakah Tuhan, Agama, Kepercayaan, penting bagi anda: klien mengatakan ya



b. Kegiatan agama yang dilakukan (macam dan frekuensi): ke Gereja c. Kegiatan Agama/kepercayaan yang ingin dilaksanakan diPuskesmas : berdoa V.PENGKAJIAN FISIK 1. Kesadaran: Compos mentis



Keadaan Umum: sedang



Tanda-tanda vital: TD: 140/80 mmHg



N: 100 x/menit



P: 32 x/menit



S: 38,8 C.



2. Kepala a. Inspeksi: Bentuk kepala: tidak ada pembesaran Kesimetrisan muka, tengorak: Simetris Warna/distribusi rambut/kulit kepala: Warna hitam, tebal dan kulit kepala bersih dan tidak ada lesi. Klien nampak gelisah b. Palpasi Massa: tidak ada Nyeri tekan: tidak ada c. Keluhan yang berhubungan: 3. Muka  Inspeksi 



Simetris kiri dan kanan, ekspresi wajah nampakmeringisjikakesakitan Palpasi







Tidak ada benjolan dan tidak terasa nyeri pada bagian muka



4. Mata



a. Inspeksi: 



Kelopak mata: tidak nampak pembengkakan.







Konjungtiva: tidakanemis







Skleratidakikterus,







Ukuran pupil: isokor







visus: bisa melihat dengan baik







Raksi terhadap cahaya: pupil mengecil







Gerakan bola mata: dapat menggerakkan bola mata semua arah mata angin



b. Palpasi; 



TIO: tidak ada







Massa tumor: tidak ada







Nyri tekan: tidak ada



c. Lain-lain: Fungsi penglihatan : Baik 5. Hidung a. Inspeksi Bentuk kesimetrisan lubanghidungsimetris, bengkak tidak ada, septum tidak ada,secret tidak ada. terpasang O23-4 Lpm b. Palpasi Sinus tidak ada nyeri tekan/bengkak tidak ada 6. Mulut dan tenggoraokan: Sulit/gangguan bicara tidak ada Klien Nampak batukberlendir 7. Leher a. Inspeksi:



Bentuk kesimetrisan: simetris Mobilisasi leher: baik b. Palpasi c. Kelejar tiroid: tidak ada pembesaran d. Vena jugularis: tidak terdapat distensi 8. Dada, paru-paru dan jantung a. Inspeksi 



Bentuk dada normal chest dan simetris







Nampak tarikan intercostal







Frek.Napas 32 x/menit







Klien Nampak sesak



b. Palpasi 



Nyeri tekan tidak ada dan tidak ada massa tumor.







Denyut apeks teraba







Auskultasi;







Suara nafas: vesikuler







Suara tambahan:







Bunyi jantung I dan II terdengar dengan jelas.



c. Perkusi: 



Heper,/lien/ginjal/kandung kemih/; dalam batas normal



9. Abdomen a. Inspeksi: Kesimetrisan dan warna sekitar tidak ada perbedaan b. Auskultasi: Peristaktik: 7kali permenit



c. Perkusi: Identifikasi batas organ: Timpani d. Palpasi: Hepar/lien/ginjal/kandung kemih: tidak ada klainan 10. Status Neurologis: GCS: E:4 M: 6



V:5



Refleks Fisiologis: Bisep (+), Trisep (+), Patella (+), Ekstremitas Keadaan ekstremitas: baik Kesimetrisan : Atropi : tidak terdapat pembesaran ROM : aktif Edema : tidak edema Cyanosis : tidak sionosis



Perubahan warna



Akral : hangat



: tidak terjadi perubahan warna pada ekstremitas



Kulit: turgor kulit elastis,



Bibir: bibir kering



Kuku: tidak sionosis



CRT : < 2 Detik



Tanpak pemasangan IVFD di sebelah tangan bagian kanan Kekuatan otot



5 5



5 5



VI.DATA PENUNJANG Urinalisis a) Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih b) Hematuria 5 – 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih.



VII.TERAPI MEDIS a.



Antibiotik : Untuk menghilangkan bakteri.



b. Antibiotik jangka pendek dalam waktu 1 –2 minggu c.



Antibiotik jangka panjang ( baik dengan obat yang sama atau di ganti ) dalam jangka waktu 3 – 4 minggu



d.



Pengobatan profilaktik dengan dosis rendah satu kali sehari sebelum tidur dalam waktu 3 – 6 bulan atau lebih ini merupakan pengobatan lanjut bila ada komplikasi lebih lanjut.



e.



Analgetik dan Anti spasmodic Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh penderita



f.



Obat golongan Venozopyridine : Pyridium. Untuk meredakan gejala iritasi pada saluran kemih



PENGELOMPOKAN DATA Data Subjektif



Data Objektif



-



Klien mengatakan nyeri pada perut



-



nyeri



terasa



bertambah



beraktifitas -



Klien



mengatakan



cemas



khawatir dengan keadaannya -



Klien



mengatakan



tidak



beraktifitas karna sesak -



Keluarga



klien



jika -



TD: 140/80 mmHg



dan -



P : 32 x/i



bisa -



mengatakan -



sebagian kebutuhan klien dibantu -



Klien penyakitnya



bertanya



tentang -



N : 100 x/i



S : 36,8 °c Klien Nampak lemah Klien cemas dan gelisah Kebutuhan



(ADL)



klien



dibantu keluarga Terpasang IVFD RL 28 tpm



ANALISA DATA No



Data .



1



DS



Nyeri pada perut :



DO



-



Masalah Gangguan nyaman nyeri



pasien mengeluh nyeri



DO :



Etiologi



-



TD: 140/80 mmHg



-



N : 100 x/i



-



P : 32 x/i



-



S : 36,8 °c



rasa



2



DS:



Proses infeksi



DO: -



TD: 140/80 mmHg



-



N : 100 x/i



-



P : 32 x/i



-



S : 36,8 °c



Hipertermi



RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN



No 1



Diagnose keperawatan



Tujuan



Intervensi



Gangguan rasa nyaman : Pola nafas efektif, dengan nyeri pada daerah uterus criteria hasil : dansekitarnya,



-



Pasientidaksesak



sehubungan dengan akibat



-



Pasientampaktenang



Rasional



1.Penjelasan t



1. Beripenjelasantentan 2. Sebagaiacu



gpenyebab rasa nyeri 3.Posisitegakm



4. Untukmem



adanya peradangan DS:



2. Observasi TTV -Klien meng ataka



1. Mempermu



n



2. agar pasien 3. Tempatkanklienpada



nyeri



posisi semi fowler



DO: - klien nampak meringis



4. Berikanobatsesuaiind



- TD: 140/80 mmHg



ikasi



N : 100 x/i P : 32 x/i S : 36,5 °c



1. Pantau TTV



2. Suhutubuhpasien normal ( 36 – 37 c) 2)



Pasientenang



2. Beri penjelasan tentang kenaikan



Hipertermisehubunganden ganakibatadanyainfeksi



suhu tubuh 3. Anjurkan klien banyak minum air



DS: Klien



mengatakan



merasa demam DO: S = 38



4. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik.



3. minum ban



4.antipiretik d



CATATAN PERKEMBANGAN I



Tanggal



No.Dx



Senin21/0 32017



1



ImplementasiKeperawatan Pukul 14.20



21/03/2017



1. memberipenjelasantentangpenyebab rasa nyeri



Pukul 20.15



2. mengobservasi TTV



S : klienmeng



3. menempatkanklienpadaposisi semi fowler



O : klien Nam



4. memberikanobatsesuaiindikasi



A : Masalahbe



P : Lanjutkan



Senin 21/03/ 2017



2



Pukul 14.45



21/03/2017



1. Memantau TTV



Pukul 20.35



2. memberi penjelasan tentang kenaikan suhu tubuh



S: Klien meng



3. menganjurkan klien banyak minum air



O: s=38



4. berkolaborasi dalam pemberian antipiretik



A: Masalahbe



P: Lanjutkanin