Mewujudkan Integrasi Melalui Seni Dan Sastra [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

Mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra Tokoh yang ikut mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra Peranan Ismail Marzuki Pada Masa Kolonial Belanda Tahun 1930-1942 danPemerintah Jepang di Indonesia Tahun 1942-1945



Ismail Marzuki lahir dan dibesarkan di Batavia, jantung kekuasaan KolonialBelanda di Indonesia waktu itu. Semangat zaman memang sangat mempengaruhi danmembentuk kepribadian Ismail Marzuki dalam menekuni dan menjatuhkan pilihan sebagaimusikus, profesi yang saat itu masih di pandang sebelah mata. Menurut sejumlah sumber, untuk kali pertama Ismail Marzuki mencipta lagu berjudul Oh Sarinah. Lagu dengan syairbahasa Belanda itu dibuat saat dia berusia tujuh belas tahun (1931), nyaris bersamaanwaktunya dengan pembebasan Sukarno salah seorang pemimpin PNI pada bulan Desember 1931. Pada tahun 1947, presiden pertama Republik Indonesia ini mengarang buku yang berjudul Sarinah. Menurut Sukarno, “saya namakan Sarinah, sebagai tanda terima kasih. Ketika masih kanak-kanak, pengasuh saya bernama Sarinah. Ia mbok saya. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta kasih, tetapi bukan dalam pengertian jasmaniah.Mengajarku mencintai rakyat. Akan tetapi, Sarinah yang ini bukan wanita biasa. Ia adalahkekuasaan terbesar dalam hidupku”. Hubungan antara judul lagu ciptaan Ismail Marzukidan judul buku karangan Sukarno mungkin tidak berkaitan, namun jelas keduanya lebihdari sekedar nama seorang perempuan. Sarinah adalah perlambang bangsa yang tertindasatau, menurut tafsir Firdaus Burhan, “istilah nasional yang melambangkan seantero rakyat Indonesia yang tertindas ”. Uniknya, radio NIROM justru yang kali pertama menyiarkandan mempopulerkan lagu Oh Sarinah.[36] Pada periode 1935-1937 Ismail marzuki mencipta beberapa lagu, di antaranyakroncong Serenata(1935), Oh Jauh di Mata, Roselani (1936; bernuansa Hawaiian),Setambul Sejati(1937), dan Kasim Baba (1937). Pengaruh kelompokkelompok sandiwara yang tumbuh subur sejak pertengahan tahun 1930an tampak jelas dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki. Lagu-lagu tradisional dan barat pun ditekuninya sejak 1936 sampai 1937.Lagu-lagu barat yang tenar waktu itu adalah Bei Mir bist du Schoen, Adios Muchachos, Beer Barrel of Polka, White Chapel in the Moonlight, dan Amapola.



Ketika duduk dibangku sekolah dasar (HIS), Marzuki Saeran mendorong Ismail Marzuki untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) , kwartir Surya Wirawan, Gang Kenari. Ismail Marzuki mulai berkenalandengan dunia gerakan. Pada waktu hampir bersamaan, beberapa tokoh masyarakat Betawi, termasuk Muhammad Husni Thamrin, mendirikan Perkumpulan Kaum Betawi. Organisasiini lebih mengutamakan persatuan dan kesatu an kaum Betawi, khususnya di bidangbudaya, bahasa, musik, pengajaran, perdagangan, kerajinan, perawatan, kesehatan, dansebagainya. Ismail Marzuki pun ikut bergerak di dalam organisasi itu, kendati hanya diberitugas sebagai kurir dengan wilayah operasi mulai dari daerah sekitar Kwitan g sampai LaanTegalan (sekarang kawasan Matraman) dan Solitude. Perlahan-lahan nama Ismail Marzukimulai dikenal luas, khususnya dilingkuangan Sport Organisasi Pemuda Betawi (salah satuOnderbouw Perhimpunan Kaum Betawi). Ismail Marzuki kemudian dipilih sebagai ketua Modern Gambus dan Harmonium Orkes Kombinasi pada 1939.Selain Ismail Marzuki, pengusur lain “cabang musik” yang bergabung dengan Sport Organisasi Pemuda Betawipada pertengahan 1938 ialah Halid Thabrani (penulis), Miming (Bendahara), Mohammad Siradj, Muslim Abdul Gani, M. Bakrie (pembantu), M. Nazirdan HM Jasin Aldjawi (Technisch-leider).



Saat-saat akhir Kolonialisme Belanda di Indonesia, Ismail Marzuki menciptasejumlah lagu yang sebagian besar berkisar keresahan jiwa muda, berkisah tentangkehidupan manusia, dan lain-lain. Hal tersebut dapat dilihat pada judul dan syair lagulaguMalam Kemilau, Siapakah Namanya, Sederhana, Keroncong, Sukapuri, Ani-ani PotongPadi Rumba, lagu-lagu tersebut diciptakan pada tahun 1940-an. Ismail Marzuki yang bekerja di radio NIROM sejak 1938 sampai 1940 kemudian pindah ke PPRK pada bulan November 1940. Dia memimpin orkes studio radio ini sampai dengan kedatanganbalatentara Jepang. Kenyataan di atas kian mempertegas keberadaan Ismail Marzuki selaku pemusikpejuang. Posisinya jelas: berperan aktif dalam setiap keadaan. Bersama beberapa kawan, Ismail Marzuki konsisten memegang nilai-nilai “merdeka” yang diperjuangkan selama itu.PPRK dan VORO adalah hasil dari kesinambungan sikap perjuangan semacam itu.Merekamemposisikan diri secara tepat dan mengambil setiap kesempatan, baik sebagaipengubah(lagu kepahlawanan dan Cinta Tanah Air) maupun penyiar (melalui PPRK dan VORO) pesanpesan keindonesiaan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memandang Ismail Marzuki sebagai salah satu orang Indonesia yang turut aktif berjuang bagikemerdekaan bangsa dan negerinya. Karena dikaruniai bakat luar biasa d ibidang musik, maka nilai-nilai kebebasan yang



merupakan bagian dari jati dirinya selaku manusia Indonesia tentunya di perjuangkan lewat musik. Seaindainya Ismail marzukimengungkapkan atau memberikan program-program politik penjajahan dan penindasanmelalui lagu-lagunya, sebutan yang akan di sandangnya dalam konteks perjuangankemerdekaan tentuakan menjadi lain. Bulan Februari 1942 Jepang mengirim armada-armada kapal lengkap dengan berbagai rencana untuk membentuk pemerintahan militer di wilayah pendudukan. Dua dokumen yang melandasi kegiatan itu adalah “Asas-asas Mengenai Pemerintahan di Wilayah-wilayah Selatan yang Diduduki” dan “Persetujuan Pokok antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut mengenai Pemerintahan Militer di Wilayah-wilayah Pendudukan.” Kedua dokumen diambil dalam “Konferensi Penghubung” yang diadakan di Tokyo bulan November 1941. Markas Besar Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang menyusun dan memakai dokumen-dokumen khusus untuk setiap pemerintahan militer di daerah pendudukan. Pada intinya, dokumen tersebut menekankan soal pemulihan ketertiban dan keamanan, pencarian sumber kebutuhan vital, serta pemenuhan kebutuhan pasukan tempur secara berdikari (swasembada). Pembentukan pemerintah di setiap daerah pendudukan berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pemindahan seluruh kekuasaan administrasi Belanda ke tangan tentara Jepang. Tahap berikutnya diberlakukan pemerintahan militer sangat ketat. Semua jabatan dipegang oleh perwira militer. Tahap terakhir adalah pergeseran dan peralihan ke pemerintahan “semi-militer.” Hampir semua jabatan diserahkan kepada Gunzoku(orang-orang sipil yang bekerja pada dinas militer) yang dikirim bergelombang ke nusantara sejak bulan Mei sampai Agustus 1942. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang, teknisi, perawat, juru tulis, ahli pertanian, ahli kehutanan, ahli pertambangan, ahli kesehatan, perkapalan, minyak, geisha, dan lain-lain. Sekitar 4.000 orang Jepang pernah tinggal di Indonesia.



Kedatangan Jepang disertai pula dengan keinginan untuk menghapus semua pengaruh Belanda (politik, ekonomi, dan budaya) sekaligus membangun hegemoni baru dalam kehidupan rakyat. Patung Jan Pieterszoon Coen, salah satu simbol kekuasaan Belanda di Indonesia, dibongkar. Semua nama jalan yang memakai bahasa belanda di ganti. Gubernur Jendral beserta istri, para pegawai pemerintah kolonial, direktur perusahaan serta pimpinan beberapa lembaga dijebloskan ke kamp-kamp tawanan perang. Dua minggu setelah berhasil menguasai Indonesia secara resmi, pemerintah pendudukan Jepang melarang semua bentuk aktivitas politik. Simbol-simbol keindonesiaan seperti bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya dilarang dikibarkan dan dinyanyikan. Partai-partai politik dibubarkan, pertemuan atau rapat-rapat organisasi bisa diadakan asalkan telah mengantongi surat izin. Surat-surat kabar dan majalah berbahasa Belanda, Cina dan Indonesia dilarang terbit. suratsurat kabar Sipatahunan dan Nicork Expres di bandung dihentikan penerbitannya dan diganti



surat kabar Tjahaja. Surat kabar Mataram di Jogjakartra berganti nama menjadi Sinar Matahari. Kecuali Sinar Baroe, seluruh surat kabar di Semarang dilarang terbit. Semua surat kabar milik orang Indonesia, Cina, Belanda di Surabaya dilarang beredar. Sebagai gantinya, pemerintah Jepang menerbitkan surat kabar Soeara Asia.



Sebagaimana diketahui, radio tidak kalah penting sebagai alat komunikasi massa. Setelah menutup dan menghentikan semua aktivitas siaran radio, pemerintah Jepang mendirikan Djawa Hoso Kanrikyoku pada tanggal 1 Oktober 1942. Badan yang mengurus dan menyelenggarakan siaran radio di pusat maupun di daerah-daerah itu mengambil-alih semua peran yang pernah dimainkan NIROM, VORO, PPRK dan sebagainya.[37]



B.



Keadaan Politik Yang Mendorong Inspirasi



Ismail Marzuki adalah salah seorang musikus dan pengubah lagu yang sedikit banyak dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Proses kreatif Ismail Marzuki boleh dikatakan berhubungan erat dengan perkembangan sosial politik di Indonesia pada masa akhir kolonialisme Belanda dan sepanjang masa pendudukan Jepang. Perkembangan di Indonesia sejak tahun 1930an ditendai oleh berbagai gelombang pasang-surut yang amat menentukan hubungan sosialpolitik yang terjalin diantara pemerintah kolonial Belanda dan rakyat jajahan, khususnya “kaum pergerakan.” Sebagaimana diketahui, beberapa pemimpin Perserikatan Partai Nasional Indonesia (PNI) kembali melanjutkan garis perjuangan lama setelah dibebaskan dari penjara. Di sisi lain, pemerintah kolonial Belanda memakai berbagai cara untuk meredam aktivitas politik sekaligus menghambat gagasan-gagasan kaum pergerakan,, baik kooperatif maupun non kooperatif. Selain menangkap, menahan, memenjarakan, atau membuang sebagian dari mereka keluar Jawa, pemerintah juga mengeluarkan berbagai peraturan. Surat kabar atau media yang dianggap melanggar undang-undang pers kolonial dapat segera dibredel. Redakturnya ditangkap, ditahan, atau dimasukan kedalam penjarah. Para guru sekolah dilarang menjadi anggota atau menghadiri rapat organisasi pergerakan. Pemerintah kolonial berjanji akan ikut campur tangan aparat keamanan (PID = Politieke Inlichtingen Dienst) apabila kaum pergerakan mau bersikap lebih kooperatif. Untuk mencegah partai-partai politik bebas berkeliaran menarik simpati masyarakat luas, pemerintah kolonial memberlakukan vergader verbod (larangan berkumpul dan menyelenggarakan rapat). Rakyat dilarang keras mendendangkan lagi-lagu mars milik beberapa organisasi sosial-politik. Indonesia Raya yang senantiasa dinyanyikan dalam acara pembukaan dan penutupan rapat-rapat partai politik, serta lagu-lagu mars Partai Indonesia Raya, Persatuan Bangsa Indonesia, dan Gedung Nasional Indonesia (ciptaan Wongso Atmodjo), boleh diperdengarkan secara instrumental, tetapi tidak boleh dinyanyikan. Semua itu atas nama



menjaga rust en orde (kemanan dan ketertiban) yang intinya adalah agar roda mesin kekuasaan dapat dijalankan oleh pemerintah kolonial dengan lebih lancar. Penguasa silih berganti mengatur Indonesia. Sebagian berpaham liberal (lunak), sebagian lagi konserfatif (keras). Keras ataupun lunak, penjajah tetap penjajah. Dalam kondisi represif sekalipun toko partai harus tetap menjalin hubungan dengan rakyat. Rakyatpun akan menaruh simpati jika partai politik memuat program-program yang merakyat. Itulah yang membentuk persepsi rakyat tentang citra perhimpunan politik yang sesungguhnya, itu pula yang megubah pandangan kaum pergerakan tentang arti penjarah, suatu persepsi yang sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kejadian penangkapan dan pembuangan ke Boven Digul menyusul kegagalan pemberontakan kaum komunis 1926-1927. Situasi plotik di Indonesia berkembang tidak menentu sejak 1934. Represi, baik terhadap pengurus maupun partai politik, membuat kaum pergerakan dikubu non koopratif seolah-olah berjalan ditempat. Aktifitas kaum pergerakan didalam partai Sarekat Islam, misalnya. Organsiasi masa yang berganti nama menjadi partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) itu mengalami kemunduran cukup berarti sejak pertengahan tahun 1920-an. Sebagian kaum pergerakan memang mulai menggunakan pranata Volksraad sebagai wahana menuju Indonesia merdeka. Pembentukan Volksraad diresmikan oleh Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum pada 19 Mei 1918. Ketika dibentuk tali pertama,Volksraad beranggotakan 39 orang (termasuk ketua) : 15 bumiputera dan 23 mewakili golongan Eropa dan Timur Asing. Pada 1927 dan 1930, anggotanya ditambah menjadi 55 orang dan 60 orang. Namun, mereka yang mewakili kepentingan pribumi mayoritas rakyat di Indonesia hanya 25 orang dan 30 orang. Sebagian kaum pergerakan, baik didalam maupun diluar Volksraad, menganggap lembaga ini tidak lebih sebagai meminjam istilah Agus Salim –“komedi omong.” Parlemen tiruan (schijn parlement) itu dinilai mereka tidak bisa menjalankan fungsi sebagai mana mestinya. Pemerintah kolonial belanda memang selalu mengabaikan keputusan-keputusan lembaga tersebut. Pendek kata, Volksraadmerupakan basa basi politik perpanjangan tangan pemerintah kolonial, dan pengelabuan terhadap semua aspek kehidupan rakyat Indonesia. Menurut sejumlah sumber, untuk kali pertama Ismail Marzuki mencipta lagu berjudul Oh Sarinah. Lagu dengan syair Bahasa Belanda itu dibuat saat dia berusia 17 tahun (1931). Sarinah adalah perlambang bangsa yang tertindas atau, menurut tafsir Firdaus Burhan, “Istilah Nasional yang melambangkan santero rakyat Indonesia yang tertindas.” Uniknya, radio NIROM justru yang tali pertama menyiarkan dan mempopulerkan lagu Oh Sarinah. Namun demikian, ada semacam ruang kosong diantara periode 1931 sampai 1935 dalam proses kreatif Ismail Marzuki di bidang cipta mencipta lagu. Dua tahun sesudah mencipta Oh Sarinah, dia mengubah lagu Periangan ciptaan A Rivai. Perkembangan sosial politik yang berlangsung di Indonesia pada periode tersebut ikut mempengaruhi proses kreatif Ismail Marzuki. Pada periode 1935-1937 Ismail Marzuki mulai mencipta beberapa lagu, diantaranya Kroncong Serenata (1935), Oh Jauh Dimata, Roselani (1936), Stambul Sejati (1937) dan Kasim Baga (1937). Stambul Sejati bermodus minor dengan melodi melayu Sumatra Utara



yang kental dengan keroncong stambul, sementara Kasim Baba mengambil latar cerita “Hikayat 1001 Malam.”[38] Saat-saat akhir kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda, Ismail Marzuki mencipta sejumlah lagu yang sebagian besar berkisar keresahan jiwa muda, berkisah tentang kehidupan manusia, dan lain-lain. Hal tersebut dapat dilihat pada judul dan syair lagu-laguMalam Kemilau (1940; instrumental), Siapakah Namanja (1940), Sederhana (1940),Krontjong Sukapuri (1940), Bintangku (19 40), dan Arjuna Rumba (1940). Ismail Marzuki yang bekerja di Radio NIROM sejak 1938 sampai 1940 kemudian pindah ke PPRK pada bulan November 1940. Dia memimpin orkes studio radio ini sampai dengan kedatangan balatentara Jepang. Kenyataan diatas kian mempertegas keberadaan Ismail Marzuki selain pemusik Pejuang. Posisinya jelas: berperan aktif dalam setiap keadaan. Bersama beberapa kawan, Ismail Marzuki konsisten memegang nilai-nilai “merdeka” yang diperjuangkan selama itu. PPRK dan VORO adalah hasil dari kesinambungan sikap perjuangan semacam itu. Mereka memposisikan diri secara tepat dan mengambil setiap kesempatan, baik sebagai pengubah (lagu kepahlawanan dan cinta Tanah Air) maupun penyair (melalui VORO dan PPRK) pesan-pesan keindonesiaan. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita memandang Ismail Marzuki sebagai salah satu orang Indonesia yang turut aktif berjuang bagi kemerdekaan bangsa dan negerinya. Karena dikaruniai bakat luar biasa dibidang musik, maka nilai-nilai kebebasan yang merupakan bagian dari jati dirinya selaku manusia Indonesia tentunya diperjuangkan lewat musik. Seandainya Ismail Marzuki mengungkapkan atau membeberkan program-program politik penjajahan dan penindasan melalui lagu-lagunya,sebutan yang akan disandangnya dalam konteks perjuangan kemerdekaan tentu akan menjadi lain.



Ismail Marzuki (1914 – 1958). Dilahirkan di Jakarta, Ismail Marzuki memang berasal dari keluarga seniman. Di usia 17 tahun ia berhasil mengarang lagu pertamanya, berjudul “O Sarinah”. Tahun 1936, Ismail Marzuki masuk perkumpulan musik Lief Java dan berkesempatan mengisi siaran musik di radio. Pada saat inilah ia mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu barat untuk kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri. Lagu-lagu yang diciptakan Ismail Marzuki itu sangat diwarnai oleh semangat kecintaannya terhadap tanah air. Latar belakang keluarga, pendidikan dan pergaulannyalah yang



menanamkan perasaan senasib dan sepenanggungan terhadap penderitaan bangsanya. ketika RRI dikuasai Belanda pada tahun 1947 misalnya, Ismail Marzuki yang sebelumnya aktif dalam orkes radio memutuskan keluar karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Ketika RRI kembali diambil alih republik, ia baru mau kembali bekerja di sana. Lagu-lagu Ismail Marzuki yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan yang menggugah rasa kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, antara lain Rayuan Pulau Kelapa (1944), Halo-Halo Bandung (1946) yang diciptakan ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Selendang Sutera (1946) yang diciptakan pada saat revolusi kemerdekaan untuk membangkitkan semangat juang pada waktu itu dan Sepasang Mata Bola (1946) yang menggambarkan harapan rakyat untuk merdeka. Meskipun memiliki fisik yang tidak terlalu sehat karena memiliki penyakit TBC, Ismail Marzuki tetap bersemangat untuk terus berjuang melalui seni. Hal ini menunjukkan betapa rasa cinta pada tanah air begitu tertanam kuat dalam dirinya.



Perempuan Pejuang Opu Daeng Risaju “Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya.”(Opu Daeng Risaju, Ketua PSII Palopo 1930) Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Opu Daeng Risaju,seorang tokoh pejuang perempuan yang menjadi pelopor gerakan Partai Sarikat Islam yang menentang kolonialisme Belanda waktu itu, ketika Datu Luwu Andi Kambo membujuknya dengan berkata “Sebenarnya tidak ada kepentingan kami mencampuri urusanmu, selain karena dalam tubuhmu mengalir darah “kedatuan,” sehingga kalau engkau diperlakukan tidak sesuai dengan martabat kebangsawananmu, kami dan para anggota Dewan Hadat pun turut terhina. Karena itu, kasihanilah kami, tinggalkanlah partaimu itu!”(Mustari Busra, hal 133). Namun Opu Daeng Risaju, rela menanggalkan gelar kebangsawanannya serta harus dijebloskan kedalam penjara selama 3 bulan oleh Belanda dan harus bercerai dengan suaminya yang tidak bisa menerima aktivitasnya. Semangat perlawanannya untuk melihat rakyatnya keluar dari cengkraman penjajahan membuat dia rela mengorbankan dirinya. Nama kecil Opu Daeng Risaju adalah Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880, dari hasil



perkawinan antara Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu menunjukkan gelar kebangsawanan di kerajaan Luwu. Dengan demikian Opu Daeng Risaju merupakan keturunan dekat dari keluarga Kerajaan Luwu. Sejak kecil, Opu Daeng Risaju tidak pernah memasuki pendidikan Barat (Sekolah Umum), walaupun ia keluarga bangsawan. Boleh dikatakan, Opu Daeng Risaju adalah seorang yang “buta huruf” latin, dia dapat membaca dengan cara belajar sendiri yang dibimbing oleh saudaranya yang pernah mengikuti sekolah umum. Setelah dewasa Famajjah kemudian dinikahkan dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Opu Daeng Risaju mulai aktif di organisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa. H. Muhammad Yahya sendiri mendirikan Cabang PSII di Pare-Pare. Ketika pulang ke Palopo, Opu Daeng Risaju mendirikan cabang PSII di Palopo. PSII cabang Palopo resmi dibentuk pada tanggal 14 januari 1930 melalui suatu rapat akbar yang bertempat di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau). Kegiatan Opu Daeng Risaju didengar oleh controleur afdeling Masamba (Malangke merupakan daerah afdeling Masamba). Controleur afdeling Masamba kemudian mendatangi kediaman Opu Daeng Risaju dan menuduh Opu Daeng Risaju melakukan tindakan menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan rakyat untuk membangkang terhadap pemerintah. Atas tuduhan tersebut, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman penjara kepada Opu Daeng Risaju selama 13 bulan. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Walaupun sudah mendapat tekanan yang sangat berat baik dari pihak kerajaan dan pemerintah kolonial Belanda, Opu Daeng Risaju tidak menghentikan aktivitasnya. Dia mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik di daerahnya maupun di tingkat nasional. Pada tahun 1933 Opu Daeng Risaju dengan biaya sendiri berangkat ke Jawa untuk mengikuti kegiatan Kongres PSII. Dia berangkat ke Jawa dengan biaya sendiri dengan cara menjual kekayaan yang ia miliki. Kedatangan Opu Daeng Risaju ke Jawa, ternyata menimbulkan sikap tidak senang dari pihak kerajaan. Opu Daeng Risaju kembali dipanggil oleh pihak kerajaan.



Dia dianggap telah melakukan pelanggaran dengan melakukan kegiatan politik. Oleh anggota Dewan Hadat yang pro-Belanda, Opu Daeng Risaju dihadapkan pada pengadilan adat dan Opu Daeng Risaju dianggap melanggar hukum (Majulakkai Pabbatang). Anggota Dewan Hadat yang proBelanda menuntut agar Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman dibuang atau diselong. Akan tetapi Opu Balirante yang pernah membela Opu Daeng Risaju, menolak usul tersebut. Akhirnya Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman penjara selama empat belas bulan pada tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII. Hal ini dikarenakan adanya larangan dari pemerintah pendudukan Jepang terhadap kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk di dalamnya PSII. Opu Daeng Risaju kembali aktif pada masa revolusi. Pada masa revolusi di Luwu terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pemuda sebagai sikap penolakan terhadap kedatangan NICA di Sulawesi Selatan yang berkeinginan kembali menjajah Indonesia. Ia banyak melakukan mobilisasi terhadap pemuda dan memberikan doktrin perjuangan kepada pemuda. Tindakan Opu Daeng Risaju ini membuat NICA berupaya untuk menangkapnya. Opu Daeng Risaju ditangkap dalam persembunyiannya. Kemudian ia dibawa ke Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju ditahan di penjara Bone dalam satu bulan tanpa diadili kemudian dipindahkan ke penjara Sengkang dan dari sini dibawa ke Bajo. Selama di penjara Opu Daeng mengalami penyiksaan yang kemudian berdampak pada pendengarannya, ia menjadi tuli seumur hidup. Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud yang waktu itu bertugas di ParePare. Sejak tahun 1950 Opu Daeng Risaju tidak aktif lagi di PSII, ia hanya menjadi sesepuh dari organisasi itu. Pada tanggal 10 Februari 1964, Opu Daeng Risaju meninggal dunia. Beliau dimakamkan di pekuburan rajaraja Lokkoe di Palopo.



TUGAS SEJARAH INDONESIA “Mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra dan Tokohtokoh Perempuan” D I S



U S U N



OLEH : Kelompok 5 : 1. Padilla Rahmadani 2. M. Rizkiansyah 3. Andri Yudiansyah Kelas XII IIS2



MAN 1 PANGKALPINANG 2017/2018