Bahan Skripsi Ice Breaking PDF [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

15



BAB II KAJIAN TEORITIS ICE BREAKING DAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A. Penerapan Ice Breaking 1. Pengertian Penerapan Ice Breaking Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), penerapan adalah proses, cara, perbuatan menerapkan (Depdiknas KBBI, 2001: 1180). Sedangkan menurut Peter Salim dan Yenny Salim mengatakan bahwa penerapan adalah perbuatan menerapkan. Sedangkan menurut beberapa ahli berpendapat bahwa penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya. (Peter Salim dan Yenny Salim KBBI Konteporer, 2002: 1598) Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan sebuah tindakan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Penerapan dalam penelitian ini dimaksud sebagai upaya untuk menerapkan suatu pembelajaran yang menyenangkan yaitu ice breaking. Ice breaking dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat dan antusiasme. (Sunarto, 2012: 3) Ice breaking adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. Memang sebelum suatu acara berlangsung, untuk memecahkan kebekuan diawal acara diperlukan satu atau lebih ice breaking yang dipilih, yang mungkin bersifat spontan atau tanpa persiapan khusus. (M. Said, 2011: 1)



16



Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa ice breaking dapat diartikan sebagai suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Ice breaker digunakan untuk menciptakan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Ice breaking juga bukan menjadi tujuan utama dalam pembelajaran, namun merupakan pendukung utama dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif. 2. Prinsip-Prinsip Penggunaan Ice Breaking dalam Pembelajaran Oleh karena itu penggunaan ice breaking dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai berikut: a. Efektifitas Jenis



ice



breaking



apapun yang digunakan dalam



proses



pembelajaran haruslah dalam rangka menguatkan strategi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan dilakukannya ice breaking mestinya tujuan pembelajaran semakin efektif dicapai. Ice breaking yang sekiranya akan membuat pembelajaran tidak kondusif dalam situasi tertentu hendaknya dihindari. Misalnya jenis ice breaking “ Kepala pundak” tidak cocok digunakan dalam situasi kelas dengan siswa banyak atau ruangan sempit, karena dapat membahayakan keselamatan siswa. b. Motivate Tujuan utama ice breaking adalah meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan ice breaking diharapkan siswa yang belum termotivasi untuk mengikuti pembelajaran menjadi termotivasi, atau siswa yang sudah jenuh mengikuti proses pembelajaran dapat kembali kepada performa awal sebagaimana saat awal pembelajaran yang penuh motivasi. c. Singkronized Ice breaking dalam pembelajaran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses pembelajaran yang sedang dilakukan. Akan sangat baik jika ice breaking yang dipilih adalah ice breaking yang sesuai atau sinkron dengan materi yang dibahas pada saat itu. Dengan demikian ice



17



breaking akan mempunyai daya penguat ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. d. Tidak Berlebihan Ice breaking adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siswa, sehingga mereka akan termotivasi untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Namun demikian pengguanaan ice breaking yang berlebihan justru akan mengaburkan tujuan pembelajaran itu sendiri. Selain itu juga perlu memperhatikan ketersediaan waktu/jam pelajaran yang sedang diampu. e. Tepat Situasi Ice breaking hendaknya dilaksanakan tepat situasi. Ice breaking yang dilaksanakan serampangan dikhawatirkan justru akan merusak situasi yang sudah kondusif. Misalnya pada saat siswa sedang asyik menjalankan tugas yang diberikan oleh guru tiba-tiba guru memberikan ice breaking. Tentu situasi menjadi membingungkan dan menjadi proses pengerjaan tugas tidak terfokus lagi. f. Tidak Mengandung Unsur SARA Ice breaking yang diberikan kepada siswa hendaknya dipilihkan ice breaking yang mempunyai nilai yang positif terhadap rasa persatuan dan kesatuan. Hal-hal yang mengandung unsur membedakan atau menghina suku, agama, ras, dan antar golongan harus dihindarkan, sekalipun hal tersebut sebagai lelucon saja. g. Tidak Mengandung Unsur Pornografi Banyak sekali ice breaking yang sangat menarik bagi para guru. Baik yang diperoleh pada saat pelatihan guru maupun dari teman-teman satu profesi atau dari internet. Namun sebagai pendidik harus memilih jenis ice breaking yang edukatif, sopan dan tidak mengandung unsur pornografi. (Sunarto, 2012: 105-107)



18



3. Teknik Penerapan Ice Breaking dalam Pembelajaran Ice breaking yang baik adalah ice breaking yang dapat memberikan kemanfaatan optimal dalam proses inti pembelajaran. Teknik penggunaan ice breaking ada dua cara yaitu secara spontan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran dan direncanakan. a. Penerapan ice breaking secara spontan dalam proses pembelajaran Ice breaking dapat dilakukan secara spontan dalam proses pembelajaran. Hal ini tentu dilakukan tanpa persiapan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu oleh yang bersangkutan. Seorang guru yang tanggap terhadap kondisi siswa tentu akan segera mengambil tindakan terhadap kondisi dan situasi pembelajaran yang kurang kondusif selama proses



pembelajaran



berlangsung.



Misalnya



ketika



akan



memulai



pembelajaran terlihat siswa belum begitu siap secara mental untuk menerima materi pembelajaran baru, maka seorang guru segera mengambil inisiatif untuk melakukan yel-yel yang dapat menumbuhkan semangat baru untuk mengikuti proses pembelajaran berikutnya. Yel-yel yang dilakukan secara spontan hendaknya adalah yel-yel yang sudah pernah atau biasa dilakukan oleh siswa. Ice breaking diberikan secara spontan adalah dengan tujuan antara lain untuk: 1) Memusatkan perhatian siswa kembali. 2) Memberikan semangat baru pada saat siswa mencapai titik jenuh. 3) Mengalihkan perhatian terhadap fokus materi pelajaran yang berbeda. b. Ice breaking diawal kegiatan pembelajaran Ice breaking yang direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada saat megawali proses pembelajaran seorang guru harus melaksanakan beberapa hal yang berkaitan dengan “kesiapan mental” anak didik dalam mengikuti proses pembelajaran yang akan berlangsung. Secara psikologis, siswa dikatakan siap mengikuti pembelajaran ditandai oleh motivasi yang tinggi, semangat, gairah yang ditunjukkan sikap ceria dan penuh perhatian pada saat mengawali proses



19



pembelajaran. Dalam rangka menyiapkan kondisi tersebut selain melakukan appersepsi, guru dapat memulai proses pembelajaran dengan ice breaking. c. Ice breaking pada inti kegiatan pembelajaran Pada kegiatan inti pembelajaran merupakan saat-saat krusail dimana



siswa



harus



terus



memusatkan



perhatian



selama



jam



pembelajaran berlangsung, baik pada saat mengerjakan tugas ataupun mendengarkan penjelasan guru. Waktu yang begitu panjang untuk terus berkonsentrasi pada hal yang sama adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh anak didik. Penggunaan ice breaking pada inti pembelajaran harus dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Ice breaking digunakan pada saat pergantian sesi atau pergantian kegiatan. Ice breaking hendaknya jangan digunakan pada saat tengah-tengah kegiatan, seperti pada saat sedang diskusi, kerja kelompok,



demonstrasi



atau



kegiatan



lainnya



yang



dapat



mengganggu konsentrasi siswa. 2) Ice breaking digunakan pada saat anak mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam menjalankan tugas belajar. 3) Ice breaking juga dapat digunakan untuk memberikan penguatan materi pembelajaran yang sedang diberikan. Biasanya ice breaking yang dapat digunakan untuk penguatan adalah jenis yel-yel ataupun jenis lagu. d. Ice breaking pada akhir kegiatan pembelajaran Walaupun pembelajaran sudah selesai ice breaking masih dianggap perlu. Ice breaking pada akhir pembelajaran berfungsi antara lain untuk: 1) Memberikan penguatan tentang pemahaman konsep pelajaran yang baru saja dilaksanakan. 2) Mengakhiri kegiatan dengan penuh kegembiraan.



20



3) Memotivasi



siswa



untuk



selalu



senang



mengikuti



pelajaran



berikutnya. Konten ice breaking pada akhir pelajaran, akan sangat baik jika berisi tentang penguatan materi biasanya jenis lagu atau yel, atau juga dapat berisi tentang motivasi semangat sebagai jembatan untuk mencintai materi pelajaran berikutnya. (Sunarto, 2012: 107-124) 4. Macam-macam Ice breaking Ada beberapa jenis ice breaking yaitu: a.



Ice breaking Jenis Yel-yel Contoh ice breaking jenis yel-yel: Salam sapa



b.



Sapa



jawab



Selamat pagi!



Siap-siap



Selamat siang



kerja keras



Selamat sore



belajar giat



Selamat malam



tidur nyenyak



Ice breaking Jenis Tepuk Tangan Contoh ice breaking jenis tepuk tangan: Tepuk bahasa inggris Jika disebutkan “YES”, dijawab tepuk 1x Jika disebutkan “NO”, dijawab tepuk 2x Jika disebutkan “OK”, dijawab tepuk 3x Jika disebutkan “ARE YOU READY”, dijawab “GO” 3x



c.



Ice breaking Jenis Lagu Contoh ice breaking jenis lagu; Lagu balonku vokalnya menjadi “O” BOLONKO ODO LOMO ROPO-ROPO WORNONYO MOROH KONONG KOLOBO HOJOO MODO DON BORO,



21



MOLOTOS BOLON HOJOO, DOOR HOTOKU SNGOT KOCOO BOLONKO TONGGOL OMPOT KOPOGONG OROT-OROT d.



Ice breaking Jenis Gerak Badan Contoh ice breaking jenis gerak badan: Bungong jumpo 2x Kpala pundak, kpala pundak Lutut dan kaki Putar pinggang, putar pinggang Berlari-lari 2x Tangan ke depan, hup Melompat-lompat Tangan di pinggang, amboy Bergoyang-goyang



e.



Ice breaking Jenis Humor Contoh ice breaking jenis humor: Kisah 2 ekor kelinci



f.



Ice breaking Jenis Game Contoh ice breaking jenis game: Berhembus (the great wind blows) 1) Aturlah kursi-kursi ke dalam sebuah lingkaran. Mintalah siswa didik untuk duduk di kursi yang telah disediakan. 2) Jelaskan kepada siswa aturan permainan, untuk putaran pertama guru akan bertindak sebagai pemandu. 3) Pemandu sebagai



angin pertama



akan mengatakan, “angin



berhembus kepada yang memakai-misal: jam (apabila ada beberapa siswa didik yang memakai jam)”.



22



4) Siswa didik yang memakai jam harus berpindah tempat duduk, guru sebagai angin ikut berebut kursi. 5) Akan ada satu siswa didik yang tadi berebut kursi, tidak kebagian tempat duduk. Anak inilah yang kemudian menggantikan pemandu sebagai angin. 6) Lakukan putaran kedua, dan seterusnya. Setiap putaran yang bertindak sebagai angin harus mengatakan “angin berhembus kepada yang......(sesuai dengan karakteristik peserta, misal: baju biru, sepatu hitam, dsb). g.



Ice breaking Jenis Cerita/Dongeng Contoh ice breaking jenis cerita/dongeng seperti kisah kelinci sombong dengan kura-kura.



h.



Ice breaking Jenis Sulap Contoh ice breaking jenis sulap: Sendook dan garpu yang tidak bisa jatuh 1) Peganglah sebuah sendok dengan posisi telungkup 2) Selipkan kedalam garpu (menyusup di antara gigi darpu pertama dan terakhir) 3) Selipkan ujung batang korek api/ tusuk gigi ke gigi garpu. 4) Tumpangkan tusuk gigi itu diatas bibir gelas. Sesuaikan letak tusuk gigi sampai sendok, garpu, dan tusuk gigi/ batang korek api bisa mencapai keseimbangan. 5) Nyalakan ujung bebas tusuk gigi/ batang korek api yang ada dalam gelas. 6) Amatilah yang akan terjadi!



i.



Ice breaking Jenis Audio Visual Contoh ice breaking jenis audio visual: Video, sesudah program video diputar, harus diadakan diskusi agar siswa memahami bagaimana mencari pemecahan masalah dan menjawab pertanyaan. (Sunarto, 2012: 33-95)



23



Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa ice breaking memiliki beragam jenis. Mulai dari jenis yel-yel, games atau permainan hingga cerita lucu. Berbagai jenis tersebut dapat menjadi pilihan untuk digunakan didalam kelas sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bervariasi. Beberapa jenis ice breaking tersebut juga dapat dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan media dan waktu yang lama. 5. Kelebihan dan Kelemahan Ice Breaking Dalam model pembelajaran pasti ada yang namanya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, termasuk ice breaking ini. a. Kelebihan Ice breaking 1) Membuat waktu panjang terasa cepat. 2) Membawa dampak menyenangkan dalam pembelajaran. 3) Dapat digunakan secara spontan atau terkonsep. 4) Membuat suasana kompak dan menyatu. b. Kelemahan Ice breaking 1) Penerapan disesuaikan dengan kondisi ditempat masing-masing. (Sunarto, 2012: 106) 6. Manfaat Ice Breaking Ada beberapa manfaat melakukan aktifitas ice breaking, diantaranya adalah menghilangkan kebosanan, kejenuhan, kecemasan, dan keletihan karena bisa keluar sementara dari rutinitas pelajaran dengan melakukan aktivitas gerak bebas dan ceria, juga manfaat lain seperti: a.



Melatih berfikir secara kreatif dan luas siswa.



b.



Mengembangkan dan mengoptimalkan otak dan kreatifitas siswa.



c.



Melatih siswa berinteraksi dalam kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.



d.



Melatih berfikir sistematis dan kreatif untuk memecahkan masalah.



e.



Meningkatkan rasa percaya diri.



f.



Melatih menentukan strategi secara matang.



g.



Melatih kreatifitas dengan bahan yang terbatas.



h.



Melatih konsentrasi, berani bertindak dan tidak takut salah.



24



i.



Merekatkan hubungan internasional yang renggang.



j.



Melatih untuk menghargai orang lain.



k.



Memantapkan konsep diri.



l.



Melatih jiwa kepemimpinan.



m. Melatih bersikap ilmiah. n.



Melatih mengambil keputusan dan tindakan. (Achmad Fanani, Jurnal pendidikan: 2010: 69) Jadi, berdasarkan manfaat tersebut, maka jelaslah bahwa ice breaking



dapat menjadi salah satu alternatif untuk digunakan dalam pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton dan tidak membosankan bagi siswa. Terutama sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang biasanya terkesan menjenuhkan. 7. Syarat Ice Breaking dalam Pembelajaran Syarat-syarat



ice



breaking



didalam



kelas



yang



berfungsi



mengembalikan siswa kembali ke zona alfa adalah a. Ice breaking dilakukan dalam waktu singkat, semakin singkat semakin baik. Tujuan dilakukan ice breaking adalah untuk memecahkan suasana tegang dan kaku didalam kelas sehingga tidak perlu melakukannya terlalu lama. Hindari agar tidak terjadi waktu belajar lebih banyak terpakai untuk melakukan ice breaking dari pada proses pembelajaran itu sendiri. b. Ice breaking diikuti seluruh siswa. Hindari ice breaking yang mengikut sertakan satu atau beberapa siswa saja. Semua siswa harus terlibat dalam kegiatan ice breaking agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh siswa pula. c. Guru dapat menjelaskan dengan singkat teaching-point atau maksud ice breaking dalam waktu tidak terlalu lama. Setiap ice breaking yang dilakukan pasti punya tujuan tertentu. Guru harus mampu menjelaskan maksud tersebut kepada siswa agar siswa dapat mengetahui apa manfaat melakukan aktifitas tersebut. d. Apabila target sudah terpenuhi, yaitu siswa sudah kembali senang, segera kembali ke materi pelajaran. Hindari untuk terjadi jeda yang lama antara



25



ice breaking dan kembali ke proses pembelajaran. Waktu belajar disekolah terbatas sehingga guru harus pandai-pandai memanfaatkan dengan efesien. (Munif Chatib, 2012: 99-100) Bedasarkan syarat ice breaking tersebut maka penulis berpendapat bahwa guru harus dapat mengelola kegiatan ice breaking di dalam kelas agar efektif dan efesien. Efektif maksudnya tujuan dilakukan ice breaking tercapai yakni peserta didik kembali senang dan tidak tegang dalam belajar. Sedangkan efesien maksudnya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlalu lama.



B. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi Belajar Mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change whithin the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adala suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Oemar Hamalik, 1992: 173 perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik. Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya. (Syaiful bahri djamarah, 2011: 148) Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dilakukan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat dartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/ mendesak. (Sardiman, 2012: 73) Motivasi karenanya dapat didefinisikan dengan sengaja sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang



26



untuk memenuhi kebutuhan. Pada titik ini, motivasi menjadi daya penggerak perilaku (the energizer) sekaligus menjadi penentu (determinan) perilaku. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai suatu konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku meliputi pengaturan (regulasi), pengarahan (directive), dan tujuan (insentif global) dari perilaku. (Abdul rahman Shaleh, 2008: 182) Menurut M. Utsman Najati motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu. (Abdul rahman Shaleh, 2008: 183) Motivasi dimaksud usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau, ingin melakukannya. Memberi motivasi bukan pekerjaan yang mudah. Motivasi yang berhasil bagi seorang anak atau suatu kelompok mungkin tak berhasil bagi anak atau kelompok lain. (S. Nasution, 2004: 73) Motivasi



berasal



dari



bahasa



Latin



“movere”,



yang



berarti



menggerakkan. Berdasarkan pengertian ini, makna motivasi menjadi berkembang. Menurut Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah serta ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme. Sedangkan Imron (1996) menjelaskan, bahwa motivasi berasal dari bahasa inggris motivation, yang berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan, dan merangsang. Motive sendiri berarti alasan, sebab dan daya penggerak (Echols, 1984 dalam Imron 1996). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1984). (Eveline Siregar, Hartini Nara, 2011: 49) Motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk bergerak, baik disadari maupun tidak disadari. Motivasi belajar adalah jantung kegiatan belajar, suatu pendorong yang membuat seseorang belajar. (Sobry Sutikno, 2005: 132)



27



Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingakh lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. (Hamzah B. Uno, 2013: 3-23) Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuau. Jadi, motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar (Abu ahmadi, joko tri prasetya, 1997: 109). Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamalik, 2013: 158) Motivasi adalah suatu proses perubahan tenaga dalam diri indvidu yang memberi kekuatan baginya untuk bertingkah laku (dengan giat belajar) dalam usaha mencapai tujuan belajarnya. (Darmadi, 2017: 272) Berdasarkan beberapa pengertian mengenai motivasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu dorongan dari dalam individu untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkannya dan tidak ada unsur keterpaksaan dari individu tersebut. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh



28



kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar. Namun, seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi intrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar. Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang didalamnya terkandung beberapa aspek. Aspek tersebut adalah: (a). Bertambahnya jumlah pengetahuan, (b). Adanya kemampuan mengingat dan memproduksi, (c). Adanya



peneraparan



pengetahuan,



(d).



Menyimpulkan



makna,



(e).



Menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas, dan (f). Adanya perubahan sebagai pribadi. (Eveline Siregar, Hartini Nara, 2014: 4) Dari berbagai perspektif pengertian belajar sebagaimana dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan yang bersifat relatif konstan. (Syaiful Bhari Djamarah, 2011: 12) Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan perilaku seseorang akibat proses pengalaman yang telah dilakukannya. Perubahan perilaku merupakan tanda bahwa seseorang telah mengalami belajar. Perubahan perilaku tersebut sebagai perbandingan antara perilaku sebelum dan sesudah mengalami belajar. Belajar membuat seseorang yang belum tahu menjadi tahu. Terdapat juga kata kunci “belajar” dari masingmasing pengertian di atas, yaitu “perubahan perilaku”. Jadi berdasarkan uraian di atas, dapat di sintesiskan bahwa motivasi belajar ada suatu keadaan psikis yang timbul dalam diri seseorang untuk memberikan dorongan dalam melakukan suatu tindakan perilaku. Motivasi dan



29



belajar merupakan 2 hal yang saling mempengaruhi, karena dengan adanya motivasi maka seseorang akan memiliki rangsangan berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat. 2. Macam-macam Motivasi Belajar a. Motivasi Intrinsik Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi itu intrinsik bila tujuannya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaran itu. Anak didik termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah, dan sebagainya. b. Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi dari intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya diluar faktor-faktor situasi belajar (resides in some factors outside the learning situasion). Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak diluar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan, dan sebagainya. (Syaiful Bahri Djamarah, 2011: 149-151) Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat di lihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi. a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya 1) Motif-motif bawaan Motif dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh, misalnya:



30



dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk istirahat, dorongan seksual. 2) Motif-motif yang dipelajari Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu didalam masyarakat. b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis 1) Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernapas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. 2) Motif-motif darurat yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. 3) Motif-motif objektif dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Termasuk motivasi jasmaniah misalnya: refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan. d. Motivasi Intrinsik dan ekstrinsik 1) Motivasi intrinsik Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau kita dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret, seorang siswa itu



31



melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat merubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. 2) Motivasi ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. (Sardiman, 2012: 86) Beberapa psikologi ada yang membagi motivasi menjadi dua: a. Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang berasal dari diri seseorang itu sendiri tanpa dirangsang dari luar. Misalnya: orang yang gemar membaca, tidak usah ada yang mendorong, ia akan mencari sendiri buku-bukunya untuk dibaca. Motif intrinsik juga diartikan sebagai motivasi yang pendoongnya ada kaitan langsung dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam tujuan pekerjaan sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa tekun mempelajari mata kuliah psikologi karena ia ingin sekali menguasai mata kuliah itu. b. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datang karena adanya perangsangan dari luar, seperti: seorang mahasiswa rajin belajar karena akan ujian. Motivasi ekstrinsik ini juga dapat diartikan sebagai motivasi yang pendorongnya tidak ada hubungannya dengan nilai yang terkandung dalam tujuan pekerjaannya. Seperti seorang mahasiswa mau mengerjakan tugas karena takut pada dosen. EXTRINSIC MOTIVATION



keterlibatan seseorang dalam suatu



aktivitas



merupakan



alat untuk mencapai suatu tujuan.



Seseorang



belajar



keras karena ingin mendapat nilai tinggi atau penghargaan dari guru.



32



INTRINSIC MOTIVATION



seseorang



terlibat



dalam



suatu aktivitas, demi aktivitas itu sendiri. Seseorang belajar karena



ingin



memahami



materi dan/atau karena dia ingin menyenangi aktivitas itu. (Abdul Rahman shaleh, 2008: 194) Dalam hal pertama ia didorong oleh: a. Motivasi intrinsik yakni ia ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu. Dalam belajar telah terkandung tujuan menambah pengetahuan. “ Intrinsic motivations arc inherent in the learning situations and meet pupil needs and purposes”. Demikian pula bila seorang main badminton untuk menikmatinya, didorong oleh motivasi intrinsik, yakni “for the pleasure of the activity”. b. Sebaliknya bila seorang belajar untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah, diploma, dan sebagainya, ia didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak diluar perbuatan itu, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. “The goal is artificially introduced”. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar lebih sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian, pengetahuan, sikap baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah. (S. Nasution, 2004: 77) Motivasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: a. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri individu tanpa adanya rangsangan dari luar. b. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya pemberian pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan



33



faktor-faktor



eksternal



lainnya



yang



memiliki



daya



dorong



motivasional. (Eveline Siregar, Hartini Nara, 2011: 50) Motivasi belajar dapat timbul karena faktor: a. Intrinsik berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. b. Ekstrinsik adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegaiatan belajar yang menarik. (Hamzah B. Uno, 2013: 23) Oleh karena itu, secara umum kita dapat membedakan motif menjadi dua macam, yaitu: a. Motif Intrinsik adalah motif yang timbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan, tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. b. Motif Ekstrinsik adalah motif yang timbul akibat rangsangan dari luar. (Abu ahmadi, joko tri prasetya, 1997: 110) Berdasarkan pengertian dan analisis tentang motivasi yang telah dibahas di atas maka pada pokoknya motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis: a. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang tercakup didalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni. Motivasi yang sebenarnya yang timbul dalam diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan



tertentu,



memperoleh



informasi



dan



pengertian,



mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, menyadari sumbangannya terhadap usaha kelompok, keinginan diterima oleh orang lain, dan lain-lain. Jadi motivasi ini timbul tanpa pengaruh dari luar. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional. Dalam hal ini pujian atau hadiah atau sejenisnya tidak diperlukan oleh karena tidak akan menyebabkan siswa bekerja atau belajar untuk mendapatkan pujian atau hadiah itu.



34



b. Motivasi Ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktorfaktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, medali pertentangan, dan persaingan yang bersifat negatif ialah sarcasm, ridicule, dan hukuman. Motivasi ekstrinsik ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa stsu sesuai dengan kebutuhan siswa. (Oemar Hamalik, 2013: 162) Motivasi tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang, secara umum dengan jalan sebagai berikut: a.



Motivasi Intrinsik (Motivas Belajar intrinsik) Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri, misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada pengahayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli, lain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat dan perasaan senang.



b.



Motivasi Ekstrinsik (Motivasi Belajar Ekstrinsik) Jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau belajar. (Darmadi, 2017: 274)



3. Fungsi Motivasi Belajar Fungsi motivasi dalam belajar akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut. a. Motivasi sebagai pendorong perbuatan Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu



35



yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar. b.



Motivasi sebagai penggerak perbuatan Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik.



c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan Anak didk yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. (Syaiful Bahri Dzamarah, 2011: 157) Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. (Sardiman, 2012: 85) Motivasi mempunyai tiga fungsi, yakni: a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. b. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu, dengan menyampingkan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan itu. Seorang yang betul-betul bertekad menang dalam pertandingan, tak akan menghabiskan waktunya bermain kartu, sebab tidak serasi dengan tujuan. Dalam bahasa sehari-hari motivasi dinyatakan dengan: hasrat, keinginan, maksud, tekad, kemauan, dorongan, kebutuhan, kehendak, cita-cita, keharusan, kesediaan dan sebagainya. (S. Nasution, 2004: 76)



36



Motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Jadi, fungsi motivasi itu meliputi berikut ini. a.



Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.



b.



Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan.



c.



Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. (Oemar Hamalik, 2013: 161)



4. Bentuk-bentuk Motivasi Belajar Ada beberapa bentuk motivasi yang daat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut. a. Memberi Angka Angka dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. b. Hadiah Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/ cenderamata. c. Kompetisi Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. d. Ego-Involvement Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. e. Memberi Ulangan Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. f. Mengetahui Hasil



37



Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. g. Pujian Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. h. Hukuman Meski hukuman sebagai reinfoercement yang negatif, tetapi bila melakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. i. Hasrat untuk Belajar Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat untuk belajar. j. Minat Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap sesuatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. k. Tujuan yang disukai Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar. (Syaiful Bahri Djamarah, 2011: 159-168)



38



5. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Menurut De Decce dan Grawford (1974) mengatakan ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik, yaitu guru harus dapat menggairahkan anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif, dan mengarahkan perilaku anak didik kearah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran. (Syaiful Bahri Djamarah, 2011: 169) Menurut Ali Imron (1996) mengemukakan empat upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajaran. Empat cara tersebut adalah sebagai berikut. a. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prisip belajar. b. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajaran. c. Mengoptimalkan



pemanfaatan



upaya



guru



dalam



membelajarkan



pembelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi. Jika guru tidak bergairah dalam proses pembelajaran maka akan cenderung menjadikan siswa atau pembelajar tidak memiliki motivasi belajar, tetapi sebaliknya jika guru memiliki gairah dalam membelajarkan pembelajar maka motivasi pembelajar akan lebih baik. Hal-hal yan disajikan secara menarik oleh guru juga menjadi sesuatu yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi pembelajar atau pegalaman/kemampuan yang telah dimiliki. d. Mengembangkan aspirasi dalam belajar. (Eveline Siregar, Hartini Nara, 2011: 55) 6. Indikator Motivasi Belajar Adapun indikator-indikator yang dapat digunakan untuk penyusunan Angket tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Makmun (dalam Engkoswara 2010: 210), yaitu: a. Durasi kegiatan (berapa lama penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan). b. Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dalam periode waktu tertentu) c. Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegaiatan.



39



d. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwa dan nyawanya). e. Ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan. f. Tingkat aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran, atau target dan ideologinya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. g. Tingkat kualifikasinya prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak). h. Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (like or dislike, positif atau negatif). Atau anda bisa membuat indicator sendiri seperti contoh indikator motivasi belajar siswa berikut ini yang dapat digunakan dalam penelitian tindakan adalah sebagai berikut: a. Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran b. Kemauan siswa menyediakan alat-alat atau sumber/ bahan pelajaran yang dibutuhkan. c. Keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok d. Keterlibatan siswa dalam diskusi kelas e. Keaktifan siswa dalam mendengar penjelasan guru f. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas individu dan kelompok g. Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran h. Timbulnya rasa keingintahuan dan keberanian siswa i. Adanya keinginan untuk mendapatkan hasil yang terbaik terutama dalam diskusi kelompok j. Timbulnya semangat atau kegairahan pada diri siswa dalam mengikuti pelajaran. (Darmadi, 2017: 279) 7. Manfaat Motivasi Belajar Motivasi belajar penting bagi siswa maupun guru dan juga bagi proses belajar dan pembelajaran itu sendiri. Menurut Mujiono dan Dimyati (2009: 85), pentingnya motivasi bagi siswa yaitu:



40



a. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir. Contoh: setelah siswa membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan teman sekelas yang juga bab tersebut, ia kurang berhasil menangkap isi, maka ia terdorong membaca lagi. b. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya. Sebagai ilustrasi jika terbukti sebagai usaha belajar seorang siswa belum memadai maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil. c. Mengarahkan kegiatan belajar, sebagai ilustrasi setelah ia ketahui bahwa dirinya belum belajar secara serius, seperti bersenda gurau didalam kelas maka ia akan merubah perilaku belajarnya. d. Membesarkan semangat belajar. Contoh seorang anak yang telah menghabiskan banyak dana untuk sekolahnya dan masih ada adik yang dibiayai orang tua maka ia akan berusaha agar cepat lulus. e. Menyadarkan bahwa adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-sela ada istirahat atau bermain) yang berkesinambungan. Individu di latih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. Sebagai ilustrasi setiap hari siswa diharapkan untuk belajar dirumah, membantu orang tua dan bermain dengan temannya. Apa yang dilakukan diharapkan dapat berhasil memuaskan. Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa manfaat bagi guru yang mengetahui motivasi siswa nya ialah membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil, mengetahui dan memahami motivasi belajar di kelas bermacam ragam, meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, memberi hadiah, atau pendidik, memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogik.



41



Adapun beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran menurut Hamzah B. Uno (2008: 27), antara lain sebagai berikut: menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, menentukan ragam kembali terhadap rangsangan belajar, menentukan ketekunan belajar.



C. Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Kurikulum PAI (3: 2002) Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran Agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut



Agama



lain dalam



hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat (1987: 87) Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.



Lalu



menghayati



tujuan,



yang



pada



akhirnya



dapat



mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Tayar Yusuf (1986: 35) mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah swt. Sedangkan menurut A. Tafsir Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 130) Menurut Undang-undang No. 2 Tahun 1989) Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional. (Aminuddin, dkk, 2006: 1)



42



Jadi, berdasarkan pengertian di atas bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan



usaha



sadar



yang



dilakukan



pendidik



dalam



rangka



mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan Agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah Agama si anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran Agama. 2. Fungsi Pendidikan Agama Islam Kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/ madrasah berfungsi sebagai berikut. a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah swt yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Agama Islam. d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangankekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pehaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsional.



43



g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 134-135) Agama berfungsi untuk (a) Memenuhi kebutuhan fitri dan emosi manusia (b) Menunjukkan kebutuhan yang baik dan boleh digunakan, serta sebagaimana cara mendapatkan dan menggunakan kebutuhan itu. (c) Mengangkat martabat dan kehormatan manusia. (Aminuddin 2006: 36) 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam Menurut Kurikulum PAI (2002). Pendidikan Agama Islam di sekolah/ madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu berbicara Pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 135136) Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai suatu disiplin ilmu, mempunyai karakteristik dan tujuan yang berbeda dari disiplin ilmu yang lain. Bahkan sangat mungkin berbeda sesuai dengan orientasi dari masing-masing lembaga yang



menyelenggarakannya.



Pusat



Kurikulum



Depdiknas



(2004:



4)



mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam di Indonesia adalah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam. Sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada



44



Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut Arifin (1993) Pendidikan Agama Islam di samping bertujuan menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu mengamalkan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Dalam arti, Pendidikan Agama Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam berpikir, beriman, dan bertaqwa kepada Allah swt. Disamping itu juga mampu mengamalkan nilai-nilai yang mereka dapatkan dalam proses pendidikan, sehingga menjadi pemikir yang baik sekaligus pengamal ajaran Islam yang mampu berdialog dengan perkembangan kemajuan zaman. Menurut Nizar (2001) tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, jismiyah, ruhiyyat dan aqliyyat. Tujuan (jismiyyat) berorientasi kepada tugas manusia sebagai Khalifah fi alardh, sementara itu tujuan ruhiyyat berorientasi kepada kemampuan manusia dalam menerima ajaran Islam secara kaffah, sebagai abd, dan tujuan aqliyyat berorientasi kepada pengembangan intelligence otak peserta didik. Dari beberapa definisi di atas, terlihat bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Allah swt yang harus diinternalisasikan ke dalam diri individu anak didik lewat proses pendidikan. Dan proses inilah yang akan mampu mengantarkan anak didik untuk melaksanakan fungsinya sebagai „abd dan khalifah, guna membangun dan memakmurkan dunia sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditentukan Allah melalui Rasul-Nya. Namun yang perlu diperhatikan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam seperti tergambar di atas harus selaras dengan tujuan pembelajaran yang dirancang. Sebab ketidakselarasan antara keduanya akan mengganggu realisasi target tujuan dari keduanya. (Ahmad Munjin nasih, Lilik Nur Kholidah, 2013: 7-9) Menurut Aminuddin (2006: 2-36) Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk siswa yang berakhlak mulia dengan cara memahami



45



ajaran-ajaran Islam, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai, tenteram, di dunia dan akhirat. Dan membebaskan manusia dari kehidupan sesat. 4. Pentingnya Pendidikan Agama Islam Seseorang baru bisa dikatakan memiliki kesempurnaan iman apabila dia memiliki budi pekerti/akhlak yang mulia. Dengan melihat arti Pendidikan Islam dan ruang lingkungkup itu, jelaslah bahwa dengan Pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlakul karimah) berdasarkan pada ajaran Agama Islam. Oleh karena itulah, Pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran Agama Islam. Pendidikan Agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 138-139) Jadi, perkembangan Agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman hidup sejak kecil, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat terutama pada masa pertumbuhan perkembangannya.



D. Urgensi Hubungan Penerapan Ice Breaking dengan Motivasi Belajar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam Proses pembelajaran yang serius kaku tanpa sedikitpun ada nuansa kegembiraan tentulah akan sangat cepat membosankan. Apalagi diketahui bahwa berdasarkan penelitian kekuatan rata-rata manusia untuk terus konsentrasi dalam situasi yang monoton hanyalah sekitar 15 menit saja. Selebihnya pikiran akan segera beralih kepada hal-hal lain yang mungkin sangat jauh dari tempat dimana ia duduk mengikuti suatu kegiatan tertentu.



46



Ketika pikiran tidak bisa terfokus lagi, maka segera dibutuhkan upaya pemusatan perhatian kembali. Upaya yang bisa dilakukan oleh guru konvensional adalah dengan meningkatkan intonasi suara yang lebih keras lagi, mengancam atau bahkan memukul-mukul meja untuk meminta perhatian kembali. Upaya demikian sebenarnya justru semakin memperparah situasi pembelajaran, karena sebenarnya proses pembelajaran sangat dibutuhkan keterlibatan emosional siswa. Siswa yang mempunyai rasa tidak senang atau bahkan takut, secara alami akan segera “melarikan diri” keluar dari keterlibatannya dalam mengikuti pelajaran walaupun secara fisik dia masih berada ditempat duduk semula. Demikian pula sebaliknya, siswa yang memiliki rasa gembira pada saat mengikuti proses pembelajaran akan memiliki kemampuan untuk memfokuskan pikiran dan terlibat secara aktif lebih lama dalam proses pembelajaran. Dengan demikian sangatlah penting bagi guru untuk menguasai berbagai teknik Ice Breaking dalam upaya untuk terus menjaga “stamina” belajar para siswa. Menurut Sunarto (2012: 3) Penggunaan Ice breaking dalam pembelajaran akan sangat membantu dalam menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis. Suasana pendidikan yang menyenangkan memang secara sebab akibat akan mendorong siswa untuk bisa lebih kreatif dan dinamis. Siswa juga akan semakin berani untuk mengemukakan ide-ide dan gagasannya sehingga pembelajaran lebih dialogis. Menurut pendapat Joko Tri Prasetya, Abu Ahmad (1997: 111) Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan minat dan keinginannya pada proses belajar tidak dapat dipungkiri, karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi belajar dan semua yang berkaitan dengan motivasi, seperti kebutuhan, keinginan dan lain-lain. Metode dan cara mengajar yang digunakan harus mampu menimbulkan sikap positif belajar dan gemar belajar. Akibatnya timbul keinginan yang meluap-luap untuk



47



menuntut ilmu di kalangan para pelajar, kesabaran yang tak ada taranya dalam menghadapi rintangan dalam menuntut ilmu dari sumber aslinya. Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan Agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah Agama si anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran Agama. Indikator Ice Breaking: 1. Rasa senang 2. Minat dan perhatian 3. Antusiasme 4. Keaktifan dan semangat 5. Rasa ketertarikan



Indikator Motivasi Belajar: 1. Adanya



hasrat



dan



keinginan berhasil 2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 3. Adanya harapan dan citacita masa depan 4. Adanya



penghargaan



dalam belajar 5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 6. Adanya belajar



lingkungan yang



kondusif



sehingga memungkinkan peserta



didik



belajar dengan baik.



dapat