Identifikasi Golongan Fenol [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

Identifikasi Golongan Fenol Dari praktek sebelumnya Anda sudah mengetahui, bahwa senyawa karbohidrat pada umumnya berasa manis, masih ingatkah Anda dari 4 senyawa karbohidrat tersebut ada yang tidak berasa ? Demikian juga dengan senyawa asam, maka pasti uji pendahuluan menunjukkan bahwa rasanya sangat asam. Bagaimana dengan senyawa fenol ? Apa yang membedakan dengan senyawa karbohidrat dan asam yang telah Anda lakukan ? Dan pereaksi apa yang dapat Anda gunakan untuk melakukan identifikasi dan pemastian zat uji yang diidentifikasi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka lakukan praktikum berikut ini dengan cermat. 1. Pendahuluan Fenol merupakan gugus fungsional lain yang umum dijumpai dalam molekul obat. Fenol merupakan asam lemah yang melepaskan proton (H ) untuk menghasilkan anion fenoksida, dengan alkali hidroksida dan alkali karbonat akan membentuk garam. Dengan besi (III) klorida hampir semua fenol dalam larutan air atau etanol akan memberikan reaksi warna karena terbentuknya senyawa kompleks. Gugus fenol ini harus bebas, tidak boleh terester misalnya pada aspirin (asetosal), lihatlah perbedaan struktur asetosal ini dengan senyawa fenol yang akan kita identifikasi dalam monografi masing-masing di Farmakope Indonesia. Adanya golongan lain dalam suatu molekul yang mengandung fenol dapat mempengaruhi reaksi dengan besi (III) klorida menjadi negatif, dimana gugus karboksilat pada posisi para sangat mempengaruhi reaksi tersebut. Misalnya pada senyawa turunan phidroksi benzoat, metil-p-hidroksibenzoat (nipagin) dan propil-p-hidroksibenzoat (nipasol), dimana nipagin dengan pereaksi besi (III) klorida tersebut bereaksi positif dengan pembentukan warna ungu, sedangkan nipasol bereaksi negatif (tidak membentuk warna ungu). Tetapi pada senyawa n-asetil-4-aminofenol (parasetamol), adanya gugus asetamid tidak mengganggu identifikasi gugus fenol dengan besi (III) klorida tersebut. +



2. Uraian Zat Uji a. Parasetamol (FI edisi IV, hal 649) 1) Rumus molekul : C8H9NO2 2) Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit 3) Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium 4) hidroksida 1 N ; mudah larut dalam etanol. 5) Identifikasi : a) Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan di atas pengering yang cocok dan didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkanmaksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada parasetamol BPFI b) Spektrum serapan ultraviolet larutan (1 dalam 200.000) dalam campuran asam klorida 0,1 N dalam metanol P (1 dalam 100), menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama seperti pada parasetamol BPFI. b. Salisilamida (FI edisi IV, hal 753) 1) Rumus molekul : C7H7NO2 2) Pemerian : Serbuk hablur, putih; praktis tidak berbau



3) Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam kloroform; larut dalam etanol dan dalam propilen glikol; mudah larut dalam eter dan dalam larutan basa. 4) Identifikasi: a) Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan di atas pengering dan didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada salisilamida BPFI. b) Spektrum serapan ultraviolet larutan (1 dalam 62.500) dalam metanol P, menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama seperti pada salisilamida BPFI. c) Larutkan lebih kurang 100 mg dalam 5 ml etanol P, tambahkan beberapa tetes besi (III) klorida LP : terjadi warna lembayung. c. Nipagin (FI edisi IV, hal 551) 1) Rumus molekul : C8H8O3 2) Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih; tidak berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar. 3) Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter. 4) Identifikasi : Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan dan dispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada metilparaben (nipagin) BPFI. 3. Tujuan Praktikum a. Mengidentifikasi golongan senyawa fenol b. Mengidentifikasi secara spesifik parasetamol c. Mengidentifikasi secara spesifik salisilamida d. Mengidentifikasi secara spesifik nipagin 4. Pelaksanaan a. Bahan dan Alat 1. Alat yang digunakan a) Tabung reaksi b) Plat tetes c) Pipet d) Penjepit tabung (gegep) e) Bunsen/lampu spiritus f) Cawan porselin g) Gelas kimia 2. Bahan yang digunakan a) Parasetamol b) Salisilamida c) Nipagin d) Besi (III) klorida e) Besi (II) sulfat f) Timbal asetat g) Natrium nitroprussida h) Perak nitrat



i) Kalium bikromat j) Kertas lakmus merah dan biru k) Amonia l) Asam klorida m) Asam sulfat n) Etanol b. Prosedur kerja dan pengamatan 1. Uji pendahuluan a) Organoleptik lakukan pengamatan terhadap bentuk, warna, bau dan rasa masing-masing sampel obat yang diidentifikasi. Pengamatan bentuk obat pada umumnya berupa serbuk hablur halus dan berwarna putih. Pengamatan bau dilakukan dengan indera penciuman (tidak berbau atau berbau spesifik), pengamatan rasa dilakukan dengan indera pengecapan (tidak berasa, agak pahit atau pahit). b) Kelarutan 1) Siapkan 2 buah tabung reaksi 2) Masukkan ± 50 mg zat uji F1 ke dalam masing-masing tabung reaksi tersebut 3) Ukur 1 ml aquades, masukkan kedalam tabung pertama. Kocok dan amati kelarutannya. Jika tidak larut, panaskan diatas api langsung dan amati kelarutannya. 4) Ukur 1 ml etanol, masukkan ke dalam tabung reaksi ke dua. Kocok dan amati kelarutannya. 5) Catat hasil uji kelarutan ini pada tabel pengamatan. 6) Dengan cara yang sama lakukan pada zat uji F 2 dan F3. Untuk memudahkan pekerjaan anda, lebih baik menyiapkan 6 tabung reaksi sekaligus lalu amati kelarutannya masingmasing. c) Uji keasaman 1) Sepotong kecil kertas lakmus merah dan biru dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan zat uji (hasil pengamatan uji kelarutan dalam air). 2) Amati perubahan warna kertas lakmus tersebut. 3) Catat hasil pengamatan perubahan warna masing-masing kertas lakmus ini pada tabel pengamatan. d) Uji unsur 1) Masukkan 15 ml aquades ke dalam gelas kimia 100 ml. 2) Siapkan tabung pijar (dapat dibuat dari pipet pendek yang dibakar ujungnya dengan nyala bunsen hingga tertutup). 3) Masukkan zat uji ± 50 mg zat uji ke dalam tabung pijar tersebut 4) Masukkan sepotong kecil logam Natrium, letakkan dibagian tengah tabung pijar. 5) Panaskan tabung pijar diatas api langsung dengan kemiringan tabung pijar ± 30 derajat hingga logam natrium lebur. 6) Tegakkan tabung hingga leburan logam natrium bercampur dengan zat uji, kemudian panaskan terus hingga pijar. Masukkan tabung pijar tersebut ke dalam gelas kimia yang telah berisi air, pecahkan tabung pijarnya menggunakan batang pengaduk. 7) Catatan : logam Na dapat digantikan dengan campuran serbuk logam Mg dan Na 2CO3



(1:2) (Pereaksi Castellana). Proses destruksi dilakukan dengan cara campur sama banyak zat uji dan Pereaksi Castellana dalam tabung pijar. Pijarkan di atas nyala bunsen ± 5 menit. Kemudian masukkan tabung pijar tersebut ke dalam gelas kimia yang telah berisi aquades, pecahkan tabung 8) Panaskan di atas api langsung hingga mendidih, dan biarkan larutan mendidih selama 5 menit. Kemudian saring. 9) Siapkan 3 buah tabung reaksi, masukkan masing-masing 1 ml filtrat. (a) Tabung 1, tambahkan 5 tetes larutan FeSO 4 segar + 1 tetes FeCl 3 + 5 tetes HCl. Kalau terbentuk endapan biru berarti ada ion sianida (CN) yang berarti sampel positif engandung unsur N Gambar 7. Hasil uji unsur N, pembentukan endapan biru menunjukkan zat uji positif mengandung unsur N (b) Tabung 2, tambahkan 1-2 tetes larutan natrium nitroprussida, jika larutan berwarna ungu berarti ada ion sulfida (S ) yang berarti sampel positif mengandung unsur S. 2-



Hasil uji unsur S, pembentukan larutan berwarna ungu menunjukkan mengandung unsur S



zat uji positif



Catatan: Uji unsur S dapat pula dilakukan dengan menggunakan pereaksi timbal asetat, yaitu filtrat ditambah 2-3 tetes larutan timbal asetat. Jia terbentuk endapan hitam, berarti ada ion sulfida (S2-) yang berarti sampel positif mengandung unsur S. (c) Tabung 3, diasamkan dengan 1 ml HNO 3 2N, jika ada ion sulfida (uji nomor 2 positif) maka didihkan larutan sampai bebas sulfida (uji uapdengan kertas timbal asetat, larutan telah bebas sulfida jika uap sudah tidak membetuk warna hitam pada kertas timbal asetat tersebut). Lalu tambahkan beberapa tetes larutan AgNO 3, jika terjadi endapan maka ada ion halida (endapan putih berarti ada ion klorida, endapan putih kekuningan berarti ada ion bromida, dan endapan kuning berarti ada ion iodida). Catatan : kertas timbal asetat dibuat dengan mencelupkan sepotong kertas saring ke dalam larutan timbal asetat.



Pengujian



Hasil Pengamatan Uji Pendahuluan Zat uji F1



Organoleptik



Kelarutan Keasaman



Bentuk Warna Bau Rasa Air Etanol Lakmus merah Lakmus biru



F2



F3



Hasil uji unsur Filtrat uji



Zat Uji Uji unsur N



Uji unsur S



Kesimpulan (unsur yang ada) Uji unsur Cl



F1 F2 F3 Catatan : uji pengamatan uji unsur ditulis dengan pembentukan endapan biru/tidak (uji unsur N), warna ungu/tidak (uji unsur S), dan mengendap/tidak (Uji unsur halogen). 2. Uji golongan a) Masukkan masing-masing zat uji ke dalam tabung reaksi, larutkan dengan air. b) Tambahkan beberapa tetes larutan besi (III) klorida, amati yang terjadi c) Jika tidak terjadi perubahan (biasanya ini terjadi pada nipagin), panaskan. d) Hasil uji berwarna ungu sampai merah menunjukkan senyawa golongan fenol e) Catat hasil pengamatan pada lembar kerja berikut



Hasil uji golongan fenol dengan pereaksi besi (III) klorida, pembentukan warna ungu menunjukkan positif fenol (parasetamol biru keunguan, salisilamid ungu, nipagin ungu muda) Hasil uji golongan Pereaksi Besi (III) klorida Kesimpulan



F1



F2



F3



3. Uji penegasan a) Zat uji mengandung unsur N (zat uji adalah parasetamol / salisilamida) 1) Masukkan zat uji ± 100 mg ke dalam tabung reaksi, tambahkan 2 ml asam klorida 2 N. Didihkan selama beberapa saat (± 3 menit), dinginkan. Kemudian tambahkan beberapa tetes larutan kalium bikromat 0,1 N, terbentunya warna ungu menunjukkan zat uji positif parasetamol 2) Masukkan zat uji ± 100 mg ke dalam tabung reaksi, tambahkan 2 ml larutan natrium hidroksida 2 N. Panaskan secara perlahan-lahan di atas api langsung, terbentuk amoniak yang dapat diuji dengan kertas lakmus merah yang telah dibasahi dengan air. Pengujian dilakukan dengan menyentuhkan kertas lakmus merah tersebut pada uap yang keluar pada mulut tabung reaksi. Adanya amoniak akan mengubah lakmus merah jadi biru. Uji inimenunjukkan zat uji positif salisilamida.



Hasil Uji Penegasan Zat Uji Yang Mengandung Unsur N Pereaksi



Kode zat uji .............



.............



Asam klorida dan kalium bikromat Uji uap amoniak Kesimpulan 4. Zat uji tidak mengandung unsur N (zat uji merupakan Nipagin) Masukkan zat uji ± 100 mg ke dalam tabung reaksi, tambahkan 2 ml etanol 95%. Didihkan di atas penangas air, tambahkan beberapa tetes larutan raksa (II) nitrat, terbentuknya endapan dan cairan berwarna merah diatasnya menunjukkan nipagin. Hasil Uji Penegasan Zat Uji Yang Tidak Mengandung Unsur N Pereaksi Kode zat uji (.........................) Raksa (II) nitrat Kesimpulan Pertanyaan: 1) Tuliskan pereaksi yang digunakan untuk identifikasi golongan fenol 2) Tuliskan reaksi yang terjadi pada golongan fenol dengan lar FeCl 3 3) Apakah gugus fungsional pada nipagin yang memberikan warna ungu dengan larutan Hg2NO3 4) Jelaskan hasil yang diperoleh pada reaksi nipagin dalam etanol 96% dengan larutan Hg2NO3 5) Apakah contoh zat dari golongan fenol yang dapat membirukan kertas lakmus merah akibat terbentuknya amoniak dengan penambahan larutan NaOH 2 N ?