LP Ca Paru [PDF]

  • 0 0 0
  • Suka dengan makalah ini dan mengunduhnya? Anda bisa menerbitkan file PDF Anda sendiri secara online secara gratis dalam beberapa menit saja! Sign Up
File loading please wait...
Citation preview

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER PARU



STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)



DISUSUN OLEH : ESTER ELIZABETH K NIM. 113063J120079



PRESEPTOR AKADEMIK: THERESIA JAMINI, M.KEP



PRESEPTOR KLINIK: ENTI ARNAS, MM



PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN X SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN BANJARMASIN 2020



1. Konsep Teori A. ANATOMI DAN FISIOLOGI CA PARU



Paru-paru dikelilingi oleh dinding dada. Dinding dada terdiri daripada iga dan otot-otot antara iga. Paru-paru dipisahkan oleh mediastinum, dimana terletaknya jantung dan organ-organ lain. Di bawah paru-paru, terletaknya diafragma, yaitu lapisan otot tipis yang memisahkan rongga dada dari perut . (Canadian Cancer Society,2015). 1. Pleura Paru-paru dibungkus oleh lapisan pleura yang dibagi menjadi 2 jenis yaitu pleura viseral dan pleura parietal. Pleura viseral adalah pleura yang menempel erat pada dinding paru sedangkan pleura parietal adalah pleura yang tidak menempel langsung pada paru. Pleura parietal lebih tebal dibanding pleura viseral. Di antara pleura visceral dan pleura parietal terdapat rongga yang disebut kavum pleura (Moore, Dalley dan Agur, 2010). 2. Paru-paru Paru-paru dibagi menjadi 2 yaitu paru kanan dan paru kiri. Di parumkanan terdiri dari 2 fissura: fissure horizontal dan fissura oblique yang membahagiparu kepada 3 lobus yaitu: lobus superior, lobus medius dan lobus inferior. Paru kanan lebih luas dan pendek karena dome diafragma kanan lebih tinggi dibanding dome diafragma kiri. Paru kiri terdiri dari 1 fissura yaitu fissura oblique dan 2 lobus.Fissura oblique terletak di antara lobus superior dan lobus inferior paru kiri. Di batas anterior paru kiri terdapat deep cardiac notch karena deviasi apeks jantung ke arah kiri (Moore, Dalley dan Agur, 2010). 3. Bronkus Bronkus terdiri dari dua bagian yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Di setiap bronkus akan terbentuk lobar bronkus sekunder, dua di kiri dan tiga di kanan. Setiap lobar bronkus sekunder akan bercabang menjadi tertiary segmental bronchi yang kemudian akan membentuk bronkiolus. Di akhir brokiolus, terdapat jutaan kantung kecil udara yang disebut alveoli. Alveoli diselaputi oleh



kapiler dan memiliki dinding yang tipis. Fungsi alveoli adalah untuk mentransportasi udara dan memastikan terjadinya pertukaran gas (Moore, Dalley dan Agur, 2010). 4. Fungsi Paru Fungsi utama paru-paru adalah untuk pertukaran gas. Udara masuk ke mulut atau hidung ke trakea, bronki dan bronkiolus dan akhirnya alveoli. Di alveoli terjadi pertukaran gas antara alveoli dan darah di kapilari pulmonari dan sebaliknya. Oksigen akan berdifusi dari alveoli ke aliran darah sedangkan karbon dioksida akan berdifusi ke alveoli dari aliran darah. Saat inspirasi, terjadi pertukaran gas untuk menggantikan oksigen yang telah masuk ke dalam aliran darah dan karbon dioksida yang ada di alveolus (Ganong, 2010). Paru juga memainkan peranan dalam sistem pertahanan tubuh. Apabila terdapat benda asing yang masuk ke dalam bronki akan terjadi refleks bronkial konstriksi dan batuk. Di epitelium saluran nafas satu pertiga dari anterior hidung bronkiolus terdapat silia dan periciliary fluid. Dibahagian atas silia dan periciliary fluid dapat dijumpai lapisan mukus yang fungsinya untuk memerangkap dan mengeluarkan benda asing dengan bantuan silia (Ganong, 2010). B. PENGERTIAN KANKER PARU Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia (Robbin & Kumar, 2007). Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasidalam paru (Underwood, Patologi, 2000). Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalm jaringan paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen, lingkungan, terutama asap rokok ( Suryo, 2010). C. ETIOLOGI. Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat



karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain (Amin, 2006). 1. Merokok Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010). 2. Perokok pasif Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua kali (Wilson, 2005). 3. Polusi udara Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren (Wilson, 2005). 4. Paparan zat karsinogen Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006). Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira



sepuluh kali lebih besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok. 5. Diet Beberapa



penelitian



melaporkan



bahwa



rendahnya



konsumsi



terhadap



betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin, 2006). 6. Genetik Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gen-gen K-ras dan myc), dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb, p53, dan CDKN2) (Wilson, 2005). 7. Penyakit paru Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan (Stoppler, 2010). Faktor Risiko Kanker Paru 1. Laki-laki 2. Usia lebih dari 40 tahun 3. Pengguna tembakau (perokok putih, kretek atau cerutu) 4. Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) 5. Radon dan asbes 6. Lingkungan industri tertentu 7. Zat kimia, seperti arsenic 8. Beberapa zat kimia organic 9. Radiasi dari pekerjaan, obat-obatan, lingkungan 10. Polusi udara



11. Kekurangan vitamin A dan C D. KLASIFIKASI CA PARU Tingkatan (staging) Kanker paru ditentukan oleh tumor (T), keterlibatan kalenjer getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. Pada pertemuan pertama akan dilakukan foto toraks (poto polos dada). Jika pasien membawa foto yang lebih dari 1 minggu pada umumnya akan dibuat foto yang baru. Foto toraks hanya dapat menentukan lokasi tumor, ukuran tumor, dan ada tidaknya cairan. Foto toraks belum dapat dirasakan cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kalenjer getah bening dan metastasis luar paru. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang bnayak, paru kolaps, bagian luas yang menutup tumor, dapat memungkinkan pada foto tidak terlihat. Sama seperti pada pencarian jenis histologis Kanker, pemeriksaan untuk menentukan staging juga tidak harus sama pada semua pasien tetapi masing-masing pasien mempunyai prioritas pemeriksaan yang berbeda yang harus segera dilakukan dan tergantung kondisinya pada saat datang. 1. Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis Kanker paru, apakah SLCC atau NSLCC. Tahapan ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi : tumor primer, keterlibatan organ dalam dada/ dinding dada (T), penyebaran kalenjer getah bening (N), atau penyebaran jauh (M). 2. Tahapan perkembangan kanker paru dibedakan menjadi 2, yaitu : a) Tahapan kanker paru jenis  karsinoma sel kecil (SLCC) 1) Tahap terbatas Yaitu Kanker yang hanya ditemukan pada satu bagian paru-paru saja dan pada jaringan disekitanya. 2) Tahap ekstensif



Yaitu Kanker yang ditemukan pada jaringan dada diluar paru-paru tempat asalnya, atau Kanker yang ditemukan pada organ-organ tubuh jauh. 3) Tahap Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (NSLCC) b) Tahap tersembunyi Merupakan tahap ditemukannya sel Kanker pada dahak (sputum) pasien dalam sampel air saat bronkoskopi, tetapi tidak terlihat adanya tumor diparuparu. 1) Stadium 0 Merupakan tahap ditemukannya sel-sel Kanker hanya pada lapisan terdalam paru-paru dan tidak bersifat invasif. 2) Stadium I Merupakan tahap Kanker yang hanya ditemukan pada paru-paru dan belum menyebar ke kalenjer getah bening sekitarnya. 3) Stadium II Merupakan tahap Kanker yang ditemukan pada paru-paru dan kalenjer getah bening di dekatnya. 4) Stasium III Merupakan tahap Kanker yang telah menyebar ke daerah disekitarnya, seperti  dinding dada, diafragma, pembuluh besar atau kalenjer getah bening di sisi yang sama ataupun sisi berlawanan dari tumor tersebut. 5) Stadium IV 6) Merupakan tahap Kanker yang ditemukan lebih dari satu lobus paruparu yang sama, atau di paru-paru yang lain. Sel –sel Kanker telah menyebar juga ke organ tubuh lainnya, misalnya ke otak, kalenjer adrenalin , hati dan tulang. E. PATOFISIOLOGI Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan



displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.



F. TANDA DAN GEJALA / MANIFESTASI KLINIS. Gejala-gejala kanker paru yaitu: 1. Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi pada bronkus. 2. Gejala umum. a) Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk   mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder. b) Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor   yang mengalami ulserasi. c) Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan. G. KOMPLIKASI 1. Efusi pleura. 2. Sindrom Vena kava superior (SVCS) 3. Obstruksi bronkus. 4. Invasi Dinding Toraks 5. Batuk darah (Hemoptisis) 6. Kompresi penekanan Esofogus 7. Kompresi sumsum tulang. Biasanya terjadi karena 8. efek samping obat maupun radiasi. Gejala yang paling 9. sering muncul adalah leucopenia dan trombosistopenia 10. Metastasis sel kanker ke bagian tubah yang lain. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003:17 ) H. EPIDEMIOLOGI Laporan Profil kanker WHO; penyumbang insidens kanker pada laki- laki tertinggi di Indonesia diikuti oleh kanker kolorektal, prostat, hati, dan nasofaring. Kanker paru



merupakan penyebab pertama kematian akibat kanker pada laki-laki (21.8%). Penyebab kematian kedua akibat kanker pada perempuan (9.1%) setelah kanker payudara (21.4%).



I. PENATALAKSANAAN. Tujuan pengobatan kanker dapat berupa : 1. Kuratif Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien. 2. Paliatif. Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup. 3. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga. 4. Supotif. Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi,  tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000) 5. Pembedahan Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –paru yang tidak terkena kanker. 6. Toraktomi eksplorasi. Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy. 7. Pneumonektomi (pengangkatan paru). Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat. 8. Lobektomi (pengangkatan lobus paru). Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.



9. Resesi segmental. Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru. 10. Resesi baji. Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es). 11. Dekortikasi. Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris) 12. Radiasi Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus. 13. Kemoterafi. Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi. J. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK. 1. Radiologi. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada. Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. 2. Bronkhografi. Untuk melihat tumor di percabangan bronkus. 3. Laboratorium. a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe). Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma. b. Pemeriksaan fungsi paru dan GD



Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi. c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit. Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru). 4. Histopatologi. a. Bronkoskopi. Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). b. Biopsi Trans Torakal (TTB). Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. c. Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi d. Mediastinosopi. Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat. e. Torakotomi. Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. 5.



Pencitraan. a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura. b. MR



K. PENDIDIKAN KESEHATAN 1.



Edukasi Pasien Edukasi pasien ditujukan untuk kalangan masyarakat yang mengkonsumsi rokok atau pada pasien-pasien yang mengalami pra kanker. Anjurkan pasien untuk berhenti merokok untuk mencegah kanker paru dan meningkatkan prognosis



pada pasien kanker paru stadium awal. Merokok bahkan sebatang sehari tetap meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan. Untuk itu, anjurkan pasien untuk berhenti merokok secara total. Penghentian rokok juga berlaku pada orang sekitar yang tinggal bersama dengan pasien. Paparan terhadap zat-zat yang dapat meningkatkan risiko terhadap kanker paru seperti asbestos sebaiknya dihindari L. KONSEP KEPERAWATAN. 1) PENGKAJIAN 1. Anamnesis Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring (wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura. 3. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk : a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas. b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ lainnya.



c. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis. 4. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan



radiologi



adalah



pemeriksaan



yang



paling



utama



dipergunakan untuk kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke organ lain. Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada pemeriksaan tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks. Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan. 5. Sitologi Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga menunjukkan proses dan sebab peradangan. Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk



mendapatkan



bahan



sitologik.



Pemeriksaan



sputum



adalah



pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.



6. Bronkoskopi Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop. 7. Biopsi Transtorakal Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan dengan tumor. 8. Torakoskopi Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada. 2) DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi bronchial sekunder karena invasi tumor (penyakit paru obstruktif kronis) -



Definisi : Ketikdamampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk mempertahankan bersihan jalan nafas (NANDA, 2015-2017)



-



Batasan Karakteristik : 1. Batuk yang tidak efektif



2. Sputum dalam jumlah yang berlebihan 3. Perubahan pola nafas 4. Dispne 5. Perubahan frekuensi nafas -



Faktor yang berhubungan : 1. Penyakit paru obstruksi kronis 2. Sekresi yang tertahan 3. Spasme jalan nafas 4. Adanya jalan nafas buata 5. Eksudat dalam alveoli



b. Ketidakefektifan pola nafas b.d obstruksi bronkus, deformitas dinding dada, keletihan otot pernafasan -



Definisi Pertukaran udara inspirasi/ekspirasi tidak adekuat



-



Batasan Karakteristik 1. Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi 2. Penurunan pertukaran udara per menit 3. Menggunakan otot pernafasan tambahan 4. Nasal faring 5. Dyspnea 6. Orthopnea 7. Perubahan penyimpangan dada 8. Nafas pendek



-



Faktor yang berhubungan : 1. Hipervenstilasi 2. Deformitas tulang 3. Penurunan energi 4. Obesitas 5. Posisi tumbuh 6. Kelelahan otot pernafasan 7. Kecemasan



8. nyeri c. Nyeri akut b.d agen cidera (karsinoma), penekanan saraf oleh tumor paru -



Definisi Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan



dengan



kerusakan



jaringan



atau



potensial



yang



menyebabkan kerusakan jaringan. -



Batasan Karakteristik : 1. Ansietas 2. Gangguan pola tidur 3. Iritabilitas 4. Ketidakmampuan untuk relaks 5. Menangis 6. Merintih 7. Merasa tidak nyaman 8. Takut



-



Faktor yang berhubungan : 1. Gejala terkait penyakit 2. Kurang kontrol situasi lingkungan 3. Kurang privasi 4. Program pengobatan 5. Stimulus lingkungan yang mengganggu 6. Sumber daya tidak adekuat (finansial, pengetahuan, sosial)



d. Ketidakseimbangan



nutrisi



kurang



dari



kebutuhan



tubuh



b.d



ketidakmampuan untuk menelan makanan, anoreksia, kelelahan dan dyspnea -



Definisi Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan



-



Batasan Karakteristik : 1.



Kurang minat pada makanan



2.



Gangguan sensasi rasa



3.



Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat



4.



Kelemahan otot pengunyah



-



5.



Kelemahan otot menelan



6.



Ketidakmampuan memakan makanan



Faktor yang berhubungan : 1. Ketidakmampuan mencerna makanan 2. Kurang asupan makanan 3. Ketidakmampuan makan 4. Faktor biologis 5. Faktor ekonomi



e. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai oksigen (anemis), kelemahan secara umum. -



Definisi Ketidakcukupan energi fisiologi atau psikologi untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan



-



Batasan karakteristik 1. Ketidaknyamanan atau dispnea saat aktivitas 2. Melaporkan keletihan secara verbal 3. Frekuensi jantung dan tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas 4. Perubahan EKG yang menunjukan aritmia atau iskemia



-



Faktor yang berhubungan



1. Tirah baring 2. Kelemahan umum 3. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan o2 4. Gaya hidup kurang bergerak f. Ketakutan / ansietas  berhubungan dengan ancaman terhadap perubahan status kesehatan, ancaman kematian -



Definisi Perasaan was-was, kuatir, atau tidak nyaman seakan-akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman.



-



Batasan karakteristik 1. Perilaku



a. Penurunan produktivitas b. Gelisah c. Insomnia d. Kurang istirahat e. Perilaku scanning 2. Afektif a. Penderitaan b. Distress c. Takut d. Merasa tidak mampu e. Bingung f. Menyesal 3. Fisiologis a. Tremor tangan b. Peningkatan keringat c. Kegoyahan d. Gemetar -



Faktor yang berhubungan 1. Riwayat kecemasan dalam keluarga 2. Perubahan mayor (status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, fungsi peran dll) 3. Stresor 4. Ancaman kematian 5. Konflik nilai 6. Penyalahgunaan zat



3) INTERVENSI KEPERAWATAN No Diagnosa 1 Ketidakefektifan



Tujuan & KH (NOC) Intervensi (NIC) Tujuan setelah dilakukan asuhan Airway Suction



bersihan jalan nafas b.d keperawatan selama 3x24 jam jalan -



Pastikan kebutuhan oral



obstruksi



dan tracheal suctioning



bronchial nafas membaik. -



sekunder karena invasi Criteria Hasil : tumor (penyakit paru NOC obstruktif kronis



:



Respiratory



Status



:



Auskultasi



suara



sebelum



dan



nafas sesudah



Airway Patency



suctioning



-



Mendemonstrasikan batuk efektif -



Minta klien untuk nafas



dan suara nafas yang bersih, tidak



dalam sebelum suctioning



ada



sianosis



dan



dyspneu -



(mampu mengeluarkan sputum,



dan



bernafas dengan mudah, tidak



suctioning -



ada pursed lips) -



-



Informasikan pada klien keluarga



Berikan



O2



tentang dengan



Menunjukkan jalan nafas yang



menggunakan nasal untuk



paten



memfasilitasi



(klien



tidak



merasa



suction



tercekik, irama nafas, frekuensi



nasotrakeal



pernafasan dalam rentang normal, -



Monitor



tidak ada suara nafas abnormal)



pasien



Mampu mengidentifikasikan dan -



Buka jalan nafas, gunakan



mencegah faktor yang penyebab.



teknik chin lift atau jaw



status



oksigen



thrust 2



Ketidakefektifan nafas



b.d



bronkus,



-



pola Tujuan :



obstruksi Setelah



dilakukan



asuhan



deformitas keperawatan selama 3x24 jam pola -



Posisikan



pasien



untuk



memaksimalkan ventilasi Identifikasi



pasien



dinding dada, keletihan nafas membaik.



perlunya pemasangan alat



otot pernafasan



jalan nafas buatan



Kriteria Hasil : NOC



:



Respiratori



Status



: -



Pemasangan mayo bila



ventilation



perlu



-



Auskultasi suara nafas,



Mendemonstrasikan batuk efektif -



3



dan suara nafas yang bersih, tidak



catat



ada sianosis dan dyspnea



tambahan



Menunjukkan jalan nafas yang -



Monitor



paten



status O2



respirasi



suara dan



Tanda tanda vital dalam rentang



normal Nyeri akut b.d agen Tujuan : cidera



adanya



(karsinoma), Setelah



Pain Management dilakukan



asuhan -



Lakukan pengkajian nyeri



penekanan saraf oleh keperawatan selama 3x24 jam nyeri



secara komprehensif termasuk



tumor paru



berkurang.



lokasi, karakteristik, durasi,



Kriteria Hasil :



frekuensi, kualitas dan factor



NOC : Pain Control



presipitasi



-



Mampu mengontrol nyeri (tahu -



Pilih dan lakukan penanganan



penyebab



nyeri



nyeri,



mampu



non



menggunakan



teknik



farmakologi dan interpersonal)



nonfarmakologi



untuk -



Ajarkan tentang teknik non



mengurangi



nyeri,



mencari



bantuan) -



(farmakologi,



Melaporkan



farmakologi -



bahwa



nyeri



Berikan



analgetik



untuk



mengurangi nyeri



berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri



4



kurang



kebutuhan



tubuh



dari b.d



ketidakmampuan untuk menelan



makanan,



anoreksia,



kelelahan



dan dyspne



Mampu mengenali nyeri



-



Menyatakan



nyaman



nyeri berkurang Setelah dilakukan



Ketidakseimbangan nutrisi



-



setelah



asuhan Nutritional Management 1. Monitor adanya mual dan keperawatan selama 3x24 jam nutrisi muntah seimbang dan adekuat. 2. Monitor adanya Kriteria Hasil: kehilangan berat badan NOC : Nutritional Status dan perubahan status  Nafsu makan meningkat nutrisi.  Tidak terjadi penurunan BB 3. Monitor albumin, total  Masukan nutrisi adekuat



 Menghabiskan porsi makan



protein, hemoglobin, dan



 Hasil



hematocrit level yang



lab



normal



(albumin,



menindikasikan status



kalium)



nutrisi dan untuk perencanaan treatment selanjutnya. 4. Monitor intake nutrisi dan kalori klien. 5. Berikan makanan sedikit tapi sering 6. Berikan perawatan mulut sering Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet sesuai 5



terapi Activity Therapy



Intoleransi aktivitas b.d Tujuan : ketidakseimbangan suplai (anemis),



Setelah



dilakukan



oksigen keperawatan



selama



asuhan 3x24



jam -



NOC : Activity Tolerance



-



Berbartisipasi



dalam



untuk



yang mampu dilakukan



Kriteria Hasil : -



klien



mengidentifikasi aktivitas



kelemahan aktivitas dapat lebih baik.



secara umum.



bantu



bantu



untuk



memilih



aktivitas konsisten yang aktivitas



sesuai



dengan



fisik tanpa disertai peningkatan



kemampuan



tekanan darah, nadi dan RR



psikologi dan social



mampu berpindah : dengan atau -



bantu



tanpa bantuan alat



mengidentifikasi aktivitas



tanda-tanda vital normal



yang disukai -



fisik, untuk



bantu untuk mendapatkan alat



bantuan



aktivitas



seperti kursi roda, krek 6 Ketakutan / ansietas



Tujuan :



-



monitor tanda-tanda vital Evaluasi tingkat



6



berhubungan dengan



setelah



ancaman terhadap



keperawatan,



perubahan status



dapat berkurang atau hilang. Kriteria -



Akui rasa takut/ masalah



kesehatan, ancaman



hasil :



pasien dan dorong



kematian



-



-



dilakukan



Mengakui



intervensi



diharapkan



dan



pemahaman pasien/ orang



cemas



terdekat tentang diagnosa.



mendiskusikan



mengekspresikan



takut/ masalah



perasaan.



Menunjukkan rentang perasaan -



Terima penyangkalan



yang tepat dan penampilan wajah



pasien tetapi jangan



tampak rileks/ istirahat



dikuatkan



Menyatakan pengetahuan yang -



 Berikan kesempatan



akurat tentang situasi



untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama. -



Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa / pengobatan



4) RASIONAL, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Rasional



Tgl Waktu



Implementasi



Evaluasi



-



Memenuhi



kebutuhan



oral dan suctioning -



Untuk



mengetahui



perbedaan sebelum dan sesudah



dilakukan



suctioning -



Agar



seluruh



secret



terangkat/tersedot -



Memberikan pengetahuan tentang



pentingnya



suctioning bagi pasien -



Membantu pasien dalam kenyamanan bernafas



-



Mengetahui tingkat o2



-



pasien Posisi yang nyaman dapat membantu pasien dalam bernafas



-



Melakukan



pengkajian



sebelum



dilakukan



pemasangan alat bantu nafas -



Mengetahui



perubahan



pernafasan yang terjadi pada pasien -



Mengetahui tingkat O2



-



pasien Mengetahui



nyeri



yang



pasien



dalam



dialami pasien -



Membantu



penyembuhan -



Teknik non farmakologi dapat



membantu mengurangi rasa nyeri -



Analgetik berfungsi untuk mengurangi



-



dan



menghilangkan nyeri Mengetahui adanya perasaan tidak nyaman yang dialami pasien



-



Mengetahui seberapa banyak makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh pasien



-



Makan sedikit tapi sering meningkatkan nafsu makan



-



Perawatan mulut berfungsi untuk menjaga kesehatan mulut pasien



-



Diet yang sesuai dapat membantu memenuhi



-



nutrisi pasien Membantu pasien untuk dapat melakukan ADL secara mendiri



-



Meningkatkan kemampuan pasien dalam memenuhi aktivitasnya



-



Aktivitas dapat



yang disukai



membuat



semangat melakukan lainnya.



pasien untuk



ADL



yang



-



Alat



bantu



membantu -



dapat pasien



memenuhi ADL. Pemahaman sangat diperlukan bagi pasien dan keluarga agar dapat membantu perawat dalam melakukan intervensi



-



Mengekspresikan perasaan pada orang sekitar dapat membantu pasien mengurangi rasa takut dan dapat membuat pasien lebih tenang



-



Agar pasien merasa bahwa dirinya tidak sendirian



-



Agar pasien mengerti dan memahami tentang perawatan yang diberikan



-



Keluarga dan orang sekitar sangat membantu dalam perencanaan perawatan



DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2013. Ca Paru. (dalam http://www.slideshare.net/septianraha/ca-paru?related=1) diakses pada tanggal 15 September 2014 pukul 18.10 WITA Carpenito, 1998 Buku saku: Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis, Edisi 6. Jakarta: EGC Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan Pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC Nugroho, Taufan. 2011. ASUHAN KEPERAWATAN Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit Dalam. Yogyakarta:Nuha Medika Saferi Wijaya, Andra. 2013. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH keperawatan dewasa teori dan contoh konsep askep. Yogyakarta:Nuha Medika Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. : Jakarta: EGC. Nugraha, junior. 2012. Kanker Paru Lung Cancer Laporan. (dalam http://udarajunior.blogspot.com/2012/03/kanker-paru-lung-cancer-laporan.html).